Friday, November 22, 2019

Bersabar dalam Bertindak


SATU hal yang saya petik dari pengalaman Latihan Kejiwaan Subud adalah bahwa saya (dan semua anggota Subud) harus senantiasa merasakan diri sebelum berpikir dan berperasaan, berkata dan berbuat. Bagi orang yang belum menerima Latihan Kejiwaan, hal ini dipandang sebagai suatu sikap pasif yang menggemaskan—mereka inginnya cepat, inginnya segera melakukan apa harus dilakukan. Tetapi, dalam kejiwaan, percepatan proses hanya menghasilkan celaka.

Saya memiliki pengalaman terkait bersabar dalam bertindak. Ini bukan satu-satunya, tetapi banyak pengalaman sejenis, tetapi yang akan saya ceritakan ini cukup “ajaib”.

Pada 17 Juli 2019 lalu, seorang yunior saya di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia, yang kini menjadi dosen di almamater kami, minta satu eksemplar buku meja kopi (coffee-table book) Citeureup: Menapak Masa Lalu, Menata Masa Kini, Menatap Masa Depan (2015) yang digarap LI9HT Brand—The IDEAS Company atas pesanan dari Departemen CSR PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk., dalam rangka ulang tahun ke-40 perusahaan produsen semen terbesar di Indonesia itu. Dia melihat foto buku tersebut di akun Instagram saya dan tertarik untuk memilikinya.

Dia minta saya mengirimkan buku tersebut ke rumahnya di Kompleks Universitas Indonesia, Daksinapati, Rawamangun, Jakarta Timur, dan mentransfer uang senilai Rp50.000 pada 6 Agustus 2019 untuk ongkos GoSend. Anehnya, saya kok tidak tergerak sama sekali untuk segera bertindak mengirimkan buku tersebut dengan menggunakan jasa GoSend. Bukunya sudah saya siapkan, tapi greget atau dorongan tidak ada untuk melakukan hal yang relatif mudah tersebut. Istri saya sampai heran, mengapa saya kok menunda-nunda pengiriman buku tersebut, sedangkan ongkos kirim sudah ditransfer. Saya tidak mengerti mengapa begitu.

Pada suatu Kamis malam di Teras Timur Hall Latihan Subud Cilandak, di Kompleks Wisma Subud Cilandak, Jl. RS Fatmawati No. 52, Jakarta Selatan, saya pun menceritakan perihal penundaan pengiriman buku kepada seseorang yang sudah memesannya dan bahkan mengirimkan ongkos kirim buku tersebut ke rekening saya. Saya menceritakannya kepada seorang helper, seorang Amerika yang sudah sejak 1968 tinggal di Indonesia. Beliau mengatakan bahwa beliau juga memiliki pengalaman yang mirip dengan apa yang saya alami. Beliau bahkan lebih aneh bin nyeleneh: Email dari seorang relasi yang seharusnya dapat segera beliau balas, malah tertunda sampai tiga hari.

Lantaran merasa tidak enak terhadap yunior saya itu, saya mengirim pesan WhatsApp ke dia, beralasan bahwa saking sibuknya saya belum sempat mengirimkan buku tersebut. Alasan itu sebenarnya konyol; apa sih susahnya mengirim buku lewat GoSend?

Suatu hari, tanggal 11 November 2019, tiada angin tiada hujan, saya terbangun pagi sekitar pukul 06.00 WIB, dengan “mendengar” pemberitahuan dari dalam, bahwa hari itu saatnyalah saya harus mengirim buku tersebut. Saya pun segera mengerjakan prosesnya: Membungkus buku tersebut dalam paperbag, memesan GoSend—yang datang lima menit kemudian tepat di depan rumah saya, membayar Rp80.000 untuk jasa GoSend (saya lebihkan sedikit; seharusnya Rp74.000). Segera setelah pemotor GoSend-nya berlalu dari depan rumah saya, saya WA yunior saya itu dengan berita bahwa buku pesanannya sudah meluncur ke rumah dia.

Saya masih bertanya-tanya, mengapa harus menunggu sekian lama hanya untuk melakukan sesuatu yang seharusnya mudah. Beberapa saat kemudian, saya memeriksa akun Facebook saya. Sebuah notifikasi muncul, mengabari saya bahwa yunior saya itu hari itu berulang tahun! Apakah Tuhan menghendaki buku tersebut saya kirim sebagai sebentuk kado ulang tahun buat yunior saya, saya tidak tahu. Yang jelas, bersabar dalam bertindak memberi keuntungan bagi saya.©2019


GPR 3, Jl. Pondok Cabe III, Tangerang Selatan, 22 November 2019

Wednesday, November 20, 2019

Wakil yang Mewakilkan



SIANG hari, pada 16 November 2019, saya menjalankan peran sebagai wakil keluarga dalam acara lamaran keponakan saya (perempuan). Saya ngomong dengan sangat lancar, berasa terbimbing, sehingga apa pun yang terucap dari mulut saya tanpa dipikirkan dan direncanakan. Saya mewakilkan semua kekhawatiran atau kekikukan saya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Beberapa hari hingga beberapa jam sebelumnya, saya di-briefing oleh keponakan itu dan sepupu-sepupu saya (adik-adik dari ibunya keponakan saya) untuk mengantisipasi pertanyaan dari calon besan mengenai ayah dari keponakan saya. Keponakan itu sudah ditinggal ayahnya sejak ia masih dalam kandungan. Ditinggal pergi, bukan ditinggal mati. Hal itu, menurut sepupu-sepupu saya suatu aib yang sebaiknya ditutupi.

