Monday, August 25, 2008

Berguru Spiritual


“Dengarkan perasaanmu. Dengarkan Pikiran Termuliamu. Dengarkan pengalamanmu. Kapan saja salah satu darinya berbeda dari apa yang telah kamu dengar dari gurumu, atau baca di bukumu, lupakan kata-katanya. Kata-kata adalah sumber kebenaran yang paling tidak dapat diandalkan.”

—‘Jawaban Tuhan kepada’ Neale Donald Walsch, Conversations with God—Menyibak Kebenaran Hidup bersama Tuhan (Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer-Kelompok Gramedia, 2008: 13)


Saya kerap menghadapi sebuah FAQ (frequently asked question, pertanyaan yang sering diajukan) dari orang-orang yang mengetahui bahwa saya bergiat di Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan Susila Budhi Dharma (PPK Subud) seperti berikut: “Apakah untuk berspiritual mesti ikut Subud?”

Saya selalu menjawab, “Tidak, tidak mesti. Anda bisa bermeditasi wawasan (bhavana vipissana) atau Zen, mengamalkan tasawuf, mempraktikkan Metode Kuan Yin-nya Suma Ching-Hai, sembahyang sesuai ajaran agama masing-masing, dan lain-lain. Terserah Anda, deh.”

“Lalu, kenapa Mas Anto ikut Subud?” tanya mereka lagi, tak puas. Iya ya, kok saya ikut Subud ya? Terus terang, saya tidak tahu. Sampai saya menyelesaikan masa kandidat di PPK Subud Cabang Surabaya sebanyak 31 kali dan dibuka pada 11 Maret 2004, saya tidak tahu kenapa saya ikut Subud. Yang saya tahu dan sadari adalah bahwa Latihan Kejiwaan Subud memberi saya seabrek manfaat ketika saya menjalani hidup saya – dalam wujud tuntunan yang saya yakini berasal dari Tuhan, ketika saya berpikir dan merasakan, berkata-kata dan berbuat.

Di Subud tidak ada guru, teori, pelajaran maupun ajaran, sehingga istilah ‘berguru spiritual’ tidak berlaku di lingkungan Subud – satu-satunya guru adalah Tuhan. Metode Kuan Yin juga meniadakan hubungan guru-murid, walaupun penganjurnya, Supreme Master (Suma) Ching-Hai, disebut ‘Guru’ oleh para pengikutnya. Hal ini bakal mengernyitkan kening kaum Sufi, sebab bagi mereka, tanpa kehadiran syekh mursyid (guru), maka yang ada ialah setan. Tetapi, apa iya, agar kita dapat berspiritual secara ‘genah’ diperlukan guru, atau ajaran dan pelajaran yang diturunkan dari orang lain?

Frasa ‘berguru spiritual’ saja, bagi saya, sudah janggal, karena spiritualitas sesungguhnya merupakan hak milik/properti setiap manusia, yang eksistensinya tersusun dari unsur lahir dan unsur batin. Tidak seorang atau lembaga pun yang berhak mengklaim sebuah ‘amalan spiritualitas’ sebagai miliknya. Bapak Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo selaku ‘pemimpin kejiwaan Subud’ saja menegaskan bahwa Latihan Kejiwaan bukan ‘hak cipta’ Subud, sebab siapa pun yang bisa berserah diri dengan sabar, ikhlas dan tawakal bisa menerima Latihan Kejiwaan. Pengalaman saya berinteraksi dengan sejumlah orang tua di Jawa Tengah dan Timur yang sepanjang hidupnya melakoni sikap nrimo, pasrah dan berserah diri (sumarah lan sumeleh) tanpa pernah mengikuti jalan spiritual ‘formal’ apa pun mengungkapkan pengalaman idiosinkretik yang mirip-mirip apa yang saya alami melalui Latihan Kejiwaan.

