Sunday, September 26, 2021

Mimpi Dengan Bapak

MALAM, tanggal 12 masuk 13 September 2021, saya bermimpi melakukan perjalanan ke Grobogan, Jawa Tengah, ke suatu tempat yang tidak bernama tapi fisik bangunan-bangunannya dan lingkungannya membuat batin saya berseru, “Seperti Kedungjati ya?”                  

Sesaat setelah saya membatin begitu, muncul sosok Bapak Subuh. Bapak berjas tanpa dasi dan mengenakan peci. Bapak menunjuk ke saya dan berkata, “Saudara kan penulis. Tulis saja esai bahwa tempat ini surga, maka akan jadi surga. Tempat tidak terlalu penting dibandingkan cerita yang bisa saudara ramu tentang tempat itu.”

Setelah Bapak bilang begitu, mimpi saya berakhir.©2021


Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 13 September 2021 

Monday, September 20, 2021

Pikiran yang Terbimbing

KARENA kehilangan seseorang yang disayanginya, seorang saudara Subud baru-baru ini mengirim pesan WhatsApp ke saya, menanyakan apa yang harus ia lakukan. Ia mengungkapkan bahwa ia sangat bersedih dan saya dapat merasakan kesedihannya.

Seperti biasa, saya merasakan diri dahulu, “menguji” respons seperti apa yang sebaiknya saya sampaikan. Latihan Kejiwaan menuntun saya untuk menjawab berikut ini: “Jangan diingkari kesedihannya, release saja kalau memang sedih. Itu manusiawi.”

Dia menerimanya dengan baik, merasa mendapat dukungan untuk bersedih.

Jika Anda sedih, menangislah. Jika Anda bahagia, tertawalah. Lakukan apa yang tepat bagi Anda, sesuai kondisi Anda di suatu waktu. Jika hal-hal sederhana ini tidak bisa Anda lakukan, berarti Anda belum menjadi manusia. Sedih, bahagia, marah, jatuh cinta, dan-lain emosi adalah manusiawi. Sesimpel itu.

Benarkah? Memang benar, sesimpel itu. Tapi ternyata, banyak orang tidak mampu melakukannya. Mengapa?

Membaca pesan WhatsApp-nya saudara Subud itu, saya jadi prihatin. Saya merasa kasihan pada begitu banyak manusia di sekitar kita yang begitu kacaunya keadaan pikiran mereka sampai hal-hal simpel saja mereka tidak tahu/ingat. Kalau kehidupan kita terlalu dikontrol oleh akal pikir, oleh nilai-nilai yang tumbuh dari akal pikir semata, kita cenderung memiliki pikiran yang tidak terarah atau terbimbing, sehingga sulit menjadi “manusiawi”.

Saya pernah membaca sebuah buku tentang cara mengembangkan kreativitas, dan aspek paling penting yang dianjurkan buku tersebut adalah simplisitas. Anda hanya bisa menghasilkan ide-ide kreatif bila cara berpikir Anda sederhana.

Sebagai praktisi penjenamaan (branding), beride kreatif adalah makanan pokok saya. Bila saya tengok ke belakang, ke saat saya baru membangun karir sebagai copywriter, 26 tahun yang lalu, saya pun pernah berada dalam kondisi pikiran tidak terbimbing, sehingga tidak mampu berpikir simpel. Setelah masuk Subud, dan dimampukan untuk “meneliti diri” (niteni), saya menganalisis proses diri dari berpikir rumit hingga menjadi simpel, dan dampak-dampak yang ditimbulkannya. Dengan pikiran yang kosong/hening, simplisitas justru lebih cepat mengemuka.

Pernah suatu ketika saya menghadapi satu klien saya, yang berkeluh-kesah bahwa dia letih dan kurang tidur. Dia sudah minum berbagai suplemen dan jamu, letihnya tidak hilang juga. Lalu saya memberi saran ke dia, “Pak, kalau capek istirahat. Perbanyak tidurnya.”

Dia tertegun, seperti baru menyadari kebodohannya sendiri. Jawaban saya paling masuk akal dan simpel, namun pikiran tak terarah dari klien saya tidak dapat merumuskan solusi sesederhana itu. Ternyata tidak simpel untuk bisa berpikir simpel, walaupun sebenarnya gampang sekali. Cukup dengan tidak berpikir melampaui seharusnya.©2021


Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 19 September 2021