Sunday, June 28, 2020

Organisasi Dengan “Isi”


TAHUN 2010, saat di Selandia Baru tengah berlangsung Kongres Subud Dunia, seorang anggota Subud di depan toilet pria di Hall Cilandak berbicara kepada saya yang duduk di sebelahnya. Meskipun tidak akrab, saya cukup mengenal anggota itu: seorang pria usia lanjut, yang masuk Subud ketika dirinya sudah sangat tua (70an), dan pemikir yang kritis yang mendapati kenyataan bahwa di Subud “berpikir kritis” tidak selalu relevan.

Meninggal pada 1 Maret 2019 lalu dalam usia 81 tahun, anggota ini mengutarakan kesebalannya pada berbagai laporan mengenai acara-acara di kongres dunia yang tengah berlangsung di Christchurch, Selandia Baru. Ia merasa agenda acaranya tidak cocok untuk Subud karena, menurutnya, minim aspek kejiwaannya.

Pernyataannya membuat saya terlonjak karena kaget. Meskipun banyak anggota Subud, saya ketahui, memisahkan antara keduniawian dan spiritualitas, atau antara non-kejiwaan dan kejiwaan, tetap saya kaget mendengar pernyataan seperti itu. Merasa barangkali dia salah ucap, saya pun bertanya padanya, “Maksudnya, Pak?”

“Iya, kok yang dibahas hanya masalah organisasi dan enterprise saja. Kejiwaannya mana?” jelasnya, dengan suara parau seakan pita suaranya juga ikut menua sejalan dengan usianya.

“Maksud Bapak dengan ‘bahasan kejiwaan’ apa, ya?” tanya saya, benar-benar bingung.

Bapak tua itu terlihat bingung merespons pertanyaan saya. Mungkin dia menyadari bahwa yang namanya bahasan kejiwaan sesungguhnya tidak ada, karena kejiwaan adalah ranah gaib yang bebas bahasa dan, karena itu, tidak bisa dibahas. Menurut pengertian saya, “kejiwaan” adalah wilayah rasa, yang untuk tiap orang berbeda, sehingga membahasnya hanya akan mengaburkan maknanya.

“Pak Achmad pernah jadi pengurus di Subud?” tanya saya, setelah kagetnya berlalu dan menjadi tenang. Bapak itu menidakkan, dengan alasan bahwa dia tidak tertarik dan hanya mau “berkejiwaan” saja. Saya pun menjelaskan lebih lanjut.

“Subud itu tidak mengenal pemisahan ranah-ranah dunia dan akhirat, Pak. Tidak ada istilah kejiwaan dan non-kejiwaan. Diri kita, luar dan dalam, adalah wadah yang menaungi kedua aspek tersebut. Seperti diterangkan Yang Mulia Bapak, adalah seperti air dan minyak yang disatukan dalam wadah yang sama: Nggak saling mencampuri tapi harmonis dalam wadah tersebut,” kata saya. “Yang Mulia Bapak menyebutnya Ilmu Pisah.”

Saya meneruskan penuturan saya dan si anggota usia lanjut itu mendengarkan dengan saksama. Saya menceritakan pengalaman saya saat mengemban tugas sebagai Wakil Sekretaris Nasional (namun karena aktif berkomunikasi dengan komunitas Subud internasional, para anggota luar negeri menganggap saya adalah “Sekretaris Nasional”-nya untuk masa bakti 2009-2011) di pengurus nasional PPK Subud Indonesia. Saya mengutarakan bahwa apa pun jabatan yang diemban dalam kepengurusan Subud semuanya bertitik tolak pada Latihan Kejiwaan. Dalam berpikir dan merasakan, dalam berkata dan berbuat sebagai “pengurus”, semuanya merupakan ekspresi yang terbimbing Latihan Kejiwaan. Sekalinya mengandalkan akal pikir yang ditunggangi nafsu, maka yang mengemuka adalah kepentingan pribadi yang ujung-ujungnya berbuah konflik antar pribadi. Saya pernah mengalaminya, makanya bisa menceritakan hal ini.

“Itulah sebabnya mengapa rapat-rapat pengurus nasional selalu didampingi Pembantu Pelatih Nasional dan sebulan sekali atau tergantung tuntunan, pengurus dan PP Latihan bersama. Supaya selalu harmonis, selalu rukun. Kalau perkumpulan kita terasa kacau, biasanya karena nggak terisi Latihan. Semua yang terlibat punya kepentingan, apa pun itu,” kata saya.

Si bapak tua itu tertegun. “Jadi, walaupun kelihatannya bukan kejiwaan, tapi sebenarnya acara-acara Kongres Dunia itu ada isi Latihannya ya?” tanyanya, seperti menuntut penegasan saya.

