Monday, August 31, 2020

Setelah Setahun

Saya di depan rumah milik sendiri yang saya dapatkan
dengan bimbingan Tuhan Yang Maha Kuasa.


HARI ini, 1 September 2020, genap satu tahun saya sekeluarga menempati rumah milik sendiri di kawasan Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten. Seorang helper Subud Jakarta Selatan berseloroh ke saya, ketika rumah itu tengah dibangun, “Kamu curang! Orang lain beli rumah dengan usaha sendiri, kamu malah mendapatkannya dengan bimbingan Tuhan.”

Rumah saya ini mungil tapi cukup besar untuk keluarga kecil saya, menyediakan ruang cukup luas untuk Nuansa tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang nyaman. Untuk mendapatkannya, saya dan istri harus melalui proses panjang dan cukup rumit, bermula dari “penerimaan” saya tahun 2018 bahwa saya dan istri harus mulai mencari rumah yang kami miliki sendiri—bukan kontrakan atau rumah peninggalan orang tua kami.

Semula, pilihan kami jatuh pada sebuah rumah Tipe 97 di sebuah klaster baru di kawasan Sawangan, Depok, Jawa Barat. Namun, seberapa pun gigihnya kami berjuang mendapatkan rumah tersebut melalui fasilitas kredit pemilikan rumah (KPR) dari masing-masing dari delapan bank negara dan swasta nasional yang bekerja sama dengan pengembang, selalu jalan buntu yang kami hadapi. Para eksekutif pemasaran yang bekerja untuk pengembang tampaknya tidak membantu kami secara maksimal—belakangan, kami tahu bahwa mereka pegawai tetap dengan gaji bulanan, sehingga bekerja santai, tidak mau mencurahkan energi buat membantu calon pembeli.

Saya nyaris putus asa, tapi kemudian “mendengar” suara diri sendiri agar jangan menyerah, tapi berserah dengan sabar, tawakal, dan ikhlas. Hal itu saya dan istri lakukan. Satu per satu, dinding-dinding yang menghalangi jalan kami mulai roboh, dan terbuka jalan lurus ke arah yang kami harapkan. Entah dapat nomor istri saya dari mana, seorang agen pemasaran perumahan lepas (freelance) mengirim pesan WhatsApp ke istri saya, menawarkan rumah di satu klaster di Cinere. Kami pun menemuinya dan bersamanya meluncur ke lokasi klaster yang sedang dalam tahap pembangunan itu.

Rumahnya asik, berlantai satu, tapi jalan menuju ke lokasi seperti labirin dengan banyak belokan, yang tidak dapat saya hapal dengan mudah. Istri pun sepikiran dengan saya, sehingga ia bertanya kepada si agen pemasaran, apakah ada pilihan lain. Si agen berpikir lama, lalu berkata, “Ada satu klaster yang juga lagi dibangun, Bu. Satu rumah sudah selesai dan sudah ditempati. Ibu dan Bapak bisa lihat lokasinya sekarang, kalau mau.”

Tentu saja kami mau. Kami sudah “kebelet” ingin pindah ke rumah milik sendiri di akhir tahun 2018 atau awal tahun 2019. Selain itu, sewa rumah kontrakan kami di Kalibata Selatan II, Jakarta Selatan, sudah berakhir akhir Juni 2018, tetapi pemiliknya memberi kami batas maksimal hingga akhir Januari 2019. Memiliki rumah sendiri didasari keinginan kami untuk menetap tanpa diusik pemikiran untuk mencari rumah kontrakan lain selama jangka waktu tertentu, untuk kemudian pindah lagi. Hal itu cukup merepotkan! Si agen pun menuntun kami ke kawasan Pondok Cabe, dekat area Lapangan Terbang Pelita Air Service, yang begitu familiar bagi saya. Sebuah lokasi di belakang perumahan penduduk asli Jalan Pondok Cabe III sedang dikembangkan menjadi sebuah klaster yang terdiri dari tujuh rumah (saya lantas mengaitkannya dengan tujuh lingkaran lambang Subud dan tujuh sebagai angka keramat dalam tradisi spiritual universal).

