Friday, August 30, 2019

Berpikir Negatif yang Positif


KAUM bijak sering kali berpesan, agar kita jangan berpikir negatif mengenai sesuatu atau seseorang, karena dapat menjadi kenyataan. Sebaliknya, berpikir positif pun dapat membawa kita kepada hal-hal baik atau positif. Karena itu, saran kaum bijak, kita harus selalu menjaga pikiran kita. Beberapa adat yang saya tahu, mengajak kaum prianya mengenakan tutup kepala berupa blangkon (Jawa Tengah dan DI Yogyakarta) atau totopong atau iket (Sunda) sebagai perlambang bahwa apa yang ada di dalam kepala—pikiran—harus selalu dijaga.

Terkait pikiran, saya memiliki pengalaman yang unik. Setelah saya menerima Latihan Kejiwaan dan gerak hidup saya terbimbing olehnya, saya mengalami berbagai kejadian, di mana berpikir negatif dapat terjadi walaupun saya tidak menghendakinya. Artinya, berpikir negatif tersebut timbul lantaran terbimbing oleh kehendak Tuhan, bukan oleh kehendak pribadi saya.

Tahun 2005 lalu, seingat saya bulan Agustus, biro iklan tempat saya bekerja diundang menjadi salah satu dari tujuh biro iklan serta firma kehumasan yang diikutkan tender proyek “pemulihan citra” (image recovery) dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Jadi, ceritanya, tiga anggota dewan direksi bank pelat merah itu ditangkap pihak berwajib, dan untuk menghindari kekhawatiran nasabah—mengingat pada saat itu Bank Mandiri tergolong bank baru yang belum sepenuhnya dipercaya konsumen—yang dapat mendorong terjadinya penutupan rekening beramai-ramai, pihak manajemen bank, dalam hal ini Divisi Komunikasi Korporatnya, perlu melakukan pemulihan citra.

Dalam satu Latihan Kejiwaan di Hall Latihan Cilandak, beberapa hari setelah mendapat taklimat dari Kepala Komunikasi Korporat PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., saya menerima pengertian bahwa proyek itu merupakan sesuatu yang tidak benar, karena sesungguhnya Bank Mandiri sudah memiliki dua perusahaan komunikasi (periklanan) yang membantu bank tersebut selama ini dalam membuat iklan dan kehumasan, dan bahwa tender itu hanya untuk “melihat-lihat etalase toko” (windowshopping).

Khawatir bilamana penerimaan kejiwaan saya itu hanya pikiran negatif yang masih terpendam di kepala saya, saya tidak mau memikirkannya dan tetap bersemangat bekerja mempersiapkan perencanaan strategis serta keluarannya berupa dummy dari materi komunikasinya, bersama tim kreatif dan account executives dari biro iklan tempat saya bekerja waktu itu. Bos saya juga mau all-out dalam persiapan dan presentasinya, sehingga ia memaksa manajer keuangan untuk mengalirkan dana buat pembelian peralatan yang dapat membuat presentasi kami hebat.

Suatu hari, sehabis pembadaian otak (brainstorming) di ruang meeting, tinggallah saya bersama Pak Bos dan dua cewek pemagang dari Universitas Petra Surabaya. Pak Bos tahu bahwa saya anggota SUBUD dan menyamakan saya dengan teman baiknya sesama praktisi periklanan yang juga aktif di SUBUD waktu itu, Soebiakto Priosoedarsono, yaitu mampu menerawang kemungkinan-kemungkinan masa depan yang belum terjadi.

“Menurut penerawangan lo gimana, To? Bagaimana kemungkinan kita, apakah bisa menang tender?”

“Jalani saja dulu, Pak. Saya nggak mau ngeshare sesuatu yang belum terjadi, takutnya teman-teman jadi kehilangan semangat,” kata saya.

Lo cerita aja ke gue,” kata Pak Bos, seorang pria setengah baya yang eksentrik sekaligus hobi marah. Ada saja pegawai biro iklan itu yang dia marahi setiap hari.

