Sunday, September 30, 2018

Dari Pikiran Turun ke Hati



BARU-baru ini, saya melakukan sebuah eksperimen dengan pikiran. Pikiran saya sendiri. Eksperimen iseng, yang saya lakukan untuk melengkapi pengetahuan saya tentang memetika (memetics). 

Dalam rangka eksperimen tersebut, saya menonton semua video di akun Youtube-nya Jokowi, baik berupa dokumenter yang di-setup maupun laporan-laporan visual mengenai kunjungan-kunjungan kerjanya serta rekaman yang menggambarkan kegiatan sehari-hari RI 1, yang tentunya sudah disunting. Saya juga menonton video-video dari lawan-lawan politiknya sebagai perbandingan—yang ternyata sama saja pendekatannya. 

Saya memperhatikan bagaimana pikiran saya secara berangsur-angsur mengalami pergeseran persepsi yang pada gilirannya mempengaruhi emosi saya, hanya dengan menikmati sekuens visual yang disertai musik pilihan dan narasi dengan suara yang sengaja dipilih untuk “mengayak” emosi pemirsa. 

Wah, gawat! Pikiran itu ternyata memiliki efek yang mengerikan bila diikuti. Pikiran mudah sekali dipengaruhi; ia tidak memiliki saringan atau filter yang dapat memilah mana informasi yang boleh dan mana yang tidak boleh memasuki ruang tamunya. Semua diterima dengan “baik” dan dipersilakan duduk, serta disuguhi hidangan lezat yang membuat tamu kurang ajar itu betah berlama-lama di dalam pikiran.

Pesan-pesan visual itu bergerak dari pikiran turun ke hati saya. Emosi saya menjadi tak menentu. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan sosok-sosok yang di-setting sedemikian rupa melalui representasi gambar, musik, dan suara. Inilah momen pikiran saya memproses informasi tersebut menjadi meme (gagasan semu, belum tentu benar, yang dianggap kebenaran sejati melalui pengulangan). 

Saya terpaku pada apa yang saya lihat, mendesakkan kecintaan yang mendalam pada sosok-sosok yang terwakili gambar elektronis, musik, dan suara yang tidak melulu milik mereka. Saya jadi ngeri sekaligus mengerti, mengapa para lovers dan haters Jokowi dan Prabowo dapat bertindak konyol atau tak masuk akal hanya gegara berita yang sebagian di-setting sedemikian rupa agar tersampaikan apa pun yang menjadi tujuan mereka.

Meme, oh meme. Menyadarinya saja membuat saya merasa lucu. Tapi karena ini eksperimen, saya tidak ingin membiarkannya bersemayam lebih lama di benak saya. Saya pun melakukan Latihan Kejiwaan, sebuah desinfektan ampuh untuk mengusir kepercayaan-kepercayaan semu.
©2018


Jl. Kalibata Selatan II, Jakarta Selatan, 29 September 2018

Wednesday, September 26, 2018

Latihan Selamanya

Hall Latihan Kejiwaan di kompleks Wisma SUBUD Cilandak, Jl. RS Fatmawati No. 52, Jakarta Selatan.


“LATIHAN Kejiwaan itu kayak gimana, sih? Apakah kayak meditasi? Semedi? Kebatinan?”

Pertanyaan seperti di atas seringkali saya terima dari teman-teman dan famili saya ketika mereka tahu saya aktif di Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan Susila Budhi Dharma (SUBUD) dan bahwa hal utama yang rutin saya lakukan di SUBUD adalah Latihan Kejiwaan. Menjelaskan apa itu Latihan Kejiwaan itu sama sulitnya seperti menjelaskan ke orang yang belum pernah makan, misalnya, soto ayam Lamongan tentang rasa soto ayam Lamongan. Kata-kata dalam bahasa apa pun yang Anda gunakan untuk menjelaskannya takkan mampu membawa seseorang untuk mengerti bagaimana Latihan Kejiwaan itu.

“Latihan itu bukan ini, bukan itu, melainkan yang kamu terima,” kata saudara tua saya, Pak Djoko Mulyono Hardjopramono (meninggal tahun 2010), suatu ketika bertahun-tahun yang lalu kepada teman-teman sekantor saya yang berminat masuk SUBUD.

