Tuesday, November 27, 2018

Latihan Kejiwaan di Tengah Hutan


Saya di dalam perahu kayu bersama para anggota
Brimob, Kopassus, dan Babinsa ketika ikut mereka
berburu hewan di tengah hutan hujan Mamberamo,
agak jauh dari lokasi Kampung Aurina II,
Distrik Airu, Kabupaten Jayapura,
Papua, pada 8 Desember 2009.

PADA 6-9 Desember 2009, saya dan Pak Toni Sri, seorang anggota SUBUD Cabang Jakarta Selatan yang berprofesi fotografer dan desainer grafis, diundang Bupati Jayapura saat itu, Habel Melkias Suwae, untuk menyertai beliau dalam kunjungan ke distrik terpencil di pedalaman hutan hujan Mamberamo. Distrik Airu namanya, yang secara administratif masuk di wilayah Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Keterpencilan distrik ini disebabkan oleh keterbatasan akses darat ke sana, hanya dapat via Sungai Nawa yang merupakan daerah aliran sungai dari Sungai Mamberamo, sungai terpanjang di Papua dengan panjangnya yang mencapai 640 kilometer. Perjalanan dengan perahu bermotor memakan waktu sembilan sampai sepuluh jam. Naik pesawat kecil dari Bandar Udara Sentani bisa, tapi mendaratnya cukup mengerikan, yaitu di landasan berumput yang menanjak, yang kadang terhalang batang-batang pohon tumbang.

Ada tujuh perahu kayu panjang bermotor yang berangkat dari dermaga perkebunan sawit Sinar Mas di Kampung Lereh, Distrik Kaureh, Kabupaten Jayapura, yang dilalui Sungai Nawa. Perjalanan bermobil dari Kota Sentani, ibukota Kabupaten Jayapura, ke perkebunan tersebut memakan waktu hampir empat jam melalui hutan lebat, padang rumput, dan jalan berbatu yang cukup curam. Karena sampai di perkebunan Sinar Mas sudah gelap, maka rombongan Bupati bermalam di mess pekerja perkebunan.

Ada cerita lucu juga ketika menginap di mess. Saya dan Pak Toni diabaikan; kami dibiarkan mencari sendiri tempat untuk tidur sambil menenteng dan memanggul barang-barang kami yang cukup berat. Para staf Kabupaten sibuk mengangkut barang-barang Pak Bupati. Tapi kami pasrah saja, dan di saat pasrah itulah keajaiban terjadi: Pak Bupati menghendaki saya dan Pak Toni sekamar dengan beliau. Sontak semua staf Kabupaten mengambil alih barang-barang kami untuk dibawa ke kamar, ada yang menawari untuk memijat kami, membuatkan kami minum, dan menghidangkan beragam makanan yang lezat di meja makan yang hanya untuk Bupati dan Sekretaris Wilayah Daerah—sementara anggota rombongan lainnya makan nasi bungkus. Selama makan, Pak Bupati berkonsultasi ke saya dan Pak Toni tentang bagaimana mengembangkan potensi wisata Kabupaten Jayapura. Usai makan malam, para wartawan mengerubungi kami untuk menanyakan apa pokok pembicaraan kami dengan Bupati.

Di kamar, Pak Bupati bercerita ke saya dan Pak Toni tentang keluarganya, tentang anak-anaknya, tentang pertemuan pertama beliau dengan istrinya. Di kamar itu, saya dan Pak Toni menyaksikan sisi pribadi Pak Bupati, yang mungkin tidak pernah ia perlihatkan kepada para pejabat dan staf di lingkungan Kantor Kabupaten Jayapura.

Keesokan paginya, rombongan berangkat ke Kampung Aurina II, salah satu dari empat kampung di wilayah Distrik Airu, dan satu-satunya kampung yang masih cukup aman untuk dijangkau dengan perahu. Kawasan yang akan dituju rombongan juga menjadi medan gerilya Organisasi Papua Merdeka (OPM), sehingga empat anggota Brigade Mobil (Brimob) Kepolisian Republik Indonesia, dua orang anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI Angkatan Darat, dan satu orang Bintara Pembina Desa (Babinsa) berpakaian sipil dan bersenjata lengkap menyertai perjalanan rombongan ini.