Tapi saya jawab dengan tenang, “Kalian jangan khawatir, serahkan pada Tuhan aja. Kalau saya nggak mau memikirkan apalagi takut pada sesuatu yang belum terjadi. Santai aja ya. Saya yakin hal itu nggak jadi masalah bagi calon besan. Saya percaya apa yang saya yakini.”

Begitu rombongan calon besan (sepuluh orang) tiba di rumah sepupu saya, saya sambut di depan pagar rumah sepupu saya dan saya iringi hingga ruang tamu, di mana kami duduk lesehan. Mulailah saya memberi sambutan.

Gila benar! Saya sendiri tidak nyangka bisa ngomong dengan kata-kata bijak, yang lancar, dan sering memancing tawa dari para tetamu, karena niat saya ingin membuat tamu merasa nyaman dan diterima. Dan yang ditakutkan tidak pernah terjadi. Saya yakin itu bimbingan Latihan Kejiwaan. Saya tidak memegang catatan, bahkan nama lengkap calon besan dan calon suami keponakan saya saya sebutkan tanpa sebelumnya saya hapalkan.

Giliran wakil keluarga pihak calon besan (yang jauh lebih tua dari saya) memberi sambutan, dia mengeluarkan secarik kertas berisi catatan tentang apa saja yang mesti dia sampaikan. Bukan lancar ngomong-nya, malah terbata-bata, dijedai berpikir.

Puji Tuhan, terima kasih Bapak. Latihan Kejiwaan memang mantul!©2019


Pamulang Timur, Tangerang Selatan, 16 November 2019

Thursday, November 14, 2019

Suara yang Terbimbing


LI9HT Brand saat ini sedang menggarap sebuah video presentation untuk ditayangkan dalam acara reuni akbar TFI (asosiasi alumni Technische Hogeschool te Bandoeng (THS) dan Institut Teknologi Bandung) di Penang, Malaysia, pada bulan Juli tahun 2020. Saya yang membuat script video presentation berdurasi 10 menit itu, dengan voice-over (suara latar) berbahasa Inggris dan sedikit sisipan kata-kata bahasa Belanda.

Sudah empat pengisi suara profesional (tiga di antaranya penyiar radio) tepar, tidak sanggup dan mundur—padahal mereka dibayar, bukan gratisan. Terpaksalah saya sendiri yang jadi pengisi suara latarnya.

Saya sebenarnya ragu, karena suara saya sumbang dan belum biasa berbicara di depan mikropon untuk pengisian suara. Tapi saya teringat pada suatu hari Minggu siang, tiga minggu lalu di Teras Timur Hall Cilandak, ketika saya mengobrol dengan Mas Rusli Arsjik, pembantu pelatih Subud Ranting Pasarminggu, Jakarta Selatan. Dia bercerita tentang pengalamannya mendengarkan suara tiap orang yang berlatih kejiwaan. Mas Rusli memiliki kemampuan mengenali segera suatu suara milik siapa, dan menurut dia, suara si A dalam Latihan sama dengan suara si A di luar Latihan.

Tapi menurut Mas Rusli, dia tidak pernah berhasil mengenali suara saya. Kata dia, suara saya di luar Latihan dan saat Latihan sama sekali berbeda. Dia pernah mendengar suara saya mengumandangkan azan saat Latihan dan dia bertanya-tanya karena tidak mengenalinya. Ketika dia selesai Latihan dan melihat sendiri bahwa sayalah yang mengumandangkan azan tersebut, dia membatin, “Ooh, Mas Arifin. Kok beda ya dengan di luar Latihan?”

Dengan ingatan akan hal itu, saya akhirnya melakukan Latihan Kejiwaan semalam selama +10 menit, dan kemudian, dengan masih merasakan vibrasi Latihan, saya merekam suara saya yang membaca teks suara latar video presentation tersebut, dengan menggunakan Voice Recorder pada smartphone saya. Hasilnya saya kirim ke produsernya, yang mengatakan, “Oke nih, Mas Anto. Suara siapa ya? Biar nanti di-take ulang di studio.”©2019



GPR Pondok Cabe III, Tangerang Selatan, 12 November 2019

Tuesday, November 5, 2019

Satu Ceramah, Seribu Makna


“...Ketika kita membaca ceramah Bapak, sepertinya kita hanya membacanya. Tapi, kadang kita tidak mengerti. Itulah sifat dari ceramah-ceramah tersebut. Ketika saudara membaca ceramah sebelum di dalam diri saudara cukup kuat untuk mengerti, ceramah itu tampaknya tidak jelas arahnya—saudara kira saudara sedang membaca buku yang biasa.”
—Ceramah Ibu Rahayu kepada anggota di Kongres Nasional,
Rungan Sari, Kalimantan Tengah, 21 Februrari 2013—13 TKL 1
                                                                

SUATU ketika di tahun 2004, saya membaca ceramah Bapak Subuh di majalah khusus untuk anggota Subud, Aneka Subud, di teras Wisma Subud Surabaya, Jl. Manyar Rejo 18-22, Surabaya Timur. Saat membacanya, saya menggunakan stabilo warna kuning untuk menyorot bagian-bagian yang saya anggap penting. Seorang pembantu pelatih (helper) yang menyaksikan kelakuan saya berkomentar: “Mas, sepuluh tahun dari sekarang, saya yakin semua isi Aneka Subud itu kuning semua sampeyan stabilo.”

