Wednesday, August 31, 2022

Pemikiran Orisinal Jerman: Perang Kilat di Polandia, 1 September 1939


SETIAP tanggal 1 September, masyarakat Eropa mengenangnya sebagai hari pecahnya Perang Dunia Kedua. Pada tanggal itu, 83 tahun yang lalu, angkatan bersenjata Jerman (Wehrmacht) menyerbu Polandia. Peristiwa itu disebut dalam buku sejarah militer dunia sebagai “blitzkrieg”, atau perang kilat.

Para pakar militer memandang Blitzkrieg bukan sebagai sebuah konsep peperangan (warfare), melainkan sebuah metodologi manuver bermobilitas tinggi untuk merebut momentum. Bagaimanapun, penggunaan tank dan kendaraan lapis baja (“panzer” dalam bahasa Jerman) sebagai ujung tombak serbuannya mencatatkan Blitzkrieg 1 September 1939 di dalam lembaran sejarah Perang Dunia II sebagai pelopor peperangan mekanis (mechanized warfare).

Selama ini, sejumlah literatur strategi menyatakan bahwa karya-karya dari pemikir strategi dan sejarawan militer Inggris, yaitu Sir Basil Henry Liddell Hart dan Mayor Jenderal John F.C. Fuller, yang telah menginspirasi para panglima perang Jerman dalam menyusun rencana Blitzkrieg. Namun, hal itu belakangan dibantah dan dinyatakan hanya sekadar mitos yang dibuat Liddell Hart untuk memperkuat reputasinya sebagai pemikir strategi.

Blitzkrieg mengacu pada serangan berdaya kejut (surprise attack) menggunakan konsentrasi kekuatan yang besar dan cepat, yang terdiri dari formasi-formasi kendaraan lapis baja dan kendaraan bermotor atau infanteri mekanis, bersama dukungan udara dekat (close air support) yang bertujuan untuk menerobos garis-garis pertahanan lawan, kemudian mendislokasi pasukan pertahanannya, menghilangkan keseimbangan musuh dengan membuatnya sulit merespons front-front yang terus berubah, dan mengalahkan mereka dalam suatu Vernichtungsschlacht, atau pertempuran pembinasaan.

Meskipun bukan mitos bahwa John F. Kennedy menjuluki Liddell Hart sebagai “Kapten yang mengajari para Jenderal” berkat pemikiran-pemikiran strategi perangnya yang genial, tetapi Blitzkrieg bukanlah buah pemikiran dari perwira Angkatan Darat Inggris yang diberhentikan dengan hormat karena luka-luka yang didapatnya dalam Pertempuran Somme pada Perang Dunia I ini. Perang kilat yang digelar Jerman di Polandia bersumber dari pemikiran seorang jenderal Jerman, yaitu Heinz Wilhelm Guderian. Meskipun versi bahasa Jerman dari memoar Guderian menyebut nama Liddell Hart, tetapi hal itu tidak dalam kaitan dengan pengembangan teori peperangan lapis baja (armored warfare).


Lahir di Kulm, Prusia Barat (sekarang bernama Chelmno, yang masuk wilayah Polandia) pada 17 Juni 1888, Guderian adalah seorang ahli taktik dan teknisi yang mumpuni, yang berhasil memimpin pasukannya dalam Invasi Polandia, Pertempuran Prancis, dan selama tahap-tahap awal invasi Uni Soviet: terutama dalam gerak maju ke Smolensk dan Pertempuran Kiev. Liddell Hart menulis bahwa sebagian besar dari keberhasilan Guderian berasal dari posisi yang memiliki keuntungan yang besar, dan dia tidak pernah bisa meraih kemenangan dari posisi yang lemah.

Liddell Hart memperlihatkan bahwa, bagaimanapun, kekurangan Guderian lebih banyak daripada kelebihannya, seperti dengan sengaja menciptakan permusuhan antara pasukan Panzer-nya dan unsur-unsur militer Jerman lainnya, yang mengakibatkan malapetaka. Dalam memoarnya, Guderian tidak menyebutkan kegagalan-kegagalan militernya maupun hubungan dekatnya dengan Hitler. Bagaimanapun, sejarawan perang udara dan pakar perang gerilya dari Amerika Serikat, James Corum, menulis dalam bukunya yang berjudul The Roots of Blitzkrieg: Hans von Seeckt and German Military Reform bahwa Guderian adalah seorang jenderal yang sangat cemerlang, ahli taktik kelas satu dan orang yang memainkan peran sentral dalam mengembangkan divisi Panzer, terlepas dari apa yang dia sebut dan tidak sebutkan dalam memoarnya.