Tujuh perahu motor yang berangkat dari dermaga Sinar Mas mengangkut 57 orang anggota rombongan, termasuk Pak Bupati, saya, dan Pak Toni, serta bahan makanan dan cadangan BBM untuk motor perahu. Di sepanjang perjalanan selama sembilan jam itu, saya hanya duduk menghadap ke depan. Ruang di dalam perahu hanya cukup buat saya duduk, tidak bisa bergerak ke sana kemari. Bahkan untuk menjulurkan tangan ke luar perahu sebaiknya tidak dilakukan, karena sungai dipenuhi buaya yang siap mencaplok apa saja yang tampak di permukaan air.

Tiba di Kampung Aurina II (penduduk Papua yang merupakan masyarakat nomaden telah mendirikan kampung ini untuk menggantikan kampung sebelumnya, Aurina, yang lokasinya di pinggir Sungai Nawa menyebabkan kampung terlalu sering dilanda banjir. Aurina II berlokasi di balik sebuah bukit di tepi Sungai Nawa yang berfungsi sebagai tanggul alami), saya dan Pak Toni dipersilakan untuk menempati satu bangunan bedeng kayu bersama staf Kabupaten. Bedeng itu sehari-harinya merupakan rumah dinas bagi kepala Distrik Airu bila berkunjung ke kampung tersebut. Bedeng itu kentara benar sifat kedaruratannya: Dinding triplek, lantai dari papan kayu yang tidak rapat, menyisakan celah-celah yang dapat diakses oleh hewan-hewan kecil. Membayangkan seekor ular atau kalajengking menemukan jalan via celah-celah di lantai bedeng dan mematuk siapa pun yang berada di ruangan itu saat dia tidur, membuat saya bergidik.

Ketika malam tiba, para anggota rombongan dan penduduk Kampung Aurina II menikmati perayaan Natal bersama Bupati dengan menu makan berupa papeda, sayur bunga pepaya, daging rusa bakar, dan ikan bakar. Daging rusa itu sumbangan dari kepala kampung yang memburunya di hutan, sedangkan ikan dipancing para anggota Brimob di Sungai Nawa di depan dermaga Kampung Aurina II. Sungai Nawa dihuni banyak sekali ikan, sehingga kita cukup melempar benang kail dan umpan, dan dalam hitungan detik ikan sudah terpancing.

Usai perayaan Natal, semua anggota rombongan memilih untuk segera tidur. Tidak ada hiburan lain di kampung terpencil itu. Karena ponsel tidak mendapat sinyal, listrik mengandalkan genset yang 15 menit sekali mati karena kehabisan solar, sementara keadaan kampung di malam hari gelap gulita lantaran dikelilingi hutan hujan dengan pohon-pohon yang mencapai ketinggian lebih dari 100 meter dengan batang-batang yang bisa dilingkari sepuluh orang dewasa bergandengan tangan, tidur adalah pilihan terbaik.

Ketika akan tidur, semua staf Kabupaten mengeluarkan perkakas anti malaria dan hewan berbisa masing-masing: Kelambu dan krim anti nyamuk. Hanya saya dan Pak Toni yang tidak membawa kedua benda itu, karena ketika masih di Jakarta kami tidak menyangka bahwa kunjungan Bupati akan sedramatis itu. Saya dan Pak Toni saling menatap. Pak Toni sambil tertawa sarkastik berkata: “Ya udah ya To, kita berserah diri aja ya.”

“Iya, Pak, Latihan Kejiwaan aja sebelum tidur. Semoga nggak dipatuk ular atau diisap darah kita sama nyamuk malaria,” kata saya disusul senyum kecut dengan perasaan keki, terutama karena tak satu pun staf Kabupaten yang satu ruangan dengan kami menawari krim anti nyamuk dan/atau kelambu. Saya dan Pak Toni tidur juga tanpa alas; jadi, badan kami bersentuhan langsung dengan papan-papan bercelah yang merupakan lantai dari bedeng panggung itu. Meski berada di permukaan tanah, tetap saja hewan melata dapat merayap ke celah-celah di antara papan untuk mengakses ruangan di mana kami tidur. Kepala kami juga tidak dimanja oleh keempukan bantal, sehingga kami terpaksa menyangganya dengan ransel kami masing-masing.