Betul, dalam Latihan yang akan Anda rasakan atau terima hanya Anda sendiri yang tahu. Makanya, di SUBUD tidak ada ajaran maupun pelajaran, tidak ada guru, dan tidak ada teori yang dapat disampaikan. Semua teori gugur begitu penerimaan (receiving) dalam Latihan menjadi kenyataan. Dasar dari pemahaman kita di SUBUD, karena itu, adalah kenyataan-kenyataan yang kita terima dalam praktik kehidupan yang terbimbing oleh Latihan Kejiwaan atau “bimbingan Tuhan”. Di SUBUD tidak diperlukan adanya guru, karena setiap orang berbeda dari yang lainnya, baik lahirnya maupun “isi”nya. Yang cocok bagi orang lain, belum tentu pas bagi Anda.

Latihan juga bersifat berkesinambungan, baik Anda menyadarinya atau tidak. Sejak Anda dibuka—momen di mana seorang kandidat anggota SUBUD menerima Latihan Kejiwaan untuk pertama kalinya, dengan atau tanpa didampingi pembantu pelatih, Latihan itu terus ada bersama Anda. Dan Anda tidak bisa ditutup lagi setelah Anda menerima pembukaan di SUBUD. Banyak anggota SUBUD yang menghilang, pergi dan tak pernah kembali lagi sejak dibuka ataupun setelah beberapa saat melakukan Latihan di lingkungan Wisma SUBUD. Latihan ini tidak bisa diatur-atur, diniatkan, diminta, dinanti-nanti, sehingga acap membuat pelatih (pelaku Latihan) merasa bosan, jenuh, kesal, kecewa, marah, sehingga akhirnya hengkang dari SUBUD. Bagaimanapun, hengkangnya seseorang dari SUBUD dan berhenti melakukan Latihan tidak lantas membuatnya tertutup kembali. Latihan itu, nyatanya, terus hidup di dalam dirinya. Cepat atau lambat, atau mungkin juga tidak, yang pergi akan kembali berlatih.

Bagi saya, Latihan Kejiwaan merupakan proses pembelajaran berkelanjutan (continuous learning process); Latihan ini akan terus berlangsung bahkan ketika saya sudah tidak di dunia ini. Latihan Kejiwaan adalah sarana bagi saya untuk melatih jiwa saya yang sudah sekian lama—sejak saya dilahirkan di dunia dan akal pikiran saya mulai dikenalkan pada ajaran-ajaran dunia—tidur. Jiwa saya ketika dibangunkan dari tidur itu seperti orang yang kebingungan melihat berbagai kenyataan di dunia yang tidak sejalan dengan yang pernah dikenalnya ketika ia menjadi satu-satunya yang membimbing saya, yaitu ketika saya masih bayi. Sejak saya menerima Latihan ini, perlahan-lahan, berangsur-angsur, saya mulai kembali bergantung pada tuntunan jiwa saya. Memang sulit, karena akal pikiran saya selalu saja menyela. Saking sulitnya, makanya saya harus rajin berlatih kejiwaan, rajin niteni (menganalisis diri) kapan jiwa saya yang berperan dan kapan nafsu menunggangi akal pikiran saya. Karena itulah, disebut Latihan; ia harus dilakoni terus-menerus dengan momen “bertanding”nya adalah ketika saya menjalani hidup saya.

Seperti apakah Latihan Kejiwaan itu? Tentu setiap orang berbeda pengertiannya, tergantung dari pengalaman yang ia lalui dalam suatu saat Latihan. Yang sama adalah bahwa setiap anggota SUBUD biasanya menenangkan diri terlebih dahulu di pinggir ruangan Latihan (anggota SUBUD menyebutnya “hall”, dari bahasa Inggris yang berarti “ruangan yang relatif besar dan lapang yang tertutup oleh dinding dan atap”). Tujuan dari penenangan diri ini adalah untuk mengikis sisa-sisa pemikiran yang tertinggal di benak kita. Dalam bahasa SUBUD disebut “kekotoran” atau “sampah dunia”, hingga “cangkir pengetahuan” kita sama sekali kosong, dan siap untuk dituangi bimbingan Tuhan Yang Maha Kuasa. Saat menenangkan diri itu kita akan merasakan vibrasi atau getaran seperti kesemutan atau tersengat listrik berdaya kuat sampai lemah. Setiap anggota melakukan penenangan diri dengan durasi yang berbeda-beda; ada yang cepat, ada pula yang membutuhkan waktu yang cukup lama; tergantung dari seberapa banyak kekotoran yang menumpat di cangkir pengetahuan kita.

Ada yang menyebut Latihan Kejiwaan itu adalah latihan berserah diri. Bisa jadi begitu, tetapi yang saya alami adalah ketika saya sudah berserah dirilah Latihan itu mulai mengisi dan meliputi diri saya. Seorang anggota SUBUD dari Perth, Australia, pernah bertanya di grup Facebook “Subud Around the World”, apa yang seharusnya ia serahkan (surrender) dalam Latihan. Saya menjawabnya, bahwa akal pikirannyalah yang harus ia serahkan agar tenang.

