Sunday, November 26, 2023

Hasil Testing Tidak Selalu Harus Dikerjakan

DI Facebook Memories saya untuk tanggal 27 November, muncul kenangan ini:

“Yang sudah ditesting tidak selalu harus dikerjakan... Jangan memaksakan diri untuk melakukan hal-hal yang di luar kemampuan kita. Tuhan sudah mengaturnya.”

~Nasihat Ibu Rahayu kepada Pengurus Nasional dan Panitia Pelaksana Kongres Nasional ke-25 PPK Subud Indonesia, di Griya Lestari, Cilandak, Jakarta Selatan, 27 November 2010

Pernyataan Ibu ini tidak direkam (karena bukan ceramah umum), tetapi saya, sebagai Wakil Sekretaris Nasional PPK Subud Indonesia pada waktu itu, mencatatnya kata per kata.

Nasihat ini disampaikan Ibu dalam kaitan dengan perdebatan keras yang sempat muncul berkenaan dengan pemindahan lokasi Kongres Nasional ke-25 dari Palangkaraya di Kalimantan Tengah (yang merupakan hasil testing pada Kongres Nasional ke-24 tahun 2009 di Anyer, Banten) ke Jawa Barat, karena banyaknya anggota yang menyatakan tidak sanggup secara finansial.©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 27 November 2023

Friday, November 17, 2023

Memperkuat Daya Ingat

MENGOMENTARI postingan kakak saya di grup WhatsApp keluarga besar eyang saya dari Purwokerto, pada 17 November 2023, yaitu tautan ke akun Instagram dari Referensini mengenai sebuah kedai kopi sejuk di Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, saya menulis: “Menikmati hidangan tradisional di tepi sawah? Saya pernah diajak Eyang Tamihardja ke sawah. Pas jam istirahat, kami makan nasi bungkus daun pisang berlaukkan tumis kangkung dan minumnya teh tubruk. Habis makan, Eyang mengisap rokok linting beraroma menyan.”

Salah satu sepupu saya, yang bertempat tinggal di Baturraden, Kabupaten Banyumas, merespons, “Ah, masak! Nggak lagi halu apa? Sawahnya di mana coba, Mas?”

Responsnya tersebut mungkin karena kejadiannya ketika saya masih duduk di taman kanak-kanak—sekitar tahun 1974, sehingga menurutnya tidak mungkin saya ingat. Saya mencoba mengingat letak sawah yang digarap eyang saya itu. Ketika berusaha mengingat, malah dari jiwa saya saya dicegah untuk berpikir terlalu keras.

Jiwa saya lantas “memutar film” mental, yang menggambarkan sebidang sawah hijau di kawasan Desa Sumampir, di dekat sungai (dalam film mental tersebut saya merasakan diri saya menyeberangi sungai, lalu mendaki tebing tanah di tepinya yang membawa saya dan eyang ke pemandangan hamparan persawahan). Di dekat sawah milik eyang saya terdapat sebuah tempat permakaman umum bernama Purna Raga.

Dengan pasti namun pasrah, saya menjawab pertanyaan sepupu saya begini: “Seingat saya, lewat sungai, yang dekat kuburan.”

Sepupu saya menjawab, “Sip! Pinter! Lewat Sungai Kele namanya.”

Di momen itu, terlintas di benak saya cerita dari saudara tua Subud saya di Cabang Purwokerto, Pak Wardhana nama beliau. Beliau pernah bercerita ke saya bahwa Latihan Kejiwaan telah memampukan beliau untuk mengingat hal-hal yang telah lampau. Beliau bahkan ingat momen-momen di saat usia beliau delapan bulan!

Saya tidak tahu teori mengenai fenomena daya ingat yang kian kuat setelah menerima Latihan Kejiwaan. Mungkin karena Latihan Kejiwaan menghentikan sejenak kembara pikiran selama prosesnya, dan karena itu menyaring informasi-informasi tertentu; sebagian disimpan, sebagian lagi untuk diungkapkan jika dibutuhkan. Siapa atau apa yang menyaringnya, saya tidak tahu. Semua berjalan spontan dan otomatis, namun tak terjelaskan.©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 17 November 2023

Wednesday, November 8, 2023

Rajin dan Tekun

ADA beberapa ceramah Bapak yang saya baca atau dengarkan, dimana Bapak menyebut “Latihan yang rajin dan tekun”. Saya ketik kedua kata tersebut—“rajin” dan “tekun”—di Google Translate untuk bahasa Indonesia-Inggris, yang kedua-duanya diterjemahkan sebagai “diligent”, meskipun terkadang keluar kata “persistent” untuk “tekun”. Dalam Bahasa Indonesia, “rajin” dan “tekun” memang memiliki arti yang sama, tetapi konotasinya berbeda satu sama lain.

