Monday, August 25, 2008

Senandika


Lebih dari sepekan yang lalu (naskah asli tulisan ini saya tulis pada 10 Februari 2008), di tempat tatap muka pria, sisi selatan Hall Subud Cilandak, saya, yang agak lelah setelah menempuh perjalanan dari rumah, mengempaskan diri ke kursi. Selain saya, ada satu bapak yang sudah sepuh, yang duduk dekat saya. Saya sudah bertemu dengan bapak itu beberapa kali, tapi baru hari Minggu, 3 Februari itu saya berkenalan dengannya. Ketika sebelumnya saya memarkirkan sepeda motor di pelataran parkir Wisma Subud Cilandak, saya juga bertemu dengan beliau -- bahkan sepeda motor beliau bertengger di sebelah sepeda motor saya. Karena saat itu kami belum berkenalan, maka tegur sapa antar saudara sejiwa ini masih berupa anggukan kepala dan senyum.

Di sudut tempat tatap muka pria, usai berkenalan, si bapak yang masuk Subud sejak tahun 1987 itu mengutarakan kegembiraannya setelah seminggu sebelumnya ia mendapat sesuatu yang bernilai dari ucapan saya yang menurut bapak itu 'usil tapi berisi'. Saat itu, si bapak sedang berdiskusi dengan tiga bapak-bapak lainnya tentang alam gaib. Saya pun nimbrung dan merecoki keasyikan mereka membahas alam gaib dengan berucap, "Makhluk gaib kayak gitu nggak ada gunanya, Pak. Mending ngomongin makhluk gaib bernama peluang."

Ketiga bapak itu terperangah, tersenyum kecut. Mungkin mereka berpikir, "Kurang ajar, nih, anak muda, ngeganggu kesenangan orang aja." Tapi salah seorang di antara mereka ( yaitu bapak yang berkenalan dengan saya sepekan kemudian) berkata, "Setuju, Mas. Daripada ngomongin makhluk gaib yang nggak jelas-jelas, mending mikirin makhluk gaib bernama peluang."

Seminggu kemudian saya berkenalan dengan bapak itu. (Saya membatin, "Anto, Anto, kenapa perlu waktu lama sebelum berkenalan dengan sesama saudara Subud?!") Tatap muka yang hanya dihadiri kami berdua dan tanpa helper itu membuahkan diskusi yang mengasyikkan, ketika masing-masing dari kami mengalami 'kebetulan' (saya beri tanda petik karena kebetulan saya tidak percaya 'kebetulan') . Si bapak itu sudah pensiun; sebelumnya ia menggiatkan hidupnya dengan bisnis manajemen artis. Saya pun berseru, "Wah, 'kebetulan', Pak, saya ngajak Youth bikin enterprise penyaluran tenaga kreatif untuk komunikasi, broadcast dan entertainment. Kapan-kapan Bapak mau kan ngasih workshop manajemen artis untuk Youth?" Si bapak mengangguk-angguk sambil tertawa senang.

Lalu, si bapak berucap, "Saya juga 'kebetulan' ketemu Mas Anto. Saya tuh punya dorongan yang kuat untuk menulis -- menulis apa saja. Anda kan penulis, mungkin bisa bantu saya. Saya bingung memulainya." Saat itulah saya merasakan bahwa pertemuan kami itu sudah diatur oleh Gusti Allah. Saya lantas menjelaskan kepada bapak itu...

Menulis itu sebenarnya mudah. Mulailah dari menjadi diri sendiri; be yourself. Tulislah apa yang benar-benar keluar dari dalam, jangan takut salah. Bagi saya, menulis adalah sarana untuk senandika (soliloquy, 'percakapan dengan diri sendiri').

Karena merupakan senandika, saya menemukan kesenangan dan kepuasan saat menulis dan saat membaca serta membaca ulang tulisan saya. Di situlah saya menemukan kepahaman tentang diri saya, juga tentang berbagai hal. Menulis bagi saya merupakan uji-coba terhadap kepribadian saya sendiri. Melalui menulis saya bisa menjelajahi dunia yang tidak terjangkau atau terakses oleh saya secara fisik; menulis adalah ekspresi imajinasi paling dahsyat, karena mampu menerobos batas-batas realita sekehendak hati penulisnya. Waktu saya masih kuliah, dengan imajinasi seksual yang rada keterlaluan buat ukuran mahasiswa berumur 24 tahun, saya pernah menulis cerita bersambung yang saya jual ke kawan-kawan saya seharga Rp 1.000/episode. Gaya berceritanya sarat dengan kesopanan bahasa yang memukau, tapi muatannya menyamai Kama Sutra, membuat kalangan pembaca cerbung saya berkomentar, "Lu kan belon merit, kok ngerti sih seluk-beluk gituan?"

Dalam mengukur kecerdasan, ilmu psikologi membagi tipe orang menjadi tiga -- penulis, pendengar, dan pembaca. Orang yang bertipe penulis umumnya bodoh ketika sekolah, karena metode pendidikan biasanya memberi tekanan pada mendengar dan membaca. Tipe penulis baru bisa memahami sesuatu bila sudah menuliskan apa yang didengar dan dibacanya tentang sesuatu itu. (Mungkin itu sebabnya rapor saya dari SD sampai SMA banyak merahnya.)

Jika Anda 'kebetulan' tertarik untuk mencoba atau memang suka menulis, tulislah apa yang Anda suka, jangan memaksa diri menulis sesuatu yang bahkan otak Anda saja tidak dapat mencernanya. Kawan saya semasa kuliah mengeluh, karena artikel-artikelnya selalu ditolak media cetak. Dia membahas masalah ekonomi petani, dan di bawah setiap tulisannya selalu ia cantumkan identifikasi dirinya: "Penulis adalah peneliti masalah kawasan dan pedesaan", padahal saya tahu bahwa dia sama sekali tidak berminat pada subyek itu. Ya, dia memang mencantumkan kutipan dari buku-buku karya James C. Scott, Didiek J. Rachbini, atau Prof. Mubyarto, tapi karena dasarnya memang dia tidak minat, dia gagal menjahit kutipan-kutipan itu dengan keseluruhan muatan artikelnya. Editor yang cermat tentu saja bisa langsung menengarai ketidakcermatan kawan saya itu. Bagaimanapun, kawan saya itu tetap ngotot menulis artikel-artikel seputar ekonomi petani, semata karena tulisan-tulisan itu sejenis itu yang mudah mengakses rubrik opini koran nasional. Saya berkesimpulan bahwa ia menulis bukan untuk senandika, melainkan untuk menjadi terkenal!

Tahun 1999, ketika bekerja sebagai editor pada Yayasan Aksara -- sebuah organisasi nirlaba yang bermisi pendidikan dan penyebaran pengetahuan dan informasi mengenai demokrasi dan communal harmony kepada masyarakat madani, berbasis di bilangan Cipete, Jakarta Selatan -- saya berkesempatan menimba ilmu dari gawang lembaga itu: DR Nono Anwar Makarim, SH, LL.M., pakar hukum korporat dan politik ekonomi serta penulis esai andal jebolan Harvard Law School. Artikel saya mengenai konflik India-Pakistan di Kashmir dibedah habis-habisan oleh beliau. Terhadap penjabaran saya tentang kontak artileri antar kedua negara yang bertikai beliau berkomentar, "Anda harus memberi penawar kepada keingintahuan pembaca. Pembaca yang kritis akan segera bertanya-tanya, 'Kenapa bisa begini?' Di sini Anda tulis, 'Militer India membalas serangan Pakistan dengan tembakan howitzer selama tiga hari'. Anda tahu howitzer?"

Saya menjawab, "Iya, Pak. Howitzer adalah meriam besar anti-personil berlaras panjang yang mampu mencapai jarak tembak lebih dari 1.600 meter, yang dipakai untuk menghancurkan benteng dan kubu pertahanan."

"Cantumkan informasi itu di tulisan Anda," kata Pak Nono. "Nah, Anda tahu bagaimana topografi wilayah Kashmir?" Karena beliau melihat saya ragu menjawab, beliau menyuruh saya mengambil atlas di perpustakaan. Beliau menggelar peta India dan Pakistan dan meminta saya menunjukkan letak Kashmir. "Anda lihat sendiri kan, wilayah Kashmir itu berpegunungan. Coba Anda beri analisis dalam tulisan Anda tentang bagaimana howitzer yang besar dan berat itu dapat diangkut ke posisi-posisi serangnya di pegunungan yang sulit dilalui kendaraan." Saya seketika menyadari ketidaktelitian saya. Sejak hari itu, saya berusaha untuk seteliti dan serinci mungkin dalam menulis, karena tugas saya sebagai penulis adalah memberi penawar untuk keingintahuan pembaca.

