Wednesday, April 21, 2010

Cinta Tanpa Definisi

“Cinta adalah makhkota kemuliaan umat manusia, kebenaran jiwa yang terkudus, rantai emas yang menghubungkan kita dengan tugas dan kebenaran, prinsip penyelamatan yang mendamaikan hati kehidupan, dan merupakan ramalan terjadinya kebaikan abadi.”
—Plutarki (Plutarchos (Πλούταρχος), sejarawan, penulis biografi dan esei Yunani Kuno



Delapan belas tahun silam, saya pernah punya sahabat berjenis kelamin perempuan. Hubungan kami membangunkan keinsafan pada diri saya bahwa tidak selamanya sesuatu yang melekat pada kehidupan kita itu dapat didefinisikan. Secara normatif, orang pada umumnya menilai antara laki-laki dan perempuan tidak mungkin terjalin hubungan yang bersifat persahabatan belaka; yang mungkin adalah bermusuhan atau menjadi sepasang kekasih.

Nyatanya, itulah yang terjadi antara saya dan K (inisial dari nama yang bukan sebenarnya). Kami saling mencintai, namun cinta yang kami punya adalah cinta tanpa definisi – cinta yang berada di luar lingkaran pemahaman orang pada umumnya. Saya kira, cinta yang sedemikian itu sifatnya Ilahiah, lantaran bersifat aseksual, tidak ada kecemburuan, tidak ada penyesalan dan kesedihan (ketika harus berpisah), tidak ada keinginan untuk menaklukkan dan menguasai. Semua berlangsung alami, tak ada desakan nafsu, melainkan penuh penyerahan dan keikhlasan. Saat itu, saya juga sempat bertanya-tanya cinta apakah yang saya dan K miliki.

Kami pun pernah membahasnya. Tetapi hingga selesai diskusi, cinta yang kami punya tetap tak punya definisi. Dan, akhirnya, hubungan kami kandas dalam prosesnya, dikalahkan oleh cinta yang punya definisi, yang melulu isinya nafsu, milik seorang laki-laki yang kelak menjadi suami K.

Cinta tanpa definisi, yang saya kira juga hinggap pada sebagian kita, bersifat tak bersyarat, sebagaimana cinta Sang Pencipta pada ciptaanNya. Sepanjang hidup saya, tak sedikit dosa yang saya perbuat, tetapi selalu saja saya diberi kesempatan berikutnya. Setelah kesempatan kedua diingkari, masih diberi kesempatan ketiga, keempat dan seterusnya. Ada kawan yang bilang, “Hati-hati, kesabaranNya ke lu bisa habis (Tuhan bisa ya selemah itu? – ADS), terus Dia cabut nyawa lu.” Sebagian besar dari kita menganggap maut adalah hukumanNya untuk manusia yang ndablek seperti saya. Padahal kematian menimpa siapa saja, tak terkecuali. Saya pribadi beranggapan bahwa kematian merupakan wujud cintaNya, supaya kita tidak perlu berlama-lama menderita di dunia.

Saya menemukan mutiara-mutiara pencerahan mengenai cinta tanpa definisi itu dalam ajaran spiritual ‘jalan cinta’ Rabi’ah al-Adawiyah dan Jalaluddin Rumi. Tetapi yang mereka tawarkan bukan kebenaran akhir, melainkan pengalaman-pengalaman pribadi yang terus berkembang seiring tumbuhnya cinta tanpa definisi – cinta suci yang cenderung, akhirnya, dinodai oleh prasangka dari mereka yang tidak memahami bahwa perbuatan Langit tak selalu harus punya arti yang memuaskan akal pikir semata.

Cinta tanpa definisi, sebagaimana yang tercurah dari Langit, tak butuh sembah-sujud. Ia mengada begitu saja, laksana vibrasi yang menyeruak tatkala diri menyelami alam meditasi. Murni, tanpa embel-embel. Hakikatnya, semua cinta ya begitu itu: lahir dalam keadaan telanjang bulat, tidak berindra, hinggap begitu saja pada mereka yang Dia kehendaki, tanpa (harus ada) alasan, tanpa tujuan – yang bahkan membuat mereka yang terkena bertanya, “Kok aku? Kok dengan dia? Kok bisa?” – sebagaimana dilantunkan Daniel Bedingfield lewat lagunya, If You’re Not the One.

