Thursday, November 10, 2011

Kesungguhan

 “Bekerja dengan kesungguhan adalah jalan utama menuju kemuliaan. Ia ibarat obat dan terapi bagi penyakit Anda bahkan ia ibarat harta simpanan Anda.”

~Syekh Dr. Aaidh ibn Abdullah al-Qarni

 

SALAH satu klien saya, manajer humas dari sebuah perusahaan pembuat bir yang mereknya terkemuka di Indonesia, menceritakan ke saya tentang proses pembuatan (brewing) bir. Dalam salah satu tahapnya, air diisikan ke dalam wadah bermuatan bakteri. Pengisian air dilakukan dengan cara mengeluarkannya secara perlahan dari dasar wadah, bukan menyemburkannya dari atas wadah. Alasannya, kata sang manajer humas, penyemburan secara kencang dari atas akan membuat bakteri marah, yang berakibat pada gagalnya fermentasi dan otomatis menghasilkan bir yang rasanya “tidak sebagaimana mestinya”.

Penjelasan sang manajer humas pabrik bir itu menggiring ingatan saya ke pengarah seni (art director) di sebuah biro iklan di Surabaya tempat saya bekerja dahulu, yang bisa membuat kopi yang nikmat dari berbagai merek kopi. Bahkan, menurutnya, merek kopi tidak penting; yang penting adalah kesungguhan kita dalam meraciknya, mulai dari menuangkan bubuk kopi dan gula ke dalam cangkir hingga menuangkan air panas dan mengaduknya. Perhatian kita, sarannya, terfokus pada semua prosesnya, dan tidak terpecah ke mana-mana.

Baru-baru ini, pada suatu pagi, lupa dengan saran sang pengarah seni, saya mengaduk kopi dengan terburu-buru sambil membaca pesan singkat yang tampil di layar telepon seluler saya, dan emosi saya sedang tidak stabil. Berharap akan menyeruput kopi yang harum nan nikmat, yang saya dapatkan malah rasa hambar dan tidak ada harum-harumnya sama sekali.

Seketika itu juga, saya ingat bahwa ketika membuat kopi tadi saya tidak menerapkan kesungguhan. Saya tidak tahu, apakah ada korelasi logis antara kesungguhan dengan kenikmatan sebuah kopi, namun ketika sorenya saya membuat kopi dari merek yang sama, tetapi dengan sikap diri yang berbeda--kali itu diiringi kesungguhan—hasilnya memang sama sekali berbeda: Kopi terasa lebih nikmat, gurih dan harum!

Bagaimana bisa mencapai kesungguhan dalam apa pun yang kita lakukan? Tidak berpikir hal-hal yang tidak relevan dengan apa yang sedang kita lakukan, tentu saja. Tokoh Kapten Nathan Algren (diperankan oleh aktor Tom Cruise) dalam film The Last Samurai (2003) diperingatkan agar tidak terlalu banyak berpikir, dan memusatkan pikirannya pada pedang dalam genggamannya, ketika ia berulang kali dikalahkan pendekar pedang Ujio (Hiroyuki Sanada) dalam pertarungan pedang kayu di desa kaum Samurai pemberontak di mana ia ditawan. Bahkan rasa takut maupun ambisi untuk menang harus ia singkirkan.

Tidak memikirkan hal-hal yang tidak relevan dengan kegiatan yang sedang kita lakukan amat mempengaruhi hasilnya. Ketika menulis, sebagai salah satu contoh tentang kegiatan yang menuntut kesungguhan, tidak usah memikirkan bahwa tulisan itu akan disenangi pembaca, atau apakah Anda akan memperoleh sanjungan atas karya Anda, atau memikirkan kata-kata yang berkesan intelek supaya diri Anda dianggap hebat.

Ketika menulis, ya menulis saja, pertahankan kesungguhan dalam menuangkan gagasan menjadi rangkaian kalimat yang berbicara kepada calon pembaca tulisan Anda. Dalam kata-kata penulis berkebangsaan Amerika Serikat, William C. Faulkner, menulis dimulai dengan menjadi diri sendiri!

Karya-karya hebat lahir dari kesungguhan, bukan dari upaya setengah hati dan konsentrasi yang terpecah oleh hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan yang sedang dilakukan. Dengan kesungguhan, kegagalan tidak menjadi kendala, melainkan merupakan energi untuk berusaha lebih baik lagi. Sungguh!Ó2011

 

Lantai 7 Apartemen Citylofts Sudirman, Karet Tengsin, Jakarta Pusat, 10 November 2011