Guderian diperkenalkan pada taktik peperangan lapis baja pada tahun 1920an oleh Ernst Volckheim, seorang komandan tank semasa Perang Dunia I dan penulis yang produktif mengenai peperangan lapis baja. Guderian mempelajari literatur-literatur terkemuka Eropa mengenai peperangan lapis baja dan antara 1922 dan 1928 ia menulis lima artikel untuk Military Weekly, sebuah jurnal angkatan bersenjata. Walaupun topik-topik yang dibahasnya terlalu biasa, Guderian menjadikan mereka alasan mengapa Jerman kalah dalam Perang Dunia I, yang justru merupakan subyek yang kontroversial pada masa itu, sehingga Guderian pun naik daun di kalangan militer Jerman. Ada beberapa latihan manuver yang digelar di Uni Soviet dan Guderian mengevaluasi hasilnya secara akademis. Inggris sedang bereksperimen dengan unit-unit lapis baja di bawah komando Jenderal Percy Hobart, dan Guderian terus mengikuti artikel-artikel Hobart. Tahun 1924, ia diangkat menjadi pengajar dan sejarawan militer di Szczecin, kota di barat laut Polandia.

Pada 1928, Guderian telah dikenal luas sebagai pakar tank terkemuka di Jerman; tetapi, ia belum pernah menaiki tank sampai tahun 1929, yaitu ketika ia mengendarai sebentar sebuah tank buatan Swedia, Stridsvagn (= kendaraan tempur) m/21-29. Ia dipindahtugaskan pada tahun 1928 ke Staf Pendidikan Angkutan Bermotor untuk mengajar. Seiring kenaikan pangkatnya menjadi letnan kolonel pada 1931, ia menjadi kepala staf Inspektorat Pasukan Bermotor yang dipimpin Jenderal Oswald Lutz. Jabatannya itu menempatkan Guderian di pusat pengembangan peperangan bermobilitas dan pasukan lapis baja.

Sepanjang dekade 1930an, Guderian memainkan peran penting dalam pengembangan konsep divisi panzer dan doktrin peperangan ofensif mekanis yang kemudian dikenal sebagai “blitzkrieg”. Batalion Angkutan Bermotor ke-3 yang dipimpinnya menjadi cetak biru dari kekuatan lapis baja Jerman di masa depan. Namun, perannya sebenarnya tidak terlalu menonjol sebagaimana klaimnya dalam memoarnya dan yang diulangi oleh para sejarawan di era pasca Perang Dunia Kedua.

Pada Agustus 1939, Guderian menerima tongkat komando atas Korps Pasukan XIX—sebuah korps lapis baja dari Wehrmacht, yang pada 1940 berganti nama menjadi Grup Panzer 2 (Panzergruppe 2)—yang baru dibentuk. Dalam waktu singkat, ia diperintahkan untuk menjadi ujung tombak dari elemen utara dari invasi ke Polandia yang dimulai pada 1 September. Di bawah naungan korpsnya terdapat salah satu dari enam divisi panzer yang dimiliki Angkatan Darat Jerman; Korps Guderian mengendalikan 14,5 persen dari jumlah kendaraan tempur lapis baja yang dimiliki Jerman. Tugasnya adalah untuk bergerak maju melalui bekas wilayah Prusia Barat (termasuk tempat kelahiran Guderian di Kulm), kemudian melakukan perjalanan melalui Prusia Timur sebelum menuju selatan ke arah Warsawa.

Guderian menggunakan konsep Jerman tentang “memimpin ke arah depan”, yang mengharuskan para komandan untuk bergerak ke medan tempur dan menilai situasi. Dia memanfaatkan sistem komunikasi modern dengan bepergian dengan kendaraan komando yang dilengkapi radio yang dengan itu dia tetap dapat berhubungan dengan markas komando Korps.

Pada 5 September, Korps XIX telah bergabung dengan pasukan yang maju ke barat dari Prusia Timur. Guderian telah mencapai kemenangan operasional pertamanya dan dia mengajak Hitler dan Heinrich Himmler (komandan Schutzstaffel/SS) dalam tur ke medan tempur. Keesokan harinya, ia memindahkan korpsnya melintasi Prusia Timur untuk berpartisipasi dalam gerak maju ke Warsawa.

