Wednesday, September 11, 2019

Pada Akhirnya... “Latihan Saja, Nak!”


SEJAK kecil, saya dibebani fobia akan jarum suntik atau trypanophobia. Penyebabnya adalah trauma dari pengalaman saya menyaksikan sepupu saya disuntik pahanya oleh seorang dokter di ruang praktiknya dan jarumnya tetap menancap di pahanya ketika sang dokter mencabut tabung suntiknya. Kesaksian itu membekas di benak saya hingga saya dewasa, sehingga saya sangat takut disuntik, melihat orang disuntik, maupun hanya melihat alat penyuntiknya.

Menurut Wikipedia, fobia atau gangguan anksietas fobik adalah rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu atau fenomena. Fobia terhadap jarum suntik menghambat kehidupan saya. Perasaan takut akibat fobia itu sulit dimengerti banyak orang. Itu sebabnya, saya sering dijadikan bulan-bulanan oleh orang-orang di sekitar saya.

Ada perbedaan “bahasa” antara pengamat fobia dan pengidap fobia. Pengamat fobia adalah orang-orang di sekitar saya; mereka menggunakan bahasa logika, sementara saya sebagai pengidap fobia menggunakan bahasa rasa. Bagi pengamat, dirasa lucu jika seseorang berbadan besar takut dengan benda kecil seperti jarum suntik. Sementara di bayangan mental saya, subyek tersebut menjadi benda yang menakutkan.

Dalam keadaan normal, setiap orang memiliki kemampuan mengendalikan rasa takut. Tetapi bila seseorang terpapar terus-menerus dengan subyek fobia, hal tersebut berpotensi menyebabkan apa yang oleh Willy F. Maramis, dalam bukunya yang berjudul Ilmu Kedokteran Jiwa (Surabaya: Airlangga University Press, 2009), disebut sebagai “fiksasi”. Fiksasi adalah suatu keadaan di mana mental seseorang menjadi terkunci, yang disebabkan oleh ketidakmampuan yang bersangkutan dalam mengendalikan perasaan takutnya. Penyebab lain terjadinya fiksasi, menurut Willy F. Maramis, adalah suatu keadaan yang sangat ekstrem, seperti trauma bom, terjebak dalam lift, dan, seperti yang saya alami, jarum suntik tertinggal di paha sepupu saya.

Berbagai pendekatan pernah saya coba, mulai dari menggantungkan alat penyuntik di tempat-tempat di mana saya biasa berada, seperti di ruang kerja saya (digantungkan di sisi layar komputer yang saya pakai untuk bekerja), atau di sebelah tempat tidur saya, sehingga setiap kali saya akan tidur saya melihatnya dan ketika terbangun saya tidak kaget dengan keberadaannya. Semua pendekatan ini tidak pernah berhasil.

Tetapi, bukan berarti saya tidak pernah disuntik selama usia dewasa saya. Walaupun tidak sering, untuk keperluan-keperluan yang mendesak, seperti akan bepergian ke luar negeri, sebagai persyaratan melamar pekerjaan, mengambil surat izin mengemudi, dan dirawat di rumah sakit, saya tetap harus merelakan diri saya disuntik dan/atau diinfus. Meskipun hal itu menimbulkan keadaan yang cukup memalukan, yaitu saya meronta-ronta sehingga harus dipegangi beberapa orang, atau saya menjerit histeris, atau menangis di sudut ruangan di mana dokter atau perawat menanti untuk menyuntik saya.

Ketika tahun 2006 saya dirawat di rumah sakit karena infeksi lambung yang saya derita, ada satu perawat pria yang ahli menusukkan jarum infus ke punggung tangan saya tanpa saya merasa takut atau melawan. Ia mengajak saya mengobrol tentang berbagai hal dan becanda, tanpa memperlihatkan bahwa saat itu ia sedang mempersiapkan penusukan jarum infus ke tangan saya. Tiba-tiba saja, ia berkata, sambil memperlihatkan tangan saya yang telah tersambung dengan selang infus, “Tuh, sudah masuk.”

Bagaimanapun, untuk membuat saya mau dirawat di rumah sakit saja, sejumlah kerabat saya harus berusaha keras meredakan ketakutan saya yang sempat menolak untuk dirawat inap di rumah sakit—meskipun saya merasa sangat kesakitan di perut akibat infeksi lambung—lantaran saya membayangkan situasi-situasi di mana saya harus ditusuk jarum suntik atau jarum infus!

Keadaan-keadaan menakutkan sekaligus memalukan ini mendorong saya senantiasa mencari cara terbaik untuk mengatasinya. Saya pernah membaca sebuah artikel di majalah Femina bertahun-tahun yang lalu tentang seorang dokter gigi yang menerapkan hipnoterapi pada pasien-pasiennya yang takut terhadap pemeriksaan dan perawatan gigi, yang melibatkan alat-alat yang bagi seorang pengidap fobia dentophobia (fobia terhadap dokter gigi) atau trypanophobia tergolong menakutkan. Hipnoterapi adalah aplikasi hipnosis untuk tujuan perbaikan (therapeutic).

Membaca artikel tersebut, saya menjadi penasaran dengan cara kerja hipnotisme. Tapi saya urungkan niat saya untuk menggunakan pendekatan hipnoterapi untuk mengatasi fobia saya, karena teringat pada sejumlah pengalaman saudara-saudara SUBUD saya yang gagal dihipnotis, lantaran, konon, Latihan Kejiwaan yang meniadakan kerja akal pikir tidak dapat ditembus oleh pendekatan-pendekatan yang mengadakan kerja akal pikir.

