Sunday, May 24, 2020

Keberanian yang Arif


SABAR, tawakal, dan ikhlas merupakan kredo bagi anggota Subud dalam berlatih kejiwaan maupun saat melakoni hidup keseharian. Ketiga sikap yang melengkapi penyerahan diri seorang anggota Subud ternyata tidak mudah dipraktikkan dalam hidup sehari-hari. Hambatannya hanya satu: Tidak ada keberanian! Sehingga, dalam ceramah terakhir Bapak Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo di Cilandak, pada 27 Mei 1987 (kode rekaman: 87 CDK 5), beliau menambahkan aspek “berani” pada sekuens sabar, tawakal, dan ikhlas.

Dalam Latihan Kejiwaan, ketiadaan sikap sabar, tawakal dan ikhlas hanya menghalangi seseorang dari menerima vibrasi Latihan maupun penerimaan bimbingan yang meliputi badan wadag, rasa perasaan, pengertian, dan/atau keinsafan. Pun, ketiadaan ketiga aspek penyerahan diri ini dalam keseharian kita cenderung meniadakan kontak kita dengan kekuasaan Tuhan dalam segala perkataan dan perbuatan, pikiran dan perasaan kita. Dengan kata lain, kemurahan Tuhan yang seharusnya merupakan hak dasar kita malah emoh mendatangi kita.

Mengapa aspek berani ditambahkan Bapak Subuh pada kredo Latihan Subud adalah karena aspek inilah yang dapat “memaksa” seorang anggota untuk berada dalam keadaan Latihan sepenuh waktu (24-hour state of Latihan). Pengalaman saya maupun banyak anggota Subud lainnya, bersikap sabar, tawakal, dan ikhlas ketika menghadapi permasalahan-permasalahan hidup tidaklah segampang melakukannya saat Latihan di hall. Beranikah Anda, misalnya, bersikap sabar, tawakal, dan ikhlas ketika dihadapkan pada permasalahan bisnis yang dapat membuat Anda kehilangan banyak uang? Sebagian besar dari kita, saya yakin, tidak berani. Siapa pula yang mau kehilangan uang? Tapi, tahukah Anda bahwa ketakutan itu sebenarnya telah membuktikan Anda tidak sepenuhnya beriman kepada Tuhan?

Berani yang dinasihatkan Bapak Subuh bukanlah berani tanpa pertimbangan—bukan nekat, melainkan keberanian yang disertai kearifan. Tanpa kearifan (wisdom), sikap berani kita cenderung membabi-buta, asal tabrak, tak peduli akan kemungkinan tindakan kita merugikan orang lain. Hal ini dilakukan oleh, sebagai contoh, sejumlah anggota Subud yang tetap datang ke Hall Latihan Cilandak selama pandemi Covid-19, sementara akibat pandemi tersebut hall-hall Latihan di berbagai lokasi di Indonesia dinyatakan tertutup untuk kegiatan massa.

Jiwa tidak terbatas oleh ruang dan waktu, sehingga di mana pun kita berada, kita tetap dapat melakukan Latihan bersama saudara-saudara sejiwa yang berlainan tempat. Kenyataan ini menguntungkan anggota Subud di saat pandemi seperti sekarang ini, yang “mengurung” mereka di rumah masing-masing, karena tetap dapat berlatih kejiwaan secara bersama-sama dalam waktu yang sama tanpa harus bertemu muka atau berdekatan secara lahiriah.

Alasan dari beberapa anggota yang bersikeras untuk Latihan di hall Latihan (mereka hanya dapat melakukannya di teras hall, berhubung pintu aksesnya terkunci rapat) adalah bahwa seyogianya tak perlu takut terhadap ancaman virus, karena anggota Subud dimurahi Tuhan. Seperti inilah keberanian yang tidak disertai kearifan! Sedangkan Latihan Kejiwaan, menurut pengalaman saya, memberi kita kearifan tanpa batas. Kita telah diberi otak yang dengannya kita berpikir. Akal budi yang terbimbing kekuasaan Tuhan mampu melahirkan kearifan, yang membuat kita tidak gegabah dalam tindakan-tindakan kita.

Momen seperti sekarang ini—dengan pandemi penyakit mematikan yang disebabkan oleh virus Corona—merupakan momen kita sebagai anggota Subud untuk belajar berani bersabar, berani bertawakal, dan berani bersikap ikhlas terhadap keharusan bersama untuk memutus mata rantai penyebaran virus. Kita harus berpikir sebagai “kita”, bukan sebagai “saya” dalam hal ini. Anda bisa saja terhindar dari terinfeksi virus saat Latihan di hall, tapi bukan tidak mungkin sepulang dari hall Anda tak sengaja berinteraksi dengan orang yang sakit atau benda-benda yang tidak higienis. Atau karena kelelahan, Anda sendiri jatuh sakit, yang membuat keluarga Anda rentan terinfeksi virus tersebut.

