Sunday, December 31, 2023

Arifin Dwi Slamet’s Quotes 2023

Catatan: Sepanjang 2023, saya telah menghimpun banyak kutipan sejak awal tahun hingga November 2023, baik yang merupakan inspirasi saya sendiri (pemahaman pribadi dari hasil bimbingan Latihan Kejiwaan) maupun segelintir dari penulis-penulis lainnya. Kutipan-kutipan itu saya catat di ponsel cerdas saya, Samsung Galaxy Grand Prime A11.

Nahasnya, pada 29 November 2023, ponsel tersebut rusak layar LCD-nya karena terkena air hujan ketika saya kehujanan dalam perjalanan pulang dari Wisma Barata Pamulang. Akibatnya, saya tidak dapat retrieve (mendapatkan kembali) semua data yang tersimpan di dalamnya, termasuk himpunan kutipan-kutipan sepanjang tahun 2023. Saya harus mengikhlaskannya, karena mungkin kutipan-kutipan itu tidak berguna bagi saya maupun orang lain.

Yang saya tampilkan di sini adalah kutipan-kutipan yang saya dapatkan dari inspirasi sendiri setelah saya menggunakan ponsel cerdas cadangan.


“Ketika kamu sudah tidak ada kepentingan diri, maka tidak akan ada sanjungan atau sandungan yang dapat mempengaruhimu.” (Arifin Dwi Slamet, 3 Desember 2023)

“You won’t hate somebody that much unless you love him/her that much.” (Arifin Dwi Slamet, 15 Desember 2023)

“Orang yang tidak bisa menjadi dirinya sendiri cenderung lebih mudah menyukai orang yang penuh kepalsuan dan mudah membenci orang yang berani tampil tanpa topeng.” (Arifin Dwi Slamet, 15 Desember 2023)

Dari Tuhan Serba Gratis

KEJADIANNYA tadi malam (Waktu Indonesia Barat) di Wisma Barata Pamulang. Sebelum penenangan diri, di dalam Pendopo yang diperuntukkan Latihan pria tiap hari Sabtu malam, saya berbincang dengan diri sendiri. Saya berkata bahwa saya meminta uang yang sangat banyak kepada Tuhan. Saya pun ditanya oleh diri saya, "Untuk apa uang yang banyak?"

Saya menjawab, "Supaya saya bisa membayar apa pun yang saya inginkan dan butuhkan."

Saya lalu melakukan Latihan bersama para anggota pria lainnya. Dalam Latihan, saya berkata "Allah Maha Kaya... Maha Kaya... Maha Kaya...", berulang kali. Saya kemudian mendengar suara diri, "Lha kan Tuhan memberi segala sesuatu gratis. Apakah kamu akan tetap memaksa untuk membayar?"

Sepanjang perjalanan pulang dengan bermotor, saya tidak bisa berhenti tertawa, mengingat pengalaman itu. Saya menertawakan diri sendiri.©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 31 Desember 2023

Friday, December 29, 2023

2024

Duaribu duapuluh empat

adalah tahun yang nikmat

Bagi mereka yang mengikuti bimbinganNya tidaklah akan sesat

BimbinganNya jangan dibiarkan lewat

karena kuasa Tuhan selalu tepat

menjangkau orang-orang yang kehilangan semangat

 

Bangkitlah jiwa-jiwa yang merana

menyambut tahun baru dengan ceria

Rendahkan hati, diri dan jiwa di hadapanNya

Untuk mencapai hidup yang mulia... ©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 30 Desember 2023

Thursday, December 28, 2023

2023

Duaribu duapuluh tiga,

tahun ragam warna

Kadang terang, kadang gelap, tapi tak pernah tanpa cinta

Setahun kulalui dengan mengikuti

bimbinganNya yang maha abadi

Kadang terlupa, namun segera kumenyadari

 

Tahun 2023 akan mengekor pada masa yang berlalu

Tapi aku tetap bersamaMu

yang tidak dibatasi ruang dan waktu... ©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 29 Desember 2023

Thursday, December 21, 2023

Sensasi Panorama Pertempuran Waterloo

MENONTON film “Napoleon” di Metropole XXI, Jl. Pegangsaan Barat No. 21, Jakarta Pusat, bersama satu rekan alumnus Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI), Pandji Kiansantang (Kenny), Selasa, 19 Desember 2023, lalu membangkitkan kenangan saya ketika masih kecil (duduk di bangku sekolah dasar) diajak orang tua saya mengunjungi lokasi asli Pertempuran Waterloo di Brussel, Belgia. Saat itu, saya dan saudara-saudara kandung saya serta kedua orang tua saya tinggal di Belanda.

Lokasi Pertempuran Waterloo telah berubah menjadi museum udara terbuka, dengan beberapa bangunan memberi akses kepada publik untuk melihat displai artefak-artefak dari pertempuran bersejarah itu. Salah satu bangunan yang saya kunjungi adalah “Panorama de la Bataille de Waterloo”, sebuah rotunda—bangunan dengan bentuk melingkar yang beratapkan kubah. Bangunan neoklasik ini terletak tepat di sebelah utara Busut Singa (Lion’s Mound) di medan tempur Pertempuran Waterloo yang kini berada di wilayah kotamadya Braine-l’Alleud di provinsi Walloon Brabant, Belgia.



Busut Singa itu merupakan sebuah bukit kecil berbentuk kerucut yang berpucuk sebuah patung singa. Kabarnya, busut itu dibuat dari tanah yang diambil dari medan tempur Pertempuran Waterloo, sedangkan topografi asli dari medan tempur itu sendiri sekarang sudah tidak seasli yang dapat dilihat pada masa itu dan beberapa tahun sesudahnya. Adalah Raja William I dari Belanda yang memerintahkan pembangunannya pada tahun 1820, dan selesai pada tahun 1826. Busut Singa menandai titik di medan tempur Waterloo di mana putra sulung raja, Pangeran Oranye, diperkirakan terluka pada tanggal 18 Juni 1815, serta merupakan medan Pertempuran Quatre Bras yang terjadi dua hari sebelumnya.

Berada di dalam Panorama membuat bulu kuduk saya berdiri. Bangunan itu menyimpan lukisan panorama monumental yang menggambarkan Pertempuran Waterloo. Saya merasa diri saya berada di tengah pertempuran dahsyat yang melibatkan sekitar 193.000 tentara (73.000 di pihak Napoleon dan 120.000 di pihak Duke of Wellington) itu.

Betapa tidak, peragaan tiga dimensi itu menampilkan lukisan cat minyak sejumlah 14 panel kanvas yang menggambarkan beberapa episode berbeda dari Pertempuran Waterloo pada tahun 1815, yang berkonsentrasi pada serangan kavaleri Prancis. Elemen fisik di depan lukisan, termasuk potongan sosok, pagar, dan mayat para prajurit yang gugur yang terbuat dari plester dan papier mache, menyamarkan tepi bawah lukisan dan meningkatkan kualitas keterlibatan audiens di dalam pameran itu—sebagaimana yang saya alami.