Pada tanggal 9 September, korpsnya diperkuat oleh Divisi Panzer ke-10 dan ia melanjutkan gerak pasukannya lebih dalam di wilayah Polandia, dan berhenti di Brest-Litovsk (kini bernama Brest, sebuah kota yang masuk wilayah Belarusia). Dalam sepuluh hari, Korps XIX Guderian bergerak maju sejauh 330 kilometer, yang terkadang harus menghadapi perlawanan yang keras. Tank telah terbukti sebagai senjata yang ampuh, dengan hanya delapan yang hancur dari 350 yang digunakan.

Pada 16 September, Guderian melancarkan serangan ke Brest Litovsk; hari berikutnya, Uni Soviet menginvasi Polandia. Dia mengeluarkan ultimatum kepada kota itu—menyerah kepada Jerman atau Soviet—dan garnisun setempat memilih menyerah kepada Jerman. Masuknya Uni Soviet ke dalam Perang Dunia II menjatuhkan moril Polandia dan pasukan Polandia mulai menyerah secara massal kepada pasukan Guderian. Di akhir kampanye, Guderian dianugerahi tanda jasa Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes (Salib Kesatria dari Salib Besi).

Heinz Guderian dikenal sebagai salah satu dari banyak pemikir militer dan jenderal yang inovatif di Angkatan Darat Jerman selama Perang Dunia Kedua. Di bawah kepemimpinannya, pasukan panzer Jerman menjadi terkenal dan ditakuti oleh angkatan bersenjata di seantero Eropa. Ia menjabat sebagai Komandan Korps Panzer, Komandan Panzer Angkatan Darat, Inspektur Jenderal Pasukan Lapis Baja dan kepala Oberkommando des Heeres (OKH) atau Komando Tertinggi Angkatan Darat. Ia meraih pangkat tertinggi Jenderal Besar (Generaloberst) atau Kolonel Jenderal pada Juli 1940.©2022

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 1 September 2022

Sunday, August 28, 2022

Mengosongkan Pikiran

DALAM sejumlah obrolan saya dengan seorang pembantu pelatih (PP) Subud Jakarta Selatan yang berkewarganegaraan Amerika Serikat terungkap bahwa “mengosongkan pikiran” sebelum dan selama melakukan Latihan Kejiwaan itu tidak mungkin. Pikiran tidak mungkin dikosongkan. Ia bisa ditenangkan, karena sifat pikiran memang liar, seperti monyet yang melompat dari pohon yang satu ke pohon lainnya. Tetapi monyet bisa ditenangkan, antara lain dengan memberinya makanan kesukaannya.

Setelah menerima Latihan Kejiwaan, saya me-niteni dan mulai memahami bahwa pikiran saya suka sekali mengembara ke wilayah-wilayah yang tidak ia kenal, bahkan sesungguhnya tidak eksis. Pikiran kita suka sekali memikirkan hal-hal yang belum pasti, melampaui batas-batas yang seharusnya. Kita cenderung takut atau khawatir akan hal-hal yang belum terjadi atau tidak nyata. Takut adalah produk pikiran, yang tidak akan meruyak jika ia ditenangkan, dengan memberinya “makanan” berupa gagasan-gagasan yang menyenangkan.

Kalaupun “dikosongkan”, saya kira bukan dalam pengertian “tidak berisi” atau “tidak ada muatannya”, melainkan berarti “mengeluarkan anasir-anasir yang tidak diperlukan, untuk sementara atau selamanya”, yang jika dibiarkan mengendap akan membuat pikiran kita jauh dari kearifan. Saya memahami hal ini berdasarkan pengalaman saya sebagai copywriter.

Sebagai konsekuensi dari menekuni pekerjaan sebagai copywriter, saya selalu berhadapan dengan hal-hal baru. Klien-klien saya, sebagai pemilik merek atau produsen produk-produk yang termasuk kategori yang berbeda-beda, sering menyodorkan ke saya keadaan yang memaksa saya harus mempelajari hal-hal baru. Nah, untuk dapat cepat memahami sesuatu yang baru, saya harus mengosongkan ruang di pikiran saya dari hal-hal yang sudah usang atau berbeda, yang dapat menimbulkan kontradiksi yang mengganggu upaya saya memahami kebaruan.

