Sunday, July 23, 2023

The Meme God

Commenting on someone’s post on the Facebook Group “SUBUD AROUND THE WORLD”  on June 16, 2023, regarding how Subud responds to atheism, I wrote the following.

 

I know a member well, who passed away in 2020. He was opened in 1968 in Cilandak by Pak Darto. He told me that he was an atheist when he joined Subud. He was never introduced by his parents to religion or teachings about divinity, because his father was a sympathizer of the Indonesian Communist Party and his mother adhered to Javanese mysticism.

It was his mother who took him to Wisma Subud, to meet Pak Darto to open her son. The mother had joined Subud earlier—she was opened by Ibu Sumari in London. The mother was a nurse on the hospital ship USS Hope which was anchored in England at the time.

His mother brought him to Subud because he had had a stomach ache and had not recovered even though he had been treated by doctors.

The member said to me, “If at that time Pak Darto had explained anything about God, I would not have wanted to join Subud. But Pak Darto instead told me to go into a room where thirty people were waiting to be opened.”

The member also shared that he did the Latihan for 12 years without “believing in God” and still received strong vibrations. One day, while speeding on the highway, he had a terrible accident, which normally would have killed the driver. But the member instead felt extraordinary peace and calm, which made him resignedly surrender to whatever would happen to him. He even had time to think, “Wow, this is how death feels like. So wonderful.”

Before he passed out, he saw a bluish light envelop him. Then, he heard screams of people, saying, “Hey, the driver is still alive!”

The member was amazed to see that he was completely unharmed, both outside and inside his body. From then on, he began to believe that there was an existence beyond human life, but he was reluctant to call it a god.

I myself have experience with atheism. Two years before I was opened in Subud, my chaotic, pain-ridden life had led me to decide that God didn’t exist and religion was bullshit.

After doing Latihan for four years, I again did not believe in God. It may be an expression of the cleansing I was going through—one that cleared my mind of human teachings about god and led me to know the true god, which is beyond the reach of our minds. But in my “not believing in a meme* god” state, my Latihan felt really strong—maybe because my mind wasn’t shackled by teachings; I felt very free.

I shared this experience with a member who also didn't believe in God at the time. He confirmed me by stating that his Latihan experience was very similar to mine. And I noticed that those who stayed in Subud (especially native Indonesians) are those who don't believe in a meme god, a god that was conceived by reason through man-made teachings.©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 24 July 2023

 

*) A meme is an idea, behavior, or style that spreads by means of imitation from person to person within a culture and often carries symbolic meaning representing a particular phenomenon or theme. A meme acts as a unit for carrying cultural ideas, symbols, or practices, that can be transmitted from one mind to another through writing, speech, gestures, rituals, or other imitable phenomena with a mimicked theme.


Thursday, July 20, 2023

Bicara Dengan Jiwa

DALAM dua minggu ini, entah mengapa, saya “terpaksa” harus mendengarkan keluh-kesah dari para orang tua yang menginginkan anak-anak mereka, yang telah cukup usianya, untuk masuk Subud.

Sekali waktu, seorang anggota dari cabang lain datang bersama istrinya ke Wisma Barata Pamulang untuk memenuhi jadwal Latihan bersama hari Rabu malam. Kepada saya, si anggota bercerita tentang anaknya yang bermasalah, dan untuk mengatasi masalah itu, ibu si anak, yaitu istri si anggota yang juga anggota Subud, memaksa anaknya untuk masuk Subud, dengan rayuan bahwa masa depan si anak akan lebih baik. Suaminya sendiri tidak menghendaki bila anak mereka masuk Subud karena dipaksa kedua orang tuanya.

Si suami pun meminta pendapat saya. Saya katakan padanya bahwa sebaiknya anaknya jangan dipaksa masuk Subud dan supaya dia menasihati istrinya agar jangan memaksa anak mereka. Masuk Subud itu panggilan jiwa, bukan karena propaganda atau iklan, dan tidak bisa diperlakukan seolah Subud itu produk komersial yang memiliki dampak yang sama bagi semua konsumennya.

