Thursday, March 28, 2024

Kehadiran Latihan

TANGGAL 25 Maret 2024 lalu, anggota Subud Ipswich, Inggris, Stefan Freedman, memposting pertanyaan berikut (aslinya dalam bahasa Inggris) di Grup Facebook “Subud Around the World”: “Kapan Anda paling sadar akan Latihan di luar Latihan bersama? Apakah ada sesuatu yang secara sadar Anda lakukan yang membantu Anda tetap berhubungan atau mengintegrasikan Latihan ke dalam kehidupan sehari-hari?”

Saya mengomentari postingannya (juga dalam bahasa Inggris) pada 29 Maret, sebagai berikut: “Saya merasakan Latihan kapan saja, bahkan ketika saya tidak ingin merasakannya. Ada kecenderungan pada sebagian besar anggota dan bahkan pembantu pelatih di Indonesia untuk mengotak-ngotakkan mana yang kejiwaan dan mana yang bukan kejiwaan. Ada kotak kejiwaan, dan ada kotak untuk segala urusan akal pikir dan nafsu; seolah di antara mereka ada perbedaan.

“Tetapi tidak demikian bagi saya; pengalaman selama ini menunjukkan ke saya bahwa Latihan selalu hadir dan tetap ada bahkan ketika saya tidak meniatkannya. Dia seakan telah menjadi bagian yang utuh dari diri saya. Latihan, demikian saya rasakan, sudah ada pada diri saya sejak saya dibuka. Pembukaan itu telah mengekalkan kesadaran saya akan hidup di dalam hidup saya.”©2024


Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 29 Maret 2024

Tuesday, March 26, 2024

Bayang-Bayang

Bayang-bayang kita tak pernah bersatu

meski dipendari mentari dari dulu

Aku di sini, kamu di sana

Kugores pena, kutorehkan kata,

bercerita pada batu

tentang rasa pilu

di balik dada yang menyimpan asa

Aku tak berani berkata cinta padamu

karena sejati rasaku melebihi itu...

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 27 Maret 2024

Monday, March 25, 2024

Menyembah Hyang

Cinta tidak harus dengan saling memiliki

Karena rasa cinta itu sendiri

sudah memberi nikmat pengalaman rasa

yang akan larut dalam masa

 

Cinta tidak harus dengan saling mencumbu

Karena rasa yang menggetarkan diri menjadi bumbu

kesukacitaan hidup dua sejoli

yang memadukan hati

 

Cinta tidak harus dengan sentuhan jasmani

Karena mereka yang tahu cinta hakiki

mengerti rasa yang menggetarkan

membuat segalanya menyenangkan

 

Cinta bukanlah antara aku dan kamu semata

Cinta adalah cara Tuhan berkata:

bersatunya jiwa kita yang tankasat mata

adalah sembah kita kepadaNya...

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 25 Maret 2024

Cinta Tak Berencana

Google Maps tak bisa menuntunku

sampai di ruang batinmu

Ku susuri saja jejak-jejak energi

yang terentang kencang di jalur jiwaku pergi

Engkau akan tahu engkaulah yang kurindu

tanpa aku mengumbar kata berjuta suku

Karena bukan kita yang mau,

tapi jiwa-jiwa kita yang berpadu

Tak berencana, tiba-tiba rasa menyatu

Siapa yang salah, kalau begitu?

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 25 Maret 2024

Wednesday, March 20, 2024

Bersepeda Motor ke Bali


KETIKA saya baru pindah ke Surabaya dari kota kelahiran saya, Jakarta, tahun 2000, teman-teman kantor merencanakan untuk memanfaatkan tiga hari libur (karena tanggal merah menjepit satu hari kerja, yaitu Jumat) dengan berlibur ke Bali.

Sebagai orang Jakarta, berlibur ke Bali merupakan sesuatu yang wah, dan karena itu saya belum pernah ke Bali saat itu. Tentu saja, saya menjadi bahan tertawaan rekan-rekan kerja saya yang asal Surabaya dan Sidoarjo. Pasalnya, bagi mereka ke Bali bukanlah kemewahan, karena mereka bisa ke Bali kapan saja mereka mau, dengan menggunakan sepeda motor. Menurut mereka, jarak Surabaya-Bali tergolong “dalam jangkauan”. Satu rekan kerja menyatakan dirinya saat itu sudah 14 kali ke Bali dengan bersepeda motor.

