Sunday, November 27, 2022

Harmony Starts with Acceptance

IN Subud, people with different temperaments and behaviors can come together in harmony. One complements the other. That is what always amazed me. I was recently asked by one of my clients, who is not in Subud and often sees photos of my activities in Subud on my Facebook timeline, “What made you guys so close and harmonious, even though your backgrounds are different from each other?”

He compared Subud members to himself; because he likes cycling, he joined the bicycle community. To discuss the dynamics of his work, he gets together with his co-workers. To reminisce about his college days, he will attend his campus reunion. He just found out that people from different backgrounds and likes can unite in such a way in Subud. “What unites you all? How can that be?!”

I answered him, that I myself also questioned it, driven by my fascination with it. But that is what makes Subud so special to me.

Especially in Subud Indonesia, feuds or conflicts have never discouraged us from the harmony between us. We may not greet each other at gatherings, or we don’t like each other, but still, in a sense, there is a feeling of affection for each other—a feeling that each gets but often doesn’t understand why this can happen.

Perhaps the secret to creating lasting harmony is our willingness to surrender, let go and let God. In Subud, I witnessed how attempts to force harmony ended in disappointment. Harmony actually exists when everyone is given the freedom to be him or herself, while we accept whatever our brother’s or sister’s situation is with patience, trust and sincerity.©2022

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, November 28, 2022 

Thursday, November 24, 2022

The Chosen Ones

A longtime Subud brother recently shared his thoughts with a new member of the South Jakarta group, in front of me, on the east terrace of the Cilandak Latihan Hall. As usual, new members are euphoric and feel that everyone should be in Subud.

This longtime member said:People who join Subud are chosen ones. Those who are interested in Subud may not want to apply. Those who are in the waiting period may not want to be opened. Once opened, they may not want to continue to do the Latihan. Those who do the Latihan may not be ready to accept reality. Those who get reality may not want to believe in it, so they don't want to follow it.

“Why do things like this happen? If you believe that God wills or that God exists, you don't need to question it. Even if you don't believe in God, why waste your time thinking about why people want to join or not join Subud? Here, in Subud, reason is over!” ©2022


Pondok Cabe, Tangerang Selatan, November 25, 2022 

Wednesday, November 9, 2022

Ras Perang Dari Pegunungan Nepal

Tentara Gurkha dari Satuan Tugas Helmand, Brigade Mekanis ke-4 Inggris, dalam misi International Security Assistance Force (ISAF) di Afghanistan tahun 2010.

SEJAK di bangku sekolah dasar, saya sudah diperkenalkan pada suatu peristiwa bersejarah di Nusantara, yang meskipun kejadiannya dua bulan setelah berakhirnya Perang Dunia II di Pasifik tetapi tetap tercantum dalam buku sejarah Perang Dunia Kedua.

Peristiwa itu dikenal sebagai Pertempuran Surabaya 10 November 1945. Pertempuran hebat antara pasukan Sekutu melawan para pejuang Indonesia itu sebenarnya berlangsung sejak 27 Oktober hingga 20 November 1945, tetapi 10 November menandai jatuh tempo ultimatum panglima Allied Forces in the Netherlands East Indies (AFNEI) atau Pasukan Sekutu di Hindia Belanda, Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh, yaitu 10 November 1945, pukul enam pagi, sehingga tanggal itulah yang ditetapkan sebagai Hari Pahlawan yang diperingati bangsa Indonesia hingga kini.                                

Sejak SD hingga saya kuliah di Jurusan Sejarah FSUI dan mengambil spesialisasi sejarah militer, saya tidak begitu peduli pada Pertempuran Surabaya, dan “menerima begitu saja” informasi bahwa pertempurannya melibatkan kekuatan militer Inggris yang diboncengi Belanda, yang ingin kembali berkuasa di Indonesia. Bertahun-tahun kemudian, barulah saya menyadari sesuatu yang berbeda: Yang disebut “pasukan Inggris” ternyata adalah dua divisi infanteri dan satu brigade infanteri independen (berdiri sendiri) yang ditugaskan pada salah satu dari kedua divisi tersebut, yang bermarka “Indian”, alias unit yang mayoritas prajuritnya berasal dari India dan anak benua India (pada saat itu mencakup  Bhutan, Nepal, dan Pakistan), serta dibentuk pertama kalinya di negara yang kala itu bernama British Raj atau India Inggris. Para prajuritnya juga berasal dari berbagai budaya dan agama—ada yang Hindu, Buddha, Sikh, Kristen maupun Islam.

Unit-unit tempur dari Angkatan Darat Inggris itu memang dipimpin para perwira berkebangsaan Inggris, persis resimen-resimen kulit berwarna (colored troops) dalam Perang Saudara Amerika 1861-1865 yang semua perwiranya adalah kaum berkulit putih. Dari tingkat bintara (non-commissioned officer) hingga tamtama (enlisted) adalah orang-orang berkebangsaan India dan anak benua India yang beragama Hindu, Buddha, Sikh dan Islam.

