Thursday, July 30, 2020

Catatan Covidul Adha 1441 H./2020


SAYA berhenti makan daging kambing sejak tahun 1982, setelah menyaksikan penyembelihannya pada Hari Raya Idul Adha tahun itu.

Sebelumnya saya doyan daging kambing. Tapi daging sapi dan ayam pun saya jauhi bila saya menyaksikan penyembelihannya. Caranya seringkali tidak manusiawi (inhumane); mungkin karena begitu banyaknya, sehingga penjagal berlaku layaknya mesin yang tidak punya emosi.

Yang paling dianjurkan adalah penjagal harus dalam keadaan rasa diri yang tenang, berserah diri dengan perasaan ikhlas dan tawakal. Saya pernah menyaksikan penjagal seperti itu, yang secara ajaib membuat si hewan pun "pasrah" mempersiapkan dirinya untuk disembelih.

Bagaimanapun, saya masih mengonsumsi daging sapi, ayam, bebek, dan ikan—dalam kadar yang tidak melampaui batas. Buddha Gautama pun masih makan daging hewan; yang beliau larang adalah menyiksa hewan untuk kesenangan/hiburan belaka.

Setiap kali saya (terpaksa) menyaksikan penyembelihan hewan yang dilakukan secara tidak manusiawi, saya teringat pada iklan layanan masyarakat dalam buku The New York Festivals 1995 ini.



GPR 3, Tangerang Selatan, 31 Juli 2020

Friday, July 24, 2020

Berkoneksi Dengan Inti Terdalam


MAKAN merupakan kegiatan yang menyenangkan. Terlebih bila suasana hati kita sedang senang. Bagi saya, yang membuat suasana hati jadi senang adalah pengalaman dengan bimbingan Tuhan Yang Maha Esa, dalam situasi yang tidak menyenangkan sekalipun. Seperti kemarin siang (Jumat, 24 Juli 2020).

Kemarin siang, tiba-tiba rumah saya disantroni seorang freelancer yang, lantaran termakan nafsu daya rendahnya sendiri, menuntut bayaran yang melampaui seharusnya. Dengan tampang beringas, dia siap meledakkan amarahnya dan menghantam saya dan istri. Saya terkejut melihat matanya merah seperti orang baru mengisap ganja dan wajahnya lebih gelap daripada biasanya.

Si freelancer sudah saya bayar honornya beberapa bulan lewat, dengan potongan yang tidak signifikan, karena secara sepihak dia telah membatalkan tanggung jawabnya atas dua pekerjaan yang sedang berlangsung, sementara saya dikejar tenggat waktu dari klien-klien. Akibat perbuatan tidak profesionalnya, saya dirugikan secara moril dan materi: Saya mendapat keluhan dari klien dan saya harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk mendapatkan pengganti si freelancer—yang merupakan pekerjaan tidak mudah, karena selain aspek teknis, chemistry juga penting.

Saya dan istri hanya menenangkan diri saat si freelancer yang sedang “spaneng” menyemprot kami dengan kata-kata tak pantas, yang menunjukkan ketidakdewasaannya (usia sekitar empat puluhan awal, sudah menikah dan memiliki anak usia 2,5 tahun). Di balik dada saya hanya menggema suara diri: “Tuhan, Tuhan, Tuhan” terus-terusan, dan “Ayo, praktikkan sabar, tawakal, ikhlasnya”—yang dapat saya jangkau tanpa usaha sama sekali. Dia nyerocos terus, dengan suara keras, yang saya rasakan merupakan cara spontan dia untuk menutupi kesalahannya, serta kualitas pribadinya yang rendah untuk mendapatkan apa yang dia kehendaki: Uang lebih banyak!

Sebaliknya, dia berbicara seolah saya dan istri yang salah sehingga dia menuntut uang dari kami. Dia bilang bahwa uang tidak ia pentingkan, hanya jawaban pasti bahwa dia akan dibayar atau tidak; kalau tidak pun, dia tidak apa-apa. “Tapi karena Mas dan Mbak tidak menjawab telpon dan pesan-pesan WhatsApp saya, saya kan jadi spaneng. Akhirnya, ya saya minta uang!”

Saya setuju untuk memberi yang dia mau, meski dia sudah merugikan saya secara moril dan materi. Karena saya yakin, “Gusti Allah ora sare” (Tuhan tidak tidur). Ajaibnya, sejak dia datang dengan tiba-tiba ke rumah saya hingga dia pergi (tanpa minta maaf dan tidak pula bilang terima kasih), saya hanya merasakan kedamaian luar biasa, lerem luar-dalam, setelah saya berkoneksi dengan Inti Terdalam. Istri pun mengalami hal yang sama. Mengiringi kepergiannya, saya hanya berucap pelan, “Hati-hati di jalan, ya.”

Dengan ke-lerem-an kami, baik saya maupun istri dapat dengan cepat melupakan kejadian itu. Terlebih setelah satu saudara Subud yang melakoni usaha kuliner meminta saya menjadi tester atas rasa baru dari sajiannya. Kiriman makanan darinya (yang berkesanrasa Jepang) via ojek daring melengkapi rasa syukur saya dan istri atas apa yang telah kami lalui kemarin. Puji Tuhan!©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 24 Juli 2020

Thursday, July 23, 2020

Pengajian Semasa SMP


SEMASA sekolah menengah pertama (SMP), saya bersama Aprilsyah, anak asuh orang tua saya, diikutkan pengajian mingguan di rumah warga satu kompleks tempat tinggal kami. Saya sejak pertama kali mengenal yang namanya pengajian sebenarnya sudah emoh—saya paling malas belajar agama yang kebanyakan teori, tanpa aplikasi. Tapi pengajian semasa SMP itu menggugah saya, yang mengubah pandangan saya terhadap agama, dan mengarahkan saya ke perjalanan ruhani dengan tanya-jawab batin yang tak berkesudahan, namun asik.

Pengajian itu diikuti sepuluh anak sebaya saya, diajar seorang ustad yang sudah sepuh dan mumpuni ilmu agamanya. Namanya anak SMP, tentu sukanya bercanda dan bermain, tidak sepenuhnya menaruh perhatian pada pelajaran. Namun, adakalanya, saya memperhatikan dan tergugah. Yang paling saya ingat adalah pelajaran di mana sang ustad menyampaikan: “Belajar agama tidak cukup hanya ilmu yakin, hanya yakin dengan apa yang diajarkan tanpa kenyataan. Kamu juga harus ainul yakin, yaitu dengan mengalaminya. Dan, yang paling penting adalah haqul yakin, keyakinan yang diperkokoh oleh kesaksian akan kebenaran Allah.”

Di pengajian semasa SMP saya, ustadnya membacakan satu surah Alquran, ayat demi ayat, dan kami, para murid, mengikuti bacaan beliau dengan mengulanginya. Lalu, ustad menjelaskan korelasi suatu ayat dengan keteladanan Nabi Muhammad dan para sahabat dan/atau kisah-kisah sehari-hari sebagai contoh. Ada suatu kesegaran baru di pikiran dan hati saya tiap kali menghadiri pengajian tersebut. Apakah hari gini masih ada ustad yang seperti ustad pengajian semasa SMP saya? Saya belum menemukan.

Sebelum memulai pengajian, para peserta yang hadir menjelang asar lantas salat Asar berjamaah, yang diimami sang ustad. Pada satu kesempatan salat Asar berjamaah, saya dan Aprilsyah, karena badan kami lebih tinggi daripada rekan-rekan kami di pengajian itu, berada di saf paling belakang. Hal itu membuat kami sering iseng menggoda rekan-rekan kami di saf di depan kami dan bercanda di antara kami sendiri.

Usai salat, dengan nada halus tak mengandung amarah, ustad berkata kepada saya dan Aprilsyah, “Jangan mencampuradukkan salat dengan main-main, ya. Kalau mau salat ya salat saja, kalau mau main main saja. Pilih salah satu.”

Giliran salat Magrib berjamaah, saya dan Aprilsyah bersantai saja di teras rumah tempat pengajian diselenggarakan, sementara rekan-rekan kami mempersiapkan diri mereka untuk salat. Selama salat Magrib berlangsung, saya dan Aprilsyah tetap bercanda di teras. Ustad kemudian menegur kami, “Mau main-main saja?”