“Betul, Pak. Organisasi kita ini ada ‘isi’nya. Isinya adalah Latihan Kejiwaan. Jadi, Pak Achmad jangan menolak kalau ditawari jadi pengurus. Karena itu kesempatan untuk tumbuh dan berkembang Latihannya Pak Achmad. Pak Achmad jadi bisa belajar me-niteni bekerjanya jiwa, hati, dan akal pikir, sehingga dapat mengendalikan diri,” jawab saya. Anggota uzur itu mengangguk-angguk dalam diam. Selanjutnya, ia mohon diri dan berlalu dari hadapan saya.©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 29 Juni 2020

Friday, June 26, 2020

Biasa Baru

Logo dari gerakan Biasa Baru, yang dijiwai oleh sikap Sabar. Didesain oleh LI9HT Brand.

TERMINOLOGI yang tengah tren di saat pandemi COVID-19 sedang melanda dunia adalah “normal baru”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “normal” berarti “menurut aturan atau menurut pola yang umum; sesuai dan tidak menyimpang dari suatu norma atau kaidah; sesuai dengan keadaan yang biasa; tanpa cacat; tidak ada kelainan”. “Normal baru”, karena itu, berarti aturan umum yang baru.

Bagi saya, terminologi “normal baru” merupakan sesuatu yang kocak atau berlebihan (oxymoron). Pasalnya, kebiasaan “baru” yang ditawarkannya sebagian besar sudah saya dan istri saya lakukan sejak lama. Kalau Anda memahami pentingnya kebersihan dan kesehatan, kebiasaan yang diimbau untuk dilakukan di era “normal baru” ini sama sekali tidak baru. Mencuci tangan dan/atau mandi bila habis bepergian atau baru memegang sesuatu yang diragukan higienitasnya sudah saya lakukan sejak anak saya, Nuansa, lahir. Saya harus mencuci tangan apabila ingin menggendongnya, harus mandi bila saya baru pulang dari bepergian, untuk tujuan yang sama. Apabila saya sedang batuk atau pilek, saya wajib mengenakan masker jika ingin mendekati Nuansa—tidak hanya ketika dia masih bayi, tapi sampai sekarang ya begitu. Menjaga imunitas tubuh dengan olahraga dan makan makanan yang sehat juga bukan kebiasaan baru.

Selain itu, sejak saya dibuka di Subud, pertama kali menerima Latihan Kejiwaan, saya mengalami diri saya yang baru setiap hari. Setiap hari, saya merasa dilahirkan kembali, dengan kesadaran diri yang baru. Dalam sehari bahkan saya mendapat banyak hal baru yang belum saya kenal atau ketahui sebelumnya. Bagi saya, orang yang sudah menerima Latihan Kejiwaan tidak seharusnya menjadi usang, atau terbelenggu kebiasaan-kebiasaan dan kebisaan-kebisaan lama. Penerimaan dalam Latihan Kejiwaan juga terbarukan setiap saat.

Latihan Kejiwaan membimbing saya untuk mampu menerima kebiasaan-kebiasaan dan kebisaan-kebisaan baru. Pendek kata, orang Subud seyogyanya biasa dengan kebaruan. Dia biasa baru. “Normal baru”, karena itu, tidak relevan bagi orang-orang yang senantiasa terbimbing kekuasaan Tuhan.

Rasa biasa baru terasa ketika kita melakukan apa yang sering Bapak dorong agar anggota Subud lakukan: enterprise. Bapak mengatakan, enterprise adalah gerak hidup yang tertuntun Latihan Kejiwaan. Enterprise adalah kerja, bergeraknya kita secara lahir maupun batin yang gerakan-gerakannya (maupun diamnya) terisi getaran Latihan. Enterprise adalah media penyaksian kita atas bekerjanya bimbingan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Tujuan enterprise bukan semata perolehan keuntungan materi (material gain), tetapi yang lebih utama keyakinan bahwa Tuhan memang ada, hadir, dan membimbing kita. Itu yang saya alami dan pahami.

Sejalan dengan bimbingan Tuhan dalam enterprise, saya mengalami banyak sekali, dan sering kali, perubahan-perubahan dalam cara-cara saya melakukan hal-hal. Saya menjadi copywriter sejak tahun 1995, jauh sebelum saya masuk Subud, dan secara jumlah tahun, di kalangan praktisi periklanan saya dipandang “berpengalaman”, yang artinya saya mampu menulis naskah untuk berbagai jenis materi komunikasi pemasaran dan korporat. Saya juga dipandang sebagai profesional di bidang copywriting, karena telah menguasai teknik-teknik penulisan naskah komunikasi maupun memahami kaidah-kaidah periklanan melalui masa kerja saya yang demikian panjang.

Bagaimanapun, hal itu “dipandang” oleh jiwa saya sebagai tidak sejalan dengan kehendak Tuhan. Karena yang dominan dalam setiap pengerjaan proyek adalah akal pikir dan hati saya yang terisi nafsu. Itu saya akui sebagai “kelemahan” saya. Pembantu pelatih yang melayani saya di Surabaya dahulu, ketika saya masih ngandidat di Cabang Surabaya, yang juga seorang praktisi periklanan, pernah berujar ke saya, “Selama ini, kamu menulis dengan akal pikirmu. Tunggu saja nanti Latihan akan membuatmu melakukannya dengan tuntunan jiwamu.” Saat itu, saya belum mengerti bagaimana jiwa itu dapat menuntun saya melakukan pekerjaan yang sarat hal teknis.