Ketika saya menerima pesanan dari Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut (Dispenal) Markas Besar TNI Angkatan Laut (Mabesal) untuk menggarap majalah bertema kemaritiman dan angkatan laut berbahasa Inggris, saya dituntut untuk memiliki pengetahuan yang memadai mengenai bidang-bidang tersebut. Bagi saya, strategi perang laut dan pertahanan maritim merupakan bidang yang sama sekali baru, meskipun saya cukup memahami ilmu militer. Spesialisasi saya sebelumnya adalah strategi perang dan pertahanan di darat—ada perbedaan mendasar antara perang di darat dan di laut; perang di darat mendayagunakan infrastruktur buatan manusia, sedangkan perang di laut sumber daya manusia diperkuat oleh kelebihan-kelebihan alamiah. Saya pun memohon kepada Tuhan agar diberi bimbingan dalam mempelajari bidang baru itu.

Saya ikhlaskan paradigma strategi perang darat pergi untuk sementara, agar ruangan di dalam pikiran saya bisa dimuati paradigma perang laut. Saya tidak tahu kiatnya selain belajar dengan senantiasa berperasaan sabar, tawakal dan ikhlas. Dalam keadaan pikiran yang sudah kosong, justru saya dapat merekam sekaligus menganalisis hal-hal baru.

Waktu belajar hal baru itu tergolong singkat, dan di luar dugaan saya, saya menguasainya dengan cepat. Setiap topik dalam literatur-literatur mengenai pertahanan maritim dan perang laut dapat saya serap dengan mudah, seolah saya adalah seorang kadet akademi angkatan laut atau komandan kapal perang. Sampai-sampai, laksamana pertama yang mengepalai Dispenal waktu itu berkomentar bahwa saya jenius, karena dapat menguasai suatu ilmu dalam sekejap.

“Mengosongkan pikiran”, menurut pengalaman saya, sejatinya adalah mengizinkan hal-hal baru atau menerima yang berbeda dengan apa yang kita ketahui selama ini untuk membantu kita menjalani hidup. Tidak sedikit orang yang membentengi diri dengan pengetahuan usang, karena pikiran mereka nyaman dengan hal itu, sehingga tanpa mereka sadari mereka berhenti tumbuh. Hidup ini dinamis dengan segala kemungkinan yang banyak di antaranya belum kita jelajahi dengan memanfaatkannya.©2022

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 29 Agustus 2022

Identitas Gerak

DALAM Latihan Kejiwaan, kita sering melakukan gerakan-gerakan spontan, kadang dalam pola yang menyerupai tarian atau jurus seni bela diri, gerak sembahyang secara Islam, dan lain-lain, yang tidak dapat kita rencanakan atau mengaturnya. Pola-polanya tidak beraturan, berbeda setiap kali melakukan Latihan, dan tidak dapat serta tidak perlu untuk kita coba pahami apa maksudnya. Ya sudah, sebagai pelatih kejiwaan, kita tinggal terima saja mau digerakkan seperti apa oleh “suatu eksistensi melampaui eksistensi kemanusiaan” kita.

Ketidakberaturan pola gerak dan/atau suara itu, bagaimanapun, dalam suatu pengalaman Latihan pada hari Kamis malam, 25 Agustus 2022 lalu, di Hall Cilandak, memberi saya pengertian bahwa mereka memiliki identitas; bisa diidentifikasi oleh diri kita mana gerakan yang milik kita dan mana yang milik orang lain. Dalam Latihan 25 Agustus itu, pada sekitar lima menit pertama, saya melalukan serangkaian gerakan tidak beraturan.

Anehnya, saya dapat merasakan bahwa itu bukan gerakan-gerakan asli saya. Selama bergerak itu, saya pun membatinkan pertanyaan, “Gerakan siapa ini?” dan segera pula saya mendapatkan jawaban dari dalam saya bahwa itu gerakan “milik” Hasmi (bukan nama sebenarnya), salah satu saudara Subud saya yang malam itu juga Latihan di Hall Cilandak.

Usai Latihan, saya menceritakan pengalaman itu kepada Pak Harris Roberts, salah seorang pembantu pelatih (PP) Subud Cabang Jakarta Selatan. Rupanya, Pak Harris, yang malam itu bertugas memberi aba-aba dalam Latihan bersama tersebut, juga melihat saya melakukan gerakan-gerakan yang beliau identifikasi sebagai khas Hasmi. Belakangan, ketika saya ceritakan pengalaman itu di sebuah grup WhatsApp Subud, si Hasmi pun mengaku bahwa ia juga sempat melihat saya melakukan gerakan-gerakan “milik”nya.

