Thursday, February 29, 2024

Ojo Dipikir, Dilakoni Ae

 


SAYA (bisa) masuk Subud berkat perkenalan saya dengan seorang praktisi branding. Saya juga berprofesi di bidang branding, sehingga konektivitas kami, yang akhirnya membawa saya ke Subud, didasari oleh pekerjaan kami yang sama—kadang ada proyek yang kami kerjakan bersama, tapi ada pula yang sifatnya hanya konsultatif; saya berkonsultasi pada mitra saya itu atau sebaliknya, bila salah satu dari kami membutuhkan solusi atas masalah pekerjaan.

Mitra kerja saya itu kelak menjadi pembantu pelatih yang melayani saya semasa saya menjadi kandidat anggota Subud, tapi di luar Subud hubungan kami tetap profesional. Setelah saya dibuka, hubungan kami tetap pembantu pelatih-anggota di Subud dan mitra kerja di luar Subud. Yang menakjubkan bagi saya adalah seringnya kami berjalan beriring sebagai mitra kerja sekaligus pembantu pelatih-anggota bahkan saat sedang menangani proyek branding, karena bagi kami berdua, sebagai anggota Subud, pekerjaan pun memberi kami pengertian-pengertian menyangkut kejiwaan. Dengan kata lain, kami mengalami pertumbuhan jiwa pada setiap pekerjaan yang kami lakukan bersama. Selalu ada pengalaman ajaib yang kami alami saat bekerja dengan bimbingan Latihan Kejiwaan!

Seperti baru-baru ini, ketika kami bertemu di Kabupaten Tulungagung di provinsi Jawa Timur untuk proyek destination branding yang akan menunjang industri pariwisata di daerah itu. Saya datang dari Jakarta (13 jam perjalanan dengan kereta api, karena kereta api adalah salah satu dari hanya dua pilihan moda transportasi darat untuk mencapai daerah itu), sedangkan mitra kerja saya datang dari Madiun (dua jam dari Tulungagung). Di saat bekerja, yang mencakup bertemu dengan para pelestari budaya lokal, warga masyarakat dan kunjungan ke sejumlah obyek wisata alam dan situs-situs arkeologis, yang memaksa kami harus melalui medan-medan yang menantang ketahanan fisik kami, tak bosan-bosannya pembantu pelatih sekaligus mitra kerja saya itu mengingatkan saya akan ke-Subud-an saya melalui kalimat berbahasa Jawa “ojo dipikir, dilakoni ae” (jangan dipikir, jalani saja).

Dan memang dia selalu berhasil membuat dirinya sendiri maupun saya tak pernah mengeluh atau merasa berat dalam melakukan pekerjaan kami, karena kami selalu merasakan ringan. Bahkan saya sendiri tidak mudah percaya bahwa saya mampu mengatasi kesulitan apapun dalam proses pekerjaan kami.

Sekembalinya di Jakarta, saya berbagi pengalaman saya selama di Tulungagung berbekal prinsip “ojo dipikir, dilakoni ae” kepada saudara-saudara Subud generasi terkini, yang tidak familiar dengan kalimat bahasa Jawa tersebut, yang sebenarnya sudah menjadi tradisi turun-temurun, karena di Jawa prinsip itu merupakan falsafah hidup para leluhur, yang memandu mereka dalam menjalani hidup yang sulit dengan selalu sabar, tawakal dan ikhlas.©2024

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 1 Maret 2024


Tuesday, February 27, 2024

Filsafat Rindu

Rindu adalah rasa tak terkira

Rindu adalah kamu yang ku tahu adalah aku

tapi kamu sanggah dengan berkata

bahwa kita adalah dua insan berbeda

 

Rindu adalah murka

Tak terperi siksa menahannya

Rasa yang mengalir kepadamu

walau kamu tak mengaku

Kamu abadi dalam hati dan mimpi

dan aku merindu setengah mati

 

Eksekutif-3 Kursi 11A, KA Singasari (103), 27 Februari 2024, pukul 21.31 WIB

Candi Cinta

 

Saya di antara reruntuhan Candi Penampihan di lereng Gunung Wilis (+1.600 mdpl), tepatnya di Desa Geger, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, 25 Februari 2024.