Entah karena kepasrahan kami atau Latihan Kejiwaan yang selalu bersama kami, ketika bangun keesokan paginya saya dan Pak Toni mendapati kenyataan bahwa semua staf Kabupaten yang tidur seruangan dengan kami telah menerima gigitan nyamuk dan serangga lainnya (termasuk sejenis kumbang yang gigitannya dapat menyebabkan kulit melepuh dan bengkak). Mereka semua garuk-garuk kepala, bingung dengan kenyataan bahwa mereka tetap digigit serangga meski menggunakan kelambu dan kulit mereka telah diolesi krim anti gigitan serangga. Sedangkan saya dan Pak Toni bebas dari gigitan apa pun, padahal tidur dalam kondisi berisiko (tidak terlindungi).

Apakah Latihan Kejiwaan (baca: kepasrahan kepada Tuhan) yang melindungi saya dan Pak Toni dari ancaman hewan berbisa di tengah hutan Papua masih menjadi misteri bagi saya. Tetapi ketika di lain-lain kesempatan saya praktikkan sikap berserah diri dalam menghadapi hal-hal yang biasanya menakutkan atau mengkhawatirkan, hal-hal tersebut malah menjadi jinak bagi diri saya.©2018


Jl. Kalibata Selatan II, Jakarta Selatan, 28 November 2018

Wednesday, November 21, 2018

Ketika Tidak Mempercayai Tuhan



PADA suatu ketika, belasan tahun yang lalu, saya berhenti percaya pada eksistensi suatu Tuhan. Saat itu pula, saya berhenti beragama. Saya benar-benar memutuskan hubungan dengan apa pun yang umumnya dipercaya sebagai Tuhan. Hal itu ketika saya belum menemukan Latihan Kejiwaan. Dasarnya adalah kekecewaan saya terhadap Tuhan, karena apa pun yang saya minta melalui doa kepadaNya tidak dikabulkanNya.

Tetapi, dalam proses yang saya lalui setelah saya dibuka di SUBUD, saya juga pernah berhenti percaya pada Tuhan. Kejadiannya antara tahun 2009 dan 2011, dan saat itu saya tengah menjalankan tugas sebagai Wakil Sekretaris Nasional dalam Pengurus Nasional Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan (PPK) Susila Budhi Dharma (SUBUD) Indonesia. Jadi, hal itu di mata para anggota SUBUD menjadi suatu ironi, sehingga saya pun di-bully. Ada yang melontarkan sinisme langsung ke saya: “Pengurus perkumpulan yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa kok tidak percaya Tuhan?”

Saya, tentu saja, mengabaikan kritik dan cercaan tersebut. Percuma saya memberikan keterangan apa pun, karena toh mereka tidak mengalami apa yang sedang saya lalui. Hal itu bahkan membuat saya sendiri syok. Saya tekun melakukan Latihan Kejiwaan dua-tiga kali seminggu, sedangkan Latihan Kejiwaan dikatakan Bapak Subuh sebagai “kebaktian kepada Tuhan Yang Maha Esa”, tetapi pada saat yang sama saya tidak percaya pada Tuhan.

Bedanya dengan yang sebelum masuk SUBUD—di mana saya menjadi ateis karena kecewa pada Tuhan, ketika sudah menerima Latihan Kejiwaan ketidakpercayaan saya pada eksistensi Tuhan merupakan suatu proses pembersihan dari Tuhan yang terbentuk di pikiran saya oleh ajaran-ajaran lama (dari orang tua, guru agama, dan ustad). Seorang saudara SUBUD yang mempelajari memetika, menyebut keilahian hasil pengajaran turun-temurun itu sebagai “Tuhan meme*”, sedangkan yang dialami dalam Latihan Kejiwaan adalah suatu eksistensi gaib, “Tuhan yang bukan meme”, sehingga setiap pelatih (orang yang melakukan Latihan) kejiwaan mendapatkan pengalaman ketuhanan langsung yang berbeda-beda dari satu orang ke orang lainnya. Tidak ada pemahaman yang sama mengenai Tuhan dan ketuhanan di dalam SUBUD; tiap orang mempercayaiNya sebagaimana yang dia terima dalam Latihan Kejiwaan dan dalam praktik kehidupan sehari-harinya dengan tuntunan Latihan Kejiwaan.

Nah, saya saat itu dibersihkan dari segala sesuatu yang saya ketahui tentang Tuhan hasil dari pelajaran orang lain ke saya. Sebagai pelatih kejiwaan, seharusnya saya mempercayai eksistensi Tuhan berdasarkan pengalaman saya sendiri, karena kepercayaan berdasarkan teori (bukan pengalaman sendiri) hanya akan menghambat keterhubungan saya dengan kekuasaan Tuhan atau zat yang maha kuasa yang meliputi diri dan hidup saya, lahir dan batin. Dalam keadaan tidak percaya Tuhan meme, justru energi Latihan Kejiwaan saya kian kuat, kencang, merasuk diri, dan bimbinganNya pun terasa jernih dan jelas.

