Saturday, September 22, 2018

Kebenaran Latihan Kejiwaan SUBUD yang Saya Terima


DAHULU, saya mencari Tuhan. Sejak kecil, saya telah dikaruniai bakat kritisisme yang membuat saya senantiasa mempertanyakan dan meragukan ajaran agama yang diturunkan orang tua saya, yaitu Islam. Bagaimanapun, saya tetap menjalankan syari’at agama tersebut, agar saya memahami terlebih dahulu apa sih yang hendak disampaikan Nabi Muhammad SAW melalui ajaran Islam. Jadi, saya tidak serta-merta tidak menyukainya, tanpa dasar yang jelas. Semakin saya mempertanyakannya, semakin terkuak “rahasia” yang tidak pernah dijelaskan oleh ustad mana pun. Puji Tuhan, saya mendapat kesempatan itu, karena saya tidak mau menjadi penganut agama yang taqlid (ikut-ikutan). Dengan memahami hakikat ajaran Islam, saya menjadi penganut yang tahqiq (sadar/insaf).

Puncak pencarian saya adalah pada tahun 2003, yaitu ketika saya dikenalkan oleh salah satu mitra kerja saya di Surabaya kepada pribadi bernama Istiadji Wiryohudoyo, atau “Mas Adji”. Beliau adalah cucu tiri dari pendiri Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan Susila Budhi Dharma (SUBUD), RM Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo (22 Juni 1901-23 Juni 1987). Saya dipertemukan dengan Mas Adji oleh orang yang kelak menjadi saudara SUBUD saya, bernama Mas Heru Iman Sayudi, salah satu pembantu pelatih (helper) di PPK SUBUD Cabang Surabaya.

Saat itu, saya berada di titik balik dari penolakan saya terhadap eksistensi Tuhan Yang Maha Esa. Saya telah menobatkan diri saya sendiri sebagai seorang atheis pada tahun 2002, hanya karena semua ibadah syari’at yang saya lakoni tidak membuat Tuhan menjadikan saya kaya-raya sesuai doa yang saya panjatkan setiap harinya saat itu. Saat itu, saya membandingkan diri dengan seorang pengusaha kelas kakap kenalan bos saya, yang berkelakuan bejat tetapi memiliki kekayaan materi yang berlimpah. Karena marah dan kecewa, saya memutuskan meninggalkan agama saya satu paket dengan konsep Tuhan (Allah) yang diajarkannya. Saya pun meniru gaya hidup pengusaha kelas kakap kenalan bos saya itu, hanya saja di “kelas teri”-nya.

Mabuk-mabukan alkohol dan berselingkuh dengan wanita lain merupakan dosa utama saya saat itu, dalam kaidah agama Islam. Sampai suatu ketika, saya berkenalan dengan apa yang kelak menjadi “jalan hidup” saya: Latihan Kejiwaan SUBUD. Bagaimanapun, meski saya telah dibuka (pertama kali menerima Latihan Kejiwaan disaksikan oleh sejumlah pembantu pelatih) pada 11 Maret 2004 di Wisma SUBUD Cabang Surabaya, Jl. Manyar Rejo 18-22, Surabaya, Jawa Timur, keyakinan saya pada SUBUD belumlah paripurna. Saya masih terus mempertanyakan, apakah SUBUD benar-benar wahyu dari Tuhan yang diterima Bapak (panggilan anggota SUBUD terhadap RM Muhammad Subuh); apakah Latihan Kejiwaan benar-benar terisi zat kekuasaan Tuhan. Kekhawatiran saya saat itu bukanlah bahwa SUBUD ternyata “sesat”, melainkan bahwa SUBUD ternyata hanya merupakan “kembangan” dari agama Islam yang dianut pendirinya, atau aliran eklektis dari tasawuf Islam yang pernah dipelajari Bapak sebelum beliau menerima wahyu Latihan Kejiwaan.

Saat itu, hingga sekarang, terus terang saja saya kapok dengan agama Islam. Saya menghargai Nabi Muhammad SAW, pembawa ajaran agama ini, tetapi saya tidak mau lagi berpegang teguh pada agama ini. Islam sudah terdistorsi di sepanjang lebih dari 1.500 tahun sejarahnya, tidak lagi murni sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wassalam.

