Monday, May 29, 2017

Agama di Mata Anak Sekolah Dasar

Sebagai anak berumur tujuh tahun di Belanda dahulu, saya bersahabat dengan Rudi Verweij yang Yahudi, Eric-Ian yang Protestan (agama mayoritas di Belanda) dan Peter de Bruin yang berasal dari keluarga yang tidak mengenal Tuhan dan agama. Kami bergaul tanpa hambatan, karena masing-masing acuh terhadap latar belakang agama dan budayanya.

Suatu ketika, kami main ke hutan Den Bosch di dekat rumah kami di Mariahoeve, Den Haag. Hutan itu merupakan bagian dari taman yang mengitari Paleis (Istana) Den Bosch, kediaman resmi Ratu (saat itu masih putri makhkota Kerajaan Belanda) Beatrix. Sambil mengayuh pelan sepeda kami, Rudi berujar bahwa dia penganut agama Yahudi karena diberi tahu ibunya begitu. “Yahudi itu katanya bermusuhan dengan agamanya Anto, Mohammedaan. Tapi aku pikir itu konyol. Masak Tuhan bermusuhan?!”

Eric-Ian berkomentar, “Dat is zo dom (Bodoh sekali)! Het is beter om te fietsen in het bos dan vechten voor zo'n stomme dingen (Lebih baik bersepeda di hutan daripada berantem untuk hal-hal bodoh semacam itu).”

Kami pun melanjutkan bersepeda sampai Paleis Den Bosch tampak di hadapan kami. Dan kami bergembira.



Kalibata, Jakarta Selatan, 17 Mei 2017

Pak Saleh As'ad Djamhari dalam Ingatan Saya

SAYA pindah dari Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) IKIP Jakarta ke Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI; sekarang menjadi Fakultas Ilmu Budaya/FIBUI) karena ada matakuliah Sejarah Militer Dunia dan Sejarah ABRI yang diajar oleh Kolonel (Inf.) Drs. Saleh As’ad Djamhari dan diasisteni Mas Tubagus Lutfi,SS dengan buku diktat Eric Nordlinger-nya (Militer dalam Politik: Kudeta dan Pemerintahan, 1990). Saya langsung malas begitu ikut kuliah Sejarah Militer Dunia karena ternyata topiknya adalah peranan militer dalam politik, sedangkan saya lebih menyukai sejarah perang. Setelah itu, saya tidak lanjut mengambil matakuliah Sejarah ABRI, karena pasti mengkaji peranan ABRI dalam politik.

Begitu saya mulai menyusun skripsi, Pak Saleh ditunjuk menjadi pembimbing saya. Begitu tahu tema skripsi saya adalah aksi-aksi gerilya dan anti-gerilya dalam Agresi Militer Belanda II (1948-1949) di Jawa Tengah Bagian Barat, mata Pak Saleh berbinar-binar; rupanya beliau berharap ada yang menulis sejarah perang murni, bukan militer dalam politik.

Tiap kali saya datang untuk bimbingan skripsi di Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI, sekali di rumah beliau (yang dekat rumah cewek Sastra Jepang yang saya incar di Kompleks MABAD Rempoa, Ciputat) dan sekali di Markas Besar ABRI, dengan semangat Pak Saleh mendiskusikan perang dan jenis-jenis persenjataan serta adu pendapat tentang para ahli strategi perang dunia. Saya yang waktu itu mengidolai Jendral Bernard L. Montgomery versus beliau yang menjagokan Jendral Erwin Rommel, dua panglima perang yang saling berhadapan di medan Afrika semasa Perang Dunia II.

Saya masih ingat kata-kata beliau di ruang kerjanya di gedung Pusjarah ABRI, di mana beliau menjabat Kepala Dinas Penelitian dan Penulisan (Kadislitsan): “Jarang lho mahasiswa UI mau menulis sejarah perang dari aspek strategi dan taktik militer. Seingat saya, baru kamu.”

Dalam sidang skripsi saya yang digelar pada 7 Juli 1993, Pak Saleh memuji skripsi saya: “Ini skripsi yang langka. Belum pernah ada mahasiswa S1 yang berani membahas bipolar strategy; strategi TNI dan tentara Belanda sekaligus.”

Pak Saleh tutup usia pada 26 Mei 2017 pukul 19.00 WIB. Bagaimanapun, beliau tetap hidup dalam ingatan saya sampai saya pun akan menyusulnya.



Kalibata, 27 Mei 2017

Friday, May 5, 2017

Saya dan Latihan Kejiwaan SUBUD

Menurut yang sudah saya alami sejak dibuka (pertama kali menerima Latihan Kejiwaan)...