Tumpukan batu

bata merah penanda waktu

Terbangun oleh tangan

yang oleh zaman tak diangan

Misteri hati tersisa tak berjejak

membawaku ke cinta tak bersajak

 

Kubangun dengan batu bata merah

cinta tak berarah pun tak bersejarah

Untukmu kutatah batu, kupahat arca

yang bercerita tentang dahulu kala

ketika rasa membuai tubuh berbalut luka

sembuh sekejap oleh belaian tatap tak berkata

 

Eksekutif-3 Kursi 11A, KA Singasari (103), 27 Februari 2024, pukul 21.25 WIB


Monday, February 26, 2024

Kisah Seorang Anak dan Sepedanya

 


SAAT ini, saya dan Mas Heru, pembantu pelatih (PP) saya yang mantan Cabang Surabaya, masih di Tulungagung, Jawa Timur, untuk urusan pekerjaan.

Ada perumpamaan dari Mas Heru (ketika kami mengobrol tentang Youth Subud sekarang) yang rasanya pas untuk para anggota Subud secara umum dewasa ini:

Seorang anak mendapat sepeda dari orang tuanya dan mengucapkan terima kasih, tapi membiarkan sepeda itu tidak dirawat dengan baik. Begitu rusak, dengan seenaknya dia minta lagi ke orang tuanya.

Anak lainnya mendapat sepeda juga dari orang tuanya, tidak mengucapkan terima kasih secara lisan kepada orang tuanya tapi dia wujudkan terima kasihnya dengan merawat sepeda itu sebaik-baiknya.

“Menurut kamu, mana yang tulus rasa terima kasihnya?” kata Mas Heru ke saya. Saya sepakat bahwa anak yang kedualah yang tulus.

“Nah, seperti anak yang kedua itulah kita seharusnya berterima kasih kepada Bapak. Bukan sekadar ucapan saja, memperingati ulang tahun Bapak, berziarah ke makam Bapak, tapi kita tidak tekun Latihan, menomorduakan Latihan, melanggar dawuh-dawuh Bapak, berantem dengan saudara Subud, keluar jalur Subud atau mixing dan lain-lain. Krucul-krucul macam kita ini, apalah kita ini kalau tidak ada Latihan Kejiwaan yang diwariskan Bapak. Terima kasih kita ke Bapak harusnya kita wujudkan dengan merawatnya sebaik-baiknya,” kata Mas Heru.

Saya tidak mampu berucap apapun mendengar itu.©2024

 

Dusun Baran I, Desa Panjerejo, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, 27 Februari 2024


Saturday, February 24, 2024

Candi Tertua di Kabupaten Tulungagung


MENEMPUH perjalanan sejauh 45 km dari Ngunut ke arah barat, dengan dibonceng motor Honda CB150R dan sebuah motor trail, dan melewati jalan yang terus menanjak, kadang curam, sampailah saya dan mitra kerja saya di situs Candi Penampihan. Dua kali saya dan mitra kerja saya dan dua pengendara motor yang memboncengkan kami (tuan rumah dan putranya) harus berteduh lantaran begitu mendaki Gunung Wilis (2.563 m) kami disambut hujan. Ketika hujan, bukan saja kabut turun, udaranya pun menjadi kian menusuk dinginnya. Beruntung saya membawa sweater tebal dari rumah.

Candi Hindu itu merupakan yang tertua di Kabupaten Tulungagung. Sayangnya, kondisi candi nyaris sudah tidak berwujud, selain tumpukan bata merah di kakinya yang khas bangunan candi.

Candi Penampihan adalah candi Hindu kuno peninggalan kerajaan Mataram Kuno yang terletak di lereng Gunung Wilis, tepatnya di Dusun Turi, Desa Geger, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Merupakan candi Hindu kuno yang dibangun pada tahun Saka 820 atau 898 Masehi. Nama “Penampihan” itu sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti “Penerimaan” (kata “nampi” dalam bahasa Jawa berarti “menerima”).