Semasa kuliah hingga lulus, saya menulis tentang subyek yang saya minati, yaitu kemiliteran, meski sering dicemooh kawan-kawan saya, karena artikel-artikel semacam itu kurang mendapat tempat di media cetak umum. Ketika saya masih kuliah di UI, mahasiswa dianggap keren bila artikelnya berhasil dimuat di Kompas, Media Indonesia, atau Tempo. Saya rutin menulis untuk majalah Teknologi & Strategi Militer (kelompok Penerbit Sinar Harapan) dan Angkasa (Kelompok Kompas-Gramedia) yang pembacanya sangat tersegmentasi, tapi saya puas karena saya berhasil menyalurkan minat saya serta sukses menjadi diri sendiri. Dan kini saya masih tetap doyan menulis, terutama karena memang itu minat dan bakat pribadi saya serta karena termotivasi oleh kata-kata mutiara di bawah ini:

"Orang yang melihat keindahan tulisan seorang penulis, keindahan puisi seorang penyair, keindahan lukisan seorang pelukis atau keindahan bangunan seorang arsitek, pasti mengetahui -- lewat pekerjaan mereka membuat karya-karya yang indah itu -- bahwa mereka memiliki sifat-sifat batiniah yang indah." (al-Ghazali)

"Tiga orang yang akan selalu diberi pertolongan oleh Allah adalah seorang mujahid yang selalu memperjuangkan agama Allah SWT, seorang penulis yang memberi penawar, dan seorang yang menikah demi menjaga kehormatan dirinya." (Hadis riwayat Thabrani)

"Dengan berkata-kata secara lisan, Anda hanya dapat membujuk dan memengaruhi orang lain sejenak. Ucapan Anda akan mudah terlupakan seiring berlalunya waktu dan peristiwa. Tak seorang pun mendengar apa yang pernah kita ucapkan. Jika kita dapat membujuk dan memengaruhi orang lain melalui kata-kata yang tertulis, kata-kata kita bisa diwariskan turun-temurun sebanyak ratusan generasi ke seluruh dunia. Karena itu, menulis dalam rangka mengangkat kebajikan merupakan penyampaian yang hebat dan merupakan amal yang amat luhur." (Amsal China)

"Tinta sarjana lebih suci daripada darah syuhada." (Nabi Muhammad SAW)

"Verba volant scripta manent -- yang diucapkan dengan kata akan lenyap; yang dituliskan akan tetap berlaku." (Latin)

"Penulis harus mencari uang agar ia bisa hidup dan menulis, tapi ia tidak boleh hidup dan menulis demi uang." (Karl Marx, Her Vogt, 1860)

It's About Time...


We have come to grips with the hustling and bustling of contemporary life. Our sense of flexibility will be a rare attribute to such a life. People take time far too seriously. But then we also take life really seriously.

That is the contradiction at the heart of life today. We sweat over reputation and privileges we thought we earn it. We swear at anything that gets in the way of our celebrated life-style -- whether it is ill-informed friends, outmoded fashion, or technological gadgets from bygone ages.

Spend as much time as possible to contemplate with reference to life. What contemplation does is making us aware of how flexible life could be -- and flexibility is unquestionably a weighty thing in contemporary life. We can go or stay whenever we want and discover as much as we want.

Because flexibility is what smart people identify with, so it is of massive importance in everybody's lives. And nothing knows more about flexibility than our essence -- the spiritual side of us.
Most of us work unholy hours and lose precious weekends, and a lot of it is spend in the only place we know we are not being ourselves -- which is a place where we just don't know if what we're doing is going to work or not.

We got to be smart. We got to be in a place where we are sure. And that place can only be perceived by our inner attachment called the esoteric heart -- as opposed to the physical heart. The esoteric heart performs thinking, the retaining of information (hence the phrase 'learn by heart') as well as recognizing the value of counsels. That is why all teachers of wisdom evoke that we must make the heart the focal point of learning, which moves within, as it is the transceiver to spot transcendental signals.

An astonishing fact has come to mind recently among a few 'Life observers'. It is foretold that cataclysm will transpire, mainly in the run-of-the-mill business world. No, I'm just blowing things out of all proportion. But many people will disagree with me. I don't mind. That's just the exciting part of conveying a thought. The more people disagree, the more you stand out of the crowd.

The fact is drawn from the fundamental question in existential philosophy: Is it time that controls us or is it us who controls time?

Most people are inclined to say that time is money. If truth be told, this aphorism has pulled the wool over everybody's eyes. Because essentially time doesn't exist. It is just an artifact of the mind. A perception.

With this truth, each one of us actually possesses the power to create time of our own!

This time issue is so convoluted that I cannot give you all the details at this point. If you want to know more about what time really is, I can suggest you two solutions: (1) you can read Stephen Hawking's A Brief History of Time, a scientific piece of literature that would presumably crack your head. Or (2) you can simply come to a certain place inside you every single time seven days a week to understand what time -- or, anything what Life has to offer -- is really about.

The Turkish prominent mystic, author, and poet, Jalaluddin Rumi, received a divine revelation that it is the alteration from daylight to darkness, which creates time. For those who have discovered the underlying truth about time are very fortunate. Why? Because they have become masters of their life, career, and society!
A lot of Time is of less importance than flexibility. Smart people go flexible -- they are not tied up by time, but the other way around. They do this for something that acted as a cue for them to enjoy life as well as pulling off many remarkable things at the same moment.

But do it because it's fun, and also because at one level it's very important.[]

Berita Pembawa Derita


Pada 23 April 2003, pagi, saya membaca koran di ruang keluarga di rumah peninggalan orang tua saya. Saat yang sama, kakak saya menonton reportase pagi dari sebuah stasiun televisi swasta, yang melaporkan aksi pengrusakan terhadap aset-aset milik jemaah Ahmadiyah. Saya sesekali berhenti membaca koran dan ikut menonton. Tayangan berita itu ternyata menebar amarah: pelaku yang diberitakan mengamuk, dan yang menonton berita ikut mengamuk, mengumpati pelaku pengrusakan. Saya kemudian mengabaikan semua itu: koran saya lipat, perhatian saya pusatkan pada makanan yang saya makan dan minuman yang saya minum, dan diri saya yang kemudian larut dalam keheningan.

Hingga saat itu, saya sudah berbulan-bulan tidak membaca, menonton, dan mendengar berita di koran, televisi dan radio. Saya hanya membaca artikel opini bertema sosial-kemasyarakat an, spiritualitas, dan temuan-temuan ilmiah, menonton HBO, Cinemax, Star Movie atau stasiun televisi swasta lokal yang menayangkan film bagus, serta mendengarkan program-program musik dari radio. Tidak pernah lagi saya berani melongok berita. Berita-berita dewasa ini hanya menayangkan derita dan membuat pemirsa juga menderita kecemasan, peningkatan emosi dan stres. Cengkeram media memang kejam. Etika jurnalistik serta aturan penyiaran seringkali dilanggar demi mencapai jumlah kepemirsaan (viewership) atau tiras, dan rating, mengabaikan tekanan psikis yang harus ditanggung penonton, yang menonton dengan sengaja maupun tidak sengaja.


Dahulu, sebelum berlatih kejiwaan Subud, saya juga berkepribadian destruktif, pemarah dan pendendam. Mendengar kata-kata 'bunuh', 'hajar' atau ancaman saja darah saya sudah mendidih, apalagi melihat langsung aksi kekerasan. Kini, terkadang amarah itu muncul, tapi segera redam setelah saya menenteramkan diri. Dendam kesumat membuat saya lelah, dada saya sesak dan menimbulkan insomnia sejenak. Karena itu, saya selalu berharap agar amarah tidak lagi menghinggapi saya.

Tapi, adakah manusia yang pernah mendapatkan momen perdamaian atau ketenteraman yang langgeng? Bukankah manusia selalu berada dalam cengkeraman konflik atau ketegangan? Pertanyaan-pertanya an ini diajukan Robert Leckie dalam bukunya, Warfare (Harper & Row, 1970). Menurut Leckie, perdamaian adalah mustahil selama manusia secara naluriah masih merupakan hewan yang agresif, yang terus-menerus berkonflik dengan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Bahkan, lanjut Leckie, seisi dunia ini pun berkonflik: angin melawan ombak, manusia melawan alam, melawan sesamanya serta melawan dirinya sendiri. Lagipula, tambah Leckie, pasifisme (cinta damai) bukanlah naluri seperti halnya agresivitas. Ia adalah suatu ideal, sebagaimana halnya sikap dermawan. Kesimpulan yang bisa diambil dari pernyataan Robert Leckie ini, barangkali, adalah bahwa dunia kita bisa terbebas dari konflik dan kekerasan, jika kita tidak lagi bertarung dengan diri sendiri.

Namun, apakah mungkin sisi gelap dari diri kita seluruhnya dihilangkan? Apakah wajar bilamana pertarungan sifat-sifat setaniah dan ilahiah kita mengalami gencatan senjata secara permanen? Sejak aktif berlatih kejiwaan Subud, saya pernah mengalami keadaan tidak bisa marah selama hampir setengah tahun. Pada mulanya, jika ingin marah saya redam dengan pemikiran bahwa amarah adalah dosa. Lama kelamaan, saya malah tersiksa karena tidak bisa marah. Ujung-ujungnya, saya jadi layu bak kembang yang tak pernah disiram air. Tanpa pernah marah, hilang pula keinginan-keinginan , dan bahkan kemudian mengganggu keseimbangan antara diri saya dengan lingkungan. Setelah hampir enam bulan, saya naik pitam, hanya karena seorang account executive di tempat saya bekerja dahulu belum mempersiapkan segala sesuatu untuk presentasi ke klien, sementara janji bertemu kliennya tinggal setengah jam lagi. Padahal, sebelum-sebelumnya saya pernah menghadapi keadaan yang lebih parah, seperti terserempet mobil, tapi saya tidak bisa marah.

Amarah saya segera reda setelah sang AE minta maaf dan berjanji lain kali ia akan mempersiapkan segala sesuatunya secermat mungkin sebelum bertolak ke klien. Dan, ajaibnya, selama sisa hari itu saya kembali tidak bisa marah lagi. Dari pengalaman ini, saya memperoleh pemahaman bahwa marah itu perlu jika keadaan memang mengharuskan, tapi jangan sampai berlarut-larut, apalagi sampai menimbulkan dendam.

Kata sementara orang, utamanya mereka yang menempuh jalan spiritual, amarah merupakan tanda kelemahan, suatu keadaan di mana kita didudukkan di tingkat yang sejajar dengan hewan atau setan. Padahal amarah adalah perangkat terpasang pada setiap diri kita, yang memicu daya dorong untuk bertindak. Tanpa unsur amarah, kita tak akan bisa mewujudkan kehidupan di muka bumi ini. Masalah baru muncul apabila kompor amarah bukannya diperciki air (ketenteraman) tapi malah disiram bensin (kekalutan pikiran).