“Iya, Pak Ustad. Enak main aja,” kata saya, cuek. Ustad tersenyum, dan meninggalkan kami, tanpa memberi petuah panjang lebar, apalagi memperingatkan tentang surga dan neraka.

Ketika sudah di perguruan tinggi, saya berpapasan dengan sang ustad di jalan di dekat rumah orang tua saya. Terjadilah obrolan yang hangat, diisi kenangan akan pengajian semasa sekolah menengah pertama. Ustad mengatakan ke saya, “Saya sudah tahu dulu itu, kalau kamu tipe pencari kebenaran, nggak mau brenti di ilmu yakin saja. Makanya, saya biarkan kamu dan saudaramu bermain, waktu teman-temanmu salat Magrib.”

Ah, saya jadi kangen pengajian semasa SMP, dengan ustad yang arif dan bijaksana seperti KH Chaeruddin Bakri, Lc.©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 24 Juli 2020

Wednesday, July 22, 2020

Pak Baskom Jualan Klepon


KUE klepon “tidak Islami” belakangan lagi ramai dibicarakan. Saya jadi teringat ketika menjadi senior copywriter di sebuah biro iklan berskala kecil di Jakarta Selatan, Lingkom Ad (PT Lingkar Komunikasi), tahun 1997, saya diminta menulis naskah (script) untuk iklan radio (radio commercial/radiocomm) buat PT Mitra Global Telekomunikasi Indonesia (MGTI), perusahaan yang merepresentasi Telkom Jawa Tengah-DIY, yang berkantor pusat di Semarang, Jawa Tengah.

Lewat radiocomm tersebut, MGTI mempromosikan pemasangan 400.000 sambungan telepon baru di seluruh provinsi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Radiocomm-nya bersetting dialog Petruk dengan Semar, di mana Petruk yang lugu, rada bego, dengan bersemangat bercerita ke Semar bahwa Pak Baskom jualan klepon. Semar yang ragu dengan informasi dari Petruk lantas pergi mencari tahu dan sesaat kemudian balik sambil menegur Petruk yang karena malas belajar jadi kurang ter-update: “Sinau, Truk, sinau! Bukan Pak Baskom jualan klepon, tapi Telkom jualan telpon!”

Hingga akhir dari radiocomm berdurasi 60 detik itu, dengan lugu Petruk masih bersemangat mau beli klepon ke Pak Baskom.

Untuk diketahui, iklan radio tersebut berbahasa Jawa campur Indonesia (terutama pada saat announcer-nya menginformasikan tentang prosedur bagi pelanggan baru). Sepupu saya di Purwokerto dengan bangga bercerita ke teman-temannya, yang lagi sharing di antara mereka tentang iklan radio yang rupanya berhasil memancing perhatian pendengar itu: “Itu copywriter-nya kakak sepupuku. Dia nggak bisa bahasa Jawa lho!”

Ketika dipresentasikan oleh Direktur Lingkom Ad di kantor MGTI Semarang, satu loyang klepon dibawa serta untuk memberi pengetahuan baru pada general manager-nya MGTI yang orang bule bahwa kue klepon dalam konsep kreatif iklan radio itu memang benar-benar ada. Sang GM disuguhi klepon tersebut dan diajari cara memakannya, yaitu dengan sekali santap karena isinya akan muncrat pada gigitan pertama. Bagi si bule, pengalaman makan klepon itu rupanya benar-benar berkesan, sehingga ia tidak ragu untuk langsung meng-approve konsep kreatif iklan radio berjudul “Pak Baskom Jualan Klepon” itu.©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 23 Juli 2020

Wednesday, July 15, 2020

Kadar Pengertian


ADA satu kisah tentang kehidupan Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa as-sallām yang selalu saya ingat, karena sungguh menginspirasi saya. Alkisah, dalam Perang Tabuk, pada 630 M, Muhammad terkena lemparan batu ke mulutnya hingga berdarah. Umar ibn Khattab pun berkata kepada Muhammad agar mengutuk si pelempar batu, tetapi Muhammad berkata, “Aku diutus Tuhan bukan untuk mengutuk manusia. Mari kita doakan dia, karena dia tidak mengerti.”

Dahulu, saya tergolong orang yang suka sekali memusuhi orang-orang karena perilaku mereka yang tidak dapat saya toleransi—terutama karena tidak sejalan dengan prinsip-prinsip yang saya anut. Perilaku saya dahulu itu persis sama dengan sikap dan perilaku kaum agama tertentu di Indonesia yang memusuhi umat agama-agama lain, hanya karena berbeda keyakinan, berbeda tata cara, dan/atau bahkan karena berbeda nama dan sifat-sifat tuhannya. Padahal, sikap dan perilaku ini tidak perlu ada, jika saja kita meresapi apa yang dicontohkan oleh Muhammad.

Pengertian tidak berlaku umum—setiap orang memiliki waktu, inteligensi, dan pengalaman masing-masing untuk dapat mengerti sesuatu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “pengertian” berarti (1) gambaran atau pengetahuan tentang sesuatu di dalam pikiran, pemahaman; dan (2) kesanggupan inteligensi atau kecerdasan untuk menangkap makna suatu situasi atau perbuatan. Dari arti ini dapat kita lihat bahwa pengertian tidak bisa serta-merta diharapkan dari semua orang pada waktu yang sama; setiap orang membutuhkan proses—melalui pengalaman pembelajaran—untuk sampai pada pengertian tentang sesuatu. Proses ini pada satu orang berbeda durasinya dengan orang lainnya; ada yang cepat dan ada yang membutuhkan waktu yang lama.

Pada 12 Juli 2020 lalu, saya membuat suatu eksperimen untuk mengetahui kadar pengertian orang: Saya memposting sebuah artikel di linimasa Facebook saya (dan juga di blogspot ini), yang saya juduli “Pelaut Berkulit Hitam yang Memberikan Segalanya”; artikel itu mengungkapkan tiga hal, yaitu tentang bakal diluncurkannya kapal induk raksasa terbaru Angkatan Laut Amerika Serikat (AL AS) pada 2028 mendatang, tentang tradisi penamaan kapal induk milik AL AS, dan tentang tamtama AL AS bernama Doris Miller yang mendapat medali tertinggi AL AS karena aksi heroiknya selama serangan pesawat pembom Jepang atas Pearl Harbor. Reaksi pembaca bervariasi, masing-masing dipengaruhi oleh kadar pengertiannya. Ada yang mempersepsikan artikel itu adalah tentang sejarah hidup Doris Miller, ada yang menganggapnya tentang serangan ke Pearl Harbor. Saya terkejut, karena tidak ada yang mengomentari perihal kapal induk raksasa itu.

Karena sifat pengertian tidak sama pada semua orang, alangkah tidak fair bila kita memberi perlakuan buruk pada orang lain hanya karena dia tidak mengerti perkataan atau perbuatan kita. Karena itu pula, sejatinya tidak ada orang yang bodoh atau pintar. Hanya “mengerti” dan “tidak mengerti”.

Jika Anda menjumpai orang yang tidak mengerti, doakan saja semoga Tuhan memurahinya dengan pengertian, persis seperti yang dilakukan Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa as-sallām terhadap orang yang telah melukai mulut beliau dengan batu yang dilemparkannya.©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 15 Juli 2020

Saturday, July 11, 2020

Pelaut Berkulit Hitam yang Memberikan Segalanya


Foto Doris “Dorie” Miller tepat setelah menerima penyematan medali Navy Cross oleh Laksamana Chester W. Nimitz, di atas kapal USS Enterprise (CV-6) di Pearl Harbor, 27 Mei 1942. Medali diberikan untuk aksi kepahlawanannya di atas kapal USS West Virginia (BB-48) selama Serangan Pearl Harbor pada 7 Desember 1941. 

ANGKATAN Laut Amerika (United States Navy) pada 20 Januari 2020 lalu mengumumkan untuk memberi nama kapal induk kelas Gerald R. Ford keempatnya dengan nama pahlawan Pearl Harbor, Doris Miller. USS Doris Miller diharapkan akan mulai beroperasi pada awal tahun 2032. Dalam film “Pearl Harbor” tahun 2001, yang disutradarai Michael Bay, Miller diperankan aktor Cuba Gooding, Jr.