Berbagai kemungkinan tetap ada; apakah kita akan tertular atau tidak, tidak dapat kita pastikan. Sebagai pencegahan risiko, sebaiknya kita berupaya dengan sabar, tawakal dan ikhlas, apa pun langkah—yang dianjurkan pihak-pihak yang berwenang—yang harus kita tempuh. Beranikah?!©2020


GPR, Tangerang Selatan, 24 Mei 2020


Sunday, May 17, 2020

Wudu Jiwa



SEJAK kecil, saya diajari orang tua sesuatu yang kemudian menjadi kebiasaan: Bila pulang dari bepergian walaupun hanya sebentar—tidak sampai lebih dari sehari—saya harus berwudu dahulu sebelum berinteraksi dengan orang di rumah.

Dahulu, saya pikir, berwudu itu hanyalah sekadar membersihkan bagian-bagian tubuh yang berpotensi terkena kotoran, dan sebagai syariat bagi seseorang yang hendak menunaikan salat. Baru setelah saya menerima Latihan Kejiwaan Subud, saya memahami bahwa berwudu merupakan tindakan simbolik untuk memelihara kebersihan lahir maupun batin.

Membasuh kening bermakna menjaga kebersihan pikiran. Membasuh tangan dan lengan merepresentasi kebersihan perbuatan dengan kedua tangan (yang secara anatomis gerakannya dimungkinkan oleh mekanisme lengan), dan mencuci kaki melambangkan bahwa langkah-langkah kehidupan kita seyogianya selalu berhati-hati, jangan sampai menginjak hak-hak orang lain, dan selalu berada di jalan yang lurus.

Setelah berlatih kejiwaan, wudu saya semakin lengkap, karena Latihan Kejiwaan memberi saya pembersihan yang menyeluruh, meliputi diri, luar dan dalam, raga dan jiwa, lahir dan batin, bahkan turut membantu pembersihan leluhur saya (orang tua dan seterusnya ke atas).

Sejak kelahiran putri saya, pada Oktober 2016, bertambah kebiasaan saya: Sepulang dari bepergian, sebelum saya boleh bertemu putri saya, selain wudu dan mandi, saya juga terbimbing untuk menenangkan rasa diri terlebih dahulu. Penenangan rasa diri saya lakukan sejak suatu ketika saya diberi kesadaran dalam Latihan Kejiwaan bahwa di sekeliling saya terdapat daya/energi rendah yang terpancar dari orang lain dan benda-benda. Daya rendah ini dapat (dan pasti) terserap oleh diri saya saat saya berinteraksi dengan orang lain atau benda-benda, yang menyisakan residu atau “kekotoran” pada rasa diri saya.

Bila Anda sudah dibuka dan rajin berlatih kejiwaan, Anda dapat merasakan sendiri kehadiran halus residu tersebut; seperti ada sesuatu yang bukan milik Anda menggelayut pada badan Anda. Kalau saya, biasanya saya merasakan berat di kepala, pusing, dada sesak, susah bernapas, sangat mengantuk, dan/atau mata seperti terkena sengatan bawang. Hal ini bisa menular ke orang-orang yang secara kejiwaan terkoneksi dengan jiwa saya, seperti anak dan istri. Maka dari itu, saya selalu melakukan “wudu jiwa” melalui penenangan rasa diri.

Latihan Kejiwaan secara otomatis menempatkan kita sesuai lingkungan di mana kita sedang berada. Sebagai praktisi branding, misalnya, di hadapan klien saya bukanlah Arifin yang dikenal oleh saudara-saudara Subud atau teman-teman di luar Subud. Saat bersama saudara-saudara Subud saya cenderung talkative dan cuek, berbeda dengan saya yang cenderung pendiam atau malu berekspresi ketika bersama teman-teman alumni Universitas Indonesia, IKIP Jakarta, SMA Negeri 60 Jakarta, SMP Negeri 141 Jakarta, atau SD Negeri Pela Mampang 05 Pagi. Tanpa saya usahakan atau dengan sengaja saya buat berbeda, Latihan membuat saya dengan mudahnya beradaptasi sesuai tempat saya berada pada suatu waktu dan orang-orang yang dengan mereka saya berinteraksi. Saya tidak mengerti mengapa bisa begitu; semua mengalir saja!

Pernah saya lupa melakukan wudu jiwa, yang mengakibatkan saya tetap menjadi diri saya di tempat dan keadaan sebelumnya (meeting dengan klien) saat berinteraksi dengan putri saya. Putri saya sampai ketakutan melihat saya, dan saya pun tersadar bahwa saya belum berwudu jiwa. Sebagai anak usia bawah lima tahun, jiwa putri saya masih suci; ia dapat melihat keberadaan halus residu pada diri seseorang yang jiwanya belum diwudukan.

Saya pun segera menyingkir, masuk kamar dan melakukan Latihan Kejiwaan, bukan semata penenangan diri. Lalu, saya berwudu dan kemudian mandi. Setelah itu, baru saya kembali menemui putri saya dan meminta maaf atas sikap saya yang mungkin dia rasakan “bukan saya”. Pengalaman itu membuat saya sejak itu aktif me-niteni diri, mengobservasi diri saya sendiri, apakah berbalut kekuasaan Tuhan atau, sebaliknya, gelombang energi residual yang mengikis kesejatian diri.©2020


GPR, Tangerang Selatan, 18 Mei 2020

Sunday, May 10, 2020

Apalah Arti Sebuah Nama?