Ketika saya telah menerima Latihan Kejiwaan, kebisaan dan kebiasaan saya dalam bekerja berubah 180 derajat. Saya yang biasanya harus nongkrong di warung kopi atau brainstorming bersama tim kreatif di kafe—dan belum tentu mendapat ide, meski telah memeras otak, tiba-tiba saya dibisakan untuk brainstorming dengan diri sendiri di mana saja saya berada, sering tanpa berpikir sama sekali—kalaupun berpikir, berpikirnya secara terbimbing, biasanya dibimbing agar fokus ke hal yang sedang saya kerjakan. Tiba-tiba saya mampu “mengobrol” dengan kata-kata dan kalimat yang saya gunakan saat menulis naskah materi komunikasi pemasaran dan korporat atau tulisan apa pun. “Hidup di dalam hidup” saya ini membimbing kapan suatu kata atau kalimat dipakai dan kapan tidak.

Perubahan terus terjadi dalam kebisaan dan kebiasaan saya terkait, utamanya, dengan cara saya melakukan pekerjaan. Hal-hal baru diperkenalkan ke saya, secara spontan saat saya mengerjakan naskah. Satu pembantu pelatih Cabang Jakarta Selatan mengungkapkan kepada para anggota Subud yang hadir di teras Hall Sukamulya pada 21 Juni ke 22 Juni 2020 lalu, sambil menunjuk ke saya: “Tanya nih ke Arifin, yang selalu menggunakan Latihan dalam bekerja.”

Saya hanya bisa berbagi pengalaman saya terkait Latihan Kejiwaan dalam bekerja, tetapi tidak bisa mengajarkan, karena Subud bukan ajaran maupun pelajaran. Anda harus mengalaminya untuk bisa memahaminya. Dengan mengalami, dan bersabar, dengan bimbingan Tuhan Yang Maha Kuasa, kita senantiasa dimurahi dengan kebaruan, yang sering kali tidak kita sangka kita dapat melakukannya.©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 26 Juni 2020

Tuesday, June 23, 2020

Meminjam Kepintaran Tuhan


SAYA pernah iseng memlesetkan kata-kata filsuf Perancis, RenĂ© Descartes yang terkenal: “Saya berpikir, karena itu saya ada” (Cogito, ergo sumI think, therefore I am). Saya plesetkan menjadi “Saya berpikir, karena itu saya bodoh”. Plesetan itu saya ekspresikan di status Facebook dan WhatsApp saya pada 19 Juni 2020, dengan memlesetkan pula nama penganjurnya menjadi Mrene Ndaskertas (bahasa Jawa untuk “ke sinilah, kepala kertas”).
                                               
Gagasan usil itu bermula dari suatu pagi ketika istri saya mengungkapkan serangkaian hal untuk saya kerjakan hari itu. Saat itu masih awal pagi dan saya baru bangun tidur. Karena istri saya mengungkapkannya dengan cepat—berhubung begitu banyak hal harus ia kerjakan, saya mencoba mengingat urutannya dengan mengerahkan segenap pikiran saya, mulai dari apa sebenarnya yang dikehendaki istri saya. Saya malah berakhir dengan menanyakan beberapa hal yang sama berulang-ulang, yang membuat saya tampak bodoh di mata istri saya. Pikiran saya telah jadi semrawut tidak karuan, justru ketika saya berusaha menggunakannya dengan benar.

“Katanya you pintar, kok malah yang sepele gitu kamu tanyain melulu?” ujar istri saya dengan suara bernada kesal.

Ucapannya saya tanggapi dengan tertawa. Saat itulah, entah gagasan usil atau “penerimaan kejiwaan”, terbersit plesetan dari ungkapan terkenal RenĂ© Descartes di atas. Terlepas dari lelucon atau candaan, sejak dibuka di Subud berpikir memang menjadi momok yang mengkhawatirkan saya. Pikiran saya sudah terlalu sering membohongi saya.

Saya bukan orang yang pintar, sebagaimana anggapan istri saya dan banyak orang lainnya. Meminjam gagasan satu saudara Subud saya, saya sejatinya meminjam kepintaran Tuhan. Yang saya ucapkan atau tuliskan, karena itu, bukan keluar dari pikiran saya yang “berusaha dengan kekuatan sendiri”, melainkan pikiran yang dibimbing oleh Latihan Kejiwaan, justru di saat pikiran itu berhenti menguasai saya.