“Rajin” mewakili kuantitas Latihan yang kita lakukan dalam seminggu. Itu berarti “dua kali Latihan bersama saudara-saudara lainnya dan satu kali Latihan sendiri”. “Tekun” mengacu pada kualitas Latihannya, yaitu benar-benar pasrah, berperasaan sabar, tawakal, dan ikhlas.

Dalam ceramah berkode 70 MAN 1, yang saya dengarkan rekamannya saat Wagean di Wisma Barata Pamulang, 4 November 2023, Bapak menganjurkan agar kita benar-benar pasrah saat Latihan; bila belum bisa seratus persen, sepuluh persen pun tidak apa-apa. Yang penting, “rajin dan tekun” melakukan Latihan, agar secara bertahap persentasenya meningkat terus.©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 9 November 2023

Sunday, November 5, 2023

Pembelajaran Dari Dendam

HARI Sabtu, 4 November 2023, merupakan Sabtu Wage menurut kalender Jawa—hari lahir Bapak Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo. Saya pun pergi menghadiri Wagean di Wisma Subud Jakarta Pusat bersama satu pembantu pelatih (PP) dari Cabang Jakarta Selatan dan Ketua Komisariat Wilayah III Subud DKI Jakarta. Hari itu merupakan pertama kalinya Cabang Jakarta Pusat mengadakan acara Wagean.

Hanya segelintir anggota yang hadir dalam Wagean di Jakarta Pusat, bisa dihitung dengan jari, tetapi itu menjadi Wagean paling berkesan yang pernah saya alami selama ini. Pada hari yang seharusnya berlangsung khidmat, malah terjadi suatu keributan besar yang dipicu oleh dendam kesumat seorang anggota wanita terhadap saya—yang masalahnya sendiri sudah hampir tidak saya ingat karena terjadi pada tahun 2016!

Anggota ini begitu tiba di Wisma Subud Jakarta Pusat langsung menyerang saya dengan kata-kata kasar, mencaci dan memaki saya dengan suara keras (mungkin terdengar di lingkungan terdekat Wisma Subud Jakarta Pusat), dan menghina saya secara vulgar. Saya hanya diam, merasakan diri, dan tersenyum pada si anggota yang berdiri sekitar satu setengah meter dari posisi saya duduk. Ketua Cabang Jakarta Pusat yang seorang wanita muda dan satu PP wanita Jakarta Pusat mencoba menahan si anggota dari mendekati saya, dan mungkin dia akan menyerang saya secara fisik.

Anehnya, saya hanya merasakan kedamaian dan kata-kata “tidak enaknya” terdengar enak di telinga saya, sehingga emosi saya tidak terpancing dan saya tidak pula terdorong untuk membalas umpatannya atau membela diri. Saya merasakan luapan energi amarahnya keluar dari diri si wanita dan memasuki diri saya untuk sekadar lewat, karena saya berada dalam keadaan pasrah. Keadaan pasrah itulah yang menyaring daya amarah itu menjadi “tiupan angin sejuk” yang memberi saya ketenangan dan rasa kasih sayang terhadap si anggota yang dendam pada saya itu.

Penyebab kemarahannya adalah bahwa dia pernah mendengar dari seorang PP pria di Cilandak bahwa saya dan dua saudara Subud dari Cabang Jakarta Selatan telah menggosipkan bahwa dia wanita yang bisa ditiduri oleh siapa saja. Gosip itu telah membuatnya sangat malu sehingga dia tidak pernah lagi melakukan Latihan di Cilandak. Tentu saja, tuduhannya terhadap saya itu tidak benar. Si PP pria yang telah memprovokasinya itu memang terkenal di Cilandak sebagai orang yang suka mengadu domba (mungkin karena dia krisis).

Bagaimanapun, jiwa saya menahan saya untuk tidak mengungkapkan yang sebenarnya, agar konflik yang ada antara saya dan si anggota itu selesai hari ini, saling memaafkan, dan menjadi pelajaran berharga di masa depan. Jiwa saya menyuruh saya mengalah saja, membuang ego saya yang cenderung mau menang sendiri.