“APALAH arti sebuah nama?" tanya Shakespeare. Bagi sastrawan mashur kelas dunia asal Inggris ini, sebuah nama mungkin hanyalah sesuatu yang sepele. Mawar jika tidak dinamai “mawar” tidak akan hilang keharumannya, demikian kilahnya. Saya kira, tidak sesimpel itu. Mungkinkah nama Shakespeare akan mendunia lewat karya-karya sastranya andaikata namanya bukan “Shakespeare”?

Dalam bidang penjenamaan (branding), nama memainkan peran penting. Penamaan menempati posisi teratas dalam rangkaian jenjang ekuitas merek (brand equity), karena nama mewakili identitas dari sesuatu yang hendak dijenamakan. Bila nama yang diberi pada sesuatu tidak merepresentasi kekhasan sesuatu yang dijenamakan, dijamin upaya penjenamaannya akan tersendat-sendat.

Sebuah merek tidak bisa serta-merta diberi sebuah nama, semata karena nama tersebut terdengar indah atau baik. Nama yang diberi harus mengandung nilai-nilai tertentu dari budaya di mana merek tersebut lahir. Begitu pun, tidak menjamin merek tersebut dapat langgeng di tengah budaya lainnya, yang berkontradiksi dengan budaya asal si merek.

Ambil contoh minuman dalam kemasan berjenama Pocari Sweat. Minuman itu diproduksi oleh sebuah perusahaan farmasi asal Jepang, yang juga memproduksi cairan infus, bernama Otsuka Pharmaceutical Co., Ltd. Nama Pocari Sweat mungkin terdengar gagah, dan mewakili kegunaannya, yaitu mengganti ion tubuh yang hilang bersama keringat (sweat). Namun kesuksesan merek tersebut sempat tersendat-sendat begitu beredar di tengah masyarakat Amerika yang melihat cairan isotonik di dalam kemasannya keruh, yang dipersepsikan konsumen Amerika sebagai air perasan keringat, sehingga menimbulkan rasa jijik.

Nama memiliki makna yang signifikan di sejumlah budaya, termasuk Jawa. Tapi bukan karena Subud berakar di Jawa, sehingga ada kebiasaan mengganti nama lahir anggota Subud dengan “nama jiwa”. Selain sebagai identitas seorang manusia di dalam masyarakat, nama dipercaya sebagai doa atau harapan, bukan hanya bagi masyarakat Jawa, melainkan di berbagai budaya lainnya. Saya menamai putri saya, contohnya, “Nuansa Biru Oceania”, karena makna filosofisnya mewakili harapan saya terhadapnya: Semoga “cantik di bawah (dalam) maupun di permukaannya (luar)”.

Nama Subud saya, “Arifin”, bisa jadi mewakili harapan banyak orang terhadap diri saya, agar saya tidak lagi berkelakuan layaknya anak-anak—yang diwakili nama lahir saya, “Anto”, yang merupakan derivasi dari kata “ananda”—dan terbimbing menuju pribadi yang arif dan bijaksana. Percaya atau tidak, kebetulan atau tidak, sejak menyandang nama Arifin, Latihan Kejiwaan menuntun transformasi diri saya secara bertahap ke arah saya yang lebih arif dan bijaksana dalam pikiran dan perasaan, perkataan dan perbuatan.

Bagaimanapun, sebuah nama tidak serta-merta atau dalam sekejap mengubah sikap dan perilaku seseorang. Serangkaian proses tetap harus dilalui seseorang agar dirinya dapat sejalan dengan nama yang disandangnya.

Jadi, di Subud, perubahan nama bukan sesuatu yang “asal terima langsung jadi”; perubahan nama berkonsekuensi dengan tanggung jawab yang juga harus disesuaikan dengan nama tersebut. Saya ingat pada sebuah insiden saat saya duduk di bangku SMA dahulu. Seorang kawan sekelas bernama Syarif Hidayatullah, panggilannya “Bob” (barangkali dia merasa terbebani dengan nama aslinya). Sebuah tanggung jawab besar dipikul si pemilik nama, karena nama Syarif Hidayatullah dipersepsikan khalayak sebagai tokoh Islam salah satu dari sembilan wali (wali sanga) yang menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa, dan tentunya memiliki karakter berkualitas terbaik.

Nyatanya, kawan saya ini tidak mencerminkan hal itu: di kelas dia terkenal nakal, berani melawan guru, dan suka membuat kegaduhan. Suatu hari, seorang guru baru berwujud perempuan muda terpancing amarahnya oleh kelakuan Bob yang menyebalkan, hingga si guru berkomentar, “Nama kamu Syarif Hidayatullah tapi kelakuan kamu nggak pas untuk nama itu!”