Saat menenangkan diri, seorang anggota akan terdorong secara spontan untuk melakukan gerakan-gerakan tertentu, yang tidak teratur dan tidak berarti apa pun maupun teratur seperti orang sedang menari atau melakukan jurus-jurus ilmu bela diri. Ia juga akan spontan bersuara, entah itu nyanyian, luapan kemarahan, tawa, menangis, atau kata-kata tak bermakna seperti bayi yang sedang belajar bicara. Anda dapat terdorong untuk berjalan, berlari, melompat, atau bahkan diam saja laksana patung. Semuanya dengan keadaan mata tertutup; bagaimanapun saya mengenal beberapa anggota SUBUD yang melakukan Latihan dengan kedua mata terbuka, yang merupakan suatu gerak spontan pula, bukan diniatkan agar terbuka matanya.

Latihan ini, sebagaimana dianjurkan oleh Bapak Subuh, pendiri Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan Susila Budhi Dharma (SUBUD) dan orang pertama di dunia yang menerima Latihan ini, sebaiknya dilakukan selama setengah jam dalam satu kali jadwal Latihan rutin Anda. Para anggota baru biasanya didampingi seorang atau lebih pembantu pelatih, karena mereka rata-rata belum bisa menghentikan sendiri Latihannya. Saya, meskipun sudah cukup lama berlatih, kadang masih keterusan Latihannya, melebihi setengah jam. Bila sudah kelamaan, saya hanya perlu memohon kepada Tuhan agar Latihan saya dihentikan. Walaupun begitu, tidak berarti Latihan saya telah pergi. Latihan itu terus ada selamanya.©2018


Jl. Kalibata Selatan II, Jakarta Selatan, 26 September 2018

Bimbingan di Mana-Mana


SAYA jarang membicarakan bimbingan Tuhan yang saya rasakan dalam Latihan Kejiwaan, kecuali dengan saudara-saudara SUBUD. Itu pun tidak semua; artinya, ada yang tidak mudah saya sampaikan, karena kata-kata tidak dapat membawa si pendengar atau pembaca kepada pengertian. Bagaimanapun, dalam Latihan, saya selalu menerima bimbinganNya. Bagaimana kalau di luar momen Latihan?

Saya sudah menginsafi bimbingan Tuhan ada di mana-mana, baik di dalam maupun di luar ruangan saya melakukan Latihan bersama-sama atau sendirian, sejak saya dibuka—menerima Latihan Kejiwaan pertama kalinya bagi kandidat anggota SUBUD—pada 11 Maret 2004. Kejadiannya begitu seringnya, sampai saya ragu kalau itu semua “kebetulan”. Dan kebetulan, saya tidak pernah percaya “kebetulan”; saya yakin, ada sesuatu yang lebih besar daripada eksistensi manusia yang mengatur bagaimana kita berpikir dan merasakan, berkata-kata dan berbuat.

Di luar ruangan tempat saya berlatih kejiwaan—biasanya di Hall Latihan SUBUD bersama saudara-saudara sejiwa atau di ruangan di rumah atau kantor saya—dan di luar kesadaran saya akan Latihan, saya kerap mendapatkan pengalaman-pengalaman yang membuat saya nyaris tak percaya bahwa mereka dapat terjadi. Tetapi, itulah kenyataan. SUBUD adalah kenyataan; SUBUD bukan ajaran maupun pelajaran, bukan teori yang bisa diurai panjang-lebar dengan kepandaian akal pikir kita atau kata-kata. Tidak ada ajaran di SUBUD; dari pendirinya, Bapak Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo, pun tidak kita terima ajaran. Yang beliau sampaikan adalah kisah-kisah pengalaman beliau dengan Latihan Kejiwaan maupun bimbingan Tuhan yang menyertainya. Anda tidak diharapkan percaya, sampai Anda mengalaminya sendiri. Anda tidak dipaksa untuk percaya; tidak seperti ajaran agama, di mana bila Anda tidak mempercayainya Anda terancam masuk neraka atau tidak selamat di dunia.

Di SUBUD, kita boleh percaya maupun tidak percaya apa pun yang disampaikan orang lain, walaupun dia saudara sejiwa, walaupun asalnya dari ceramah Bapak Subuh atau ceramah Ibu Rahayu (putri Bapak yang pada 1990an didaulat menjadi “saudara tua” kepada siapa para anggota SUBUD berkonsultasi sebagaimana dahulu para anggota melakukannya terhadap sosok Bapak), walaupun dari mulut pembantu pelatih (helper). Seorang pembantu pelatih asal Amerika yang telah lama menetap di Indonesia mengatakan kepada saya, “Tidak ada larangan dan kewajiban yang harus kamu patuhi di SUBUD. Bapak mengatakan, anggota hanya dilarang stres dan wajib tertawa.”