Sebuah pengalaman—dari sekian banyak pengalaman berkilauan emas yang pernah saya lalui setelah dibuka di SUBUD—memastikan hati, diri, dan jiwa saya pada kebenaran SUBUD. Pengalaman istimewa inilah yang memastikan kebenaran Latihan Kejiwaan yang saya terima empat belas setengah tahun yang lalu itu. Pengalaman itu saya lalui pada tahun 2007, antara bulan April hingga 1 Juni 2007.

Suatu ketika, dalam Latihan yang saya lakukan di Hall Latihan Cilandak, Jl. RS Fatmawati 52, Jakarta Selatan, pada 9 April 2007, saya menerima bahwa saya harus mendampingi paman saya di Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, yang tengah sakit keras dan sudah tidak ada harapan untuk sembuh. Paman saya itu adalah adik kandung ayah saya, nomor dua di antara tujuh bersaudara di mana ayah saya adalah anak tertua. Beberapa waktu sebelumnya, saya mendapat kabar bahwa paman saya itu—saya memanggilnya “Om Darisan”—menderita kanker usus stadium akhir, dan dokter sudah angkat tangan.

Saya cukup dekat dengan beliau, bahkan saya anggap ayah saya sendiri sepeninggal ayah kandung saya pada tahun 1995. Kepada beliau saya tak jarang berkonsultasi terkait urusan keluarga besar kakek saya dari garis ayah, Eyang Tamihardjo. Tetapi penerimaan saya untuk mendampingi beliau sungguh tidak masuk akal. Saya tidak punya pengetahuan maupun keahlian medis untuk dapat membantu beliau mengatasi penyakitnya. Saya tidak punya pengetahuan agama yang mumpuni untuk dapat membuat beliau tenang menghadapi keadaan tersebut. Saya bingung: Mengapa saya harus mendampingi beliau, sebagaimana penerimaan saya dalam Latihan di Hall Cilandak pada Senin malam, 9 April 2007?

Selama berhari-hari setelah itu, saya hanya memikirkan penerimaan tersebut, tetapi saya tidak membahasnya dengan siapa pun kecuali istri saya—yang juga anggota SUBUD. Sampailah pada tanggal 14 April, di mana saya dan istri menghadiri suatu acara pertemuan anggota dan pembantu pelatih SUBUD Jakarta Selatan di Hall Latihan Ciganjur, Jl. Moh. Kahfi I, Jakarta Selatan. Hall tersebut berada di lahan yang sama dengan rumah Pak Mulyono Hardjopramono, seorang pembantu pelatih sepuh yang dihormati di kalangan SUBUD karena wawasan spiritualnya yang mumpuni.

Kepada Pak Mul—demikian saya memanggil pensiunan presiden-direktur PT Reksasentosa Dinamika, anak perusahaan PT Danareksa itu—saya bercerita tentang penerimaan saya dalam Latihan di Hall Cilandak, bahwa saya harus mendampingi paman saya yang sakit keras di Purwokerto. Pak Mul mengomentari, “SUBUD ini kenyataan, To. Untuk tahu arti dari penerimaan itu kamu harus menyatakannya. Kamu harus melakukannya untuk memahami. Sudahlah, besok kamu dan Nana (istri saya) pergi saja ke Purwokerto.”

Keesokan harinya, saya dan Nana telah berada di dalam kereta api menuju Purwokerto. Saya ditelepon Pak Mul, yang cukup kaget juga begitu mengetahui bahwa saya melakukan apa yang beliau nasihatkan, yaitu berangkat ke Purwokerto untuk mencari tahu arti dari penerimaan saya itu. Saya juga ditelepon Ibu Tati Wardhana (Prof. DR Ir. Suhartati, SU), pembantu pelatih dan pembina SUBUD Cabang Purwokerto, yang telah diberitahu tentang kepergian saya dan Nana ke kota di kaki Gunung Slamet, yang juga merupakan kampung asal ayah saya. Saya mengenal Bu Tati dan suaminya, Prof. DR Ir. Wardhana Suryapratama MS, pada Oktober 2005, ketika saya diajak Pak Mul ke Purwokerto dalam rangka soft opening Hall Latihan SUBUD Purwokerto.