Bagaimanapun, saat itu, kami ke Bali menumpang KA Mutiara Timur ke Stasiun Ketapang (d/h Banyuwangi Baru), lanjut dengan bus yang disediakan PT Kereta Api Indonesia (Persero), yang diseberangkan ke Gilimanuk, Bali, dengan kapal feri. Bus membawa kami hingga “Stasiun Denpasar”, sebuah infrastruktur stasiun kereta api tanpa jalur rel dan keberadaan bakal pelanting (rolling stock).©2024

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 20 Maret 2024

Video: Instagram @arrahman_ari melalui @surabayakabarmetro

Enterprise Bukan Dagang

TIDAK sedikit anggota Subud yang melakukan enterprise seperti yang dianjurkan oleh Bapak. Tetapi wujud enterprise-nya acapkali tak lebih dari sekadar usaha dagang atau bisnis berbasis keuntungan materi belaka. Enterprise yang dimaksud Bapak sejatinya adalah “gerak hidup yang tertuntun Latihan Kejiwaan”. Jika hanya tertuntun/terdorong oleh nafsu ingin cepat untung secara materi (uang), maka sebuah usaha tidak patut disebut enterprise sebagaimana yang dimaksud Bapak.

Dalam pengertian saya, enterprise lebih kepada “isi” pelaku usaha, dan usaha di sini bukan hanya mengacu pada bisnis atau kegiatan berbasis pencarian keuntungan ekonomi. Usaha untuk mendapatkan, misalnya, pacar dapat dikatakan enterprise. Yang penting, ada unsur bimbingan Tuhan atau Latihan Kejiwaan di dalamnya, yang senantiasa menjadi pedoman bagi pelaku dalam menggerakkan usahanya.

Perusahaan saya, misalnya, yaitu PT Asta Nindya atau LI9HT Brand—firma konsultasi dan manajemen komunikasi merek, bukanlah enterprise oleh anggota Subud. Gerak saya dalam menjalankan usaha itu, yang terisi Latihan, adalah yang disebut enterprise. Kerja atau karya saya mendorong pertumbuhan profit, sedangkan bimbingan Tuhan yang selalu menyertai dalam pekerjaan saya mendorong pertumbuhan jiwa.

Jadi, tidak semua usaha berbasis bisnis atau dagang dapat disebut enterprise sebagaimana yang Bapak maksud. Terutama jika si pelaku usaha tidak mengalami penyaksian akan bekerjanya kekuasaan Tuhan dalam menjalankan usahanya, tetapi hanya sekadar menghimpun keuntungan bisnis.©2024

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 20 Maret 2024

Monday, March 11, 2024

Catatan Matthew Cooke: Ceramah Likuran Ramadan 2017 Ibu Rahayu

Catatan: Anggota Subud Amerika Serikat, Matthew Cooke, mencatat beberapa hal penting selama ceramah dan testing dari Ibu Rahayu dalam likuran bulan Ramadan tahun 2017, yang rekaman maupun transkripsinya tidak dirilis oleh World Subud Association (WSA) atas permintaan Ibu sendiri—karena beberapa alasan. Postingan Cooke yang berbahasa Inggris kemudian diterjemahkan oleh Arifin Dwi Slamet.

 

MATTHEW Cooke menulis di Facebook Group “Subud Around the World”, 22 Juni 2017:

Dengan cara biasanya beliau yang ringan dan penuh kasih sayang, dalam testing dan ceramah beliau pada likuran malam ke-27 Ramadan (21 Juni 2017), Ibu Rahayu sangat jelas dalam pesan beliau kepada kita:

Kita secara pribadi bertanggung jawab untuk melakukan upaya yang diperlukan untuk memperbaiki karakter kita. Tuhan tidak akan melakukannya untuk kita. Latihan dua kali seminggu saja tidak cukup.

·       Latihan selalu menyertai kita, siap untuk dipadukan sepenuhnya ke dalam kehidupan kita sehari-hari seperti yang disarankan oleh Bapak kepada kita—tapi kita tidak menyediakan ruang untuk itu.

·       Jika kita benar-benar ingin menjadi orang baik, Tuhan akan membantu kita.

·       Ada kemungkinan bahwa Subud mengikuti jalannya agama-agama besar dunia, di mana hubungan dengan kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa hilang setelah nabi yang menerimanya wafat.

·       Ini mungkin kesempatan terakhir Ibu (secara umum) memberi wejangan kepada kita.

Penekanannya adalah pada tanggung jawab pribadi—memperbaiki perilaku kita sendiri dan benar-benar menerapkan Latihan dalam kehidupan sehari-hari kita.