Sejak dibuka di SUBUD, 14 setengah tahun yang lalu, pengalaman-pengalaman saya dengan bimbingan Tuhan sudah tak terhitung. Bila dituliskan akan menghasilkan berjilid-jilid buku, dengan satu buku mungkin mencapai tebal 1.000 halaman. Pengalaman pribadi saya tidak selalu saya ceritakan baik secara lisan maupun tertulis. Sebagian dari pengalaman-pengalaman itu pernah saya tuangkan di blog ini. Saya tidak peduli apakah pembaca percaya atau tidak. Tetapi saya percaya, pengalaman-pengalaman ini merupakan cara Tuhan mengajarkan saya, sebagai pedoman saya dalam menjalani hidup.

Bimbingan itu bekerja ketika saya bergerak maupun diam, dalam “bentuk” tuntunan bagi saya dalam melakukan pekerjaan, berinteraksi dengan orang lain atau kejadian, berinteraksi dengan alam, dengan diri saya sendiri (senandika alias “berbicara dengan diri sendiri”). Bimbingan itu mulai bekerja ketika pikiran saya berhenti berkoar-koar atau telah kosong dari pemikiran-pemikiran, gagasan-gagasan, angan-angan. Sebagai pribadi yang selalu tertinggal dalam pelajaran di sekolah maupun bangku kuliah, dengan nilai rapor yang banyak merahnya, sungguh ajaib bagaimana bimbingan itu menjadikan saya pribadi yang memiliki intelejensia tinggi, mampu memikirkan hal-hal rumit atau melakukan hal-hal yang tidak dapat saya bayangkan sebelumnya.

Bimbingan ini membuat saya menjadi pribadi yang terpimpin oleh diri sendiri (self-leading). Tiba-tiba saja saya bisa mengerti hal-hal yang tadinya tidak saya pahami, tiba-tiba saja saya dapat melakukan hal-hal biasa dengan cara-cara yang tidak biasa. Pendek kata, setelah aktif berlatih kejiwaan, semua kebisaan-kebisaan dan kebiasaan-kebiasaan lama saya hilang, berganti menjadi kebisaan-kebisaan baru dan senantiasa terbarukan (renewable), yang seringkali mencengangkan. Bimbingan ini, yang saya yakini berasal dari yang Ilahi (divine), dapat membuat saya menjadi seorang profesor ketika saya berhadapan dengan profesor, berlaku seperti pejabat ketika berhadapan dengan pejabat, bersikap seperti teman main yang mengerti kebutuhan anak saya, menjadi ayah dan suami yang menyayangi keluarga, menjadi konsultan branding yang membuat klien-klien saya takjub akan segala sesuatu yang saya ketahui dan saya berikan kepada mereka.

Di mana saja saya berada, kapan saja, dan apa pun yang sedang saya lakukan, bimbingan itu bagaikan “kembar siam” yang terus-menerus bersama saya. Hal itu membuktikan, Tuhan ada di mana-mana, lebih dekat dari yang saya kira. Karena bimbinganNya ada di mana-manalah, makanya saya tidak peduli meski eksistensi Tuhan tak kasat mata.©2018


Jl. Kalibata Selatan II, Jakarta Selatan, 26 September 2018

Saturday, September 22, 2018

Kebenaran Latihan Kejiwaan SUBUD yang Saya Terima


DAHULU, saya mencari Tuhan. Sejak kecil, saya telah dikaruniai bakat kritisisme yang membuat saya senantiasa mempertanyakan dan meragukan ajaran agama yang diturunkan orang tua saya, yaitu Islam. Bagaimanapun, saya tetap menjalankan syari’at agama tersebut, agar saya memahami terlebih dahulu apa sih yang hendak disampaikan Nabi Muhammad SAW melalui ajaran Islam. Jadi, saya tidak serta-merta tidak menyukainya, tanpa dasar yang jelas. Semakin saya mempertanyakannya, semakin terkuak “rahasia” yang tidak pernah dijelaskan oleh ustad mana pun. Puji Tuhan, saya mendapat kesempatan itu, karena saya tidak mau menjadi penganut agama yang taqlid (ikut-ikutan). Dengan memahami hakikat ajaran Islam, saya menjadi penganut yang tahqiq (sadar/insaf).