Baru-baru ini, sebuah pengalaman yang benar-benar mengesankan membawa saya kepada kepahaman bahwa untuk berspiritual kita sesungguhnya tidak perlu berguru atau pun bergabung dengan suatu perkumpulan aktivitas/pelatihan spiritual, seperti Subud, tarekat Sufi, Karismatik, Kabbalah, Avatar Course, ESQ Training, dan lain-lain – pada akhirnya, itu semua hanya merek. Pada 16 Juli 2008, saya memenuhi undangan saudara Subud saya untuk menghadiri pertemuan rutin KOSTER (Komunitas Suzuki Thunder) se-Jabodetabek, yang dijadwalkan setiap hari Rabu malam di rumah makan Soto Mi Bogor Endas Sapi “Makk Nyuss” di Jl. Moh. Kafi I, Ciganjur, Jakarta Selatan. Saya bukan anggota KOSTER – dan bahkan tidak memiliki sepeda motor bermerek Suzuki Thunder. Saya diundang tuan rumah untuk memberi sepatah dua patah kata tentang mentalitas wirausaha kepada khalayak KOSTER yang malam itu berkumpul dalam rangka pertemuan rutin sekaligus untuk mencicipi produk baru RM “Makk Nyuss”, yaitu ayam bakar madu.

Saya perhatikan, selama acara berlangsung, bagaimana para anggota menyapa sesamanya dengan sebutan ‘bro’ (untuk laki-laki) dan ‘sis’ (untuk perempuan). Mereka bersalaman dan/atau berpelukan pada awal dan akhir pertemuan. Berbagai strata sosial dan ekonomi (pemilik Suzuki Thunder belum tentu kalangan menengah-atas saja, lho; bisa jadi sepeda motornya dibeli secara kredit; kalau sudah hobi, orang mau melakukan apa saja kan?!) berbaur tanpa hambatan, demikian harmonis. Salah seorang pengurus yang sedari awal menjadi corong malam itu meminta rekan-rekannya untuk menjaga kelakuan mereka, sebab – seperti pepatah “karena setitik nila rusak susu sebelanga” – perilaku buruk satu anggota bisa menimbulkan penilaian negatif dari masyarakat kepada anggota-anggota lainnya. Yang dipesankan malam itu adalah agar para anggota KOSTER tidak melanggar rambu dan marka lalu lintas biarpun tidak ada polisi. Saya pikir, kok senada ya dengan ajaran agama, yaitu bahwa kita harus senantiasa berbuat baik, pada saat terlihat maupun saat tidak terlihat oleh orang lain.

Pula seperti pepatah “alah bisa karena biasa”, kebiasaan positif yang dilakoni oleh para anggota KOSTER seperti tersebut di atas berawal dari pembiasaan diri (bisa juga dibaca: pemaksaan diri) dalam melakukannya. Teorinya, ketika perbuatan sudah menyatupadu dengan diri, maka ia akan mewujud secara spontan, dan bahkan merambat ke mana-mana. Yang tadinya dianggap saudara hanyalah sesama anggota KOSTER, lama-kelamaan anggapan itu bisa diberlakukan bagi siapa pun, termasuk orang yang belum dikenalnya. Yang tadinya hanya suka membantu sesama anggota, lambat-laun bisa pula membantu siapa saja yang perlu dibantu.

Saat itulah saya beroleh kepahaman, bahwa spiritualitas bisa dihidupkan dengan membiasakan (atau memaksakan) diri untuk memberi manfaat bagi orang lain; secara tulus mengorbankan diri demi membahagiakan orang lain akan menganugerahi kebahagiaan batin pula kepada dia yang berkorban. Sejumlah orang yang pernah mengamalkannya mengatakan bahwa hal itu benar adanya.

Kepada corong pertemuan KOSTER malam itu, yang saya ceritakan sedikit tentang Subud, saya sampaikan bahwa komunitas itu sebenarnya juga wujud amalan spiritual, karena komunitas cenderung menjunjung persaudaraan. Tarekat-tarekat Sufi klasik yang berkembang di Turki mensyaratkan ‘persaudaraan’ (brotherhood) sebagai salah satu amalan batiniah tasawuf, di samping berpuasa, khalwat (mengasingkan diri), adab (berperilaku baik), dan pelayanan. Persaudaraan a la Sufi dibangun di atas platform bantuan materi, dukungan personal, penghormatan, pujian dan perhatian, maaf, doa, dan kesetiaan. Hampir semua platform tersebut, di mata saya, tercontohkan pada profil keanggotaan KOSTER.