Candi Penampihan merupakan candi pemujaan dengan tiga undakan yang dipersembahkan untuk memuja Dewa Siwa. Konon peresmian candi ini dengan mengadakan pagelaran wayang (ringgit). Selanjutnya, sejak kerajaan Mataram Kuno, Kediri, Singhasari, hingga Majapahit sekitar abad 9-14 M, candi ini terus digunakan untuk bertemu dan memuja Sang Hyang Wenang (Tuhan).

Terdapat sebuah prasasti kuno yaitu Prasasti Tinulat tertulis dengan menggunakan huruf Pallawa dengan stempel berbentuk lingkaran di bagian atas prasasti. Berdasarkan keterangan tuan rumah saya, prasasti itu berkisah tentang nama-nama raja Balitung, serta seorang yang bernama Mahesa Lalatan, yang belum terungkap identitasnya hingga kini.

Meskipun saya kuliah di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI; sekarang bernama Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya/FIB UI), dan masih bersaudara dengan Jurusan Arkeologi, namun minat saya pada arkeologi tidak besar—kecuali arkeologi militer. Sehingga candi-candi seperti Penampihan ini tidak membuat saya kelewat takjub.©2024

 

Dusun Baran I, Desa Panjerejo, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, 25 Februari 2024

Hakikat Branding

 


YANG menganggap branding hanya soal mendesain identitas produk/jasa pastilah tidak mengerti hakikat dari branding.

Sebagai praktisi branding yang dikonsultasi sebuah komunitas pelestari budaya di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, untuk konsep dan konten destination branding daerah mereka, saya harus menggali berbagai potensi sejarah, budaya dan kearifan lokal yang dimiliki kabupaten tersebut, menyelami kehidupan masyarakatnya, mencicipi kulinernya dan mempelajari segala sesuatu yang memunculkan beragam jenis makanan khasnya, mengikuti segala ritual sembahyang warga penghayat kepercayaan yang sangat banyak paguyubannya di daerah tersebut (tanpa melibatkan nilai-nilai religi apa pun yang saya anut).

Intinya, bagaimana kita, sebagai praktisi branding, dapat merancang konsep dan konten branding sebuah tempat bila kita tidak menjadi bagian terpadu dari kehidupan masyarakat yang menghuni tempat itu jauh lebih lama dari kita?

Brand sejatinya adalah rangkaian pengalaman indrawi dengan sebuah produk/jasa. Praktisi branding harus memberi akses bagi publik untuk mendapatkan pengalaman-pengalaman yang merangsang pancaindra mereka, yang dengan itu mereka merelasi diri mereka dengan produk/jasa yang dibangun brand-nya. Bila Anda menyadari hal ini dan mewujudkannya, maka Anda pantas disebut praktisi branding.©2024

 

Dusun Baran II, Desa Panjerejo, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, 25 Februari 2024


Ilmu Pisah di Makam Keramat

 


KETIKA saya berangkat ke Tulungagung pada 20 Februari 2024 lalu, beberapa saudara Subud melalui chat WhatsApp berbagi pengetahuan mereka bahwa kabupaten di Jawa Timur ini identik dengan dukun santet, dan kehebatan dukun Tulungagung, menurut mereka, melampaui dukun sejenis di Banyuwangi.

Tuan rumah di Dusun Baran I, Desa Panjerejo, Rejotangan, Tulungagung, yang rumahnya ketempatan saya dan mitra kerja saya, yang merupakan penghayat Kapitayan, memberi saya wawasan bahwa Tulungagung tidak bisa dilepaskan dari mistik, kebatinan dan “orang sakti”, yang telah eksis sejak dulu dan dipakai sebagai alat perjuangan melawan penjajah.

Bagi si tuan rumah, bahkan untuk kelancaran pekerjaan besar dimana saya dan mitra kerja saya merupakan konsultannya, harus dilakukan ritual “memohon kepada arwah leluhur” dengan mengunjungi makam-makam dan tempat-tempat yang dikeramatkan para penghayat.