Puncak pencarian saya adalah pada tahun 2003, yaitu ketika saya dikenalkan oleh salah satu mitra kerja saya di Surabaya kepada pribadi bernama Istiadji Wiryohudoyo, atau “Mas Adji”. Beliau adalah cucu tiri dari pendiri Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan Susila Budhi Dharma (SUBUD), RM Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo (22 Juni 1901-23 Juni 1987). Saya dipertemukan dengan Mas Adji oleh orang yang kelak menjadi saudara SUBUD saya, bernama Mas Heru Iman Sayudi, salah satu pembantu pelatih (helper) di PPK SUBUD Cabang Surabaya.

Saat itu, saya berada di titik balik dari penolakan saya terhadap eksistensi Tuhan Yang Maha Esa. Saya telah menobatkan diri saya sendiri sebagai seorang atheis pada tahun 2002, hanya karena semua ibadah syari’at yang saya lakoni tidak membuat Tuhan menjadikan saya kaya-raya sesuai doa yang saya panjatkan setiap harinya saat itu. Saat itu, saya membandingkan diri dengan seorang pengusaha kelas kakap kenalan bos saya, yang berkelakuan bejat tetapi memiliki kekayaan materi yang berlimpah. Karena marah dan kecewa, saya memutuskan meninggalkan agama saya satu paket dengan konsep Tuhan (Allah) yang diajarkannya. Saya pun meniru gaya hidup pengusaha kelas kakap kenalan bos saya itu, hanya saja di “kelas teri”-nya.

Mabuk-mabukan alkohol dan berselingkuh dengan wanita lain merupakan dosa utama saya saat itu, dalam kaidah agama Islam. Sampai suatu ketika, saya berkenalan dengan apa yang kelak menjadi “jalan hidup” saya: Latihan Kejiwaan SUBUD. Bagaimanapun, meski saya telah dibuka (pertama kali menerima Latihan Kejiwaan disaksikan oleh sejumlah pembantu pelatih) pada 11 Maret 2004 di Wisma SUBUD Cabang Surabaya, Jl. Manyar Rejo 18-22, Surabaya, Jawa Timur, keyakinan saya pada SUBUD belumlah paripurna. Saya masih terus mempertanyakan, apakah SUBUD benar-benar wahyu dari Tuhan yang diterima Bapak (panggilan anggota SUBUD terhadap RM Muhammad Subuh); apakah Latihan Kejiwaan benar-benar terisi zat kekuasaan Tuhan. Kekhawatiran saya saat itu bukanlah bahwa SUBUD ternyata “sesat”, melainkan bahwa SUBUD ternyata hanya merupakan “kembangan” dari agama Islam yang dianut pendirinya, atau aliran eklektis dari tasawuf Islam yang pernah dipelajari Bapak sebelum beliau menerima wahyu Latihan Kejiwaan.

Saat itu, hingga sekarang, terus terang saja saya kapok dengan agama Islam. Saya menghargai Nabi Muhammad SAW, pembawa ajaran agama ini, tetapi saya tidak mau lagi berpegang teguh pada agama ini. Islam sudah terdistorsi di sepanjang lebih dari 1.500 tahun sejarahnya, tidak lagi murni sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wassalam.

Sebuah pengalaman—dari sekian banyak pengalaman berkilauan emas yang pernah saya lalui setelah dibuka di SUBUD—memastikan hati, diri, dan jiwa saya pada kebenaran SUBUD. Pengalaman istimewa inilah yang memastikan kebenaran Latihan Kejiwaan yang saya terima empat belas setengah tahun yang lalu itu. Pengalaman itu saya lalui pada tahun 2007, antara bulan April hingga 1 Juni 2007.

Suatu ketika, dalam Latihan yang saya lakukan di Hall Latihan Cilandak, Jl. RS Fatmawati 52, Jakarta Selatan, pada 9 April 2007, saya menerima bahwa saya harus mendampingi paman saya di Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, yang tengah sakit keras dan sudah tidak ada harapan untuk sembuh. Paman saya itu adalah adik kandung ayah saya, nomor dua di antara tujuh bersaudara di mana ayah saya adalah anak tertua. Beberapa waktu sebelumnya, saya mendapat kabar bahwa paman saya itu—saya memanggilnya “Om Darisan”—menderita kanker usus stadium akhir, dan dokter sudah angkat tangan.