Yang melekatkan padanya atribut dan segudang definisi adalah manusia. Cinta ibarat bayi yang dilahirkan ke dunia tanpa tahu tujuannya untuk apa, sampai orang tuanya memberitahunya dan sepanjang hidupnya si anak menganggap apa yang diberitahukan kepadanya oleh ayah-ibunya adalah kebenaran mutlak. Saya yakin, cinta akan jauh lebih indah dan mencerahkan jika sejak awal ia tidak dibeliti hasrat untuk menguasai dengan aroma seksual berbalut kasih sayang.

Banyak yang bahkan memberi cinta sejumlah kriteria, yang lantas dianggap kebenaran yang hakiki. Mereka bilang, cinta adalah cinta bila ada kontak fisik, ada persentuhan lahiriah, supaya bila berjauhan dapat membayangkan si dia dan merindukannya. Lha, para pecinta Tuhan tak pernah melihat bagaimana wujudNya, tak pernah menyentuhNya, tetapi kok bisa merindukanNya dan mencintaiNya?

Cinta semacam itu kini menghinggapi saya. Hingga catatan ini harus saya sudahi, ia tetap menjadi cinta tanpa definisi.©

Tuesday, April 20, 2010

CAHAYA KECIL DI DUNIA BESARKU

Keheningan memercikkanmu di sudut sunyi kontemplasiku

Menuntunku ke jalan cinta tanpa tabir,

meniadakan kekhawatiran karena kau adalah yang pertama dan terakhir

Sirna takutku akan kebutaan

sebab daya rida yang pada mata duniaku kau isikan


Cahaya keemasan,

datanglah padaku, rangkul aku dengan biru bajumu dan tawa pesona menggelora

Yang telah jadi ingatan abadiku tentang pancaran Cinta

Kau tuntun aku ke mana, ku serahkan padamu, karena kaulah pemilik cahaya --

Suar segala penjuru yang memandu

perahu-perahu tak berpedoman yang meraba rangkak tak menentu


Cahaya kecil di dunia besarku

Menyilaukan mata hatiku yang telah takluk oleh benda

Cahaya kecil di dunia besarku,

dalam diam kau berkata-kata

Sedang bagiku tak ada kalimat yang cukup untuk puji-puja

Karena itu, aku memilih diam,

meningkahi diri dalam hening yang tenggelam

Keheningan yang memercikkanmu di sudut sepi kontemplasiku...



Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, 20 April 2010, pukul 4.25 WIB

PANDANGAN HOLISTIK

“Manusia adalah bagian dari suatu kemenyeluruhan, yang oleh kita disebut Alam Semesta, yang sebagian terbatas dalam waktu dan ruang. Ia mengalami dirinya sendiri, pikirannya dan perasaannya, sebagai sesuatu yang terpisah dari yang lain-lainnya – semacam khayalan optis dari kesadarannya. Khayalan ini adalah semacam penjara bagi kita, yang membatasi kita untuk mewujudkan keinginan pribadi kita dan kasih sayang untuk beberapa orang terdekat kita. Tugas kita adalah membebaskan diri kita sendiri dari penjara ini dengan memperluas lingkaran belas kasih kita untuk merangkul semua makhluk hidup dan seluruh alam dalam keindahannya.”
—Albert Einstein


Latar belakang pendidikan sarjana saya adalah ilmu sejarah, yang saya timba di Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (FS; sekarang bernama Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, FIB) Universitas Indonesia (UI). Spesialisasi saya adalah sejarah militer, yang mendorong saya untuk mengkaji strategi perang dan taktik pertempuran pada masa Aksi Militer Belanda II (1948-1949) untuk skripsi yang kelak membuat saya berhak menyandang gelar ‘S.S.’ (Sarjana Sastra) di belakang nama saya.

Karir saya selama lima belas tahun terakhir adalah di bidang komunikasi pemasaran dan korporat, yang ilmunya saya reguk waktu saya bercokol di perpustakaan Matari Advertising, lantaran pada saat saya baru bergabung dengan biro iklan papan atas itu belum tersedia ruangan tersendiri buat saya (yang kala itu dinobatkan sebagai peneliti buat penyusunan album kenangan sejarah dua puluh lima tahun Matari).

Apabila dipandang sebagai potongan-potongan kisah perjalanan hidup saya secara terpisah, maka yang tampak adalah kejanggalan: Apa korelasi ilmu sejarah, strategi dan taktik, dan komunikasi pemasaran dan korporat? Itulah cara pandang sebagian besar kita. Terpotong-potong, tidak menyeluruh, sehingga kita dihadapkan pada kesulitan memaknai hidup kita sendiri. Kesan yang didapat adalah keganjilan atau kebingungan, karena pertanyaan-pertanyaan tak terjawab.