Meskipun hal ini tidak sejalan dengan Subud, dimana saya dan mitra kerja saya menjadi bagian, karena spirit Subud adalah berserah diri dengan sabar, tawakal dan ikhlas kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, tanpa perantaraan apapun selainNya, kami terapkan “Ilmu Pisah” (berbaur tapi tidak bercampur, seperti halnya air dan minyak). Itulah sebabnya kami menerima dan mengikuti ajakan tuan rumah untuk berziarah ke Makam Bedalem di Dusun Gambiran, Desa Besole, Kecamatan Besuki, Tulungagung, pada hari Jumat, 23 Februari 2024.

 

Saya bersama Pak Suryanto (tengah), juru kunci Makam Bedalem, dan Heru Iman Sayudi (kanan), mitra kerja saya yang juga pembantu pelatih Subud Cabang Surabaya.

Makam Bedalem menaungi makam Pangeran Benowo, raja ketiga Kesultanan Pajang yang menyebarkan agama Islam di Tulungagung. Pangeran Benowo adalah putra dari Joko Tingkir alias Sultan Hadiwijaya.

Selain Pangeran Benowo, di situs Makam Bedalem juga terdapat makam-makam kuno yang diyakini merupakan makam abdi dan pengikut Pangeran Benowo. Makam-makam tersebut seluruhnya terawat, diuri-uri oleh masyarakat setempat.

Tidak sedikit rombongan umat Islam yang datang mengunjungi Makam Bedalem. Saya menjumpai satu bus mikro yang mengangkut peziarah ketika saya tiba di pelataran parkir Makam Bedalem, dan mereka semua berbusana muslim. Mereka biasanya kaum muslim sinkretis atau Islam Kejawen, yang mencampurkan ritual keberagamaan mereka dengan tradisi animisme, dinamisme serta Hindu dan Buddha.

Makam Pangeran Benowo terletak di pucuk bukit yang dikenal masyarakat setempat sebagai Gunung Kimpul. Makamnya diatapi sebuah bangunan berdenah segiempat yang untuk mengaksesnya kita harus membuka pintu berdaun ganda. Tiga penghayat yang menyertai saya dan mitra kerja saya bersujud di anak tangga teratas dari tangga menuju makam Pangeran Benowo. Di dalamnya terdapat batu makam berselimut kain putih dan saya mencium aroma asap hio yang membuat saya mual.

Sementara ketiga penghayat yang menyertai kami bersemadi di samping makam, saya dan mitra kerja saya hanya bersila dan menenangkan diri, dan akhirnya kami malah ketiduran.©2024

 

Dusun Baran I, Desa Panjerejo, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, 24 Februari 2024


Friday, February 23, 2024

Arca Pencetus Bhinneka Tunggal Ika

 

SAYA mengunjungi situs Candi Boyolangu, salah satu situs arkeologis di Kabupaten Tulungagung dengan arca Gayatri Rajapatni, pagi, 23 Februari 2024. Dipercaya masyarakat setempat bahwa Gayatri yang mencetuskan kalimat yang kemudian dicuplik sebagai motto “Bhinneka Tunggal Ika”. Sehingga dipasangi tiga lambang Garuda Pancasila di cungkup yang mengatapi arca.

Candi Boyolangu atau dikenal pula oleh masyarakat di sekitarnya dengan nama Candi Gayatri berada di tengah pemukiman penduduk di wilayah Dusun Boyolangu, Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Untuk memasuki kompleks candi ini, saya dan mitra kerja saya serta satu warga setempat melalui sebuah lorong selebar kurang lebih 2,5 m yang dibatasi tembok setinggi 75 cm dengan panjang sekitar 50 meter.

Saya bersama Pak Samsul Hartono, pensiunan TNI Angkatan Laut yang tinggal di Boyolangu dan menjabat ketua Yayasan Surya Majapahit, sebuah organisasi nirlaba yang bermisi pelestarian budaya Tulungagung, mengapit arca Gayatri di kompleks Candi Boyolangu.



Berdasarkan angka tahun yang terdapat pada bangunan induk dan Kitab Nagarakertagama, Candi Boyolangu dibangun pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1359-1389 M) dengan nama Prajñaparamitapuri.

Candi ini dulu kabarnya menyimpan abu jenazah Gayatri dan sekaligus tempat pemujaan agama Buddha. Gayatri sendiri adalah nama dari salah satu putri dari Raja Kertanegara (raja Kerajaan Singhasari) dan merupakan nenek dari Raja Hayam Wuruk (raja Majapahit).