Akhirnya, seorang PP wanita menyeret si anggota ke ruangan Latihan khusus wanita untuk menenangkannya dan mengajaknya Latihan. Setelah itu, saya dan dua PP pria yang ada serta Ketua Komisariat Wilayah III Subud DKI Jakarta melakukan Latihan bersama. Saya menerima Latihan yang kuat dan perasaan sukacita yang diiringi gerakan tarian dan suara nyanyian dengan nada-nada yang indah. Saya merasakan luapan amarah dan dendam dari si wanita meninggalkan dunia ini.

Beberapa lama setelah Latihan, saya dipertemukan dengan si anggota wanita. Dia tampak lebih tenang, bahkan meminta maaf ke saya karena ucapannya yang tidak enak. Ia juga kaget mengapa dirinya bisa seemosional itu, sedangkan niatnya ke Wisma Subud Jakarta Pusat adalah untuk Latihan. Disaksikan ketua cabang Subud Jakarta Pusat, para PP pria dan wanita dan Ketua Komisariat Wilayah III DKI Jakarta, saya mengaku salah (karena saya memilih untuk mengalah), saya dengan ikhlas meminta maaf atas nama diri saya dan dua saudara Subud Jakarta Selatan yang dia tuding sebagai penyebab dirinya tidak mau lagi Latihan di Cilandak, dan menyatakan bahwa saya tidak dendam padanya, karena saya mencintai suasana damai di dalam persaudaraan Subud.

Ia memaafkan saya. Saya bersalaman dan kemudian berpelukan dengan si anggota. Puji Tuhan, itu menjadi Wagean paling berkesan buat saya.

Ada satu ucapan si anggota wanita yang menarik bagi saya: Ia merasa terdorong untuk mencaci-maki saya tanpa dapat ia cegah, dan usai Latihannya ia me-niteni diri bahwa emosinya yang meluap-luap itu keluar begitu saja dan ia menyadari bahwa hal itu “mengalirkan keluar” perasaan dendamnya yang terpendam sekian lama. Pernyataannya itu menginsafkan saya bahwa kami berdua dibersihkan melalui kejadian tak terduga ini. Hal itu menambah kesan yang mendalam bagi saya terhadap acara Wagean di Wisma Subud Jakarta Pusat.©2023


Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 5 November 2023

 

Thursday, November 2, 2023

Namamu

Terkaparku di sini, menahan siksa

Sakit lahir batin tak terkira

Angan tak berhenti menggoda

Langit tak lagi memancar surga

Aku hilang harap untuk mencinta

Dirimu yang hadir semu

Ingin ku berkata, aku masih rindu

Namun engkau menjauh dariku

Aku, yang hanya ingin mencintaimu

 

Andai kau tahu apa yang kurasa

Nyeri tak terperi menerpa dada

Jadikan aku terpaku tak bisa berkata

Ada ku ingin menyebut dalam nada

Namamu yang cantik, penuh makna

Indah membelai jiwaku yang kini merana...

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 3 November 2023

Wednesday, November 1, 2023

Kualitas Gunung Es

APAKAH kita benar-benar mengenal orang yang kita rasa mengenalnya dengan baik? Pertanyaan itu mengemuka ketika saya sedang merenungkan pembelajaran saya mengenai persepsi dalam kaitan dengan merek. Saya teringat pada diagram gunung es yang acap digunakan para pengajar ilmu merek (brand).

Diagram tersebut dibagi menjadi dua: bagian puncak gunung es dan bagian badan hingga kaki gunung es, yang dipisahkan oleh permukaan laut. Bagian puncak itu merupakan ranah kualitas yang dipersepsikan (perceived quality), sedangkan bagian badan dan kakinya merupakan ranah kualitas mutlak (absolute quality) dari seseorang atau sesuatu. 


Kebanyakan orang, atau malah semua orang tak terkecuali, sesungguhnya hanya mengenal seseorang atau sesuatu dari kualitas puncak gunung esnya, namun kita cenderung mudah menghakimi seseorang atau sesuatu hanya dengan melihat kualitas yang kita persepsikan, dan memutuskan bahwa itulah kualitas mutlaknya.