Pertanyaan-pertanyaan testingnya diajukan dan kenyataan diterima selama beberapa menit sebelum dilanjutkan ke yang berikutnya. Beberapa pertanyaan itu sangat panjang dan luas cakupannya, sebagai berikut:

1. Diterima: Allahu akbar

2. Tunjukkan bukti, kenyataan, dan verifikasi untuk diri Saudara sendiri, apa yang dilakukan Latihan saat Saudara menemukan kesalahan-kesalahan dalam karakter Saudara, dan bagaimana cara kerjanya dalam memperbaiki kondisi, keadaan, dan karakter Saudara?

3. Tunjukkan kenyataan dan buktikan sendiri apa dampak dari puasa Ramadan ini terhadap jiwa leluhur Saudara yang telah meninggal dunia.

4. Tunjukkan, rasakan kenyataan, dan buktikan sendiri apa dampak dari puasa Ramadan terhadap Saudara.©2024

Menjemput Bola

SALAH satu pembantu pelatih (PP) (mantan Subud Surabaya), yang menyaksikan pembukaan saya, kemarin menelepon saya. Ia bercerita tentang obrolannya dengan seorang calon pembantu pelatih. Sang calon PP mengatakan bahwa ia kini sudah pasrah.

Si PP bertanya pada si calon PP, yang juga menyentak kesadaran saya, “Kamu pasrah kepada nasib atau kepada Tuhan?”

Saya jadi teringat pada interaksi saya dengan para “penghayat” (sebutan untuk mereka yang menganut sistem kepercayaan tradisional di Indonesia, yang cenderung sinkretis) di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, beberapa minggu lalu. Walaupun publik awam Indonesia acap menganggap Subud merupakan salah satu dari sistem-sistem kepercayaan tradisional atau turunan darinya, dalam praktiknya terdapat perbedaan yang mendasar.

Di ranah hukum Indonesia, Subud terdaftar di Direktorat Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi yang dinaungi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, tetapi pengurus nasional PPK Subud Indonesia sudah menegaskan kepada direkturnya pada tahun 2009 bahwa anggota Subud menolak digolongkan sebagai “penghayat” dan karena itu tidak akan terlibat dalam segala aktivitas Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI), kecuali sebagai individu.

Dalam wawancara saya dengan para penghayat di Kabupaten Tulungagung terungkap bahwa “ajaran leluhur” yang mereka anut mengharuskan mereka pasrah pada nasib apa pun yang menimpa mereka sebagai ekspresi ketundukan pada kersaning Gusti (Jw. “kehendak Tuhan”). Mereka tidak akan bertindak atau melakukan upaya untuk mengubah nasib jikalau mereka belum mendapatkan wangsit (amanat gaib). Jadi, mereka hanya menunggu saja sampai mereka digerakkan oleh (yang mereka percayai sebagai) Tuhan. Sebagai penghayat, mereka menghayati nasib mereka sampai Tuhan berkehendak lain.

Pembantu pelatih yang mendampingi saya selama wawancara tersebut, yang kebetulan adalah mitra kerja saya, kelak berkata ke saya, “Itulah yang membedakan penghayat dengan kita di Subud. Kita menjemput bola. Karena Tuhan hanya akan bekerja kalau kita bekerja.”©2024

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 12 Maret 2024

Sunday, March 10, 2024

Pembukaan 20 Tahun Lalu


TAK terasa, sudah 20 tahun saja. Usia yang masih sangat muda jika di jalan spiritual, tetapi pengalaman hidup dengan bimbingan Tuhan yang saya peroleh melalui Latihan Kejiwaan Subud membuat usia ini memiliki nilai yang sangat berharga.

Saya dibuka di Wisma Subud Cabang Surabaya, Jl. Manyar Rejo 18-22, Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur, pada 11 Maret 2004, pukul 20.00 WIB, dengan pembantu pelatih (PP) Pak RBS Luwihardjo, Pak Soenardi Soesasmito, Pak Suroso dan Mas Heru Iman Suyudi sebagai saksi.

Pembukaan yang dahsyat, dimana saya terbanting, terbang, terperosok, dan membentur-benturkan kening ke lantai Hall Surabaya yang berkarpet tipis. Pada saat PP yang mendampingi mengucapkan “Allahu akbar”, saya merasa ditarik ke belakang dengan cepat oleh sebuah tangan raksasa. Saya terjerembab dan tak mampu berdiri karena badan saya serasa diinjak oleh kaki gajah. Satu-satunya yang membuat saya berdiri adalah tarikan dari tangan gaib, yang juga melempar saya ke udara tapi membiarkan saya jatuh ke lantai dengan wajah saya lebih dulu.