Peragaan tiga dimensi itu diterangi dari atas oleh cincin lampu kaca di sekeliling tepi atap berbentuk kerucut dan pengunjung dapat melihat peragaan dari platform setinggi 5 meter di tengah rotunda. Hal itu menambah sensasi kepada setiap pengunjung Panorama. Tidak mengherankan jika saya masih mengingat detailnya hingga kini.©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 22 Desember 2023

Miles Away

Inspired on the East Terrace of the Cilandak Latihan Hall, South Jakarta, after group Latihan—21 December 2023

 


We cannot be together, I know

But I can hear you breathing slow

I capture the look on your face

– when you are so amazed

by the love you dare not to say –

from miles away

 

Love does not require proximity,

yet it offers me serenity

Just by thinking of you

I let our souls connect through

I can feel you – your mind, your desire

In the calm of self, I admire

I keep this feeling at bay

in a place miles away...

 


Pondok Cabe, South Tangerang, 22 December 2023

Friday, December 15, 2023

Bercinta Tanpa Kata

Terinspirasi di Teras Timur Hall Subud Cilandak, Jakarta Selatan, pasca Latihan bersama—14 Desember 2023

 

Aku mencintaimu tanpa rindu

Tapi aku tak berhenti memikirkanmu

Rindu hanya membebaniku,

tetapi jiwamu dan aku telah berpadu –

meski mungkin kamu tak tahu

Satu napas, satu detak, dalam satu waktu

Sehingga aku tak cemas kamu berjarak dariku

Kuserahkan pada Tuhan pengaturannya

karena Ia adalah cinta

dan cinta tak perlu berkata-kata...

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 15 Desember 2023

Wednesday, December 13, 2023

Panggilan

PERTANYAAN yang paling sering diajukan ke saya terkait dengan keaktifan saya di Subud, baik oleh saudara Subud maupun orang-orang non Subud, adalah: “Apa yang membuatmu masuk Subud?”

Selalu saya bingung menjawabnya. Saya tidak pernah punya keinginan atau niat sebelumnya untuk masuk Subud. Bahkan saya tidak tahu Subud sebelum satu mitra kerja saya di Surabaya dahulu memperkenalkan saya ke Subud. Saya tidak pernah tertarik pada spiritualitas—walaupun pengalaman-pengalaman saya dengan religiusitas atau praktik agama saya mengarah pada fenomena-fenomena yang kerap didapuk sebagai “spiritual”.

Mitra kerja yang saya ceritakan di atas pernah bertanya ke sahabat saya yang juga rekan saya di biro iklan Surabaya dimana kami bekerja, mengapa sahabat saya itu tidak pernah mengajak saya berdiskusi perihal spiritualitas, yang sebaliknya ia bagi ke mitra kerja saya. “Ah, Anto nggak tertarik spiritual, Mas,” jawab sahabat saya. Mitra kerja saya itu kelak, setelah saya menjalani masa kandidat tiga bulan di Subud Cabang Surabaya, saya ketahui merupakan seorang pembantu pelatih (helper) di cabang tersebut.

Selama saya ngandidat, hampir tiap hari pula saya bertemu si mitra kerja cum pembantu pelatih itu, karena saya bekerja sebaga freelance copywriter di biro iklan miliknya. Jadi, bisa dibilang saya ngandidat setiap hari selama tiga bulan. Mitra kerja saya ini menerangkan berbagai aspek dari Latihan Kejiwaan Subud melalui pekerjaan-pekerjaan yang saya lakukan, tantangan-tantangan yang saya hadapi dalam melakukan suatu pekerjaan. Isinya hanya praktik langsung, tidak ada teori tentang “bagaimana”-nya. Dia tidak secara spesifik menyebut “Latihan Kejiwaan” atau “Subud”, melainkan menyelipkan pesan agar saya dalam keadaan apa pun senantiasa sabar, tawakal dan ikhlas.

Masa tiga bulan saya sebagai kandidat anggota Subud diwarnai oleh kesaksian saya pada kehidupan mitra kerja saya yang jungkir-balik oleh kenyataan-kenyataan pedih dicerai istri, kehilangan hak asuh atas putri tunggalnya, perusahaannya di ambang kebangkrutan, ditekan dan diancam oleh debt collector karena dia tidak lagi punya uang untuk membayar hutang-hutangnya, ditendang keluar dari rumah kontrakan yang sudah ia tempati selama 12 tahun, kehilangan klien-kliennya sehingga dengan sendirinya juga kehilangan sumber nafkahnya.

Dipaksa oleh keadaan untuk menyaksikan itu semua, kesungguhan saya untuk masuk Subud tak jarang dipertanyakan oleh mitra kerja cum pembantu pelatih saya itu. Dan saya tidak tahu mengapa saya tetap teguh untuk meneruskan masa kandidat tiga bulan itu. Mungkin ini yang disebut “panggilan”. Seperti halnya kita jatuh cinta pada seseorang yang kita tidak pernah tahu alasannya. (Kalau kita tahu alasannya, maka itu bukan jatuh cinta namanya, melainkan infatuasi/jatuh hati atau sekadar mengagumi.) Saya bergeming pada setiap apa yang saya saksikan pada kehidupan mitra kerja saya pada saat itu. Kalau bukan panggilan, pastinya saya sudah membatalkan niat saya untuk masuk Subud.

Dengan semua kepedihan hidup yang dilalui mitra kerja saya, yang juga saya alami dalam rasa dan raga saya, saya tak mundur satu langkah pun dari Subud. Saya meneruskan masa ngandidat hingga dibuka, dan hingga kini masih terus rajin dan tekun berlatih kejiwaan. Itulah kalau sudah menjadi panggilan!©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 14 Desember 2023

Latihan Bertegangan Tinggi

(Aslinya ditulis dalam bahasa Inggris untuk saya posting di grup Facebook “For Subud Members Only” dan “Subud Around the World” pada dini hari 14 Desember 2023.)


SATU saudara Subud di Jakarta suatu ketika menceritakan ke saya pengalamannya melakukan Latihan di rumah Bapak di Pamulang, di bawah kamar Bapak. “Rasanya seperti saya sedang berdiri di bawah SUTET (Saluran Udara Bertegangan Ekstra Tinggi),” katanya.

Persis seperti itulah yang saya rasakan tadi malam—saya merasakan tubuh saya diselimuti tegangan tinggi. Begitu tingginya hingga bahkan satu saudari Subud di Semarang, Jawa Tengah, yang saya kontak melalui WhatsApp ketika saya tiba di rumah sejam kemudian, membalas, “Mas Arifin dari mana? Aku kok merasakan gempa bumi ketika pesan Mas masuk.”

Setelah saya jelaskan bahwa saya baru pulang dari Latihan di Pamulang, dia menjawab, “Panteess! Getarannya kuat sekali.”

Getarannya terasa begitu kuat sampai saya tidak merasa mengantuk meskipun sudah larut malam, malah semangat kerja saya bertambah. Saya membutuhkannya karena saya harus bekerja lembur untuk memeriksa Edisi 2 majalah Subud Connect setebal 51 halaman, yang sebelumnya saya kerjakan penerjemahan Bahasa Indonesianya.