Terlepas dari gerakan-gerakan itu, perasaan saya saat melakukannya sangat tidak nyaman. Saya bahkan berperasaan sebal dan malu menjadi Hasmi. Saya merasa itu bukan sejatinya saya; menjadi diri Hasmi atau siapa pun orangnya, secara kejiwaan, tidak membuat diri sendiri nyaman.

Nah, pelajaran apa yang saya petik dari pengalaman tersebut? Sudah jelas bahwa sehebat-hebatnya orang lain, segemilang-gemilangnya kehidupan orang lain, yang kebanyakan dari kita melihatnya dari luar, dari yang tampak saja, tidaklah sebanding dengan kenyamanan yang dirasakan bila kita berada di sepatu kita sendiri. Meskipun pola gerak hidup kita terasa, sepertinya, berantakan, tetapi kalau itu memang asli dari kita sendiri itu jauh lebih membahagiakan daripada kalau kita hidup berdasarkan pola gerak hidup orang lain.

Ah, pantas saja Bapak Subuh selalu menekankan bahwa meniru adalah keliru.©2022

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 29 Agustus 2022

Friday, August 26, 2022

Mendahului Waktu

EMPATBELAS tahun lalu, seorang konsultan kehumasan (public relations/PR) dikenalkan ke saya selaku konsultan kreatif. Si konsultan PR ini rupanya kehabisan ide untuk personal branding seorang pensiunan jenderal yang saat itu sedang mengetuai sebuah organisasi masyarakat. Tujuan personal branding itu adalah untuk memperkuat posisi sang purnawirawan seolah dia memang mumpuni dalam memimpin ormas tersebut.

Saat itu, saya sedang mempelajari memetika, sehingga saya buatkan rekomendasi strategi branding yang intinya adalah disseminasi isu berplatform inovasi terbaru di bidang yang dinaungi ormas tersebut. Tujuannya adalah menciptakan meme di benak publik bahwa sejak dipimpin sang purnawirawan, ormas tersebut lebih inovatif dan bersumbangsih bagi kemajuan bangsa.

Perlu diketahui, memetika adalah teori konten mental yang didasarkan pada analogi teori evolusi Charles Darwin, yang dipopulerkan oleh Richard Dawkins dalam bukunya The Selfish Gene (1976). Para pendukungnya menggambarkan memetika sebagai pendekatan untuk model evolusi terhadap transfer informasi budaya. Meme (dibaca “mim”), analog dengan gen, terkandung sebagai “unit budaya” (ide, keyakinan, pola perilaku, dan lain-lain) yang “diinangi” dalam pikiran satu atau lebih individu, yang dapat memperbanyak dirinya, sehingga mampu melompat dari satu pikiran ke pikiran lain. Jadi, ketika seorang individu dianggap berpengaruh terhadap orang lain yang mengadopsi keyakinannya, hal ini dipandang sebagai replikator-ide yang mereproduksi dirinya dalam inang baru. Sebagaimana halnya dalam genetika, khususnya dalam interpretasi Dawkinsian, kesuksesan meme mungkin disebabkan oleh efektivitas inangnya.

Si konsultan PR berkomentar bahwa dia khawatir bila strategi yang saya rekomendasikan itu dijalankan akan ketahuan bahwa itu tidak benar. “Sekarang kan masyarakat sudah pintar, Mas. Nggak gampang dibo’ongin,” kata dia.

Saya ngotot bahwa strategi itu akan berhasil, entah bagaimana. Tetapi si konsultan tidak mau mengambil risiko. Ya sudah, take it or leave it!

Pada suatu hari di bulan Agustus 2015, saya terkoneksi lagi dengan si konsultan PR. Dia menanyakan kabar saya, dan saya menjawab, “Sangat baik, Mbak. Apalagi saya jadi punya kesempatan untuk nyampein ke Mbak, bahwa masyarakat ternyata nggak jadi lebih pintar sekarang. Buktinya, itu berita-berita miring bin bo’ong di social media dengan gampangnya diterima sebagai kebenaran umum. Coba tujuh tahun lalu, Mbak terima rekomendasi saya...”