Kepada corong itu juga saya katakan, “Latihan untuk menghidupkan sisi spiritual kita itu gampang-gampang susah, Mas. Gampang di-omongin, tapi susah dilakukan kalau kita-nya nggak sabar, ikhlas dan tawakal. Misalnya, waktu Mas lagi asyik ber-Suzuki Thunder di jalan raya bannya kena paku. Mas terpaksa nenteng motor Mas yang cukup berat itu ke kios tambal ban. Kalau udah ditambal, Mas pasti langsung melaju lagi, lupa sama paku tadi, dan cuek kalau orang lain pun bakal terkena akibatnya. Jarang di antara kita neh yang mau meluangkan waktu untuk menyingkirkan paku itu, agar pengendara lainnya – yang bisa jadi seorang brother KOSTER – tidak kena getahnya. Kalau Mas siap berkorban untuk itu dengan perasaan sabar, ikhlas dan tawakal, saya yakin Mas akan memperoleh pengalaman spiritual yang nggak terlupakan. Percuma juga Anda ikut Subud atau jalan spiritual lainnya, kalau Anda tidak bisa memberi manfaat bagi orang lain.” Si corong KOSTER itu mengangguk-angguk, setuju.

Di sejumlah perkumpulan spiritual serta keagamaan acap muncul ekspresi mengenai apa yang bisa dilakukan anggota untuk perkumpulannya. Lha, kok aneh?! Kepada seorang saudara Subud yang resah karena merasa belum berbuat sesuatu untuk Subud dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya, saya kirimkan SMS yang berbunyi, “Jangan tanyakan apa yang bisa Anda lakukan untuk Subud, tapi tanyakan (pada diri sendiri) apa yang bisa Subud lakukan untuk masyarakat luas.” Menurut saya, bila sebuah organisasi lahir dan tumbuh di tengah masyarakat, tetapi tidak bisa memberi kontribusi yang bermakna bagi masyarakat di mana organisasi itu hidup sebaiknya organisasi itu diakhiri saja eksistensinya. Saya kira, semua organisasi bisa tumbuh besar justru berkat dukungan moril masyarakat-bukan- anggota. Pada tataran organisasi bisnis, saluran kontribusi untuk pengembangan masyarakat sudah tersedia melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility, CSR). Masak organisasi spiritual yang konon sudah mendapat tuntunan Tuhan untuk berbuat kebajikan harus diperlakukan sama dengan perusahaan-perusaha an yang dalam penerapan CSR-nya mesti dituntun oleh aturan perundang-undangan? !

“Sebaik-baik manusia adalah yang dapat memberi manfaat bagi orang lain,” kata seorang bijak yang hidup pada masa para nabi. Itulah latihan spiritual yang tidak memerlukan guru, pelajaran atau ajaran, dan organisasi/perkumpu lan – yang dewasa ini justru banyak dikomersilkan. Itulah ESQ Training sejati yang, berbeda dengan ESQ Training dari Ary Ginanjar, tidak perlu kita membayar jutaan rupiah agar dapat mengikutinya. Dalam hidup, pengalaman berbuat untuk kemaslahatan publik adalah guru yang paling baik.©

Mampang Prapatan-Jakarta Selatan, 2 Agustus 2008, pk. 2.38-4.35 WIB



5 comments:

Anonymous said...

mas Anto, KEREEENN ... berani nampol diri sendiri sekaligus nyentil orang lain

Priyono15 said...

Mantap.......

Unknown said...

πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™ salam rahayu

Puguh wijanarko said...

�������������� Gusti

Puguh wijanarko said...

πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™ Gusti