Setelah saya emailkan PDF-nya (ke Ruth Taylor, Subud Inggris), yang sudah saya periksa dan komentari, pada pukul 00.10 waktu Jakarta, getaran itu masih hadir. Untuk melanggengkannya, saya berniat berpuasa pada hari Kamis, 14 Desember, ini. Tanggalnya tiba-tiba menyadarkan saya bahwa pada tanggal yang sama, setahun yang lalu, saya mulai rutin Latihan di Pamulang, jarang sekali di Cilandak.©2023

                                           

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 14 Desember 2023

Tuesday, December 12, 2023

Bahaya Kecintaan

HINGGA tahun 2020 saya memiliki kecintaan yang sangat besar terhadap kereta api. Segala sesuatu yang berhubungan dengan kereta api, saya menyukainya hingga titik yang bahkan mencemaskan saya sendiri. Tingkah saya seperti pecandu narkoba setiap kali melihat lokomotif, rel, bangunan stasiun, jalur kereta api mati, bangunan bekas stasiun, mendengar bunyi klakson Semboyan 35 dan peluit Semboyan 40 (oleh Pengatur Perjalanan Kereta Api) dan 41 (oleh kondektur kereta api).

Saya menyadari bahwa kecintaan saya ini kian lama kian menyiksa diri saya, tapi saya sepertinya sulit menghentikannya. Yang menyebabkan saya akhirnya berhenti—tapi tidak total—adalah keadaan yang mendesak saya untuk mengambil keputusan itu. Postingan-postingan saya di akun Twitter saya tiba-tiba diserang oleh sejumlah railfans (pecinta kereta api) Indonesia yang merasa saya telah melakukan plagiasi, mencuri hak cipta atas beberapa foto kereta api yang kemudian saya posting ulang atas nama saya.

Tentu saja tuduhan itu tidak benar; tulisan-tulisan mengenai sejarah perkeretaapian yang saya posting itu benar-benar merupakan olahan saya pribadi atas data-data yang tersedia di internet dan literatur cetak yang saya miliki. Dan foto-foto kesejarahan yang menampilkan keadaan perkeretaapian Indonesia di masa lampau saya dapat dari koleksi Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-, en Volkenkunde (KITLV) di Leiden, Belanda. Bagaimanapun, saya merasa tidak ada gunanya membela diri. Saya merasa kejadian itu justru cara Tuhan menunjukkan bahwa saya harus menyudahi kecintaan yang mengarah nyandu itu. Kata Bapak Subuh, ketika kita sudah merasa tertekan, itulah saatnya kita berhenti.

Latihan Kejiwaan “menawarkan” kepada kita kebisaan-kebisaan baru, atau meningkatkan kualitas dari kebisaan-kebisaan kita yang lama. Nah, bimbingan Latihan terhambat apabila kita sudah menghijabi diri dengan kecintaan yang demikian kuat pada kebisaan-kebisaan tertentu. Ini seperti kita menolak rezeki karena kadung cinta pada apa yang sudah kita punya, walaupun kepunyaan kita itu tidak lagi menguntungkan kita atau tidak lagi berguna untuk kita di saat kehidupan kita telah berubah.

Seringkali kita tidak mau bersusah-payah melakukan sedikit upaya ekstra ketika mendapatkan sesuatu yang baru, dan sekarang saya tahu bahwa jika saya melakukannya, biasanya saya akan mendapat imbalan yang berlimpah, berupa pengetahuan baru yang memperkaya khasanah pribadi saya.

Kejadian tahun 2020 itu membuat saya sempat membenci kereta api, tetapi lama kelamaan, melalui proses “pembersihan” diri dari anasir-anasir yang membuat saya tertekan itu, saya akhirnya menjadi pribadi yang tetap menyukai kereta api tetapi dalam kadar yang wajar. Di samping itu, saya diberiNya kesukaan belajar hal-hal lama yang tampil baru, seperti sejarah dan strategi militer yang dahulu sekali pernah menjadi hobi saya.

Belajar dari kecintaan saya pada kereta api, kini saya menyikapi sesuatu secara biasa saja. Saya mempelajarinya, tetapi tidak dikekep terus-terusan di kepala saya, melainkan membuka diri terhadap kemungkinan-kemungkinan baru. Cangkir ilmu kita tidak akan diisi pengetahuan baru bila kita tidak mengosongkannya dari pengetahuan yang sudah usang. Itulah yang namanya pembelajaran berkelanjutan, salah satu sifat hakiki dari Latihan Kejiwaan Subud.©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 13 Desember 2023

Sunday, December 10, 2023

Perjalanan Kejiwaan

SAYA ingat beberapa anggota Subud di Barat yang suka merokok merek rokok kretek Indonesia Djarum Super (atau Jarum menurut Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan). Nama merek ini mengundang keisengan untuk menjadikannya singkatan dari “JArang di RUMah, SUka PERgi”.

Kepanjangan dari Djarum Super ini nyatanya mewakili semangat sejumlah anggota di Indonesia, termasuk saya yang gemar jalan-jalan ke cabang-cabang di seluruh negeri selama beberapa hari, bahkan beberapa minggu atau bulan.

Apa yang terjadi selama perjalanan-perjalanan ini?

Seperti yang sering saya alami, kami menginap di wisma-wisma Subud, mengadakan gathering nonformal selama berjam-jam (terkadang begadang semalaman), berbagi pengalaman saat Latihan, menyantap makanan yang terus-menerus disajikan oleh anggota setempat, yang ternyata sangat bersyukur dengan kunjungan saudara-saudaranya dari daerah lain.

Momen-momen seperti ini menghidupkan dan menggelorakan rasa perasaan kita, memperkuat hubungan jiwa-ke-jiwa kita, yang tentu saja memperkuat kerukunan.

Tak jarang peserta perjalanan kejiwaan ini awalnya merasa ragu saat diajak pergi jauh. Keraguan tersebut biasanya didasari oleh pemikiran bahwa mereka harus bekerja, tidak dapat mengambil cuti dari kantor, atau tidak akan diperbolehkan oleh keluarganya. Ada seorang pembantu pelatih pria di Cabang Jakarta Selatan yang selalu berseru dengan nada percaya diri “Berangkat!” setiap kali saya mengusulkan untuk mengunjungi cabang-cabang yang jauh di luar kota Jakarta. Dan jika dialah yang bertanya, dan saya perlu waktu untuk berpikir, dia akan berkata, “Jangan dipikirkan! Lakukan saja!”

Dan jika saya menuruti ajakannya, pada akhirnya saya akan menyaksikan bagaimana Yang Maha Kuasa mengatur agar segala sesuatunya berjalan lancar dan mudah!

Salah satu undangan dari pembantu pelatih tersebut, pada bulan September 2017, membuat istri saya sangat marah sehingga dia menolak memberi saya uang untuk membiayai perjalanan enam hari saya ke dua cabang di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Uang yang ada di dompet saya saat itu hanya Rp100.000. Namun saya pasrah saja pada kehendakNya dan tetap melakukan perjalanan itu.

