Tuesday, April 21, 2026

Kritik Kartini Terhadap Agama

RADEN Ajeng Kartini (1879-1904) adalah pahlawan nasional Indonesia yang terkemuka dan pelopor gerakan hak-hak perempuan serta pendidikan. Lahir pada 21 April 1879—karena itulah setiap tanggal 21 April diperingati oleh rakyat Indonesia sebagai Hari Kartini—dalam keluarga bangsawan Jawa di masa kolonial Belanda, ia paling dikenal melalui kumpulan surat-suratnya yang kemudian diterbitkan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Surat-surat tersebut merinci pemikirannya tentang reformasi sosial, penderitaan perempuan Jawa, dan perjuangan kemerdekaan nasional.                   

Kartini dirayakan secara luas sebagai perintis hak-hak perempuan dan pendidikan di Indonesia. Namun, di balik advokasi sekolah dan kesetaraan sosial, terdapat pemikiran analitis yang mendalam—pemikiran yang berani mengkritisi fondasi praktik keagamaan di zamannya. Kartini bukan sekadar seorang reformator; ia adalah seorang beragama yang kritis. Surat-suratnya mengungkap sosok wanita yang menolak menerima tradisi begitu saja, melainkan mencari keyakinan yang berakar pada logika dan kasih sayang.

Kritik Terhadap Pemahaman Agama

Salah satu kritik Kartini yang paling terkenal adalah mengenai cara Alquran diajarkan pada masanya. Ia mempertanyakan mengapa para murid diharapkan untuk menghafal dan melantunkan kitab suci dalam bahasa Arab tanpa diwajibkan memahami maknanya. Bagi Kartini, pertumbuhan spiritual mustahil terjadi tanpa pemahaman. Ia melihat praktik melantunkan kata-kata tanpa tahu definisinya sebagai sebuah latihan yang hampa. Keinginannya adalah agar agama berbicara kepada hati melalui pikiran—sebuah sikap radikal dalam masyarakat di mana otoritas agama jarang sekali dipertanyakan.

Kritik Kartini pun meluas hingga ke luar ruang kelas. Ia membayangkan sebuah dunia yang melampaui batas-batas agama terorganisir, menyiratkan bahwa dunia akan jauh lebih damai jika agama-agama tidak menonjolkan perbedaan mereka atau terlibat dalam penghinaan dan konflik timbal balik. Observasinya yang paling tajam tetap terasa sangat relevan hingga saat ini: “Agama seharusnya menjaga kita dari dosa, namun seringkali, dosa justru dilakukan atas nama agama!”

Kejujuran Intelektual

Apa yang membuat Kartini benar-benar “keren” menurut standar modern adalah kejujuran intelektualnya. Ia tidak meninggalkan agamanya; sebaliknya, ia menjunjung agamanya ke standar yang lebih tinggi. Ia membuktikan bahwa mencintai budaya atau agama seseorang bukan berarti mengabaikan kekurangannya. Ia menantang para pemimpin agama untuk memastikan bahwa agama berfungsi sebagai jembatan menuju perdamaian, bukan senjata untuk perpecahan.

Dengan menuntut untuk memahami kitab suci bagi dirinya sendiri, ia merebut kembali kedaulatan spiritualnya. Kartini tetap menjadi pengingat yang kuat bahwa menjadi orang yang beragama dan menjadi pemikir kritis bukanlah dua hal yang saling eksklusif. Faktanya, seperti yang ia tunjukkan, iman yang paling mendalam sering kali adalah iman yang tidak takut untuk bertanya, “Mengapa?”©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 21 April 2026

Sunday, April 19, 2026

Melampaui Bayang-Bayang Inferioritas Anggota Subud Indonesia di Kancah Global

PENGALAMAN spiritual dalam wadah Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan Susila Budhi Dharma atau Subud telah berkembang secara global sejak pertengahan abad ke-20. Fenomena ini menciptakan sebuah dinamika yang unik karena secara historis dan esensial, Latihan Kejiwaan ini berakar dari pengalaman spiritual seorang putra Indonesia, yakni RM Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo, atau “Bapak”. Namun, terdapat sebuah paradoks yang cukup nyata di dalam tubuh organisasi ini di tanah air. Meskipun Indonesia merupakan rahim kelahiran Subud, interaksi dan keterlibatan anggota domestik dalam kancah internasional sering kali dirasakan masih sangat minim. Fenomena ini bukan sekadar masalah teknis atau kendala bahasa, melainkan sebuah persoalan psikologis yang mendalam dan berakar pada sejarah kolektif bangsa yang panjang.

Ketertinggalan dalam keterlibatan global ini sering kali berakar pada apa yang disebut oleh para psikolog dan sosiolog sebagai inferiority complex atau rasa rendah diri kolektif. Bagi bangsa yang pernah mengalami kolonialisme selama lebih dari tiga abad, sisa-sisa mentalitas terjajah tidak hilang begitu saja hanya dengan proklamasi kemerdekaan. Struktur kolonial yang selama berabad-abad menempatkan penduduk pribumi pada strata sosial terbawah telah meninggalkan jejak traumatis dalam alam bawah sadar. Hal ini memicu pandangan bahwa segala sesuatu yang datang dari Barat atau dunia luar memiliki kualitas yang lebih unggul, lebih modern, dan lebih kredibel dibandingkan dengan apa yang ada di dalam negeri. Dalam konteks Subud Indonesia, mentalitas ini sering kali mewujud dalam bentuk rasa sungkan atau keraguan untuk berdiri sejajar dengan anggota dari negara-negara maju.

Padahal, jika kita menilik kembali sejarah perjalanan Bapak ke mancanegara, beliau memberikan teladan yang sangat kuat mengenai martabat dan kepercayaan diri. Bapak tidak pernah menempatkan dirinya sebagai sosok yang perlu menyesuaikan diri dengan standar kebudayaan Barat demi mendapatkan pengakuan. Beliau tetap tampil apa adanya sebagai orang Jawa dengan kesahajaan dan keteguhan prinsip spiritualnya. Di hadapan para cendekiawan, ilmuwan, dan tokoh masyarakat di Inggris, Amerika Serikat, hingga Eropa daratan, beliau tidak pernah merasa rendah diri. Sebaliknya, cara beliau membawakan diri justru mengundang rasa hormat yang mendalam dari masyarakat Subud luar negeri. Beliau membuktikan bahwa otoritas spiritual dan kematangan jiwa tidak ditentukan oleh asal-usul bangsa atau latar belakang ekonomi, melainkan oleh keikhlasan dan kejernihan dalam menjalani Latihan Kejiwaan.

Ketimpangan eksposur internasional bagi anggota di Indonesia sering kali bermula dari hambatan psikologis dalam berkomunikasi. Banyak anggota yang merasa bahwa kemampuan bahasa mereka yang terbatas menjadi penghalang mutlak untuk berkontribusi dalam komite-komite internasional atau menghadiri kongres dunia. Namun, jika kita melihat lebih dalam, kendala bahasa hanyalah manifestasi permukaan dari ketakutan akan penilaian orang lain. Ada ketakutan bahwa ide atau gagasan yang disampaikan dari perspektif Indonesia akan dianggap tidak relevan atau kurang canggih. Pola pikir inilah yang harus segera didekonstruksi. Subud adalah organisasi yang berbasis pada persaudaraan kejiwaan yang melampaui sekat-sekat budaya, sehingga setiap anggota sebenarnya memiliki hak dan kapasitas yang sama untuk bersuara di panggung dunia.

Untuk memecahkan belenggu rasa rendah diri ini, diperlukan sebuah pergeseran paradigma yang dimulai dari tingkat individu. Anggota Subud Indonesia perlu menyadari kembali kekayaan nilai yang mereka miliki sebagai pemegang tongkat estafet tradisi spiritual asli Indonesia ini. Indonesia memiliki modal sosial berupa keramah-tamahan, gotong royong, dan ketulusan yang sangat dibutuhkan dalam dinamika organisasi global yang sering kali terlalu kaku atau bersifat administratif. Dengan memahami bahwa perspektif Indonesia adalah aset berharga bagi keragaman internasional, maka rasa percaya diri akan mulai tumbuh secara alami. Kita tidak perlu menjadi “kebarat-baratan” untuk diterima, melainkan cukup menjadi diri sendiri yang berdaya dan berwawasan luas.

Strategi pertama dalam memperluas eksposur internasional adalah dengan memanfaatkan teknologi digital secara proaktif. Di era konektivitas saat ini, jarak geografis bukan lagi hambatan utama. Anggota Subud Indonesia dapat mulai terlibat dalam pertemuan-pertemuan virtual, webinar, atau kelompok diskusi internasional yang sering diselenggarakan oleh World Subud Council atau zona-zona lainnya. Keterlibatan ini tidak harus dimulai dengan peran yang besar. Menjadi pendengar aktif dan sesekali memberikan opini singkat dalam diskusi daring dapat menjadi latihan yang baik untuk membiasakan diri berinteraksi dengan dialek dan budaya yang berbeda. Konsistensi dalam kehadiran digital ini akan perlahan-lahan menghapus rasa asing dan membangun kedekatan emosional dengan saudara-saudara sejiwa di belahan bumi lain.