Nah kaan, terbukti nama tidak boleh sembarangan diberi. Bagaimanapun, bertahun-tahun kemudian, Bob yang saya jumpai kembali lewat Facebook beberapa tahun lalu ini telah bertransformasi menjadi pribadi yang alim, taat beragama, dan berkelakuan sekualitas nama tokoh Islam yang disandangnya.

Tuuh kaan, nama adalah segalanya, Tuan Shakespeare!©2020


GPR, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 11 Mei 2020


Saturday, May 9, 2020

Ambil Alih Kendalinya!


“KENAPA lo keto?” tanya saya pada salah seorang kawan yang saya ketahui menjalani diet ketofatosis. Kawan ini menjawab bahwa beberapa teman sekantornya dan kerabatnya menganjurkannya agar ia melakukan metode diet tersebut untuk memelihara kebugaran tubuhnya. Dia percaya pada anjuran mereka dan menjalaninya tanpa mempertimbangkan apa yang sejatinya ia butuhkan.

Di lain kesempatan, seorang kawan lainnya bercerita bahwa ia terusik dengan postingan-postingan dari satu teman Facebooknya, yang dirasakannya sebagai sindiran terhadap atau persaingan melawan dirinya. Ia pun memosting balasan dengan pendekatan yang sama: Sinisme! Saya diam saja mendengar penuturan dirinya mengenai semua rencana pembalasannya.

Kawan lainnya lagi, yang sudah lama lost contact dengan saya, ketika bertemu lagi, saya lihat penampilan dirinya berbeda 180 derajat dari yang terakhir kalinya kami berjumpa beberapa tahun lalu. Ia mengenakan atribut-atribut yang dipersepsikan sebagai identitas agama tertentu. “Gue hijrah, Fin. Sudah saatnya, menurut teman-teman gue di pengajian.”

Saya kasihan pada orang-orang seperti ini. Mudah sekali mereka dikontrol oleh lingkungan mereka, tak menyadari bahwa sesungguhnya mereka dapat mengatasinya sejalan dengan apa yang sejatinya mereka butuhkan. Ingin sekali saya berteriak lekat-lekat di telinga mereka: “Ambil alih kendalinya!”

Yang tahu diri kita hanya kita sendiri dan Tuhan. Atau, menurut pengertian saya, hanya Tuhan yang Maha Tahu apa yang dibutuhkan diri kita. Orang lain boleh saja dijadikan acuan, tapi jangan sebagai alasan utama untuk berubah. Alasan utama dan paling penting dalam keputusan kita untuk melakukan atau tidak melakukan haruslah diri kita sendiri. Jangan sampai apa yang kita pilih untuk kita lakukan atau tidak lakukan malah mencelakai kita di kemudian hari.

Namun, memang, tidak semua orang mau menyadarinya. Banyak orang tidak percaya diri, dan mengandalkan apa yang dikatakan orang lain. Kebanyakan alasan untuk ini adalah kekhawatiran bilamana pilihan atau keputusan mereka sendiri ternyata salah atau keliru. Banyak orang men-switch off suara diri (inner voice) mereka sendiri, sering bahkan untuk hal-hal yang penting bagi hidup mereka.

Banyak orang membiarkan diri mereka larut dalam suatu keadaan yang diciptakan orang lain. Tak sedikit orang yang secara tak sadar mengaplikasikan citra-citra tertentu pada diri mereka, yang sebenarnya bukan aslinya mereka, melainkan merepresentasi kehendak orang lain. Ingat, tidak akan ada yang peduli bila keadaan itu malah menjauhkan kebahagiaan sejati kita! Kita mungkin merasa senang diterima oleh orang lain, dicintai orang banyak. Tapi apa artinya penerimaan atau cinta, jika kesejatian kita terkikis karenanya?

Hakikatnya, manusia diberi bekal tuntunan atau bimbingan melalui apa yang disebut sebagai suara diri. Suara diri, yang terdengar hanya di tengah ketenangan rasa diri, menyuarakan kebenaran. Kebenaran yang bersifat pribadi, hanya mutlak bagi si pemilik diri. Suara itu hanya “membacakan ulang” kitab pedoman yang telah dituliskan di dalam diri setiap orang.

Orang-orang yang mendengarkan suara diri mereka adalah orang-orang yang memegang kendali atas hidup mereka; atas bagaimana mereka seharusnya menjalani hidup sejalan kepribadian masing-masing. Dan tidak ada orang yang tidak memiliki suara diri; yang ada adalah orang yang menolak suara dirinya.

