Sunday, September 25, 2022

Bo'ong Banget

 


BO'ONG banget kalau selama 25 tahun kami tidak pernah berantem,

tidak pernah musuhan, tidak pernah tidak saling menyapa.

Bo'ong banget kalau selama 25 tahun kami terus-menerus mesra, terus-menerus saling memanggil dengan panggilan sayang masing-masing seperti semasa pacaran dulu, terus-menerus harmonis dengan sikap manis nan romantis. 

Ketidakharmonisan itu ternyata bagian dari upaya tak-sadar kami selama 25 tahun untuk saling menyesuaikan--seperti bokong yang menyesuaikan posisi duduknya di kursi. 

Jodoh bukan berarti sama di segala lini--malah "sama" sama sekali tidak manusiawi! Jangankan suami-istri, anak kembar identik saja pasti ada perbedaan dalam sikap dan perilaku dari masing-masing anak.

Bagi kami, berjodoh adalah sama-sama berusaha menyamakan pandangan atas segala perbedaan kami. Berusaha, karena hanya itulah yang dapat dilakukan manusia. Berusaha dengan senantiasa berperasaan sabar, tawakal, dan ikhlas mengikuti kehendakNya. Sehingga kalau usia perkawinan kami pada 25 September 2022 ini mencapai 25 tahun, itu adalah karena Tuhan menghendakinya. Puji Tuhan.○2022


Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 25 September 2022

Monday, September 19, 2022

Menaklukkan Jenuh Dengan Gambang Bapak

DUA musuh utama dalam profesi saya sebagai copywriter adalah “sindrom kertas putih” dan kejenuhan (burnout). Sindrom kertas putih (white paper syndrome) adalah keadaan yang biasanya menimpa para copywriter pemula, yang gugup menghadapi lembar putih Word.doc di layar komputer atau kertas fisik yang kosong, karena yang mereka harapkan adalah kucuran ide-ide tekstual sudah tersaji di atasnya. Hal ini tidak separah kejenuhan, sebenarnya, karena kini bertebaran templat-templat naskah iklan di internet, yang bolehlah sesekali disalin-tempelkan (copy-paste).

Tetapi, kalau sudah jenuh, jangankan salin-tempel, melihat tulisan saja kita muak. Kita akan merasa pening, marah, uring-uringan, sangat tertekan hingga membawa gejala depresi, mengantuk, malas bekerja, dengan memikirkan atau melihat tulisan, terutama yang terkait pekerjaan.

Baru-baru ini, saya mengalami burnout parah. Penyebabnya adalah pekerjaan penyuntingan 19 artikel untuk sebuah buku yang disyaratkan Dewan PROPER Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia bagi perusahaan-perusahaan peserta Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER). Perusahaan klien saya adalah salah satunya, dan buku yang saya sunting ini, dalam kapasitas saya sebagai penulis materi untuk komunikasi keberlanjutan (sustainability communication), adalah mengenai program-program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) unggulan dari masing-masing unit pembangkit listrik di bawah naungan perusahaan klien saya itu.

Saya senang menulis. Di samping sebagai sumber nafkah saya, menulis juga merupakan kegemaran saya. Belakangan, saya kerap menulis tema-tema sejarah Perang Dunia II, yang menumbuhkan perasaan “hidup” dalam diri saya karena sejarah adalah latar belakang kesarjanaan saya dan studi militer adalah hobi saya. Di sela-sela kesibukan pekerjaan saya, menulis artikel-artikel bertema Perang Dunia II atau kemiliteran—yang kemudian saya posting di Facebook, Twitter dan Blogspot saya, merupakan pelampiasan agar tidak jenuh dengan kegiatan menulis sebagai pekerjaan saya.

Namun, menyunting 19 artikel tersebut (saat menulis artikel blog ini, kegiatan tersebut masih berjalan, masuk tahap revisi) telah benar-benar menguras energi, waktu, dan semangat hidup saya. Sejak aktif berlatih kejiwaan Subud, diri saya seakan menjadi spons yang mudah sekali menyerap kekacauan pikiran orang lain yang mereka tuangkan dalam tulisan yang naratif atau sekadar data. Saya jadi tahu bagaimana keadaan pikiran orang yang menulis artikel yang saya sunting, dan itu sangat mengganggu.

Pada awal menyunting artikel-artikel tersebut, saya sudah dilanda sakit kepala yang parah, yang membuat saya sering harus mengambil jeda untuk mengistirahatkan akal pikir saya (penenangan diri) atau melakukan Latihan Kejiwaan seperti di hall Latihan. Proses penyuntingannya lebih dari dua minggu, tetapi sakit kepalanya lebih dari sebulan, yang baru benar-benar hilang setelah berlatih kejiwaan bersama saudara-saudara Subud lainnya di Cuko Coffee & Eatery, Jl. Kebagusan Gang Asem No. 11, Jakarta Selatan, pada 6 September 2022.

Berbagai artikel di media cetak atau dunia maya yang pernah mengkaji tentang kejenuhan dalam pekerjaan menggarisbawahi depresi sebagai akibat yang ditimbulkannya kemudian. Bekerja terlalu banyak dan mengambil banyak tanggung jawab tanpa bantuan yang cukup dari orang lain adalah salah dua dari sejumlah penyebab kejenuhan, dan kedua hal itu yang memang menjadi penyebab riil dari kejenuhan yang saya alami baru-baru ini.