Setelah bimbang sejenak, sambil merasakan diri apakah perlu saya menceritakan suatu pengalaman kejiwaan pada seorang yang bukan anggota SUBUD, saya pun membuka mulut. Dua pemagang dari Universitas Petra tadi masih duduk dengan tegang, menyaksikan interaksi saya dengan Pak Bos. Mereka berdua tahu, di biro iklan itu hanya saya yang berani mendebat atau menyatakan tidak sependapat dengan Pak Bos, dan Pak Bos respek dengan saya karena saya dapat mengemukakan alasan-alasan yang masuk akal atau terdengar “cerdas” baginya.

“Begini, Pak, menurut apa yang saya terima dalam Latihan di Subud adalah bahwa semua ini nggak bener, bahwa Bank Mandiri cuman mau banding-bandingin karya agency-agency lain dengan agency yang sudah mereka punya,” jawab saya. Penerimaan saat Latihan Kejiwaan di Hall Cilandak itu seperti menggema di benak saya. Saya tidak sedang berpikir negatif tentang pekerjaan untuk Bank Mandiri itu, tapi ada suatu kekuasaan yang maha besar membimbing saya untuk “berpikir negatif”. Saya hanya bisa menerima, karena desakan penerimaan itu begitu kuat.

Mendadak Pak Bos memerah mukanya dan dia naik pitam. Dia kira saya tidak mau membantu biro iklan itu untuk menang tender. Saya juga ngamuk dan berkata kepada Pak Bos, “Lho, Bapak kan yang minta saya cerita terawangan saya. Lha kok nggak siap nerima kenyataannya?! Saya akan tetap kerja nyiapin presentasi kita, Pak!”

Saya bukan orang yang gampang kabur dari masalah, karena saya kan juga perlu bukti bahwa apa yang saya terima dalam Latihan Kejiwaan itu benar adanya. Pertengkaran saya dengan Pak Bos yang sengit itu segera sirna bersama kesibukan saya dan tim kreatif mempersiapkan materi-materi yang akan dipresentasikan di kantor pusat PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Singkat cerita, biro iklan tempat saya bekerja sebagai copy-based creative director bersama keenam biro iklan dan firma kehumasan lainnya yang telah diundang untuk berpartisipasi dalam tender proyek pemulihan citra Bank Mandiri pasca tiga direkturnya ditangkap karena kasus korupsi itu pun melakukan presentasi masing-masing selama setengah jam pada hari-hari dan waktu-waktu yang telah ditetapkan. Seminggu kemudian, pihak Divisi Komunikasi Korporat bank milik pemerintah itu mengirim faksimili ke masing-masing peserta tender, yang intinya bahwa Bank Mandiri “belum bisa bekerja sama”.

Semula, saya mengira hanya biro iklan tempat saya bekerja yang kalah tender, tapi setelah kasak-kusuk mencari informasi ke keenam perusahaan komunikasi lainnya ternyata mereka juga dinyatakan “kalah”. Tidak lama kemudian, kawan saya yang bekerja di sebuah firma kehumasan yang dikontrak oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), membocorkan informasi ke saya, bahwa dua biro iklan yang tidak pernah tampil dalam tender tersebutlah yang menangani proyek pemulihan citra Bank Mandiri. Kedua biro iklan itu memang telah diketahui menangani pekerjaan-pekerjaan periklanan dan kehumasan bagi Bank Mandiri, yang standar-standarnya ditentukan oleh BPPN dan diketahui oleh kawan saya selaku konsultan humas bagi lembaga tersebut.

Saya tersenyum lega setelah mengetahui kenyataannya. Pak Bos tidak memberi komentar apa pun mengenai kenyataan bahwa "penerawangan" saya benar adanya, sementara dua pemagang dari Universitas Petra Surabaya itu khusus datang ke ruang kerja saya untuk mengucapkan selamat atas kebenaran penerimaan saya dalam Latihan Kejiwaan. Kadang, memang, berpikir negatif bisa menjadi positif apabila dibimbing oleh kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.©2019


Jl. Pondok Cabe III Gang Buntu, Tangerang Selatan, 30 Agustus 2019