Kemarahan yang melampaui batas, kebencian dan kekerasan membawa tekanan dan derita yang bahkan lebih besar, baik bagi diri kita sendiri maupun orang lain. Masalahnya, amarah telah menjadi bagian yang menyatu dengan keseluruhan eksistensi kita, yang tidak bisa dimusnahkan, tapi dapat kita kendalikan, dengan mengajak diri kita sendiri menyeberangi sungai keheningan, menerima apa pun yang menghampiri kita, kebaikan maupun keburukan, dengan senantiasa berperasaan sabar, ikhlas dan tawakal, sebagaimana adanya. Dengan mempraktikkan pendekatan ini, saya kini tenang dan santai ketika membaca koran, mendengarkan atau menonton siaran berita di radio atau televisi. Memang benar, berita-berita dewasa ini mewartakan derita, tapi biang keladinya bukanlah berita itu, melainkan penerimaan kita terhadapnya. Berita-berita itu bahkan sesungguhnya tidak patut disalahkan; penyampai berita pun, seperti halnya kita, punya kepentingan perut. Adalah mungkin untuk memutus siklus derita dengan hanya melihat ke dalam diri kita sendiri: diri yang tenteram membuat kita bisa menerima segala sesuatu yang mendatangi kita, membuat kita bisa merasa tidak terganggu oleh apa pun, dan kedamaian batin pun selamanya menjadi milik kita.[]

Living in Venus

(Karena merupakan 'penerimaan spiritual' yang tak terjelaskan-lah, maka tulisan berikut ini saya tuangkan dalam bahasa Inggris. Bukan untuk sok nginggris, tetapi memang merupakan hasil dari 'tuntunan rasa diri' yang maunya berbahasa Inggris. Entah kenapa...)


Hermawan Kertajaya's Marketing in Venus (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004) gives insight to its readers that today's consumers have been affected as such by the spirit of feminity. Women are generally perceived as human beings who emphasize their feelings and emotions, rather than logic. Reversely, I like the idea that the feminine kind is otherwise clever, tough, creative as well as impulsive. The first consideration implicitly advertise that women are unintelligent beings, for they seldomly utilize logic. I don't agree, because my experience of co-working many times with female art directors proves that these men's opposite sexes are in fact resilient, prudent, and able to produce soulful work. Physically as well as psychologically, they are actually also stronger than men -- who are called 'big babies' by certain feminist-oriented magazines. But, more or less, Kertajaya's opinion affects me somewhat.

Turning away from John Gray's theory that men are from Mars and women from Venus, Hermawan Kertajaya speculates that men and women will eventually come back to Venus. According to him, Earth has turned into Venus as sophisticated men also possess feminine characteristics, meaning they, too, reveal their emotional side. Regarding that Earth's inhabitants have revealed their emotional side, the most appropriate means of selling is to exploit consumers' emotions in order to succeed. Purchases are mostly emotion-driven. The existing reasons are no longer functional, but rather irrational and sometimes illogical. People are buying goods and services more on esteem and fashion, instead of taking their functional values into consideration.

Today's Indonesian consumers are going to that direction. Marketing magazine's special issue of 2007 reports the results of a market survey conducted by Frontier marketing consultancy, wherein it states that Indonesian consumers are generally unfamiliar with technological features. Most respondents who own a Nokia Communicator solely benefit the cell-phone's short message and call features, while other menus are left unemployed, since they do not comprehend the manners of using them. So, why do they buy Communicators at all? The largest number of respondents spells out esteem; they buy Communicators for its large profile, so as to having a suitable reason of not putting them in their pockets as they won't fit. And thus they can show them off to other people, who, in turn, won't realize that they are doing it on purpose.

The decision to buy products propped up more by preferences for brands and aesthetics before product benefits also justifies the feminine tendency in today's market characteristics. Women pay attention to details and are easily susceptible to product design. An appealing design is likely to secure more buyers than a repulsive one.

Kertajaya's view towards the Venutian traits of today's consumers, which is predominantly affected by female-specific predispositions, could somehow be wrong, as representations of women known this far does not reflect their primordial behaviors, but resulting from culture, instead. The media plays a leading role in creating these representations, which are devised as such that they are thought of being the unmovable reality.

As unveiled by Sita Aripurnami through her article on the portrayal of women in Indonesian movies, in Mayling Oey-Gardiner et al. (eds.), Perempuan Indonesia Dulu dan Kini (Jakarta: Gramedia, 1996), film as one form of media is capable of constructing public opinion. Time and again, the content solely offers the same portrayal of women and men without looking upon real situations, where women and men are unlike the ones appearing in motion pictures. Women are on one hand distinguished as merely wives and mothers, who are then rendered as 'stay-at-homes', so if they ever worked for earnings they would simply be deemed as 'contributors of the family's additional income'.

Furthermore, women are recognized as brainless beings who can do nothing but shedding tears and being garrulous. Men are, on the other hand, picked out as being the head of the family and bread winner and decision-maker. Therefore, men are always seen as intelligent beings who are steady in the face of trouble, unbending, and never able to cry. The illustration of women and men in Indonesian movies seems to be far from alteration considering the way Indonesia's film industry develops today.

Hermawan Kertajaya embarks from the latest marketing trends to verify the fact that we are undeniably living in Venus, since most part of the market are possessed by feminine spirits characterized by the tenderness of feelings, emotions, and a rather irrational way of thinking. On the contrary, Sita Aripurnami denies that these are female-specific characteristics. Yet my personal experiences nowadays urged me to think abound with Kertajaya. For all these times, women are more often than not indistinguisable to the terrible Metro Mini drivers for their frivolous way of driving motor vehicles, ignorant of other road users.

You may averse to my judgment one way or another. Yet, realities on the street speak for itself. I had been bumped into by cars thrice in one day, which fortunately had caused me no injury. Those cars were driven by women, who just drove away as if nothing happened. Since then, when a car waved all traffic rules aside, I would customarily sped up my motor-cycle just to find out who is behind the wheel. Surprisingly, mostly were women!

In my observation, female drivers in most cases do not look to side mirrors; they do not sweat over sending out the right lamp-signs when turning; U-turning at maximum velocity; putting off other vehicles by pulling over at oblique angles; and giving the gas promptly which stutters the car along the road. Female drivers also tend to act as if they have power over roads. Rather than being stoical themselves, women merely tries to control their vehicles. I was again 'almost victimized' recently by the attitude of women behind the steering wheel. More to my wish of letting it go at that, the following words hurtled across my mind: "To realize that we are indeed living in Venus, just note how reckless drivers are today." []

Seandainya Tuhan Pensiun












Bilamana Tuhan berhenti bekerja dan memutuskan untuk pensiun? Yang pasti, kita mati. Jangankan pensiun untuk selamanya, bila Tuhan beristirahat barang sejenak saja, seisi alam semesta pun berhenti beroperasi, menimbulkan hubungan sebab-akibat yang saling merugikan (baca: membahayakan) . Jika kita meyakini bahwa Tuhanlah yang menggerakkan siklus kehidupan segala sesuatu yang hidup dari detik ke detik, coba bayangkan apabila Dia memutuskan untuk break sebentar. Segala sesuatunya berhenti, termasuk detak jantung kita dan napas kita. Seluruh eksistensi kehidupan di alam ini pun pensiun. Pada level ke-Tuhan-an, ada break bukan berarti ada Kit Kat, tetapi Kiamat!

Tuhan tidak kenal istirahat. Itulah wujud kasih sayangNya bagi ciptaanNya. Karena Tuhan tidak kenal istirahat, maka bagi Pendeta Dr. Myles Munroe—‘gembala senior’ dari Bahamas Faith Ministries International yang berkantor di Nassau, Bahamas—istirahat, cuti panjang, menganggur, dan masa purnakarya (pensiun) tidak sejalan dengan kodrat manusia. Dalam bahasa Kristennya: tidak Alkitabiah.

Pendapat yang kiranya cukup mengguncang dunia kekaryaan itu dibahas tuntas oleh pembicara motivasional internasional yang meraih gelar doktor kehormatan dari Oral Roberts University itu dalam bukunya Releasing Your Potential—Menyingkapkan Diri Anda yang Tersembunyi, terjemahan Budijanto (Jakarta: Immanuel, 2007). Dr. Munroe menegaskan bahwa menurut kaidah agama Kristen, orang yang tidak bekerja, apa pun alasannya, adalah orang yang tidak beriman. Apa sebab? Karena sejak diciptakan, manusia telah dibekali oleh Tuhan dengan perangkat untuk menuai ladang bernama Bumi ini. Perangkat itu disebut ‘potensi’. Jumlahnya bagi setiap manusia sangat tidak terbatas, sehingga tidak masuk akal bila manusia tidak bekerja, tidak berkarya, tidak berkreasi seoptimal mungkin!

Tidak punya bakat, tidak berpengalaman, tidak berani, faktor usia, ketiadaan waktu yang cukup, faktor kurangnya kecerdasan dan pengetahuan, dan kurangnya kekuatan tenaga serta cacat fisik, atau sudah merasa berkecukupan dalam soal materi seringkali menjadi alasan bagi sebagian besar kita untuk tidak bekerja. Semua itu tidak menjadi hambatan hanya bila kita menginsafi akan potensi-potensi yang ada di dalam diri kita—yang begitu hebatnya sampai Anda pun tak akan percaya dengan apa yang bisa Anda lakukan.