Artikel-artikel tersebut rata-rata juga menawarkan kiat-kiat untuk mengatasi kejenuhan. Yang disarankan, antara lain dengan menyediakan waktu yang cukup untuk tidur atau meluangkan waktu sendirian. Dua itu saja sudah saya lakukan dan cukup sering karena saya gemar tidur (dan mudah tertidur), tetapi dalam kasus terkini dua cara itu tidak berhasil membantu saya mengatasi burnout.

Kemarin, 19 September 2022, kejenuhan saya telah mencapai titik kulminasi. Saya menenangkan diri dan menerima bahwa sebagai orang yang sudah menerima Latihan Kejiwaan “it’s okay not to be okay”, menjadi apa adanya, menerima semua perasaan yang muncul tanpa perlawanan serta rileks saja. Saya sempat WhatsAppan dengan satu saudara Subud untuk curhat mengenai perasaan saya. Ia memastikan bahwa “tidak baik-baik saja adalah baik” bila kita sudah berlatih kejiwaan. Perasaan itu akan berlalu, luruh bersama waktu, bila kita menerimanya dengan sabar, tawakal dan ikhlas.

Saya pun mengalihkan kesibukan saya terkait pekerjaan, bahkan dalam pikiran saya, dengan melakukan hal-hal yang tidak ada relevansinya dengan pekerjaan. Seperti mengirim PDF buku Kumpulan Surat-Surat Jawaban Bapak Atas Pertanyaan Para Anggota Subud ke satu saudari Subud yang sehari sebelumnya menanyakan saya via WhatsApp perihal ceramah Bapak Subuh terkait penyakit dan bagaimana anggota Subud yang sulit melakukan Latihan lantaran sakit. Setelah mengirimkan PDF buku tersebut melalui WhatsApp, saya meluangkan waktu membaca beberapa topik. Mata saya menangkap tentang Gambang Bapak. Tertangkap kalimat “Di Indonesia sendiri, dapat dikatakan jarang sekali tape gambang Bapak itu diputar kalau tidak sungguh-sungguh diperlukan, misalnya kalau kebetulan ada saudara yang hatinya tidak tenteram...”

Menyadari saya memiliki rekaman gambang tersebut, saya pun mendengarkannya. Tidak dengan serius atau fokus, hanya sambil lalu, disambi dengan melakukan hal-hal lainnya. Saya terkejut ketika sesuatu terjadi dalam prosesnya: Antusiasme saya kembali muncul, meliputi hati, diri dan jiwa saya! Kejenuhan saya terhadap pekerjaan saya mendadak lenyap, berganti dengan semangat bekerja yang menimbulkan perasaan senang.

Gambang Bapak menaklukkan kejenuhan saya. Puji Tuhan atas bimbingan itu! Terima kasih, Bapak, hanya itu yang bisa saya ungkapkan. Puji Tuhan! ©2022

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 20 September 2022

Sunday, September 18, 2022

Pemberontak yang Pasrah

BEREAKSI atas cerita saya mengenai masa ngandidat saya di Subud Cabang Surabaya, yang dalam hitungan bulan berlangsung selama tiga bulan tetapi dalam jumlah kali pertemuannya adalah 30 kali, satu saudara Subud asal Cabang Jakarta Selatan baru-baru ini berkomentar, “Pemberontak kayak kamu kok betah ngandidat 30 kali?”

Pertanyaan bernada heran itu dapat saya maklumi. Pasalnya, setahu saya, di cabang-cabang Subud lainnya, bahkan yang terdekat dengan Surabaya, masa kandidat yang juga tiga bulan itu diisi dengan pertemuan hanya sebanyak 12 kali. Saya tidak mengerti, dan juga merasa tidak perlu mempersoalkan, mengapa Cabang Surabaya menerapkan masa orientasi calon anggota Subud itu sebanyak 30 kali pertemuan, karena saya toh sangat menikmati momen-momen yang berlangsung dua kali dalam satu minggu, yaitu tiap Senin malam dan Kamis malam, bertepatan dengan jadwal Latihan Kejiwaan di Wisma Subud Surabaya, Jl. Manyar Rejo No. 18-22, Surabaya Timur, Jawa Timur.

Seingat saya, pada kurang lebih 20 kali pertemuan pertama saya banyak bertanya, dan sering kali satu pertanyaan yang sama saya ajukan ke pembantu pelatih (PP) berkali-kali. Satu PP teringat bahwa saya tak bosan-bosannya bertanya, “Bagaimana caranya berserah diri?”

Proses-proses saya (dan juga semua orang lainnya) tidak dapat saya pahami dan tidak juga dapat saya terangkan, karena bukan saya yang mengupayakannya. Ketika nafsu hati dan akal pikir kita lerem, saat itulah kekuasaan Tuhan diberi jalan untuk bekerja.