Bila ditelusuri dari nilai rapor saya semasa sekolah dasar hingga menengah atas, maupun indeks prestasi kumulatif saya semasa di perguruan tinggi, akan tampak jelas dan tegas: Saya bukanlah orang yang pintar! Sebagian orang menyanggah pernyataan itu, mengingat bahwa saya kuliah di Universitas Indonesia (UI), sebuah perguruan tinggi negeri (PTN) bergengsi di negeri ini, dan saya pernah dua kali lolos seleksi masuk PTN, yang, bagi sebagian orang itu, menandakan saya tergolong pintar.

Saya juga tidak mengerti mengapa saya bisa lolos seleksi masuk PTN hingga dua kali berturut-turut. Bila diolah dengan akal pikir, mungkin hal itu disebabkan oleh jurusan yang saya pilih tidak tergolong “favorit”, sehingga daya tampungnya selalu mampu menerima orang terbodoh di kelas seperti saya (saya menempati ranking ke-32 di bangku kelas 3 SMA, di kelas yang jumlah muridnya 32 orang!).

Banyak segi dari aspek pikiran manusia itu lemah. Pikiran tidak bisa diandalkan. Pikiran bila dibiarkan mengembara seenak perutnya, malah membawa kita ke jurang kehancuran. Nasihat Bapak Subuh bahwa “pikiran lebih berbahaya daripada rokok” (ceramah di Santiago de Chile, 1 Agustus 1969) benar adanya! Pikiran harus ditenangkan, yang dengan cara itu ia kembali ke statusnya sebagai pembantu yang manut. Tidak sedikit kenalan saya yang mati karena penyakit kanker berawal dari pikiran cemas yang dalam keseharian mereka mereka biarkan mencengkeram diri mereka seolah gagasan-gagasan yang diolah pikiran (meme) mereka merupakan kebenaran yang sejati. Termasuk diagnosis dari dokter tentang stadium penyakit kanker diterima pikiran mereka dengan ketakutan luar biasa, yang malah akan menurunkan imunitas tubuh mereka terhadap penyakit.

Saya telah mempelajari memetika (ilmu pengetahuan tentang meme) sejak tahun 2006, bermula dari membaca buku yang ditulis Richard Brodie, Virus Akalbudi. Mengkaji memetika, saya menjadi mengerti mengapa seyogyanya pikiran sepatutnya hanya menjadi pembantu, alih-alih menjadi majikan kita.

Kelemahan terbesar pikiran adalah kekukuhan pendiriannya untuk bertahan di zona nyaman. Ia mudah dan akan tetap percaya pada satu hal yang tidak benar atau semu, hanya karena ia malas menggali lebih banyak. Ia tidak akan mau diajak untuk berjalan melalui jalan yang tidak pernah dilalui sebelumnya (a road less traveled). Setelah berlatih kejiwaan, pikiran saya (dan juga saya sendiri, jiwa dan raga) kerap dibimbing untuk melewati jalan yang dihindari sebagian besar orang itu.

Tidak mengherankan, karena itu, bilamana memetika berjaya sebagai senjata politik dan bisnis (branding). Karena melalui pikiran yang lebih suka berada di zona nyaman itu, pesan-pesan palsu (hoax) sekalipun diterima sebagai kebenaran! Jadi, jangan heran, bila banyak orang tidak mau bersusah-payah mencari pembanding (yang dewasa ini dipermudah oleh mesin pencari berbasis internet) untuk mencari tahu apakah sebuah pesan atau berita memang benar atau tidak, meskipun kampanye anti-hoax sudah menyarankan cara itu. Yang membuat nyaman itulah yang diterima.

Pikiran merupakan bagian yang mulia dari eksistensi manusia hanya bila ia terbimbing oleh kekuasaan Tuhan. Melalui pikiran yang terbimbing, kita meminjam kepintaran Tuhan untuk mengatasi berbagai masalah kehidupan yang kita hadapi. Tanpa bimbinganNya, pikiran hanya barang sampah yang tidak pantas dipertuan.©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 24 Juni 2020

Ketika Diam Adalah Solusinya: Sebuah Catatan Tentang Pembantu Pelatih

Bapak Subuh dikerumuni para anggota Subud di bandar udara Mexico City pada tahun 1968.


DALAM ceramah di Wendhausen, Jerman, pada 28 April 1981, Bapak Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo menyebutkan bahwa keberadaan “pembantu pelatih” (diinggriskan sebagai helper) adalah semata-mata membantu Bapak dalam bidang kejiwaan.

Bapak sebagai manusia tentu memiliki keterbatasan, sehubungan dengan melayani anggota (helping the members), dalam bidang kejiwaan, bila mempertimbangkan tempat-tempat keberadaan anggota yang tersebar di seluruh dunia. Sebagai manusia, yang seiring bertambahnya usia semakin berkurang kekuatan fisiknya, tentu membuat Bapak tidak selalu dapat memenuhi harapan anggota untuk datang mengunjungi mereka. Menggantikan kehadiran Bapak, beliau menunjuk orang-orang dengan keadaan kejiwaan tertentu untuk menjadi “pembantu Bapak”, sang pelatih kejiwaan Subud.