Saran orang lain, sebaik apa pun itu, tidak selalu baik atau berguna bagi kita. Meniru plék (seperti mesin fotokopi atau pemindai) tak jarang mencelakai peniru, biarpun yang ditirunya adalah sesuatu yang baik. Baiknya, lakukan pertimbangan yang masak, perenungan dengan menggunakan akal pikir, lalu rasakan diri kita tentang bagaimana baiknya, kemudian serahkan apa pun keputusan kita kepada Tuhan. Dia yang akan memperbaiki apabila kita salah memilih atau mengisi kekurangan kita dalam menjalankan apa yang kita pilih untuk kita tuju. Jangan takut, kendali ada di tangan kita!©2020


GPR, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 10 Mei 2020

Wednesday, May 6, 2020

Menyempurnakan Pencerahan


LATIHAN Kejiwaan bukan meditasi atau semadi. Itu reaksi saya saat menghadapi pernyataan dari orang-orang yang ingin tahu tentang latihan spiritualnya Susila Budhi Dharma (Subud). Karena sebelum menerima Latihan Kejiwaan pada tahun 2004, saya sempat berlatih meditasi (sejak 1988), sehingga saya jadi tahu bedanya.

Meditasi melibatkan pengalihan situasi secara sengaja, dengan usaha cukup keras, sehingga ada tekanan terhadap diri, walaupun halus, bahkan tak disadari oleh banyak meditator. Meditasi adalah sebentuk usaha manusiawi untuk mencapai keadaan tenang, tenteram, hening, dan akhirnya memperoleh penerangan atau pencerahan (enlightenment). Proses bertahap ini persis yang dialami Siddhartha Gautama hingga ia menjadi seorang Buddha (yang tercerahkan).

Latihan Kejiwaan, sebaliknya, hanya menerima apa pun yang datang ke kita. Tidak ada pengekangan, tidak perlu menunggu atau menantikan apa pun, tidak melibatkan usaha untuk membendung atau melawan apa pun yang datang atau timbul di dalam maupun luar diri. Intinya, hanya menerima tanpa melibatkan hati dan pikiran. Karena Subud bersandar pada kenyataan yang bersifat kanyatan (kenyataan yang tampak) dan kasunyatan (ada tapi tak tampak), sehingga meskipun tidak menerima apa pun—menurut konteks akal pikir kita—ya, kita terima saja apa adanya. Secara gaib nan ajaib, dengan Latihan Kejiwaan, kita tertuntun (made to) secara alami, tanpa usaha dan tekanan atau paksaan, untuk berperasaan sabar, tawakal, dan ikhlas. Keadaan ini melahirkan energi untuk berpikir dan berperasaan, berkata dan berbuat secara spontan, yang pada gilirannya mendorong suatu kondisi transformasi lahir dan batin terus menerus.

Meditasi biasanya dilakukan dengan diam dan hening, dalam keadaan duduk atau berdiri atau berjalan; dalam keadaan berjalan, perhatian kita tertuju pada langkah kaki. Latihan Kejiwaan bisa diam, tapi mayoritas berupa gerakan-gerakan dinamis, kadang lemah gemulai, kadang keras dan kencang, ditambah suara yang keluar dari mulut kita, tanpa kita kehendaki tapi tak dapat kita lawan, sementara kita dalam keadaan sadar. Dan tidak diperlukan memusatkan perhatian pada gerakan-gerakan tersebut. Rileks saja, nikmati kelepasan dan kebebasannya.

Perbedaan paling mendasar di antara keduanya, yang paling jelas adalah bahwa dalam meditasi ada serangkaian aturan, sedangkan dalam Latihan Kejiwaan aturan justru menghambat individu untuk menerima Latihan. Bila meditasi berpostur seragam, Latihan bersifat beragam, dengan masing-masing individu menerima tuntunan sesuai keadaan dirinya pada suatu waktu.

Meditasi atau samaddhi dalam Buddhisme merupakan latihan untuk mencapai pencerahan sempurna. Latihan Kejiwaan adalah teknik untuk menyempurnakan pencerahan yang diperoleh dengan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. “Gerak hidup yang terbimbing” adalah istilah umum di kalangan anggota Subud.

Bagaimanapun, menurut saya, Latihan Kejiwaan dan meditasi memiliki tujuan yang sama, atau paling tidak, mirip, yaitu hidup secara sadar di Saat Ini, penuh kepasrahan, berperasaan menyerah yang dinamis. Kosong tapi penuh, penuh tapi kosong!

Satu saudara Subud saya pernah mengungkapkan pengamatannya, bahwa sementara kaum Buddhis menapaktilasi perjalanan Gautama mencapai alam kebuddhaan, sebaliknya anggota Subud “menjadi Buddha” (baca: tercerahkan) dahulu baru kemudian menapaki kehidupan dengan tuntunan pencerahan tersebut.

Tidak ada yang salah dengan atau tidak ada yang paling benar di antara kedua metode ini, karena jalan ke Tuhan ada banyak, sebanyak jumlah manusia di muka Bumi. Mempertengkarkan mana jalan yang paling benar adalah seperti berdebat di terminal bus tentang mana bus jurusan, misalnya, Surabaya yang paling benar. Meskipun rutenya mungkin berbeda, dan model perjalanannya bervariasi, tapi tujuannya tetap sama, yaitu Surabaya. Semoga sempurna pencerahannya!©2020

Selamat Hari Raya Tri Suci Waisak 2564 BE/7 Mei 2020. Sabbe satta bhavantu sukkhitatta!