Setelah 20 kali, saya mulai jarang bertanya. Tak jarang satu hari ngandidat hanya saya lalui dengan merokok dan menyeruput kopi tubruk sambil menikmati suasana tenteram yang ditawarkan Hall Latihan Subud Surabaya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ketika ditanya PP, apakah masih ada yang ingin saya tanyakan atau ceritakan, saya menggeleng pelan. Satu PP dari Cabang Surabaya pernah menuturkan kepada seorang kandidat, ketika saya duduk di dekat mereka, bahwa saya datang ke Subud Surabaya dengan segudang masalah, tetapi setelah beberapa kali ngandidat saya lupa masalah-masalah hidup saya. Bukan karena saya berusaha melupakan, tapi energi penyerahan diri yang berseliweran di Wisma Subud Surabaya membuat saya lupa atas masalah-masalah saya tanpa saya mengerahkan daya upaya apa pun. Saya menjadi pemberontak yang pasrah mau diapakan juga.

“Pemberontak”, itulah diri saya di mata orang lain. Memang seperti itulah saya, yang saya sadari dan termanifestasikan setelah saya dibuka di Subud. Saya sudah memberontak sejak dahulu, sedari kecil, tetapi waktu itu saya cenderung tidak melampiaskannya, karena saya introvert dan pendiam. Latihan Kejiwaan telah membuka kepribadian saya itu, terutama lewat kata-kata yang saya tulis, karena menulis memang merupakan bakat saya. Kadang, saya berusaha meredamnya, tetapi jiwa saya mendorong saya untuk mengungkapkannya—ia seperti guru yang terus menyemangati saya untuk menjadi diri sendiri. Bukan untuk unjuk diri, melainkan untuk menjadi saksi atas bekerjanya kekuasaan Tuhan dalam menjadikan saya sejalan dengan rencanaNya.

Lambat laun, seiring Latihan saya dari waktu ke waktu, sisi pemberontak itu meluruh. Memang tidak benar-benar lenyap, karena sifat pemberontak itu adalah bekal dari Tuhan untuk kesintasan saya di dunia. Saya mendapat kepahaman dari pengalaman ini, bahwa perubahan pribadi seseorang bukanlah lantaran usahanya, tetapi merupakan kehendak Tuhan. Puji Tuhan atas Latihan Kejiwaan ini.©2022

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 19 September 2022

Wednesday, September 14, 2022

Kongkonane Wong Kesulitan

TANGGAL 14 September 2022, saya dan istri pergi ke sebuah mal di bilangan Blok M, Jakarta Selatan, untuk bertemu dengan satu klien LI9HT Brand yang sejak beberapa bulan lalu sudah mengajak saya ngopi-ngopi. Baru kemarin bisa terwujud. Kami bertemu di sebuah kafe dimana sebat (merokok) tidak dilarang, karena klien ingin tempat nongkrong di tempat dimana ia bisa leluasa merokok.

Klien rupanya iri melihat postingan kegiatan-kegiatan Subud saya di Facebook dan Instagram dan ingin mengetahui lebih banyak tentang Subud. Dia iri karena kehidupan saya di seputar Subud, dengan gathering sambil ngopi-ngopi dan merokok, tetapi heran setelah saya jelaskan bahwa komunitas Subud terdiri dari orang-orang dengan berbagai latar belakang kehidupan, agama, profesi, dan hobi.

Dia heran mengapa kok orang-orang dengan berbagai latar belakang bisa berkumpul dan saling cocok, sedangkan komunitas-komunitas yang dia ikuti semuanya beranggotakan orang-orang yang “berjenis” sama: teman kantor, teman bermain golf, komunitas gowes, dan teman alumni kampus . "Obrolan kami ya sama, Pak Arifin, yaitu seputar bidang yang kami geluti. Tapi orang-orang Subud kok ya bisa berkumpul dan akrab. Apa yang diobrolin sedangkan latar belakang orang-orangnya berbeda-beda?” katanya.

“Obrolannya sih pengalaman-pengalaman masing-masing dengan Latihan Kejiwaan di bidang kehidupannya masing-masing, yang ajaibnya bisa relevan dengan yang lain. Pengalaman satu saudara Subud bisa aja menjadi inspirasi atau jawaban bagi masalah yang sedang saya alami,” saya merespons keheranannya.

Dia menggeleng-geleng kagum sekaligus bingung, “Kok bisa ya?”

“Saya juga nggak ngerti, Pak. Semua terjadi spontan aja, otomatis. Saya kira, itu mungkin karena bekerjanya kekuasaan Tuhan atau apalah yang dipercayai,” kata saya. “Kita hanya menerima saja dengan sabar, tawakal, ikhlas.”

Selanjutnya, saya bercerita tentang sejarah Subud, Pak Subuh dan Latihan Kejiwaan. “Intinya sih, dalam menjalani hidup dengan bimbingan Latihan, Pak. Itu kayak yang dibilang si Rooster dalam film Top Gun: Maverick, ‘Come on, Mav. Don’t think, just do!’.                              

Klien mengatakan bahwa itulah yang dibutuhkan orang zaman sekarang. Dia bercerita bahwa di kantornya, banyak rekannya yang materialistis tapi tidak bahagia, terutama mereka yang di posisi seperti dirinya. Kehidupan mereka penuh stres. Klien ini pernah dirawat di rumah sakit karena asam lambung akibat stres, selain mengalami kesulitan tidur.

Dia blak-blakan bercerita tentang adanya permainan dari para komisaris yang berasal dari partai politik, yang menempatkan orang-orang yang tidak punya expertise di jabatan-jabatan strategis Perusahaan. Dia bercerita bahwa dirinya ditelepon seseorang dari salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia yang aktif di sebuah partai berbasis Islam, yang lewat jalur-jalur politiknya akan menjadikan klien itu sebagai salah satu direktur di perusahaan tempatnya berkarir, tetapi “ada maunya” (untuk mendapatkan proyek dari perusahaan itu buat orang-orang partainya).