Angkatan Laut Amerika membuat pengumuman tentang nama kapal induk tersebut pada Hari Martin Luther King di sebuah upacara di Pangkalan Gabungan Pearl Harbor-Hickam, Hawaii. Sekilas penamaan itu biasa saja, tetapi sebenarnya ini menjadi hal baru dari sejarah panjang penamaan kapal induk negara tersebut.

Lantas siapa Doris Miller dan mengapa bisa disebut sebagai langkah dramatis penamaan kapal induk?

Doris “Dorie” Miller adalah seorang tamtama US Navy berpangkat Cook Third Class (Koki Kelas Tiga). Sebagai warga negara Amerika Serikat berkulit hitam, Miller mendapat perlakuan diskriminatif dalam organisasi militer pada masa itu, dengan mendapat hak dan kedudukan yang tidak adil. Pada masa itu, anggota US Navy yang berkulit hitam tidak dilatih untuk memegang senjata; mereka hanya berhak memegang tongkat sapu, kain pel, dan sutil.

Warga Amerika keturunan Afrika ini menerima medali tanda jasa tertinggi Angkatan Laut Amerika Serikat, yaitu Navy Cross, atas tindakannya selama serangan Jepang atas Pearl Harbor dengan membantu memindahkan tentara yang terluka ke tempat yang aman dan menembakkan senapan mesin untuk mempertahankan kapal tempatnya bertugas dari serangan pesawat pembom Jepang.

Doris Miller lahir di Waco, Texas, pada 23 Oktober 1919. Ia mendaftar di Angkatan Laut Amerika Serikat dan bertugas di kapal amunisi USS Pyro dan kapal tempur (battleship) USS Nevada. Pada pagi hari, tanggal 7 Desember 1941, Miller berada di USS West Virginia untuk mengumpulkan cucian.

Kapal tempur USS West Virginia dalam serangan Jepang pada hari Minggu pagi itu mengalami kerusakan parah oleh dua bom dan lima torpedo. Kapal di mana Miller bertugas itu tenggelam di Pearl Harbor, menewaskan 130 prajurit dan melukai 52 lainnya. Kapal kemudian diperbaiki, ditingkatkan kemampuannya, dan bertugas kembali di seluruh kampanye Pasifik selama Perang Dunia II, hingga Jepang menyerah pada 1945.

Penamaan USS Doris Miller sangat berbeda dari tradisi penamaan kapal induk Angkatan Laut Amerika. Awalnya, Amerika memberi nama kapal induknya dengan pertempuran besar era Perang Revolusi seperti USS Yorktown (CV-10; kapal induk bernama sama (CV-5) tenggelam dalam Pertempuran Midway, 4 Juni 1942), USS Enterprise (CVN-65; kapal induk bernama sama (CV-6) bertugas selama Perang Dunia II), USS Saratoga (CV-60; kapal induk bernama sama (CV-3) aktif dalam Perang Dunia II), dan USS Lexington (CV-16; kapal induk bernama sama (CV-2) tenggelam dalam Pertempuran Laut Koral, 8 Mei 1942). Sejumlah pertempuran Perang Dunia II antara 1941 dan 1945 juga dijadikan nama kapal-kapal induk US Navy, seperti USS Midway (CV-41).

Setelah itu, terjadi perubahan, dengan menggunakan nama tokoh-tokoh penting US Navy, seperti Laksamana bintang lima (Fleet Admiral) Chester Nimitz (CVN-68), dan juga nama para presiden Amerika Serikat, seperti USS George Washington (CVN-73), USS Abraham Lincoln (CVN-72), USS Theodore Roosevelt (CVN-71), USS Harry S. Truman (CVN-75), USS Dwight D. Eisenhower (CVN-69), USS John F. Kennedy (CVN-79), USS Gerald R. Ford (CVN-78), USS Ronald Reagan (CVN-76), dan USS George HW Bush (CVN-77). Selain itu, juga menggunakan nama para politisi yang pro Angkatan Laut, seperti USS John C. Stennis (CVN-74) dan USS Carl Vinson (CVN-70).

USS Doris Miller (CVN-81) bisa disebut sebagai awal dari proses de-politisasi penamaan kapal dan juga menghormati personel kelas tamtama. Sebelum US Navy, Angkatan Darat Amerika Serikat juga sudah memulai menamai kendaraan lapis bajanya dengan nama Stryker untuk menghormati Prajurit Satu Stuart S. Stryker, penerima tanda jasa tertinggi militer Amerika Serikat, Medal of Honor, yang gugur dalam Perang Dunia II, dan Kopral Robert F. Stryker, peraih Medal of Honor yang gugur dalam Perang Vietnam (meskipun bernama sama, kedua prajurit ini tidak memiliki hubungan keluarga).


USS Gerald R. Ford (CVN-78) adalah kapal induk pertama di kelasnya yang berdinas di Angkatan Laut Amerika Serikat sejak 22 Juli 2017. Kapal induk ini menyandang nama Presiden Amerika Serikat ke-38, Gerald R. Ford, yang berdinas di angkatan laut selama Perang Dunia II, termasuk bertugas tempur di atas kapal induk ringan USS Monterey (CL-78) di Palagan Pasifik.

Penamaan USS Doris Miller untuk sebuah kapal induk bertenaga nuklir juga untuk menghormati pengabdian warga negara Amerika keturunan Afrika di Angkatan Laut Amerika Serikat. Pada Januari 2019, tercatat sekitar 65.000 warga Amerika keturunan Afrika berdinas di US Navy.

USS Doris Miller, seperti kapal-kapal induk lain di kelas Gerald R. Ford, akan menjadi salah satu kapal induk terbesar (super carrier) yang pernah dibangun. Doris Miller akan membawa 80 pesawat tempur dan akan diawaki oleh 6.000 pelaut. USS Doris Miller dijadwalkan akan dikirim ke Angkatan Laut Amerika pada tahun 2032, sebagai penghargaan yang pantas untuk pelaut berkulit hitam yang memberikan segalanya bagi bangsa dan negaranya.©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 12 Juli 2020

Friday, July 10, 2020

Manusia Medsos



SATU kawan saya, sebut saja namanya Sailan, seolah memiliki kepribadian ganda. Seorang kawan lainnya, wanita, dalam chatnya ke saya menyatakan ketidaksukaannya pada Sailan, yang dinilainya tidak punya etika, keras kepala (dalam konteks negatif), menyebalkan, dan suka sekali menantang orang lain, terutama yang secara usia lebih tua daripada si Sailan. Perilaku si Sailan dimonitor si kawan wanita itu melalui beberapa WhatsApp Group (WAG) di mana mereka berdua menjadi membernya.

Ya, saya pun menilai perilaku si Sailan di WAG sebagai orang yang sebaiknya dijauhi jika Anda tidak ingin sakit kepala membaca postingan padat kata-kata yang membuat banyak orang baper. Tapi di kenyataan sehari-hari, Sailan adalah pribadi yang agak pemalu, rendah diri, yang gaya bicaranya seperti orang yang baru belajar bahasa. Nada bicaranya penuh ragu, dan berpikirnya juga rada lamban. Singkat kata, si Sailan dalam kesehariannya berbeda 180 derajat dari yang dikenal banyak kawan kami mengenainya.

Saya memperkirakan, bahwa karena di belakang gawai atau komputer dia memiliki lebih banyak waktu untuk berpikir, lebih banyak peluang untuk merencanakan apa yang akan dia katakan. Hal tersebut tidak dia dapatkan dalam interaksi lahiriah dengan orang lain. Entah sengaja atau keceplosan, via WhatsApp jalur pribadi Sailan pernah blak-blakan ke saya bahwa dia mengutip sumber lain untuk memperkuat argumentasinya per kata-kata dalam komunikasinya dengan orang “di seberang” jalur jejaring sosialnya. Dia bahkan menjadikan sejumlah video tutorial self-help di Youtube sebagai acuan bagi perbaikan perilakunya.