GPR 3, Tangerang Selatan, 7 Mei 2020

Tuesday, May 5, 2020

Bersama Jauh-Dekat



“Demikian sehingga dalam suasana kejiwaan dapat bantu-membantu, karena kejiwaan adalah sesuatu yang tidak dapat ditutup. Sehingga, meskipun berjauhan tempat, tetapi selalu dapat berhubungan.”
—Cuplikan ceramah Bapak Subuh di Briarcliff, New York, Amerika Serikat, 9 Juli 1963



SATU hal yang menurut saya unik di Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan Susila Budhi Dharma (PPK Subud) adalah kenyataan bahwa kebersamaan tidak melulu harus ditandai dengan kedekatan raga. Bersama, meskipun dalam jarak yang jauh, pun bukan sesuatu yang tidak mungkin.

Jiwa tidak dibatasi ruang dan waktu. Persis eksistensi keilahian yang diyakini berada di luar dinding-dinding ruang dan waktu. Melalui jiwa, kita dapat terhubung, merasakan “kehadiran” atau sebuah keberadaan dari orang yang ada di lintasan jarak dari titik di mana kita berada. Hal ini dapat dialami para anggota Subud setiap bulan melalui Latihan Dunia. Latihan Dunia adalah Latihan Kejiwaan yang dilakukan semua anggota Subud di mana pun berada pada satu ketetapan waktu, yang disesuaikan dengan masing-masing negara dan/atau daerah di mana anggota berada.

Selain Latihan Dunia, Latihan bersama (group Latihan) dapat dilakukan oleh anggota yang terpisah secara jarak dari cabang asalnya. Misalnya, saya; saya berasal dari Cabang Surabaya. Andaikata saya berada di sebuah daerah yang jauh dari cabang, ranting, kelompok Subud atau pembantu pelatih atau anggota Subud lainnya, saya dapat menjadi bagian dari kebersamaan jiwa melalui Latihan yang saya lakukan di tempat saya berada sesuai waktu Latihan di Hall Latihan Surabaya. Menurut pengalaman, saya tetap merasakan kedekatan meskipun secara raga saya jauh dari saudara-saudara Subud di Cabang Surabaya.

Pandemi Corona Virus Disease (COVID-19) telah mengakhiri untuk sementara budaya kedekatan secara raga, dengan pemberlakuan penjarakan sosial (social distancing) atau fisik (physical distancing). Pertemuan-pertemuan massal dilarang, untuk mencegah penularan penyakit yang disebabkan oleh virus Corona. Dampaknya, rumah-rumah ibadah menutup pintunya bagi pelaksanaan sembahyang yang mengikutsertakan banyak orang, yang berpotensi mempersempit jarak raga antara satu umat dengan umat lainnya. Karena itu, shalat Jumat, shalat Tarawih di bulan Ramadhan seperti saat ini, atau shalat-shalat berjamaah lainnya di masjid, ditiadakan untuk alasan menghentikan matarantai penyebaran virus Corona.

Tak pelak, umat Islam pun gerah, gelisah, marah. Sebagian tetap ngotot shalat berjamaah di masjid, yang menyebabkan adanya peningkatan jumlah penderita COVID-19. Belum pernah terjadi, umat Islam, khususnya, dilarang beribadah di rumah ibadah komunal mereka. Apalagi di Indonesia yang merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Mekkah saja ditutup selama pandemi ini; kegiatan umroh ditiadakan, Masjidil Haram ditutup dan didekontaminasi.

Kegelisahan semacam ini, sebaliknya, tidak terjadi di PPK Subud. Karena hakikatnya jiwa tak terbatas ruang dan waktu, dan gelombang vibrasi Latihan dapat melintasi batas-batas antar lokasi yang berjauhan, sebagai jalan keluar dari keharusan hall-hall Latihan di semua cabang, ranting, dan kelompok Subud se-Indonesia di-lockdown, para anggota tetap dapat melakukan Latihan Bersama Berjarak (group distant Latihan), yaitu Latihan yang diikuti banyak anggota pada waktu yang telah disepakati bersama, namun masing-masing anggota berada di rumahnya sendiri-sendiri.

Grup-grup WhatsApp atau WAG (WhatsApp Group) yang mengakomodasi anggota Subud untuk LBB (ada juga yang menyebutnya “Latihan Bersama Jarak Jauh” atau LBJJ) pun bermunculan, baik yang diinisiasi anggota di luar negeri maupun oleh anggota Subud Indonesia. Saya sendiri pernah ikut WAG Latihan Never Locks Down, yang dibuat oleh anggota dari Subud Belgia, Guillaume Sanchez; WAG 22.00WIB, sebuah grup WA yang menampung anggota Subud Indonesia yang LBB setiap hari jam 22.00 WIB; dan Grup Buat Ngopi-Ngopi Jarak Jauh. Saya sudah keluar dari Latihan Never Locks Down dan 22.00WIB, hanya karena LBB tidak perlu setiap saat diinformasikan melalui pesan WhatsApp, sebagaimana yang justru dilakukan oleh kedua grup itu. Yang penting, kita menyesuaikan dengan waktu yang disepakati.