Sudah menjadi kelaziman bahwa bekerja adalah untuk memperoleh upah atau gaji, sehingga timbul anggapan umum bahwa kita belum bekerja bila tidak memperoleh upah. Inilah kesalahan terbesar kita. Padahal bila Anda sudah bekerja sekian lama dan tidak mendapat apa pun selain gaji yang kian besar, dalam pandangan Dr. Munroe Anda gagal menjadi diri sendiri. Menjadi diri sendiri adalah momentum, di mana Anda bisa seoptimal mungkin mengekspresikan semua potensi yang Anda miliki. Dengan kata lain, Anda mengalami tumbuh-kembang melalui kerja yang Anda lakukan. Di dalam buku setebal 197 halaman ini, Dr. Munroe membuat perbedaan antara ‘kerja’ dan ‘pekerjaan’. Kerja melepaskan potensi, sedangkan pekerjaan memberikan upah atau gaji. “Kerja keras bukan hanya mengerjakan suatu hal namun melahirkan suatu hal. Kerja keras adalah melahirkan bayi yang akan mati bersama Anda jika Anda tidak mewujudkannya,” tulis Dr. Munroe di halaman 177 bukunya yang merupakan satu bagian dari trilogi buah pikirannya mengenai potensi (dua lainnya berjudul Understanding Your Potential dan Maximizing Your Potential).

Sebagian besar kita, saya yakin, tidak bersedia bekerja tanpa imbalan. Bahkan, kalau mungkin, kita bisa segera kaya-raya agar tidak perlu lagi bersusah-payah bekerja. Coba Anda utarakan hal ini pada Dr. Munroe, maka dia akan mempersilakan Anda ke kuburan, karena di sanalah kekayaan berlimpah. Lho kok?! Dr. Munroe menulis dalam prakata bukunya: “Anda dan semua individu lain di planet ini memiliki harta yang luar biasa. Terlalu banyak harta ini terkubur setiap hari, tidak dimanfaatkan dan tidak tersentuh, di kuburan dunia. Banyak pria dan wanita yang tidak dikenal masuk ke dalam kekekalan dalam keadaan mengandung potensi, dengan tujuan yang mati sebelum dimulai. Hidup dengan kemampuan membawa tanggung jawab. Mati dengan kemampuan mengungkapkan ketiadaan tanggung jawab.”

Membaca kata-kata Dr. Munroe di halaman 69—“Anda bukan apa yang guru Anda katakan tentang Anda atau anak-anak Anda atau atasan Anda katakan tentang Anda. Anda sama berharga dan sama mampunya dengan apa yang Tuhan katakan tentang Anda.”—saya terkenang pada masa sekolah dahulu, di mana saya tergolong tidak diperhitungkan baik oleh teman-teman sekolah maupun para guru, karena kelambanan saya dalam mencerna pelajaran membuat saya dicap ‘madesu’ (masa depan suram), sampai-sampai ada guru yang menganjurkan agar saya tidak usah ikut Sipenmaru (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) saja, karena toh tidak bakal lolos dalam persaingan keras memperebutkan kursi di perguruan tinggi negeri. Guru tersebut kaget bukan kepalang ketika menerima kabar bahwa dua kali berturut-turut saya lolos Sipenmaru. Modal saya saat itu hanyalah cuek atas anggapan teman-teman dan para guru, dan belajar segiat doa yang saya panjatkan kepada Tuhan. Saya meyakini cepat atau lambat pertolongan Tuhan akan menyertai perjuangan saya.

Iman/keyakinan merupakan modal utama untuk melepaskan potensi kita. Dr. Munroe menandaskan bahwa keyakinan kepada Tuhan adalah ember yang menarik keluar dari sumur potensi yang ada di dalam kita. Ironisnya, di negeri yang menjunjung kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa seperti Indonesia, banyak orang yang tidak melihat keterkaitan apa pun antara kekaryaan dan peran tuntunan Tuhan di dalamnya. Banyak umat beragama dan para pencari di jalan spiritual memisahkan antara urusan dunia dan akhirat. Membahas perkara potensi, bagaimanapun, kita tidak bisa mengesampingkan pemahaman atas perkara spiritual, karena potensi itu sendiri bersifat niskala (tersembunyi di dalam diri). Potensi adalah hal-hal yang masih harus dimanifestasikan, yaitu melalui kerja untuk melahirkan produk yang kasat mata. Potensi membutuhkan kerja untuk memanifestasikan diri. Usaha mengubah potensi menjadi pengalaman.

Dr. Munroe menekankan bahwa kunci utama agar kita mampu menyingkapkan potensi-potensi yang tersembunyi di dalam diri kita adalah dengan senantiasa berkontak dengan Sang Pencipta. Sambil terus berkontak denganNya, kita akan mengerti bagaimana kita dirancang untuk berfungsi dan mengetahui tujuan kita. Kita juga disarankan untuk mengerti sumber daya kita. Terakhir, kita harus mengerjakan potensi kita.

Di dalam buku Releasing Your Potential ini, Dr. Munroe juga mendefinisi ulang istilah ‘sukses’. Sukses, yang selama ini dianggap merupakan suatu pencapaian puncak dalam perjalanan usaha kita dan hampir selalu ditandai oleh kepemilikan harta kekayaan, menurut Dr. Munroe justru tidak ditentukan oleh apa yang kita miliki, tetapi oleh apa yang kita lakukan dengan apa yang kita miliki. Kita diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk yang potensial dan kita dilengkapiNya dengan:

· Sumber daya Rohani

· Sumber daya Jasmani

· Sumber daya Materi

· Sumber daya Jiwa (pikiran, kehendak, perasaan kita)

· Sumber daya Waktu (“Satu-satunya waktu yang Anda miliki adalah Sekarang!”)

yang tidak terbatas. Kerja sangat penting untuk pemeliharaan dan penggandaan sumber daya Anda. Kekayaan sumber daya kita tidak terbatas apabila kita mau berserah diri dengan sabar dan ikhlas—yang dengan begitu membuka mata kita terhadap kemungkinan- kemungkinan.

Dr. Munroe mengatakan bahwa keadaan tidak bekerja adalah tidak Alkitabiah; sebuah dosa besar dalam cara hidup Kristiani yang hidup di dalam Kristus. Anda yang beragama Kristen—atau agama apa pun, karena perintah Tuhan agar manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya terdapat pada semua agama—boleh saja menganggap pernyataan tersebut sebagai penjelasan metaforik a la kitab suci yang masih samar. Istilah ‘dosa’ kerap dimaknai sebagai ‘kelahiran lahiriah dan batiniah’ bagi si pelaku. Tidak bekerja merupakan dosa besar karena akibatnya bukan saja merugikan diri sendiri, tetapi juga orang lain. “Jika Anda mampu bekerja, tetapi Anda tidak bekerja,” tulis Dr. Munroe di halaman 169, “Anda sebenarnya mencuri dari orang yang bekerja.” Pencuri adalah siapa saja yang mengandalkan produktivitas orang lain guna memenuhi kebutuhannya karena ia terlalu malas untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Jika Anda hidup di suatu rumah, tetapi Anda tidak bekerja, maka Anda sebenarnya seorang pencuri (hlm. 168-169).

Orang yang terlalu lama tidak bekerja ternyata bisa dihinggapi penyakit fisik maupun mental. Lihat saja orang-orang yang memasuki masa pensiun; mereka biasanya langsung disergap penyakit kritis yang berisiko kematian. Jika usia Anda di bawah 50 tahun dan tidak bekerja, efeknya cenderung bersifat mental. Bukan saja badan Anda menjadi malas bergerak, cepat mengantuk, dan doyan makan, hati Anda pun menjadi beku, sehingga Anda mudah marah, mudah tersinggung, dan cepat curiga pada orang lain. Perasaan-perasaan negatif semacam ini juga mempercepat kematian, biasanya akibat hipertensi dan serangan jantung.

Kematian memang tak bisa dikira dan tidak bisa ditolak, tetapi, seperti pesan Dr. Munroe pada penutup bukunya, bertekadlah untuk mati dalam keadaan kosong (karena seluruh potensi Anda sudah terekspresikan) dan tinggalkan untuk bumi warisan yang memberi hidup bagi orang lain.[

Suara yang Lain


“Berbicaralah dari hati; bila kamu tidak berbicara dari hati kata-katamu biasanya akan tidak punya arti dan terkadang kejam. Berpikir dan mendengarlah lebih banyak dengan hatimu dan kurangi dengan kepalamu; hati tidak bisa ditipu, tetapi kepala mudah dibingungkan oleh hal-hal yang kamu lihat dan dengar serta pendapat-pendapat orang lain. Kata-kata yang keluar dari hati mengandung cinta dan bersifat murni. Orang akan lebih suka mendengarkan kata-kata yang keluar dari hati ketimbang yang keluar dari kepala. Kata-kata dari hati selalu benar serta bercahaya dan penuh cinta.” (Buddha Gautama)


Beberapa bulan yang lalu, saya minta seorang kawan yang berprofesi sebagai desainer grafis, yang belakangan juga merambah bidang desain Web karena tuntutan kliennya, untuk membuatkan desain Web buat sebuah yayasan di mana saya bergiat di dalamnya. Entah karena selera artistiknya rendah atau memang pengetahuan teknis Web-design-nya belum luas, hasilnya tidak memuaskan saya maupun orang-orang lain yang kepada mereka saya perlihatkan hasil rancangan kawan saya itu.

Saya pun menjadi bingung, karena di satu sisi yayasan itu harus segera mempunyai situs Web sebagai sarana untuk mengomunikasikan visi dan misinya kepada publik sedangkan di sisi lain untuk menemukan perancang Web yang handal tetapi relatif murah tidak mudah. Suatu malam, dalam perjalanan pulang, usai berlatih kejiwaan di Kelompok Subud Sudirman (S. Widjojo Centre), saya, yang tengah memusatkan perhatian ke jalan dari sepeda motor yang saya kendarai, tiba-tiba mendengar suara di dalam diri saya. Suara itu demikian jernih, walau di sekitar saya begitu hiruk-pikuk oleh deru kendaraan bermotor. Suara itu ‘berbicara’ singkat saja: “Coba selidiki desain Web temanmu itu.”