Pengalaman dengan fenomena “mendahului waktu” seperti kisah di atas kerap saya alami setelah menekuni Latihan Kejiwaan. Bukan sebagai bukti bahwa saya sakti atau memiliki kemampuan menerawang masa depan, tetapi semata karena begitulah bimbingan dari kekuasaan Tuhan yang saya terima. Hanya dibutuhkan kesabaran, ketawakalan dan keikhlasan saya, terutama dalam melihat kenyataan bahwa tidak semua orang siap atau mau menerima dan melakukan petunjuk Tuhan kepada orang tersebut yang disalurkan melalui eksistensi saya. Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Kuasa. ©2022

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 27 Agustus 2022

Friday, August 19, 2022

Mengganda Berkat Ikhlas

KEJADIANNYA di tahun 2017, pas pada 20 Agustus. Jam 05.45 WIB, saya dan istri mengajak Nuansa jalan-jalan dengan kereta dorongnya dari rumah kami di Jalan Kalibata Selatan II ke Kompleks POMAD, Kalibata Tengah, Jakarta Selatan. Dalam perjalanan pulang, kami mampir di penjual bubur ayam, dimana istri saya memesan dua porsi dibungkus untuk sarapan saya dan istri di rumah.

Sambil berjalan menjauh dari gerobak bubur ayam itu, istri saya berbisik tentang betapa sedikitnya porsi yang diberi penjual bubur ayam serta betapa mahalnya harga kedua porsi tersebut (total Rp25.000). Pernyataan istri membuat dada saya bergemuruh dengan amarah, jengkel dan bersumpah tidak mau lagi membeli bubur ayam di situ (itu yang pertama kalinya). Tetapi, spontan saya mendengar gema suara Bapak Subuh di dalam diri saya, “Sudahlah, ikhlaskan saja, Nak. Syukuri kenyataan bahwa kamu masih mampu membelinya.”

Ketika saya mengikhlaskannya, kesejukan dan kedamaian meruyak di dalam diri. Puji Tuhan. Sampai di rumah, saya ambil alih tas kresek bermuatan dua kotak styrofoam berisi bubur ayam tersebut dari tangan istri dan saya tenteng ke dapur untuk saya pindahkan ke mangkuk.

Ketika saya mengeluarkan kotak-kotak styrofoam tersebut dari dalam tas kresek, betapa terkejutnya saya karena pembungkus bubur ayam tersebut membengkak dan isinya seperti mau menyembur keluar. Buru-buru saya pindahkan ke dua mangkuk yang ukurannya lebih besar dari mangkuk yang dipunyai si penjual bubur ayam tadi. Dalam sekejap kedua mangkuk dipenuhi bubur ayam yang menggunung sampai sebagian kecil meluber keluar mangkuk.

Bubur ayam di masing-masing kotak styrofoam tersebut tampaknya telah “menggandakan diri” sampai membeludak, nyaris meledakkan kotak pembungkusnya. Buah keikhlasan memang dahsyat!©2022


Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 20 Agustus 2022

Modal Penguasaan Bahasa Asing

TAHUN 2009, dalam rangka proyek penulisan buku mengenai kiprah seorang pakar komunikasi lintas budaya (yang batal karena sesuatu dan lain hal), saya dan istri menginap di rumah sang pakar. Tujuannya adalah untuk mengenal kehidupan dan pekerjaannya, sehingga saya dapat menghayati penulisannya.

Putra bungsu beliau saat itu sedang kuliah tingkat magister di Amerika Serikat. Saat sarapan pagi bersama istri saya, sang pakar dan suaminya, saya mengungkapkan bahwa saya iri pada putra bungsu mereka yang lantaran pernah tinggal lama di Negeri Paman Sam, bahasa Inggrisnya sangat fasih, setara dengan penutur asli. Saya ingin sekali seperti dia, karena saya suka berkomunikasi dengan siapa saja, tetapi terkendala kemampuan berbahasa asing.

Suami sang pakar, yang juga anggota Subud, menanggapi, “Mungkin Tuhan menghendaki Mas Anto untuk mendalami bahasa Indonesia dulu. Itu kan bahasa jiwa Anda, bahasa yang mengisi kepribadian Anda sejak kecil.”

Meskipun mengiyakan sebagai tanda bahwa saya memahami apa yang beliau katakan, sebenarnya saya masih meraba-raba apa artinya. Dalam perjalanan hidup saya selanjutnya memang penguasaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, yang sesuai Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), atau kelak menjadi Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), dan Agustus tahun 2022 kembali jadi EYD yang diperbarui, amat membantu saya melakoni pekerjaan saya sebagai copywriter.