Entah mengapa atau apa, saya dan istri segera merasakan aura atau energi positif bahwa di klaster itulah kami akan membangun rumah milik sendiri. Di tengah proyek konstruksi yang masih berantakan, dan belum memberi gambaran jelas tentang bagaimana lingkungan hunian tersebut jadinya, kami bisa melihat secara gaib bentuknya. Hal itu memberi kami kepastian yang kuat untuk segera mengurus dokumennya, mengajukan permohonan KPR kepada Bank BTN, dibantu oleh si agen yang mau berjuang untuk itu. Teriring keterkejutan kami, kurang sebulan kemudian, si agen menginformasikan bahwa Bank BTN setuju untuk memberi kami KPR. Puji Tuhan!

Selama proses pembangunannya berjalan, saya bersama istri dan Nuansa menunggu dengan sukacita di sebuah rumah kontrakan mungil di Jalan Pondok Cabe III juga, hanya berjarak sekitar 200 meter dari lokasi klaster tersebut. Selama proses pembangunan, secara berkala saya dan istri meninjau lokasi. Berbeda dengan para pembeli lainnya, kami diperlakukan istimewa oleh pengembang. Pengembang memberi kami kebebasan untuk mengarahkannya tentang bagaimana bentuk fasad dan interior rumah idaman kami, suatu privilese yang tidak ia berikan kepada para pembeli lainnya, meskipun mereka membelinya secara tunai.

Kami juga mendengar cerita-cerita ajaib dari para kuli bangunan yang mengerjakan konstruksi rumah kami dan lima rumah lainnya di klaster itu. Mereka merasa suasana sejuk dan nyaman di rumah itu, meskipun belum selesai pembangunannya, sehingga para kuli itu selalu tidur di bangunan rumah yang akan menjadi milik kami. Mungkin itu pula yang dirasakan si helper Subud yang berseloroh ke saya tadi: Rumah kami diberkatiNya!

Pada 1 September 2019, sedari pagi istri saya sudah sibuk mengatur pindahan barang-barang kami ke rumah yang baru. Satu truk berukuran besar memboyong perabotan kami dari rumah kontrakan di Pondok Cabe III serta sebagian lagi dari rumah orang tua saya di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, yang saya titipi barang yang tidak muat di rumah kontrakan baru kami di Pondok Cabe III. Sedari pagi, saya telah membawa Nuansa ke rumah baru kami. Menginjakkan kaki pertama kali di lantai ruang tamu rumah tersebut, Nuansa berseru, “Ini lumah Nuanta, Papoy!”

Saya menahan haru mendengar ucapan putri kecil saya itu. Saya pernah bertekad dan mohon pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa agar saya dapat memberikan yang terbaik kepada Nuansa yang Ia titipi ke kami.

Ajaibnya, pada waktu saya dan Nuansa baru menjejakkan kaki di rumah baru kami, satu helper dari Subud Cabang Pati menelepon saya, menanyakan kabar dan saya sedang apa. Saya ceritakan bahwa saya sedang pindahan rumah. Pesan si helper, agar saya rutin melakukan Latihan Kejiwaan di rumah tersebut, karena menurut rasanya, rumah baru kami itu merupakan wujud kemurahan Tuhan atas diri kami. Setelah setahun, saya dapat memastikan bahwa ucapan si helper benar adanya.©2020


Tangerang Selatan, 1 September 2020

Sunday, August 23, 2020

Terpapar Sinar Matahari yang Sejuk



HARI Sabtu, 22 Agustus 2020, saya bersepeda motor sendirian ke Bogor, ke rumah adik saya di Bumi Indraprasta II. Saya ke sana untuk membantu adik membereskan koleksi buku anak-anaknya, dan untuk mengambil buku-buku bacaan kanak-kanak bekas pakai anak-anaknya yang diserahkan adik saya ke Nuansa.

Bukan hanya membersihkan lemari buku tersebut yang telah berdebu, saya juga mengelap satu per satu bukunya yang juga telah berselimut debu, dengan tisu basah. Saya mengerjakannya di bagian atap rumah adik saya yang datar. Mulai bekerja sejak jam 9.00, matahari yang perlahan meninggi membuat suasana di atap itu panas; saya sekalian berjemur, yang telah menjadi kebiasaan banyak orang sejak pandemi COVID-19 merebak.

