Sunday, March 7, 2021

Mau Menang atau Senang?

MINGGU siang, 7 Maret 2021, usai berlatih kejiwaan di hall Latihan Wisma Subud Bogor, lalu menghabiskan sisa kopi yang baru saya seruput beberapa kali sebelum masuk ke dalam hall untuk Latihan, serta mengisap sebatang rokok sambil mendengar tuturan pengalaman seorang pembantu pelatih bersama dua anggota Subud dari Cilacap (secara administratif tercatat sebagai anggota Cabang Purwokerto) beberapa hari sebelumnya, saya pun meluncur ke kediaman adik kandung saya di Kota Bogor, tidak seberapa jauh dari Wisma Subud Bogor. Maksud saya mendatangi rumahnya adalah untuk mengambil akta kelahiran saya yang entah bagaimana ketelisut di antara dokumen-dokumen resmi milik adik saya.

Perjalanan saya dari Wisma Subud Bogor ke rumah adik saya diiringi hujan lamat-lamat, yang melebat ketika saya hampir sampai di rumah adik saya. Kilat petir juga beberapa kali membelah langit yang terhijab awan mendung tebal. Memasuki ruang tamu rumah adik saya, saya menjumpai kakak saya dan suaminya. Mereka memang sedang berada di Bogor sejak Jumat, melewati akhir pekan dengan menginap di Hotel Salak Heritage dan berjalan-jalan di Kebun Raya Bogor, membuang penat dan jenuh akibat kelamaan work from home.

Sekitar satu setengah jam sejak saya tiba di rumah adik saya, datang pula sepupu saya, yang setiap Sabtu dan Minggu menginap di rumah kakaknya di kawasan Dramaga. Kami semua menikmati siang itu dengan menyantap bakmi ayam yang adik saya pesan secara daring pada sebuah restoran bakmi yang kekinian di Jalan Bangbarung Raya.

Berangkat dari menyantap bakmi ayam itu, mengalirlah obrolan dua ipar dan sepupu saya menyoal rencana suami kakak saya dan satu sepupu saya lainnya di Jakarta untuk merintis usaha mie ayam. Suami kakak saya memang piawai membuat mie ayam yang membuat siapa pun—terutama dari Generasi X (1965-1979) dan Y (1980-1994)—yang memakannya segera teringat pada rasa bakmi ayam legendaris di kompleks Pasar Mayestik, Jakarta.

Saya duduk bersama sepupu dan kedua ipar saya di ruang tamu adik saya, ditemani white coffee, camilan khas Bogor—dongkal dan pais sagu gula jawa, rokok, dan kue-kue berbahan oatmeal, serta ditingkahi hujan yang kadang deras, kadang pelan. Selama obrolan berlangsung, saya lebih banyak diam. Saya masih asik menikmati vibrasi Latihan Kejiwaan yang saya terima beberapa jam sebelumnya di hall Wisma Subud Bogor, tetapi saya juga menyimak obrolan mereka.

Mereka membahas rencana-rencana: tentang pengelolaan uang yang diinvestasi oleh boss dari sepupu saya untuk pembelian bahan-bahan, perlengkapan masak, dan perabotan rumah makan (di sini saya menyela: “Kenapa harus pakai tempat makan? Kan sekarang trennya online... pakai GoFood atau GrabFood aja, biar pelanggan menentukan sendiri mau makan di mana.”), tentang pemasaran dan promosi, tentang bagaimana kalau merugi atau gagal, tentang pembagian hasil, dan lain-lain yang cukup menguras akal pikir mereka. Yang mereka pikirkan adalah hal-hal yang belum terjadi dan belum tentu terjadi. Saya pun merasa pusing, sehingga saya memejamkan mata dan menenangkan diri.