Saya cukup dekat dengan beliau, bahkan saya anggap ayah saya sendiri sepeninggal ayah kandung saya pada tahun 1995. Kepada beliau saya tak jarang berkonsultasi terkait urusan keluarga besar kakek saya dari garis ayah, Eyang Tamihardjo. Tetapi penerimaan saya untuk mendampingi beliau sungguh tidak masuk akal. Saya tidak punya pengetahuan maupun keahlian medis untuk dapat membantu beliau mengatasi penyakitnya. Saya tidak punya pengetahuan agama yang mumpuni untuk dapat membuat beliau tenang menghadapi keadaan tersebut. Saya bingung: Mengapa saya harus mendampingi beliau, sebagaimana penerimaan saya dalam Latihan di Hall Cilandak pada Senin malam, 9 April 2007?

Selama berhari-hari setelah itu, saya hanya memikirkan penerimaan tersebut, tetapi saya tidak membahasnya dengan siapa pun kecuali istri saya—yang juga anggota SUBUD. Sampailah pada tanggal 14 April, di mana saya dan istri menghadiri suatu acara pertemuan anggota dan pembantu pelatih SUBUD Jakarta Selatan di Hall Latihan Ciganjur, Jl. Moh. Kahfi I, Jakarta Selatan. Hall tersebut berada di lahan yang sama dengan rumah Pak Mulyono Hardjopramono, seorang pembantu pelatih sepuh yang dihormati di kalangan SUBUD karena wawasan spiritualnya yang mumpuni.

Kepada Pak Mul—demikian saya memanggil pensiunan presiden-direktur PT Reksasentosa Dinamika, anak perusahaan PT Danareksa itu—saya bercerita tentang penerimaan saya dalam Latihan di Hall Cilandak, bahwa saya harus mendampingi paman saya yang sakit keras di Purwokerto. Pak Mul mengomentari, “SUBUD ini kenyataan, To. Untuk tahu arti dari penerimaan itu kamu harus menyatakannya. Kamu harus melakukannya untuk memahami. Sudahlah, besok kamu dan Nana (istri saya) pergi saja ke Purwokerto.”

Keesokan harinya, saya dan Nana telah berada di dalam kereta api menuju Purwokerto. Saya ditelepon Pak Mul, yang cukup kaget juga begitu mengetahui bahwa saya melakukan apa yang beliau nasihatkan, yaitu berangkat ke Purwokerto untuk mencari tahu arti dari penerimaan saya itu. Saya juga ditelepon Ibu Tati Wardhana (Prof. DR Ir. Suhartati, SU), pembantu pelatih dan pembina SUBUD Cabang Purwokerto, yang telah diberitahu tentang kepergian saya dan Nana ke kota di kaki Gunung Slamet, yang juga merupakan kampung asal ayah saya. Saya mengenal Bu Tati dan suaminya, Prof. DR Ir. Wardhana Suryapratama MS, pada Oktober 2005, ketika saya diajak Pak Mul ke Purwokerto dalam rangka soft opening Hall Latihan SUBUD Purwokerto.

Bu Tati menawarkan untuk menjemput saya dan Nana di Stasiun Purwokerto, tetapi saya menolak, karena kedatangan saya dan istri ke Purwokerto adalah untuk urusan keluarga, bukan untuk urusan SUBUD. Bu Tati menghargai penolakan saya. Saya dan Nana pun menumpang taksi ke Desa Karangmangu, Kecamatan Baturraden, di mana rumah paman saya berada.

Betapa terkejutnya saya menjumpai paman saya di rumahnya. Saya hampir tidak mengenalinya dari tubuhnya yang sudah sangat kurus dan lemah, berbaring tak berdaya di dipan yang dipasang di ruang keluarga di rumah tersebut. Om Darisan yang saya kenal sebelumnya bertubuh gemuk dan sehat, penuh semangat dan humoris. Sosok yang saya temukan di hari ketibaan saya di Desa Karangmangu itu jauh dari gambaran Om Darisan yang ada di persepsi saya selama ini.

Malam harinya, salah satu putra dari Om Darisan datang ke rumah paman saya itu. Dia tinggal bersama istri dan anak-anaknya di Desa Sumampir, Purwokerto Utara. Malam itu, saya sedang menyendiri di teras rumah paman saya, sedangkan paman saya sedang berbaring di tempat tidur di kamarnya. Putranya kemudian menemui saya. Dia mengatakan bahwa Om Darisan ingin apa yang saya punya. Jadi, ceritanya, Heru, putra beliau, begitu datang ke rumah orang tuanya langsung menengok Om Darisan di kamar beliau. Heru menanyakan ayahnya apa yang beliau inginkan, ingin dibelikan apa (maksudnya, makanan).

“Saya ingin yang Anto punya itu, lho. SUBUD,” jawab Om Darisan menanggapi pertanyaan anaknya.