“Yang gitu-gitu bikin saya ngeri, Pak Arifin,” katanya. “Bisa-bisa, nanti saya kena kasus, lha mereka enak-enak aja. Saya butuh ketenangan diri seperti Pak Arifin dan Bu Nana ini dan yang membentengi saya dari perbuatan busuk seperti itu.”

Setelah dua jam mengobrol, baik tentang pekerjaan maupun hal-hal lainnya, klien berpamitan, tetapi sebenarnya ia masih ingin mengobrol lebih lama lagi. “Next, kita nongkrong lagi ya, Pak Arifin, Bu Nana. Lain kali kita di kakilima ya, lebih santai.”

Saya dan istri tertawa setelah klien pergi; menertawakan “nasib” kami sebagai konsultan branding yang sering dimintai nasihat-nasihat spiritual oleh klien-klien kami. Tepatlah apa yang dikatakan satu saudara Subud di Surabaya ke saya perihal profesi kami sebagai konsultan: “Konsultan itu adalah kongkonane wong kesulitan—bantuan untuk orang yang kesulitan.”©2022

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 15 September 2022

Saturday, September 10, 2022

Sejalan Tetapi Belum Tentu Sama Arahnya

BARU-baru ini, satu saudara Subud meminta bantuan saya untuk membuat suatu tulisan, bila perlu panjang-lebar, yang akan digunakannya untuk memberi alasan kuat bagi dirinya untuk mengundurkan diri dari proses ujian kenaikan tingkatnya di perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Ada sejumlah hal dalam proses tersebut yang menghalanginya, lantaran secara praktik bertentangan dengan Latihan Kejiwaan Subud. Di Subud, hal ini disebut mixing, yaitu mencampuradukkan Latihan Kejiwaan dengan lain-lain yang tidak sejalan dengan prinsip Latihan yang pijakannya adalah menyerah kepada kehendak Tuhan dengan sabar, tawakal, dan ikhlas. Meskipun di permukaan, lain-lain praktik memiliki prinsip yang sejalan dengan Latihan Kejiwaan, tetapi belum tentu arahnya sama.

Berikut, tulisan yang saya buatkan untuk saudara Subud tersebut.

“Saya masuk Subud tahun 1995 karena praktik spiritualnya yang unik. Dinamakan Latihan Kejiwaan, praktik ini diterima melalui suatu pengalaman gaib yang dilalui Raden Mas Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo pada tahun 1925. Latihan Kejiwaan, atau Latihan saja, merupakan teknik berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang meniadakan akal pikir dan nafsu kehendak pribadi. Pelaku Latihan hanya menerima dengan perasaan sabar, tawakal dan ikhlas apa pun yang datang kepadanya, apakah itu gerak, suara, atau keduanya, atau diam saja. Bekerjanya akal pikir atau kehendak pribadi akan segera menghentikan Latihan. Tidak pula ada konsentrasi atau fokus pada apa pun sebagaimana yang dilakukan dalam meditasi atau semadi, dan juga menafikan pemusatan batiniah seperti dalam kebatinan.

Latihan tidak memerlukan sarana atau perantaraan berupa mantra, doa, niat, tidak menggunakan upaya yang dibantu alat atau simbol-simbol (bahkan tidak boleh menggunakan lambang Subud sebagai media untuk membangkitkan Latihan Kejiwaan). Pendekatan latihan pernapasan atau olah gerak yang di luar kealamian makhluk hidup juga tidak diperlukan. Melakukan yang sebaliknya malah hanya akan menghambat pertumbuhan kejiwaan/spiritualitas kita, dan kita akan harus melalui proses purifikasi (pembersihan) untuk bisa kembali melangkah di ‘jalan yang dikehendaki Tuhan Yang Maha Kuasa’, yaitu kodrat kemanusiaan kita.

Singkat kata, Latihan Kejiwaan itu sangat mudah, hanya menggunakan apa yang sudah ada pada diri manusia sejak diciptakan. Melalui Latihan, manusia dihubungkan kembali dengan apa yang dikodratkan pada dirinya, tetapi telah ‘hilang’ ketika manusia meninggalkan usia kanak-kanaknya dan merangkul kehidupan yang sangat kuat berpijak pada akal pikiran atau daya benda (material forces).

Apakah dengan begitu lantas anggota Subud sebaiknya tidak melakoni kehidupan duniawi?

Nah, di sinilah asyik dan serunya Latihan bagi saya; Latihan tidak mencabut anggota Subud dari kehidupan sehari-harinya yang penuh dinamika. Hanya saja, anggota perlu senantiasa mawas diri, agar dirinya tidak (lagi) meninggalkan kealamiannya dan melekat pada hal-hal yang sesungguhnya semu, atau sejatinya tidak benar-benar dibutuhkan dalam melakoni kehidupan di dunia. Sebagai anggota Subud, misalnya, saya tetap bekerja, dengan memberdayakan akal pikir saya seperlu pekerjaan saya, tetap berobat ke dokter bila sakit, tetap beribadah sesuai syariat agama saya, dan untuk menjaga kesehatan saya mengonsumsi makanan yang baik serta rajin berolahraga. Salah satu olahraga yang saya lakukan adalah silat, yang saya pelajari dan latih di Persaudaraan Setia Hati Terate. Silat terbukti membantu saya dalam memperbaiki dan meningkatkan kualitas kesehatan fisik dan mental saya. Saya tidak memerlukan silat untuk lain-lain selain untuk kesehatan semata.