Konon, penyebabnya adalah budaya dari lingkungan di mana kita hidup. Orang Barat (atau masyarakat modern yang matanya telanjur tersilaukan oleh materialisme) jarang yang memiliki kemampuan untuk memandang kemenyeluruhan, dibandingkan orang Timur. Rupanya, ada perbedaan pada cara pandang antara orang Barat dan orang Timur. Ketika disodori foto seekor macan di tengah hutan, orang Barat cenderung mengatakan, “Oh, itu gambar macan.” Sedangkan orang Timur/Asia rata-rata berujar, “Itu, sih, gambar macan di tengah hutan.” Selain melihat obyek utama, orang Timur rupanya memperhitungkan latar belakangnya. Dalam filsafat dunia Timur, segala sesuatu memang dilihat secara menyeluruh, bukan obyek an sich, agar dapat ditangkap makna terdalam dari obyek dan kehadirannya. Ini bukan cerita isapan jempol, melainkan benar-benar hasil penelitian terhadap cara pandang, yang terungkap dalam buku Ken Robinson, Ph.D., The Element: How Finding Your Passion Changes Everything (Viking Adult, 2009).

Seperti dianjurkan oleh para guru bijak, para pejalan di ranah spiritual (yang kebanyakan berasal dari Timur), hiduplah secara sadar – secara meditatif, maka akan tampak kemenyeluruhan dari segala sesuatu yang kita hadapi dalam hidup ini. Kegagalan, dalam konteks cara pandang orang Timur yang holistik, bukan serta-merta berarti gagal selamanya, melainkan suatu proses bagi kita untuk belajar, dan pembelajaran itu menjadi batang lontar kita untuk mencapai kesuksesan. Gagal-sukses, sakit-sehat, kalah-menang, dan segala sesuatu yang saling berseberangan lainnya, merupakan suatu ‘bangunan hidup’ yang sebagian besar dari kita baru dapat menerimanya dengan sabar dan ikhlas apabila disajikan ke hadapan kita dalam sifatnya yang holistik.

Memandang secara sadar bukan berarti memandang dengan pengetahuan. Memandang secara sadar adalah memandang apa adanya, lepas dari persepsi tentang masa lalu atau masa depan. Memandang saja, saat ini. Maka akan tampak kemenyeluruhannya, baik yang nyata maupun sunyata (intangible). Memandang secara holistik akan membangunkan kesadaran mengenai sebuah perjalanan yang bermakna dari apa pun yang pernah dan sedang kita hadapi.

Kalau melihatnya secara sepotong-sepotong, yang hinggap pada diri saya hanyalah penyesalan, dan mungkin juga kemarahan besar. Sebab, menurut diri saya yang marah, buat apa saya kuliah enam tahun (dua belas semester) di jurusan sejarah, mendalami sejarah militer dan mengkaji strategi perang bila akhirnya kini saya malah berkecimpung di industri komunikasi?!

Tetapi setelah saya kumpulkan dan urut seluruh potongan ‘teka-teki kehidupan’ saya tampaklah gambaran menyeluruhnya, yang jernih dan pasti: berkat ilmu sejarah, saya menjadi terbiasa menyusun secara kronologis latar belakang dari produk/jasa atau perusahaan yang akan memberi saya petunjuk atas permasalahannya ketika saya mempertimbangkan strategi komunikasinya. Dan ketika mengatur strategi komunikasi tak jarang saya terilhami oleh kasus-kasus strategi perang dan taktik pertempuran yang pernah saya pelajari dahulu semasa masih menjadi mahasiswa Jurusan Sejarah FSUI.

Intinya, dalam pandangan holistik saya, apa yang pernah saya lalui merupakan ‘ban berjalan’ (conveyor belt) dari pabrik kehidupan yang membawa saya pada keadaan sekarang ini. Saya kini tak lagi menyesali kenyataan bahwa saya adalah praktisi komunikasi pemasaran dan korporat yang menyandang gelar S.S. dalam ilmu sejarah.©

Jalan Spiritual yang Humoris

“Tertawa adalah jogging batin.”
—Norman Cousins (1915-1990), wartawan politik, penulis dan profesor dari Amerika Serikat


Salah seorang sahabat dari Nabi Muhammad dikenal sangat tidak serius, suka melucu dan bertingkah konyol, sehingga lama-kelamaan para tetangganya merasa terusik dan mengadukan sang sahabat kepada Nabi. Tetapi, Nabi Muhammad malah berkata, “Biarkan saja. Hatinya dekat kepada Allah.”