Karena itulah, Heru pergi menemui saya di teras rumah. Saya lalu menemui Om Darisan di kamar beliau, untuk memastikan apakah benar yang dikatakan Heru—bahwa paman saya itu menginginkan SUBUD. Om Darisan mengiyakan.

Pada momen itulah saya merinding. Bagaimana beliau bisa tahu SUBUD itu apa, sehingga beliau menginginkannya? Sebelum-sebelumnya, setelah saya masuk SUBUD dan berlibur ke Purwokerto saya pasti menginap di rumah Karangmangu. Om Darisan hanya pernah mendengar saya menyebut “SUBUD” ketika saya dan istri pamit hendak Latihan ke Hall Purwokerto. Beliau tidak menanyakan SUBUD itu apa, dan apa yang saya lakukan di Wisma SUBUD Purwokerto. Pernah sekali saya mengatakan bahwa saya melakukan “Latihan Kejiwaan” di Hall Purwokerto di Desa Kutasari, tetapi saya tidak menerangkan apa itu Latihan Kejiwaan dan beliau juga tidak menanyakannya.

Menanggapi keinginan paman saya yang terasa mengherankan itu, saya mengatakan kepada beliau bahwa saya akan mengontak Pak Wardhana untuk bagaimana saya harus menyikapi permintaan orang sakit keras yang tidak punya harapan lagi itu. Pak Wardhana pun saya telepon, dan selanjutnya, keesokan sorenya, beliau datang bersama Bu Tati ke rumah paman saya. Bertempat di ruang tamu, Pak Wardhana memberi penerangan tentang asas dan tujuan SUBUD, serta tentang sabar, tawakal, dan ikhlas. Saat diterangkan tentang sabar, tawakal, dan ikhlas, paman saya mengangguk-angguk sambil tersenyum kecil. “Betul itu,” ucap beliau. Saya tertawa dalam hati, pasalnya pagi di hari yang sama itu telah datang seorang ustad dari Desa Karangmangu, yang menasihati Om Darisan agar ikhlas menerima penyakit yang diderita beliau, malah ditanggapi Om Darisan dengan sinis, “Ah, kamu gampang ngomongnya. Kamu juga nggak bisa ikhlas kalau kamu di posisi saya!”

Pak Wardhana dan Bu Tati lantas mohon diri. Pak Wardhana mempersilakan Om Darisan untuk mengendapkan dahulu apa saja yang beliau terima dari Pak Wardhana; tidak perlu tergesa-gesa mengambil keputusan. Malam itu, kembali Heru memanggil saya ke kamar ayahnya. Om Darisan menyatakan sudah berketetapan hati untuk menerima Latihan Kejiwaan. Malam itu pula saya mengontak Pak Wardhana terkait keputusan paman saya.

Sore keesokan harinya, Kamis, 19 April 2007, Pak Wardhana datang ke rumah Karangmangu bersama Pak Aris Subagyo. Pak Aris saat itu masih menjadi pembantu pelatih daerah (PPD) SUBUD Cabang Purwokerto. Pak Wardhana meminta kamar yang cukup luas untuk melakukan pembukaan terhadap seseorang yang berkeinginan untuk menerima Latihan Kejiwaan. Sebuah kamar di tengah rumah, yang pintunya menghadap ke ruang tamu, sesuai dengan permintaan Pak Wardhana, dan ke situlah saya dan bibi saya memapah Om Darisan yang sudah sangat lemah. Beliau dibaringkan di ranjang yang ada di kamar itu dan kemudian saya dan bibi saya meninggalkan kamar itu. Pintu kamar saya tutup dan saya duduk menanti di ruang tamu, di kursi yang langsung berhadapan dengan pintu kamar. Tidak lama kemudian, Pak Wardhana membuka pintu dan memunculkan kepalanya, memanggil saya, “Monggo, Mas Anto, dampingi Pak Darisan.”

Di situ saya menahan haru dan merinding. Ya Tuhan, itu arti dari penerimaan saya dalam Latihan pada 9 April di Hall Cilandak. Saya harus mendampingi paman saya sebagaimana pembantu pelatih mendampingi dan menyaksikan seorang kandidat ketika akan dibuka. Saat itu hingga saya menuliskan pengalaman ini saya belum menjadi pembantu pelatih, tetapi Tuhan menghendaki saya mendampingi paman saya yang sudah kritis penyakitnya di saat akan menerima Latihan Kejiwaan untuk pertama kalinya. Puji Tuhan, paman saya dapat menerima getaran Latihan Kejiwaan menjalar di sekujur tubuhnya.

