Saturday, February 2, 2019

Perwira Tanpa Seragam dan Tanda Pangkat


-->
SEHARI sebelum Dies Natalis ke-69 Universitas Indonesia tanggal 2 Februari 2019, saya yang sedang sibuk mengemas barang dalam rangka pindahan SOHO (small office, home office) saya, tidak sengaja menemukan skripsi saya di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya) Universitas Indonesia.

Iseng saya baca lagi... Wow! Saya sendiri tidak menyangka bahwa dahulu saya “penggila militer”.

Sejak di bangku sekolah dasar, saya memang bercita-cita menjadi perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI). Alasannya sih klasik: Karena ayah saya juga seorang perwira TNI Angkatan Darat, pejuang Perang Kemerdekaan Republik Indonesia 1945-1949 (yang cerita-cerita masa perjuangan beliau juga mewarnai skripsi saya), dan intelijen karir yang mengalami sendiri masa-masa awal Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN, sekarang Badan Intelijen Negara/BIN).

Ayah saya mengimpikan saya menjadi penerus beliau, dan berharap saya bisa masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri). Tapi di sekolah menengah atas (SMA) saya malah masuk jurusan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial); hilanglah jalan saya ke Akabri yang mensyaratkan lulusan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) di SMA-nya. Ayah saya masih berharap saya menjadi perwira TNI lewat Program Perwira Karir kerjasama UI dan Markas Besar ABRI. Itu pun terlewat, karena saya ditawari kerja di periklanan—dan saya menyambutnya.

Semasa mengawali karir sebagai copywriter tahun 1994, bara di balik dada saya masih menyala dengan bahan bakar semangat militer. Satu-satunya yang dapat saya persembahkan untuk memenuhi impian ayah saya agar saya menjadi generasi penerus beliau sebagai tentara adalah skripsi ini. Meskipun saya menulisnya bukan sebagai taruna Akabri atau perwira TNI, pembimbing skripsi saya adalah seorang kolonel infanteri yang menjabat Kepala Dinas Penelitian dan Penulisan (Kadislitsan) di Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI, yang kantornya di sebelah Museum Satria Mandala, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Satu eksemplar skripsi saya entah bagaimana jatuh ke tangan Jendral TNI Feisal Tanjung, Panglima ABRI (1993-1998). Beliau membacanya dan memuji skripsi saya sebagai karya yang dapat memperkaya pemikiran militer Indonesia, karena literatur tentang perang urat saraf masih langka saat itu.

Tema skripsi ini pun saya ajukan karena terinspirasi oleh buku mahakarya ahli strategi berkebangsaan Inggris, Kapten Basil Henry Liddell-Hart (1895-1970), Strategy: The Indirect Approach (1954). Saya membaca buku tersebut sudah sebanyak empat kali sebelum saya yakin menjadikannya pijakan bagi tema skripsi saya. Mayor TNI Angkatan Udara yang saya jumpai di perpustakaan Museum Satria Mandala mengatakan ke saya, bahwa Strategy adalah bacaan para jendral, dan karena itu mereka yang bisa memahami arah pemikiran Liddell-Hart hanyalah para panglima mandala (field commanders).

“Anda masih mahasiswa tapi Anda menguasai Strategy. Saya waktu di Seskoau (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara) dan Seskoad (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat) mendapat kuliah tentang Liddell-Hart, tapi saya belum khatam baca Strategy. Anda sudah, empat kali, dan mampu menjabarkan dalam studi kasus perang gerilya. Anda lebih dari seorang perwira!” ujar si Mayor sambil memberi hormat militer kepada saya.

Saya rasa, di alam sana, ayah saya tersenyum bangga, karena putranya mendapat penghormatan militer sebagai “perwira tanpa seragam dan tanda pangkat”.©2019



Jl. Kalibata Selatan II, Jakarta Selatan, 1 Februari 2019