Saat memejamkan mata, saya teringat pada dua saudara Subud saya di Jakarta Selatan yang sukses membangun usaha di bidang kuliner; satu melalui nasi kulit ayam renyah, sedangkan yang lain melalui usaha rumah makan berbasis bakmi, yang sejalan dengan usaha yang tengah direncanakan ipar dan sepupu saya. Saya ingin segera memuntahkan pemikiran saya agar ipar dan sepupu saya berkonsultasi pada kedua saudara Subud itu atau salah satunya. Kalau untuk usaha kuliner berbasis daring bisa pada saudara Subud yang pengusaha nasi kulit ayam, karena jualannya memang hanya mengandalkan pesanan via Gojek atau Grab. Sedangkan kalau mau tahu seluk-beluk usaha bakmi bisa bertanya pada saudara Subud yang berbisnis rumah makan bakmi di Jakarta Selatan.

Tapi saya ditahan dari dalam untuk men-share itu. Kebetulan saya memiliki nomor WhatsApp dari kedua saudara Subud itu dan saya juga cukup akrab dengan mereka, sehingga cukup logislah anggapan saya bahwa mereka akan dengan senang hati mau berbagi pengetahuan dan pengalaman mereka kepada kedua kerabat saya itu. Nyatanya, saya ditahan dari dalam. Saya menerima: “Mereka (kedua kerabat saya) hanya ingin menang (baca: untung), bukan ingin senang. Bukan karena passion, tapi karena silau oleh uang. Beda banget-lah dengan saudara-saudara Subudmu yang merintis usaha mereka lantaran senang masak, senang makan enak, dan karena itu ingin berbagi kesenangan mereka kepada orang lain.”

Ya, saya ingat bagaimana kedua saudara Subud ini tidak pernah merasa rugi untuk berbagi, baik pengetahuan, pengalaman, maupun produk mereka secara gratis kepada orang lain. Mereka senang melakukannya, dan puas bila orang lain senang menerimanya. Saudara Subud yang pengusaha nasi kulit itu beberapa kali mengundang saudara-saudara Subud datang ke tempat usahanya, mentraktir mereka makan nasi kulit, steik, dan menikmati aneka minuman yang dia racik. Tidak tampak sedikit pun dia keberatan untuk memberi dan memberi, sehingga kami yang makan pun merasakan kelezatan yang tak terlupakan dari apa yang ia hidangkan. 

Saudara Subud yang pengusaha rumah makan bakmi ayam itu juga selalu memberi produknya secara gratis kepada saudara-saudara sejiwanya bila ia kebetulan melihat mereka lewat di depan rumah makannya. Satu saudara Subud bercerita ke saya bahwa dia sedang lewat di depan rumah makan bakmi itu, membonceng ojek online, ketika dia dipanggil oleh saudara sejiwanya yang pengusaha bakmi, yang kemudian memberinya empat bungkus bakmi untuknya dan anak istrinya serta untuk si pengemudi OjOL.

Kembali pada suasana obrolan di antara kedua ipar dan sepupu saya. Mereka masih saja berolah pikir. Saat itulah saya memahami mengapa saya ditahan dari dalam untuk menyatakan niat saya mengenalkan kedua kerabat saya pada kedua wirausahawan Subud itu. Mereka pasti akan bengong atau salah tingkah jika mendengar dari kedua saudara Subud itu bahwa resep untuk merintis usaha adalah “Lakukan saja! Kamu akan belajar dalam prosesnya.”

Persis yang selalu dikatakan Yang Mulia Bapak kepada anggota Subud yang meminta nasihat Bapak tentang apa yang harus ia lakukan jika ingin ber-enterprise. Persis seperti itu pula yang saya dan istri lakukan ketika mulai merintis perusahaan konsultan penjenamaan (branding) kami. Ya, karena senang saja. Dengan perasaan senang senantiasa mengisi diri kami, kami pun selalu terbimbing dalam pikiran dan perasaan, perkataan dan perbuatan kami. Dan hasilnya selalu memuaskan secara material, intelektual dan spiritual.©2021


Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 8 Maret 2021