Tuesday, April 18, 2023

A Lesson on Total Surrender

ON the fourth Night of Power in the Ramadan month of 2023, I attended a kejiwaan gathering at Wisma Indonesia, within the Wisma Subud Cilandak compound. Kejiwaan gatherings have been held since the first Night of Power, last April 11, and I attended all of them.

At the kejiwaan gathering of April 17 (which lasted until predawn, April 18), I shared my experience about total surrender, after Area 1 International Helper Suryadi Sumohadiwidjojo told us about the time he explained to a member from Brazil who had no idea what surrender is. Suryadi explained to him in an analogy: Imagine yourself in a speeding car, suddenly there is a wall in front of you. You just can’t think or do anything. The only thing left is to surrender.

Exactly like the analogy told by Suryadi, that was what I experienced on Saturday morning, April 15. After dropping my daughter off at her school, I rode my motorbike at normal speed, heading back home. On one road, suddenly my consciousness “moved” to another realm, the scenery of which was foreign to me. That, I felt, was short-lived, and by the time I got back to reality, my motorbike was already traveling at high speed, while five meters ahead of me another motorbike was about to cross the road. It was too late for me to hit the brakes!

It was then, I felt all thoughts and nafsus disappear; I felt myself empty, as if my life had been taken away. No panic nor fear. The collision was inevitable. I bounced into the air, but felt comfortable like floating in the clouds. And fell on top of the person whose motorbike I hit and who was crushed by her own motorbike.

With the help of two eyewitnesses, I was able to stand up. Not only did I feel no pain, but my body was intact, unharmed in the slightest. Not even a scratch. My motorbike also only had minor damage. What was most miraculous, for me, was my feeling of indescribable joy!

After finishing business with the person whose motorbike I hit, I went home, still feeling joyful, and my inner kept on chanting “God, God, God!”

When my wife guessed that I probably fell asleep while riding my motorbike, I jokingly said, “No. It seems like Lailatul Qadar fell on my head and momentarily blinded my eyes.”©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 18 April 2023

Friday, April 14, 2023

Laku Prihatin

PADA likuran malam ke-23 Ramadan 1444 H., yang jatuh pada hari Kamis, 13 April 2023, diadakan sarasehan kejiwaan di Pendopo Wisma Indonesia, di Wisma Subud Cilandak, Jl. RS Fatmawati No. 52, Jakarta Selatan. Temanya masih sama, yaitu tentang manfaat puasa, tetapi pada malam ini tekanannya adalah pada laku prihatin.

Semua hadirin sepakat bahwa puasa merepresentasi laku prihatin dalam pengertian “membatasi diri dari segala kesenangan atau kenikmatan duniawi”. Saya pribadi sebenarnya tidak setuju jika prihatin diletakkan dalam konteks itu. Berbeda dengan arti “prihatin” versi Kamus Besar Bahasa Indonesia, yaitu (1) “bersedih hati, waswas, bimbang (karena usahanya gagal, mendapat kesulitan, mengingat akan nasibnya, dan sebagainya)” dan (2) “menahan diri”, kata itu dalam bahasa Jawa mengacu pada “hidup dalam kesederhanaan” serta “hati-hati” (mawas diri).

Di tengah ramainya pelontaran pendapat saat sarasehan kejiwaan itu, saya, yang lebih banyak MLM (merem, lerem, marem), menerima pemahaman bahwa secara etimologis (asal-usul pembentukan kata), kata “perhatian” dalam Bahasa Indonesia adalah ekuivalen dari “prihatin”, atau, sebaliknya, bahwa asal kata “prihatin” adalah “perhatian”.

Dalam tradisi Buddhisme, “perhatian penuh” (mindfulness) adalah landasan dari semadi/meditasi, untuk membiasakan kita hidup di saat ini secara sadar. Dengan kesadaran, apa pun yang kita lakukan selalu disertai mawas diri, agar pikiran dan perasaan, perkataan dan perbuatan kita tidak melebihi kapasitas. Dengan begitu, kita dimampukan secara spontan untuk membatasi diri dari kesenangan duniawi tanpa merasa terbebani, malah justru daya nikmatnya bertambah besar dan langgeng.

Menurut apa yang pernah dan sering saya alami, makan makanan dengan kesadaran (atau dengan “perhatian”) akan memberi kita rasa lezat tiada tara, dibandingkan bila kita makan tanpa perhatian sama sekali. Tanpa perhatian yang menumbuhkan kesadaran, makanan hanya lewat mulut kita begitu saja, masuk ke pencernaan, tanpa sensasi yang berkesan kuat. Dengan perhatian, sebaliknya, makanan kita “surgakan” melalui proses memakannya, menghasilkan rasa lezat yang sangat kuat.

Jadi, dalam konteks tulisan ini, “laku prihatin” membentuk kondisi pembatasan diri dari kesenangan duniawi yang dengan itu kita memperoleh kenikmatan surgawi. Saya rasa, karena itu, puasa sejatinya adalah cara Alam membawa kita kepada kebahagiaan yang hakiki dalam menjalani hidup di dunia ini.©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 14 April 2023

Monday, April 3, 2023

Bebas Paradigma

BERULANG kali saya tekankan pada sejumlah saudara Subud saya, jangan gunakan paradigma agama untuk mengerti tema-tema Subud, karena pasti tidak nyambung, meskipun tampaknya relevan. Tuhan dan ketuhanan bukanlah monopoli agama, meskipun sebagian besar dari kita belajar mengenal Tuhan melalui ajaran agama.