Sejauh yang pernah saya alami, spiritualitas ada baiknya disikapi dengan rasa humor (sense of humor) yang tinggi; dengan tidak kelewat serius. Menurut saya, orang yang hatinya senantiasa bersahabat dengan Sumber Ilahi sepatutnya tidak kesusahan atau (merasa) menderita. Ia akan tertawa (dan mengajak orang lain tertawa) dalam berbagai keadaan: senang atau susah, suka atau duka, sehat atau sakit, sukses atau gagal.

Namun, tak dipungkiri, di jalan spiritual pun masih banyak pejalan yang memasang muka masam, cemberut, serius dengan kepala tertunduk seakan itu merupakan sejatinya sikap ketundukan (submission) kepada Sang Kuasa. Aisyah r.a. pernah menegur seorang pria yang berjalan tertatih-tatih dengan kepala tertunduk dan gaya berbicaranya sangat pelan serta lembut, yang menurut tetangganya ia demikian lantaran ia beriman kepada Allah. Aisyah pun berkata, “Sahabat Umar ibn Khattab lebih beriman di antara kalian semua, tapi suaranya tetap lantang dan sabetan pedangnya tetap garang.”

Intinya, jadilah diri sendiri, tidak usah mengenakan atribut yang menegaskan diri kita dekat dengan Sang Pencipta. Apakah Dia Maha Menakutkan sehingga kita perlu menundukkan kepala, tak berani mengurai senyum sedikit pun? Atau Dia Maha Lucu sehingga kita pun selalu tertawa dibuatNya? Terserah apa yang Anda prasangkakan terhadapNya.

Saya pribadi menganggap Dia teman nongkrong (kontemplasi) yang doyan melontarkan teka-teki yang jawabannya terserah kita, namun alangkah bijaknya bila disikapi dengan tawa dan canda. Seorang pengarah seni (art director) dalam tim kreatif yang saya pimpin dahulu suatu kali berkata pada saya, bahwa apabila ia berdiskusi tentang Tuhan dengan seorang sahabat kami – yang menyeriusi jalan spiritual – kesan yang diperolehnya adalah bahwa Tuhan itu serius. Sebaliknya, jika ia mendiskusikan Tuhan dan ketuhanan dengan saya, ia mendapat kesan bahwa Tuhan itu humoris.

Itu, mungkin, dikarenakan saya tak pernah kelewat serius (atau bahkan tidak serius sama sekali) dengan masalah Tuhan dan ketuhanan. Semua saya sikapi dengan becanda. Ketika seorang kawan memberitahu saya bahwa dirinya tidak percaya Tuhan lagi, sementara kerabat dan sahabatnya menghujat, dengan enteng saya merespons, “Kalau lu ngomong gitu ke Tuhan, paling Dia cuma bilang ‘EGP – emang Gue pikirin’.” Tak lama kemudian, kawan itu kembali menaruh kepercayaan kepada Tuhan, karena, katanya, tentunya Tuhan suka melucu dengan ‘mengutus’ saya, yang justru tidak pernah serius, tidak seperti para ulama atau pendeta yang gemar menjanjikan surga atau mengancam dengan kengerian neraka, untuk menyampaikan kebenaran tentangNya.

Di jalan spiritual di mana saya melangkah, yaitu Subud, terdapat orang-orang yang sangat serius, tak kenal becanda, yang sama banyaknya dengan mereka yang selalusumringah, menderai tawa terhadap kehidupan yang tidak selalu menawarkan suka. Di antara yang tersebut pertama, sudah tentu orang macam saya dianggap usil. Beberapa waktu lalu, seorang saudara Subud saya berkata kepada saya dengan sikap yang – mungkin diharapkannya – mencerminkan seorang guru Sufi dengan mimik yang serius (lucunya, ajaran tasawuf yang kompleks seringnya disampaikan melalui anekdot-anekdot yang mengundang gelak tawa), “Di Subud, kita tanggalkan yang lain-lain. Kita hanya bermesraan dengan Tuhan.”

“Tapi karena saya tidak percaya Tuhan, saya bermesraan dengan siapa, Pak?” ujar saya spontan, menahan tawa. Saudara itu kontan mendelik, memelototi saya, tetapi tidak mampu berkata-kata. Itu merupakan pemandangan yang membuat saya sakit perut menahan tawa.