Bu Tati menawarkan untuk menjemput saya dan Nana di Stasiun Purwokerto, tetapi saya menolak, karena kedatangan saya dan istri ke Purwokerto adalah untuk urusan keluarga, bukan untuk urusan SUBUD. Bu Tati menghargai penolakan saya. Saya dan Nana pun menumpang taksi ke Desa Karangmangu, Kecamatan Baturraden, di mana rumah paman saya berada.

Betapa terkejutnya saya menjumpai paman saya di rumahnya. Saya hampir tidak mengenalinya dari tubuhnya yang sudah sangat kurus dan lemah, berbaring tak berdaya di dipan yang dipasang di ruang keluarga di rumah tersebut. Om Darisan yang saya kenal sebelumnya bertubuh gemuk dan sehat, penuh semangat dan humoris. Sosok yang saya temukan di hari ketibaan saya di Desa Karangmangu itu jauh dari gambaran Om Darisan yang ada di persepsi saya selama ini.

Malam harinya, salah satu putra dari Om Darisan datang ke rumah paman saya itu. Dia tinggal bersama istri dan anak-anaknya di Desa Sumampir, Purwokerto Utara. Malam itu, saya sedang menyendiri di teras rumah paman saya, sedangkan paman saya sedang berbaring di tempat tidur di kamarnya. Putranya kemudian menemui saya. Dia mengatakan bahwa Om Darisan ingin apa yang saya punya. Jadi, ceritanya, Heru, putra beliau, begitu datang ke rumah orang tuanya langsung menengok Om Darisan di kamar beliau. Heru menanyakan ayahnya apa yang beliau inginkan, ingin dibelikan apa (maksudnya, makanan).

“Saya ingin yang Anto punya itu, lho. SUBUD,” jawab Om Darisan menanggapi pertanyaan anaknya.

Karena itulah, Heru pergi menemui saya di teras rumah. Saya lalu menemui Om Darisan di kamar beliau, untuk memastikan apakah benar yang dikatakan Heru—bahwa paman saya itu menginginkan SUBUD. Om Darisan mengiyakan.

Pada momen itulah saya merinding. Bagaimana beliau bisa tahu SUBUD itu apa, sehingga beliau menginginkannya? Sebelum-sebelumnya, setelah saya masuk SUBUD dan berlibur ke Purwokerto saya pasti menginap di rumah Karangmangu. Om Darisan hanya pernah mendengar saya menyebut “SUBUD” ketika saya dan istri pamit hendak Latihan ke Hall Purwokerto. Beliau tidak menanyakan SUBUD itu apa, dan apa yang saya lakukan di Wisma SUBUD Purwokerto. Pernah sekali saya mengatakan bahwa saya melakukan “Latihan Kejiwaan” di Hall Purwokerto di Desa Kutasari, tetapi saya tidak menerangkan apa itu Latihan Kejiwaan dan beliau juga tidak menanyakannya.

Menanggapi keinginan paman saya yang terasa mengherankan itu, saya mengatakan kepada beliau bahwa saya akan mengontak Pak Wardhana untuk bagaimana saya harus menyikapi permintaan orang sakit keras yang tidak punya harapan lagi itu. Pak Wardhana pun saya telepon, dan selanjutnya, keesokan sorenya, beliau datang bersama Bu Tati ke rumah paman saya. Bertempat di ruang tamu, Pak Wardhana memberi penerangan tentang asas dan tujuan SUBUD, serta tentang sabar, tawakal, dan ikhlas. Saat diterangkan tentang sabar, tawakal, dan ikhlas, paman saya mengangguk-angguk sambil tersenyum kecil. “Betul itu,” ucap beliau. Saya tertawa dalam hati, pasalnya pagi di hari yang sama itu telah datang seorang ustad dari Desa Karangmangu, yang menasihati Om Darisan agar ikhlas menerima penyakit yang diderita beliau, malah ditanggapi Om Darisan dengan sinis, “Ah, kamu gampang ngomongnya. Kamu juga nggak bisa ikhlas kalau kamu di posisi saya!”