Setibanya di rumah, buru-buru saya nyalakan komputer dan memasukkan compact disc bermuatan desain Web rancangan kawan saya itu. Suara itu kembali berbisik, “Jangan dibuka dulu. Lihat dulu file type-nya.” Saya tergolong orang yang gaptek (gagap teknologi); komputer saya pakai hanya untuk menulis dengan Microsoft Word dan menggambar dengan Paint serta main game. Jarang sekali saya terangsang untuk menjelajahi segala kemungkinan yang ditawarkan oleh perangkat-perangkat lunak lainnya. Kini, ‘suara yang lain’ itu menyuruh saya memeriksa file type dari desain Web kawan saya. Saya hanya melihat tiga file bertipe .psd yang bagi seseorang yang rada gaptek seperti saya tidak bermakna apa pun, tetapi suara itu terus menyuruh saya melihat, mengamati dan menyelidiki. Tiba-tiba suara itu menegaskan – mungkin karena dianggapnya saya telmi alias ‘telat mikir’ – bahwa ketiga file itu bertipe Photoshop document!

Sesuatu bergemuruh di dalam diri saya yang susah untuk dijabarkan bagaimana rasanya. Mungkin suatu ekstase, atau orgasme. Pokoknya, saat itu, saya langsung melompat dari kursi dan melonjak-lonjak kegirangan. Setelah kembali duduk di depan komputer saya klik salah satu file, yang terbukanya memang di Photoshop. Saya periksa seluruh menu yang tersedia, tetapi mengalami kesulitan untuk memahami bagaimana kawan saya itu dapat merancang Web dengan Photoshop CS2. Saya sempat mengeluh dan kemudian bergumam lirih, “O God, what did I miss – ya Tuhan, apa yang terlewat olehku?” Pada saat itulah, ‘suara yang lain’ mengarahkan saya ke jendela menu History-nya (yang saat itu juga baru saya pahami gunanya) yang merekam aktivitas apa saja yang telah dilakukan kawan saya ketika merancang tampilan halaman muka (homepage), yang dengan itu saya bisa merujuk pada toolbar serta mengurut prosesnya.

Setelah malam itu, beberapa kali saya menyampaikan keinginan untuk meminjam buku tutorial untuk desain Web – Macromedia Freehand MX dan Flash 8, serta Photoshop CS2 (kesemuanya makanan para perancang era digital) – kepada beberapa orang kawan yang berprofesi desainer. Tak satu pun mengabulkan permintaan saya, dengan berbagai alasan yang malah membuat saya menyimpulkan bahwa mereka khawatir tersaingi oleh saya. Satu orang bahkan blak-blakan mengatakan, “Wah, Mas Anto jangan ngerebut lahan kita dong.” Orang mau belajar kok malah dicemaskan…

Rupanya, Tuhan tidak membiarkan upaya saya berakhir begitu saja. Seorang saudara Subud, yang juga ingin agar situs Web yayasan itu terwujud, mengongkosi saya untuk membeli buku-buku yang saya butuhkan. Istri dan adik saya pergi membelinya. Mereka ‘salah beli’ satu buku, yaitu tentang Adobe Fireworks CS3, sedangkan komputer saya belum di-install dengan software itu. Namun, tidak lama kemudian, saya direzekikan oleh Tuhan dengan memperoleh program Fireworks dan Dreamweaver, yang ketika saya ceritakan ke para desainer kawan saya, mereka tambah khawatir! “Hah?! Itu kan software Web-design semua? Emangnya Mas Anto mau jadi Web-designer?” tanya satu orang dengan nada curiga.

Itu kisah tentang desain Web. Kisah kedua yang hendak saya sampaikan di sini adalah tentang ponsel CDMA yang baru-baru ini saya peroleh dari istri saya. Sejak dibeli hingga seminggu kemudian, baterenya cepat sekali habis, tidak sampai sehari, padahal jarang dipakai untuk menelepon maupun SMS. Suatu hari, ponsel itu benar-benar low-bat, tetapi karena sudah larut malam, istri saya mematikan ponsel tersebut. Saya men-charge baterenya keesokan paginya, masih dalam keadaan mati. Nah, besoknya lagi saya baru menyadari bahwa baterenya masih full. Saya cari informasi tentang hal itu di buklet petunjuknya, tetapi tak satu pun menjelaskan soal itu, sedangkan pemilik gerai yang menjual ponsel itu, yang sempat ditelepon istri saya berkaitan dengan batere itu, menjawab, “Ya, maklum Bu, kan HP murah. CDMA lagi. Baterenya emang nggak tahan lama.”

Dalam perjalanan ke perusahaan tempat saya bekerja sebagai freelance copywriter, di atas jembatan Semanggi yang sangat ramai, tiba-tiba terdengar di dalam diri saya gaung ‘suara yang lain’, yang mengajarkan kepada saya yang amat bodoh ini bahwa “lain kali kalau nge-charge batere CDMA kamu, matiin dulu.” Dengan cara itu, ternyata ponsel CDMA tidak low-bat sampai 4 hari berturut-turut, walaupun selama itu saya sering ber-SMS dan menerima telepon yang durasinya cukup lama. (Kalau saya ceritakan hal ini kepada penjualnya dia pasti menyesal karena telah menjualnya dengan harga sangat murah.)

Dua pengalaman tersebut di atas berkaitan dengan teknologi, yang merupakan bidang di mana saya gagap. Tetapi kenapa saya kok jadi paham dan menguasainya? Ini berkat ‘suara yang lain’ tadi. Kita semua memilikinya. Biasanya disebut ‘suara batin’ (inner voice) atau ‘suara hati’ atau ‘bisikan kalbu’. Menurut A. Reza Arasteh dalam bukunya, Growth to Selfhood: A Sufi Contribution (1998), semua orang paling tidak sekali dalam hidup mereka pernah mendengarkan suara batin mereka dan mengikuti petunjuknya. Saya tidak akan membahas di sini, apa atau siapa sebenarnya ‘suara yang lain’ itu, karena nantinya saya akan terjebak dalam upaya ‘mereka-reka Tuhan’ yang menurut saya konyol.

Dalam film Karate Kid yang pertama (1985), Sensei Miyagi (diperankan oleh Pat Morita) menyuruh murid karatenya, pemuda Daniel Larusso (Ralph Macchio), merancang tampilan tanaman bonsai. Daniel tidak mengerti bagaimana melakukannya, karena baginya tanaman bonsai saja merupakan sesuatu yang baru dilihatnya. Sensei Miyagi bilang, “Ikuti saja petunjuk dari dalam dirimu.”

“Dari mana saya tahu, kalau itu benar?” tanya Daniel, lugu.

“Yang berasal dari dalam selalu benar!” tandas Sensei Miyagi.

Dialog guru-murid itu kembali terngiang-ngiang di kepala saya sejak Karate Kid ditayangkan HBO baru-baru ini. Saya terkesan dengan ucapan Sensei Miyagi itu, terutama karena saya pernah dan sering mengalaminya sejak kecil. Waktu kecil hingga SMA, saya sangat introvert; karena itu, saat-saat berdialog dengan diri sendiri amat saya nikmati. ‘Suara yang lain dari diri saya’ menjadi sahabat dalam kesendirian. ‘Suara yang lain’ itu acap memberi saya solusi jitu, bahkan dalam hal-hal yang saya tidak punya pengetahuan mengenainya.

Di lingkungan PPK Subud Indonesia , saya sering dikritik (bahkan dicerca) terkait dengan tulisan-tulisan yang saya sebarluaskan lewat e-mail seperti tulisan yang sedang Anda baca ini. Tulisan saya dikritik sebagai ‘produk nafsu dan akal pikir’. Sebisa mungkin saya membela diri, tetapi selebihnya saya serahkan saja kepada Tuhan (mungkin kritikan itu memang wujud ujianNya bagi saya). Sebaliknya, ada juga yang memuji saya dan saya pun dianggap ‘ahli dalam tulis-menulis’. Anggapan itu justru membebani saya, karena selama ini saya menulis dengan didikte oleh ‘suara yang lain’ itu. Ada beberapa saudara Subud, termasuk yang akrab dengan saya, yang berpesan agar saya menulis tentang subyek-subyek tertentu. Saya tidak pernah berhasil melakukannya betapa pun kerasnya saya berusaha, karena rupanya ‘suara yang lain’ tidak bisa diperintah-perintah ; suara itu malahan memberi saya petunjuk untuk melakukan sesuatu yang lain – yang jauh lebih bermanfaat bagi diri saya.

Dalam berinteraksi dengan klien yang merupakan bagian dari dinamika profesi saya sebagai praktisi komunikasi pemasaran, mendengarkan ‘suara yang lain’ banyak membantu saya, utamanya saat saya bingung tentang apa sebenarnya yang dimaui klien. Suatu kali, ada klien yang bingung tentang apa yang akan dikemukakannya dalam profil usahanya. Dia saja bingung, apalagi saya! Tetapi ketika saya berada di rumah, merenung seorang diri, ‘suara yang lain’ dengan semangat bercerita bahwa “klien kamu itu pengen ngangkat layanannya yang unik sebagai tema utama company profile-nya!”. Klien bersangkutan kemudian tak henti-hentinya mengungkapkan kepuasannya atas konsep kreatif profil usahanya, utamanya naskahnya yang menurutnya berhasil menerjemahkan keinginannya yang semula sulit ia utarakan: Mengedepankan layanan uniknya!