Sejak 2015, saya gencar berkomunikasi dengan anggota-anggota Subud dari berbagai negara via Facebook, dan beberapa tahun belakangan juga lewat WhatsApp. Komunikasinya tentu dalam bahasa Inggris. Untuk memperkaya kosa katanya, saya gunakan Google Translate. Banyak orang menilai Google Translate terlalu buruk hasil penerjemahannya, dengan banyak arti yang tidak tepat, baik dari bahasa Indonesia ke Inggris maupun sebaliknya. Sampai-sampai, ada ekspresi “bahasa Inggris ala Google Translate”, yang artinya bahasa Inggris yang sangat buruk.

Tetapi, para anggota Subud luar negeri, terutama yang berasal dari Inggris, Amerika, Kanada dan Australia mengatakan bahwa bahasa Inggris saya “faultless” (tidak ada cela, sempurna), bahkan ketika saya menggunakan Google Translate. Satu artikel mengenai pengalaman saya sebagai penerjemah untuk World Subud Association (WSA), yang saya tulis dalam bahasa Inggris, karena saya kirim ke buletin Subud Zona 3 (Eropa), Projects & Properties, dan terbit di edisi bulan Desember 2020, tidak mengalami penyuntingan apa pun kecuali penggantian dari bahasa Inggris Amerika menjadi Inggris Britania. Saya sendiri sempat tidak percaya diri dengan bahasa Inggris yang saya gunakan untuk penulisan artikel tersebut, lantaran editor buletinnya adalah seorang berkebangsaan Britania.

Saat ini, saya tengah menggarap coffee-table book untuk ulang tahun ke-50 PT Asahimas Flat Glass Tbk. dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia. Google Translate saya andalkan, selain kemampuan sendiri. Ketika menulis naskah bahasa Inggrisnya, tiba-tiba saya tersentak, mengingat apa yang dikatakan suami sang pakar komunikasi lintas budaya 13 tahun sebelumnya. Saya jadi paham bahwa untuk menguasai bahasa Inggris dengan baik dan benar, saya harus menguasai terlebih dahulu bahasa Indonesia yang telah menyatu dengan kepribadian saya, dengan baik dan benar pula. Google Translate mampu untuk secara hampir sempurna menerjemahkan bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris selama bahasa Indonesianya ditulis dengan kaidah yang benar.

Untuk menyempurnakannya, saya gunakan Latihan Kejiwaan yang dengannya saya dimampukan untuk merasakan tiap kata dan kalimat yang saya pilih untuk saya gunakan dalam tulisan saya. Saya teringat pada reaksi dua orang atas penguasaan bahasa Inggris saya. Yang pertama adalah klien saya, seorang perempuan Indonesia yang pernah belasan tahun tinggal di Inggris. Ia bertanya mengapa saya memilih kata-kata tertentu dalam bahasa Inggris yang memiliki beberapa sinonimnya tetapi saya tidak menggunakan sinonim-sinonim tersebut.

“Saya hanya merasakannya saja bahwa pilihan itulah yang paling pas,” jawab saya. Jawaban itu membuat klien saya memastikan bahwa saya telah menguasai level penutur asli. Penutur asli tidak mengandalkan tatabahasa (grammar), melainkan rasa.

Yang kedua adalah saudara Subud saya yang berasal dari Liverpool, Inggris, dan sudah lama bermukim di Indonesia. Ia mengatakan bahwa naskah audio-visual yang saya tulis dalam bahasa Inggris menggunakan faultless English (bahasa Inggris sempurna). Saya mengira bahwa ia sedang sekadar menyenangkan hati saya saja, dan dengan rendah hati saya katakan bahwa saya lemah dalam grammar. Saudara Subud itu berkata, “You think I do? No Englishman knows grammar. It's a school thing. We use our feelings.” (Kamu kira saya menguasainya? Tidak ada orang Inggris yang tahu tatabahasa. Itu hanya dipelajari di bangku sekolah. Kita menggunakan rasa kita.)

Pengalaman ini membuat saya semakin yakin akan kekuatan dari bimbingan kekuasaan Tuhan yang saya peroleh melalui Latihan Kejiwaan. Bahasa adalah pengetahuan yang terbangun dari akal pikir manusia, sedangkan Latihan Kejiwaan menembus semua tirai yang menghalangi manusia dari mencapai ilmu Tuhan.©2022

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 20 Agustus 2022

Tuesday, August 16, 2022

Menyelam ke Dasar

"Semakin tenang pikiran seseorang, semakin kuatlah ia."