Di saat Musyawarah Nasional PPK SUBUD Indonesia di Semarang, Jawa Tengah, pada tanggal 5-7 Maret 2010, saya sempat menceritakan yang saya alami pada seorang saudara SUBUD dari Cabang Yogyakarta, yang rupanya mengalami hal serupa pada saat itu. Dia membenarkan bahwa Latihan Kejiwaannya menjadi lebih kuat, lebih dahsyat efeknya, ketika dia tidak mempercayai Tuhan. Kami berdua saat itu tidak memahaminya mengapa bisa begitu.

Ajaran agama tumpat dengan meme tentang Tuhan, lengkap dengan sifat-sifatNya—yang sebanyak yang dapat terpikirkan oleh manusia. Tuhan yang saya alami bersifat tak terbatas, tetapi pikiran kita mengenai Dia membuat Tuhan amat terbatas. Dia ada di sisi yang baik maupun yang buruk; terserah Dia, sedangkan kita hanya bisa berserah diri kepada kehendakNya. Tanpa penyerahan diri, kita malah akan tersesat oleh pengertian-pengertian kita yang amat terbatas. Seperti teman saya, yang suatu ketika datang ke rumah saya untuk mengungkapkan kebingungannya terhadap satu ayat dalam Al Qur’an, yang menyatakan bahwa bila Tuhan menghendaki kita untuk mendapat petunjuk, tetapi juga bisa Dia menyesatkan kita. “Kalau Mas jadi saya, apa yang akan Mas lakukan?” tanya teman saya itu ke saya.

Gue akan berserah diri kepada Tuhan dengan sabar, tawakal, dan ikhlas. Emangnya siapa gue, kok berani-beraninya ngatur-ngatur apa yang Tuhan boleh dan nggak boleh lakukan?” jawab saya dengan santai tetapi pasti.

Pengalaman hidup saya sejak menerima Latihan Kejiwaan menunjukkan bahwa manusia hanya bisa mengikuti bimbingan Tuhan dengan sabar, tawakal, dan ikhlas. Berbeda dengan agama yang berteori bahwa bila kita berbuat baik, maka Tuhan akan membalas kita dengan kebaikan (sering diterjemahkan sebagai rezeki harta yang berlimpah atau kesehatan yang sempurna), ajaran hidup dengan bimbinganNya, sebagai “produk” dari penyerahan diri kita membuat saya menyaksikan bahwa kita tidak bisa menyogok Tuhan lewat perbuatan baik. Bila mau berbuat baik, berbuat baiklah dengan bimbinganNya, bukan dengan nafsu dan kehendak akal pikir kita.

Tuhan itu spirit gaib yang tidak dapat dipikirkan, dan tidak dapat disaksikan oleh panca indera; adalah mustahil mendekati Tuhan dengan daya benda (akal pikir). Kosong adalah satu-satunya jalan untuk tersentuh oleh kekuasaan Tuhan. Dan kosong hanya dapat dicapai apabila saya berperasaan sabar, tawakal, dan ikhlas.©2018


*) Meme (dibaca “mim”) adalah ide, perilaku, atau gaya yang menyebar dari satu orang ke orang lain dalam sebuah budaya.


Jl. Kalibata Selatan II, Jakarta Selatan, 21 November 2018

Sunday, November 4, 2018

Memaafkan Diri Sendiri Atas Perbuatan Orang Lain


SALAH satu pukulan terberat yang menghantam hidup saya selama ini adalah pengkhianatan dan kecurangan yang dilakukan empat saudara SUBUD saya dalam berbisnis. Saya tidak perlu merincinya dalam tulisan kali ini, karena tidak ada gunanya, hanya menimbulkan tanda tanya orang awam terhadap manfaat dari Latihan Kejiwaan yang dilakoni para anggota SUBUD, dan karena saya sudah memaafkan mereka serta membuang semua ingatan tentang kejadian itu ke laut.