Kemarahan istri saya disebabkan oleh kenyataan bahwa saya mempunyai tenggat waktu pekerjaan yang ketat. Karena istri saya juga anggota Subud, sebagai alasan saya hanya berkata, “Saya merasa ini adalah penerimaan yang harus saya jalani. Untuk sampai pada kebenaran, bukankah kita harus membuktikannya dengan melakukannya?” Istri saya tidak berkata apa-apa dan membiarkan saya pergi.

Keajaiban mulai terjadi ketika mobil yang kami tumpangi memasuki Purwokerto, sebuah kota kecil di kaki Gunung Slamet, gunung tertinggi di provinsi Jawa Tengah. Seorang pembantu pelatih dari Cabang Bogor mengirimi saya pesan WhatsApp menanyakan apakah ongkos saya cukup. Dia kemudian mentransfer Rp2.000.000 ke rekening bank saya. Saya berencana menggunakan uang itu untuk membayar penginapan di Yogyakarta keesokan harinya.

Namun ketika saya menelepon seorang pembantu pelatih dari Cabang Kulonprogo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, untuk menanyakan alamat penginapan murah, dia justru menegur saya dengan keras, “Sampeyan bukan saudaraku jika sampeyan menolak permintaanku untuk sampeyan menginap di tempatku! Tidak perlu membayar!”

Selama tiga hari di Yogyakarta saya benar-benar terhibur. Makanan tidak pernah berhenti disajikan. Saya juga diajak oleh para pembantu pelatih dan anggota setempat untuk mengunjungi cabang-cabang di Temanggung (Jawa Tengah) dan di Kota Yogya, sambil menikmati indahnya pemandangan sepanjang perjalanan, dan selama di dalam mobil kami berbagi berbagai cerita tentang kehidupan kami dengan bimbingan dari Latihan.

Yang membuat saya terheran-heran, entah bagaimana, selama perjalanan saya bisa menyelesaikan pekerjaan saya (hanya dengan memanfaatkan smartphone saya) yang tenggat waktunya adalah sehari setelah saya pulang ke rumah, dan klien saya merasa puas dengan hasilnya.

Saya sulit percaya bahwa kehidupan Subud saya begitu menyenangkan, meskipun saya menghadapi berbagai masalah dan tantangan setiap hari. Fakta ini justru memperkuat daya tahan saya. Hal itulah yang membuat saya makin mencintai Subud dan tak henti-hentinya berterima kasih kepada Bapak yang telah mewariskan Latihan Kejiwaan kepada umat manusia.©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 11 Desember 2023 









Friday, December 8, 2023

Depending on God’s Will

THIS morning, I commented on a post by a member of Subud India in the Facebook Group “Subud Around the World” with a story about my experience of finding Subud, starting with my meeting with Mas Adji (Istiadji Wirjohudojo), the step-grandson of Subud’s founder, Muhammad Subuh, as follows:

“I ended up in Subud without ever looking for it, let alone wanting to know and want to receive the Latihan. The owner of the advertising agency where I worked as a freelance copywriter one day took me to the Surabaya, East Java, Subud house, where I was introduced to Mas Adji who was coming to visit. I later found out that the owner of the advertising agency was a helper. He told Mas Adji that I wanted to know about Subud, but I thought to myself, ‘I don’t want to know. I’m not interested in spirituality.’

Anyway, I just listened to Mas Adji’s explanation (he even invited me to enter the Latihan hall and listen to him recite some verses of Susila Budhi Dharma). Three days later, I underwent the three-month waiting period, which I took eagerly because I felt this was what I needed, even though I had no idea what the Latihan was and how my life would be like once I was opened.

Talking about doing the Latihan in a place that could potentially be attended by non-Subud people, it is God’s will whether they will be opened or not. My wife and I often do Latihan in the living room of our house, where there are also relatives who are not in Subud. After all, they are not (yet) interested in Subud.

My point is people come to or not come to Subud not because of the efforts or influence of other people, although it can be through other people—depending on God’s will.”

This afternoon, I found a link to two photos of Mas Adji, also in the same Facebook Group.©2023

 

Pondok Cabe, South Tangerang, December 8, 2023

Wednesday, December 6, 2023

Latihan, the Teacher of Life

THE title above is my pun on the meaning of “historia vitae magistra” (history, the teacher of life).

I remember a helper in Central Java told me many years ago that he remembered in detail everything he had been through when he was eight months old! He never tries to remember, but rather memories of past situations and events will come to his mind spontaneously if present circumstances require it.

I have often experienced this kind of phenomenon since I was opened.

Last November, I posted a story in my grandfather’s extended family WhatsApp group about the time when my grandfather took me, who was six years old, to the rice fields where my grandfather worked every day. One of my cousins ​​said that I was hallucinating, because she thought it was impossible for me at my current age to remember what happened decades ago. She tested me by asking where the rice fields were. I explained the location and the roads to get there, and what we could see along the way to the rice fields. My cousin was shocked, because everything I told her was true!

I saw a series of images in my mind, a series of imaginations, that I had not thought about.

On December 2, 2023, in the WhatsApp group for alumni of the Department of History, Faculty of Humanities, University of Indonesia, to one of my fellow alumni who wished me a happy birthday, I told about our chat more than 35 years ago, complete with details about what we talked about, the path we had taken on the way from campus to the bus stop and who was walking in front of us.

Simultaneously, the entire WhatsApp group, all of whose members had studied history, reacted: “Arifin, your memory of the past is very sharp!”

I responded jokingly—because it would be difficult for me to tell them that the Latihan was the cause of my sharp memory, “Aren’t we as historians supposed to always remember the past?”©2023

 

Pondok Cabe, South Tangerang, December 7, 2023

Tuesday, December 5, 2023

Menapaktilasi Diri

BELAKANGAN sedang giat-giatnya Pemuda Subud Indonesia menyiapkan sebuah kegiatan dalam rangka menyambut atau bersamaan dengan Kongres Subud Dunia pada bulan Juli 2024, yang akan digelar di Kalimantan Tengah, tetapi kegiatan-kegiatan sampingannya juga mencakup beberapa tempat di Jawa.

Kegiatan yang tengah dipersiapkan oleh Pemuda Subud Indonesia itu adalah kegiatan yang, sebelum pandemi COVID-19, tergolong rutin digelar untuk merasakan perjalanan Bapak sejak lahir pada 22 Juni 1901 di Kedungjati, Kabupaten Grobogan (kala itu menjadi bagian dari Karesidenan Semarang), Jawa Tengah, kemudian menerima Latihan Kejiwaan pada tahun 1925 di areal yang kini menjadi lahan parkir RSUD Kariadi, Semarang, kemudian membawa keluarga beliau pindah ke Yogyakarta semasa zaman pendudukan Jepang di Indonesia (1942-1945) hingga berdirinya organisasi Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan Susila Budhi Dharma (PPK Subud) pada 1 Februari 1947 di Yogyakarta. Kegiatan itu dikenal sebagai “Napak Tilas Bapak”.

Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa napak tilas berarti “bekas jejak” atau “bekas jalan yang pernah dilalui”. Kegiatan napak tilas ini merupakan kegiatan berjalan kaki dengan menelusuri jalan yang pernah dilalui oleh seseorang, pasukan, dan sebagainya untuk mengenang perjalanan pada masa perang dan/atau sejarah masa lalu. Jadi, Napak Tilas Bapak adalah penelusuran jejak-jejak perjalanan (secara fisik maupun spiritual) yang pernah dilakukan Bapak, yang warisannya dapat dinikmati oleh generasi berikutnya.

Tujuan dari Napak Tilas Bapak adalah agar peserta menjiwai, walaupun mungkin tidak sempurna, proses yang telah dilalui Bapak. Tidak hanya itu, napak tilas juga dilakukan untuk mengingatkan generasi anggota Subud selanjutnya tentang sejarah Subud.

Meskipun saya dahulu mendapatkan gelar akademik saya dari Departemen Sejarah Universitas Indonesia, dan menaruh minat yang mendalam terhadap studi sejarah, saya belum pernah mengikuti kegiatan Napak Tilas Bapak. Karena saya mendapatkan pengalaman kejiwaan yang membuat saya dapat menapaktilasi perjalanan Bapak melalui Latihan saya. Bagi saya, Latihan adalah momen menapaktilasi diri, penelusuran “jalan pulang” saya. Bagi saya, yang terpenting adalah napak tilas secara hakikat, meresapi aspek-aspek Latihan sehingga dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari yang sesuai zaman di mana saya hidup.©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 5 Desember 2023

Sunday, November 26, 2023

Hasil Testing Tidak Selalu Harus Dikerjakan

DI Facebook Memories saya untuk tanggal 27 November, muncul kenangan ini:

“Yang sudah ditesting tidak selalu harus dikerjakan... Jangan memaksakan diri untuk melakukan hal-hal yang di luar kemampuan kita. Tuhan sudah mengaturnya.”

~Nasihat Ibu Rahayu kepada Pengurus Nasional dan Panitia Pelaksana Kongres Nasional ke-25 PPK Subud Indonesia, di Griya Lestari, Cilandak, Jakarta Selatan, 27 November 2010

Pernyataan Ibu ini tidak direkam (karena bukan ceramah umum), tetapi saya, sebagai Wakil Sekretaris Nasional PPK Subud Indonesia pada waktu itu, mencatatnya kata per kata.

Nasihat ini disampaikan Ibu dalam kaitan dengan perdebatan keras yang sempat muncul berkenaan dengan pemindahan lokasi Kongres Nasional ke-25 dari Palangkaraya di Kalimantan Tengah (yang merupakan hasil testing pada Kongres Nasional ke-24 tahun 2009 di Anyer, Banten) ke Jawa Barat, karena banyaknya anggota yang menyatakan tidak sanggup secara finansial.©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 27 November 2023

Friday, November 17, 2023

Memperkuat Daya Ingat

MENGOMENTARI postingan kakak saya di grup WhatsApp keluarga besar eyang saya dari Purwokerto, pada 17 November 2023, yaitu tautan ke akun Instagram dari Referensini mengenai sebuah kedai kopi sejuk di Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, saya menulis: “Menikmati hidangan tradisional di tepi sawah? Saya pernah diajak Eyang Tamihardja ke sawah. Pas jam istirahat, kami makan nasi bungkus daun pisang berlaukkan tumis kangkung dan minumnya teh tubruk. Habis makan, Eyang mengisap rokok linting beraroma menyan.”

Salah satu sepupu saya, yang bertempat tinggal di Baturraden, Kabupaten Banyumas, merespons, “Ah, masak! Nggak lagi halu apa? Sawahnya di mana coba, Mas?”

Responsnya tersebut mungkin karena kejadiannya ketika saya masih duduk di taman kanak-kanak—sekitar tahun 1974, sehingga menurutnya tidak mungkin saya ingat. Saya mencoba mengingat letak sawah yang digarap eyang saya itu. Ketika berusaha mengingat, malah dari jiwa saya saya dicegah untuk berpikir terlalu keras.

Jiwa saya lantas “memutar film” mental, yang menggambarkan sebidang sawah hijau di kawasan Desa Sumampir, di dekat sungai (dalam film mental tersebut saya merasakan diri saya menyeberangi sungai, lalu mendaki tebing tanah di tepinya yang membawa saya dan eyang ke pemandangan hamparan persawahan). Di dekat sawah milik eyang saya terdapat sebuah tempat permakaman umum bernama Purna Raga.

Dengan pasti namun pasrah, saya menjawab pertanyaan sepupu saya begini: “Seingat saya, lewat sungai, yang dekat kuburan.”

Sepupu saya menjawab, “Sip! Pinter! Lewat Sungai Kele namanya.”

Di momen itu, terlintas di benak saya cerita dari saudara tua Subud saya di Cabang Purwokerto, Pak Wardhana nama beliau. Beliau pernah bercerita ke saya bahwa Latihan Kejiwaan telah memampukan beliau untuk mengingat hal-hal yang telah lampau. Beliau bahkan ingat momen-momen di saat usia beliau delapan bulan!

Saya tidak tahu teori mengenai fenomena daya ingat yang kian kuat setelah menerima Latihan Kejiwaan. Mungkin karena Latihan Kejiwaan menghentikan sejenak kembara pikiran selama prosesnya, dan karena itu menyaring informasi-informasi tertentu; sebagian disimpan, sebagian lagi untuk diungkapkan jika dibutuhkan. Siapa atau apa yang menyaringnya, saya tidak tahu. Semua berjalan spontan dan otomatis, namun tak terjelaskan.©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 17 November 2023

Wednesday, November 8, 2023

Rajin dan Tekun

ADA beberapa ceramah Bapak yang saya baca atau dengarkan, dimana Bapak menyebut “Latihan yang rajin dan tekun”. Saya ketik kedua kata tersebut—“rajin” dan “tekun”—di Google Translate untuk bahasa Indonesia-Inggris, yang kedua-duanya diterjemahkan sebagai “diligent”, meskipun terkadang keluar kata “persistent” untuk “tekun”. Dalam Bahasa Indonesia, “rajin” dan “tekun” memang memiliki arti yang sama, tetapi konotasinya berbeda satu sama lain.

“Rajin” mewakili kuantitas Latihan yang kita lakukan dalam seminggu. Itu berarti “dua kali Latihan bersama saudara-saudara lainnya dan satu kali Latihan sendiri”. “Tekun” mengacu pada kualitas Latihannya, yaitu benar-benar pasrah, berperasaan sabar, tawakal, dan ikhlas.