“Jadi, menurut Mas Arifin, apa yang seharusnya saya dan nyonya lakukan?” tanya si suami.

Saya sampaikan bahwa yang bisa dia lakukan adalah tetap Latihan, tetap berusaha meluruskan jalan anaknya agar terhindar dari masalah yang lebih parah, serta memohon bimbingan Tuhan. Ada satu yang kurang dalam penjelasan saya, tetapi pada saat itu saya tidak tahu apa yang kurang itu.

Ketika berkata begitu, saya tiba-tiba teringat pada satu keponakan saya yang saat ini tinggal bersama saya di rumah saya di Pondok Cabe. Keponakan ini memiliki gaya hidup dan pola pikir yang, tak dia sadari, sebenarnya merugikan dirinya. Sebagai anak dari keluarga yang berantakan (ayah-ibunya bercerai), keponakan saya itu dibesarkan oleh kedua orang tuanya secara material belaka, tanpa dilengkapi dengan tuntunan mental spiritual maupun intelektual yang memadai. Dia malas, mau enaknya saja, terlalu tergantung pada gawai (dia lebih banyak menghabiskan waktu setiap hari dengan memelototi ponselnya, main game), kurang bertanggung jawab, yang tentunya amat merugikan kami sebagai pemilik rumah dimana ia turut menghuninya.

Tugas yang tidak ringan dibebankan ke saya dan istri ketika keponakan itu memutuskan untuk ikut kami. Saya dan istri menuntut agar dia berubah sikap dan perilakunya, agar tidak merepotkan kami dan juga agar dia memiliki masa depan yang cerah. Tetapi, bukan hal mudah untuk mengubah pola pikir seseorang yang sudah terbentuk sedemikian rupa sejak ia kecil. Saya terus bertanya-tanya, bagaimana saya dapat membantu keponakan ini mengubah pola pikir dan gaya hidupnya. Dan jawaban mengenai pertanyaan saya itu bisa pula menjadi jalan keluar bagi si anggota yang menanyakan pendapat saya perihal pola asuh anaknya.

Obrolan saya dengan anggota itu terputus karena kami dan para anggota yang sudah hadir di Wisma Barata Pamulang lainnya dipanggil untuk Latihan bersama di Rumah Besar (kediaman Bapak Subuh di Pamulang). Karena itu hari Rabu, maka adalah giliran anggota pria yang Latihan di Rumah Besar. Saya memfavoriti posisi di ruang depan tengah, tepat di bawah mezanin dimana kamar tidur dan ruang kerja Bapak berada. Entah mengapa, Latihan saya di situ selalu kuat namun selalu dalam gerak dan suara yang harmonis bagaikan orkestra musik Jawa yang meruyak ke tengah lembah yang sejuk.

Ketika Latihan, saya menerima jelas dan jernih sekali “ucapan” Bapak, sebuah nasihat terkait bagaimana kita bisa mengubah pola pikir dan gaya hidup seseorang. “Bicaralah dengan jiwanya!” Pembicaraan dari jiwa ke jiwa. Barulah saya di situ saya tersadar tentang kekurangan dalam penjelasan saya kepada si anggota yang anaknya bermasalah.

Sayang sekali si anggota dan istrinya sudah pulang ketika saya keluar dari Rumah Besar. Maksud saya, saya mau menyampaikan penerimaan saya tadi: Bicara dengan jiwa. Ah, tidak apalah, saya pikir. Mungkin memang belum waktunya. Dan hanya itu yang dapat saya sampaikan dalam tulisan ini; jiwa saya mencegah saya memaparkan pengalaman praktisnya.©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 20 Juli 2023

Wednesday, July 19, 2023

Jurang Pemisah Antar Generasi

DI Subud Indonesia dewasa ini muncul isu terjadinya jurang pemisah (gap) antar generasi yang sudah berlangsung cukup lama. Generasi yang lebih tua merasa prihatin dengan sikap dan perilaku Pemuda Subud (Subud Youth) yang mereka rasa kurang mewakili nilai-nilai susila, budhi, dharma. Generasi yang lebih muda, terlebih yang bergabung dengan Subud dalam kurun waktu lima tahun belakangan ini, merasa bahwa mereka kurang mendapat perhatian, bahwa yang tua-tua merasa lebih hebat sehingga maunya benar sendiri, dan para pembantu pelatih senior tidak tergerak untuk melayani kebutuhan generasi muda.