Candi ini ditemukan kembali pada tahun 1914 dalam timbunan tanah. Disebutkan dalam Oudheidkundige Verslag (Laporan Kepurbakalaan) tahun 1917, serta NJ Krom dalam bukunya Inleiding tot de Hindoe-Javaansche Kunst (Pengantar Seni Jawa Hindu), yang menyebutnya sebagai Punden Gilang, dan juga menurut Prof. Dr. Agus Aris Munandar, guru besar Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), candi ini digunakan sebagai bangunan resi karena bentuk arsitekturnya yang sederhana dan letaknya terpencil. Ada pula yang menyebut candi ini memiliki arsitektur Candi Naga.

Candi Boyolangu sendiri sudah tidak memberi kesan akan sebuah candi karena bentuknya lebih menyerupai reruntuhan. Kepala dan satu lengan dari arca Gayatri juga sudah tiada, kabarnya diboyong kolonialis Belanda ke museum di negaranya. Dalam pandangan sekilas saya, kompleks Candi Boyolangu lebih mirip fondasi bangunan.©2024

 

Dusun Baran I, Desa Panjerejo, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, 23 Februari 2024

Thursday, February 22, 2024

Menyelami Dunia Penghayat Kepercayaan

TADI malam hingga jam dua dini hari, saya dan mitra kerja saya (yang adalah pembantu pelatih Subud Cabang Surabaya) berdiskusi dengan para budayawan Tulungagung yang latar belakangnya rata-rata adalah penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Pertemuan tersebut bertempat di rumah gubuk Mbak Prih dan Mas Prayit, pasangan penghayat, di kawasan Gunung Budheg, Kecamatan Campurdarat, Tulungagung.

Saya menjadi tahu bahwa banyaknya paguyuban penghayat di Kabupaten Tulungagung (ada 36 paguyuban saat ini) itu dikarenakan “kesamaan misi yang diberikan leluhur dari tiap penghayat”. Jadi, penghayat Sapto Darmo, misalnya, menerima tugas dari leluhurnya (yang disebut Mbah) bisa bekerja sama dengan penghayat Sangkan Paran atau Kapribaden yang menerima misi yang “sama” atau “saling melengkapi”.

Nah, mereka membuat paguyuban sendiri untuk pelaksanaan misi tersebut. Satu paguyuban bisa berisi 100an orang, tapi ada juga yang cuma lima orang, bahkan satu orang. Ini yang membuat jumlah paguyuban dengan laku “Perjalanan” (tidak sama dengan aliran kepercayaan Perjalanan di Subang, Jawa Barat yang wahyunya diterima Mei Kartawinata) banyak sekali di satu kabupaten.

Istilah Perjalanan bagi komunitas penghayat di kawasan Tulungagung, Blitar, Kediri, Ponorogo, dan Trenggalek, berlaku bagi penghayat manapun yang “diperjalankan” melalui tuntunan Tuhan atau leluhur untuk melaksanakan misi mereka masing-masing. Di antara mereka belum tentu saling kenal, tapi dipertemukan oleh “perjalanan” tersebut.

Saya bersama Milla, alumnus Desain Komunikasi Visual ISI Yogya, dan pembimbing spiritualnya, Mbah Par, di teras rumah tempat saya menginap di Dusun Baran I, Desa Pangerejo, Rejotangan, Tulungagung, pada 21 Februari 2024. Milla yang tinggal di Blitar "ditemukan" Mbah Par yang warga Talun, Blitar melalui tanda-tanda khusus dan menjadi bagian dari paguyuban "perjalanan" beranggotakan enam anak muda yang dibimbing Mbah Par.