“Karena mengingat jauhnya tempat. Tidak mungkin Bapak selalu datang di Amerika, selalu datang di Eropa, selalu datang di Amerika Selatan, atau selalu datang di mana-mana yang bersamaan waktu, atau setidak-tidaknya, ya, selalu ada dan datang. Tidak mungkin! Dan tidak mungkin pula Bapak melayani Latihan para saudara seluruhnya. Jiwa Bapak dapat, tetapi physical-nya ini—kasarannya—tidak dapat! Karena itu maka terpaksa Bapak mengadakan helper, pembantu pelatih darurat, yaitu artinya: mencukupi pada waktu yang memang dibutuhkan,” tutur Bapak dalam ceramah di tengah perhelatan Kongres Dunia Subud di Briarcliff, New York, Amerika Serikat, 25 Juli 1963.

Tugas seorang pembantu pelatih, bila “sekadar” dibaca keterangannya dari Bapak, tergolong ringan, namun sesungguhnya berat! Dalam ceramah kepada pembantu pelatih di Planegg, Jerman, pada 10 Agustus 1964, Bapak menekankan bahwa pembantu pelatih sedapat mungkin agar bertindak sebagaimana para utusan Tuhan di masa lampau, yaitu mengemong, melayani, memberi petunjuk kepada para anggota Subud yang membutuhkan, dan memberi penuturan-penuturan yang baik bagi anggota.

Saya katakan berat, karena faktor ego sering kali menyela. Tidak sedikit pembantu pelatih yang tidak mampu lerem (tenang rasa dirinya, santai, hening) ketika melayani anggota, sehingga muncul keakuannya yang besar, lantas merasa status kepembantupelatihannya sebagai jabatan hierarkis yang membawahi anggota. Saya jadi ingat sebuah lelucon ketika sebagai mahasiswa baru Jurusan Sejarah di Universitas Indonesia saya mengikuti acara inisiasi (penyambutan mahasiswa baru oleh para senior). Dalam acara tersebut berlaku aturan baku yang hanya terdiri dari dua pasal: “Pasal 1, senior tidak pernah salah! Pasal 2, jika salah kembali ke Pasal 1!” Persis seperti itulah anggapan pribadi sebagian pembantu pelatih mengenai statusnya.

Nah, dalam pengamatan saya, tidak sedikit pembantu pelatih yang memiliki sikap merasa istimewa dan hebat, yang tidak memiliki salah, sehingga acap berperilaku sewenang-wenang, dengan menghindari tugas pelayanan kepada anggota. Yang harus ditekankan kepada para anggota adalah bahwa pembantu pelatih tidaklah istimewa, tidak melampaui kemampuan para anggota dalam hal kejiwaan, bukan majikan yang bisa sesuka hatinya menyuruh atau bersikap semena-mena terhadap anggota.

Tolok ukur seorang pembantu pelatih yang baik menurut saya adalah yang saya amati dan alami pada para pembantu pelatih yang melayani saya sejak saya masih berstatus kandidat dan setelah dibuka. Meskipun sejak 2005 saya aktif melakukan Latihan Kejiwaan bukan di cabang asal, Surabaya, melainkan di Hall Cilandak, Jakarta Selatan, dan Kelompok Tebet, saya merasa keterikatan emosi saya pada Cabang Surabaya, yang para pembantu pelatihnya telah melayani saya dengan baik.

Saya ingat pada sebuah kejadian di Surabaya, di mana saya sangat memerlukan untuk berkonsultasi dengan seorang pembantu pelatih. Saat itu, saya baru dibuka kurang lebih satu bulan sebelumnya, dan masih dalam kondisi kejiwaan yang “acakadut”, gampang marah, mengamuk, atau panik. Dihadapkan pada suatu masalah, besar atau kecil, saat itu saya masih sulit untuk mengatasinya dengan sabar, tawakal, dan ikhlas.

Diterpa sebuah masalah—saya lupa apa—saya menyatakan kepada seorang pembantu pelatih dari Cabang Surabaya melalui telepon, bahwa saya ingin curhat kepadanya, dan berharap ia dapat memberi saya solusi. Sesuai janji yang kami buat via telepon, saya bertemu dengannya di teras timur Hall Latihan Cabang Surabaya, Jl. Manyar Rejo 18-22, Surabaya, Jawa Timur. Pembantu pelatih ini tergolong muda, usianya hanya dua-tiga tahun di atas saya, dan berprofesi di bidang yang sama dengan saya, yaitu periklanan. Entah karena bidang kreatif periklanan yang ia hidupi atau memang begitu sikap hidupnya, si pembantu pelatih ini hampir selalu berpenampilan, berpikiran, serta bertindak eksentrik.