Bagaimanapun, anggota yang tergabung dalam WAG tidak wajib LBB; ada yang ikut setiap malam, ada pula—saya, contohnya—yang LBB hanya pada hari-hari Latihan di cabang dan/atau kelompok mereka normalnya berlatih kejiwaan.

Pandemi COVID-19 telah menciptakan situasi yang tidak biasa bagi banyak orang, tetapi seharusnya tidak perlu mengalami gegar budaya karenanya. Kalau kita senantiasa sabar, tawakal, dan ikhlas menerima bimbingan Tuhan Yang Maha Esa, maka jika Tuhan menghendaki takkan ada yang bisa mencegah kita dari melakukan hal-hal yang biasa kita lakukan.©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 4 Mei 2020

Saturday, May 2, 2020

Bimbingan di Tengah Pandemi

Saya di SOHO saya. Foto dibuat tanggal 5 Maret 2020, ketika memakai
masker sudah menjadi tren menyusul pandemi COVID-19 yang sudah
merambah Indonesia.

LIMA belas Maret 2020, saya berbagi pengalaman dan pengetahuan saya mengenai copywriting di Kelas Pintar Youth (pemuda Subud) Jakarta Selatan, di salah satu ruangan di Wisma Indonesia, kompleks Wisma Subud Cilandak, Jl. RS Fatmawati No. 52, Jakarta Selatan. Pada hari yang sama, jam 10.00 digelar Latihan Kejiwaan bersama seluruh anggota di Hall Latihan Cilandak. Imbauan untuk Latihan tersebut sudah beredar di sejumlah grup WhatsApp Subud, dan diselenggarakan dalam rangka memohon perlindungan dari Tuhan bagi semua anggota Subud Indonesia dalam menghadapi pandemi SARS-COV 2 atau Corona Virus Disease, yang disingkat COVID-19 karena mulai mencuat pada tahun 2019.

Tanggal 15 Maret itu terakhir kalinya saya ke Wisma Subud Cilandak, karena hari-hari selanjutnya, mengikuti tren yang mendunia saat itu lantaran pandemi COVID-19, Hall Latihan Cilandak di-lockdown. Social atau physical distancing, lockdown, karantina mandiri di rumah masing-masing saat itu mulai menjadi gaya hidup semua orang di seluruh dunia.

Seorang saudara Subud, dalam komunikasinya dengan saya via WhatsApp Voice Call, menyebutkan bahwa tahun 2020 menorehkan sejarah dalam kehidupan setiap orang. Gegara wabah penyakit mematikan, seluruh dunia berdiam di rumah. Anjuran penjarakan sosial atau fisik terus menerus dikumandangkan. Warga masyarakat disarankan agar menggunakan masker yang melindungi mulut dan hidung, serta rajin membersihkan tangan dengan penyanitasi tangan (hand-sanitizer) dan/atau sabun dan air menjadi keharusan. Kegiatan-kegiatan massa dihindari. Untuk pertama kalinya dalam sejarah umat Islam Indonesia, salat berjamaah di masjid, termasuk Jumat dan Tarawih, ditiadakan. Semua demi mencegah penyebaran virus Corona.

Saya terbiasa bekerja di rumah, bahkan kegiatan LI9HT—The IDEAS Company berlangsung di SOHO (small office, home office) di rumah saya. Jadi, bagi saya bukan sesuatu yang mengherankan atau merepotkan, jika pemerintah meminta perusahaan-perusahaan swasta maupun lembaga-lembaga negara membatasi kegiatan di kantor; semua kegiatan pun dikerjakan di dan dari rumah masing-masing karyawan. Begitu pula anak-anak sekolah dan mahasiswa, mereka harus belajar secara daring (online) di rumah masing-masing.

Kota-kota besar di Indonesia, termasuk Jakarta dan Surabaya, menjadi kota mati, dengan jalan-jalan macetnya tiba-tiba harus berakhir. Banyak jalan terlihat lengang, persis keadaan di waktu Lebaran, saat sebagian besar penduduk Jakarta mudik ke kampung halamannya. Lantaran ancaman COVID-19, pemerintah pun melarang mudik Lebaran, tetapi hal itu tetap membuat Jakarta lengang. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan di sejumlah kota untuk menekan keramaian yang berpotensi menularkan virus Corona dari orang ke orang.

Sejak pertengahan Maret hingga tulisan ini dibuat, praktis saya dan istri serta putri kecil kami nyaris tak pernah jauh dari rumah. Hanya sekali, pada 22 April 2020, saya naik sepeda motor ke Markas Besar Angkatan Laut (Mabesal) di Cilangkap, Jakarta Timur, untuk bertemu dengan Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Dispenal) guna membahas pekerjaan desain cover buku dan penataan letak isi buku dengan tenggat waktu yang ketat.