Saya tertawakan kenyataan adanya orang-orang yang tidak bisa menertawakan kenyataan diri mereka. Karena, yang saya pahami, jalan spiritual (juga agama-agama resmi) seharusnya menawarkan pelipur lara, dunia yang penuh tawa walau duka mendera. Jalan spiritual yang sejati adalah yang humoris; tidak bikin miris, tetapi sebaliknya menciptakan wajah sebagaimana Sang Buddha dalam meditasinya: senyum penuh damai.©

ANTO ACCORDING TO ANTO

A close friend of mine once wrote a testimony about me in my Friendster profile as follows:

“Reticent and shy on the outside, but teeming with creative energy on the inside, Anto Dwiastoro is a copywriter, scriptwriter, travel writer, and creative consultant, not to mention a romantic daydreamer and a casual seeker on the spiritual path.”

People may say about me whatever they want, but what I would describe regarding myself is like this:


A perfect morning for me is when I receive good news or surprise.

I always smile when I get spiritually enlightened or get a brilliant idea.

I jumped out of my seat when I got an admission to the University of Indonesia.

I give thumbs up to Michael Crichton, the author of Jurassic Park, The Lost World, Sphere, etc.

I cannot help but admire intelligent women and women in military uniforms. Seriously.

I cannot help but dislike conceited people.

I can never give up hoping to travel to Nepal, Scotland and Normandy.

I cannot get enough of writing.

I would give up everything to be able to rewind back to the time where both of my parents were still alive and well.

My perfect home is the one I live in with my wife and children.

The perfect woman for me is my wife.

The perfect man for me is Colin Powell, former U.S. Secretary of the State and Chairman of the Joint Chiefs of Staff.

I am so embarrassed when I have to speak frankly to a woman that I admire her.

The smell of Dutch cheese always reminds me of armpits.

If I had a million dollars, I would like to give some to those in need.

If I could go back in time, I would re-arrange my plans and efforts for the future.

If I could go to the future, I would say no!

Three things I would like to say to my younger self (during my stressful school years):
1. Have a high self-esteem
2. Never stop learning
3. Get into the spiritual path

My earliest childhood memory is having the domestic helper babysitting me during the entire day at school.

A perfect book for me is Cutting-Edge Advertising by Jim Aitchison.

I moved back to Jakarta because I was born here. After living in Surabaya for five consecutive years, Jakarta is my home.

A perfect holiday for me is going to places of interest not by my own expense but instead get a fee for it – vacationing for a living!

A perfect life for me is when I can realize all my dreams as easy as turning my hand.

A perfect hotel for me is every hotel where the breakfast has a variety of tasty menus.

I think in 2050 the world will be the same as today but technologically highly developed.

I think religion is overrated because it can’t give you happiness in this life. If it was for the afterlife, then I’ll start having a religion when I die.

I lie when I say I never lie.

My perfect Indonesia is a cleaner Indonesia in every aspect.

The one word that best describes me is contemplative.


Sanur Beach Hotel, Bali, April 11, 2010

CINTA YANG MEMBINGUNGKAN

Cinta itu sulit dimengerti

Tak semua tahu, cinta itu namaNya

yang bertakhta di hati semua

CintaNya adalah yang paling sempurna

yang hinggap pada hamba yang menggelembungkan hatinya

ketika ia haus dan berputus asa

untuk bertemu dengan Kekasihnya

Cinta adalah kepedulian yang paling tinggi dari hati

Yang membuat sang pecinta tidak akan menjauh dari mengingat kekasihnya


Berkatalah Rabi’ah* padaku, “Orang-orang arif menempatkan hati dalam cahaya cintaNya”

Lalu kenapa ketika cinta menautkan hati-hati

yang meresah untuk membagi mesra,

tak ayal disangka berahi yang membara?

Lalu kenapa kala cinta merias hidup laki-laki dan perempuan

yang tak dialasi hasrat untuk menang,

juga dianggap terlarang?

Aku pun malu memandang wajahMu

manakala Kau seluruhnya adalah cinta,

lantaran cinta kepalang dipandang nafsu

Cinta memang membingungkan

Yaitu tatkala cinta ditafsir dengan akal budi

Bukan diizinkan pepat di hati dua insan yang menggenggam suci…



Jakarta, 4 April 2010


*) Rabi’ah al-Adawiyah (717-801 M) adalah seorang Sufi perempuan kelahiran Basrah, Irak, yang pertama kali mengemukakan ajaran tentang Cinta Ilahi. Filsafatnya sangat memengaruhi Sufi Persia abad ke-13, Jalaluddin Rumi.