Ajaibnya, keringat saya tidak deras dan badan saya berasa sejuk. Sinar matahari yang mengenai anggota badan saya yang terbuka juga tidak berasa panas. Yang saya rasa cukup aneh adalah kenyataan bahwa saya menikmati benar momen itu. Perasaan sukacita meruyak, membuat saya tak lelah sedikit pun saat bekerja. Saya juga mendendangkan sejumlah lagu lokal maupun internasional, yang dalam keadaan “biasa” saya tidak bisa melagukannya, bahkan tidak tahu liriknya.

Salah satu lagu yang saya dendangkan sambil bekerja adalah Looking Through the Eyes of Love yang dipopulerkan Melissa Manchester untuk soundtrack film Ice Castles (1978).

Please, don’t let this feeling end
It might not come again
And I want to remember
How it feels to touch you
How I feel so much since I found you
Looking through the eyes of love...”

Adik saya, yang mendengarkan sambil lalu, merasa janggal mendengar saya menyanyikan lagu tersebut, karena lagu itu menurutnya bukan jenis yang saya suka.

Why are you singing that song?” tanya adik saya sambil menerima buku-buku yang telah saya lap bersih.

Why not?” jawab saya.

Well, that’s not your kind of song, as far as I know,” kata adik saya. Kami memang kerap berdialog dalam bahasa Inggris atau Belanda.

Says who?" kata saya. Tapi saya membenarkan anggapan adik saya. Lagu itu keluar begitu saja dari mulut saya, jadi saya kemudian bilang ke adik saya, “Keluar begitu saja dari dalam saya, jadi ya saya nyanyiin.”

By the way, kamu nggak kepanasan? Kamu kok juga nggak keringetan?” tanya adik saya kemudian. Saya juga merasa aneh, pasalnya saya terpapar sinar matahari yang terik, tapi badan saya terasa sejuk. Saat itulah, saya tersadar, saya menerima Latihan Kejiwaan. Pantas saja, kerjanya terasa asik, sejuk dan penuh inspirasi.©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 24 Agustus 2020

Tuesday, August 4, 2020

106

Pintu Ruang 106 Wisma Indonesia



Fasad rumah bernomor 106 di Jl. Margodadi III Surabaya



HAMPIR dua bulan belakangan ini, saya melakukan Latihan Kejiwaan bersama 11 saudara sejiwa di Wisma Indonesia Ruang 106, kompleks Wisma Subud Cilandak, Jl. RS Fatmawati No. 52, Jakarta Selatan (dibagi dua-tiga shift). Sebuah ruangan berukuran 6 x 7 meter—tidak sebesar dan seluas Hall Latihan Cilandak yang mampu menampung +500 orang. Tapi kami berdua belas menggunakannya (dan merawat serta melakukan perbaikan-perbaikan fisik dengan dana yang disumbangkan oleh salah satu dari kami), karena hingga kini Hall Latihan ditutup dengan alasan protokol anti Covid-19.

Ajaibnya, meskipun tidak luas, masing-masing dari kami merasakan energi kuat yang dipancarkan ruangan tersebut, entah karena apa. Ajaibnya lagi, nomor ruangannya—106—sama dengan nomor rumah di Jl. Margodadi III, Surabaya, yang pernah saya sewa sebagai tempat tinggal saya dan istri dari tahun 2004 hingga 2006, dan sekarang telah bertransformasi menjadi tempat Latihan Kejiwaan dari Kelompok Subud Surabaya Barat, yang juga memberi rasa akan energi kuat yang menenteramkan.

Ada apa di balik angka 106? Saya tidak tahu. Satu saudara Subud yang juga aktif berlatih kejiwaan di R. 106 Wisma Indonesia secara bercanda menjawab: “1+0+6 = 7... melambangkan tujuh lapis langit dan tujuh lingkaran lambang Subud.”©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 4 Agustus 2020