Monday, February 27, 2023

Lateef’s Fifth Visit to Indonesia

LATEEF Dada-Bashua, a senior helper from the Lagos Subud group in Nigeria, Africa, joined me, Pak Harris Roberts, and Johan Frisman, on Friday evening, February 24, to the weekly group Latihan at Jatiwaringin, a group he also attended on his second day of arrival in Indonesia (January 27).

On Saturday night, February 25, Lateef will return to Nigeria, bringing with him so many beautiful memories that he said he just got on his fifth visit to Indonesia. He was very impressed with the experience of visiting a number of Subud groups on the island of Java and Central Kalimantan, doing Latihan at the Cilandak, Pamulang, and Rungan Sari Halls, attending the Subud Indonesia National Congress in Surabaya, and the moments of togetherness with Subud members of the so-called “Teras Timur (the east wing of Cilandak Hall) gang”, which were filled with sharing kejiwaan experiences which, according to him, were simply amazing. 

Together with that, what Lateef likes is that there is always brewed black coffee (kopi tubruk) and kretek cigarettes which, according to him, are a characteristic when Indonesian Subud members get together.©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 25 February, 2023


The news about Lateef’s visit to Indonesia in the February 2023 edition of the Jurnal Subud Indonesia.



Lateef with two female members (one of them being the hostess of the place) of the Jatiwaringin Subud Group and Pak Harris Roberts.


Lateef and me in the early morning of February 25, 2023, at the Jatiwaringin Subud Group in Bekasi, West Java.







Friday, February 24, 2023

The Art of Doing Nothing

ONE time, a female member WhatsApped me, asking questions regarding the Latihan. I did a quick scan on the message, but wasn’t moved to reply. I was very busy with work at the time, yet until work was done, I still wasn’t interested in replying. I am not a helper, so I thought it was okay to explain things concerning the kejiwaan to the opposite sex, but at the time I was just not guided to do so.                     

The next day, she again Whatsapped me, to say thanks. “What kind of help did I give you that deserved a thank you?” I asked her in my reply.

She replied, “You didn’t, but that’s just the kind of help I needed. Whether you realized it or not, you let me get the answer on my own, from my inner.”

That was when it occurred to me that Subud might be “the art of doing nothing”.©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 25 February, 2023


The Difference Between Kejiwaan and Not Kejiwaan

IN the past few weeks, I have often heard complaints from a number of members who received reprimands when they posted in Indonesian Subud WhatsApp groups: “Don’t post things that aren’t considered as ‘kejiwaan’!”

Recently, even a new helper who posted a snippet of Bapak’s talk which was considered not in line with the interests of several people in a WhatsApp group received a warning from a senior helper that his post was “not kejiwaan”.

I then harbored a question, what is classified as “kejiwaan” and what is “not kejiwaan”? How can we know that what someone says, writes or does can be classified as “kejiwaan” or not?

That question seems to have stuck in my mind, so that when I did the Latihan tonight at Pamulang Hall, I experienced a kind of testing by myself: “You can start counting...”

I uttered (in Bahasa): “Satu (1), dua (2), tiga (3), empat (4)... etc.” Each of my utterance was light and liberating to me, and they were slow, in bits of syllables, and steady in my ears. But entering the count of “duapuluh tujuh” (27), my sense of being was disturbed, it felt heavy and forced, so I felt myself being under pressure. I stopped at “duapuluh sembilan” (29), because I felt very bad.

“Well, now you know the difference between those that are in the kejiwaan realm and those that are not?” said my inner voice.

P.S.: I also felt a bit embarrassed when I was guided in counting, because I was like an elementary school student who was just learning to count, while around me the other members were exclaiming words that suggested religiosity.©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 25 February 2023

Wednesday, February 22, 2023

Yang Kedua Lebih Melegenda

 


MEWAWANCARAI Kolonel TNI Purn. Alex Evert Kawilarang di rumah beliau di Jl. Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, bersama senior saya di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI), Ali Anwar, tahun 1991, kami mendapat cerita yang cukup kocak. Beliau menuturkan momen Panglima Besar Soedirman berpelukan dengan Presiden Soekarno yang beliau saksikan, tahun 1949.

Karena fotografer yang ditugaskan untuk mengabadikan peristiwa itu tidak mendapatkan sudut ambilan yang bagus, ia meminta Soedirman dan Soekarno berpelukan lagi. Foto yang bisa disaksikan generasi sekarang, karena itu, adalah kejadian pengulangan. Tetapi jepretan yang kedua kalinya itulah yang melegenda.