Agar dapat menangkap ‘suara yang lain’ secara jernih dan jelas, Anda tidak perlu berlatih kejiwaan Subud, bertarekat Sufi atau bertapa sekian lama di tempat-tempat yang jauh dari keramaian – semua itu bahkan tidak ada manfaatnya jika Anda tidak mau berusaha menggali diri Anda sendiri. Dan tidak pula ada hubungannya dengan bawaan dari lahir. Hanya diperlukan kesediaan untuk bersabar, ikhlas dan yakin ketika mengheningkan diri. Mengheningkan diri bukan dengan duduk diam, tidak melakukan apa-apa, lho. Banyak yang salah kaprah mengenai hal ini. Konsep meditasi (dhyana) yang diajarkan oleh Sang Buddha ternyata bermakna ‘melakukan segala sesuatu secara sadar’, yaitu memusatkan perhatian pada apa yang kita lakukan, meredam ingar-bingar segala keinginan dan kembara pikiran (wandering thoughts) agar tersisa ruang yang lapang bagi bergaungnya ‘suara yang lain’.©


Berguru Spiritual


“Dengarkan perasaanmu. Dengarkan Pikiran Termuliamu. Dengarkan pengalamanmu. Kapan saja salah satu darinya berbeda dari apa yang telah kamu dengar dari gurumu, atau baca di bukumu, lupakan kata-katanya. Kata-kata adalah sumber kebenaran yang paling tidak dapat diandalkan.”

—‘Jawaban Tuhan kepada’ Neale Donald Walsch, Conversations with God—Menyibak Kebenaran Hidup bersama Tuhan (Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer-Kelompok Gramedia, 2008: 13)


Saya kerap menghadapi sebuah FAQ (frequently asked question, pertanyaan yang sering diajukan) dari orang-orang yang mengetahui bahwa saya bergiat di Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan Susila Budhi Dharma (PPK Subud) seperti berikut: “Apakah untuk berspiritual mesti ikut Subud?”

Saya selalu menjawab, “Tidak, tidak mesti. Anda bisa bermeditasi wawasan (bhavana vipissana) atau Zen, mengamalkan tasawuf, mempraktikkan Metode Kuan Yin-nya Suma Ching-Hai, sembahyang sesuai ajaran agama masing-masing, dan lain-lain. Terserah Anda, deh.”

“Lalu, kenapa Mas Anto ikut Subud?” tanya mereka lagi, tak puas. Iya ya, kok saya ikut Subud ya? Terus terang, saya tidak tahu. Sampai saya menyelesaikan masa kandidat di PPK Subud Cabang Surabaya sebanyak 31 kali dan dibuka pada 11 Maret 2004, saya tidak tahu kenapa saya ikut Subud. Yang saya tahu dan sadari adalah bahwa Latihan Kejiwaan Subud memberi saya seabrek manfaat ketika saya menjalani hidup saya – dalam wujud tuntunan yang saya yakini berasal dari Tuhan, ketika saya berpikir dan merasakan, berkata-kata dan berbuat.

Di Subud tidak ada guru, teori, pelajaran maupun ajaran, sehingga istilah ‘berguru spiritual’ tidak berlaku di lingkungan Subud – satu-satunya guru adalah Tuhan. Metode Kuan Yin juga meniadakan hubungan guru-murid, walaupun penganjurnya, Supreme Master (Suma) Ching-Hai, disebut ‘Guru’ oleh para pengikutnya. Hal ini bakal mengernyitkan kening kaum Sufi, sebab bagi mereka, tanpa kehadiran syekh mursyid (guru), maka yang ada ialah setan. Tetapi, apa iya, agar kita dapat berspiritual secara ‘genah’ diperlukan guru, atau ajaran dan pelajaran yang diturunkan dari orang lain?

Frasa ‘berguru spiritual’ saja, bagi saya, sudah janggal, karena spiritualitas sesungguhnya merupakan hak milik/properti setiap manusia, yang eksistensinya tersusun dari unsur lahir dan unsur batin. Tidak seorang atau lembaga pun yang berhak mengklaim sebuah ‘amalan spiritualitas’ sebagai miliknya. Bapak Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo selaku ‘pemimpin kejiwaan Subud’ saja menegaskan bahwa Latihan Kejiwaan bukan ‘hak cipta’ Subud, sebab siapa pun yang bisa berserah diri dengan sabar, ikhlas dan tawakal bisa menerima Latihan Kejiwaan. Pengalaman saya berinteraksi dengan sejumlah orang tua di Jawa Tengah dan Timur yang sepanjang hidupnya melakoni sikap nrimo, pasrah dan berserah diri (sumarah lan sumeleh) tanpa pernah mengikuti jalan spiritual ‘formal’ apa pun mengungkapkan pengalaman idiosinkretik yang mirip-mirip apa yang saya alami melalui Latihan Kejiwaan.

Baru-baru ini, sebuah pengalaman yang benar-benar mengesankan membawa saya kepada kepahaman bahwa untuk berspiritual kita sesungguhnya tidak perlu berguru atau pun bergabung dengan suatu perkumpulan aktivitas/pelatihan spiritual, seperti Subud, tarekat Sufi, Karismatik, Kabbalah, Avatar Course, ESQ Training, dan lain-lain – pada akhirnya, itu semua hanya merek. Pada 16 Juli 2008, saya memenuhi undangan saudara Subud saya untuk menghadiri pertemuan rutin KOSTER (Komunitas Suzuki Thunder) se-Jabodetabek, yang dijadwalkan setiap hari Rabu malam di rumah makan Soto Mi Bogor Endas Sapi “Makk Nyuss” di Jl. Moh. Kafi I, Ciganjur, Jakarta Selatan. Saya bukan anggota KOSTER – dan bahkan tidak memiliki sepeda motor bermerek Suzuki Thunder. Saya diundang tuan rumah untuk memberi sepatah dua patah kata tentang mentalitas wirausaha kepada khalayak KOSTER yang malam itu berkumpul dalam rangka pertemuan rutin sekaligus untuk mencicipi produk baru RM “Makk Nyuss”, yaitu ayam bakar madu.

Saya perhatikan, selama acara berlangsung, bagaimana para anggota menyapa sesamanya dengan sebutan ‘bro’ (untuk laki-laki) dan ‘sis’ (untuk perempuan). Mereka bersalaman dan/atau berpelukan pada awal dan akhir pertemuan. Berbagai strata sosial dan ekonomi (pemilik Suzuki Thunder belum tentu kalangan menengah-atas saja, lho; bisa jadi sepeda motornya dibeli secara kredit; kalau sudah hobi, orang mau melakukan apa saja kan?!) berbaur tanpa hambatan, demikian harmonis. Salah seorang pengurus yang sedari awal menjadi corong malam itu meminta rekan-rekannya untuk menjaga kelakuan mereka, sebab – seperti pepatah “karena setitik nila rusak susu sebelanga” – perilaku buruk satu anggota bisa menimbulkan penilaian negatif dari masyarakat kepada anggota-anggota lainnya. Yang dipesankan malam itu adalah agar para anggota KOSTER tidak melanggar rambu dan marka lalu lintas biarpun tidak ada polisi. Saya pikir, kok senada ya dengan ajaran agama, yaitu bahwa kita harus senantiasa berbuat baik, pada saat terlihat maupun saat tidak terlihat oleh orang lain.

Pula seperti pepatah “alah bisa karena biasa”, kebiasaan positif yang dilakoni oleh para anggota KOSTER seperti tersebut di atas berawal dari pembiasaan diri (bisa juga dibaca: pemaksaan diri) dalam melakukannya. Teorinya, ketika perbuatan sudah menyatupadu dengan diri, maka ia akan mewujud secara spontan, dan bahkan merambat ke mana-mana. Yang tadinya dianggap saudara hanyalah sesama anggota KOSTER, lama-kelamaan anggapan itu bisa diberlakukan bagi siapa pun, termasuk orang yang belum dikenalnya. Yang tadinya hanya suka membantu sesama anggota, lambat-laun bisa pula membantu siapa saja yang perlu dibantu.

Saat itulah saya beroleh kepahaman, bahwa spiritualitas bisa dihidupkan dengan membiasakan (atau memaksakan) diri untuk memberi manfaat bagi orang lain; secara tulus mengorbankan diri demi membahagiakan orang lain akan menganugerahi kebahagiaan batin pula kepada dia yang berkorban. Sejumlah orang yang pernah mengamalkannya mengatakan bahwa hal itu benar adanya.

Kepada corong pertemuan KOSTER malam itu, yang saya ceritakan sedikit tentang Subud, saya sampaikan bahwa komunitas itu sebenarnya juga wujud amalan spiritual, karena komunitas cenderung menjunjung persaudaraan. Tarekat-tarekat Sufi klasik yang berkembang di Turki mensyaratkan ‘persaudaraan’ (brotherhood) sebagai salah satu amalan batiniah tasawuf, di samping berpuasa, khalwat (mengasingkan diri), adab (berperilaku baik), dan pelayanan. Persaudaraan a la Sufi dibangun di atas platform bantuan materi, dukungan personal, penghormatan, pujian dan perhatian, maaf, doa, dan kesetiaan. Hampir semua platform tersebut, di mata saya, tercontohkan pada profil keanggotaan KOSTER.

Kepada corong itu juga saya katakan, “Latihan untuk menghidupkan sisi spiritual kita itu gampang-gampang susah, Mas. Gampang di-omongin, tapi susah dilakukan kalau kita-nya nggak sabar, ikhlas dan tawakal. Misalnya, waktu Mas lagi asyik ber-Suzuki Thunder di jalan raya bannya kena paku. Mas terpaksa nenteng motor Mas yang cukup berat itu ke kios tambal ban. Kalau udah ditambal, Mas pasti langsung melaju lagi, lupa sama paku tadi, dan cuek kalau orang lain pun bakal terkena akibatnya. Jarang di antara kita neh yang mau meluangkan waktu untuk menyingkirkan paku itu, agar pengendara lainnya – yang bisa jadi seorang brother KOSTER – tidak kena getahnya. Kalau Mas siap berkorban untuk itu dengan perasaan sabar, ikhlas dan tawakal, saya yakin Mas akan memperoleh pengalaman spiritual yang nggak terlupakan. Percuma juga Anda ikut Subud atau jalan spiritual lainnya, kalau Anda tidak bisa memberi manfaat bagi orang lain.” Si corong KOSTER itu mengangguk-angguk, setuju.