Saat menemui pembantu pelatih muda ini, ia sedang merokok sebatang Djisamsoe yang masih panjang, sehingga membuat saya berpikir dia pastilah baru menyalakannya. Karena tak sabar, saya hampir seperti bendungan jebol, yang langsung meluapkan unek-unek saya ketika pantat saya baru saja menempel di tikar anyaman yang digelar di teras Hall Surabaya.

Saya pendam perasaan sebal saya karena melihat si pembantu pelatih hanya duduk bersila dengan kedua mata terpejam dan punggungnya membungkuk, sesekali mengisap rokoknya. Ia sesekali tertawa lebar, tetap dengan mata terpejam, dan tidak mengomentari sama sekali perkataan saya, walau hanya dengan “ya”.

Selesai saya menceritakan masalah saya, si pembantu pelatih berkata, tetap dengan mata terpejam, “Wis ta? Yo, wis, ngudud sik.” (Sudahkah? Ya, sudah, merokok dulu.)

Ia menggeser bungkus Djisamsoe-nya ke depan saya. Saya mengambil satu batang, menyalakannya, dan mengisapnya dalam-dalam serta mengembuskan asapnya perlahan. Entah sudah berapa kali saya isap-embus rokok itu, tapi si pembantu pelatih diam saja. Saya mulai tidak sabar dan ingin segera mendesak si pembantu pelatih agar mengomentari cerita saya, atau, saya berharap, memberi solusi. Namun, saya mengurungkan niat saya. Lantaran sesuatu mulai terjadi di dalam diri saya.

Ada suatu dorongan dalam diri saya, yang mengajak saya untuk menikmati momen di sore hari itu, berdua saja di teras timur Hall Surabaya, dikelilingi kesunyian yang sesekali ditingkahi suara angsa dan semilir angin yang meniup dedaunan di pepohonan yang mencirikan pekarangan Wisma Subud Surabaya. Dorongan itu mengajak saya memejamkan mata, yang kemudian saya lakukan dengan ikhlas. Ketidaksabaran saya mereda, lumer bersama angin lembut yang menerpa wajah saya. Keheningan merasuki diri saya, memaksa kekalutan pikiran saya agar menyingkir. Berangsur-angsur beban berat, yang menumpuk di kepala saya akibat memikirkan sesuatu yang saya anggap masalah, lenyap entah ke mana. Saya merasakan damai yang rasanya tidak berlebihan jika saya menyebutnya “surgawi”. Saya merasa bersih, tenang, damai, tenteram, sejuk. Saya merasa tiada, lebur menjadi satu dengan angin dan suara angsa!

Saya sesekali mendengar suara tawa si pembantu pelatih, jenis tawa dari orang yang merasa lucu akan sesuatu. Juga suaranya yang berkata di antara tawanya, “Ya, ya, ya...”

Saya kemudian membuka mata. Bersamaan itu, si pembantu pelatih juga membuka matanya. “Gimana? Sudah kan?” tanyanya. Tak saya pungkiri, “masalah berat” yang saya pikul sejak dari rumah hingga berada di hadapan si pembantu pelatih telah terangkat. Saat itu, saya mengira si pembantu pelatihlah yang telah mengangkatnya, tapi dia berkata, “Alhamdulillah. Berterimakasihlah pada Gusti Allah, karena Dia sudah mengangkat masalahmu.”

Dalam perjalanan saya berproses hidup melalui bimbingan Latihan Kejiwaan Subud, harus saya akui, diam dengan berperasaan sabar, tawakal, dan ikhlas selalu menjadi solusi terbaik bagi semua masalah.©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 23 Juni 2020

Tuesday, June 16, 2020

Investasi Waktu


SAYA punya klien, seorang wanita yang berkarir di sebuah institusi militer. Selama bekerja sama dengannya, terungkap bahwa ia tidak mengerti bagaimana menggunakan dan untuk apa dua komputer desktop Apple iMac di ruang kerja divisinya (tepat di depan cubicle-nya), tidak mengerti bagaimana mengunduh dokumen PDF yang dikirim via WhatsApp, tidak banyak tahu tentang perkembangan-perkembangan aktual di dunia (padahal bidang tugasnya adalah mengelola penerbitan majalah inggriya dari institusi di mana dia bekerja), dan tidak mampu mengaplikasikan bahasa Inggris yang dia pelajari di bangku kuliah, sementara dia adalah seorang sarjana sastra Inggris jebolan sebuah perguruan tinggi negeri di Surabaya.

Ketika, dengan keheranan yang teramat besar, saya menanyakan “mengapa”, ia pun membeberkannya. Karena tradisi hierarki kemiliteran, ia terbiasa menyuruh orang lain untuk melakukan hal-hal “sepele”, yang, sebaliknya, menurut saya, amat berharga untuk sesekali ia lakukan sendiri. Secara menyedihkan ia menyalahkan kenyataan bahwa ia di rumah menjadi ibu rumah tangga yang terlalu sibuk mengurusi dua anak pra remaja, serta suami—yang juga tentara—yang bertugas di luar Pulau Jawa.