Ini mirip dengan peristiwa pengibaran bendera Amerika Serikat Stars-and-Stripes di puncak Gunung Suribachi, di Pulau Iwo Jima, Jepang, pada 23 Februari 1945. Foto yang bisa kita saksikan sekarang adalah jepretan kedua kalinya dari kamera dan fotografer yang berbeda. Foto yang kedua, hasil bidikan wartawan foto Associated Press, Joe Rosenthal, justru yang melegenda.

Foto pertama, yang dibuat oleh Sersan Louis Lowery, satu-satunya fotografer Korps Marinir AS yang pernah meliput enam kampanye besar selama Perang Dunia II, mengabadikan peristiwa pengibaran bendera AS di puncak Suribachi setelah berakhirnya tembak-menembak antara pasukan AS dan Jepang dalam Pertempuran Iwo Jima dan satu regu pasukan Marinir berhasil menguasai puncak dari satu-satunya gunung di pulau dalam gugus Kepulauan Okinawa itu. Foto itu dibuat pada 23 Februari 1945, pukul 10.20 pagi.

Pengibaran bendera di puncak gunung itu dimaksudkan untuk memberi isyarat kepada seluruh elemen tempur AS bahwa Iwo Jima telah berhasil direbut dan dikuasai Sekutu. Tetapi bendera pertama itu berukuran kecil, yang tidak dapat dilihat dari sisi utara Gunung Suribachi, di mana pertempuran hebat masih berlangsung selama beberapa hari ke depan.

Alasan itulah yang kemudian mendorong komandan pasukan Marinir AS di Iwo Jima, Kolonel Chandler Johnson, memerintahkan agar benderanya diganti dengan yang lebih besar. Perintahnya diteruskan lewat komandan Kompi Easy, Kapten Dave Severance, ke Sersan Michael Strank, salah satu komandan regu dari Peleton Kedua, yang kemudian membawa tiga anggotanya (Kopral Harlon Block, Prajurit Satu Franklin Sousley dan Pratu Ira Hayes) untuk mendaki Gunung Suribachi, untuk mengibarkan bendera pengganti di puncaknya.

Rosenthal harus menyiapkan kamera Speed Graphic-nya di atas tumpukan batu untuk mendapatkan titik pandang yang lebih baik. Karena sibuk menumpuk batu, ia hampir kehilangan momentum, lantaran para anggota Marinir sudah mulai mengibarkan benderanya. Menyadari bahwa ia akan kehilangan momentum, Rosenthal buru-buru mengayunkan kameranya dan menjepret foto tanpa mengintip lewat lubang pembidik.

Sepuluh tahun setelah peristiwa pengibaran bendera itu, Rosenthal menulis: “Dari sudut mata saya, saya melihat para prajurit telah mulai menegakkan tiang benderanya. Saya ayunkan kamera dan menjepret adegan itu. Begitulah foto itu dibuat, dan kalau Anda membuat foto seperti itu, Anda tidak bisa bilang kalau Anda mendapatkan bidikan yang bagus. Anda tidak tahu itu.”


Foto pengibaran bendera kedua karya Joe Rosenthal itu merupakan satu-satunya karya foto yang memenangkan Hadiah Pulitzer untuk Fotografi pada tahun yang sama dengan publikasinya di media massa, yaitu pada 1945. Foto kedua inilah yang menjadi model bagi pematung Felix de Weldon dalam membangun Tugu Peringatan Perang Korps Marinir di Arlington Ridge Park, Virginia, AS, pada tahun 1954.©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 23 Februari 2023


Monday, February 20, 2023

Mengalihkan Perhatian

“Sejak pertama kali saya mulai mempelajari kegembiraan, jelaslah bahwa tempat dan obyek paling hidup semuanya memiliki satu kesamaan: warna cerah dan hidup. Baik itu deretan rumah yang dicat dengan warna permen yang berani atau pajangan spidol berwarna di toko alat tulis, warna cerah selalu memicu perasaan gembira.”

~Ingrid Fetell Lee, Joyful: The Surprising Power of Ordinary Things to Create Extraordinary Happiness (2018)

 

BELAKANGAN ini, saya menggantikan tugas istri mengantar anak kami yang berumur enam tahun ke sekolah. Jarak dari rumah ke sekolahnya sekitar 9 km dan saya mengantar dia dengan sepeda motor. Saya pakaikan harness untuk mengikatkan dia ke badan saya, agar tidak oleng.