Selanjutnya, peningkatan literasi organisasi menjadi sangat krusial. Sering kali, anggota merasa kurang percaya diri karena mereka tidak sepenuhnya memahami struktur dan mekanisme kerja organisasi di tingkat internasional. Dengan mempelajari laporan-laporan dari lembaga-lembaga (wing bodies) internasional seperti Susila Dharma International Association (SDIA) untuk bidang sosial, Subud International Cultural Association (SICA) untuk bidang budaya, Subud Education Association (SEA) untuk pendidikan, atau Subud Enterprise Services (SES) untuk enterprise, anggota akan mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai apa yang sedang terjadi di dunia luar. Pengetahuan ini memberikan basis yang kuat saat melakukan percakapan. Ketika seseorang berbicara berdasarkan data dan pemahaman konteks yang jelas, rasa rendah diri akan terkikis karena fokus perhatian beralih dari kekurangan pribadi menuju substansi permasalahan yang sedang dibahas.

Langkah strategis lainnya adalah melalui pengembangan kemitraan proyek antarnegara. Anggota di Indonesia yang memiliki keahlian di bidang tertentu, baik itu dalam manajemen, seni, pendidikan, maupun kewirausahaan, dapat menawarkan kolaborasi dengan anggota dari negara lain. Misalnya, seorang pengusaha di Indonesia bisa berdiskusi dengan sesama anggota Subud di Eropa mengenai peluang kerja sama yang saling menguntungkan. Kolaborasi berbasis proyek ini menciptakan hubungan yang setara dan profesional. Dalam proses kerja sama tersebut, interaksi yang intens akan terjadi secara alami, yang pada gilirannya akan meningkatkan kemampuan adaptasi lintas budaya. Pengalaman sukses dalam proyek kecil akan menjadi batu loncatan yang efektif untuk mengambil peran yang lebih besar di kemudian hari.

Pendidikan dan pelatihan bahasa tetap merupakan hal yang penting, namun harus didekati dengan motivasi yang benar. Belajar bahasa asing bukan bertujuan untuk meniru identitas bangsa lain, melainkan sebagai jembatan untuk menyampaikan pesan spiritual dan kemanusiaan yang universal. Organisasi di tingkat nasional dapat memfasilitasi kursus bahasa atau lokakarya komunikasi internasional yang dikhususkan bagi anggota yang memiliki minat untuk melayani di tingkat global. Dengan adanya dukungan kolektif dari sesama anggota di dalam negeri, individu akan merasa lebih berani untuk melangkah keluar dari zona nyaman mereka. Dukungan moral dari komunitas lokal sangat berperan dalam memvalidasi bahwa keberangkatan seseorang ke ranah internasional adalah representasi dari kemajuan bersama.

Selain itu, penting bagi anggota Indonesia untuk aktif mendokumentasikan dan membagikan pengalaman kejiwaan serta kegiatan sosial mereka dalam format yang dapat diakses oleh masyarakat internasional. Penulisan artikel, pembuatan video pendek, atau pengelolaan blog dalam bahasa Inggris mengenai perkembangan Subud di daerah-daerah di Indonesia dapat menarik perhatian anggota global. Sering kali, dunia luar merasa penasaran dengan bagaimana Subud dipraktikkan di tanah kelahirannya. Dengan menjadi narator bagi diri sendiri, kita tidak lagi hanya menjadi objek pengamatan, tetapi menjadi subjek yang aktif membentuk opini dan berbagi inspirasi. Inisiatif seperti ini akan menempatkan anggota Indonesia sebagai mitra dialog yang inspiratif bagi dunia.

Kehadiran fisik dalam acara-acara besar seperti Kongres Dunia atau pertemuan tingkat zona juga harus diupayakan secara terencana. Meskipun membutuhkan biaya yang tidak sedikit, manfaat dari pertemuan tatap muka tidak dapat digantikan oleh teknologi apa pun. Interaksi langsung melalui makan bersama, berbincang santai di sela-sela acara, dan mengikuti Latihan Kejiwaan bersama akan meruntuhkan tembok-tembok prasangka yang mungkin selama ini terbangun di dalam pikiran. Anggota akan menyadari bahwa saudara-saudara dari luar negeri juga memiliki tantangan, pergumulan, dan keraguan yang sama. Kesadaran akan kemanusiaan yang setara ini adalah obat mujarab bagi penyakit inferiority complex. Setiap anggota Indonesia yang pulang dari acara internasional biasanya akan membawa energi baru dan perspektif yang lebih segar untuk dibagikan kepada anggota lain di tanah air.

Mentalitas sebagai pemberi, bukan hanya penerima, juga perlu ditanamkan. Dalam hubungan internasional, sering ada kecenderungan untuk memposisikan Indonesia sebagai pihak yang membutuhkan bantuan atau bimbingan. Kita harus mulai mengubah posisi tersebut dengan menawarkan kontribusi nyata. Indonesia memiliki banyak sekali kearifan lokal dan pengalaman dalam menjaga keharmonisan dalam keberagaman yang sangat relevan dengan situasi dunia saat ini yang penuh konflik. Dengan memposisikan diri sebagai pihak yang memiliki sesuatu untuk disumbangkan bagi kemajuan Subud dunia, martabat kita sebagai bangsa akan terjaga. Hal ini sejalan dengan teladan Bapak yang selalu menekankan pentingnya berdiri di atas kaki sendiri dan berkarya secara nyata di masyarakat.

Penting juga untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas nasional tanpa harus menjadi chauvinistik. Mengenalkan budaya Indonesia, mulai dari cara berpakaian yang sopan namun elegan hingga kuliner yang kaya rasa saat berinteraksi dengan anggota luar negeri, adalah bentuk diplomasi budaya yang halus. Ketika kita menghargai identitas kita sendiri, orang lain pun akan belajar untuk menghargai kita. Rasa bangga yang sehat ini akan menjadi perisai yang kuat terhadap serangan rasa rendah diri. Anggota Subud Indonesia harus menyadari bahwa mereka adalah duta dari sebuah bangsa yang besar dengan sejarah peradaban yang tua dan mulia.

Pada akhirnya, perluasan eksposur internasional adalah sebuah proses transformasi jiwa yang sejalan dengan tujuan dari Latihan Kejiwaan itu sendiri. Latihan Kejiwaan mengajarkan kita untuk mengelola segala nafsu dan daya rendah, termasuk rasa takut dan rasa rendah diri yang menghambat potensi kemanusiaan kita. Jika setiap anggota benar-benar berserah diri kepada kekuasaan Tuhan, maka identitas kebangsaan tidak akan menjadi beban, melainkan menjadi warna-warni yang memperindah kebun persaudaraan dunia. Dengan mengikuti jejak langkah Bapak yang rendah hati namun berwibawa, anggota Subud Indonesia dapat melangkah ke panggung dunia dengan kepala tegak, siap untuk belajar, bekerja sama, dan memberikan kontribusi terbaik bagi kemanusiaan universal. Transformasi ini bukan hanya akan menguntungkan individu yang bersangkutan, tetapi juga akan memperkuat posisi Subud Indonesia sebagai pilar utama dalam perkembangan Subud di masa depan.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 20 April 2026

Wednesday, April 8, 2026

Sukun Berkejiwaan

TADI malam, saya mau Latihan di Wisma Barata Pamulang, tetapi Nuansa melarang saya pergi. Terutama karena hari ini saya harus pergi lagi untuk meeting dengan calon investor di Serpong. Saya membujuk putri saya yang berumur sembilan tahun itu, salah satunya dengan janji bahwa saya akan membawakan suguhan yang biasanya tersedia bagi anggota Subud yang datang Latihan di Wisma Barata.

Saya asal sebut saja bahwa saya akan bawakan sukun buat dia. Yang terlintas di pikiran saya adalah gorengan, tetapi mulut saya berucap “sukun kukus”. Akhirnya, Nuansa membolehkan saya pergi—bukan karena janji saya akan membawakan kue tapi daripada hari Minggu saya pergi ke Wisma Subud Cilandak sebagai gantinya.

Yang membuat saya kaget ketika tiba di Wisma Barata adalah bahwa suguhannya memang sukun kukus yang ditaburi kelapa parut. “Yang spontan itulah yang dari jiwa,” kata Bapak, bukan yang terpikirkan, apalagi pikiran yang terisi nafsu belaka.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 9 April 2026

Monday, April 6, 2026

Jejak Langkah di Rumah Kenangan

 


RUMAH itu masih berdiri kokoh di sebuah ruas jalan yang menyimpan sejarah panjang keluarga kami. Ayah saya, seorang perwira menengah TNI Angkatan Darat, mulai menempati rumah papan sederhana tersebut pada tahun 1963. Saat itu, kawasan ini masih dikenal sebagai Kompleks Perumahan Angkatan Darat Jaya—merujuk pada nama Komando Daerah Militer Jayakarta. Seiring berjalannya waktu, wilayah ini lebih populer disebut Pondok Jaya, sebuah permukiman militer yang berbatasan langsung dengan Kompleks Kepolisian RI, Pondok Karya, di sisi utara.