Agar tidak berlarut-larut ketidaksukaannya pada Sailan, saya menyarankan kepada si kawan wanita di atas supaya berinteraksi dengan Sailan di luar media sosial. Manusia-manusia medsos, seperti si Sailan, adalah pribadi-pribadi yang tidak sepenuhnya asli saat menghadapi gawai atau komputer mereka, karena lawan interaksinya mereka pandang hanya sebagai mesin yang tidak punya perasaan, hingga mereka merasa dapat merisak (bullying) lawan interaksinya semau hati mereka. Sebaliknya, kesejatian mereka mengemuka dalam interaksi fisik saat bertatap muka.©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 10 Juli 2020

Thursday, July 9, 2020

Pengaruh Pekerjaan

SEJAK tahun 2012, saya menjadi konsultan komunikasi untuk proyek pembuatan buku mengenai lima peraih PROPER (Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan) Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup (mulai tahun 2015 menjadi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan).

Awalnya, secara tak sadar, saya tiba-tiba memiliki kepedulian pada pelestarian lingkungan, mulai dari hal-hal kecil, seperti mematikan lampu bila tidak digunakan, menutup keran air bila tidak dipakai, membuang sampah pada tempatnya, dan mudah trenyuh melihat pohon-pohon ditebangi. Dan, tentu saja, dalam waktu relatif singkat saya mengerti proses-proses kerja pengelolaan lingkungan dari diskusi-diskusi dengan para insinyur lingkungan yang mewakili kelima perusahaan peraih PROPER Emas itu.

Hal ini bukan sesuatu yang mengejutkan bagi saya. Sejak menerima Latihan Kejiwaan, saya terbimbing untuk me-niteni bagaimana “energi” dari pekerjaan-pekerjaan yang saya tangani sebagai konsultan komunikasi dan branding mempengaruhi diri saya, mengisi diri saya dengan pengetahuan mendalam mengenai seluk-beluk bisnis atau bidang yang ditekuni organisasi dari klien-klien saya. Apakah hal itu baik atau buruk? Saya tidak terlalu memikirkan pengaruhnya. Yang jelas, yang saya dapatkan berdampak baik bagi klien-klien saya, karena dengan demikian mereka dapat mengandalkan saya (dan tim LI9HT) untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan benar.

Saya tidak mengkhawatirkan pengaruh pekerjaan itu, karena saya yakin—dan juga dipastikan dalam ceramah Bapak Subuh—adanya zat kekuasaan Tuhan dalam diri saya, yang membentengi saya dari dampak negatif atau buruk yang mungkin diberikan oleh segala gerak hidup saya. Bagaimanapun, adalah kekuasaan Tuhan pula yang membimbing pikiran dan perasaan, perkataan dan perbuatan saya sejak menekuni Latihan Kejiwaan. Saya saksikan sendiri bagaimana mulut dan pikiran saya bekerja otomatis, setiap kali diri saya tenang, saat tampil memerankan pekerjaan saya sebagai konsultan; bagaimana jari jemari saya bergerak di papan kunci komputer saat menulis; dan bagaimana keadaan diri saya saat menyikapi respons klien-klien terhadap pekerjaan saya dan tim LI9HT.

Apa pun pengaruh yang saya terima dari semua pekerjaan yang saya tangani, bagaimanapun, Latihan Kejiwaan yang telah mengisi diri saya membersihkannya secara bertahap, mengatur mana yang boleh tinggal dan mana yang tidak boleh terus melekat pada diri saya. Positifnya, saya jadi mengalami perubahan kebisaan-kebisaan saya secara dinamis, sehingga sebagai profesional dan pebisnis saya tidak berjalan di tempat. Puji Tuhan!©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 9 Juli 2020

Tuesday, July 7, 2020

Kesombongan Spiritual

SEMASA masih aktif berlatih kejiwaan di Wisma Subud Surabaya, Jalan Manyar Rejo 18-22, Surabaya, Jawa Timur, pada tahun 2004, saya pernah mengalami kejadian yang kocak. Saat itu, saya baru selesai melakukan Latihan Kejiwaan di hallnya dan bergabung dengan para anggota dan pembantu pelatih di teras timur bangunan hall Latihan.

Sebelum dan sesudah Latihan, para anggota pria Subud Cabang Surabaya biasa duduk secara lesehan di teras yang dialasi tikar. Saat itu, saya duduk di seberang satu pembantu pelatih, seorang pria tua yang gemar merokok Djisamsoe. Beliau menawarkan saya rokoknya, yang saya sambut dengan senang hati—karena saya tidak punya rokok, sedangkan saya malas jika harus pergi keluar lingkungan Wisma Subud Surabaya untuk membeli rokok.

Sang pembantu pelatih, di balik kepulan asap rokoknya, berkata, “Tadi waktu Latihan, Dik Anto ketemu Yesus ya?” Beliau mengacu pada penerimaan di Latihan saya tadi di dalam hall, di mana saya merentangkan lengan kanan saya ke atas sementara tangan kiri saya saya letakkan di dada kanan. Dengan postur seperti itu saya berjalan keliling ruangan hall sambil berucap berulang kali “Yesus gembalaku!”

Dengan lugu, terutama karena saya saat itu masih baru di Subud, saya menjawab, “Nggak, Pak.”

Seorang pembantu pelatih sepuh lainnya, yang duduk di sebelah si pembantu pelatih yang bertanya ke saya, berkata, “Dia belum sampailah di situ… masih baru.”

Saya menandai ada nada kesombongan dalam ucapan si pembantu pelatih itu. Pembantu pelatih Djisamsoe yang membuka obrolan tadi itu berkata, “Saya pernah ketemu Yesus dalam Latihan, Dik.”

Saya memandang beliau dengan sebal. Sombong sekali! Terbersitlah sebuah ide konyol di benak saya. Saya menatap beliau sambil tertawa dan berkata, “Saya pernah ketemu Bapak dalam Latihan, Pak. Bapak bilang ke saya: ‘Nak, jangan percaya PP sebelum Nak mengalaminya sendiri.’.”

Si pembantu pelatih tua itu hanya mengepulkan asap rokok dan tidak berkomentar lagi. Selanjutnya beliau menoleh ke sebelah beliau dan mengobrol dengan orang yang duduk di sebelah beliau. Saudara Subud di sebelah saya berbisik, Sampeyan nekat ah, ngerjain PP!

Lain lagi pengalaman saya saat berkunjung ke Subud Cabang Batang, Jawa Tengah, pada bulan Februari 2006, bersama tiga pembantu pelatih yang tergabung dalam Forum Komunikasi Anggota Subud serta satu anggota biasa. Mereka semua tercatat sebagai pembantu pelatih dan anggota Cabang Jakarta Selatan. Selama perjalanan dengan menumpang KA Argo Bromo Anggrek dari Stasiun Gambir ke Stasiun Pekalongan, saya bercerita kepada kawan-kawan seperjalanan saya tentang buku karya Master Sheng-yen, seorang guru Zen asal Taiwan (kelahiran Republik Rakyat Tiongkok), berjudul Zen: Tiada Penderitaan (Penerbit Suwung, 2004) yang sedang saya baca. Antara lain tentang adanya perintah Buddha Gautama kepada para pengikutnya, agar membunuhnya apabila para pengikutnya masih melihat kehadiran diri Gautama dalam semadi mereka.

Saat sarasehan malam harinya di hall Latihan Cabang Batang, ada satu anggota setempat yang mengungkapkan kepada salah satu pembantu pelatih dari Jakarta Selatan itu, Pak Djoko namanya, “Saya sering bertemu Yang Mulia Bapak dalam Latihan saya, Pak. Apa artinya ya?”

Saya merasakan kondisi diri si anggota terisi kesombongan, merasa dirinya istimewa karena didatangi Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo. Dengan santai, Pak Djoko menuturkan, “Tadi di kereta, Mas Anto ini cerita ke saya kalau dia lagi baca sebuah buku tentang Zen. Penulisnya mencantumkan cerita di mana Sang Buddha mengatakan, ‘Kalau kamu dalam semadimu masih melihat aku, maka bunuhlah aku!’ Jadi, Anda bunuh saja Bapak kalau masih suka datang saat Anda Latihan!”

Seluruh hadirin tergelak, sedangkan si anggota yang menceritakan pengalamannya didatangi Bapak Subuh dalam Latihannya hanya terpana, juga malu.