“Maaf, Bu,” kata saya, mengomentari alasan-alasannya yang menyedihkan—via pesan WhatsApp, “Sesibuk apa pun, saya rasa Ibu harus menginvestasi sedikit waktu untuk belajar hal-hal yang perlu dan penting. Saya kira, tidak butuh waktu banyak bagi orang dengan tingkat intelektualitas selevel Ibu untuk, paling nggak, tahu gunanya iMac itu apa, cara men-download file dari WhatsApp, dan lain-lain. Mungkin bagi Ibu sepele, tapi mengetahui dan mengalami berbagai hal ‘kecil’ punya dampak ‘besar’.”

Saya baru memahami baru-baru ini bahwa sejatinya tidak ada orang yang bodoh. Yang ada adalah orang-orang yang tidak menghargai dirinya dengan pengetahuan yang bermanfaat. (Bermanfaat dalam hal ini bersifat subyektif, tidak sama bagi setiap orang.)

Cara untuk menghargai diri kita adalah dengan menginvestasi waktu, walau tidak sekaligus banyak, untuk belajar. Belajar apa pun! Bagi saya, investasi terbaik sepanjang waktu adalah investasi waktu. Satu saudara Subud saya berkomentar, “Kalau orang tidak bisa menghargai dirinya dengan pengetahuan, buat apa ia lama-lama hidup di dunia?” Nah lho!

Yang saya tahu, tidak ada yang bisa mengembangkan diri kita, dalam hal apa pun, selain didorong oleh kemauan kita sendiri untuk berkembang.©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 16 Januari 2020

Sunday, June 14, 2020

Menyatu Dengan Diri


MESKIPUN hanya dua semester saya kuliah di Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, IKIP Negeri Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta), saya tetap dianggap alumnus institut keguruan dan ilmu pendidikan yang berkampus di Rawamangun, Jakarta Timur itu. Karenanya, saya selalu diundang, paling tidak, oleh rekan-rekan Angkatan 1986 Pendidikan Sejarah FPIPS IKIP Jakarta.

Salah satu dari dua kali reuni yang pernah saya hadiri diadakan di rumah salah seorang alumnus Angkatan ‘86 di Jomin, Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Dia seorang wanita yang, teriring ketakjuban saya, menjadi guru di sebuah sekolah menengah atas negeri di Jakarta Utara.

Dengan dia bertempat tinggal di Cikampek, saya mengira di hari kerja dia kos atau menempati rumah kontrakan di Jakarta, mungkin di wilayah Jakarta Utara juga. Perkiraan saya ternyata salah. Dia menempuh perjalanan Cikampek-Jakarta Utara, dari rumah ke tempat kerjanya, tiap hari dengan bermobil. Berangkat dari rumah jam tiga pagi, dia akan mampir di rumah kerabatnya di Bekasi untuk menyimpan mobilnya, dan melanjutkan perjalanan dengan angkutan umum.

Saya sulit membayangkan apa yang dia harus lakukan tiap hari, lima hari dalam seminggu, untuk membuat dapurnya tetap mengepul. “Kalau dibayangkan memang sulit. Kamu harus menjalaninya. Lakukan! Lama-lama terbiasa. Kalau sudah biasa, segalanya jadi ringan!” kata rekan alumnus itu kepada saya.

Seperti ungkapan “practice makes perfect”, ibarat pisau makin diasah makin tajam. Ketika masih berlatih Taekwondo dahulu, semakin rajin saya melatih satu teknik tendangan, teknik itu jadi menyatu dengan diri saya, yang bereaksi secepat tangan saya ketika melakukan hal-hal yang sudah biasa saya lakukan, misalnya menggaruk ketika gatal.

Jadi, sejatinya, tidak ada yang susah atau sulit bila kita sudah menyatu dengan apa pun kegiatan yang kita lakukan. Saya teringat pada satu saudara Subud saya, yang rajin salat lima waktu. Begitu azan terdengar, segera dia bersiap untuk salat. “Kalau saya salat, jangan anggap saya alim ya. Ini karena sudah terbiasa, jadi otomatis,” kata dia suatu ketika.

Ketika saya mengawali karier sebagai copywriter di biro iklan, tahun 1995, saya merasa berat dan tidak memiliki hasrat sama sekali—saya melakukannya karena tergiur gaji copywriter yang besar dan suasana kerjanya dinamis. Tiap hari kerja, perhatian saya terpecah antara memelototi layar komputer dan melihat jam di dinding Departemen Kreatif. Saya tidak sabar menunggu jam bubar kantor. Karena tidak ada hasrat, makanya saya cepat lelah, mudah bosan, jenuh dengan pekerjaan saya. Pekerjaan yang menantang saya anggap sebagai cobaan yang membuat saya ingin kabur darinya.