Di PSHT, saya berusaha menyinkronkan Latihan Kejiwaan dengan aktivitas seni bela diri. Latihan membimbing gerak, napas dan pikiran saya agar sejalan dengan prinsip seni bela diri silat Setia Hati Terate sekaligus tetap terpelihara kealamian gerak, napas, dan pikiran saya. Latihan Kejiwaan berperan sentral dalam membangkitkan komitmen saya untuk rajin berlatih silat, yang dengan itu terpelihara kesehatan saya secara lahir dan batin, jiwa dan raga.

Ada beberapa aspek dalam silat SHT yang, karena Latihan yang telah meliputi diri saya, tidak ingin saya lakukan, seperti, misalnya, teknik olah napas, yang secara kejiwaan (Subud) maupun medis sebaiknya dihindari. Dunia medis menyarankan teknik bernapas sealami mungkin, tidak diatur sedemikian rupa sehingga menimbulkan efek yang mengganggu kesehatan.

Aspek meditasi atau semadi juga tidak bisa berjumbuh dengan Latihan Kejiwaan saya, karena pendekatan masing-masing tidak sejalan. Mengenai hal ini, perkenankan saya mencuplik ceramah Pak Subuh di Planegg, Jerman, pada 28 April 1967: ‘Jadi, Latihan Kejiwaan ini bukanlah suatu latihan seperti yang telah dilakukan oleh para orang atau para golongan yang dengan menggunakan semadi, meditasi dan lain-lain praktek. Karena tindakan yang demikian yang dengan sistem semadi dan praktek lain-lain seperti hipnotis, spiritis dan lain-lainnya, itu mematikan rasa diri saudara, sehingga nanti yang hidup bukan pribadi saudara tapi hati dan nafsu saudara! Dan karena yang demikian itu maka dilaranglah oleh agama, dilarang pula oleh Tuhan Yang Maha Esa. Jangan manusia menggunakan demikian, karena sesuatu yang merupakan jalan yang benar yang dapat menuju ke Tuhan, tidak ada jalan lain, tidak ada aturan maupun jalan kecuali apabila diberkahi Tuhan. Jadi, Tuhanlah yang akan memberi jalan kepada saudara sekalian. Sedangkan itu telah saudara terima dan telah saudara mulai dikenalkan antara lahir dan batin, ialah antara saudara dengan jiwanya.’

Namun secara keseluruhan, PSHT merupakan wadah yang sungguh tepat untuk pengembangan nilai-nilai pendidikan karakter yang bersumber pada budaya Indonesia, tempat dimana Tuhan menghendaki saya dilahirkan dan bertumbuh. PSHT juga mencetak insan yang berperikemanusiaan, jujur, berbudi pekerti luhur, tidak takabur dan peka terhadap penderitaan orang lain.

Sebagai pendiri Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan Susila Budhi Dharma (PPK Subud), RM Muhammad Subuh dalam pencarian hakikat kerohanian beliau juga pernah singgah di Setia Hati pada tahun 1921, berguru langsung pada Ki Ngabei Ageng Soerodiwirdjo. Latihan silatnya mempersiapkan fisik dan mental Pak Subuh yang mulai 1925, setelah menerima wahyu Latihan Kejiwaan, harus menghadapi proses purifikasi yang tidak ringan, serta mewariskan penerimaannya kepada orang lain yang terus-menerus berdatangan.

Pada dasarnya, melalui Latihan Kejiwaan, kehidupan saya dituntut menjalankan akhlak vertikal, yaitu terhadap Tuhan, dengan baik, sekaligus tidak mengabaikan akhlak horisontal, terhadap sesama manusia, yang digerakkan oleh nilai-nilai yang saya internalisasi melalui silat Setia Hati Terate. Keduanya berjalan beriringan dengan harmonis. Bagaimanapun, beberapa aspek dalam SHT tidak dapat saya lakukan karena alasan yang saya sebutkan di atas terkait dengan Latihan Kejiwaan Subud.

Oleh karena itu, dengan tetap menghormati dan menghargai syarat-syarat dan aturan-aturan yang berlaku di lingkungan PSHT, saya mohon dimaklumkan serta dimaafkan jika saya tidak ingin meneruskan proses berkenaan dengan ujian kenaikan ke Tingkat Dua.”©2022

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 11 September 2022

Tuesday, September 6, 2022

Primadona Pasukan Lintas Udara Sekutu Era Perang Dunia II


PERANG Vietnam (1965-1975) menyaksikan kebangkitan peran helikopter sebagai kendaraan pengangkut pasukan ke medan perang, yang mobilitasnya lebih cepat daripada kendaraan darat, apalagi melewati medan berbukit dan berhutan lebat seperti di Vietnam. Helikopter merupakan alat angkut yang fleksibel di medan yang berhutan karena tidak perlu mendarat untuk menurunkan penumpangnya; para prajurit dapat meluncur turun dengan tali.