Pak Wardhana dan Bu Tati lantas mohon diri. Pak Wardhana mempersilakan Om Darisan untuk mengendapkan dahulu apa saja yang beliau terima dari Pak Wardhana; tidak perlu tergesa-gesa mengambil keputusan. Malam itu, kembali Heru memanggil saya ke kamar ayahnya. Om Darisan menyatakan sudah berketetapan hati untuk menerima Latihan Kejiwaan. Malam itu pula saya mengontak Pak Wardhana terkait keputusan paman saya.

Sore keesokan harinya, Kamis, 19 April 2007, Pak Wardhana datang ke rumah Karangmangu bersama Pak Aris Subagyo. Pak Aris saat itu masih menjadi pembantu pelatih daerah (PPD) SUBUD Cabang Purwokerto. Pak Wardhana meminta kamar yang cukup luas untuk melakukan pembukaan terhadap seseorang yang berkeinginan untuk menerima Latihan Kejiwaan. Sebuah kamar di tengah rumah, yang pintunya menghadap ke ruang tamu, sesuai dengan permintaan Pak Wardhana, dan ke situlah saya dan bibi saya memapah Om Darisan yang sudah sangat lemah. Beliau dibaringkan di ranjang yang ada di kamar itu dan kemudian saya dan bibi saya meninggalkan kamar itu. Pintu kamar saya tutup dan saya duduk menanti di ruang tamu, di kursi yang langsung berhadapan dengan pintu kamar. Tidak lama kemudian, Pak Wardhana membuka pintu dan memunculkan kepalanya, memanggil saya, “Monggo, Mas Anto, dampingi Pak Darisan.”

Di situ saya menahan haru dan merinding. Ya Tuhan, itu arti dari penerimaan saya dalam Latihan pada 9 April di Hall Cilandak. Saya harus mendampingi paman saya sebagaimana pembantu pelatih mendampingi dan menyaksikan seorang kandidat ketika akan dibuka. Saat itu hingga saya menuliskan pengalaman ini saya belum menjadi pembantu pelatih, tetapi Tuhan menghendaki saya mendampingi paman saya yang sudah kritis penyakitnya di saat akan menerima Latihan Kejiwaan untuk pertama kalinya. Puji Tuhan, paman saya dapat menerima getaran Latihan Kejiwaan menjalar di sekujur tubuhnya.

Sejak sore itu, setiap hari saya mendampingi paman saya melakukan Latihan Kejiwaan di kamar beliau. Ketika saya dan istri sudah kembali ke Jakarta pun saya tetap mendampingi beliau Latihan dari jarak jauh, dibantu Pak Wardhana juga dari jauh. Paman saya, Darisan Imam Gunarto, mengembuskan napas terakhirnya pada 1 Juni 2007, dalam kondisi yang, menurut cerita bibi saya, sangat damai, usai menunaikan sholat Subuh di ranjang rumah sakit. Napas terakhirnya keluar seiring ucapan lirih “laa ilaha ilallah”. Semoga arwah beliau diterima di tempat terbaik di sisiNya. Amin.

Di titik inilah saya menerima kebenaran sejati dari Latihan Kejiwaan SUBUD, yaitu bahwa Latihan ini benar-benar berasal dari kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Bagaimana seseorang yang belum tahu SUBUD dan Latihan Kejiwaan itu apa tetapi menginginkannya, itulah yang memastikan keyakinan saya bahwa Tuhan Maha Menuntun pikiran dan perasaan, perkataan dan perbuatan ciptaanNya.©2018


Jl. Kalibata Selatan II, Jakarta Selatan, 22 September 2018

3 comments:

Unknown said...

Mohon maaf, sy mau tanya, apa hubungan'y Bpk. Mohammad Subuh dgn Ki Ngabehi Suro Diwiryo dr Madiun ?
Terimakasih atas jawaban'y, nuwun..

MazBoeschMuhammad said...

Pengalaman Spiritual yang bagus, mas Arifin..

Anonymous said...

Terima kasih banyak share pengalaman kejiwaan Mas Arifin.
Saya merasakan kecocokan, karena pada hakikatnya dzat kekuasaan Tuhan akan menghampiri jiwa yang layak untuk dihampiri dengan bimbinganNYA.
Salam.