Agama sendiri lahir dari pengalaman indrawi seseorang yang membuatnya istimewa hingga orang lain ingin memperoleh atau meraih hal yang sama. Pengalaman tersebut lantas dituangkan menjadi serangkaian teori yang dijadikan pedoman bagi siapa pun yang ingin mendekati Tuhan, sedangkan Tuhan tidak bisa dijangkau dengan teori.

Sekuens historis semacam ini juga dilakukan oleh tarekat-tarekat berbasis tasawuf. Tarekat Qadiriyyah misalnya, selama ini dianggap didirikan oleh Syekh Abd’ al-Qadir al Jilani, padahal bukan. Tarekat itu didirikan oleh pengikutnya setelah sang Syekh wafat, karena pengikutnya ingin melestarikan ajaran-ajaran sang Syekh serta sebagai sarana mempelajari dan melatih amalan-amalan al-Jilani yang menjadikannya istimewa.

Untuk bisa sintas di Subud, yang paling utama adalah membebaskan diri dari paradigma apa pun. Dengan pikiran penuh paradigma-paradigma sebelumnya akan menjadikan Anda ibarat cangkir penuh air yang berharap diisi dengan air yang lebih jernih--tindakan itu hanya akan membuat airnya meluber ke mana-mana, terbuang percuma.

Paradigma adalah cara pandang orang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir, bersikap, dan bertingkah laku. Paradigma juga dapat berarti seperangkat asumsi, konsep, nilai, dan praktik yang diterapkan dalam memandang realitas dalam sebuah komunitas yang sama.

Contoh sederhana dan paling akrab dengan kehidupan kita adalah ketika orang dari budaya A menilai budaya B sebagai buruk, karena orang dari budaya A belum pernah mencicipi apalagi menyelami budaya B. Baru-baru ini, seorang anggota wanita dari Subud Kanada mengkritisi seorang pembantu pelatih di Surabaya yang dalam cerita yang saya tulis di Facebook Group Subud Around the World secara spontan menyebut "watch porn, or whatever" (tontonlah film porno, atau apa pun). Itu ucapan spontan yang dilatari budaya Arek Suroboyo yang blak-blakan, apa adanya, walaupun bukan begitu maksud sebenarnya. Lagipula itu obrolan santai, bukan konsultasi serius seorang anggota (saya) kepada pembantu pelatih.

Apa pun alasannya, si anggota Kanada tidak dapat menerimanya. Ya, begitulah bila Anda memandang budaya orang lain dengan paradigma budaya Anda--sulit tercapai kata sepakat!

Paradigma bersifat semu, dan hanya sangat sedikit membantu kita untuk memahami diri sendiri, orang lain maupun korelasi diri kita dengan orang lain. Paradigma hanya menghambat kita dari melampaui batas ruang dan waktu, sedangkan eksistensi Pencipta kita tidak terbatas ruang dan waktu. Ia malah dikungkung oleh paradigma agama, menurut pengertian-pengertian akal manusia.

Untuk dapat menerima bimbingan Latihan Kejiwaan, diri kita harus lepas dari paradigma. Kita harus menerima apa pun yang datang ke kita, sekala maupun niskala, dengan sabar, tawakal dan ikhlas serta berani. Berani untuk menyingkirkan paradigma.@2023


Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 2 April 2023

Saturday, April 1, 2023

Let the Problem Solve Its Own Problem

AFTER today’s (2 April 2023) suhoor (Ramadan’s pre-dawn meal), before going back to sleep, I joined a chat on one of Subud Indonesia’s WhatsApp groups. There was one member being teased by other members after he confided in a serious problem. I shared my experience with him, which I meant as a serious input, but as it seemed like a joke, I myself wanted to laugh out loud when I re-read what I shared.

So, here’s the story... (I wrote it here exactly what I posted on the WhatsApp group but in English.)

When I was just opened, many years ago, I went to the house of a helper in Surabaya, East Java, to talk about my particular problem, which I felt was so burdensome that it put me under pressure. The helper laughed the whole time I was telling him about my problem. Seeing the way he was behaving, I really wanted to punch him, but I held myself back; apart from the fact that the helper was much older than me, I had also just been opened.

Helper: “Well, why do you have to face that problem? If it comes, you just leave it!”

Me: “Doesn’t that mean I’m running away from reality?”

Helper: “Why do you have to run? That’s really tiring! You just sit back and relax, watch porn or whatever. Problems will eventually get tired and bored of themselves approaching you, if you don’t respond.”

At that time, I thought, yes that’s right! I even made fun of myself: Only an idiot would face a problem and then succumb to it.

In my further journey in life, after listening to the light and funny advice from the helper, I often just let it go when problems come, and witness how the problem “resolves itself”.

Responding to my post on the WhatsApp group, a Subud brother shared a snippet of Bapak’s talk which is something like this: “If your surrender really seeps into all of your inner feeling, any big problem will disappear, like a drop of dew in the sun.”©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 2 April 2023