Kesombongan spiritual istilahnya. Hal ini biasa terjadi dalam semua komunitas spiritual, tidak hanya di Subud. Bahkan di agama-agama juga terjadi kesombongan seperti ini, bahkan pada orang-orang yang dipandang “tinggi” ilmunya. “Belum sampai” adalah kalimat yang biasa diucapkan seorang anggota atau pembantu pelatih Subud kepada anggota lain yang dia anggap belum menyamai pemahamannya. Ungkapan itu tidak jarang membuat seorang anggota merasa tersinggung, baper, lantas marah dan memutuskan tidak mau lagi aktif di Subud.

Latihan Kejiwaan merepresentasi proses pembelajaran berkelanjutan (continuous learning process), di mana “sampai” tidaklah relevan. Pengalaman merupakan bagian dari proses tersebut, dan sifatnya hanya sementara alias icip-icip. Pengalaman hari ini tidak akan sama dengan pengalaman di hari-hari berikutnya, dan semua pengalaman itu hanya merupakan media pembelajaran seorang anggota, untuk pada akhirnya dapat memahami atau memaknai peristiwa-peristiwa yang mengisi hidupnya. “Sampai” di saat ini hanya untuk saat ini; berikutnya, proses pembelajaran seseorang masih akan berlanjut. Jika Anda adalah anggota Subud dan merasa “sudah sampai”, dan dengan itu dengan sombongnya Anda menganggap orang lain “belum sampai”, sesungguhnya Andalah yang belum sampai. Belum sampai pada pengertian sejatinya.

Lagipula, pengalaman tidak dapat ditiru; tidak ada anggota Subud yang pengalamannya sama persis dengan saudara sejiwanya. Jangankan di Subud atau di jalan spiritual pada umumnya, di kehidupan duniawi saja, suatu solusi yang telah terbukti sukses dalam praktiknya tidak serta-merta dapat diterapkan sama persis untuk menyelesaikan masalah lainnya, meskipun masalahnya mirip. Penceritaan pengalaman, sebagaimana yang sedang saya lakukan ini, bukan suatu ajaran atau desain yang dapat ditiru, melainkan—diharapkan—menjadi pembangkit inspirasi atau “alat bantu” bagi orang lain untuk memaknai hidupnya sendiri.

Kesombongan spiritual memberi kita satu hal: Kita akan berhenti mengalami tumbuh-kembang kejiwaan sebagaimana yang diharapkan. Kita stuck di situ saja, di pemahaman sementara, seperti pengemudi mobil yang terlena di rest area sebuah jalan tol sehingga ia tidak akan pernah sampai di tujuan sebenarnya.

Pemahaman saya, Tuhan itu Maha Luas dan Maha Tidak Berbatas. Hidup mewakili keluasan dan ketakterbatasanNya, sehingga kita senantiasa dituntut menanggalkan kesombongan dan terus menjelajahi segala kemungkinan yang Tuhan sediakan untuk kita. Karena itu, tidak ada gunanya bersombong ria dengan apa pun yang kita alami dalam proses pembelajaran berkelanjutan ini.Ó2020



GPR 3, Tangerang Selatan, 8 Juli 2020

Monday, July 6, 2020

Al Fatihah—Pembuka Kontak Dengan Kekuasaan Tuhan


SAYA ingat pada sebuah pengalaman yang unik, sebuah kejadian yang mungkin bisa didaulat sebagai “pengalaman kejiwaan”. Saat mengalaminya, saya masih tinggal berdua dengan istri di sebuah rumah kontrakan di Gang Margodadi III, Demak Timur, Surabaya, Jawa Timur. Rumah itu saya kontrak dari salah satu pembantu pelatih Subud Cabang Surabaya. Beliau menerima dalam Latihan Kejiwaannya bahwa beliau harus membangun rumah dua lantai tepat di seberang rumah beliau sendiri, dan menerima bahwa yang boleh mengontrak dan menempatinya hanya anggota Subud. “Kebetulan” (saya pakai tanda petik karena saya tidak percaya pada kebetulan, karena semua sudah diatur oleh Tuhan) sayalah anggota Subud pertama yang memerawani rumah tersebut, untuk masa kontrak 2004-2006.

Tinggal berdua saja di rumah kontrakan tersebut, saya dan istri mengalami banyak hal yang memperkuat keyakinan kami pada kekuatan Latihan Kejiwaan sebagai jalan untuk berkontak dengan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa yang selalu membimbing kami dalam segala gerak hidup kami. Salah satunya adalah apa yang akan saya ceritakan di sini.

Pada suatu malam—saya lupa apa yang terjadi sebelumnya, namun saya ingat bahwa—saya dan istri sedang bercengkerama di dalam kamar tidur. Cengkerama yang kemudian “menuntun” kami berhubungan suami-istri. Sesuatu yang menurut perasaan saya heboh dan hebat terjadi pada diri kami (kami saling berbagi cerita pengalaman kami saat “kumpul” itu lama sesudahnya). Akan halnya dengan saya, saya merasakan kenikmatan luar biasa, yang sulit saya gambarkan dengan kata-kata. Malah kata-kata hanya akan menyempitkan makna dari pengalaman tersebut.

Saat berhubungan badan itu, saya merasakan nikmat yang tak terperi. Bukan kenikmatan seksual, melainkan kenikmatan berzikir layaknya saya sedang berada di tengah majelis yang mendaraskan nama Allah Swt berkali-kali sebagai pengagungan dan pemuliaan terhadapNya! Bukan kenikmatan rasa saat dua jenis kelamin saling “mengikat”, tetapi kenikmatan dari getaran rasa diri saat mengingat kemurahan Tuhan atas hambaNya.

Terbangun keesokan paginya, saya termangu-mangu di pinggir kasur. Selama menempati rumah kontrakan itu, agar ringkas kami tidak menggunakan satu set ranjang, melainkan kasur kami gelar di lantai dengan dialasi lembaran-lembaran kardus. Sehingga, ketika duduk termangu di tepi kasur, sementara pantat saya berada di kasur, kedua kaki saya yang bersila berada di lantai yang cukup dingin. Istri saya sudah lebih dahulu bangun dan sedang berada di dapur, menyiapkan sarapan.

Saat duduk di tepi kasur itu, saya membatinkan pertanyaan: “Apakah yang saya alami tadi malam itu. Kok saya teringatnya rasa menyebut nama Allah, dan bukannya kenikmatan bersetubuh?”

Saya kemudian menenangkan diri. Bukan sesuatu yang saya sengaja, bila saya “menenangkan diri”. Tiap kali kepala saya mulai nyut-nyutan karena “kemasukan” lintasan-lintasan pemikiran yang tidak perlu, saya akan memejamkan mata, dan tiap kali memejamkan mata saya akan mengalami penenangan diri atau menerima Latihan Kejiwaan. Dalam keadaan rasa diri yang tenang itu, saya menerima Latihan Kejiwaan dan dalam Latihan itu saya mengucapkan Surah Al Fatihah lengkap dari ayat pertama hingga ketujuh. Setelah itu saya menerima pengertian, bahwa yang saya alami tadi malam adalah ekspresi badaniah dari Surah Al Fatihah.

Al Fatihah, demikian yang saya terima lama sesudah hari itu, melambangkan penyerahan diri makhluk atau ciptaan kepada Sang Khalik atau Pencipta. Ayat-ayatnya menegaskan hal itu. Surah itu adalah seperti pengingat bagi kita agar selalu berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan berperasaan sabar, tawakal, dan ikhlas.

Al Fatihah secara etimologis berarti “pembukaan”. Meskipun secara syariat “pembukaan” di sini bermakna bahwa Al Fatihah merupakan surah pertama/pembuka dari kitab suci Al Qur’an, tetapi yang saya terima dalam Latihan Kejiwaan saya adalah makna hakikatnya. Yaitu bahwa surah tersebut menjadi kunci bagi manusia yang berserah diri dengan sabar, tawakal, dan ikhlas untuk membuka jalan yang lurus (yang mudah dan lancar, tanpa halangan dan rintangan) kembali kepada atau berkontak dengan kekuasaan Tuhan.

Namun, saya terima juga, Al Fatihah tidak serta-merta menjadi pembuka jalan yang lurus hanya dengan mendaraskannya, atau mengucapkannya, belaka. Hanya melalui pengamalannya, melalui pengejawantahannya, dalam kehidupan sehari-hari kita, Al Fatihah membuka jalan bagi manusia yang masih hidup untuk dapat berkontak dengan kekuasaan Tuhan. Dalam pengertian saya, karena itu, Latihan Kejiwaan merupakan media praktik dari ayat-ayat yang terkandung dalam Surah Al Fatihah.

