Wednesday, September 16, 2020

A BRIDGE TOO FAR: Operasi Market Garden 17-26 September 1944

ARTIKEL pertama saya yang pernah dimuat di media massa cetak berjudul “A Bridge Too Far”, pada tahun 1992. Artikel itu dimuat di majalah Teknologi & Strategi Militer (TSM) terbitan Penerbit Sinar Harapan, dan mengulas tentang Operasi Market Garden pada 17 hingga 26 September 1944. Judul artikel itu saya petik dari film produksi tahun 1977 besutan sutradara kenamaan Richard Attenborough, dan dibintangi aktor-aktor kawakan seperti James Caan, Michael Caine, Sean Connery, Gene Hackman, Anthony Hopkins, Ryan O’Neal, dan Robert Redford.

“Market Garden” adalah nama sandi operasi militer berupa aksi lintas udara (airborne) atau penerjunan pasukan payung serta pendaratan pasukan yang diangkut dengan pesawat layang (gliderborne) Sekutu di Negeri Belanda, yang dicatat dalam Guinness Book of World Records sebagai “invasi lintas udara terbesar dalam sejarah militer” (the largest airborne invasion in military history).

Mewakili ambisi Jenderal Inggris, Bernard L. Montgomery, untuk segera mengakhiri Perang Dunia II di Eropa, dengan menaklukkan jantung Jerman melalui “gerakan kipas” (fan-like movement) atau peningkaran (envelopment) lewat penciptaan posisi sayap (flanks) di Negeri Belanda, Market Garden digelar pada 17 September 1944, dengan mendaratkan pasukan payung berkekuatan lebih dari 40.000 prajurit ke koridor Eindhoven-Nijmegen-Arnhem. Berujung tombak dua divisi lintas udara Amerika Serikat (82nd dan 101st) dan satu divisi lintas udara Inggris (1st), pendaratan dari langit ini juga melibatkan unit-unit kecil dari Kanada, Belanda, dan Polandia.

Pasukan Sekutu menghadapi perlawanan yang keras dari pasukan Jerman yang didukung tank dan kendaraan tempur lapis baja lainnya—hal mana tidak dipunyai pasukan Sekutu, mengingat operasi lintas udara harus serba ringan dalam logistik pendukung tempurnya. Pasukan lapis baja Sekutu bergerak lewat darat, mengakses wilayah Belanda dari Belgia, namun karena menghadapi gempuran hebat dari tentara Jerman bersenjatakan meriam anti tank, dukungan lapis baja terlambat memberi bantuan tembakan dan perlindungan kepada satuan-satuan lintas udara yang telah mendarat.

Misi yang diemban Operasi Market Garden adalah merebut dan menguasai jembatan-jembatan di koridor Eindhoven-Nijmegen-Arnhem sebagai bakal jalur logistik Sekutu ketika menyerang Jerman di jantungnya. Perencanaan dan persiapan yang tergesa-gesa, ketiadaan dukungan udara, artileri, dan lapis baja yang memadai merupakan penyebab utama dari kegagalan Operasi Market Garden—sebuah pelajaran berharga yang dijadikan pedoman dalam operasi-operasi militer yang menggunakan lintas udara pasca Perang Dunia Kedua.©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 17 September 2020

Peta medan tempur Operasi Market Garden.


Jembatan John Frost di Arnhem, Negeri Belanda, kini. Diperjuangkan mati-matian untuk direbut dari tangan tentara Jerman oleh 745 prajurit lintas udara Inggris yang dipimpin Letnan-Kolonel John Frost selama Operasi Market Garden 17-26 September 1944, jembatan ini diganti dengan yang baru setelah yang lama hancur dalam pertempuran tersebut. Dalam pertempuran tidak seimbang itu, pasukan di bawah komando Frost yang bersenjata ringan harus menghadapi pasukan lapis baja Jerman dari II SS Panzerkorps. Setelah empat hari bertahan, Frost dan sekitar 100 prajuritnya yang tersisa menyerah. Kegigihan Frost dan anak buahnya membuat jembatan barunya dinamai “John Frost” (John Frostbrug).


Pasukan dari Batalyon Parasut ke-2 Inggris, “The Red Devils”, di bawah komando Letnan-Kolonel Frost, yang bertahan di sebuah bangunan rumah bertingkat di ujung utara Jembatan Arnhem. Tampak seorang prajurit Jerman mengibarkan kain putih, isyarat gencatan senjata, untuk menawarkan kepada pasukan Inggris agar menyerah.





Monday, September 14, 2020

Integritas Sebagai Orang Subud

 SEMALAM (14 September 2020) hingga dini hari, 15 September 2020, tadi, saya berada di teras rumah Pak Harris Roberts, salah satu pembantu pelatih Subud Cabang Jakarta Selatan yang berkebangsaan Amerika, di kompleks Wisma Subud Cilandak, ditingkahi hujan deras yang menambah keasikan mengobrol. Kopi dan rokok ikut menemani.

Pak Harris mengungkapkan apa yang membuat beliau begitu mencintai Bapak Muhammad Subuh. Yaitu sikap Bapak yang apa adanya, jujur dan tidak menahan diri untuk mengatakan apa yang harus dikatakan. Bapak tidak—meminjam idiom bahasa Inggris yang digunakan Pak Harris—“sell his soul to anyone” (tidak menjual jiwanya kepada siapa pun, artinya tidak membiarkan diri diperbudak kehendak orang lain), sehingga selalu bebas dari kekangan apa pun.

Memang, di akhir ceramah atau obrolan, kisah Pak Harris, Bapak selalu minta atau mohon dimaafkan atas kata-kata beliau yang membuat para pendengar tidak berkenan. Kebanyakan kita tidak berkenan terhadap kenyataan diri kita sendiri, apalagi diungkapkan oleh orang lain.

Mendengar cerita Pak Harris itu, saya merenungkan apa yang sudah lewat, apa yang saya alami: Kita umumnya membiarkan diri terkekang pada aturan (dalam buku Varindra Vittachi, disebutkan Bapak bercerita tentang aturan: Dibuat oleh manusia tapi manusia kemudian menghamba pada aturan dan tidak mampu mengatasinya), pada penilaian orang lain, pada kehendak kita sendiri untuk jaga image (ja’im), serta ketakutan-ketakutan lainnya yang mengada-ada. “Saudara masuk Subud untuk mengenal diri sendiri, menjadi diri sendiri,” kata Pak Harris mengutip Bapak. Kalau para pembantu pelatih dewasa ini membidahkan ucapan Bapak menjadi “untuk menjadi orang baik”.

Tidak sedikit orang yang katanya sudah menerima Latihan Kejiwaan, yang katanya hakikat itu, dalam diskusi terbuka di media apa pun menyatakan “No comment deh”. Bisa jadi karena takut ditantang balik oleh orang yang “tersenggol” oleh komentarnya, atau takut dipandang berbeda dan nyeleneh, atau takut dianggap tidak bersusila, berbudhi dan berdharma. Sikap “no comment” sesungguhnya menandakan bahwa kita tidak memiliki integritas, tidak mampu menjadi diri sendiri.

“Menjadi diri sendiri” tidak ada hubungannya dengan menjadi bebas sekehendak hati. Menjadi diri sendiri, kembali dikutip Pak Harris dari Bapak, datang dengan tanggung jawab. Jadi, bila menyatakan “No comment deh” artinya kita tidak siap bertanggung jawab. Dan perilaku tidak bertanggung jawab sama sekali tidak mencerminkan orang Subud.©2020


Tangerang Selatan, 15 September 2020