Secara administratif, Kompleks Pondok Jaya terletak di Kelurahan Pela Mampang, Jakarta Selatan. Kawasan strategis ini dulunya merupakan area penyangga pemukiman yang kemudian berkembang menjadi hunian padat. Sayangnya, kepadatan tersebut sempat membuat Pondok Jaya identik dengan banjir; genangan air kiriman sering kali mencapai ketinggian 60 hingga 150 sentimeter. Wajah kawasan ini baru bersolek ketika Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Melalui kebijakan betonisasi jalan setebal 30 cm, risiko banjir yang menghantui selama puluhan tahun akhirnya berhasil ditekan secara signifikan.

Pondok Jaya adalah saksi bisu pertumbuhan saya. Kecuali masa empat tahun saat saya bermukim di Belanda, seluruh masa kecil saya habiskan di sini. Saya memulai langkah pendidikan di TK Jaya Baru (sebelumnya TK Persit Kartika Chandra Kirana) di Jl. Pondok Jaya VIII, lalu berlanjut ke SD Paripurna (kini SDN Pela Mampang 05 Pagi/06 Petang) di Jalan Pondok Jaya VI, hingga menamatkan sekolah menengah pertama di SMP Negeri 141. Hanya saat masa SMA dan kuliah saya akhirnya “merantau” ke luar lingkungan kompleks.

Hingga saat ini, saya masih rutin berkunjung ke rumah peninggalan mendiang Ayah dan Ibu saya. Meski waktu terus bergerak maju, bagi saya, jejak kehidupan dan memori kebahagiaan bersama orang tua serta saudara kandung tetap tertinggal di sana, abadi di antara dinding-dindingnya.©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 7 April 2026

Saturday, April 4, 2026

Merasa Positif vs Berpikir Positif

SAYA barusan ditelpon satu anggota wanita dari Cabang Jakarta Selatan yang telah bermukim di kota lain di Jawa. Dia mau berkonsultasi tentang proses dari Latihan Kejiwaan; ya sudah, saya tampung saja. Saya ingin mengatakan padanya agar menelepon pembantu pelatih wanita saja atau anggota lain yang lebih senior daripada saya, dan berjenis kelamin wanita. Tetapi rasa diri saya mencegah saya untuk berkata begitu, dan sebaliknya menyuruh saya untuk mendengarkan dengan sabar, tawakal dan ikhlas.

Dalam gathering-per-telepon tersebut, terungkap melalui ucapan anggota itu, yang menginspirasi saya—meski saya pernah menerima pemahaman tersebut sebelumnya: “Saya nggak percaya dengan positive thinking atau negative thinking, Mas Arifin. Saya cenderung mengikuti positive atau negative feeling saya.”

Saya merespons dia, “Iyalah! Subud kan pakai feeling, alih-alih thinking. Kalau kita melihat orang dengan mengandalkan akal pikir saja, yang terlihat adalah yang lahiriah saja. Di tataran Rasa, yang terlihat belum tentu benar. Seseorang bisa saja kelihatan jahat, dari penampilan, perbuatan atau ucapan, tapi belum tentu ‘isi’ dirinya jahat.”

“Wah, benaarr kalau begitu perasaan saya tadi sebelum menelpon Mas,” kata si anggota. “Kalau mengandalkan akal pikir, seharusnya saya curhat ke PP wanita. Tapi nyatanya rasa saya mengarahkan saya ke Mas Arifin, yang PP bukan, wanita juga bukan.”©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 5 April 2026

Bangsa yang (Tidak Lagi) Bercerita

SEBAGAI konsultan branding, saya rajin mengamati perkembangan-perkembangan terbaru di industri komunikasi pemasaran, korporat dan keberlanjutan. Tren terkini dalam branding adalah penceritaan (storytelling). Penceritaan sebagai strategi branding bukan sesuatu yang baru sebenarnya. John Simmons dalam bukunya, The Invisible Grail: How Brands Can Use Words to Captivate Audiences, yang terbit tahun 2003, sudah mengemukakan hal itu.

Dahulu, Indonesia adalah negeri yang dibangun di atas fondasi narasi yang kokoh. Dari ujung barat hingga timur, setiap jengkal tanah memiliki guratan pada batu prasasti atau lontar atau tuturan lisan yang diwariskan dengan penuh khidmat. Tradisi ini menunjukkan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah pengamat yang tajam sekaligus penyusun strategi kebudayaan yang ulung lewat kata-kata.

Tetapi bangsa Indonesia kontemporer tampaknya kepayahan dalam mengantisipasi tren penceritaan yang merebak di industri komunikasi domestik saat ini. Dengan kemajuan teknologi informasi yang demikian pesat, seharusnya tradisi penceritaan bangsa Indonesia semakin kuat. Nyatanya, tidak!

Meskipun berpengalaman lebih dari 30 tahun di branding, dan keahlian teknis saya adalah copywriting, tetapi kemampuan penceritaan saya justru dibangun dan dibiasakan di Subud. Dan keberadaan saya di Subud belumlah selama karir saya di branding. Baru mencapai 22 tahun pada 11 Maret 2026 lalu.

Saya mencermati, sekian banyak ceramah Bapak sarat cerita pengalaman beliau sendiri maupun parabel-parabel dari kisah perwayangan, karena hal itu memang merupakan cara paling sederhana untuk menyampaikan kedalaman spiritual yang tidak sederhana. Novel The Light of the Inner Self juga merupakan salah satu “strategi” komunikasi Bapak kepada anggota dengan cara yang menghibur. Fiksi yang imajinatif lebih kena ke pikiran pembaca daripada nonfiksi yang akademik.

Selain kisah perwayangan dan karya tulis fiksi—sebagaimana yang digunakan Bapak dalam menjelaskan aspek kejiwaan, Indonesia memiliki kekayaan media komunikasi tradisional yang telah digunakan selama berabad-abad untuk menyampaikan pesan moral, informasi sosial, hingga kritik politik kepada masyarakat. Media-media ini sangat efektif karena bersifat partisipatif—masyarakat tidak hanya menonton, tetapi sering kali terlibat langsung dalam dialog atau merespons pesan yang diberikan.

Dalam ranah spiritualitas yang tidak bersandar pada doktrin, buku teks, atau otoritas guru yang mengajar, tradisi penceritaan bertransformasi menjadi jembatan komunikasi yang sangat vital. Fenomena ini terlihat jelas di Subud, di mana tidak ada ajaran yang perlu dihafal atau pelajaran yang harus dipelajari secara intelektual. Di sini, cerita bukan digunakan untuk mendikte kebenaran, melainkan sebagai wadah untuk berbagi pengalaman murni yang bersifat personal namun universal.

Membumikan Pengalaman

Beberapa waktu lalu, pada hari Minggu pagi saya memarkirkan sepeda motor saya di sebelah selatan Hall Latihan Cilandak. Dari pelataran parkir saya dapat melihat Tatap Muka—sebuah kegiatan yang mempertemukan anggota baru dengan para pembantu pelatih, di mana para pembantu pelatih biasanya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan para anggota baru yang belum sempat tersampaikan ketika mereka melalui masa tunggu tiga bulan mereka. Tatap Muka digelar hanya sekali seminggu, tiap Minggu pagi mulai pukul 10.00 hingga 11.30 waktu Jakarta.

Sambil mengucapkan permisi, saya melewati ajang Tatap Muka itu untuk menuju tempat nongkrong rutin saya di teras timur Hall Latihan Cilandak. Tetapi dua dari tiga pembantu pelatih yang tengah bertugas melayani tanya-jawab dengan para anggota itu serempak memanggil saya, dan mempersilakan saya duduk di antara para pembantu pelatih. Saya bukan pembantu pelatih, tetapi saya didaulat untuk menceritakan pengalaman saya dengan bimbingan Latihan. Menurut para pembantu pelatih itu, saya adalah “gudang cerita pengalaman”. Entah dari mana mereka mendapat informasinya, tetapi saya memang kerap menuliskan pengalaman saya di blog saya—sebuah blog yang tidak saya harapkan untuk dibaca, tetapi nyatanya tidak sedikit orang yang telah mengaksesnya, dan berbuntut dengan mereka akhirnya masuk Subud.

Komunikasi antar anggota Subud sering kali berpusat pada apa yang disebut dengan kesaksian atau penuturan pengalaman pribadi. Karena jalan ini bersifat pengalaman langsung (empiris), maka satu-satunya cara untuk menggambarkan apa yang terjadi di dalam diri adalah melalui narasi. Seorang pembantu pelatih tidak berceramah kepada anggota tentang bagaimana cara mencapai kedamaian; sebaliknya, mereka menceritakan momen ketika kedamaian itu hadir secara tiba-tiba dalam keseharian mereka. Penceritaan ini berfungsi sebagai cermin bagi orang lain, di mana pendengar sering kali menemukan resonansi atau konfirmasi atas pengalaman mereka sendiri tanpa merasa digurui.