Dia merasakan kegembiraan yang luar biasa dengan duduk di boncengan. Saya belum pernah melihat manusia yang begitu senang menikmati perjalanan di boncengan motor kecuali anak-anak dan beberapa saudara Subud saya. Dan selama saya memboncengi anak saya, saya pun turut merasakan kegembiraan. Saya gembira melihat fakta bahwa kehidupan anak-anak yang di mata orang dewasa tampak simpel ternyata mendatangkan kegembiraan bagi mereka.

Saya banyak belajar tentang kebahagiaan dari anak saya, sejak saya rutin mengantarnya ke sekolah dengan sepeda motor saya. Saya menyadari sesuatu yang hebat dari meniru sikap dan perilaku anak saya dalam melihat segala sesuatu di sekelilingnya: Saya bisa mengalihkan perhatian saya dari masalah-masalah saya yang memberi saya perasaan tertekan.

Sebagai orang dewasa, kita cenderung berkacamata kuda, terfokus pada masalah alih-alih pada mencari jalan keluarnya atau mengabaikannya. Seperti mengendarai sepeda motor dengan anak kecil duduk di boncengannya. Saya tidak bisa melepas perhatian saya dari jalan di depan, karena meleng berisiko kecelakaan. Biasanya, saya mengurangi kecepatan laju motor, menepi dan melemparkan perhatian saya sejenak ke apa yang hendak diperlihatkan anak saya.

Anak saya selalu excited pada hal-hal yang oleh orang dewasa dianggap simpel atau sepele. Mungkin semua anak seperti dia, merepresentasi manusia baru yang melihat sesuatu untuk pertama kalinya. Anak saya suka melonjak-lonjak atau berseru dengan nada gembira setiap kali dia melihat bus, truk, anjing, kucing, “kakak-kakak” (maksudnya, anak-anak sekolah yang usianya lebih tua dari dia atau tingkat pendidikannya telah melampaui Taman Kanak-Kanak), mobil yang bentuknya aneh, pesawat terbang yang melintas di langit ketika kami lewat.

Saya jadi mendapatkan kepahaman bahwa masalah adalah suatu gagasan yang diproyeksikan akal pikiran kita yang sudah terkontaminasi informasi bahwa hal-hal tertentu buruk dan hal-hal lainnya baik serta bermanfaat. Anak-anak belum memiliki nilai-nilai seperti itu, bagi mereka segala sesuatu simpel saja, belum ditempeli nilai-nilai.

Jadi, kalau tidak mau tertekan oleh masalah, saya tinggal mengalihkan perhatian dengan melihat melalui mata anak saya yang melihat dunia sebagaimana adanya.©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 20 Februari 2023

Sunday, February 12, 2023

Kambing Sabtu Pahing

Meski berbeda tahun lahir, shio dan weton dari satu saudari Subud Jakarta Selatan, VHLB, rupanya sama dengan saya...

 

Kulinting sepi

Asap tanpa api

Kuisap merasuk hati

Rindu pun tak berpuisi

 

Jemari mengaduk kopi

Liong Bulan yang kucicipi

berasa Kapal Api

Lanjut kulinting sendiri

rokok obat kangen sampai mati

 

Terbayang si kambing Sabtu Pahing,

malam-malam berpusing-pusing

Lari mengejar maling

yang membuat hatinya berpaling...

 

Mbeeeekkk!

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, sehari sebelum Hari Valentine 2023

Saturday, February 11, 2023

KTA Digital

 



SAYA adalah salah satu dari sekian ratus peserta Kongres Nasional ke-30 PPK Subud Indonesia di Surabaya, 3 hingga 5 Februari 2023. Dalam perhelatan yang digelar di Grand Empire Palace Hotel di Jalan Blauran, Surabaya, ini, saya mengalami dua hal “konyol” terkait identitas keanggotaan Subud saya.

Yang pertama adalah ketika saya hendak meminta name tag kepesertaan saya untuk Kongres Nasional tersebut. Setelah membayar Rp300.000 untuk Paket Festival (hanya mendapat name tag, tidak mendapat makan, congress kit, serta penginapan), dan data saya dimasukkan oleh petugas di meja registrasi, saya harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan name tag atas nama saya. Petugas di meja registrasi, seorang wanita anggota Cabang Jakarta Selatan, sempat sewot lantaran saya ngotot bahwa saya anggota Subud Cabang Surabaya. Dia bersikap demikian karena selama ini dia seringnya melihat saya berkeliaran di Hall Cilandak.