Anggapan bahwa kita sudah mengenal dengan baik seseorang atau sesuatu hanya dengan melihat kualitas puncak gunung esnya adalah tidak tepat, bahkan berbahaya—dalam kaitan dengan produk, konsumen akan merasa tertipu atau dirugikan secara materi. Ini seperti nakhoda kapal Titanic yang merasa kapal yang dinakhodainya sangat kuat, tidak bisa tenggelam, dan meremehkan gunung es yang diberitahu keberadaannya oleh awak di tiang pengawas kapal lantaran ukurannya lebih kecil dari badan Titanic. Nakhoda tidak memperhitungkan ukuran badan gunung es yang tersembunyi di bawah permukaan air laut yang gelap, dan itulah yang mencelakai kapal yang dikatakan tidak dapat tenggelam itu.

Persepsi adalah pandangan ringkas kita terhadap seseorang atau sesuatu, yang bersifat relatif (berbeda di setiap orang), yang menafikan keseluruhan kualitas yang dimilikinya. Persepsi melibatkan apa yang penting bagi masing-masing kita, karena setiap orang memiliki kepentingan yang berbeda-beda terhadap seseorang atau sesuatu.

Persepsi kualitas sulit ditentukan, mengingat itu merupakan hasil persepsi (tindakan menyusun, mengenali, dan menafsirkan informasi sensoris untuk memberikan gambaran dan pemahaman tentang lingkungan kita) dan penilaian yang bersifat subyektif.

Meskipun kita sudah berhubungan dengan seseorang sekian lama dan sangat dekat, belum tentu kita mengenalnya dengan sangat baik. Bisa jadi karena dia menutupi atau menyembunyikan sebagian besar sifat-sifat atau kepribadiannya yang bakal dipandang buruk oleh orang lain. Ada pula orang-orang, saya salah satunya, yang dengan sadar maupun tidak sadar, menampilkan sifat-sifat yang berbeda satu sama lain sesuai lingkungan keberadaannya.

Teman-teman saya dari kalangan alumni Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia, misalnya, berbeda persepsi mereka terhadap saya dengan mereka yang sering berhubungan dengan saya di lingkungan Subud. Satu saudara Subud Jakarta Selatan, yang saya beri buku mengenai upaya kampung-kampung di Pulau Jawa dalam beradaptasi terhadap perubahan iklim, yang saya tulis untuk klien saya, berkomentar, “Membacanya memberi saya kesan yang berbeda terhadap Om Arifin yang saya kenal selama ini di Subud. Dari tulisan di buku ini, Om terkesan intelektual, santun, beretika. Berbeda banget dengan Om Arifin di grup WhatsApp Subud 4G—yang kasar dan vulgar!”

Saudara Subud lainnya, yang baru-baru ini melihat video singkat ketika saya tampil di layar kaca dengan predikat “pengamat militer” pada 26 Oktober 2023 lalu di status WhatsApp saya, menyatakan keheranannya. “Bagaimana bisa jadi pengamat militer, Mas? Saya tahunya hanya hobi menulis yang kemudian bisa jadi duit,” tulis saudara Subud tersebut dalam pesan WhatsApp-nya pada 27 Oktober 2023.

Yang dia ketahui tentang saya hanya itu dan itu sudah cukup bagi dia untuk merasa mengenal saya. Ya, karena otak manusia “malas” untuk memproses informasi yang sangat banyak. Saya pun terpaksa bercerita mengenai kualitas mutlak saya menyangkut latar belakang kehidupan saya, yang mencakup hobi saya dengan sejarah militer, strategi militer, dan pertahanan, dengan masa kecil saya yang sudah diwarnai dengan kegemaran membaca buku sejarah Perang Dunia Kedua.

Kenyataan mengenai “gunung es kualitas” seseorang atau sesuatu—yang saya pelajari justru dalam profesi saya sebagai konsultan branding, bagi saya pribadi memberi saya pengertian bahwa tak seharusnya saya mudah menilai atau menghakimi orang lain, baik atau buruk, hanya dengan melihat perbuatan atau perkataannya pada suatu momen. Kehidupan seseorang sejak dilahirkan hingga dewasalah yang membuat seseorang menjadi pribadi seperti yang kita kenal sekarang, dan kecuali kita mau menaruh kaki kita di sepatunya, janganlah terlalu cepat memberi cap baik atau buruk padanya.©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 1 November 2023