Selain itu, tradisi penceritaan di sini berperan sebagai alat untuk membumikan pengalaman spiritual yang abstrak menjadi sesuatu yang manusiawi. Dalam jalan yang menekankan pada perkembangan jiwa secara alami, cerita tentang kegagalan, perjuangan, atau perubahan karakter yang halus menjadi lebih berharga daripada teori-teori filosofis yang muluk. Melalui cerita, para anggota membangun sebuah konsensus kolektif yang longgar tentang bagaimana Latihan Kejiwaan bekerja dalam kehidupan nyata, mulai dari hubungan keluarga hingga pekerjaan profesional.

Bahasa Universal

Fungsi lain dari penceritaan dalam konteks ini adalah sebagai pelindung dari kristalisasi ajaran. Karena cerita bersifat subjektif dan dinamis, ia tidak mudah dibakukan menjadi hukum yang kaku. Sebuah cerita tentang pengalaman seseorang pada hari ini bisa jadi berbeda dengan pengalamannya tahun depan. Hal ini menjaga agar Subud tetap cair dan hidup, sesuai dengan prinsip bahwa pertumbuhan jiwa adalah proses yang berkelanjutan dan unik bagi setiap individu.

Pada akhirnya, penceritaan menjadi bahasa universal yang menyatukan perbedaan latar belakang budaya dan intelektual para anggota Subud. Tanpa adanya pelajaran formal, setiap orang berdiri sejajar sebagai pencerita sekaligus pendengar. Komunikasi ini menciptakan sebuah ruang persaudaraan yang organik, di mana pemahaman tidak datang dari instruksi lisan, melainkan dari getaran makna yang terselip di antara baris-baris kisah hidup yang dibagikan secara jujur dan rendah hati.©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 5 April 2026

Friday, April 3, 2026

Membaca Literatur Sejarah Subud

BERIKUT terjemahan dari email balasan saya kepada Daniela Moneta, Administrator dan Arsiparis Utama WSA Archives, tadi pagi—merespons permintaannya agar saya mewawancarai anggota-anggota lama Indonesia, yang pernah mengalami era ketika Bapak Muhammad Subuh masih ada.


Dear Daniela,

Jika yang dimaksud “masa-masa awal” adalah ketika Subud sebagai organisasi baru diresmikan pada Februari 1947 atau era sebelumnya, tentu akan sulit bagi saya untuk melakukan wawancara. Karena sebagian besar—kalau tidak bisa dikatakan “semuanya”—orang-orangnya sudah meninggal. Paling banter saya bisa mewawancarai mereka yang masuk Subud selama dekade 1960an, itupun hanya orang asing yang telah lama tinggal di Indonesia, seperti Harris Roberts dan Stuart Cooke (saya lebih sering ketemu mereka. Sebulan sekali saya acap bertandang ke rumah Stuart, yang tinggal lebih dari 25 km dari rumah saya). Para anggota Indonesia tampaknya sangat enggan diwawancarai perihal pengalaman Subud mereka—lebih karena rendah hati, tidak merasa bahwa pengalaman itu hebat, tidak setara dengan Bapak (ciri orang Jawa yang secara adat harus “merendahkan diri” di hadapan raja).

Beberapa bulan lalu, saya mendapat permintaan dari Ridwan Lowther untuk copy editing naskah Bahasa Indonesia dari History of Subud Jilid 1 dan 2. Cetakan pertama dari terjemahan Indonesia History of Subud saya terima dari Rashidah Pope yang ia titipkan pada satu anggota Indonesia yang menghadiri Kongres Dunia 2024 di Kalimantan, yang tidak saya hadiri. Saya merasa sangat terbantukan dalam hal pemahaman saya mengenai berbagai aspek Subud oleh buku itu—maupun buku-buku memoar anggota lainnya yang pernah saya terjemahkan. Misalnya tentang “daya rendah dan daya tinggi”, yang ternyata bukan sebutan kualitas—sebagaimana yang dipahami banyak pembantu pelatih generasi masa kini—melainkan istilah dari Bapak untuk membedakan daya-daya yang ada bumi dan daya-daya yang ada di “langit”. Dan tentang “testing”, yang ternyata bermakna “merasakan diri sendiri terhadap segala jenis karakter orang dan kejadian-kejadian” yang merupakan hal yang lumrah dalam kehidupan orang Jawa tradisional.

Selain membaca ceramah, saya paling suka membaca buku-buku sejarah Subud, terutama karena saya—yang dibuka tahun 2000an awal—mendapat pengertian yang komprehensif bagaimana Subud yang azali, yang belum terdistorsi oleh “penjelasan-penjelasan menyimpang” dan “praktik-praktik mengada-ada” dari para pembantu pelatih terkini, yang jangankan membaca ceramah, mengenal Bapak saja tidak, karena mereka dibuka di zaman ketika Bapak sudah tidak ada. Saya kerap bertemu anggota-anggota baru di Cabang Jakarta Selatan khususnya, yang sepertinya “terputus” dari Subud yang Bapak visikan. Setiap kali Latihan bersama di Cilandak, yang kini diikuti oleh banyak anggota baru, saya merasakan “sentuhan yang mengganggu perasaan saya”, yang kemudian saya konfirmasikan ke Harris Roberts, yang ternyata juga merasakan hal yang sama.

Agar tidak menjadi fitnah, saya kemudian akan bertanya-jawab dengan beberapa anggota baru, dan menemukan fakta bahwa mereka ternyata tidak mengerti bagaimana melakukan Latihan. Hal itu disebabkan tidak memadainya penjelasan pembantu pelatih ketika mereka melalui masa tunggu tiga bulan mereka, serta mendapatkan pendampingan dari pembantu pelatih yang bahkan belum bisa menginsafi Latihannya sendiri.

Stuart Cooke pernah berkata ke saya, “Siapa yang bisa menjelaskan Latihan Kejiwaan selain Bapak? Kamu bisa? Saya? Tidak ada, Arifin. Hanya Bapak yang bisa! Maka satu-satunya cara saat ini adalah rajin membaca ceramah di samping tekun Latihan!”

Itu memotivasi saya untuk terus membaca ceramah, literatur sejarah Subud, dan, jika memungkinkan, menggali lebih dalam melalui obrolan saya dengan para pembantu pelatih atau anggota yang pernah mengalami masa ketika Bapak masih ada.©2026


Salam,

Arifin


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 4 April 2026

Tuesday, March 31, 2026

Semesta Mendukung Bubur Ayam

 


KEMARIN malam, saya berkata ke istri kalau saya kangen makan bubur ayam ala Warkop Kuningan 24 Jam yang menyediakan bubur ayam khas Cirebon (menggunakan kuah kaldu ayam yang kental). Sudah setahun lebih saya tidak makan bubur ayam. Jawaban istri: “Jangan jajan melulu, hemat doong. Makan yang ada di rumah!”

Tadi pagi, ketika mau berangkat ke halalbihalal dengan rekan-rekan pendiri Yayasan Indonesia Berkibar Lestari di Darmin Kopi, Jl. Duren Tiga Raya No. 7E, Jakarta Selatan, lagi-lagi saya berkata ke istri bahwa saya ingin makan bubur ayam. Malah tidak direspons olehnya. Begitu saya cek grup WhatsApp SERASI (Sejarah Itu Asik), satu pendiri posting: “Yang datang pagi di Darmin, gue beliin bubur ayam Sukabumi. Siapa yang mau?”

“Yang datang pagi, ada yang mau dibungkusin bubur ayam Sukabumi Tebet, nggak? Ada dua pilihan: biasa dan spesial (pakai kuning telor).”

Saya menjawab: “Mauuuu! Nggak pakai kacang yaa! Spesial.”

Saya melihat bahwa di atas saya sudah ada yang menjawab “mau”. Terbayang oleh saya acara makan bubur ayam bersama di Darmin Kopi.

Saya dan Dino sampai duluan di Darmin Kopi, sekitar jam 09.30. Teman yang mau membelikan bubur ayam menyusul kira-kira setengah jam kemudian... dan hanya menenteng SATU bungkus bubur ayam Sukabumi (ciri khasnya adalah pakai kuning telur mentah dipendam bubur panas). “Lhoo, kok cuma bawa satu? Buat siapa?” tanya saya.

 


Teman saya menjawab bahwa itu bubur ayam buat saya, karena respons saya di grup SERASI yang terbaca oleh dia, sedangkan respons dari yang lain baru masuk setelah dia meninggalkan rumah makan Bubur Ayam Sukabumi di Jl. Tebet Barat. Mestakung—semesta mendukung.©2026


Darmin Kopi, Jl. Duren Tiga Raya No. 7E, Jakarta Selatan, 1 April 2026

Thursday, March 26, 2026

Masuk Subud Tertuntun Makanan

SAYA pagi ini membagi cerita yang lucu tapi nyata—pengalaman saya ketika mengenal Subud pertama kali dan dua tahun pertama saya sejak dibuka—kepada satu saudari Subud dari Semarang, Jawa Tengah. Ia rupanya meneruskan cerita yang saya bagi lewat WhatsApp itu ke grup WhatsApp Subud Semarang, sehingga satu anggota menghubungi saya lewat jalur pribadi, menanyakan kebenaran cerita tersebut. Saya tertawa membaca reaksinya dalam pesan WhatsAppnya.