Privilese yang diperoleh pasukan lintas udara (airborne) dalam Perang Vietnam, yaitu menunggangi helikopter ke dan dari medan tempur, tidak didapat rekan-rekan mereka di era Perang Dunia Kedua. Pada era itu, pesawat bersayap tetap (fixed wing aircraft) adalah satu-satunya yang bisa disediakan untuk menunjang penerjunan pasukan dalam operasi lintas udara. Ada berbagai jenis pesawat angkut pada zaman itu, tetapi yang menjadi primadona adalah Douglas C-47 Skytrain atau Dakota.

Douglas C-47 Skytrain atau Dakota (sebutan dari Angkatan Udara Kerajaan Inggris, Angkatan Udara Australia, Angkatan Udara Kanada, Angkatan Udara Selandia Baru, dan Angkatan Udara Afrika Selatan) adalah pesawat angkut militer yang dikembangkan dari pesawat sipil Douglas DC-3. Pesawat itu digunakan secara luas oleh Sekutu selama Perang Dunia II dan tetap digunakan di garis depan oleh berbagai operator militer di dunia selama bertahun-tahun.

C-47 dibedakan dari DC-3 sipil lewat berbagai modifikasi, termasuk dilengkapi dengan pintu kargo, katrol dan lantai yang diperkuat—bersama dengan kerucut pendek pada ekornya untuk menarik pesawat layang (glider), dan “astrodome” di atap kokpit. Astrodome adalah kubah transparan berbentuk setengah bola yang dipasang di atap kabin pesawat, yang memungkinkan navigator terlatih untuk melakukan astronavigasi dan dengan demikian memandu pesawat di malam hari tanpa bantuan referensi visual berbasis darat.

Selama Perang Dunia II, angkatan-angkatan bersenjata dari banyak negara menggunakan C-47 dan DC-3 yang dimodifikasi untuk pengangkutan pasukan, kargo, dan Medevac (medical evacuation; evakuasi medis). Lebih dari 10.000 pesawat diproduksi di Long Beach dan Santa Monica di California, dan Oklahoma City di Oklahoma, Amerika Serikat. Antara Maret 1943 dan Agustus 1945, pabrik Oklahoma City memproduksi 5.354 C-47 Skytrain.

Skytrain sangat penting untuk keberhasilan banyak kampanye Sekutu selama Perang Dunia II, khususnya di Guadalcanal dan di hutan Nugini dan Burma, di mana C-47 dan versi angkatan lautnya, R4D, memungkinkan pasukan Sekutu untuk melampaui mobilitas Angkatan Darat Jepang yang diperkuat pasukan dan persenjataan ringan. Skytrain digunakan untuk mengangkut perbekalan ke pasukan Amerika yang dikepung selama Pertempuran Bastogne (20-27 Desember 1944) di Belgia. Mungkin perannya yang paling berpengaruh dalam penerbangan militer, bagaimanapun, adalah menerbangi “The Hump” (punuk pegunungan, sebutan para pilot Sekutu untuk ujung timur Pegunungan Himalaya) dari India ke China. Keahlian yang diperoleh dari menerbangi “The Hump” kemudian digunakan dalam Jembatan Udara ke Berlin selama Blokade Berlin pada 24 Juni 1948-12 Mei 1949, di mana C-47 memainkan peran utama sampai pesawat itu digantikan oleh Douglas C-54 Skymaster.

 

Di Eropa, C-47 dan varian khususnya untuk pasukan payung, C-53 Skytrooper, digunakan dalam jumlah besar pada tahap akhir Perang Dunia II, terutama untuk menarik glider dan mendaratkan pasukan payung. Selama invasi Sisilia pada Juli 1943, C-47 menerjunkan 4.381 pasukan payung Sekutu. Lebih dari 50.000 pasukan payung diterjunkan oleh C-47 selama beberapa hari pertama kampanye D-Day yang juga dikenal sebagai invasi Normandia, Prancis, pada 6 Juni 1944. Dalam Perang Pasifik, dengan pemanfaatan secara hati-hati landasan-landasan di pulau-pulau di Samudra Pasifik, C-47 mengangkut tentara yang bertugas di mandala Pasifik kembali ke Amerika Serikat.

 

Sekitar 2.000 C-47 (diterima di bawah Kebijakan Lend-Lease/Pinjam-Sewa) yang berdinas untuk Angkatan Udara Inggris dan Persemakmuran memakai nama “Dakota”, mungkin terinspirasi oleh akronim DACoTA” (Douglas Aircraft Company Transport Aircraft).

 

C-47 juga mendapat julukan tidak resmi “burung albatros” di mandala operasi Eropa. Kabarnya, julukan ini terkait dengan pesawat C-47 pertama milik Korps Marinir AS, yaitu R2D—versi militer DC-2—yang menjadi pesawat pertama yang mendarat di Pulau Midway, yang sebelumnya merupakan rumah bagi albatros Pasifik Utara yang bersayap panjang, yang merupakan burung endemik Midway.