Divisi Infanteri India ke-23 yang bertempur di Surabaya, contohnya, mayoritas beranggotakan prajurit beragama Hindu dan Islam, sehingga lencana unitnya berupa gambar siluet ayam jago berwarna merah di atas dasar kuning berbentuk lingkaran. Kabarnya, pemilihan ayam jago sebagai lencana unit itu karena panglima pertamanya, Mayor Jenderal Reginald Savory, merasa hal itu tidak menyinggung anak buahnya yang beragama Islam maupun Hindu.

Dalam Pertempuran Surabaya, kabarnya juga ada beberapa prajurit India yang muslim membelot ke para pejuang Republik, karena diajak para pejuang atas perintah Sukarno, yang mendengar laporan tentang terdengarnya seruan allahuakbar dari pihak pasukan Inggris yang datang menyerbu kota Surabaya. Kalaupun kabar itu benar, pastilah mereka itu prajurit India yang berasal dari daratan India dan negara-negara tetangganya yang berpenduduk mayoritas muslim. Tidak mungkin berasal dari Nepal yang berpenduduk kaum Gorkhali atau Gurkha yang beragama Hindu.

Inggris mengerahkan dua divisi infanteri India ke Surabaya, yaitu Divisi Infanteri India ke-23 dan ke-5. Di dalam senarai tempur (order of battle) dari Divisi Infanteri India ke-23 di palagan Surabaya terdapat Brigade Infanteri India ke-37 yang menaungi tiga batalion Gurkha Rifles, sedangkan dalam senarai tempur dari Brigade Infanteri India ke-49 (independen) yang sedang di-BKO (bawah kendali operasi) pada Divisi ke-23 ada dua resimen asal Nepal, yaitu Resimen Kalibahadur dan Resimen Shere. Tak perlu dijelaskan lagi, kedua resimen asal Nepal itu pastilah beranggotakan prajurit Gurkha dan Gurkha India. Dalam Divisi Infanteri India ke-5 pun terdapat dua batalion Gurkha Rifles.

Pada pendaratan tanggal 6 November 1945 itulah kali pertama pasukan Gurkha menginjakkan kaki di Surabaya. Kedatangan mereka disokong oleh artileri berat maupun bantuan tembakan kapal di lepas pantai Surabaya, serta mendapat perlindungan dari pesawat-pesawat tempur Inggris, sehingga laju pertempuran pada bulan November menjadi berbeda dengan Pertempuran Tiga Hari pada 28 hingga 30 Oktober 1945.

Gurkha adalah sebutan buat orang-orang asli Nepal, sedangkan Gurkha India adalah masyarakat yang berasal dari bagian timur lautnya India yang berbahasa Nepali—berwarganegara India tetapi berakar pada budaya Nepal.

Saya menemukan banyak artikel terkait Pertempuran Surabaya yang keliru dalam bahasan mereka mengenai Gurkha. Para penulis artikel itu menyamakan tentara Gurkha dengan tentara India biasa atau bahwa semua prajurit India yang bertempur di Surabaya pada Oktober-November 1945 adalah orang Gurkha. Yang menggelikan adalah artikel-artikel yang menyebut tentara Gurkha meneriakkan “allahuakbar” atau berhenti bertempur karena mereka mendengar para pejuang Indonesia menyerukan kebesaran Allah. Ya, menggelikanlah; apakah para penulisnya tidak tahu bahwa suku Gurkha di Nepal dan Gurkha India beragama Hindu?

Lebih konyol lagi yang menyebutkan bahwa presiden Pakistan yang tewas dalam kecelakaan pesawat pada 17 Agustus 1988, Zia ul Haq, merupakan komandan Gurkha yang ikut bertempur di Surabaya tahun 1945. Entah dari mana sumber informasi itu, tetapi hal itu jelas tidak mungkin, mengingat Zia ul Haq terlahir dalam keluarga muslim yang taat di Punjab, suatu daerah geopolitik, kebudayaan, dan historis di Asia Selatan, khususnya di bagian utara anak benua India, yang terdiri dari wilayah Pakistan timur dan India utara. Kemungkinan besar, Zia adalah anggota Resimen Punjab ke-2 yang dibentuk pada 1761 sebagai bagian dari Angkatan Darat Inggris.