Memang banyak yang mengira saya bercanda tiap kali saya menceritakan bahwa awal mula saya mengenal Subud adalah karena minat saya yang begitu besar terhadap makanan lezat. Bila saja rekan kerja saya yang seorang pembantu pelatih di Subud Cabang Surabaya tidak mengumpan saya dengan cerita bahwa di Subud banyak makanan enak, saya mungkin tidak pernah tertuntun ke Subud.

Ketika saya baru satu tahun di Subud, saya ikut serta dalam kunjungan Pembantu Pelatih Nasional (PPN) Pria Komisariat Wilayah VI (Jawa Timur, Bali dan Sulawesi), yang kebetulan berdomisili di Surabaya, ke rumah seorang anggota baru di Kabupaten Kediri di Jawa Timur, sekitar 125 km dari Surabaya. Anggota yang sudah berusia lanjut itu tergolong anggota terisolasi karena Cabang Kediri sudah bubar dan pembantu pelatihnya pindah ke kota lain, tetapi si anggota pria itu sangat bersemangat dengan Subud hingga ia membangun tempat Latihan di sebelah rumahnya. Istri dan ipar-iparnya pun akhirnya juga masuk Subud.

Menyambut PPN dan rombongan dari Surabaya, si anggota telah menyiapkan sambutan yang istimewa, tak ubahnya pesta pernikahan. Ia menghidangkan banyak sekali makanan enak dan buah-buahan, kopi dan teh free flow. Setelah Latihan bersama, kami mengadakan sarasehan disambi menikmati makanan dan minuman yang berlimpah. Seorang pembantu pelatih sepuh dari Surabaya berbisik ke saya, “Subud ya seperti ini... Subud itu LSM!”

Saya sempat kaget mendengar perkataan beliau bahwa Subud itu LSM. Secara umum di Indonesia, LSM adalah padanan dari NGO (non-governmental organization) dalam bahasa Inggris, yang kepanjangannya adalah “lembaga swadaya masyarakat”. Tetapi, rupanya LSM yang dimaksud si pembantu pelatih sepuh tersebut adalah singkatan dari Latihan, Sarasehan (gathering), dan Makan. Setelah beberapa tahun di Subud, saya setuju dengan beliau: Ke cabang, ranting atau kelompok manapun di Indonesia saya berkunjung, makanan enak selalu ada di depan mata. ©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 27 Maret 2026

Tuesday, March 24, 2026

Dialektika Bahasa dan Narasi Jenama

 


DI tengah rimba komunikasi digital yang bising, banyak jenama (brand) terjebak dalam teknis algoritma namun melupakan satu elemen fundamental: kemanusiaan. John Simmons, melalui karyanya yang provokatif, The Invisible Grail: How Brands Can Use Words to Engage with Audiences, mengajak kita melakukan dekonstruksi terhadap cara kita memandang bahasa dalam dunia bisnis. Simmons tidak menawarkan formula pemasaran yang kaku, melainkan sebuah tesis bahwa kata-kata adalah instrumen utama untuk menemukan kembali “cawan suci” yang hilang dalam identitas sebuah organisasi—yakni kejujuran dan koneksi emosional.

Simmons berargumen bahwa bahasa korporat yang kering, penuh jargon, dan impersonal justru menjadi penghalang utama antara jenama dan audiensnya. Ia menekankan pentingnya kreativitas sastrawi yang diaplikasikan ke dalam strategi komunikasi. Baginya, sebuah jenama bukan sekadar logo atau palet warna, melainkan kumpulan cerita yang diceritakan secara konsisten. Buku ini mengupas bagaimana kekuatan narasi mampu mengubah persepsi konsumen dari sekadar pembeli menjadi pengikut setia yang merasa memiliki keterikatan batin dengan nilai yang diusung oleh perusahaan.

Kekuatan utama dari tinjauan Simmons terletak pada pendekatannya yang humanis. Ia meyakini bahwa setiap orang dalam organisasi, dari level eksekutif hingga operasional, memiliki peran sebagai pencerita. Dengan menggunakan gaya penulisan yang elegan namun praktis, Simmons memberikan kerangka kerja bagi siapa pun yang ingin mengasah kepekaan linguistik mereka.

Bagi saya, membaca buku ini adalah sebuah perjalanan intelektual untuk menyadari bahwa di balik setiap transaksi sukses, selalu ada kata-kata yang mampu menyentuh sisi terdalam dari kemanusiaan kita. Ini adalah bacaan esensial bagi para komunikator yang percaya bahwa bahasa adalah fondasi dari setiap bentuk kepercayaan.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 25 Maret 2026

Monday, March 23, 2026

Membedah Anatomi Kepemimpinan Montgomery

 


BUKU memoar panglima perang pertama yang saya baca, ketika saya masih kelas 1 Sekolah Menengah Pertama, adalah tentang Marsekal Mandala (Field Marshal) Bernard Law Montgomery. Saya langsung merasakan kekaguman pada sosok jenderal Inggris ini, terinspirasi oleh apa yang saya baca dalam memoar itu. Buku berjudul The Memoirs of Field Marshal Montgomery itu terjepit di antara koleksi buku nonfiksi dan fiksi milik ayah dan ibu saya—saya mewarisi kesukaan membaca dari orang tua saya, puji Tuhan.

Di belantara literatur biografi militer, hanya sedikit karya yang mampu memicu perdebatan sehebat memoar Montgomery ini. Buku bersampul klasik keluaran Signet ini bukan sekadar catatan harian seorang serdadu, melainkan sebuah manifesto strategi yang dibalut dengan rasa percaya diri yang nyaris absolut. Montgomery, sang “Pahlawan El Alamein”, tidak menulis buku ini untuk meminta maaf atau bersikap rendah hati; ia menulisnya untuk memaku posisinya dalam sejarah sebagai arsitek kemenangan Sekutu yang paling presisi.

Montgomery membedah setiap kemenangannya dengan ketajaman seorang ahli bedah. Dari padang pasir Afrika Utara hingga pendaratan di Normandia, ia menekankan satu tesis utama: kemenangan adalah hasil dari perencanaan logistik yang rigid dan moril pasukan yang tak tergoyahkan. Bagi pembaca yang mencari analisis mendalam tentang bagaimana sebuah organisasi raksasa digerakkan di bawah tekanan maut, bab-bab mengenai persiapan Operasi Overlord adalah tambang emas informasi. Ia secara terbuka mengkritik koleganya, termasuk Dwight D. Eisenhower, dengan kejujuran yang provokatif, menciptakan sebuah narasi yang menantang hegemoni historiografi populer Amerika.

Namun, di balik detail teknis mengenai divisi dan pergerakan tank, esensi sejati dari buku ini terletak pada psikologi kepemimpinan. Montgomery menunjukkan bahwa seorang pemimpin besar harus memiliki keberanian untuk menjadi tidak populer demi efektivitas komando. Ia tidak peduli dengan sentimen; ia hanya peduli pada hasil. Membaca memoar ini di era modern memberikan perspektif unik mengenai manajemen krisis dan pengambilan keputusan strategis yang melampaui batas-batas kemiliteran. Ini adalah studi kasus tentang bagaimana sebuah visi tunggal dapat mengubah jalannya sejarah, meskipun harus dibayar dengan gesekan ego di meja perundingan.

Meskipun buku ini sering dianggap sebagai upaya glorifikasi diri, saya menemukan bahwa kejujuran Montgomery tentang “kemenangan dan kekeliruan” (triumphs and blunders) memberikan ruang bagi refleksi kritis. Ia tidak menyembunyikan kontroversi, ia justru menempatkannya di depan agar publik bisa melihat logika di baliknya. Bagi saya, karya ini tetap menjadi referensi krusial yang menolak untuk dilupakan, memaksa kita untuk kembali bertanya: sejauh mana seorang individu dapat menentukan nasib sebuah peradaban?©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 24 Maret 2025

Melayani Penyandang Tunarungu

TADI malam, saya mendapat pesan WhatsApp dari seorang pembantu pelatih wanita di grup Subud Amsterdam, Belanda, yang menanyakan tentang bagaimana melayani kandidat yang tunarungu, apakah ada ceramah/petunjuk Bapak mengenai hal itu atau ada pengalaman saya terkait hal itu. Saya baru menjawab pagi ini, karena semalam saya sudah sangat mengantuk.

Berikut jawaban saya—aslinya dalam bahasa Belanda:

Saya belum pernah membaca ceramah Bapak mengenai penerangan kepada kandidat dengan disabilitas pendengaran, tetapi saya mempunyai pengalaman pribadi dengan seorang tunarungu. Dia bukan kandidat dan bukan pula anggota Subud, melainkan putri dari rekan kerja saya yang saat itu (2005) diajak ibunya ke kantor dan diperkenalkan ke saya. (Saat itu, kantor saya beralamat di Jl. Raya Tenggilis, Surabaya.)