Saya kemudian mendapat kepahaman, ceramah yang sama memberi makna-makna atau manfaat-manfaat yang berbeda seiring berkembangnya pengertian kita sejalan dengan Latihan Kejiwaan yang kita lakukan dengan tekun. Kepahaman yang saya dapat bertahun-tahun setelah insiden di teras Wisma Subud Surabaya itu, membuat saya tertawa ngakak dan sepakat dengan komentar si pembantu pelatih.

Dahulu, saya juga suka mencibiri saudara-saudara Subud yang membaca ceramah Bapak Subuh dan Ibu Rahayu, sebagai sesuatu yang kurang ada gunanya. Saya baru mulai tekun membaca ceramah tahun 2013, setelah mengalami kejadian yang sangat tidak enak dan—atas saran dari pembantu pelatih saya di Surabaya—solusi “penyembuhannya” ada di ceramah, yang untuk itu beliau mengkopikan 60,4 gigabyte ceramah Bapak Subuh dalam bentuk video, audio, dan transkripnya dari laptop beliau ke external harddisk saya. “Baca ceramahnya ya, dan temukan rahasianya di situ,” ujar pembantu pelatih tersebut.

“Rahasianya apa, Pak?” tanya saya.

“Cari sendiri! Saya sudah temukan rahasianya... yang memang untuk saya. Untuk Mas Anto beda lagi. Untuk setiap orang berbeda-beda rahasianya,” kata beliau.

Saya pun mulai tekun membaca atau mendengar ceramah Bapak Subuh, hampir setiap hari. Speaker luar MacBook Pro saya sampai jebol karena mendengarkan audio rekaman ceramah Bapak Subuh keras-keras.

Walaupun kekecewaan dan sakit hati saya pasca kejadian pahit 2013 berhasil disembuhkan oleh rahasia yang saya temukan dalam ceramah-ceramah tersebut, saya tetap suka membaca ceramah Bapak Subuh (dan Ibu Rahayu). Karena rupanya ceramah adalah “media” untuk mengetahui sampai di mana Latihan Kejiwaan kita telah berkembang. Bukan cuma melalui penjelasan Bapak Subuh, tapi lewat pemahaman kita sendiri terhadap muatan ceramah tersebut.©2019


GPR Pondok Cabe III, Tangerang Selatan, 3 November 2019

Sifat Asli


SEKITAR 20 tahun lalu, saya ikut workshop tentang Perilaku Konsumen (consumer behavior) di biro iklan tempat saya bekerja sebagai copywriter. Menurut hukum perilaku konsumen, periklanan (advertising) dapat diberdayakan untuk mengubah sikap dan perilaku, tapi tidak bisa mengubah sifat seseorang. Sifat adalah bawaan seseorang sejak ia dilahirkan. Baik atau buruk, positif atau negatif, hanyalah nilai-nilai sosial yang diciptakan oleh budaya suatu komunitas (masyarakat).

Semalam (31 Oktober 2019) di Teras Timur Hall Cilandak, dalam momen sharing pasca Latihan Kejiwaan, terungkap bahwa sifat asli memang tidak bisa kita ubah. Jangankan periklanan, kita sendiri saja tidak bisa mengubahnya. Hanya Tuhan yang bisa. Tapi kita bisa memohon agar sikap kita terhadap sifat asli kita diubah. Dengan perubahan sikap, dibantu oleh Latihan Kejiwaan, kita bisa membuat kekurangan kita menjadi kekuatan untuk membantu kita menjalani hidup di dunia dengan sebaik-baiknya. Latihan Kejiwaan yang rajin dan tekun juga membawa kita kembali ke sifat asli kita (yang terutama termanifestasi seiring perkembangan akal kita mulai usia delapan tahun).

Saya jadi teringat pada undangan workshopAnger Management: Mengubah Amarah Menjadi Management Tool” yang disampaikan seorang motivator Leadership and Happiness baru-baru ini (tanggal acara workshop-nya 14 Desember 2019), dengan tarif kepesertaan Rp3 juta. Saya sempat penasaran, bagaimana caranya mengubah negatif (amarah) menjadi positif? Tapi melihat tarif kepesertaan workshop-nya saya jadi emoh; mending menunggu penerimaan saja. Saya dapat semalam, gratis, di Teras Timur Hall Cilandak.
©2019


GPR Pondok Cabe III, Tangerang Selatan, 1 November 2019