Dalam ceramah berkode 70 MAN 1, yang saya dengarkan rekamannya saat Wagean di Wisma Barata Pamulang, 4 November 2023, Bapak menganjurkan agar kita benar-benar pasrah saat Latihan; bila belum bisa seratus persen, sepuluh persen pun tidak apa-apa. Yang penting, “rajin dan tekun” melakukan Latihan, agar secara bertahap persentasenya meningkat terus.©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 9 November 2023

Sunday, November 5, 2023

Pembelajaran Dari Dendam

HARI Sabtu, 4 November 2023, merupakan Sabtu Wage menurut kalender Jawa—hari lahir Bapak Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo. Saya pun pergi menghadiri Wagean di Wisma Subud Jakarta Pusat bersama satu pembantu pelatih (PP) dari Cabang Jakarta Selatan dan Ketua Komisariat Wilayah III Subud DKI Jakarta. Hari itu merupakan pertama kalinya Cabang Jakarta Pusat mengadakan acara Wagean.

Hanya segelintir anggota yang hadir dalam Wagean di Jakarta Pusat, bisa dihitung dengan jari, tetapi itu menjadi Wagean paling berkesan yang pernah saya alami selama ini. Pada hari yang seharusnya berlangsung khidmat, malah terjadi suatu keributan besar yang dipicu oleh dendam kesumat seorang anggota wanita terhadap saya—yang masalahnya sendiri sudah hampir tidak saya ingat karena terjadi pada tahun 2016!

Anggota ini begitu tiba di Wisma Subud Jakarta Pusat langsung menyerang saya dengan kata-kata kasar, mencaci dan memaki saya dengan suara keras (mungkin terdengar di lingkungan terdekat Wisma Subud Jakarta Pusat), dan menghina saya secara vulgar. Saya hanya diam, merasakan diri, dan tersenyum pada si anggota yang berdiri sekitar satu setengah meter dari posisi saya duduk. Ketua Cabang Jakarta Pusat yang seorang wanita muda dan satu PP wanita Jakarta Pusat mencoba menahan si anggota dari mendekati saya, dan mungkin dia akan menyerang saya secara fisik.

Anehnya, saya hanya merasakan kedamaian dan kata-kata “tidak enaknya” terdengar enak di telinga saya, sehingga emosi saya tidak terpancing dan saya tidak pula terdorong untuk membalas umpatannya atau membela diri. Saya merasakan luapan energi amarahnya keluar dari diri si wanita dan memasuki diri saya untuk sekadar lewat, karena saya berada dalam keadaan pasrah. Keadaan pasrah itulah yang menyaring daya amarah itu menjadi “tiupan angin sejuk” yang memberi saya ketenangan dan rasa kasih sayang terhadap si anggota yang dendam pada saya itu.

Penyebab kemarahannya adalah bahwa dia pernah mendengar dari seorang PP pria di Cilandak bahwa saya dan dua saudara Subud dari Cabang Jakarta Selatan telah menggosipkan bahwa dia wanita yang bisa ditiduri oleh siapa saja. Gosip itu telah membuatnya sangat malu sehingga dia tidak pernah lagi melakukan Latihan di Cilandak. Tentu saja, tuduhannya terhadap saya itu tidak benar. Si PP pria yang telah memprovokasinya itu memang terkenal di Cilandak sebagai orang yang suka mengadu domba (mungkin karena dia krisis).

Bagaimanapun, jiwa saya menahan saya untuk tidak mengungkapkan yang sebenarnya, agar konflik yang ada antara saya dan si anggota itu selesai hari ini, saling memaafkan, dan menjadi pelajaran berharga di masa depan. Jiwa saya menyuruh saya mengalah saja, membuang ego saya yang cenderung mau menang sendiri.

Akhirnya, seorang PP wanita menyeret si anggota ke ruangan Latihan khusus wanita untuk menenangkannya dan mengajaknya Latihan. Setelah itu, saya dan dua PP pria yang ada serta Ketua Komisariat Wilayah III Subud DKI Jakarta melakukan Latihan bersama. Saya menerima Latihan yang kuat dan perasaan sukacita yang diiringi gerakan tarian dan suara nyanyian dengan nada-nada yang indah. Saya merasakan luapan amarah dan dendam dari si wanita meninggalkan dunia ini.

Beberapa lama setelah Latihan, saya dipertemukan dengan si anggota wanita. Dia tampak lebih tenang, bahkan meminta maaf ke saya karena ucapannya yang tidak enak. Ia juga kaget mengapa dirinya bisa seemosional itu, sedangkan niatnya ke Wisma Subud Jakarta Pusat adalah untuk Latihan. Disaksikan ketua cabang Subud Jakarta Pusat, para PP pria dan wanita dan Ketua Komisariat Wilayah III DKI Jakarta, saya mengaku salah (karena saya memilih untuk mengalah), saya dengan ikhlas meminta maaf atas nama diri saya dan dua saudara Subud Jakarta Selatan yang dia tuding sebagai penyebab dirinya tidak mau lagi Latihan di Cilandak, dan menyatakan bahwa saya tidak dendam padanya, karena saya mencintai suasana damai di dalam persaudaraan Subud.

Ia memaafkan saya. Saya bersalaman dan kemudian berpelukan dengan si anggota. Puji Tuhan, itu menjadi Wagean paling berkesan buat saya.

Ada satu ucapan si anggota wanita yang menarik bagi saya: Ia merasa terdorong untuk mencaci-maki saya tanpa dapat ia cegah, dan usai Latihannya ia me-niteni diri bahwa emosinya yang meluap-luap itu keluar begitu saja dan ia menyadari bahwa hal itu “mengalirkan keluar” perasaan dendamnya yang terpendam sekian lama. Pernyataannya itu menginsafkan saya bahwa kami berdua dibersihkan melalui kejadian tak terduga ini. Hal itu menambah kesan yang mendalam bagi saya terhadap acara Wagean di Wisma Subud Jakarta Pusat.©2023


Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 5 November 2023

 

Thursday, November 2, 2023

Namamu

Terkaparku di sini, menahan siksa

Sakit lahir batin tak terkira

Angan tak berhenti menggoda

Langit tak lagi memancar surga

Aku hilang harap untuk mencinta

Dirimu yang hadir semu

Ingin ku berkata, aku masih rindu

Namun engkau menjauh dariku

Aku, yang hanya ingin mencintaimu

 

Andai kau tahu apa yang kurasa

Nyeri tak terperi menerpa dada

Jadikan aku terpaku tak bisa berkata

Ada ku ingin menyebut dalam nada

Namamu yang cantik, penuh makna

Indah membelai jiwaku yang kini merana...

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 3 November 2023

Wednesday, November 1, 2023

Kualitas Gunung Es

APAKAH kita benar-benar mengenal orang yang kita rasa mengenalnya dengan baik? Pertanyaan itu mengemuka ketika saya sedang merenungkan pembelajaran saya mengenai persepsi dalam kaitan dengan merek. Saya teringat pada diagram gunung es yang acap digunakan para pengajar ilmu merek (brand).

Diagram tersebut dibagi menjadi dua: bagian puncak gunung es dan bagian badan hingga kaki gunung es, yang dipisahkan oleh permukaan laut. Bagian puncak itu merupakan ranah kualitas yang dipersepsikan (perceived quality), sedangkan bagian badan dan kakinya merupakan ranah kualitas mutlak (absolute quality) dari seseorang atau sesuatu. 