Di sejumlah perkumpulan spiritual serta keagamaan acap muncul ekspresi mengenai apa yang bisa dilakukan anggota untuk perkumpulannya. Lha, kok aneh?! Kepada seorang saudara Subud yang resah karena merasa belum berbuat sesuatu untuk Subud dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya, saya kirimkan SMS yang berbunyi, “Jangan tanyakan apa yang bisa Anda lakukan untuk Subud, tapi tanyakan (pada diri sendiri) apa yang bisa Subud lakukan untuk masyarakat luas.” Menurut saya, bila sebuah organisasi lahir dan tumbuh di tengah masyarakat, tetapi tidak bisa memberi kontribusi yang bermakna bagi masyarakat di mana organisasi itu hidup sebaiknya organisasi itu diakhiri saja eksistensinya. Saya kira, semua organisasi bisa tumbuh besar justru berkat dukungan moril masyarakat-bukan- anggota. Pada tataran organisasi bisnis, saluran kontribusi untuk pengembangan masyarakat sudah tersedia melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility, CSR). Masak organisasi spiritual yang konon sudah mendapat tuntunan Tuhan untuk berbuat kebajikan harus diperlakukan sama dengan perusahaan-perusaha an yang dalam penerapan CSR-nya mesti dituntun oleh aturan perundang-undangan? !

“Sebaik-baik manusia adalah yang dapat memberi manfaat bagi orang lain,” kata seorang bijak yang hidup pada masa para nabi. Itulah latihan spiritual yang tidak memerlukan guru, pelajaran atau ajaran, dan organisasi/perkumpu lan – yang dewasa ini justru banyak dikomersilkan. Itulah ESQ Training sejati yang, berbeda dengan ESQ Training dari Ary Ginanjar, tidak perlu kita membayar jutaan rupiah agar dapat mengikutinya. Dalam hidup, pengalaman berbuat untuk kemaslahatan publik adalah guru yang paling baik.©

Mampang Prapatan-Jakarta Selatan, 2 Agustus 2008, pk. 2.38-4.35 WIB



Gaung Fantasi di Negeri Isu


Menjadi terkenal di negeri ini rupanya jauh lebih mudah ketimbang menjadi kaya -- tetapi, umumnya, kemashuran dengan sendirinya juga membuka pintu rezeki. Cukup dengan menciptakan isu yang sensasional -- yang mengundang pikiran khalayak untuk menginterpretasi, manfaatkan media massa (suratkabar, radio, televisi dan internet) serta pemandu opini (opinion leaders), sangat besar kemungkinan Anda menggapai nama besar dalam waktu singkat.

Kasus lagu Jauh baru-baru ini, yang melibatkan ahli telematika ternama Roy Suryo segala serta tiba-tiba melambungkan nama sebuah grup musik yang tadinya tidak signifikan, ternyata memberi sinyal adanya upaya pemasaran dari-mulut-ke-mulut (word-of-mouth marketing, WOM) atau buzz (gaung). Dasar pemikirannya adalah bahwa lagu itu muncul dari ketiadaan, merebak begitu saja bak wangsit dari langit, yang memberi kesan kuat akan adanya romantisasi merek (romancing the brand) -- melalui kisah penyanyinya yang sudah meninggal. Jika lagu itu pernah populer sebelumnya, tudingan mendompleng ketenaran orang lain lebih pasti.

Di seputar lagu itu diciptakan atmosfer misteri melalui kisah tentang penyanyinya yang sudah meninggal. Lalu muncul sosok bernama Gaby alias Abe yang mengaku sebagai penyanyi asli -- dan masih hidup. Dua grup musik yang bernama sama berbarengan mengklaim hak cipta atas lagu tersebut. Ah, semuanya masih simpang-siur. Tetapi yang jelas Jauh kini Tidak Jauh dari tenar!

WOM adalah sebuah taktik komunikasi pemasaran yang sudah tua bangka tetapi masih terus diberdayakan mengingat kerentanan otak manusia yang mudah sekali termakan isu. Kalangan akar rumput, tulis Emanuel Rosen dalam Anatomy of Buzz: How to Create Word of Mouth Marketing (Doubleday Business, 2002), berpotensi untuk dipicu ketertarikannya lewat kelangkaan dan misteri, dan dari situ akan meluas wabah penularan secara nasional. Indonesia setelah terkena krisis multidimensi telah berubah menjadi negeri isu, di mana isu-isu yang tidak bertanggung jawab sekalipun berusaha menggaungkan fantasi di benak rakyat. Jadi, jangan heran bila WOM kerap disarankan kepada para pemasar merek.

WOM memang merupakan bentuk komunikasi pemasaran termurah, bahkan bisa cuma-cuma. Ketika harga media periklanan tradisional mengempiskan dompet perusahaan pemasar, WOM menjadi pilihan pertama. Efektivitasnya memang tidak mudah diukur, tetapi yang jelas di negeri isu seperti Indonesia ini efeknya dapat mengakar dan berjangka waktu lama. Menurut Rosen, WOM menyeruak dari loyalitas konsumen terhadap merek yang disebabkan oleh saran teman, rekan kerja, atau network hub (istilah untuk ‘pemandu opini’ dalam khasanah WOM) informasi terpercaya seperti Oprah Winfrey dan Rosie O’Donnell.

Jumlah pengunjung situs web BMW Amerika Serikat meningkat pesat pada tahun 2005 sejak pabrik mobil asal Jerman itu menggelindingkan WOM mengenai film-film berkualitas tinggi yang dibesut oleh sejumlah sutradara Hollywood terkemuka, dibintangi aktor ganteng Clive Owen, dan dapat diunduh dari situs tersebut. Film bergenre action gaya James Bond itu sesungguhnya iklan audio-visual ‘biasa’, yang mempromosikan kualitas mobil BMW Z3 Roadster tanpa banyak omong. Meskipun demikian, tak ayal iklan-iklan itu menjadi koleksi para penggila film.

Pada tahun yang sama penyanyi pop Britney Spears meluncurkan dan berhasil membuat parfum ciptaannya yang bermerek Curious meledak di pasaran tanpa iklan sama sekali! Para gadis ABG yang dianggap sebagai network hub di kalangan penggemar Britney Spears dikirimi SMS yang memberitahu bahwa mereka bisa bicara langsung dengan penyanyi idola mereka lewat ponsel.

Palm Pilot, novel Cold Mountain, iMac, Hotmail, FedEx, film The Blair Witch Project dan There’s Something About Mary, bagi Rosen semuanya sukses bukan berkat periklanan atau pemasaran tradisional, melainkan lantaran proses niskala (intangible) di mana informasi dan komentar melompat dari otak atau mulut yang satu ke yang lain. Perkembangan WOM kini banyak terbantukan oleh internet, apalagi dinamika bisnis dewasa ini memang berlangsung cepat.

Anehnya, WOM tidak dimanfaatkan optimal oleh para calon presiden kita, meski hanya sebagai ‘kampanye terselubung’ sekalipun. Secara umum, mereka terlalu gamblang dalam berpromosi, yang membuat nenek-nenek aja tau bahwa mereka memang sedang berpromosi.

Salah seorang di antaranya, Prabowo Subianto, yang juga ketua umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), ‘numpang lewat’ iklan layanan masyarakat HKTI di televisi, yang langsung ditilang para bloggers sebagai aksi terselubung untuk mendongkrak popularitasnya yang baru mencapai 1,5 persen dari total pemilih. Padahal organisasi yang dipimpinnya menyimpan isu-isu jitu yang relevan bagi pemulihan perekonomian nasional: pergeseran pola pertanian subsisten ke pertanian yang berorientasi pasar, memanfaatkan wacana pertanian untuk bahan bakar yang belakangan sedang tren.

Kesaktian WOM baru dapat mengemuka jika pemasar mampu meromantisasi mereknya. Dalam kasus capres yang juga ketua umum HKTI, yang bersangkutan tidak mengakar di benak publik sebagai pribadi yang ‘dekat dengan petani’, sehingga dirinya harus ‘dijauhkan’ dari ke-HKTI-an dan biarkan HKTI berbicara untuknya. Biarkan benak khalayak menginterpretasi sendiri, apakah sang tokoh memang layak menduduki kursi kepresidenan negeri agraris ini atau tidak.

Bentuk pemasaran paling kuat, sekaligus kurang dipahami (tampak, utamanya, dari upaya komunikasi dan pencitraan yang mengiringi kampanye-kampanye pilkada dan pilpres yang belakangan marak di negeri ini), saat ini adalah WOM, sementara produk baru dapat menyebar cepat ke publik konsumen hanya melalui komunikasi inter-personal. WOM bekerja secara misterius, sehingga sebenarnya kita kebanyakan buta tentang proses pemasaran yang sangat kuat ini. Tidak mengherankan, jangankan membangun citra positif, dalam menggaungkan fantasi di negeri isu ini saja para komunikator pemasaran maupun politik acap gagal. ©

Wednesday, August 13, 2008

Hanyut dan Mengalir

“Hidup itu ibarat sekotak permen cokelat – Anda tak akan pernah tahu apa yang bakal Anda dapatkan.”

—Forrest Gump

Pekan lalu, saya tuntas membaca novel karya Andrea Hirata, Laskar Pelangi (Yogyakarta: Bentang, 2006). Secara keseluruhan, novel itu memikat hati dan membuka pikiran. Bagi saya, novel itu juga menegaskan pemahaman bahwa hidup ini sulit diduga arah dan tujuannya. Saudara Subud saya di Surabaya baru-baru ini mengatakan kepada saya melalui SMS – setelah saya kabari bahwa saya kok bisa memenangkan tender walaupun saya tidak serius mengupayakannya, sementara yang upayanya sungguh-sungguh malah acap gagal: “Hanyut dan mengalir saja, To.”