Menyatakan Diri Lewat Jabatan

“Anda bukanlah jabatan Anda.”
—Tyler Durden, Fight Club (1999)


Tahun 2005 lalu, seorang direktur pengelola sebuah biro iklan berukuran menengah (medium-size ad agency) menyambut saya yang hari itu mengawali kerja di perusahaannya. Pertama kali diwawancara sebulan sebelumnya, saya dimaksudkan untuk mengisi jabatan pengarah kreatif (creative director, CD). Tetapi pada hari pertama kerja itu, sang direktur pengelola malah bertanya, titel apa yang ingin saya sandang – apakah Creative Director, Account Director atau Strategic Planner, karena dalam praktiknya saya memiliki keahlian dan pengalaman untuk menjalankan tugas dari ketiga jabatan itu. “Jadi OB (office-boy) juga nggak apa-apa, Pak. Asal saya boleh terlibat dalam brainstorming kreatif dan bikin iklan,” jawab saya, ringan.

Ia lantas mengimbuhkan bahwa di agency itu sudah ada CD dengan latar belakang art direction (pengarahan artistik), yang mungkin bakal merasa tersinggung bila ada orang baru yang mengklaim setaraf jabatannya dengan dia. Akhirnya, saya dititelicopy-based creative director (pengarah kreatif berbasis penulisan naskah iklan). Saat itu, saya heran kok masih ada orang yang mementingkan jabatan, sementara pengalaman saya selama ini adalah lebih penting menjunjung tanggung jawab dalam pelaksanaan tugas daripada sekadar memegang jabatan.

Meski bercanda, jawaban saya bahwa saya jadi OB pun tidak masalah dilandasi oleh pengalaman saya delapan tahun sebelumnya, yaitu ketika saya menjadi creative group head pada sebuah biro iklan multinasional. Saat itu, saya menangani, antara lain, komunikasi pemasaran untuk mobil dan bus Mercedes-Benz. Suatu kali, saya dan rekan saya, sang pengarah artistik (art director), terpaksa lembur sampai larut malam, mempersiapkan materi iklan cetak untuk bus Mercedes-Benz untuk pemasangan di majalah in-flight-nya Lufthansa, maskapai penerbangan nasional Jerman. Seorang OB yang sedang mengepel lantai tampaknya sudah lelah, tetapi ia tidak boleh pulang sebelum saya dan rekan saya menuntaskan pekerjaan kami.

Dengan rada jengkel ia rupanya melirik ke layar komputer saya, di mana saya tengah berkutat mencari ide untuk naskah iklannya. Spontan sang OB berseru, “Ooh, bus Mercy toh?! Mau ngomong apa lagi sih? Udah terkenal kok remnya pakem dan suspensinya enak. Orang-orang di kampung saya, Cianjur, kalau naik bus milihnyaMercy.”

Perkataan spontan sang OB kontan memercikkan ide brilian di benak saya. Eureka! Saya seperti mendapat pencerahan. Kata-kata “mau ngomong apa lagi sih?” yang meluncur dari mulut si OB akhirnya menjadi headline iklan cetak tersebut: “Need We Say More?” Visualnya berwujud sekadar logo Mercedes-Benz yang sudah ‘berkata segala-galanya’ tentang kehebatan bus Mercedes-Benz. Pengalaman tersebut juga menegaskan pada diri saya bahwa kita tidak perlu jabatan hebat untuk melontarkan ide-ide hebat.

Adalah konyol untuk menyatakan diri lewat jabatan, karena alih-alih wawasan Anda meluas malah jadi sempit dan picik. Di salah satu biro iklan multinasional tempat saya bekerja dahulu, seorang copywriter tidak boleh melampaui tugasnya menulis naskah iklan, tidak boleh mencampuri pekerjaan art director yang bertugas menata artistik tampilan iklan, walaupun saat brainstorming batas pembeda kedua jabatan tersebut menjadi sirna. Beruntung saya pernah bekerja di biro iklan di Surabaya, yang langka sumber daya manusianya untuk jabatan-jabatan di departemen kreatifnya, bahkan juga di layanan klien, sehingga saya harus merangkap dua-tiga jabatan sekaligus, dan harus fleksibel: sebagai copywriter yang tugasnya bikin copy (naskah) untuk iklan, tak jarang saya harus pula bikin kopi (atau teh) untuk klien, lantaran OBnya sedang keluar kantor berhubung dia merangkap jadi kurir kantor.