Kebanyakan orang, atau malah semua orang tak terkecuali, sesungguhnya hanya mengenal seseorang atau sesuatu dari kualitas puncak gunung esnya, namun kita cenderung mudah menghakimi seseorang atau sesuatu hanya dengan melihat kualitas yang kita persepsikan, dan memutuskan bahwa itulah kualitas mutlaknya.

Anggapan bahwa kita sudah mengenal dengan baik seseorang atau sesuatu hanya dengan melihat kualitas puncak gunung esnya adalah tidak tepat, bahkan berbahaya—dalam kaitan dengan produk, konsumen akan merasa tertipu atau dirugikan secara materi. Ini seperti nakhoda kapal Titanic yang merasa kapal yang dinakhodainya sangat kuat, tidak bisa tenggelam, dan meremehkan gunung es yang diberitahu keberadaannya oleh awak di tiang pengawas kapal lantaran ukurannya lebih kecil dari badan Titanic. Nakhoda tidak memperhitungkan ukuran badan gunung es yang tersembunyi di bawah permukaan air laut yang gelap, dan itulah yang mencelakai kapal yang dikatakan tidak dapat tenggelam itu.

Persepsi adalah pandangan ringkas kita terhadap seseorang atau sesuatu, yang bersifat relatif (berbeda di setiap orang), yang menafikan keseluruhan kualitas yang dimilikinya. Persepsi melibatkan apa yang penting bagi masing-masing kita, karena setiap orang memiliki kepentingan yang berbeda-beda terhadap seseorang atau sesuatu.

Persepsi kualitas sulit ditentukan, mengingat itu merupakan hasil persepsi (tindakan menyusun, mengenali, dan menafsirkan informasi sensoris untuk memberikan gambaran dan pemahaman tentang lingkungan kita) dan penilaian yang bersifat subyektif.

Meskipun kita sudah berhubungan dengan seseorang sekian lama dan sangat dekat, belum tentu kita mengenalnya dengan sangat baik. Bisa jadi karena dia menutupi atau menyembunyikan sebagian besar sifat-sifat atau kepribadiannya yang bakal dipandang buruk oleh orang lain. Ada pula orang-orang, saya salah satunya, yang dengan sadar maupun tidak sadar, menampilkan sifat-sifat yang berbeda satu sama lain sesuai lingkungan keberadaannya.

Teman-teman saya dari kalangan alumni Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia, misalnya, berbeda persepsi mereka terhadap saya dengan mereka yang sering berhubungan dengan saya di lingkungan Subud. Satu saudara Subud Jakarta Selatan, yang saya beri buku mengenai upaya kampung-kampung di Pulau Jawa dalam beradaptasi terhadap perubahan iklim, yang saya tulis untuk klien saya, berkomentar, “Membacanya memberi saya kesan yang berbeda terhadap Om Arifin yang saya kenal selama ini di Subud. Dari tulisan di buku ini, Om terkesan intelektual, santun, beretika. Berbeda banget dengan Om Arifin di grup WhatsApp Subud 4G—yang kasar dan vulgar!”

Saudara Subud lainnya, yang baru-baru ini melihat video singkat ketika saya tampil di layar kaca dengan predikat “pengamat militer” pada 26 Oktober 2023 lalu di status WhatsApp saya, menyatakan keheranannya. “Bagaimana bisa jadi pengamat militer, Mas? Saya tahunya hanya hobi menulis yang kemudian bisa jadi duit,” tulis saudara Subud tersebut dalam pesan WhatsApp-nya pada 27 Oktober 2023.

Yang dia ketahui tentang saya hanya itu dan itu sudah cukup bagi dia untuk merasa mengenal saya. Ya, karena otak manusia “malas” untuk memproses informasi yang sangat banyak. Saya pun terpaksa bercerita mengenai kualitas mutlak saya menyangkut latar belakang kehidupan saya, yang mencakup hobi saya dengan sejarah militer, strategi militer, dan pertahanan, dengan masa kecil saya yang sudah diwarnai dengan kegemaran membaca buku sejarah Perang Dunia Kedua.

Kenyataan mengenai “gunung es kualitas” seseorang atau sesuatu—yang saya pelajari justru dalam profesi saya sebagai konsultan branding, bagi saya pribadi memberi saya pengertian bahwa tak seharusnya saya mudah menilai atau menghakimi orang lain, baik atau buruk, hanya dengan melihat perbuatan atau perkataannya pada suatu momen. Kehidupan seseorang sejak dilahirkan hingga dewasalah yang membuat seseorang menjadi pribadi seperti yang kita kenal sekarang, dan kecuali kita mau menaruh kaki kita di sepatunya, janganlah terlalu cepat memberi cap baik atau buruk padanya.©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 1 November 2023

Friday, October 27, 2023

Menjelaskan Subud

BEBERAPA waktu lalu, saya menceritakan pengalaman saya masuk Subud kepada satu anggota dan satu kandidat. Saya bercerita dengan blak-blakan bahwa dua tahun sebelum saya masuk Subud saya telah berhenti beragama dan tidak lagi percaya pada Tuhan, karena berbagai kekecewaan yang saya rasakan pada sejumlah ajaran agama. Saya merasa tidak mendapat solusi dari ajaran agama atas masalah-masalah saya.

Anggota yang mendengarkan cerita saya itu memotong pembicaraan saya dengan pernyataan, “Oh, Mas Arifin sempat ateis dan tidak beragama ya? Pantas, Mas Arifin kalau menjelaskan Subud tidak memasukkan unsur agama sama sekali, dan hanya menceritakan pengalaman-pengalaman Mas Arifin serta kadang mencuplik ceramah Bapak dan Ibu Rahayu. Hebatnya, pengalaman-pengalaman itu bisa menawarkan solusi bagi berbagai masalah.”

Saya terdiam sejenak lalu berkata, “Bukankah pengalaman adalah satu-satunya penjelasan yang bisa diberikan di Subud yang tidak memiliki ajaran dan pelajaran? Bapak juga menjelaskan berdasarkan pengalaman beliau dan tidak memaksa anggota untuk mempercayai cerita Bapak kalau belum mengalami sendiri?”

Si kandidat yang duduk di seberang saya mengangguk-angguk dan berkata pelan, “Ya, inilah yang saya cari. Tampaknya Subud cocok buat saya.”©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 28 Oktober 2023

Monday, October 23, 2023

Sehari dalam Kehidupan Seorang Copywriter

 


SAYA akhirnya sampai pada titik ini pada hari ini, 24 Oktober 2023. Tanggal ini mudah saya ingat karena satu alasan: bertepatan dengan tanggal berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pada tanggal ini, 29 tahun yang lalu, saya menginjakkan kaki di Puri Matari, kantor sebuah biro iklan ternama Indonesia.