Laskar Pelangi memang hanya sebuah karya fiksi, tetapi setting dan gambaran manusia dan peristiwa yang melingkupinya memberi kesan non-fiksi. Novel itu memaparkan bahwa nasib itu sungguh aneh. Di sini seakan ditegaskan bahwa kita hanya bisa berusaha, sedangkan ketentuan akhir ada di tangan Tuhan. Tokoh-tokohnya, yang diceritakan kisahnya ketika mereka menjadi murid SD Muhammadiyah yang miskin di pulau timah Belitong, menjalin persahabatan khas anak-anak yang sarat petualangan, kesetiakawanan maupun permusuhan, seperti mewakili keseharian kita.

Mungkin terkesan agak tidak masuk akal ketika membaca perbedaan kehidupan tokoh-tokohnya yang bagaikan langit dan bumi waktu mereka masih kanak-kanak dan kemudian saat mereka telah dewasa. Tokoh Lintang yang jenius di bidang ilmu pengetahuan, menjuarai lomba ilmiah, dan bisa memberi solusi bagi semua permasalahan yang dihadapi teman-temannya, tidak bisa menyelesaikan sekolahnya karena ayahnya meninggal dan sebagai anak tertua ia terpaksa bekerja untuk menghidupi ibu dan saudara-saudaranya serta paman-pamannya yang tidak berdaya, dan ketika dewasa malah menjadi pekerja kasar di kapal keruk milik PN Timah – amat kontras dengan kemampuan jenialnya dalam memberi solusi permasalahan orang lain serta mengesankan seolah ilmu pengetahuan tak dapat mengatasi persoalan hidup.

Mahar, anak yang waktu sekolah lebih suka klenik dan pedukunan sehingga pelajarannya sempat terbengkalai, ketika dewasa menjadi narasumber budaya yang dihormati. Pada halaman 477, Andrea menulis, “Dalam kasus Mahar nasib adalah setiap deretan titik-titik yang dilalui sebagai akibat dari setiap gerakan-gerakan konsisten usahanya dn takdir adalah ujung titik-titik itu.” (Ingat kiat ‘menghubungkan titik-titik’-nya Steve Jobs dalam tulisan saya yang lalu, “Rahasia Kegagalan”?)

Tokoh Syahdan yang semasa sekolah dianggap pecundang dan gagap teknologi, saat dewasa malah menjadi salah satu dari segelintir orang Indonesia yang memiliki sertifikat Cisco Network Expert dan bekerja sebagai IT Manager di sebuah perusahaan multinasional. Kucai, anak yang dahulunya otaknya paling lemah, ketika dewasa menyandang gelar S1 dan S2 serta menjadi anggota DPRD Belitong. Tokoh A Kiong, ‘si kepala kaleng’ yang semasa sekolah bermusuh-bebuyutan dengan Sahara yang cantik dalam balutan jilbabnya, saat dewasa mengalami pergolakan batin, menjadi agnostik, insaf lalu masuk Islam dan menikah dengan musuh bebuyutannya.

Aneh, bukan? Sebagian orang menganggap kisah para anggota Laskar Pelangi itu hanya eksis dalam romantika novel dan film. Tetapi Laskar Pelangi justru menyingkap deretan memori di kepala saya ketika membaca bab-bab terakhir novel setebal 534 halaman itu. Saya teringat pada kawan sebangku saya – sebut saja AS – di SMP. Saya dan dia ibarat pungguk dan bulan; dia pintar sedangkan saya bodohnya minta ampun. Wali kelas sengaja ‘mendudukkan’ saya sebangku dengan AS, supaya saya ketularan pintarnya – tetapi hal itu tidak pernah terjadi. Mungkin saya satu-satunya murid yang dalam menyelesaikan soal matematika di papan tulis mesti dipandu oleh murid yang lain, utamanya AS. AS adalah anak emas hampir semua guru, juga digilai murid-murid perempuan. Sedangkan di mata guru, teman-teman dan orang tua, saya ini a total loser, pecundang sejati.

Lulus SMP, saya jarang hingga tak pernah lagi bersua dengan AS, karena kami tidak satu SMA. Kala saya menjadi mahasiswa tingkat skripsi di UI, sekali saya berpapasan dengan AS di jalan. Saya sedang duduk di boncengan ojek, sedangkan AS, bertelanjang dada dan banjir peluh, sedang menarik gerobak sampah. Mungkin karena malu, AS menundukkan kepalanya ketika kami berpapasan.

Ada pula kawan-kawan sekolah lainnya yang dahulunya gilang-gemilang prestasi sekolahnya, tetapi kini keadaan mereka mengenaskan. Apakah faktor keberuntungan, nasib, atau hukum alam yang bermain dalam hal ini? Bagi mereka yang meyakini eksistensi Tuhan menganggap fenomena ini sebagai takdir atau kehendakNya. Namun, pada saat yang sama kaum pemercaya Tuhan ini juga sulit menerima kenyataan, sehingga Sesembahan mereka pun kerap dikambinghitamkan sebagai Maha Penyebab di balik kenyataan mereka menjadi yang tidak sesuai cita-cita atau kemampuan intelektual mereka.

Agama-agama ternyata menandaskan bahwa Tuhan ‘tidak terlibat’ dalam penderitaan kita. Buddhisme mengedepankan karma sebagai latar belakang dari keadaan seseorang dewasa ini dibandingkan keadaannya di masa lalu; keadaan seseorang sekarang adalah buah dari perbuatannya dahulu maupun perbuatan para pendahulunya. Islam pun memberi tekanan bahwa derita yang dialami seseorang bukan disebabkan oleh aspek Ilahiah, karena “…sekali-kali Aku tidak pernah menyiksamu, melainkan engkau yang menganiaya dirimu sendiri!”

Kepada beberapa orang baru-baru ini saya ceritakan tentang seorang pengusaha Indonesia, pendiri perusahaan yang penulisan naskah profil usahanya tengah saya garap. Saya kagum padanya, karena ia berhasil membuat bisnisnya menjadi besar tak kepalang di Indonesia dan produk-produknya berhasil menjangkau seantero dunia. Perusahaan itu dirintisnya di Batam, pulau yang ketika ia mengawali usahanya 25 tahun yang lalu itu masih berupa hutan dengan infrastruktur yang sangat tidak memadai. Salah seorang pendengar cerita saya bertanya, “Dia lulusan mana?” Waktu saya jawab “University of London”, dia mencela, “Pantas aja sukses, lulusan luar negeri sih.” Spontan saya menyahut, “Itu pandangan yang tolol!”

Menjadi apa seseorang sekarang ternyata tidak mesti ada keterpautannya dengan latar belakang pendidikan, derajat intelektualitas, letak geografis atau pun kekayaan harta keluarga, melainkan bertolak dari mentalitas yang bersangkutan. Orang-orang berprestasi akademik yang saya kenal waktu SD, SMP dan SMA sebagian besar tidak sejahtera secara ekonomi, atau menjadi sampah masyarakat, yang sama sekali tidak mencerminkan kualitas intelektual mereka semasa sekolah. Hal itu disebabkan oleh ketiadaan mentalitas wirausaha – yang kreatif, lincah dan fleksibel – pada diri mereka. Orang yang sepanjang hidupnya jarang tersentuh kegagalan/penderitaan memang cenderung kurang inspiratif sehingga tidak kreatif, serta tidak peka sehingga tidak mampu mendeteksi peluang.

Sayangnya, pendidikan di negeri ini kurang memberi tekanan pada upaya-upaya yang dapat menghidupkan mentalitas wirausaha; siswa hanya dituntut untuk meningkatkan prestasi yang tolok ukurnya adalah angka-angka di rapor. Yang diutamakan adalah hasil, bukan prosesnya, sehingga sebenarnya anak-anak sekolah tidak belajar apa pun. Makanya, tidak mengherankan, biarpun anak-anak Indonesia banyak yang berjaya di olimpiade sains internasional, namun hal itu tidak memberi kontribusi yang berarti bagi perbaikan kesejahteraan masyarakat.

Kebanyakan kita pun, kalau mau jujur, lebih memilih menjadi Oprah Winfrey sekarang (terkenal, orang Afrika-Amerika terkaya di abad ke-20 dan satu-satunya miliarder kulit hitam di dunia, disanjung publik) ketimbang melewati pengalamannya dahulu (lahir dari kandungan ibu yang tidak menikah, diperkosa pada umur 9 tahun dan pada umur 14 melahirkan anak yang kemudian mati, hidup melarat). Atau menjadi seperti pengusaha, yang saya ceritakan di atas, sekarang (konglomerat, salah satu orang terkaya 2007 versi majalah Forbes Asia, pemilik lebih dari 30 perusahaan, berpredikat CEO of the Year 2007 versi harian Bisnis Indonesia) ketimbang nasibnya dahulu (bertahun-tahun tinggal di peti kemas, merintis usaha di lokasi yang serba kekurangan, pinjam uang sana-sini, menawarkan produknya dari pintu ke pintu dan selalu ditolak). Hanya orang-orang yang bermental wirausaha yang mampu (dan mau) melewati perjuangan semacam itu.

Bagi orang yang bermental wirausaha, kegagalan menjadi bahan bakar untuk terus berproses. Dalam proses itu, secara sadar maupun tidak ia mengalami tumbuh-kembang berkelanjutan, baik dalam keahlian teknis (technical know-how) maupun kepribadiannya. Bagi dirinya, hidup itu ibarat sekotak permen cokelat. Kita memang tak ‘kan pernah tahu apa yang bakal kita dapatkan di dalam sekotak permen cokelat yang menyediakan berbagai pilihan bentuk dan isi, tetapi bukankah permen cokelat bagaimanapun bentuk dan isinya tetap lezat disantap? Karena itu, hanyut dan mengalir sajalah…©2008


Jakarta, 13 Agustus 2008