Berbeda dengan pesawat berrotor (rotary wing aircraft) atau helikopter dengan kemampuan melayang-layangnya (hovering), sehingga lebih fleksibel, pesawat bersayap tetap memiliki keterbatasan dalam hal menerjunkan pasukan payung. Untuk menghindari tembakan senjata penangkis serangan udara, ia hanya dapat menerjunkan pasukan lintas udara dari ketinggian tertentu, sehingga tak terhindarkan fakta bahwa pasukan mendarat seringkali jauh dari zona pendaratan (drop zone) yang sudah ditentukan, dan membuat pasukan tersebar secara acak. Hal ini dapat kita lihat pada operasi terjun payung dari Divisi Lintas Udara ke-82 dan ke-101 AS di Normandia, 6 Juni 1944.

Dalam misi pendaratan untuk menguasai sasaran berupa daerah terbuka, seperti lapangan terbang, pesawat bersayap tetap juga harus terbang rendah agar pasukan ketika terjun payung tidak tersebar acak, tetapi bisa terpusat di area yang disasar. Namun, konsekuensinya akan banyak prajurit mengalami kecelakaan pada terjun payung dalam ketinggian yang rendah.

Douglas C-47 Skytrain berkode VH-XUX mendarat di landas pacu Bandar Udara Internasional Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, pada 8 Oktober 2016. Pesawat tersebut pada tahun itu mengadakan penerbangan nostalgia Perang Dunia II dari Bathurst, Australia, ke Guilin, China. Juanda tidak termasuk dalam daftar persinggahannya, tetapi terpaksa mendarat di bandara itu lantaran kerusakan mesin. (Foto oleh Muhammad Rizki/Jetphotos)

Segala keterbatasan yang dimiliki pesawat angkut pasukan bersayap tetap dijawab oleh kehadiran helikopter. Helikopter yang dimodifikasi untuk keperluan militer hadir ketika dunia menyongsong Perang Korea pada tahun 1950. Bagaimanapun, sang primadona pasukan lintas udara Sekutu semasa Perang Dunia II tidak lantas tersingkir. Douglas C-47 Skytrain nyatanya masih tetap digunakan pasca Perang Dunia II. Ia masih tetap terlihat di tengah hiruk-pikuk helikopter AS di Vietnam, dalam varian peperangan elektroniknya, yang terkadang disebut “albatros elektrik”. Varian HC-47 digunakan oleh Skuadron Operasi Khusus ke-9 untuk melaksanakan operasi perang urat saraf di Vietnam Selatan dan Laos.

Lebih dari 100 negara tercatat sebagai operator C-47 Dakota maupun versi sipilnya, DC-3. Indonesia termasuk di antaranya, bahkan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia diwarnai dengan gemilang oleh kehadiran C-47 Dakota RI-001 “Seulawah”, yang dibeli oleh masyarakat Aceh pada tahun 1948 dan diterbangkan antara Jawa dan Sumatera. Pasca Perang Kemerdekaan RI pada 1949, beberapa C-47 diambil alih dari inventaris Penerbangan Militer-Angkatan Darat Hindia Belanda (ML-KNIL) dan kemudian juga sejumlah C-47 bekas Angkatan Udara Australia diserahkan ke Indonesia sebagai bagian dari program bantuan luar negeri. Dalam operasi TNI ke Timor Timur tahun 1975, dua C-47 dikonversikan menjadi pesawat bersenjata berat (gunship) dengan tiga senapan mesin AN/M3 Browning berkaliber 12,7 milimeter.©2022

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 6 September 2022

Friday, September 2, 2022

Alat Perang yang Menjadi Saksi Berakhirnya Perang

USS Missouri yang bersandar di Pearl Harbor, Hawaii. 

Difoto pada 9 Oktober 2010. (Sumber foto: Flickr.com/Gordon McDonald)


PERANG Dunia II meletus pada 1 September 1939 dan resmi berakhir pada 2 September 1945, yaitu ketika Jepang menandatangani kapitulasi kepada Sekutu selaku pemenang Perang Dunia Kedua. Penandatanganan perjanjian itu berlangsung di dek sebuah kapal perang milik Angkatan Laut Amerika Serikat, USS Missouri (BB-63). Kapal berjenis kapal tempur (battleship) dari kelas Iowa itu selama dua tahun terakhir Perang Dunia II memainkan peran penting dalam menghadapi kapal-kapal tempur Jepang di perairan Pasifik.

Kapal tempur adalah sebutan untuk kapal perang berukuran besar yang berlapis baja, dengan persenjataan utamanya terdiri dari meriam-meriam berkaliber besar. Pada kapal tempur, meriam-meriam tersebut biasanya tersusun tiga laras pada satu kubah atau turret, dan kapal tempur dapat diidentifikasi dari keberadaan dua hingga tiga kubah berlaras tiga itu, bertengger di deknya; dua kubah di bagian busur dan satu kubah di buritan. Sering digunakan untuk bantuan tembakan kapal ke arah pantai sebagai dukungan kepada pasukan amfibi ketika sedang memantai (beaching) dalam operasi pendaratan, efek dari tembakannya sungguh dahsyat, mampu meluluhlantakkan bunker-bunker musuh.

Tak mengherankan jika awak dari kapal-kapal perang berjenis perusak, fregat apalagi korvet ngeri ketika berhadapan dengan kapal tempur di medan laga. Dilihat dari sejumlah kejadian dalam peperangan laut selama Perang Dunia II, diperlukan taktik pengeroyokan dari unsur gabungan laut dan udara untuk benar-benar bisa menghabisi sebuah kapal tempur.