Lama-lama, secara tidak sadar, pekerjaan itu menyatu dengan diri saya. Saya menjadi otomatis dalam bidang menulis naskah. Tangan, hati dan pikiran saya sepenuhnya berpadu dalam merancang bangun teks. Ditambah kini dengan Latihan Kejiwaan, saya bahkan bisa “mengobrol” dengan kata-kata yang saya gunakan. Mereka memberitahu saya kapan saya harus dan kapan tidak usah menggunakan kata tertentu, dan energi Latihan mengisi kata-kata yang saya gunakan secara terbimbing, yang efeknya dapat “merasuki” rasa dan/atau pikiran pembacanya.

Kini, saya dan kegiatan tulis-menulis bukan lagi dua entitas yang berbeda. Melainkan telah manunggal. Bukan lagi sebuah pekerjaan atau profesi, melainkan sebuah kecintaan yang membuat saya “hidup”. Tidak ada nilai nominal uang di dunia ini yang mampu membayar kecintaan!

Tentu saja, yang saya alami ini tidak semudah membalikkan tangan, tidak semudah mengedipkan mata. Saya melalui proses panjang yang menurut saya berat. Tapi proses ini bermakna, karena menyatukan diri saya dengan apa pun kegiatan saya secara manunggal.©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 14 Juni 2020

Wednesday, June 10, 2020

Sebentar Mampir


KEMARIN (10 Juni 2020), saya diundang rapat redaksi majalah The Horizon di Gedung Wiratno, Markas Besar Angkatan Laut Cilangkap, Jakarta Timur. Rapat yang berlangsung dari pagi hingga sore dan dipimpin oleh Kepala Dinas Penerangan AL (Dispenal) tersebut membahas artikel-artikel yang bisa dan tidak bisa dimuat di The Horizon edisi 2/2020.

Dalam kesempatan itu, Kepala Sub Dinas Sejarah TNI AL (Subdisjarahal) meminta kesediaan saya untuk menyumbang artikel buat majalah Dinas Sejarah Angkatan Laut (Disjarahal). Beberapa bulan sebelum berakhir masa jabatan Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL)-nya (yang pada 20 Mei 2020 diserahterimakan kepada Laksamana TNI Yudo Margono), Laksamana TNI Siwi Sukma Adji telah merilis Surat Keputusan tentang pembentukan dua kedinasan baru di lingkungan TNI Angkatan Laut, yaitu Dinas Sejarah dan Dinas Pembinaan Mental. Karena telah menjadi dinas tersendiri, tidak lagi di bawah Dispenal, maka Disjarahal boleh menerbitkan media komunikasi sendiri, yang oleh Kepala Subdisjarahal dinamai Jalakatha (= sejarah angkatan laut).

Nah, untuk mengadvokasi pentingnya sejarah bagi TNI AL, saya diminta untuk menyumbangkan artikel. Masalahnya, saya sudah sangat lama tidak menulis artikel bertema sejarah militer. Minat saya pada penulisan sejarah militer, yang di bangku kuliah—Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia—sangat saya sukai, sekarang sudah pupus, lenyap. Membaca literatur sejarah militer saya masih suka, walaupun dengan intensitas kecil.

Karena tenggat waktu (deadline) sudah mau habis, maka saya harus mengirim artikel tersebut paling lambat pagi ini. Terpaksalah tadi malam saya lembur di depan komputer dengan suasana diri yang bingung—dalam dunia tulis-menulis, gejala psikologis ini disebut “Sindrom Kertas Putih” (white paper’s syndrome). Hanya judul yang sudah menggaung di benak saya: “Signifikansi Sejarah Bagi Organisasi Militer”, tapi jari-jemari saya tak mau mulai mengetik. Akhirnya, ketika malam kian larut, saya menenangkan diri, dan memohon bimbinganNya, berharap Latihan Kejiwaan akan datang dan menggerakkan jiwa dan raga saya buat menulis artikel sepanjang maksimal empat halaman A4 dengan spasi 1,5.

Tiba-tiba saya merasa diri saya bertransformasi menjadi seorang sejarawan militer ahli (expert military historian) yang dengan lancar “mengucurkan” kata demi kata, kalimat demi kalimat, seperti air dari keran, yang tumpah ke halaman Microsoft Word kosong di layar komputer saya. Artikelnya pun mewujud dengan menyajikan dalam kata-kata yang lugas arti penting dari sejarah bagi perkembangan organisasi militer. Saya yakin, bahwa itu merupakan bimbinganNya, karena bagaimana mungkin saya yang sudah tidak berminat bisa menuliskannya.

Setelah itu, saya langsung emailkan ke Subdisjarahal (berhubung Disjarahal belum diresmikan oleh KASAL baru, maka dalam hal ini saya masih menggunakan nama lamanya), dan kemudian saya tidur.

Pagi ini, ketika saya terbangun, saya menyadari bahwa saya tidak lagi (bisa) memikirkan ataupun mengerti apa yang saya tulis semalam. Bimbingan Tuhan untuk itu hanya sebentar mampir karena saya membutuhkannya.©2020


GPR, Tangerang Selatan, 11 Juni 2020