Sejak sore itu, setiap hari saya mendampingi paman saya melakukan Latihan Kejiwaan di kamar beliau. Ketika saya dan istri sudah kembali ke Jakarta pun saya tetap mendampingi beliau Latihan dari jarak jauh, dibantu Pak Wardhana juga dari jauh. Paman saya, Darisan Imam Gunarto, mengembuskan napas terakhirnya pada 1 Juni 2007, dalam kondisi yang, menurut cerita bibi saya, sangat damai, usai menunaikan sholat Subuh di ranjang rumah sakit. Napas terakhirnya keluar seiring ucapan lirih “laa ilaha ilallah”. Semoga arwah beliau diterima di tempat terbaik di sisiNya. Amin.

Di titik inilah saya menerima kebenaran sejati dari Latihan Kejiwaan SUBUD, yaitu bahwa Latihan ini benar-benar berasal dari kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Bagaimana seseorang yang belum tahu SUBUD dan Latihan Kejiwaan itu apa tetapi menginginkannya, itulah yang memastikan keyakinan saya bahwa Tuhan Maha Menuntun pikiran dan perasaan, perkataan dan perbuatan ciptaanNya.©2018


Jl. Kalibata Selatan II, Jakarta Selatan, 22 September 2018

Tuesday, September 11, 2018

Pembantu Pelatih yang Paling Baik*


Seorang anggota yang “kembali” Latihan menyurati seorang PP “kehormatan”.

Hallo J.,

Satu pertanyaan untuk Anda. Bulan-bulan belakangan ini saya sangat ingin pergi Latihan tiga kali seminggu (meskipun seringnya saya hanya bisa dua kali karena padatnya jadwal saya) dan saya ingin tahu pendapat Anda mengenai hal ini. Apakah itu berlebihan dan sebaiknya Latihan bersama dua kali dan sekali sendirian atau apakah perlu anggota menilai sendiri keadaan jiwanya? Terima kasih untuk pencerahan dari Anda.

-S.


Hallo S.,

Kamu harus menyesuaikan diri dengan Latihan, yang merupakan karunia Tuhan untukmu. Kamu harus belajar sebanyak mungkin tentangnya, terutama tentang bagaimana menggunakannya.

Latihan bukanlah karunia biasa. Latihan itu tahu mengenai dirimu lebih banyak daripada yang kamu tahu tentangnya. Latihan datang ketika diminta maupun ketika tidak diminta - yaitu ketika ada kebutuhan yang tidak kamu sadari. Menurut saya, Latihan selalu ada bersamamu dan hanya menunggu permintaan yang masuk akal untuk memasuki kesadaranmu.

Ada saat-saat di mana Latihan tampaknya tidak muncul tapi saya rasa Latihan itu sedang menanti kondisi-kondisi yang tepat bagi kehadirannya. Kita harus belajar untuk mempercayainya, untuk menjadi begitu akrab dengannya sampai kita bahkan bisa bicara dengannya, yang pada mulanya disebut “testing”. Bilamana hal itu terjadi, kamu akan memperoleh semua tuntunan yang kamu butuhkan untuk hidupmu dan yang harus kamu lakukan hanya belajar untuk mengikuti tuntunannya.

Jadi, mulailah menenangkan dirimu dan rasakan sensasi/getaran Latihan dan ajukan pertanyaan, “Apakah tepat jika saya melakukan Latihan tiga kali seminggu?” Jika jawabannya tidak jelas bagi rasamu, tanyakan segera setelah kamu melakukan Latihan yang penuh. Kamu dapat menanyakan dengan didampingi seorang PP seperti L., yang juga dapat menerima jawaban. Jawabannya tidak terukir di batu (bukan ajaran baku—ADS).

Mungkin saja tepat untuk melakukan Latihan tiga kali seminggu untuk selamanya atau sementara, dan kalau kamu memperhatikan rasa dirimu kamu akan tahu mana yang pas untukmu. Cara lainnya adalah menanyakan, “Dari mana asalnya perasaan untuk melakukan Latihan tiga kali seminggu?” dan kamu harus membuka diri terhadap jawabannya serta siap menghadapi responsnya. Bisa saja datangnya dari Latihan itu sendiri atau dari daya-daya rendah yang tidak memprioritaskan kebutuhanmu.

Berlatih dengan cara ini akan membantumu menjadi “pengguna” yang independen dan kamu akan semakin dekat dengan teman yang lebih baik daripada seorang sahabat.

-J.


 *) Postingan Lambert Bazinet di grup Facebook “For Subud Members Only”, Selasa, 11 September 2018, bertajuk “Helping at Its Very Best”. Diterjemahkan oleh Arifin D. Slamet.