1. SUBUD adalah segala hal, jiwa dan raga. Energi Latihan Kejiwaan meliputi jiwa, diri, dan hati. Latihan Kejiwaan memperbaiki, mengubah, atau meluruskan yang salah dalam diri saya, lahir maupun batin, yang tampak maupun tak tampak. Landasan atau pijakan SUBUD adalah Latihan Kejiwaan; tanpa SUBUD, Latihan Kejiwaan tetap ada, tetapi tanpa Latihan Kejiwaan, SUBUD tidak bakal eksis.

2. Latihan Kejiwaan merupakan suatu fenomena alamiah, yang melampaui teori sains, ilmu agama maupun jalan spiritual apa pun. Pondasinya cuma sabar, ikhlas, dan tawakal, bukan "berbuat baik" atau "berpantang ini-itu". Mengapa saya sebut "fenomena"? Karena Latihan Kejiwaan berbeda untuk setiap orang. Yang saya alami atau terima adalah kontak atau transmisi energi yang mentransformasi hidup saya. Energi ini menyingkirkan "kekotoran" atau "ketidakmurnian" (impurities) atau menambahkan unsur-unsur yang memberi saya kesadaran-kesadaran baru. Latihan Kejiwaan adalah tentang keinsafan. Latihan Kejiwaan mengungkapkan ke saya bidang-bidang profesi yang baru, sehingga seorang alumnus Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia seperti saya tertuntun untuk menekuni profesi yang saya tidak punya dasar ilmunya, yaitu komunikasi pemasaran, korporat, dan komunikasi untuk pembangunan berkelanjutan. Seorang saudara SUBUD yang sarjana ilmu komputer bisa menekuni usaha peternakan sapi yang sukses, karena Latihan Kejiwaan telah menuntunnya untuk mendapatkan pengetahuan tentang nutrisi pakan ternak yang mumpuni. Latihan Kejiwaan juga membantu saya meniadakan perilaku-perilaku yang destruktif. Tidak ada jaminan hal-hal begini bakal terjadi atau dialami setiap pelatih kejiwaan SUBUD. Tetapi perubahan merupakan bagian dari Latihan Kejiwaan, baik secara jiwa maupun raga.

3. Setelah bertahun-tahun tekun ber-Latihan Kejiwaan, intuisi (di sini saya merasa bahasa amat terbatas untuk memaknainya) saya menjadi tajam. Saya mendapat kepahaman atau pengertian atas sifat-sifat atau kondisi "sisi dalam" (inner) dari segala sesuatu. Hal itu disebut dengan cukup tepat oleh Varindra Vittachi dalam bukunya, A Reporter in Subud, sebagai "Hidup di dalam Hidup" (the Life within the Life) karena kondisi lahir/raga merupakan "hidup" dan kondisi kejiwaan merupakan "hidup di dalam hidup". Kondisi kejiwaan ini mulai menuntun hidup saya dengan mengungkapkan kenyataan jiwa (inner reality) saya, alih-alih selalu terpedaya oleh hal-hal di luar diri saya. Saya pun mulai melihat dunia melalui rasa diri saya.

4. Berbagai macam orang di SUBUD memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Anda harus mengobrol dengan setiap orang di SUBUD untuk mengetahui apa saja yang pernah mereka alami. SUBUD mengungkapkan sifat kekuasaan Tuhan yang Maha Luas dan Maha Tak Berbatas, sehingga bergantung pada penjelasan satu orang saja tidak cukup.

5. Cinta kasih. Saya kira cinta kasih dimulai dengan pasangan kita dan keluarga kita. Cinta kasih itu dapat meluas ke teman-teman dan kenalan-kenalan kita. Latihan Kejiwaan biasanya dilakukan bersama para anggota suatu kelompok dan berulang kali saya merasakan kesan persaudaraan di antara anggota-anggota kelompok tersebut, dan diharapkan perasaan cinta kasih itu dapat merangkul seluruh dunia. Terus terang, saya bertemu dengan orang-orang yang paling istimewa di dunia ini justru di SUBUD; istimewa dalam kepedulian, perhatian, kebaikan, dan kreativitas mereka. Semua saudara SUBUD di mana pun mereka berada, baik yang dengannya saya pernah bertatap muka maupun yang tinggal di ujung dunia yang saya hanya ketahui namanya, telah memperkaya hidup saya, dan perjalanan hidup saya rasanya akan kurang bermakna tanpa kehadiran mereka.©2017


Kalibata, Jakarta Selatan, 30 April 2017