Karena pandemi COVID-19, Mabesal pun sebenarnya dinyatakan tertutup, dan tidak menerima tamu. Perintah langsung dari Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL), Laksamana TNI Siwi Sukma Adji, SE, MM. Tapi saya dikecualikan karena pekerjaan desain cover dan layout buku tersebut adalah untuk kepentingan KASAL. Bagaimanapun, lamanya kunjungan saya ke Dispenal dibatasi waktunya, dan untuk mengakses gedung kantor Dispenal saya harus melalui pemeriksaan petugas kesehatan yang menyorot sebuah alat mirip barcode reader ke kening saya—untuk memastikan bahwa saya tidak demam, yang merupakan salah satu simtom COVID-19. Pembacaan alat tersebut menunjukkan angka 360 C alias normal, tidak demam menurut standar simtom COVID-19.

Pandemi ini telah menyebabkan sejumlah klien LI9HT—The IDEAS Company menghentikan sementara kerjasamanya dengan LI9HT. Hal ini membuat saya dan istri hampir tak ada kegiatan yang produktif setiap hari, terkait matapencaharian kami. Ditambah dengan karantina mandiri, banyak waktu kami terbuang untuk hal-hal yang tidak esensial. Saya sendiri lebih banyak menghabiskan waktu menemani putri saya yang 26 Maret lalu berusia tiga setengah tahun. Saya menemani dia bermain dan menonton kartun yang itu-itu saja berulang kali. Setiap hari!

Karena harus mengurangi kegiatan di luar rumah, terutama dengan banyak orang di sekitar, maka saya fokuskan pada perjalanan ke dalam diri. Keadaan ini telah membuat (baca: memaksa) saya mengenal diri sendiri. Senandika (soliloquy atau berdialog dengan diri sendiri) mewarnai keseharian saya. Kadang saya mudah sekali tertekan akibat perasaan bosan yang parah—terutama karena kurangnya me-time, yang pada gilirannya mendorong amarah saya ke permukaan. Tak jarang saya dan istri bertengkar mengenai hal-hal sepele, yang seharusnya tidak perlu dipertengkarkan.

Puji Tuhan, saya memiliki mukjizat Latihan Kejiwaan. Di saat-saat tertekan, saya pun “lari” ke Latihan atau sekadar menenangkan diri di kamar saya. Latihan membantu saya meredakan emosi-emosi negatif atau suasana hati yang buruk (bad mood).

Terus terang, kadang saya marah pada Tuhan dengan adanya keadaan tidak mengenakkan akibat pandemi yang disebabkan virus Corona. Saya maki-maki Dia, dan bertekad tidak mau lagi percaya padaNya. Tapi toh Latihan kemudian “menyela” dan saya dibawa kembali ke keadaan pasrah dengan sabar, tawakal, dan ikhlas.

Banyak hal yang saya pelajari dari keberadaan diri saya “berkat” pandemi COVID-19 ini. Saya tidak dapat menguraikan semuanya, tapi yang jelas saya bersyukur bahwa Latihan Kejiwaan tetap eksis membimbing saya melalui semua ini. Bila perasaan-perasaan tertekan, kecewa, marah, atau bingung masih juga menghampiri saya, ya wajarlah—karena saya kan manusia yang punya hati dan akal pikir serta nafsu yang selalu menunggangi keduanya. Tapi perasaan-perasaan ini tidak bertahan lama. Energi Latihan atau vibrasi kontak yang berkelanjutan dengan kekuasaan Tuhan membantu saya membereskannya. Puji Tuhan atas Latihan Kejiwaan!

Semoga pandemi ini segera berakhir, dan kita semua terlahir kembali sebagai manusia yang terbarui dalam pikiran dan perasaan, dalam perkataan dan perbuatan. Amin.©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 2 Mei 2020, pukul 23.25 WIB


Friday, May 1, 2020

Sambal Bawang 919


SAYA belajar membuat Sambal Bawang dari ayah mertua saya yang tinggal di kawasan Perak Barat, Surabaya. Sebagai pensiunan TNI Angkatan Laut yang acap berbulan-bulan berlayar dengan kapal perang, ayah mertua punya keahlian memasak praktis dengan meracik bahan-bahan yang ada, agar selera makan awak kapal tidak turun, dan pada gilirannya menjatuhkan moril mereka dengan kerinduan amat sangat pada masakan di rumah.

Sambal Bawang ini saya labeli “919”, karena dibuat dengan sembilan siung bawang putih, sembilan cabai merah keriting dan 19 cabai rawit jingga, ditambah sedikit rebon dan sedikit minyak goreng. Wah, mantap betul rasanya, bisa jadi lauk bersahaja bagi nasi pulen nan hangat serta mengingatkan saya pada ayah-ibu mertua dan ipar-ipar saya di Surabaya yang tahun ini tidak bisa saya kunjungi, karena dilarang mudik Lebaran gegara Pembatasan Sosial Berskala Besar di Jakarta maupun Surabaya yang disebabkan oleh meluaskan kasus CoViD-19.©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, Banten, 2 Mei 2020