Belakangan, seolah tren, banyak orang mengucapkan atau menuliskan dalam kolom komentar di media sosial “Al Fatihah kepada si Fulan” sebagai ungkapan penghiburan atau pernyataan belasungkawa atas meninggalnya seseorang atau ketika kenalan mereka tengah memperingati tahun kesekian meninggalnya kerabat atau sahabatnya. Sejatinya, demikian pemahaman saya, dengan mengamalkan atau mempraktikkan Surah Al Fatihah atau, dalam bahasa yang universal, berserah diri kepada Tuhan, kita membantu arwah-arwah dari orang-orang yang telah mendahului kita dimurahi perjalanan kembali mereka langsung ke Sang Pencipta. Mengucapkan atau menuliskannya belaka tidak dapat membantu; gerak hidup kitalah yang dapat.

Tren ini mengaburkan manfaat sejati dari Surah Al Fatihah, yaitu untuk mengingatkan yang masih hidup agar senantiasa memuji Allah, Tuhan semesta alam, yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, yang menguasai Hari Pembalasan. Untuk mendorong setiap manusia agar hanya kepada Tuhanlah mereka menyembah, dan hanya kepada Tuhanlah mereka seharusnya memohon pertolongan. Untuk meminta petunjukNya ke jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang dianugerahi nikmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa, bukan jalan dari mereka yang dimurkaiNya dan bukan pula jalan mereka yang sesat—yaitu orang-orang yang mengandalkan akal pikir dan hati yang terisi nafsu daya rendah. Sudah pastilah itu (amin)!Ó2020



GPR 3, Tangerang Selatan, 7 Juli 2020







Sunday, July 5, 2020

Kebebasan Berimajinasi


“Paruh pertama kehidupan adalah belajar menjadi orang dewasa. Paruh kedua adalah belajar menjadi seorang anak.”
—Pablo Picasso


PADA malam hari, tanggal 5 Juli 2020, saya menemani putri saya yang berumur tiga tahun delapan bulan menonton film animasi Spider-Man: Into the Spider-Verse di HBO. Selama nonton, putri saya banyak sekali bertanya ini-itu menyangkut superhero, yang rupanya dia favoriti. Menjelang akhir film, putri saya mengatakan bahwa dia ingin menjadi Spiderman, bahwa dia ingin bisa meloncat dari bangunan yang satu ke bangunan yang lain, dan, dengan sedih, mengatakan bahwa dia belum bisa melakukan apa yang dia inginkan. Saya bilang kepadanya, sebagai penyemangat, bahwa dia bisa melakukannya asal dia berusaha dengan belajar dan berlatih.

Putri saya, Nuansa, menyenangi ketokohan superhero dan sering mengimajinasikan dirinya sebagai pahlawan super pembela kaum lemah. Kepedulian dan sifat penolongnya, yang sudah tampak dalam usia sebelia ini, adalah alasan utama dia ingin menjadi pahlawan super.

Nah, malam itu, saat menonton film animasi Spiderman di HBO, dia memasang sikap badan seperti jagoannya itu. Saya tertawa, karena senang melihatnya menikmati dirinya sebagai tokoh favoritnya. Tetapi Nuansa salah paham terhadap tawa saya; dia kira, saya menertawakannya. Dia tiba-tiba menangis keras dan mengamuk dan memukuli saya. Setelah dipeluk dan ditenangkan oleh istri saya, terungkaplah penyebab mengapa dia menangis dan mengamuk terhadap saya. Nuansa merasa saya menertawakannya dan malu karenanya. Dia merasa harga dirinya jatuh karena sikap saya yang keliru ia pahami.

Di situlah saya merasa sangat bersalah, sekaligus teringat pengalaman saya sendiri dengan orang tua saya yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa saya suka berimajinasi.

Adalah ibu saya, terutama, yang paling tidak suka bila saya berimajinasi. Beliau menganggap berimajinasi adalah perbuatan dosa, buang waktu, dan membuat seorang anak tertinggal secara intelijensia. Ketika kecil, hingga sekolah menengah atas, saya suka membayangkan diri saya sebagai perwira militer, seorang komandan pasukan yang berwibawa di medan tempur. Saya tuangkan imajinasi itu ke dalam gambar (saya sangat suka menggambar) atau tulisan-tulisan di label nama di alat tulis yang saya gunakan di sekolah. Menurut ibu saya, hal itu tidak wajar. Saya dilarang berimajinasi, dan beliau akan marah besar bila memergoki saya berimajinasi.

Kala itu, saya membenci sikap ibu saya terhadap kegemaran saya berimajinasi. Tapi kini, saya tidak lagi marah atau benci, karena setelah membaca ceramah-ceramah Bapak Muhammad Subuh, setelah saya masuk Subud, mengenai kesalahan-kesalahan yang diwarisi leluhur, saya jadi paham bahwa orang tua saya tidak bersalah. Mereka memiliki sikap seperti itu karena dengan cara itulah mereka dididik oleh orang tua mereka (kakek-nenek saya), dan begitu seterusnya ke atas. Mereka hanya tidak mengerti; untuk orang-orang yang tidak mengerti seyogyanya saya memohon agar Tuhan memurahi mereka, alih-alih membenci mereka.

Imajinasi bagi anak-anak, berdasarkan pengalaman saya, bukanlah sesuatu yang buruk. Hal itu dapat membuat anak mampu berpikir kreatif dan menganalisis, memperkaya pengetahuannya, membuat anak lebih percaya diri, mandiri, dan mampu bersaing. Dalam penuturan satu saudara Subud saya yang juga pakar pendidikan, Harris Roberts, pada hari Kamis, 2 Juli 2020, lalu di Wisma Subud Cilandak, Jakarta Selatan, berimajinasi membuat seorang anak mampu berkonsep. Dengan kemampuan berkonsep, dia akan mampu memaknai segala sesuatu yang dihadapinya dalam kehidupan dewasanya kelak.

Insiden dengan putri saya membuat saya bertekad untuk menghentikan selamanya pewarisan sikap dan tindakan dari kedua orang tua saya, dan dari kedua orang tua dari ayah-ibu saya, dan seterusnya ke atas, dengan sikap dan tindakan saya dalam mengasuh putri saya, yang saya cintai sepenuh hati, diri, dan jiwa saya. Saya dan istri telah sepakat untuk membebaskan Nuansa berimajinasi sesuai usianya. Kami sebagai orang tua hanya mendukung sebisa kami, selama yang ia inginkan dan (akan) lakukan tidak merugikan dirinya.

Tekad saya itu sekaligus menjadi cara saya memaafkan masa lalu saya—yang tidak seberuntung putri saya, lantaran kebebasan berimajinasi saya direnggut oleh orang tua saya.©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 6 Juli 2020

Saturday, July 4, 2020

Membawa Makanan ke Surga


SEBERAPA sering Anda makan sup iga? Steik? Soto jeroan sapi? Saya yakin, tidak sering. Mungkin hanya sekali seminggu atau sekali sebulan, atau bahkan setahun hanya sekali.

Saat memakannya, pasti berasa sangat lezat. Ya, jelas, karena jarang memakannya, jadi lidah telah menjadi “murni”. Itu sebabnya, demikian pengamatan saya, anak kecil dianjurkan makan makanan yang berbeda-beda, agar lidahnya peka terhadap rasa.

Karena kejarangan dalam konsumsi makanan-makanan yang saya sebutkan di atas, seharusnya kita tidak perlu khawatir. Makanlah secukupnya, tidak perlu berlebihan pula. Berlebihan itulah yang menyebabkan penyakit, tetapi pikiran khawatir yang menyertai saat memakannyalah yang lebih berbahaya, karena juga dapat menyebabkan penyakit.

Dapat dikatakan bahwa lebih dari 75 persen penyakit mematikan dewasa ini disebabkan oleh pikiran yang dipenuhi kekhawatiran atau ketakutan, lebih dari penyakitnya sendiri. Saya amati bahwa selama tiga bulan sejak pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diberlakukan di Jakarta dalam rangka menghadapi pandemi COVID-19, lebih banyak orang yang meninggal karena stroke atau serangan jantung, daripada karena virus Corona penyebab COVID-19. Orang yang mati karena tertekan lantaran memikirkan ancaman virus lebih banyak daripada akibat virusnya sendiri.