Ketika saya akan pindah ke Jakarta pada tahun 2005, Sekretaris Cabang Surabaya, Pak Seno Prasodjo (kini Pembantu Pelatih Daerah Pria Cabang Surabaya) menawarkan saya untuk membuatkan surat pengantar yang menjelaskan bahwa saya benar anggota Cabang Surabaya, tempat saya ngandidat dan dibuka hampir 19 tahun yang lalu. Saya berkata kepada beliau saat itu, bahwa saya tidak berniat mengganti keanggotaan Surabaya saya dengan cabang di kota ke mana saya akan pindah. Jadi, secara administratif saya tetap berstatus anggota Subud Cabang Surabaya.

Giliran saya hendak mengambil name tag di meja yang bertuliskan “Komwil VI”, komisariat wilayah yang menaungi antara lain Cabang Surabaya, petugas di belakang meja sempat pula ngotot-ngototan dengan saya, karena dia tidak percaya bahwa anggota Cabang Surabaya, karena di data cabang tidak ada nama “Arifin Dwi Slamet” maupun nama asli saya. Petugas yang berusia muda, jauh di bawah saya usianya, dengan sikap tidak sopan, berkata, “Saya sudah lima belas tahun di Subud Surabaya, tidak pernah melihat Bapak... Saya tidak pernah melihat Bapak di muswil-muswil Komwil Enam!”

Segera saya damprat dia dengan rada sebal, “Lho, saya masuk Subud ketika kamu masih kecil. Kamu kan sering diajak orang tua kamu ke Hall Manyar. Tanyain aja ke bapak kamu, Bagiyon, kalau saya benar-benar anggota Cabang Surabaya!”

Pada saat itu, datanglah satu pembantu pelatih (PP) Cabang Surabaya, berjalan ke arah meja Komwil VI. Beliau salah satu PP yang dulu melayani saya ketika saya masih ngandidat. Cak Nur namanya. Beliau menepuk bahu saya dan mengatakan bahwa saya tidak perlu khawatir, karena dia akan menjelaskan ke anak muda itu. Beliau juga mempersilakan saya pergi setelah mendapatkan name tag atas nama Arifin Dwi Slamet, Cabang Surabaya.

Di depan akses ke Ballroom dari Grand Empire Palace Hotel, yang merupakan venue penyelenggaraan Kongres Nasional, terdapat sebuah stan yang berdasarkan informasi yang saya dapat merupakan tempat untuk mencetak kartu tanda anggota (KTA) Subud Indonesia bagi yang belum memilikinya. Saya belum pernah memiliki KTA selama ini dan, karena itu, ingin membuatnya. Saya pun mendatangi stan tersebut. Petugas di belakang meja pelayanan adalah seorang anak muda anggota Cabang Jakarta Selatan yang saya mengenalnya cukup baik. Fajar namanya. Dia mengatakan bahwa stannya sedang tutup karena kehabisan formulir. Saya diminta datang lagi jam tiga sore. Tetapi, ketika saya datang lewat dari jam itu, lagi-lagi saya dihadapkan pada pernyataan Fajar bahwa formulirnya habis.

Kebetulan datang seorang wanita mendekat ke stan tersebut dan duduk berhadapan dengan Fajar di meja pelayanan. Mendengar bahwa saya tidak mendapat formulir pendaftaran untuk pembuatan KTA, wanita itu memberi saya satu formulir kosong yang baru difotokopinya. Wanita itu berkata, “Pak Slamet kan ya?”

Saya mengiyakan dan menanyakan, dari mana dia tahu nama saya. Wanita itu memperkenalkan diri dan asal cabangnya, yaitu Subud Denpasar, dan bahwa kami berteman di Facebook. Saya pun ingat namanya sebagai salah satu teman Facebook saya.

Di dalam dan luar ajang Kongres Nasional ke-30 PPK Subud Indonesia di Surabaya, 3-5 Februari 2023, ini saya menandai sesuatu yang unik: Banyak anggota yang menyapa saya, baik yang saya kenal maupun tidak. Yang tidak saya kenal, saya tanyakan dimana kami pernah jumpa.

“Saya suka baca postingan Pak Arifin di Facebook,” kata beberapa orang.

“Kita kan berteman di Facebook,” kata beberapa lainnya.

“Di Instagram, Mas/Kak!” jawab generasi yang lebih muda.

Ada pula yang tiba-tiba mendekati saya, tak jarang merangkul atau memeluk saya, seraya berucap, “Terima kasih ya, sharing pengalaman Pak Arifin di blognya sangat membantu saya!”