Merupakan sebuah “kecelakaan” yang membuat saya memutuskan bahwa jalan hidup saya adalah menjadi seorang copywriter. Saya diterima di Matari Advertising karena gelar sarjana sejarah dari Universitas Indonesia, dan dikontrak selama satu tahun untuk mengerjakan buku “25 Tahun Matari”. Belum tersedia ruang kerja tersendiri untuk saya dan rekan saya, sehingga untuk sementara kami ditempatkan di perpustakaan Matari.

Di perpustakaan ini terdapat lebih dari 7.000 judul buku, namun yang menarik perhatian saya adalah delapan buku tentang copywriting. Salah satunya adalah karya Alastair Crompton, The Craft of Copywriting. Buku inilah yang menginspirasi saya untuk menjadi seorang copywriter.

Sudah 29 tahun saya terjun ke dunia copywriting. Saya sudah mengerjakan ini begitu lama sampai saya lupa bagaimana rasanya tidak punya ide atau menderita sindrom kertas putih seperti yang dialami para pemula.

Sampai saat ini, walaupun saya sudah melakukannya bertahun-tahun, masih ada yang bertanya kepada saya apa sebenarnya copywriter itu. Namun kali ini saya tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Sebagai gantinya, saya akan bercerita. Judul ceritanya adalah “Sehari dalam Kehidupan Seorang Copywriter”.

Seperti apa kehidupan sehari-hari Anda jika Anda seorang copywriter? Jawaban singkatnya adalah hari-hari setiap orang mungkin sedikit berbeda, tentu saja, tetapi jika Anda pernah menjadi copywriter, maka Anda tahu bahwa Anda dapat mengatur semacam kemiripan dan kerangka di sekitarnya untuk mengatur hari Anda.

Hari ini, saya akan memandu Anda melalui hari-hari biasa saya sebagai seorang copywriter, bagaimana saya mengatur waktu saya untuk duduk dan memiliki waktu menulis secara mendalam, bagaimana saya mengatur pertemuan dengan klien, dan banyak lagi. Ini adalah parameter dan kerangka kerja yang saya berikan pada diri saya sendiri, sehingga saya tetap bisa menjadi kreatif dan visioner dalam segala hal, namun juga dapat menyelesaikan pekerjaan karena itulah satu-satunya cara bisnis saya menghasilkan uang jika saya benar-benar menggunakan otak saya di saat yang paling tepat.

Jadi ini adalah kisah sehari dalam kehidupan, kapanpun saya bangun tidur. Baik saya sedang berlibur atau tidak, hal pertama yang saya lakukan adalah menenggak air dan melakukannya begitu turun dari tempat tidur. Kadang-kadang saya menambahkan lemon dan madu ke dalamnya dan baru setelah itu saya diperbolehkan meminum minuman panas—bagi saya, itu bisa berupa teh atau kopi.

Selanjutnya, saya mengabdikan waktu untuk mendekatkan diri kepada yang ilahi. Sejak saya dibuka di Subud, saya selalu suka duduk diam di tepi tempat tidur dengan mata tertutup dan merasakan diri saya sendiri selama beberapa belas menit. Saya merenung: Oke, di sinilah saya berada dalam hidup. Mengapa saya sangat menyukainya adalah karena hal ini memberi saya ruang untuk mengalami pasang surut.

Setelah itu, saya kemudian mempunyai kesempatan untuk membaca apa pun yang saya inginkan. Seperti buku, saya terobsesi dengan membaca. Waktu saya di pagi hari adalah ketika saya mempunyai kesempatan untuk membaca lebih banyak tentang spiritualitas atau motivasi.

Pada titik ini, putri saya yang berusia enam tahun sudah bangun. Jadi kami pun menyantap sarapan bersama. Istri saya menyiapkan putri kami dan saya sering mengantarnya ke sekolah dasar, sekitar satu kilometer dari rumah.

Dalam rutinitas pagi itu, berolahraga ada di dalamnya. Dalam rutinitas olahraga saya, saya hanya berjalan-jalan sebentar di pagi hari. Itu semua yang saya lakukan di pagi hari sebelum memulai hari kerja saya.

Baiklah, selanjutnya dalam rutinitas harian saya, waktunya sekitar jam 9 pagi hingga jam makan siang. Satu hal yang harus saya lakukan saat pertama kali duduk di belakang meja saya adalah merencanakan hari saya secara mental dan memastikan semuanya sudah direncanakan. Saya tidak langsung duduk dan mulai melakukan hal pertama di meja saya. Saya menenangkan pikiran saya dan berserah diri kepada Tuhan, memohon bimbinganNya dalam segala hal yang saya lakukan pada hari itu.

Oke, itu membawa saya sampai sekitar jam 11.30 atau dua belas siang, saat ini saya akan pergi ke dapur dan mengambil makan siang. Rehat saja, membiarkan otak saya berhenti bekerja sebentar. Saya akan duduk di carport selama beberapa menit, merokok sementara pikiran saya melayang ke dunia asing atau menikmati pemahaman spontan yang datang dari jiwa saya.

Saya biasa bekerja di meja saya. Saya pikir itu adalah peninggalan dari masa saya masih menjadi pegawai tetap. Saya menyadari bahwa saya dapat menghabiskan 45 menit untuk makan siang di meja saya, tidak benar-benar menyelesaikan pekerjaan dengan baik atau sama sekali tidak menikmati proses menikmati makanan enak atau saya dapat menghabiskan 20 hingga 30 menit, menjauh dari segalanya dan kemudian kembali bekerja dan bisa lebih fokus.

Sekitar jam tiga sampai lima sore, saya melakukan sebanyak yang saya bisa selama waktu ini sebelum saya kehabisan akal, siap untuk pergi menemui putri saya, bermain dengan keluarga saya. Dan kemudian saya mematikan komputer. Terkadang, lebih sering saya membuka ponsel cerdas saya di malam hari dan melakukan beberapa hal; terutama memeriksa kotak masuk. Saya tidak menghabiskan banyak waktu sama sekali di kotak masuk email saya, maksimal satu jam setiap hari, dan kemudian tiba waktu makan malam.

Pada malam hari, istri saya akan memasak makan malam, atau saya yang akan memasaknya. Kami akan bermain dengan putri kami, bermain game, membaca, dan sebagainya. Saat semua urusan keluarga selesai, waktu sudah menunjukkan pukul 20.30, terkadang pukul delapan.

Pada hari-hari tertentu, dua hingga tiga kali seminggu, saya harus pergi ke Latihan bersama di hall Subud dekat rumah saya atau ke wisma Subud yang jaraknya lebih dari 30 kilometer dari rumah saya, dan pulang larut malam. Namun di luar hari-hari itu, saya mencoba menuju kamar tidur lebih awal dan memulai rutinitas perawatan diri, mandi, menyikat gigi. Saya mencoba untuk tertidur antara jam 9 dan 10 karena saya ingin memeriksa apa yang baru di akun media sosial saya (Facebook, Instagram, dan Twitter).

Nah, seperti itulah keseharian saya sebagai copywriter. Faktor-faktor jelas berubah tergantung pada waktu dan musim dalam setahun. Saya belajar banyak bahwa hal ini berubah tergantung pada usia dan tahapan yang saya dan keluarga saya lalui.©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 24 October 2023