Sekujur tubuh saya berkeringat, ketika energi besar itu perlahan-lahan menyurut. Dalam posisi tengkurap, saya membuka mata dan melihat Mas Heru sudah duduk di hadapan saya. Ia bertanya, “Apa yang kamu rasakan, To?”

Saya hanya bisa berkata—belum hilang rasa kaget saya, “Apa itu tadi, Mas?” ©2024

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 11 Maret 2024

 

Saturday, March 9, 2024

Latihan Tepi Sawah


TANGGAL 21-27 Februari 2024, saya berada di sebuah kabupaten di provinsi Jawa Timur, bernama Tulungagung, untuk melakukan pekerjaan saya sebagai konsultan kreatif. Bertemu di sana dengan mitra kerja saya yang telah berada di Tulungagung sehari sebelumnya. Mitra kerja saya, seorang praktisi branding, merupakan pembantu pelatih (PP) Subud yang bertahun-tahun lalu membawa saya ke Subud dengan memperkenalkan saya kepada Mas Adji.

Di Tulungagung, saya dengar dari satu anggota Subud Sidoarjo (Jawa Timur) yang berpraktik sebagai dokter spesialis anak di rumah sakit umum daerah Tulungagung, pernah ada cabang Subud beranggotakan lebih dari 50 orang yang sudah punah pada kurun waktu 2003-2005. Beberapa anggota dan PP masih berada di kabupaten itu, tersebar di sejumlah kecamatan.

Karena itulah, di kabupaten yang terletak di sebelah selatan provinsi Jawa Timur, yang pesisir selatannya berbatasan dengan Samudra Hindia, itu kini tidak ada cabang Subudnya, apalagi hall Latihan. Menghadapi kenyataan ini, selama seminggu di Tulungagung, saya yang terbiasa Latihan tiga kali seminggu harus mencari cara lain. Apalagi, urusan pekerjaan telah membuat saya dan mitra kerja saya “kepenuhan”, sehingga membutuhkan pelepasan melalui Latihan.

Setelah mempelajari situasinya pada dua hari pertama kami di Tulungagung—menginap di rumah kawan dari mitra kerja saya, yang seorang penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa namun belum mengerti apa itu Subud, di sebuah dusun yang sunyi, saya dan mitra kerja saya memutuskan untuk Latihan di tepi sawah pada tengah malam. Ya, di alam terbuka!

Kami Latihan tanpa aba-aba dari seorang PP, meski mitra kerja saya itu PP yang pernah bertugas di Subud Cabang Surabaya. Prosesnya cukup ajaib: Sebelum Latihan, kami nongkrong di teras rumah si penghayat itu, ditemani kopi hitam kental dan rokok. Kami mengobrol tentang berbagai aspek kejiwaan dan pengalaman kami berdasarkan hal itu. Tanpa aba-aba, mitra kerja saya lantas berdiri, menuruni tangga teras ke pekarangan rumah yang tidak berpagar, melangkah menuju jalan desa yang sepi dan rada gelap yang berbatasan dengan sepetak sawah, lalu masuk ke dalam keadaan Latihan.

Saya menyusulnya kemudian, juga dengan proses yang sama. Latihan “menyambut saya dengan lengan terbuka” ketika saya menjejakkan kaki di jalan desa. Saya serasa berada di dalam hall raksasa, yang semarak dengan suara jangkrik dan tonggeret serta gemericik air irigasi. Perasaan saya terbebaskan dan selama kurang lebih setengah jam saya melayang dalam kehidupan yang benar-benar milik saya sendiri.

Ketika kami selesai Latihan, ajaibnya jalan desa yang sepi selama kami menerima bimbingan Tuhan kembali dilalui beberapa sepeda motor dan pejalan kaki.

Dua hari setelah pengalaman Latihan di tepi sawah itu, kami dikunjungi dua anggota Subud dari Ranting Wlingi, Blitar, sekitar 40 km di sebelah timur Tulungagung. Mereka juga kami ajak menikmati Latihan di tepi sawah. Saya merasakan kecanggungan mereka, mungkin karena belum terbiasa, mungkin juga karena khawatir terpergok warga desa.

Saya bilang ke mereka, “Kemungkinan besar tidak ada yang berani lewat, karena melihat empat orang menari-nari di tengah jalan di tengah malam mereka bakal mengira kita ini orang gila atau penjahat.”©2024

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 10 Maret 2024