Berdasarkan pengalaman saya, menyantap makanan dengan pikiran yang kalut tidak akan memberi kita kelezatan yang sejatinya ditawarkan makanan tersebut—sehingga kita juga menjadi tidak mensyukuri rezeki Tuhan itu. Simpul-simpul saraf di lidah kita agaknya terkendala dengan simpul-simpul saraf di otak yang terbungkus aneka pikiran negatif. Menarik untuk direnungkan, kearifan yang menyatakan bahwa bahan-bahan yang membentuk makanan yang kita makan dapat terbawa ke surga apabila kita memakannya dalam keadaan diri yang dipenuhi sukacita. Bahkan, leluhur kita percaya—dari pengalaman nyata—meskipun racun yang kita makan, dia akan kehilangan dampak mematikannya apabila orang yang memakannya dalam keadaan ikhlas dan berpikir positif.

Saya pribadi menerapkan cara itu dalam menyambut tawaran makan dari orang lain. Makanya saya selalu merasa janggal dengan orang yang disodori makanan yang ada unsur yang pantang dia makan dengan alasan kesehatan, seperti nasi putih. Lain halnya bila prasmanan, yang swalayan, sehingga bisa menghindari makanan-makanan yang dipantangi. Tapi bila ditawari oleh tuan rumah, misalnya, adalah tidak sopan untuk menolak, apalagi dengan perkataan “Wah, saya nggak makan nasi, saya diabetes” atau “Saya tidak boleh makan jeroan, kolesterol tinggi”. Terima saja, tanpa komentar macam-macam, dan makanlah yang Anda rasa baik bagi tubuh Anda. Sisihkan yang Anda tidak mau atau tidak suka, tidak usah banyak komentar.

Saya ingat pada suatu pengalaman di bulan Desember 2015 di Kota Bandung, di mana saya dan tiga saudara Subud saya dari Jakarta Selatan dijamu minum bir di sebuah kafe oleh para saudara Subud Kelompok Cilengkrang. Satu saudara Subud saya dari Jakarta Selatan berbisik ke telinga saya, “Bro, gimana nih, minum bir nanti kita mabuk.” Ada nada kecemasan pada suaranya. Dia membayangkan bahwa usai acara di kafe tersebut kami akan langsung balik Jakarta naik mobil yang disopiri saudara Subud lainnya yang juga ikut menenggak bir.

Saya jawab dengan berbisik pula di telinga saudara Subud itu, “Bro, kita nggak akan mabuk. Tergantung niat, bro. Niat kita adalah untuk memuliakan tuan rumah.”

Alhasil, tidak ada di antara kami berempat yang mabuk, meski telah menenggak bergelas-gelas bir malam itu, dan dapat kembali ke Jakarta malam itu dengan lancar dan selamat. "Birnya sudah kita surgakan," gurau saudara Subud yang sebelumnya takut mabuk bila menerima tawaran minum bir dari tuan rumah itu. ©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 4 Juli 2020

Friday, July 3, 2020

Nonkonvensional: Mengapa Saya Bertahan di Subud


SAYA kerap mengonsumsi makanan tertentu secara tidak seharusnya. Seperti makan soto mie dengan roti (bukan dengan nasi), roti lapis isi gado-gado, spaghetti dengan kuah kari (bukan saos tomat), dan lain-lain. Saya juga sering mengerjakan hal-hal biasa dengan pendekatan-pendekatan yang tidak biasa. Artikel saya di Facebook pernah dikomentari seorang teman yang sedang menempuh pendidikan magister di Amerika Serikat: “Artikelnya pakai kerangka tidak jelas. Seharusnya pakai piramida terbalik, atau plotting. Yang menarik, artikelnya tetap enak dibaca, dengan menampilkan hal-hal secara surprising.”

Foto-foto makanan yang “tidak seharusnya” itu saya posting di Facebook dan Instagram, dan karuan mendapat komentar-komentar yang diawali atau diakhiri dengan kata “seharusnya”. Ada satu teman saya yang merasa ganjil dengan cara saya menyantap soto mie dengan roti. “Apa enak? Kok aneh, sih!”

“Apa yang enak dimakan dengan nasi, pasti enak dimakan dengan roti,” balas saya.

Kita hidup di dunia yang telanjur dicekoki dengan konvensi “harus/tidak harus”. Konvensi adalah suatu hukum atau aturan-aturan tidak tertulis yang ada dalam kehidupan bermasyarakat, yang timbul karena kebiasaan-kebiasaan. Dalam konteks memetika, konvensi atau adat istiadat tergolong meme, yaitu ide, perilaku, atau gaya yang menyebar dari satu orang ke orang lain dalam sebuah budaya.

Sejatinya, tidak ada yang harus atau tidak harus dalam kehidupan kita. Konvensi-konvensi tertentu malah mematikan kreativitas kita, menghambat kita untuk berevolusi sebagai manusia, karena kita jadi menutup diri terhadap perubahan, sedangkan perubahan adalah satu-satunya yang pasti dalam hidup. Aturan—tak tertulis maupun tertulis—dibuat untuk menatatertibkan kehidupan bersama, bukan untuk mengatur cara bagaimana satu individu menjalani hidupnya.

Konvensi mengacu pada “melakukan hal-hal secara benar”. Dalam tindakan kreatif, konvensi-konvensi dilanggar maupun dihormati, dan inilah yang membuat sebuah artefak baru dapat dikatakan kreatif dan bisa dimengerti. Lebih jauh lagi, dari perspektif sosio-kultural, pengetahuan dan konvensi yang membentuk apa yang kita sebut “tradisi” tidak pernah menjadi kenyataan yang statis, melainkan lebih terkait dengan kreativitas dan inovasi.

Dalam kaitan dengan Subud, saya pernah dihadapkan pada pertanyaan: “Haruskah beragama atau percaya pada Tuhan untuk bisa ‘diterima’ menjadi anggota Subud?”

Saya pernah mengalami episode tidak percaya Tuhan, sebelum dan sesudah dibuka di Subud. Dalam bahasa Subud, episode ini, bila sudah dibuka, biasanya merupakan pembersihan dari kepercayaan kepada “Tuhan ajaran” (bentuk ketuhanan yang diajarkan dalam agama-agama, dengan sifat-sifat yang diberikan merupakan representasi dari sifat-sifat manusiawi) menuju Tuhan yang dapat dialami melalui rasa. Kepada saya pun pernah diceritakan oleh beberapa pembantu pelatih dan di buku memoar Varindra Vittachi Special Assignment: A Subud Trilogy, bahwa orang yang percaya “Tuhan ajaran” cenderung tidak bertahan lama, dibandingkan mereka yang tidak percaya Tuhan apa pun.

Saya masuk Subud dalam keadaan tidak percaya Tuhan. Saya menanggalkan agama dan kepercayaan saya kepada Tuhan mulai tahun 2003, ketika segala sesuatu yang saya perjuangkan dengan usaha dan doa tidak membuahkan hasil yang saya harapkan. Ketika ngandidat di Subud, saya dilayani oleh pembantu-pembantu pelatih yang membiarkan saya tidak percaya Tuhan, karena di Subud tidak ada ajaran maupun pelajaran. Saya akan mengalami sendiri kelak eksistensi sesuatu yang dikonvensikan sebagai “tuhan”.

Subud adalah jalan berbasis pengalaman (experiential), yang tidak memaksakan “harus/tidak harus”. Anda “dituntut” (oleh diri Anda sendiri) untuk menjadi diri sendiri, dengan aturan-aturan atau pedoman yang hanya cocok untuk Anda sendiri. Bagi orang seperti saya, yang suka melanggar konvensi, pembersihan dari ajaran atau kebiasaan-kebiasaan umum tergolong proses yang mudah. Itulah yang membuat saya bertahan di Subud.©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 4 Juli 2020

Wednesday, July 1, 2020

Malaikat Penjaga



SAYA kesengsem pada film seri Touched by an Angel yang diputar oleh salah satu televisi kabel. Saya sering membayangkan, bahkan ketika masih kecil, kehadiran malaikat penjaga (guardian angel) yang menemani saya sepanjang perjalanan hidup saya. Saya membayangkan malaikat itu bagaikan seorang sahabat yang berada di dekat saya dalam suka maupun duka.