Membatasi diri pada satu jabatan tertentu saja bakal menutup diri kita dari peluang-peluang yang melaluinya kita dapat memanifestasi segudang potensi yang kita miliki – tetapi belum kita sadari, karena kita kadung membatasi diri dengan menyatakan diri lewat jabatan.©

Mengintip Diri Sendiri

“Lebih baik dibenci karena diri Anda yang sebenarnya daripada dicintai karena diri Anda yang bukan sebenarnya.”
—Andre Gide (1869-1951), pemenang Nobel Sastra tahun 1947


Saya punya bakat yang rada menyebalkan, yaitu mampu melihat atau merasakan kehadiran makhluk halus. Saking seringnya saya berjumpa sosok-sosok menyeramkan itu sampai saya sempat berpikir bahwa mereka merefleksikan diri saya. Entahlah. Namun, yang saya sadari kemudian adalah bahwa meski wajah atau profil mereka menyeramkan, sampai sekarang yang paling sulit saya pandang adalah diri saya sendiri.

Perasaan saya campur-aduk kalau melihat diri sendiri, sehingga dalam banyak kesempatan yang saya lakukan hanya sebatas mengintip, sehingga diri saya pun tidak pernah terungkap secara utuh bagi diri saya sendiri.

Pada 23 Februari 2009, saudara saya di jalan spiritual, yang sehari-harinya berkecimpung dalam pembinaan mentalitas kewirausahaan, memperkenalkan saya pada suatu peranti lunak bernama IML (Institute for Motivational Living) DISCinsights Personality Profile Report. Peranti itu diciptakan oleh Dr. William M. Marston, salah seorang psikolog terkemuka abad ke-20 yang terkenal karena menciptakan tes tekanan darah sistolik dalam suatu upaya untuk mendeteksi kebohongan, yang menjadi salah satu komponen dari alat poligraf modern – mesin pendeteksi kebohongan yang dipakai kepolisian untuk memeriksa tersangka pelaku kejahatan.

Dibarengi rasa penasaran yang selalu hinggap pada diri saya apabila dihadapkan pada hal-hal baru, saya pun mencoba peranti lunak tersebut, yang telah di-install di laptop saudara tadi. Peranti itu bermuatan sistem pengujian dengan lebih dari seratus pertanyaan dengan pilihan jawaban berganda yang harus kita tandai yang paling benar menurut kita. Setiap pertanyaan diberi batas waktu untuk menjawab hingga tidak lebih dari sepuluh detik. Lewat dari waktu itu, secara otomatis pertanyaan tersebut terkunci, sehingga kita tidak bisa memberikan jawaban. Hal ini menyebabkan kita cenderung memberikan jawaban-jawaban spontan tanpa peluang untuk mempertimbangkan atau memikirkan jawaban (premeditated answer) yang ‘terkesan baik’.

Ini berbeda dengan tes-tes psikologi yang dilakukan secara tertulis dan dilanjutkan dengan wawancara, dengan durasi menjawab lebih lama (satu jam) untuk seluruh pertanyaan, yang sama dari waktu ke waktu. Peserta yang pernah mengikutinya, seperti saya ketika diharuskan perusahaan tempat saya bekerja untuk menempuh tes semacam itu pada bulan Juli 2003, yang bagi saya merupakan kali yang kedua, akan dapat merekayasa jawabannya. Semua jawaban yang saya berikan saat itu merupakan rekayasa, sehingga, sebagaimana dugaan saya sebelumnya, si psikolog tepesona dan menyimpulkan bahwa diri saya baik-baik saja (baca: memenuhi kriteria standar perusahaan).

Dengan tes DISC tadi, semua pertanyaan serba baru, dalam bahasa Inggris yang simpel, dan setiap pertanyaan dibatasi waktunya. Kemungkinan kita merekayasa jawaban kecil sekali. Akurasinya konon mencapai 99,99%. Setelah semua pertanyaan dijawab – atau, paling tidak, disodorkan ke saya, jawaban-jawaban diproses dalam beberapa menit dan kemudian kesimpulannya, yaitu gambaran mengenai profil kepribadian saya, disajikan di depan saya. Kesimpulannya sebagian begitu mengejutkan sampai saya tidak berani membacanya saat itu. Paling banter, saya intip sebentar untuk kemudian saya lupakan. Pribadi saya, yang dalam tolok ukur norma umum bakal dinilai negatif, menampilkan wajah yang lebih menyeramkan daripada wajah-wajah makhluk halus yang pernah saya lihat selama ini.

Tetapi itulah kekeliruan saya. Seharusnya saya legawa menyambut sisi buruk/kekurangan saya sebagaimana saya menerima sisi baik/kelebihan saya. Dengan begitu barulah saya dapat melihat diri saya secara utuh.