Saya memulai sebuah perusahaan konsultan branding pada akhir tahun 2010, didorong dan disemangati oleh seorang saudara sejiwa yang berstatus pembantu pelatih di PPK SUBUD Cabang Jakarta Selatan, yang sudah saya anggap kakak saya sendiri. Bersama dia, istri saya, dan tiga orang saudara sejiwa lainnya, saya menginvestasikan uang saya sebagai modal awal usaha. Tidak besar, hanya Rp 10 juta. Tetapi jumlah itu belum termasuk dana yang saya dan istri gulirkan selama menjalankan usaha. Total, Rp 1,5 miliar saya investasikan dalam bisnis ini.

Saya tidak tahu menahu tentang cara menjalankan usaha, ketika saya mengawali firma konsultan branding tersebut. Saya hanya bermodalkan keberanian dan tekad untuk berusaha. Saya mengikuti pesan Bapak Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo, pendiri Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan Susila Budhi Dharma (SUBUD), yang seringkali menganjurkan anggota SUBUD agar ber-enterprise, supaya masing-masing menemukan kebakatan pribadinya, mengejawantahkan Latihan Kejiwaan dalam kehidupan sehari-hari, menyaksikan sendiri bekerjanya bimbingan Tuhan Yang Maha Kuasa dalam pikiran dan perasaan, perkataan dan perbuatan kita saat berkarya untuk kemaslahatan hidup.

Di samping uang Rp 10 juta sebagai modal awal usaha (digabung dengan dana dari masing-masing dari keempat pesaham lainnya), saya telah mengantongi 16 tahun pengalaman sebagai copywriter, pengarah kreatif, dan perencana strategis di sejumlah biro iklan dan firma kehumasan, di Jakarta dan Surabaya. Pengalaman ini justru yang memainkan peran vital dalam melancarkan jalannya perusahaan, selain jejaring klien yang telah saya bangun selama ini. Bersama satu orang perancang grafis, saya dan istrilah yang pontang-panting menjalankan usaha ini. Karena hanya kami yang memahami seluk-beluk industri ini.

Mulai berjalan pada akhir tahun 2010, usaha kami lakoni awalnya di garasi rumah orang tua saya. Saya sangat excited, mengingat banyak sekali bisnis-bisnis menjadi besar ketika dimulai dari garasi. Matari Advertising, Apple Inc., dan Microsoft, adalah beberapa brand korporasi yang bermula di garasi. Pada tahun-tahun pertama, meski merangkak, usaha dapat berjalan dengan baik. Setiap proyek yang kami tangani memberi kami pelajaran baru tentang industri komunikasi pemasaran dan korporat, yang membuat perusahaan kami akhirnya memiliki pondasi yang kokoh untuk bertahan selamanya.

Nyatanya, tidak demikian. Setelah berjalan satu setengah tahun, dan mulai tampak “duit gede” mengalir ke dompet perusahaan, keempat pesaham lainnya, yang bekerja tidak sekeras—bahkan tidak sama sekali—kami, mulai mengincar bagian masing-masing. Tentu hal ini mengusik ketenangan kami yang notabene menjalankan perusahaan sehari-hari, tanpa digaji—karena dibohongi oleh salah satu pesaham, seorang praktisi perdagangan valuta asing, bahwa direksi yang berasal dari pesaham tidak perlu digaji.

Puncaknya, perusahaan tersebut terpaksa pecah kongsi. Bukan dengan baik-baik, melainkan dengan tindakan-tindakan kekerasan fisik dan mental, yang sempat membuat saya dan istri jatuh sakit. Yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa keempat pesaham yang mencurangi saya dan istri itu adalah saudara-saudara SUBUD kami sendiri. Saya dan istri sulit move on gegara kejadian ini.

Puji Tuhan, seorang pembantu pelatih senior dari PPK SUBUD Cabang Surabaya datang ke Jakarta di saat saya membutuhkan pendampingan seorang pembantu pelatih. Jiwa saya serasa remuk oleh kejadian tersebut, saya sulit menerima kenyataan itu, dan terus-menerus merasa dihantam oleh pertanyaan paling mendasar: Mengapa Tuhan membiarkan hal ini terjadi dan mengapa orang-orang yang sudah menerima Latihan Kejiwaan tega melakukan hal keji itu.

Dari pembantu pelatih senior asal Cabang Surabaya itu—yang sudah saya anggap ayah sendiri—saya mendapatkan audio, video, dan transkrip ceramah Bapak Subuh sebesar 60 gigabyte, untuk saya dengarkan atau baca dengan rasa diri yang tenang. “Rahasianya ada di situ semua!” kata Pak Yanto, pembantu pelatih sepuh itu kepada saya, usai mengkopi 60 Gb ceramah Bapak ke external harddisk milik saya dari laptop milik beliau.