Kapal tempur Yamato milik Jepang, misalnya, baru karam setelah dihajar sembilan bom dan 11 torpedo yang dijatuhkan pesawat-pesawat tempur Amerika dalam dua gelombang serangan pada 7 April 1945. Serangan gelombang kedua mengenai ruang amunisi Yamato yang mengakibatkan kapal tempur seberat lebih dari 70.500 ton panjang ini meledak di lepas pantai Okinawa dan tenggelam bersama 2.498 awaknya (dari total 2.700 awak), termasuk panglima armada, Laksamana Madya Seiichi Ito, yang memang menjadikan Yamato sebagai kapal bendera (flagship) armadanya.

Berkelas sedikit di bawah kapal tempur, HMS Hood merupakan sebuah kapal penjelajah tempur (battle cruiser) dengan baja lebih tipis daripada baja kapal tempur. Hood yang dimiliki Angkatan Laut Kerajaan Inggris dihantam lima tembakan salvo dari kapal tempur Jerman Bismarck dan satu tembakan dari kapal penjelajah berat Jerman Prinz Eugen di Selat Denmark pada 24 Mei 1941. Hood tenggelam dalam waktu tiga menit, menyusul ledakan keras akibat tembakan yang mengenai magasen peluru meriam di bagian buritannya.

Kapal tempur adalah lambang dominasi kekuatan laut dan keperkasaan nasional, dan selama berpuluh-puluh tahun kapal tempur menjadi faktor penting baik dalam diplomasi maupun strategi militer. Baik Sekutu maupun Blok Poros (Jerman, Italia, dan Jepang) mengerahkan kapal tempur dengan konstruksi lama maupun baru dalam Perang Dunia Kedua.

Sebagai kapal bersenjata terbesar dalam suatu armada, kapal tempur digunakan sebagai pemegang komando laut dan melambangkan puncak kekuatan laut suatu bangsa sejak sekitar tahun 1875 hingga Perang Dunia Kedua. Dengan bangkitnya kekuatan udara, peluru kendali, dan bom kendali, meriam besar tak lagi dianggap perlu untuk mempertahankan superioritas kekuatan laut dan akibatnya kapal tempur pun tak lagi digunakan.

Bagaimanapun, mempertimbangkan aspek historis yang dimainkannya sebagai saksi bisu penyerahan tanpa syarat Jepang kepada Sekutu pada 2 September 1945, dan aspek penegak superioritas Angkatan Laut AS dalam misi-misi maritim, USS Missouri masih melayari samudra hingga dipensiunkan pada tahun 1992. Penampilannya yang menakutkan sekaligus mempesona sebagai kapal perang membuat USS Missouri menjadi figur sentral dalam film Under Siege (1992) dan Battleship (2012).

Selesai pembangunannya pada tahun 1944, USS Missouri adalah kapal perang terakhir yang berdinas di Angkatan Laut Amerika Serikat dalam periode Perang Dunia Kedua. Kapal itu ditugaskan ke Mandala Pasifik, di mana ia terlibat dalam Pertempuran Iwo Jima dan Okinawa dan menembaki pulau-pulau di wilayah Jepang. Bagian geladak penggal (quarterdeck)-nya adalah tempat penyerahan tanpa syarat Kekaisaran Jepang, yang mengakhiri Perang Dunia Kedua. Karena itu, USS Missouri disebut sebagai kapal perang paling bersejarah di dunia.

Pasca Perang Dunia II, USS Missouri bertugas di berbagai misi diplomatik, unjuk kekuatan dan pelatihan. Pada 17 Januari 1950, kapal tersebut kandas saat air pasang di Teluk Chesapeake, Amerika Serikat, dan setelah melalui upaya keras dan besar-besaran dari AL AS, ia dapat kembali mengapung beberapa minggu kemudian. USS Missiouri kemudian bertempur dalam Perang Korea selama dua masa tugasnya antara 1950 dan 1953. Missouri adalah kapal perang Amerika pertama yang tiba di perairan Korea dan menjadi kapal komando bagi beberapa laksamana. Kapal tempur itu mengambil bagian dalam berbagai operasi pemboman pantai dan juga bertugas dalam peran skrining (taktik defensif dimana kapal perang digunakan untuk menyembunyikan sifat dan kekuatan sebenarnya dari armada tempur) bagi kapal-kapal induk AL Amerika Serikat.

Setelah sempat dinonaktifkan pada tahun 1955, USS Missouri diaktifkan kembali sekaligus dimodernisasi pada tahun 1984, dengan penambahan peluncur-peluncur misil jelajah dan misil anti kapal serta elektronika tercanggih. Dalam Operasi Desert Storm tahun 1991, USS Missouri memberikan bantuan tembakan kapal. Tahun 1998, ia disumbangkan kepada Asosiasi Peringatan USS Missouri dan menjadi kapal museum di Pearl Harbor, Hawaii. Busurnya menghadap ke tugu peringatan USS Arizona Memorial, yang dimaksudkan untuk menyampaikan pesan bahwa Missouri menjaga bangkai kapal tempur USS Arizona, yang tenggelam dalam peristiwa serangan Jepang ke Pearl Harbor pada 7 Desember 1941, sehingga awak kapalnya yang dimakamkan di dalam lambung Arizona dapat beristirahat dengan tenang. ©2022

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 2 September 2022