Saya baru-baru ini tidak sengaja terseret dalam obrolan seorang anggota Pemuda Subud Jakarta Selatan berusia 29 tahun dengan seorang pembantu pelatih senior, seorang berkebangsaan Amerika yang tinggal di kompleks Wisma Subud Cilandak. Si anggota Pemuda rupanya tertarik dengan permasalahan saya, yang menurutnya menjadi solusi atas permasalahan yang sedang ia hadapi.

Ketika saya hendak bercerita, ia permisi untuk pergi dari tempat kami bertemu, karena merasa bahwa saya ingin bicara empat mata saja dengan si pembantu pelatih. Tetapi saya mempersilakan ia untuk turut mendengarkan, karena mungkin ia akan mendapatkan sesuatu yang bermanfaat. Ia berpesan agar saya tidak menceritakan masalahnya kepada orang lain di luar lingkaran obrolan kami saat itu. Saya pun berpesan hal yang sama.

Giliran ia menceritakan masalahnya, yang, demi kenyamanan kami bersama, dia lakukan ketika kami telah berada di sebuah kafe di Jl. Cipete Raya, bernama Teh Tarik Aceh, sekitar 2 km dari Wisma Subud Cilandak, saya sempat membatin, “Wah, soal sepele begitu kok menjadi masalah berat bagi dia?”

Tetapi saya segera disentil oleh diri saya sendiri: “Ingatkah kamu ketika kamu berusia 29 tahun? Bukankah kamu saat itu langganan klinik psikiatri?”

Saya tersentak dengan kenangan yang disodorkan oleh jiwa saya itu. Benar, pada tiga bulan pertama tahun 1997 saya dirujuk oleh perusahaan tempat saya bekerja ke psikiater karena saya dipandang menderita depresi berat. Penyebabnya adalah konflik keluarga, antara saya dengan kakak perempuan saya, yang melibatkan berbagai pihak yang mendukung kakak saya dan menekan saya. Pada saat itu, kedua orang tua saya baru meninggal dan saya belum masuk Subud. Anda bisa bayangkan betapa kesepian dan sengsaranya saya.

Dari kacamata saya saat ini, situasi yang menyakiti saya secara psikologis kala itu sebenarnya bisa saya atasi dengan baik, tanpa saya harus menderita depresi dan menjadi pasien klinik psikiatri. Dari kacamata saat ini ya. Tetapi, dari versi diri saya di usia 29 tahun, masalah itu justru terasa amat ekstrem, yang tidak mampu saya hadapi sendiri. Di usia itu saya sudah harus mengonsumsi obat penenang yang diresepkan sang psikiater, yang hanya memberi ketenangan selama 12 jam saja.

Ketika mendapat sentilan dari jiwa saya itu, saya lantas memahami mengapa ada jurang yang cukup lebar di Subud Indonesia, dan di negara-negara lainnya, antara generasi tua dan yang lebih muda. Generasi yang lebih tua, menurut saya, seharusnya menaruh kaki mereka di sepatu anggota Pemuda, menjiwai kehidupan anak muda terutama di era yang penuh tekanan ini.

Menasihati mereka agar Latihan dengan rajin tidaklah cukup; Anda harus benar-benar hadir dalam kehidupan mereka, memandang kehidupan sebagaimana mereka melihatnya melalui mata mereka, dengan tulus mendampingi mereka melalui saat-saat kelam, mendengarkan keluh-kesah maupun harapan-harapan mereka. Beri mereka cinta yang membangunkan kedekatan atau persahabatan.

Pendek kata, jangan merasa, karena lebih tua, lantas Anda selalu benar dan menganggap persoalan Pemuda adalah sesuatu yang sepele saja.©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 19 Juli 2023