Mereka berbagi ke saya dan Mas Heru tentang apa itu hakikatnya “budaya” (dan itu bukan kesenian belaka, yang adalah artefak budaya, bukan budaya dalam pengertian hakikinya) yang membuat saya memutuskan untuk membatalkan rencana saya kembali ke Jakarta pada 24 Februari, karena saya merasa membutuhkan waktu lebih lama di Tulungagung dan sekitarnya, lantaran banyak sekali aspek budaya yang mesti saya eksplorasi di daerah ini.©2024

 

Dusun Baran I, Desa Panjerejo, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, 22 Februari 2024

Tuesday, February 20, 2024

Jiwa ke Jiwa

Aku sungguh mencintaimu

Tapi ku tak ingin bersatu,

tak ingin menjalin kasih berrindu,

Karena aku begitu mencintaimu

sampai aku tak tega membawa luka

ke hatimu karena perpisahan kita

 

Kebersatuan tak selamanya indah,

kecuali ia abadi tak kenal pisah

Ku tak ingin kamu gelisah,

sepanjang waktu dicengkeram rindu menyiksa

Tak mampu bertindak maupun berkata

 

Aku sungguh mencintaimu,

hanya itu yang ada

Mencinta dari jiwa ke jiwa...


Rejotangan, Tulungagung, 21 Februari 2024

Thursday, February 15, 2024

Pak Paidi

SETIAP kali datang untuk Latihan Kejiwaan di Wisma Bharata Pamulang, saya melihat sosok beliau di teras rumah Bapak.

Ngopi dulu, Mas!” seru beliau selalu, begitu melihat saya.

Beliau tahu bahwa saya sangat suka kopi ala Wisma Bharata yang kabarnya sudah melegenda di kalangan anggota Subud lama, tapi tidak ada yang tahu, termasuk beliau, apa mereknya. Dengan atau tanpa gula, kopi itu terasa enak sekali.

Pak Paidi namanya, pria usia 74 tahun yang murah senyum dan selalu ramah menyambut para anggota Subud yang datang Latihan di Wisma Bharata Pamulang. Berasal dari Wonogiri, Jawa Tengah, beliau bekerja di rumah Pak Subuh di Cilandak mulai tahun 1969, ketika usia beliau 17 tahun.

Pak Paidi dibuka dan masuk Subud tahun 1974 dan bertahan di Subud bahkan setelah majikan pertamanya wafat. Beliau mengikuti Pak Subuh ketika pindah dari Wisma Subud Cilandak ke Wisma Bharata Pamulang pada 1987. Sepeninggal Pak Subuh (23 Juni 1987), Pak Paidi tetap bekerja di Wisma Bharata (beliau pernah bercerita ke saya bahwa Ibu Rahayu tidak membolehkan beliau pulang kampung kecuali untuk bertemu anak-anak dan cucu-cucu beliau), membersihkan kamar tidur dan ruang kerja Pak Subuh, membantu Ibu Rahayu mengurus segala keperluan rumah tangga Wisma Bharata. Beliau pula yang selalu menghidangkan termos air panas, kopi dan teh di hari-hari Latihan Kejiwaan Ranting Pamulang (Rabu dan Sabtu pukul 20.00-21.00 WIB), serta mewakili tuan rumah dalam menyambut para anggota yang datang.

Seingat saya, sejak saya rutin Latihan di Wisma Bharata, mulai 14 Desember 2022, hingga kini, belum pernah saya melihat Pak Paidi tidak duduk di teras rumah Pak Subuh usai menghidangkan air panas, kopi bubuk, krimer dan teh celup, dan kemudian mendatangi para anggota yang duduk di emperan selatan Pendopo serta menyalami mereka satu per satu. Tapi tadi malam, saya tidak melihat beliau; saya pikir beliau sudah masuk untuk mengurus hal-hal lainnya, namun beliau juga tidak muncul menyalami para anggota di emperan selatan Pendopo.

Foto ini saya buat pada 14 Februari 2024 pukul 19.08 WIB, sambil membatin, "Tumben Pak Paidi tidak duduk di teras rumah Bapak. Ke mana beliau?"

Pagi ini, saya mendapat kabar melalui WhatsApp Group Subud Ranting Pamulang: Pak Paidi telah kembali ke pangkuan Sang Pencipta.