~Marcus Aurelius


KEMARIN, 16 Agustus 2022, saya bertemu dengan ipar saya yang seorang pebisnis di sebuah serviced apartment di kawasan Epicentrum, Jakarta Selatan. Ia bercerita tentang hobi barunya, yaitu menyelam SCUBA (Self-Contained Underwater Breathing Apparatus atau Alat Pernapasan Mandiri di Bawah Air).

Salah satu manfaat yang ia dapat terkait dengan pekerjaannya dalam dunia bisnis. Dalam bisnis, ia sering berhadapan dengan situasi dimana ia harus tenang dalam mengambil keputusan terbaik di saat yang genting. Menyelam SCUBA melatihnya untuk tidak cepat panik, karena kepanikan saat menyelam berisiko kematian, dimana penyelam yang panik biasanya akan buru-buru berenang ke permukaan air, dan hal itu sangat berbahaya karena dapat merusak paru-parunya.

Ipar saya menganjurkan agar saya mulai mempertimbangkan untuk belajar menyelam SCUBA. Saya menyambut anjuran itu dengan positif, diiringi dengan pernyataan bahwa saya selama ini dilatih untuk tetap tenang di tengah situasi yang penuh tekanan melalui Latihan Kejiwaan Subud.

Setiap orang punya caranya sendiri-sendiri untuk menjadi tenang dalam menghadapi keadaan dimana tidak panik adalah yang terbaik. Seperti ipar saya itu, dia menyelam SCUBA. Namun, ada juga orang yang memilih healing ke tempat-tempat sunyi berudara sejuk di pegunungan atau sekadar duduk di atas batu karang di pantai, menatap matahari terbenam. Teman saya, seorang produser film, harus mendengar musik klasik untuk menstabilkan pikirannya yang kalut karena tekanan tenggat waktu dalam pekerjaannya atau ketika mendadak terjadi suatu kesalahan dalam penyuntingan film yang diproduserinya. Teman saya lainnya kerap mengunyah permen karet biar tetap tenang menghadapi kegawatan.

Tidak hanya pebisnis, saya kira, yang perlu belajar untuk tetap tenang menghadapi situasi genting, tetapi semua orang. Kita semua pernah dan akan sering menghadapi situasi dimana kita harus mengambil keputusan, dan mengambil keputusan yang terbaik tidak bisa dilakukan ketika pikiran kita kalut.

Menyelam ke dasar” diri saya adalah sebutan saya untuk pengalaman yang saya lalui setiap kali melakukan Latihan Kejiwaan maupun di luar momen Latihan—lagipula, sebagaimana yang dinasihatkan Bapak Subuh, orang Subud seharusnya berada dalam keadaan Latihan selama 24 jam terus-menerus.

Di dasar diri atau “diri hakikat” tidak ada apa-apa, hanya keheningan. Persis seperti pengalaman saya saat menyelam ke dasar kolam renang, yang tekanan arus airnya sedemikian rupa, menyebabkan telinga saya berkurang pendengarannya, tetapi saya dapat mendengar detak jantung dan desir darah saya. Pikiran dan perasaan berhenti eksis, bahkan saya tak kuasa atas diri saya sendiri. Di dasar samudra pribadi inilah meruyak “suara” atau energi yang membimbing pikiran dan perasaan, perkataan dan perbuatan saya selanjutnya dan saya pun bertindak atas dasar itu.

Yang saya suka dari (sifat) Latihan Kejiwaan adalah bahwa saya tidak perlu bersusah payah untuk tenang, dan tidak perlu pula mengeluarkan biaya besar. “Tenang” sudah menjadi bagian integral dari pribadi saya sejak pertama kali menerima Latihan Kejiwaan, apakah saya niatkan ataupun tidak. Terjadi begitu saja. Supaya kenyataan itu langgeng pada diri saya, makanya saya rajin melakukan Latihan Kejiwaan, minimal tiga kali seminggu.

Apa pun cara yang kita tempuh untuk tetap tenang dalam situasi penuh tekanan, yang terpenting adalah jangan lupa bahwa zat kekuasaan Tuhan selalu menyertai kita.©2022

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 17 Agustus 2022