Si gadis yang saat itu berumur 22 tahun sedang mengalami gejala yang di Subud disebut “krisis”. Ibunya kebingungan; dia sudah membawa putrinya ke banyak psikolog, psikiater, ustaz dan dukun, tetapi mereka semua tidak berhasil mengatasi masalahnya. Saya mengobrol saja berdua dengan si putri, di ruang rapat kantor. Terungkap bahwa si gadis mengalami hal-hal gaib: Dia tiba-tiba dapat melihat makhluk halus dan telinga tulinya dapat “mendengar” azan. Dengan sabar dan mengandalkan Latihan saya yang sedang kuat-kuatnya (saya baru satu tahun di Subud saat itu), saya berdialog dengan putri dari rekan kerja saya itu. Karena saya tidak paham bahasa isyarat, perbincangan kami berlangsung melalui tulisan saya di secarik kertas berselang seling dengan ucapan pelan-pelan yang dapat dipahami si gadis dengan membaca bibir saya.

Saya tidak menjelaskan Subud saat itu, melainkan tentang gejala-gejala spiritual universal. Yang disukai si gadis adalah sikap ramah saya terhadapnya—tidak menghakimi dia sebagaimana yang dilakukan ibunya, saudara-saudara kandungnya dan banyak orang lainnya. Saya minta dia menenangkan dirinya dan menikmati keadaan dirinya, lalu saya tinggal dia sendirian di ruang rapat itu, karena saya harus menyelesaikan pekerjaan saya. Beberapa belas menit kemudian, saya kembali ke ruang rapat dan menjumpai si gadis tunarungu itu sedang menari dengan mata terpejam. Saya panik, karena menganggap bahwa saya telah tidak sengaja membuka dia, tetapi saya biarkan dia terus menari karena dia tampaknya bahagia—dan saya merasakan ruangan itu menjadi “terang dan ringan”.

Saya kemudian menelepon pembantu pelatih yang membuka saya—Pak Yanto Luwiharjo, dan saya ceritakan apa yang terjadi. Beliau menyarankan agar saya jangan panik, malah sebaliknya tenang dan tenteram, duduk menenangkan diri dan memohon kepada Tuhan agar si gadis dapat dihentikan aksi menarinya atau “Latihan tak disengaja” itu. Beliau juga memastikan bahwa saya tidak membukanya, melainkan bahwa si gadis hanya mengalami “sentuhan Latihan” saya.

Bertahun-tahun kemudian, saya memahami bahwa terhadap semua jenis kandidat, “normal” atau “berkebutuhan khusus”, hanya diperlukan keadaan diri si pembantu pelatih selalu dalam keadaan sabar, tawakal dan ikhlas serta berani ketika melayani. Karena dalam hal itu, adalah kekuasaan Tuhan yang bekerja—tidak dibutuhkan campur tangan manusia.©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 24 Maret 2026

Sunday, March 22, 2026

Pendekatan Seorang Sarjana Sejarah Terhadap Copywriting

SEORANG managing director dari sebuah butik kreatif tempat saya bekerja sebagai freelance copywriter dulu, menyampaikan kekagumannya pada cara bekerja saya. Menurut dia, saya bukan tipe copywriter yang hanya patuh pada brief, melainkan saya akan melakukan pendalaman materi terkait jenama (brand) yang akan dikomunikasikan.

Barangkali latar belakang akademik saya sebagai lulusan Jurusan Sejarah yang berperan dalam hal itu. Sejarawan itu, sesuai yang pernah saya alami berkali-kali, adalah ibarat detektif dan pengembara, yang tidak berhenti pada penemuan fakta pertama. Ia akan terus menggali dan menggali lebih dalam hingga ke inti. Karena seringkali bahkan pemilik jenama tidak mengetahui detail dari penciptaan produk/jasa yang ia tawarkan ke pasar.

Saya bukan tipe copywriter yang semata mengolah kata-kata menjadi komunikasi jualan. Bagi saya, copywriter itu tugasnya bukan “menulis naskah”, melainkan menemukan ide. Kadang, output idenya bukan merupakan jalinan kalimat yang cerewet tentang produk yang ditawarkan, melainkan hanya visual yang begitu kuat konsepnya sampai tidak perlu “berkata-kata” lagi.

Menurut sang managing director pula, sekarang ini sudah sangat langka copywriter yang mau meluangkan waktu untuk melakukan pendalaman atau meneliti lebih jauh. Para copywriter Gen Z cukup puas dengan apa yang tampak di permukaan, sehingga dewasa ini banyak jenama kehilangan spirit kompetisi, menjadi produk yang puas di zona nyaman meski kenyataannya ia terkungkung dalam perangkap paritas.

Mungkin sekarang jenama-jenama memang tidak mau lagi bermain di luar ajang paritas—yang penting bagi mereka jualannya laris manis, meski tak seorang konsumen pun ingat nama jenamanya. Barangkali itu yang menyebabkan pemilik jenama, pemasar atau produsen tidak mau menggunakan jasa copywriter berpengalaman lebih dari tiga dekade seperti saya.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 23 Maret 2026

Friday, March 20, 2026

Perasaan Historis

SELAMA 22 tahun di Subud, saya telah beberapa kali mendadak mengalami ketertarikan pada lawan jenis atau kebencian pada seseorang yang sulit saya lawan, walaupun alasan di balik perasaan itu tidak jelas. Tetapi, perasaan itu berlangsung tidak lama—kadang bahkan hanya satu-dua hari. Beberapa pembantu pelatih senior menyarankan agar saya menerima kenyataan itu dengan sabar dan ikhlas, serta menikmati momen itu sambil merasakan perasaan-perasaan itu mengalir melalui diri saya, hingga berlalu selamanya.

Getaran halus itu sulit didefinisikan oleh nalar. Ia datang bukan sebagai pikiran, melainkan sebagai sebuah “perasaan historis” yang menyelinap masuk ke dalam ruang kesadaran tanpa diundang. Kadang saya sedang duduk tenang atau sedang melakukan sesuatu, lalu tiba-tiba dada saya sesak oleh kerinduan pada tempat yang belum pernah atau pernah saya kunjungi atau orang yang pernah saya kenal di masa lalu saya, atau dirundung kesedihan atas peristiwa yang tidak pernah saya alami dalam masa hidup saya yang sekarang.

Gejala kejiwaan ini sering kali terasa asing dan membingungkan karena ia tidak memiliki akar pada memori logis. Tetapi, bagi mereka yang akrab dengan perjalanan spiritual, fenomena ini rupanya dipahami sebagai lapisan ingatan yang jauh lebih dalam daripada sekadar ingatan biologis. Dalam proses Latihan yang saya lalui, tabir yang membatasi masa kini dengan masa lalu perlahan menipis. Di sanalah, jejak-jejak rasa milik para leluhur atau sisa-sisa getaran dari pengalaman diri di masa yang amat lampau muncul kembali ke permukaan. Ia adalah resonansi spiritual yang membuktikan bahwa jiwa manusia membawa beban dan warisan yang melintasi batas waktu.

Perasaan ini sering kali hadir hanya dalam sekejap, seperti kilatan cahaya di tengah badai yang kemudian menghilang begitu saja. Meski singkat, dampaknya mampu mengubah cara pandang saya terhadap identitas diri saya. Ia bukan sekadar nostalgia, melainkan proses pembersihan atau penyelarasan batin di mana hal-hal yang belum tuntas di masa lalu—baik itu kegigihan, penderitaan, maupun cinta yang tak terucap—diberi ruang untuk dirasakan sekali lagi agar ia bisa dilepaskan dengan ikhlas.

Memahami perasaan historis ini memang menuntut kepasrahan. Beberapa pembantu pelatih menyarankan saya agar tidak perlu memaksakan logika untuk mencari tahu dari mana asalnya atau mengapa ia muncul saat ini. Cukup dengan menyadari bahwa setiap getaran rasa yang muncul adalah bagian dari perjalanan besar menuju kemurnian diri. Pada akhirnya, perasaan-perasaan misterius itu adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan akar spiritual yang tak kasatmata, mengingatkan bahwa kita adalah kelanjutan dari sebuah bentangan sejarah yang panjang dan bermakna.

Secara teoritis, jiwa manusia tidaklah kosong saat dilahirkan; ia adalah sebuah bejana yang sudah terisi oleh endapan emosi dari generasi sebelumnya. Setiap pengalaman batin yang sangat kuat dari para leluhur—baik itu kebahagiaan yang meluap, ketakutan saat masa peperangan, atau kepasrahan seorang ibu—meninggalkan jejak getaran yang menetap dalam “memori batin” keluarga. Ketika kita berada dalam kondisi batin yang tenang dan terbuka, frekuensi rasa dari masa lalu ini bisa beresonansi kembali. Ia seperti lagu lama yang tiba-tiba terdengar dari radio tetangga; kita tidak sedang memutarnya, tapi iramanya membuat jantung kita berdegup kencang karena keakraban yang tak terjelaskan.