Pasukan Gurkha bagi Inggris adalah seperti Legiun Asing bagi Prancis. Meskipun Gurkha memenuhi kriteria Konvensi Jenewa untuk dianggap sebagai tentara bayaran (mercenary), tetapi, sama seperti rekannya dari Prancis, Gurkha dikecualikan dari ayat (e) dan (f) dari pasal 47 Protokol I Konvensi Jenewa yang bertajuk “Mercenary”. Ayat (e) berbunyi “Tentara bayaran bukanlah anggota angkatan bersenjata dari Pihak yang sedang berperang”, sedangkan ayat (f) “Tentara bayaran tidak dikirim oleh Negara yang bukan merupakan Pihak yang berperang dalam suatu tugas resmi sebagai anggota angkatan bersenjata.”

Unit-unit Gurkha terdiri dari orang-orang Gurkha Nepal dan India. Sejumlah 96.000 orang Gurkha direkrut untuk Angkatan Darat Nepal, 42.000 untuk AD India, 4.010 untuk AD Inggris, dan sisanya tersebar di Kontingen Gurkha Singapura, Unit Cadangan Gurkha Brunei, pasukan perdamaian PBB dan di berbagai zona perang di seluruh dunia.

Tentara Gurkha identik dengan pisau berbilah melengkung mereka yang disebut “khukuri” atau “kukri”, Pisau ini menjadi ciri khas dari Angkatan Darat Nepal dan Resimen Gurkha di seluruh dunia. Prajurit Gurkha juga bereputasi sebagai serdadu yang hebat dalam bertempur serta berani mati. Di kalangan tentara India terkenal ungkapan, “Jika ada yang bilang bahwa dirinya tidak takut mati, pasti dia bohong atau dia Gurkha.

Asal-usul keberadaan tentara Gurkha adalah ketika Inggris mulai bersentuhan dengan sebuah kekuatan yang unik dan kuat di perbatasan utara wilayah yang baru dimenangkan Inggris di Benggala (kini, Benggala Timur masuk Bangladesh, sementara Benggala Barat, Tripura, Assam, dan Jharkhand masuk wilayah India) dan Bihar (India) pada tahun 1767. Kekuatan ini adalah negara-kota Gorkha yang dipimpin oleh raja Prithwi Narayan Shah, dan saat itu merupakan sebuah desa di bukit yang sekarang menjadi Nepal barat, dari mana nama Gurkha berasal. Raja Prithwi dan penerusnya tumbuh begitu kuat sehingga mereka dapat menguasai seluruh wilayah pegunungan Kashmir di barat hingga Bhutan di timur.

Batalion Nusseree pada tahun 1857. Mereka kelak dikenal sebagai 
Resimen Gurkha Rifles ke-1.

Sebagai akibat dari sengketa perbatasan dan serangan berulang-ulang oleh Gurkha ke wilayah yang dikuasai Inggris, Gubernur Jenderal India menyatakan perang terhadap Nepal pada tahun 1814, yang berakhir pada tahun 1816 dengan perjanjian damai yang disebut Perjanjian Sugauli. Pasca penandatanganan perjanjian damai tersebut, Gurkha melayani Perusahaan Hindia Timur Inggris sebagai prajurit kontrak dalam Perang Pindari (Perang Anglo-Maratha) tahun 1817, Perang Burma-Inggris Pertama tahun 1826, Perang Anglo-Burma Pertama dan Kedua pada 1846 dan 1848.


Para pejabat Inggris di abad ke-19 menyatakan Gurkha sebagai “Martial Race” (Ras Perang), yang menggambarkan orang-orang Gurkha sebagai kaum yang “suka berperang dan agresif dalam pertempuran”. Hebatnya, satu orang serdadu Gurkha mampu menghabisi lawan dalam jumlah yang lebih banyak.

Seperti yang terjadi pada 23 Juni 1943, ketika Inggris bertempur melawan Jepang di Burma dalam Perang Dunia Kedua. Satu prajurit Gurkha, yang tersisa dari unitnya yang sudah tewas atau terluka setelah diserang Jepang di dekat jembatan kereta api, menggunakan pistol yang ia tembakkan sambil berlari melintasi medan yang terbuka dan berlumpur. Dia merampas dua senapan mesin dan sejumlah besar amunisi dari tiga tentara Jepang yang ia bunuh.

Hal ini mengingatkan saya pada pertempuran antara pasukan Legiun Asing Prancis dan Meksiko pada 30 April 1863, yang dalam sejarah disebut sebagai Pertempuran CamarĂ³n. Berkekuatan hanya 65 prajurit, pasukan Legiun Asing yang sedang berpatroli itu diserang dan dikepung oleh 3.300 pasukan infanteri dan kavaleri Meksiko. Setelah bertempur selama sepuluh jam, tersisa lima prajurit Legiun Asing, sedangkan Meksiko kehilangan 300 prajuritnya dan menanggung 500 prajurit yang terluka. Bagaimanapun, peristiwa ini menunjukkan betapa mengerikannya para pejuang yang tergabung dalam Legiun Asing dan sejenisnya, seperti tentara Gurkha.©2022

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 10 November 2022