“Rahasia apa, Pak?” tanya saya.

“Rahasia hidup Mas Anto, rahasia tentang bimbingan Tuhan, rahasia tentang bekerjanya hidup dan kehidupan kita. Saya sudah menemukannya,” jawab Pak Yanto dengan suara yang kalem.

“Apa rahasia yang Pak Yanto temukan?” tanya saya lagi, penasaran. Ada satu sisi pada diri saya yang merasa enggan bila harus membaca atau mendengarkan ceramah sebanyak itu.

“Yang saya temukan adalah rahasia untuk hidup saya sendiri. Yang harus Mas Anto temukan adalah rahasia untuk hidup Mas Anto sendiri. Tiap orang beda lho rahasianya,” pungkas Pak Yanto.

Dengan tekad kuat untuk menemukan rahasia itu—yang saya pikir dapat menjadi solusi bagi masalah yang sedang saya hadapi saat itu—saya mulai menonton video, mendengarkan audio rekaman, atau membaca transkrip dari ceramah-ceramah Bapak Subuh. Pada satu titik selama periode itu, saya menemukan rahasianya. Rahasia untuk saya sendiri, yang hanya saya yang dapat memahaminya, karena sesuai dengan kebutuhan jiwa saya.

Rahasianya terletak pada sikap diri yang sabar, tawakal, dan ikhlas. Dengan bersabar, saya akan menyerahkan atau mewakilkan (akar kata “tawakal”) masalah saya kepada Tuhan, dan dengan begitu saya bisa ikhlas. Saat ketiga hal itu berpadu, saat itulah saya memasuki kondisi “kosong tapi penuh”, berserah diri kepada kehendakNya. Dan saat itu pula, semua yang ingin saya ketahui akan mengisi diri saya. Tiba-tiba saja saya paham, tiba-tiba saja saya mengerti. BimbinganNya kuat dan jernih hanya ketika saya bersabar, bertawakal, dan ikhlas.

Itulah yang kemudian saya praktikkan dalam hidup saya selanjutnya. Perintah pertama yang saya terima adalah untuk memaafkan diri sendiri atas apa yang terjadi. Yang terjadi adalah perbuatan keji oleh empat saudara SUBUD saya. Saya harus membuang semua ingatan saya terhadap kejadian itu ke laut, melupakannya, dan memaafkan diri sendiri. Dengan memaafkan diri (ego) saya, saya akan mampu memaafkan saudara-saudara SUBUD yang telah mengkhianati dan mencurangi saya.

Sulit kah? Ya, pasti sulit, bila tidak mendapat bimbingan Tuhan untuk melakukan hal itu. Sabar, tawakal, dan ikhlas ternyata bukan hak atau kemampuan pribadi kita; itu adalah kemurahan Tuhan atas diri kita. Sabar, tawakal, dan ikhlas adalah milikNya, hanya Dia yang bisa memberinya kepada kita, bukan orang lain, bukan ustad, bukan pendeta, bahkan bukan nabi sekalipun.

Hanya dengan memaafkan diri saya sendiri, saya mampu merengkuh sabar, tawakal, dan ikhlas berkat kemurahan Tuhan bagi hambaNya yang berserah diri kepada kehendakNya. Menjadi orang SUBUD adalah bukan tentang menilai apa yang orang lain lakukan terhadap diri kita, tetapi tentang mengelola diri kita sendiri, karena semua yang terjadi di sekitar kita adalah lantaran energi yang memancar dari diri kita. Bila energinya positif, maka semua akan menjadi positif bagi kita. Sebaliknya, bila energi negatif yang kita pancarkan, maka semua akan menjadi negatif. Sebagaimana yang pernah diceramahkan Bapak Subuh, orang-orang berkelakuan buruk dan/atau peristiwa-peristiwa buruk yang kita jumpai dalam keseharian kita sejatinya adalah cerminan dari “isi” diri kita. Alih-alih menyalahkan orang lain atas derita kita, lebih baik mulai dengan memaafkan diri sendiri dan selalu berprasangka baik terhadap kehendak Tuhan Yang Maha Baik.©2018



Jl. Kalibata Selatan II, Jakarta Selatan, 5 November 2018