Semoga kemurahan Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa menyertai almarhum Pak Paidi.©2024

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 15 Februari 2024

Tuesday, February 6, 2024

Doa Penuh Keraguan

AGAMA mengajarkan umatnya untuk berdoa. Apakah sesungguhnya arti dari berdoa? Umumnya, doa merupakan kegiatan memohon kepada Tuhan atau kepada suatu eksistensi yang melampaui kehidupan manusia terhadap sesuatu hal. Doa dipanjatkan ketika kita mengalami kesusahan maupun ketika diberi kemudahan dalam menjalani hidup di dunia.

Dalam praktiknya, doa ada yang terimplementasi dalam permintaan kepada Tuhan agar Dia mengisi kekurangan yang dialami si pendoa. Namun, ada pula doa yang berwujud pernyataan rasa syukur atau terima kasih baik atas kelebihan maupun kekurangan yang dialami si pendoa. Pada dasarnya, bagaimanapun wujudnya, doa adalah hal yang baik karena memberi rasa positif serta memperkuat keyakinan pada diri orang yang memanjatkannya.

Bagi saya pribadi, doa merepresentasi ketidakberdayaan saya sebagai ciptaan, yang tanpa itu saya merasa tidak memerlukan bantuan Tuhan. Meskipun sudah berserah diri atau pasrah pada segala kehendak Tuhan, bukan berarti kita tak boleh berdoa. Yang saya yakini, berdoalah sekali, lalu serahkan pada Tuhan tentang bagaimana Dia akan mewujudkan apa yang kita pinta dalam doa itu.

Adakalanya doa membutuhkan waktu yang lama untuk pengabulannya, adakalanya pula waktunya sangat cepat—terwujud hampir bersamaan dengan ketika doa dipanjatkan. Tahun 2005, ketika saya baru kembali ke tanah kelahiran saya, Jakarta, dan mulai aktif berlatih kejiwaan di Wisma Subud Cilandak, saya sampaikan kepada pembantu pelatih (PP) yang bertugas melayani anggota dalam Tatap Muka di teras selatan Hall Latihan Cilandak, bahwa saya bosan dengan pembongkaran rasa diri yang sedang saya lalui saat itu, yaitu dapat melihat kehadiran makhluk halus di mana saja dan kapan saja.

“Saya bosan, Pak. Memang saya berterima kasih kepada Tuhan karena dengan begitu rasa takut saya berkurang, tetapi lama kelamaan saya jenuh. Lagipula nggak ada gunanya bagi hidup saya,” jelas saya kepada Pak Asikin, PP senior yang bertugas saat itu. Beliau memberitahu saya bahwa saya bisa minta kepada Tuhan agar diganti saja dengan “makhluk gaib” yang berguna.

Saat itu juga, saya membatinkan doa kepada Tuhan agar kemampuan saya melihat makhluk halus diganti dengan kemampuan melihat ide dan peluang. Segera saja permintaan saya dikabulkan; keesokan harinya saya menjadi sangat kreatif dengan kemampuan menelurkan ide-ide yang cemerlang!

Saya mengamati dan mengobservasi diri saya (niteni) terkait fenomena doa-doa saya yang tidak segera dikabulkan. Rupanya karena doa saya penuh keraguan. Seperti misalnya begini: Saya berdoa meminta mobil. Seharusnya sudah cukup itu saja. Tetapi nyatanya malah dibarengi keraguan: Nanti kalau punya mobil, akan saya parkir di mana? Disimpan di mana? Garasi belum punya, halaman rumah terlalu sempit, dan kalau diparkir di jalan depan rumah berrisiko dicuri.

Gejala doa penuh keraguan inggap pada banyak orang. Berdoa yang tidak disusul dengan kepasrahan, yang terkesan bahwa si pendoa tidak sepenuhnya yakin tentang cara bekerjanya kekuasaan Tuhan. Berdoa yang lebih utama adalah yang dibarengi kepasrahan. Atau meminjam ekspresi satu PP di Cabang Jakarta Selatan, “Berdoalah, lalu lupakan!”©2024

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 5 Februari 2024

Monday, February 5, 2024

Dia yang Merindu dalam Syahdu

Meski kita tak saling bicara

Tak saling tatap muka

Tak bersentuh, tak terpesona

Meski kamu terkungkung tankasatmata

Jiwa kita tetap merengkuh cinta

yang tak lekang oleh masa

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 5 Februari 2024