Ada beberapa anggota Subud luar negeri yang segera mengenali saya, karena kefasihan saya berkomunikasi di FB Group Subud Around the World dan For Subud Members Only, serta saya pernah dua kali mengirim artikel ke newsletter dari Subud Zona 3 Eropa.

Setelah mendapat fotokopian formulir itu, saya segera mengisinya. Hambatan belum hilang, karena untuk mengabsahkan kebenaran data yang saya isikan di formulir itu saya harus meminta tanda tangan PPD Cabang Surabaya—Pak Seno Prasodjo—dan Ketua Cabang Surabaya—Mbak Sri Sarmiati. Setelah bertanya ke sekretariat panitia, saya mendapat petunjuk tentang keberadaan Pak Seno (di lokasi pameran foto di Ballroom), dan menyodorkan formulir tersebut. Beliau menolak menandatanganinya karena harus ditandatangani oleh Ketua Cabang terlebih dahulu.

Berdasarkan informasi dari panitia di sekretariat panitia Kongres Nasional, Ketua Cabang Surabaya sedang sibuk di ruang makan, mengurus konsumsi. Terpaksalah saya menunggu lama. Sambil menunggu, dan setelah diselingi dengan merokok di balkon Lantai 10 Grand Empire Palace Hotel, saya melakukan testing: Haruskah saya membuat KTA?”

Saya menerima: “Tidak perlu!” Pasalnya, saya toh telah memiliki “KTA digital” dengan begitu banyaknya anggota, PP dan pengurus dari berbagai daerah di Indonesia dan di luar negeri yang mengenali saya dari aktivitas saya yang demikian tinggi di media sosial. Dengan jawaban itu, saya gumpal kertas formulir tersebut dan menyimpannya untuk sementara di dalam tas selempang saya (karena masih terdapat data pribadi saya di dalamnya; keesokan harinya baru saya sobek kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah).©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 11 Februari 2023


Friday, February 10, 2023

From Empire to “Emperan”



FOR us members of Subud Indonesia, a national congress is a moment that goes beyond mere organizational matters. Indeed, the national congress is considered essential, because it is in this event that the work programs of the national committee and the national helpers dewan are put together, up to the appointment of new regional helpers and new chairpersons of wing bodies who will replace those who have completed their tenure.

The majority of members, however, who deliberately paid a lot of money to be able to attend a congress, treated it a place to stay in touch, to gather to share their longing to meet their distant brothers and sisters. Oddly called “penggembira” (cheerers) by the organizing committee (OC), the term actually refers to “those who come just to have fun with each other, regardless of the true purpose of the event”.

Cheerers usually pay for the cheapest registration package—at the 30th National Congress in Surabaya, East Java, 3 to 5 February 2023, the package was called the Festival Package, with each participant paying 300,000 IDR for three days and only got a name-tag!

Cheerers are usually just excited to attend the opening ceremony. Before the pandemic, Ibu Rahayu was usually present at the opening ceremony, because the congress was held on or close to the birthday of PPK Subud Indonesia, where Ibu would cut the yellow cone-shaped rice and give a little speech.

Reportedly due to Ibu Rahayu’s absence, the number of participants was somewhat reduced. But the enthusiasm remained high, because it was the first time members in large numbers could gather since social restrictions had been greatly relaxed.

This year’s Subud Indonesia National Congress was quite disappointing, especially due to poor coordination among the OC members had cost a number of participants who paid in advance to get rooms in the three hotels provided. The organizing of committee’s, helpers’, and wing bodies’ meetings too was hampered by the committee’s performance which was seen as violating the bylaws of PPK Subud Indonesia.

However, the participants’ anxieties were greatly relieved by what arose outside the congress venue. A joke spread among the participants, that while the official congress was held at a four-star hotel in downtown Surabaya, called the Grand Empire Palace Hotel, the “true congress” was actually held at the “Grand Emperan”. “Emperan” is an Indonesian word for “sidewalk” or “porch”.

Hanging out in coffee shops or street food stalls, sitting cross-legged on mats on the ground or on long wooden benches, members from many parts of the country joined in for the informal, laid-back, boisterous atmosphere—a mix of two-way talks on experiences with the Latihan, chatter filled with jokes followed by bursts of laughter, and sing songs spoofed on Subud themes.

Those moments at the Grand Emperan gave congress participants a distinct and unforgettable impression, which instilled in most of them the belief that this is how the Subud brother- and sisterhood should be.©2023


Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 10 Februari 2023