Wednesday, August 22, 2018

Menyikapi Vonis Penistaan Agama Terhadap Meiliana: Tuhan Tidak Tidur!


Pengadilan Negeri Medan menjatuhkan hukuman penjara 18 bulan terhadap seorang perempuan yang dinyatakan bersalah melakukan penistaan agama karena mengeluhkan suara bising dari masjid.

Meiliana, perempuan Tionghoa, menangis sewaktu Hakim Ketua Wahyu Prasetyo Wibowo mengumumkan hukuman terhadapnya hari Selasa. Ia dibawa dari pengadilan dengan tangan diborgol.” (https://www.voaindonesia.com/a/kesal-karena-suara-bising-masjid-meiliana-divonis-lakukan-penistaan-agama/4537467.html)
                                                                                                     

TAHUN 2005, ketika tinggal di rumah kontrakan di kampung padat di Jl. Margodadi III, Kelurahan Gundih, Kecamatan Bubutan, Kota Surabaya, saya bertetangga dengan satu keluarga Madura. Suatu hari, dalam rangka menyambut pernikahan anaknya, kepala keluarga memasang speaker sebesar lemari pakaian di tepi gang di depan rumahnya yang menggaungkan ayat-ayat Qur’an dengan keras dari pagi jam 08.00 sampai malam jam 20.00.

Terganggu? Terus terang, iya. Saya lebih senang mendengar ayat-ayat suci dilantunkan dari mulut seseorang tanpa perantaraan pengeras suara, apalagi rekaman. Yang dilakukan tetangga saya itu sedianya selama tujuh hari, tapi pada hari ketiga, siang, terjadi sesuatu yang ajaib.

Saking tidak tahannya—tapi saya juga tidak mau mengusik “keasikan” si tetangga dengan menegurnya, saya pun duduk di balkon rumah saya. Saya kemudian menenangkan pikiran saya, dan memohon kebijaksanaan Tuhan Yang Maha Esa terhadap hal ini. Selanjutnya, saya berserah diri dengan perasaan sabar, tawakal, dan ikhlas. Dalam hitungan detik sejak saya berserah diri itu, tiba-tiba terdengar ledakan keras disusul asap hitam tipis dari balik kotak pengeras suara segede lemari pakaian itu, dan terdengar suara “ngiiiing”.

Tetangga saya keluar untuk melihat apa yang terjadi. Dia hanya garuk-garuk kepala, bingung. Sejak hari itu, dia beralih ke speaker yang kecil, yang hanya terdengar di lingkungan rumahnya, dan hanya dinyalakan satu jam saja tiap harinya.

Bila kita serahkan diri kepadaNya, yang tidak mungkin pun menjadi mungkin. Gusti Allah ora sare (Tuhan tidak tidur)!©2018



Jl. Kalibata Selatan II, Jakarta Selatan, 22 Agustus 2018