Rasanya, sebagian besar kita memilih tidak mengenal dirinya secara utuh, dan menerimanya sebagaimana adanya. Psikiater Swis penemu psikologi analitis, Carl Gustav Jung (1875-1961), mengungkapkan bahwa pada diri setiap manusia ada sisi gelapnya. Tetapi, lantaran budaya masyarakat kita kadung menilai yang gelap itu buruk, yang terang itu baik, kita cenderung membenamkan sisi gelap itu ke dalam lumpur pengabaian; berlagak tidak tahu.

Padahal sisi gelap itu juga merupakan kemuliaan, yang tanpanya sisi terang itu takkan ada. Banyak pejalan spiritual yang saya kenal mengira nafsu amarah (al-nafs al-ammarah) atau nafsu setaniah itu buruk dan harus disingkirkan agar tidak menghambat pertumbuhan spiritual. Spiritualitas adalah mengenai melakoni hidup secara sadar, hingga kita menyadari bahwa diri kita hanyalah sebagian kecil dari suatu eksistensi yang maha besar.

Nafsu amarah – suatu istilah ilmiah dalam pembagian tujuh tingkatan nafsu (dalam Sufisme Jawa disederhanakan menjadi empat nafsu saja) yang pertama kali diungkapkan oleh al-Ghazali (1058-1111) dalam karya agungnya Ihya’ ulum al-din – sejatinya merupakan daya dorong manusia untuk mengupayakan kesejahteraan hidupnya. Tidak ada yang buruk dengan nafsu, kecuali kita tidak dapat mengendalikannya, atau mengelolanya dengan baik. Latihan spiritual bukanlah untuk menggelontor nafsu amarah dan lawwamah, serta mengagung-agungkan nafsumulkimah, muthma’inah, radhiyah, mardhiyyah dan shaffiyah dari diri kita, melainkan untuk mengelolanya, agar yang satu tidak lebih dominan dari yang lainnya. Dan eksistensi nafsu-nafsu itu bukan mewujud suatu tingkatan bertahap yang harus dicapai setelah melewati proses spiritual tertentu. Nafsu-nafsu itu membentuk satu kesatuan yang saling melengkapi. Namun, saran saya, dalam praktik kehidupan Anda abaikan semua ini. Nafsu-nafsu itu toh masih merupakan postulat (suatu proposisi yang belum terbukti tetapi diterima secara umum).

Memang tidak semua orang siap menerima kesejatian dirinya, namun kita perlu mengenal diri dengan baik, karena hal itu memengaruhi hubungan kita dengan orang lain (antar pribadi), dan, akhirnya, dengan diri sendiri dan Sumber Ilahi (intrapribadi). Kalau Anda tidak siap menghadapi kenyataan diri Anda secara tiba-tiba, ada berbagai pilihan cara lainnya, tetapi yang terpenting adalah dengan selalu menumbuhkan kesadaran.

Saya pribadi lebih suka ‘menemukan diri’ saya dalam suasana kerja tim (teamwork). Saya beruntung, karena kerja tim mewarnai dunia di mana saya mengais rezeki, yaitu dunia komunikasi pemasaran. Melalui kerja tim, saya dapat menginsafi kelebihan maupun kekurangan saya dengan berefleksi pada anggota-anggota lainnya dalam tim. Kelebihan bukan untuk disombongkan, dan kekurangan bukan untuk disesali dalam lingkup kerja tim. Masing-masing orang saling mengisi. Karena itu, dalam kerja tim tidak ada orang yang tidak berguna.

Kawan saya pintar bicara, tipe NATO (no action, talk only) dan tidak ada hal lain yang bisa dilakukannya selain ‘banyak omong’. Namun keberadaan dirinya tidak dapat diabaikan, berhubung kata-katanya selalu berhasil memotivasi rekan-rekan satu timnya. Saya menyadari kelebihan saya dalam melontarkan ide-ide yang cemerlang, sekaligus menginsafi kekurangan saya dalam mengimplementasikan ide-ide tersebut. Beruntung saya punya rekan-rekan yang tidak pandai beride namun sangat cekatan dalam bekerja: mereka selalu berhasil menerjemahkan ide-ide saya dalam bentuk-bentuk nyata yang dapat dinikmati semua orang.

Dari pengalaman saya menggali diri lewat kerja tim, tampaknya lebih mudah mengintip diri orang lain ketimbang mengintip diri sendiri, tetapi efeknya kita dapat mengenal diri sendiri tanpa harus menghadapi kejutan-kejutan yang menakutkan.©