Fenomena ini bekerja seperti aliran sungai bawah tanah. Di permukaan, kita melihat diri kita sebagai individu modern yang mandiri, namun di kedalaman, kita terhubung pada arus emosi kolektif keluarga yang sudah mengalir berabad-abad. Perasaan historis yang muncul secara tiba-tiba itu sejatinya adalah momen di mana arus bawah tanah tersebut merembes naik ke permukaan kesadaran. Hal ini menjelaskan mengapa seseorang bisa merasa sangat “mengenali” sebuah penderitaan atau kejayaan tertentu, seolah-olah sel-sel dalam tubuhnya memiliki ingatan sendiri tentang apa yang pernah diperjuangkan oleh orang-orang sebelum dia.

Kehadiran perasaan ini dalam jangka waktu singkat bukanlah sebuah gangguan batin, melainkan sebuah proses penyelarasan. Jiwa sedang berusaha mengenali akar-akarnya agar tidak tercerabut oleh arus masa kini yang serba cepat. Dengan merasakan kembali sisa-sisa emosi leluhur tersebut, kita sebenarnya sedang melakukan dialog sunyi dengan sejarah kita sendiri. Itu adalah cara alam semesta mengingatkan bahwa keberadaan kita saat ini adalah hasil dari ribuan doa, air mata, dan tawa yang telah membeku menjadi kristal-kristal rasa di dalam sanubari, menunggu momen yang tepat untuk mencair dan menyatu dengan kesadaran kita.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 21 Maret 2026

Mengapa Penceritaan Adalah Strategi Penjenamaan Masa Kini

SEJAK tahun 2012, saya memperhatikan adanya pergeseran besar dalam cara organisasi dan individu melakukan branding. Arahnya kini menuju ke penceritaan (storytelling) yang menciptakan komunikasi dua arah yang tulus, membuat konsumen dan pemangku kepentingan merasakan koneksi nyata dengan sebuah jenama.

Saya melihat hal ini secara langsung dalam proyek-proyek branding yang saya kerjakan. Bagi banyak klien korporat saya, pergeseran ini terjadi melalui cara mereka mengomunikasikan inisiatif CSR mereka. Salah satu klien saya—produsen semen—menemukan melalui riset pasar bahwa penjualan mereka lebih didorong oleh cerita humanis tentang dampak sosial dan lingkungan mereka (yang dibagikan melalui buku dan video) dibandingkan oleh iklan tradisional.

Di era di mana konsumen dibombardir oleh ribuan iklan setiap hari, jenama (brand) yang bertahan bukanlah mereka yang memiliki pengeras suara paling keras, melainkan mereka yang memiliki narasi paling memikat. Penjenamaan (branding) modern telah bergeser dari sekadar mencantumkan fitur dan manfaat menuju penyusunan alasan “Mengapa” (Why) yang beresonansi. Evolusi ini menandai transisi dari perdagangan transaksional menuju koneksi emosional. Ketika sebuah jenama menceritakan sebuah kisah, ia berhenti menjadi korporasi tanpa wajah dan mulai menjadi karakter dalam perjalanan hidup pelanggan itu sendiri.

Jenama-jenama paling sukses yang menggunakan storytelling memahami satu kebenaran mendasar: pelanggan adalah pahlawannya, bukan jenama tersebut. Jika Anda melihat raksasa perlengkapan luar ruang seperti Patagonia, mereka tidak hanya menjual jaket tahan air; mereka menceritakan sebuah epik luas tentang pelestarian lingkungan dan jiwa petualang yang tangguh. Jenama tersebut berperan sebagai mentor atau “alat ajaib” yang membantu sang pahlawan—yaitu pelanggan—mengatasi tantangan di alam liar. Dengan memposisikan diri seperti ini, mereka menciptakan identitas bersama. Orang-orang membeli Patagonia bukan karena mereka butuh jaket; mereka membelinya karena ingin menjadi tipe orang yang peduli terhadap planet ini.

Konsistensi adalah benang merah yang menyatukan narasi-narasi ini. Sebuah cerita akan hancur jika protagonisnya mengubah kepribadian setiap sepuluh menit, dan hal yang sama berlaku untuk penjenamaan. Setiap titik kontak (touchpoint), mulai dari estetika minimalis sebuah situs web hingga nada bicara spesifik dalam surel layanan pelanggan, bertindak sebagai kalimat dalam sebuah buku besar. Kohesi naratif ini membangun rasa aman secara psikologis dan kepercayaan. Ketika tindakan sebuah merek selaras dengan cerita yang disampaikan—seperti jenama “berkelanjutan” yang benar-benar menggunakan kemasan daur ulang—cerita tersebut berpindah dari fiksi menjadi kenyataan, memperkuat loyalitas yang tidak akan pernah bisa ditiru oleh diskon apa pun.

Pada akhirnya, storytelling memanusiakan pengalaman digital. Secara biologis, kita dirancang untuk mengingat cerita jauh lebih baik daripada mengingat statistik atau harga. Jenama yang mampu mengartikulasikan asal-usulnya, perjuangannya, dan visinya untuk masa depan mengajak konsumen untuk berpartisipasi dalam sesuatu yang lebih besar dari sekadar pembelian biasa. Hal ini mengubah seorang pembeli menjadi seorang penganut (believer). Di pasar tahun 2026 yang begitu padat, jenama yang menang adalah mereka yang menyadari bahwa mereka tidak sekadar menjual produk; mereka sedang menulis bab-bab dalam kehidupan komunitas mereka.©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 21 Maret 2026

Wednesday, March 18, 2026

Awal Perjalanan Suci

MENYAMBUT hari terakhir bulan puasa Ramadan 1447 H./2026, saya melakukan sahur sendirian, karena istri sedang letih. Bagaimanapun, saya tidak kesepian. Dada saya serasa sesak penuh ilham, saya bahkan mendengar batin saya dipenuhi gaung suara “Allah, Allah, Allah”. Saya merasa harus menuangkan semua ini melalui kata-kata, meski saya tahu bahasa tak dapat melampaui rasa. Yang tertuang bukanlah prosa, melainkan puisi yang menangkap vibrasi alam semesta—paling tidak, begitulah yang saya rasakan.


Fajar Fitri

Ini bukanlah penghujung, melainkan fajar keberangkatan

Langkah mula bagi jiwa yang lahir dalam pembaruan

Kemenangan bukanlah garis akhir yang diam

Namun titik awal bagi pribadi yang tak lagi kelam

 

Di penghujung bulan penuh limpahan rahmat

Bakti pada Ilahi terpatri dalam khidmat

Sabar, tawakal, dan ikhlas senantiasa memayungi

Menuntun langkah suci menyambut hari yang fitri

 

Gema takbir melangit, menggetarkan jagat raya

Sujud tersungkur di bawah naungan tenteram-Mu yang kaya

Meleburkan diri dalam syahdu temaram malam

Membasuh jiwa dari segala dendam yang terpendam

 

Mari rendahkan hati, ulurkan tangan penuh ketulusan

Saling memberi dan memeluk maaf dalam keikhlasan

Biarkan khilaf dan sengketa terbang dibawa angin

Menuju hari baru yang bersih, sejuk, dan dingin...

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 19 Maret 2026

Monday, March 16, 2026

Tanggung Jawab Kejiwaan

SEMALAM, likuran malam ke-27 Ramadan, saya ke Wisma Subud untuk buka puasa bersama. Seperti likuran-likuran pada 10, 12 dan 14 Maret, rangkaian acaranya terdiri dari buka puasa bersama, mendengarkan rekaman audio ceramah Bapak atau Ibu Rahayu, dan Latihan bersama. Tadi malam, saya tidak menghadiri pemutaran ceramah di dalam Hall, melainkan duduk di luar Hall bersama Pak Harris Roberts, seorang pembantu pelatih Cabang Jakarta Selatan.

Volume suara rekaman dinaikkan sehingga dari luar Hall suara Ibu Rahayu yang lemah lembut dapat terdengar jelas sekali.

Di luar Hall, duduk di teras sisi timur Hall saya mengobrol dengan Pak Harris tentang ulang tahun ke-98 Ibu, 13 Maret lalu, bahwa Ibu sudah sangat tua dan lemah, dan agak pikun. Pak Harris berkata bahwa di kondisi seperti Ibu itu seseorang biasanya sudah tidak ingat hidupnya di dunia, dan seperti berada di dua alam.

Ibu Rahayu di rumah Wisma Bharata Pamulang, 13 Maret 2026 saat memperingati ulang tahun ke-98.

Teras sisi timur Hall Latihan Cilandak pada 16 Maret 2026, kurang lebih setengah jam sebelum waktu berbuka puasa di Jakarta.