Dahulu, saya pikir malaikat penjaga hanyalah khayalan belaka, fantasi kanak-kanak yang diangkat ke layar kaca untuk menghibur pemirsa yang mungkin sedang menderita kesusahan. Tetapi pemikiran itu keliru, sejak saya menerima Latihan Kejiwaan. Meskipun tak tampak, gaib, kehadiran “malaikat penjaga” ini terasa nyata, dalam cara bagaimana ia senantiasa memberi saya jalan keluar.

Saya ingat pada satu pengalaman baru-baru ini.

Tanggal 22 Juni 2020 lalu, dalam perjalanan kembali ke Wisma Subud Cilandak, Jakarta, dari Wisma Subud Bogor, bersama empat saudara Subud dalam satu mobil, saya mendapat pesan WhatsApp dari klien saya, Dinas Penerangan Angkatan Laut (Dispenal), yang menantikan artikel saya untuk dimuat di majalah The Horizon edisi ke-2 tahun 2020. Jauh hari sebelum hari itu, saya memang sudah diminta, namun karena saya anggap becanda, maka saya santai saja, tidak membuat artikel tersebut. Saya pikir, apalah saya dibandingkan penulis-penulis lainnya yang rata-rata perwira menengah hingga tinggi di lingkungan TNI Angkatan Laut.

Namun, hari itu, klien—person in charge majalah The Horizon, seorang anggota Korps Wanita Angkatan Laut (Kowal) berpangkat Letnan-Kolonel Laut—terus mendesak, dengan tekanan bahwa tenggat waktunya adalah keesokan harinya. Saya membatin, “Ya, Tuhan, apa yang harus saya tulis? Saya belum begitu memahami dunia angkatan laut.”

Meskipun mendalami kajian militer, fokus saya selama ini hanya pada angkatan darat, sejarah dan strategi perang darat, belum pernah pada angkatan laut.

Tiba-tiba, saya mendengar suara batin saya berkata, “Tidak usah dipikirkan. Relakan saja.”

Saya (membatin): “Tapi aku capek sekali. Aku pengen istirahat hari ini.”

Suara batin: “Ya, istirahatlah secukupnya. Sampai rumah nanti kamu tidur.”

Sampai rumah, saya menyantap makan siang, dan beberapa lama kemudian saya tidur. Terbangun setelah magrib, saya mendesah, terpikir kembali oleh saya bahwa saya harus membuat artikel untuk majalah The Horizon. Saya pun mendengar suara batin—saya menganggapnya suara sang malaikat penjaga—berkata, “Tulislah tentang sesuatu yang paling kamu pahami dan dikaitkan dengan angkatan laut.”

Saya membatin, “Sesuatu yang paling aku pahami? Ya, kereta api dan kuliner. Ada relevansinya dengan angkatan laut?”

Suara batin: “Kamu ingat, apa yang menjadi tema skripsimu?”

Saya (membatin): “Perang urat saraf. Studi awal terhadap perang urat saraf dalam Perang Kemerdekaan RI.”

Suara batin: “Mengapa kamu menulis tentang perang urat saraf?”

Saya (membatin): “Karena terinspirasi Bapak (panggilan untuk ayah saya) yang pernah kursus perang urat saraf di Jerman Barat.”

Saya terpaku. Mendadak, semua kenangan itu mengisi benak saya. Ayah saya, pernah bercerita tentang pengalaman beliau mengikuti kursus perang urat saraf di Jerman Barat, dikirim oleh kantor tempat beliau bekerja, yaitu Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin; sekarang Badan Intelijen Negara/BIN). Beliau menuturkan tentang cara kerja intelijen, yang menaklukkan musuh dengan perang urat saraf. Dalam perang urat saraf (psychological warfare), tindakan yang dilancarkan menggunakan cara-cara psikologi dengan tujuan membangkitkan reaksi psikologis yang telah dirancang terhadap orang lain.

Rangkaian dialog-dalam-kenangan dengan ayah saya itu mengerucut pada satu tema: Intelijen. Nah, suara batin saya, berteriak, seolah menggoyang badan saya seperti guru terhadap muridnya yang bodoh: “Tidakkah kamu paham, intelijen relevan dengan angkatan laut. Intelijen adalah mata dan telinga dari angkatan laut maupun angkatan-angkatan lainnya.”

Saya ingin berteriak “Eureka!” (bahasa Yunani yang berarti “Saya telah menemukannya”, yang diteriakkan Archimedes ketika ia menemukan hukum gaya tarik), tetapi hari sudah malam; saya khawatir akan mengejutkan keluarga saya. Saya pun bergegas turun dari tempat tidur dan pergi ke ruang kerja saya, menyalakan komputer, lalu duduk diam menatap layarnya yang telah menyajikan halaman putih pertama dari Microsoft Word. Satu kalimat judul telah tercantum: The Future of Naval Intelligence (Masa Depan Intelijen Angkatan Laut)

Saya (membatin): “Saya harus mulai dari mana?”

Suara batin: “Coba diingat-ingat apa yang pernah Bapak katakan ke kamu.”

Saya memohon kepada Tuhan agar Dia “mengembalikan” saya ke masa lampau, ke momen saya mengobrol dengan ayah saya, lalu saya menenangkan diri dengan perasaan sabar, tawakal, dan ikhlas. Laksana potongan-potongan jigsaw puzzle, satu per satu kenangan-kenangan bersama ayah saya menyatu menjadi satu rangkaian pita seluloid film yang ditayangkan di layar pikiran saya. Saya teringat pada satu episode di mana ayah saya mengatakan betapa lemahnya intelijen militer yang mengabaikan pengkajian sejarah, budaya, dan sosiologi suatu bangsa atau masyarakat, yang akibatnya memberi mereka pondasi analitik yang melenceng.

Dengan ingatan itu, saya pun mulai merancang bangun artikel saya tentang masa depan intelijen yang dihadapkan pada tantangan dalam memperoleh data yang valid. Saya berangkat dari kecenderungan para perwira intelijen yang malas dalam menggali data sehingga berpotensi mengacaukan operasi militer. Saya menyarankan dalam artikel tersebut agar proses pengumpulan data disandarkan pada cara sejarawan, dengan mengklasifikasi data menurut asalnya: data primer (sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber aslinya yang berupa wawancara, jajak pendapat dari individu atau kelompok, maupun hasil observasi dari suatu obyek, kejadian atau hasil pengujian terhadap benda), data sekunder (sumber data penelitian yang diperoleh melalui media perantara atau secara tidak langsung yang berupa buku, catatan, bukti yang telah ada, atau arsip, baik yang dipublikasikan maupun yang tidak dipublikasikan secara umum), dan sumber tersier (kumpulan data primer dan sekunder, seperti ensiklopedia atau buku teks). Saya tegaskan dalam artikel saya yang sepanjang empat setengah halaman A4 itu bahwa sebisa mungkin perwira intelijen angkatan laut harus mendapatkan data primer.

Saya juga mengkritisi, bahwa sebagai akibat dari kemalasan mereka, para perwira intelijen dewasa ini cepat percaya pada data sekunder yang mereka peroleh dari internet, bahwa ketergantungan pada teknologi harus diimbangi dengan kemampuan “manual”, sehingga ketika teknologi tidak berfungsi mereka tetap dapat menjalankan tugasnya.

Pada malam itu juga, sejak saya mulai mengerjakannya, saya mengirimkan artikel tersebut ke klien saya.

Keesokan malamnya, dalam bincang-bincang saya dengan senior saya dari Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang berdinas di TNI Angkatan Laut, terungkap dari pihaknya bahwa intelijen TNI AL khususnya memang malas menggali data, dan cenderung mudah mempercayai informasi yang diperoleh dari internet. Menurutnya, artikel saya layak dibaca oleh Asisten Pengamanan dari Kepala Staf Angkatan Laut (Aspam KASAL), karena menyajikan informasi valid dan aktual. Saya sulit mempercayai bahwa dialog batin saya menghasilkan karya sedemikian rupa. Puji Tuhan!

Saya berterima kasih pada malaikat penjaga saya dan kepada Tuhan yang telah menugaskan malaikat penjaga yang cerdas untuk mendampingi saya terus-menerus.©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 1 Juli 2020