Tapi, itu masih “katanya”, sedangkan sebagai anggota SUBUD, kita harus mengalami kenyataan, bukan sekadar teori atau “kata orang lain yang pernah mengalaminya”, meskipun orang itu nabi yang menerima wahyu ilahiah sekalipun. “Jangan percaya Bapak, sebelum Nak mengalaminya sendiri,” ucap pendiri Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan Susila Budhi Dharma (SUBUD), Bapak Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo (1901-1987) sering kali. Karena itu, saya, cepat atau lambat, harus mengalami hipnoterapi. Saya tidak mau memaksakan diri jika belum waktunya, melainkan saya bergantung pada bimbingan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Nah, waktu yang dikehendakiNya tiba baru-baru ini. Pada tanggal 10 September 2019, saya ada janji untuk berkonsultasi dengan seorang dokter spesialis anestesi (dokter spesialis yang bertanggung jawab memberikan pembiusan sebelum pasien menjalani operasi atau prosedur medis lainnya. Selain itu, ia juga membantu dalam manajemen nyeri dan perawatan pasien) di sebuah rumah sakit swasta di bilangan Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Seorang perawat laki-laki yang saya kenal sejak Februari tahun 2019, yang datang ke rumah saya untuk merawat luka di kedua kaki saya yang tak kunjung sembuh, menjadi perantara pertemuan saya dengan sang dokter. Dokter Andi namanya (bukan nama sebenarnya).

Kepada Dokter Andi saya ceritakan apa keluhan saya. Ia menyuruh saya mengetuk-ketukkan jari jemari tangan kanan saya pada sisi bawah tangan kiri saya dan sebaliknya selama saya bercerita. Menurut Dokter Andi, hal itu dapat meredakan ketegangan emosi.

Setelah cukup mendengar cerita saya, ia mulai melakukan serangkaian tindakan yang tampaknya merupakan bagian dari hipnoterapi. Mulai dari mengusap-usap kepala saya tanpa menyentuh, meletakkan jari telunjuknya di kening saya, sampai memijat-mijat bahu dan punggung saya. Sang dokter juga berbicara dengan suara dan konten yang ia ulang-ulang dan meminta saya mengulangi ucapannya. Rangkaian tindakan itu, bagaimanapun, tidak membuat sistem saraf saya tertidur, sebagaimana yang ditawarkan oleh arti dari asal kata “hipnotisme”, yaitu “neuro-hypnotism”. Saya tetap sadar akan sekitar saya, dan saya tetap takut pada jarum suntik yang dipegang oleh perawat laki-laki kenalan saya, yang saat itu mengasisteni Dokter Andi.

Dokter Andi terkejut dan terheran-heran. Ia mengatakan bahwa “lapisan-lapisan” yang membentengi saya sangat tebal, sehingga tak mudah ditembus. Menurutnya pula, belum pernah ada pasiennya yang tidak bisa dihipnoterapi. Kasus saya baginya istimewa, karena menantang ilmu pengetahuannya mengenai hipnotisme.

Merasa upayanya menghipnotis saya gagal, Dokter Andi mengulangi rangkaian tindakannya mulai dari nol lagi. Lagi-lagi gagal! Saat itu, saya baru tersadar: Ini pasti karena Latihan Kejiwaan telah mengisi saya, sehingga meskipun tidak saya niatkan Latihan itu telah membentengi saya dari segala unsur yang bukan ilahiah/alami. Dokter Andi berulang kali menekankan agar saya pasrah dan ikhlas. Saran itu justru semakin “mengisi” energi Latihan Kejiwaan pada diri saya. Di tengah terapi, anggota badan saya, yang sedari awal selalu dalam posisi duduk, bahkan bergerak-gerak seperti menari dan berjoget—persis ketika saya sedang Latihan Kejiwaan.

Saya ingin sekali menjelaskan kepada Dokter Andi dan asistennya bahwa saya anggota SUBUD yang aktif berlatih kejiwaan, yang konon tidak bisa dihipnotis, tetapi mulut saya serasa tercekat. Akhirnya, saya melepas keinginan saya untuk menjelaskan. Saya biarkan prosesnya berjalan alami. Saya ingin mendapatkan kenyataan.

Saya pun kemudian memohon kepada Tuhan, dalam hati, agar si dokter dimampukan untuk menghipnotis saya. Tapi, tiba-tiba saya tersadar dan “mendengar” suara dari dalam, yang berkata, “Mengapa kamu tidak minta pada Tuhan Yang Menciptakanmu agar diberanikan menghadapi jarum suntik? Minta padaNya agar kamu mampu melepas ketakutanmu.”

Saya pun melakukan apa yang diperintahkan suara batin saya. Tiba-tiba, semuanya berubah. Saya menantang si asisten dokter untuk menaruh alat penyuntik di depan saya, hal mana ia lakukan. Saya menyentuhnya, memegangnya, dan sambil tersenyum memandangi alat penyuntik dengan jarum logam yang menghunus. Saya tidak merasa ngilu melihat benda itu, tidak seperti sebelumnya. Saya yakin, saya ditolong oleh Tuhan melalui Latihan Kejiwaan yang diwariskan Bapak Subuh. Pada akhirnya, saya mengerti mengapa Bapak selalu menganjurkan “Latihan saja, Nak!” untuk mampu menghadapi berbagai perasaan negatif.

Bagaimanapun, saya menghargai usaha Dokter Andi dan asistennya untuk menyembuhkan saya. Saya yakin pula bahwa mereka berdua merupakan kepanjangan tangan Tuhan untuk membuat saya belajar mengenai diri saya sendiri dan mengenai kekuatan dari Latihan Kejiwaan SUBUD yang saya tekuni. Puji Tuhan!©2019



Green Permata Residence, Jl. Pondok Cabe III, Tangerang Selatan, 12 September 2019