“Tapi mengapa tidak segera meninggalkan dunia ini ya?” tanya saya dan Pak Harris hampir bersamaan. Dan kami agak kaget lantas terdiam karena, seolah menjawab pertanyaan kami, bersamaan dengan itu suara Ibu di rekaman ceramah itu terdengar berkata, “...karena menjadi tanggung jawab saya secara kejiwaan...”©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 17 Maret 2026

Friday, March 13, 2026

Pendidikan Mandiri

TERKENAL di kalangan para pencari spiritual di Indonesia ekspresi bahwa “berserah diri” merupakan “pendidikan tingkat universitas”. Saya ingat suatu insiden di tahun 2006, ketika petugas satuan pengamanan (Satpam) di kantor saya menyampaikan ke guru tarekatnya bahwa ia ingin belajar berserah diri, setelah ia tak sengaja menguping obrolan saya dengan manajer SDM saat merokok di luar bangunan kantor. Si manajer SDM, seperti saya, juga anggota Subud.

Ia pun nimbrung dengan kami dan bercerita bahwa ia pengikut sebuah tarekat tradisional yang menggunakan jenjang-jenjang ilmu hikmah dalam pengajarannya. Ia menceritakan salah satu pengalamannya dengan ilmu mimpi yang diajarkan gurunya. Dengan ilmu itu, ia bisa memimpikan siapa saja yang dia kehendaki, terutama untuk mengetahui apa yang dipikirkan atau apa yang menjadi niat-niat dari orang yang ia mimpikan terhadap diri si Satpam. “Semua orang di kantor ini pernah saya mimpikan, kecuali tiga orang tidak bisa saya tembus,” tutur si Satpam, seorang pria muda usia 20an. Dia blak-blakan menyampaikan ke saya dan si Manajer SDM bahwa ketiga orang itu adalah saya, si Manajer SDM dan salah satu General Manager yang juga anggota Subud. “Saya terhalang kabut putih yang tebal setiap kali saya berusaha memimpikan kalian,” katanya. “Mengapa begitu ya, Pak?”

Alih-alih menjawab pertanyaan dia, saya persilakan dia datang ke pertemuan pembantu pelatih dan anggota Subud pada hari Jumat malam. Sebuah kelompok Latihan kecil telah diadakan di kantor saya sejak sepuluh karyawannya masuk Subud—bermula dari saya dan si General Manager yang kala itu baru kurang dari tiga tahun di Subud. Di pertemuan itu, saya perkenalkan si Satpam dengan dua pembantu pelatih pria—Pak Mulyono Hardjopramono dan Mas Achmad Asad Luthfie, yang salah satunya juga pernah berguru di tarekat sebelum ia masuk Subud. Kedua pembantu pelatih menjelaskan perihal berserah diri.

Si Satpam menyatakan akan minta izin kepada gurunya dulu sebelum memutuskan untuk masuk Subud. Beberapa waktu kemudian, ia menemui si Manajer SDM untuk menyampaikan bahwa gurunya melarang dia ikut Subud, dengan alasan yang menurut saya lucu: “Jangan! Berserah diri itu ilmunya profesor universitas. Kamu masih SD!”

Meskipun alasan itu terkesan menggelikan, menurut saya Subud memang layaknya lembaga pendidikan setingkat perguruan tinggi. Saat pertama kali menjadi mahasiswa perguruan tinggi, saya mengalami kejutan budaya yang sangat dahsyat, lantaran kehidupan mahasiswa universitas sangat berbeda dengan kehidupan siswa sekolah menengah atas (SMA). Di SMA, saya masih didampingi orang tua dan guru yang penuh perhatian dalam mengasuh saya, agar saya tidak “salah jalan”. Ada berbagai aturan dan petunjuk harus saya terapkan agar bisa naik kelas atau lulus, dan segala perkataan dan perbuatan saya dimonitor oleh guru-guru bekerja sama dengan orang tua. Tentu saja, saya merasa nyaman dengan adanya “teman seperjalanan”, yaitu guru dan orang tua saya.

Di universitas, model pengajarannya bersifat mandiri. Mahasiswa harus merencanakan sendiri semua kerangka pendidikannya, apakah mau ambil jalur cepat lulus, lambat lulusnya, atau mau melanjutkan ke strata berikutnya setelah meraih Sarjana. Semua menjadi tanggung jawab individu mahasiswa; dosen hanya memberi paket pengajaran dan sekadar pengantar. Persis di Subud—atau di semua jalan spiritual di level hakikat, dimana tidak ada ajaran, pelajaran, dan guru, membuat kita senantiasa harus waspada tiap saat. Salah sedikit bisa terperosok atau bahkan celaka. Di saat lelah, putus asa atau berduka, satu-satunya tempat sandaran kita bukan orang tua atau guru, tetapi diri kita sendiri yang bersedia berserah diri.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 14 Maret 2026

Apakah Perang Dunia III Sudah Terjadi?

JIKA kita dengar kata PERANG DUNIA, yang terbayang biasanya pasukan besar yang saling serang antar benua dan aliansi militer yang saling berhadapan. Kita menganggapnya sebagai titik balik yang mengubah tatanan dunia secara total.

Tapi masalahnya, Perang Dunia itu tidak selalu soal tank dan rudal. Ini juga soal perang urat saraf, perang dagang global, perang melawan terorisme, bioterorisme, bahkan soal bagaimana pandemi dipolitisasi untuk kepentingan dominasi militer di wilayah-wilayah strategis.

​Salah Kaprah Kita

Ketika Rusia menginvasi Ukraina 24 Februari 2022 lalu, semua orang heboh dan bilang, “Perang Dunia III bakal pecah!” Reaksi yang sama muncul lagi waktu Amerika Serikat-Israel menyerang Iran. Kebanyakan orang membayangkan Perang Dunia itu cuma peristiwa sesekali yang isinya adu senjata canggih antara dua kekuatan besar.

​Sudut Pandang yang Lebih Luas

Padahal, definisinya jauh lebih luas dari itu. Kita bisa bilang kalau Perang Dingin itu termasuk perang dunia. Begitu juga Perang Iran-Irak, Perang Teluk, Perang Falkland, sampai Perang di Afghanistan. Kenapa? Karena dampaknya terasa secara global—mengubah geopolitik, mengacak-acak ekonomi, hingga mengubah budaya kita selamanya.

Seperti kata Albert Einstein yang terkenal:

“Aku tidak tahu senjata apa yang akan digunakan dalam Perang Dunia III, tapi Perang Dunia IV akan dilakukan dengan tongkat dan batu.”©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 13 Maret 2026

Sekepal Nasi dan Sayur Bening



DUA hari lalu (11 Maret 2026), timbul diskusi tentang makanan di grup WhatsApp Subud Cabang Sidoarjo, Jawa Timur, gegara saya memposting foto menu buka puasa di Wisma Bharata Pamulang. Satu pembantu pelatih berkomentar: “Yang jelas, setiap ada makanan di acara Subud, khususnya di rumah Bapak dan keluarga beliau itu selalu enak dan terasa berbeda. Karena apa ya? Saya perhatikan demikian: suasananya, makanannya, sampai minumannya lho enak semua!”

Satu anggota membagi cerita berikut: “Dulu, sisa makanannya Ibu Rahayu jadi rebutan. ‘Ngalap berkah’, kata para anggota dan pembantu pelatih wanita. Semoga sekarang sudah berbeda. Kasihan Ibu Rahayu, belum selesai makan para anggota sudah berdesak-desakan di dekat Ibu, [dengan harapan mendapat bagian berkahnya].”

Saya menanggapi cerita tersebut dengan candaan: “Ibu makannya sekepal nasi dan sayur bening, aku sih ogah rebutan untuk dapat menu seperti itu.”

Makan sekepal nasi dengan sayur bening bukan sekadar urusan mengisi perut, melainkan sebuah simbol budaya dan spiritual yang mendalam, terutama dalam tradisi masyarakat Jawa. Praktik ini sering disebut sebagai bagian dari ritual prihatin atau laku tirakat. Dalam konteks ini, prihatin bukan berarti sedih atau menderita karena miskin. Prihatin adalah sebuah pilihan sadar untuk menahan diri dari kesenangan duniawi.

Dengan membatasi porsi (sekepal) dan rasa (sayur bening yang biasanya hanya berbumbu kunci, kencur, dan garam), seseorang sedang melatih ego agar tidak diperbudak oleh lidah dan keinginan yang berlebihan. Ini adalah pengingat bahwa manusia sebenarnya hanya butuh sedikit energi untuk bertahan hidup dan beribadah. Memilih untuk makan sederhana di tengah kelimpahan adalah cara seseorang menjaga jarak agar tidak “mabuk” oleh dunia.

Melanjutkan obrolan di grup WhatsApp itu, saya menyampaikan bahwa selain sebagai bentuk keprihatinan, kemungkinan Ibu Rahayu makan hanya sekepal nasi dan sayur bening adalah karena usia beliau juga sudah lanjut, yang berarti harus benar-benar mengatur pola makan demi kesehatan. 13 Maret 2026 ini, Ibu merayakan ulang tahun ke-98. Semoga selalu terjaga kesehatan Ibu, lahir dan batin. Aamiin.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 13 Maret 2026