Saturday, October 8, 2016

Pikiran Anak Enam Tahun


APAKAH salah bila ingin mempermudah hidup?

Tadi pagi, saat bersama istri sarapan mie ayam di depan BCA Kemang, Jakarta Selatan, saya melihat balon mengudara tinggi di langit. Ada penjual balon di seberang jalan, dan tampaknya balon yang terbang itu putus benangnya.

Balon itu membawa ingatan saya terbang ke saat saya berusia enam tahun. Saya saat itu, karena sedang musim layangan, mencoba menerbangkan layangan yang saya beli seharga sepuluh rupiah. Sulit sekali menerbangkannya. Saya iri pada teman-teman yang berhasil menerbangkan layangan mereka. Saat itu, lewatlah penjual balon gas. Bersama dengan itu, terlintas di benak saya ide untuk mengikatkan layangan pada balon yang pada gilirannya akan menerbangkannya tinggi ke langit. Sesederhana itu pikiran anak usia enam tahun!

Semakin dewasa, “pikiran anak enam tahun” masih membekas di diri saya (makanya saya senang dengan dan tidak berniat mengganti nama “Anto”, yang bermakna “anak”, supaya saya selalu mampu berpikir kreatif layaknya anak-anak). Pikiran sederhana ala kanak-kanak itu yang rupanya mempermudah hidup saya dan membuat cara pandang saya terhadap segala sesuatu selalu sederhana. Seperti, contohnya, waktu nonton film Everest di HBO baru-baru ini, “pikiran anak enam tahun” saya bilang, “Ngapain susah-susah, mempertaruhkan nyawa untuk mendaki puncak Everest? Kalau aku sih naik helikopter aja, cepat dan gampang.”

Tapi istri saya tidak sependapat. Menurutnya, ada pembelajaran di dalam proses yang dilalui secara bertahap. Itulah bedanya antara cara berpikir orang dewasa dan anak-anak. Yang bilang bahwa berpikir simpel itu tidak simpel pasti sudah menanggalkan jiwa kanak-kanak mereka. Kalau saya, tetap mengandalkan “pikiran anak enam tahun” saya, karena terbukti memudahkan hidup saya.©2016

 

Kalibata Selatan II, Jakarta Selatan, 9 Oktober 2016