Pada
25 Maret 2025, saya menerima email dari Harris Smart, Pemimpin Redaksi majalah Subud Voice, yang menandai di Facebook
mengenai adanya acara Ramadan Pemuda Subud Indonesia di Pendopo Wisma
Indonesia, Wisma Subud Cilandak, pada 23 Maret 2025. Sesuatu yang lucu, karena
saya sendiri tidak hadir di acara tersebut, dan pada saat saya menerima email
tersebut, saya baru bertekad tidak akan berurusan dengan Subud Youth Indonesia
selama dikoordinatori Koordinator SYI 2025-2027 karena ia membawa masalah
pribadi ke ranah jabatannya tersebut. Sebagai solusi, saya membuat artikel ini
(versi terjemahannya), tanpa menyebut nama si Koordinator, dan menjadikan Ketua
SICA Indonesia sebagai narasumber, karena ia juga hadir di acara tersebut.
JIWA tidak mengenal usia. Orang muda bisa saja memiliki jiwa tua, begitu pula sebaliknya. Namun, khususnya di abad ke-21, asosiasi pemuda Subud semakin dibutuhkan untuk menjembatani generasi terdahulu dengan generasi sekarang. Saya teringat salah seorang rekan kerja saya di sebuah biro iklan beberapa tahun lalu, seorang desainer grafis yang kala itu masih berstatus mahasiswa sebuah perguruan tinggi desain di Jakarta. Sebagai seorang pemuda berusia dua puluhan tahun, ia sangat menyadari bahwa kebutuhan fisik dan spiritualnya sangat berbeda dengan mereka yang jauh lebih tua darinya. Ketika ia akhirnya dibuka di Subud, ia juga pilih-pilih tempat untuk melakukan Latihan rutinnya. Ia tidak mau melakukan Latihan di Cilandak, yang katanya penuh dengan orang-orang tua. Ia sering mengunjungi S. Widjojo Centre di Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta, untuk Latihan terjadwalnya, karena di sana banyak anggota yang seusia dengannya.
Wajah Pemuda Subud Generasi Z bisa dibilang sudah sangat berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Pada generasi-generasi sebelumnya, saat teknologi komunikasi belum semaju sekarang, kekompakan antar-anggota Subud Youth Indonesia (SYI) sangat kuat. Mereka mempelopori berbagai penyelenggaraan acara Subud, termasuk perayaan hari ulang tahun Bapak, secara terkoordinasi dengan baik namun spontan, sehingga pengurus cabang, wilayah, maupun nasional tidak perlu membentuk panitia pelaksana khusus untuk itu. “Kami dipertemukan oleh bimbingan Latihan,” tutur seorang anggota di Jakarta Selatan yang tergabung dalam kelompok mantan Pemuda Subud yang menamakan diri mereka “Youth Jadul”. “Jadul” merupakan singkatan dari “Jaman Dulu”, bahasa gaul yang dipopulerkan oleh kaum Millenial Indonesia.
Di masa keemasan Gen Z, yang mempersatukan warga SYI adalah kegiatan-kegiatan fisik ala Pramuka, seperti perkemahan, pendakian gunung, dan juga workshop peningkatan kapasitas diri. Kegiatan-kegiatan tersebut sering kali dikritik oleh generasi tua karena dianggap tidak mencerminkan Subud. Sedangkan media penyebaran informasi yang paling dekat dengan gaya hidup mereka adalah grup WhatsApp dan Instagram.
Sebagai generasi yang tumbuh pascareformasi politik 1998 di Indonesia dan bagian dari apa yang disebut sebagai digital native, Gen Z tentunya memiliki sikap dan perilaku yang berbeda dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya. Hal ini sangat kental terwakili oleh anggota SYI saat ini. Sebagian besar Pemuda Subud saat ini bukanlah anak-anak anggota Subud, dan sebagian dari mereka masuk Subud sebagai “korban kehidupan modern yang makin sarat dengan pengaruh daya kebendaan”. Mereka sebagian besar berasal dari keluarga berada, kelas menengah ke atas, berpendidikan universitas, memiliki pekerjaan yang relatif stabil di berbagai badan usaha milik negara atau perusahaan swasta terkemuka, dan menikmati masa mudanya dengan berlibur ke luar negeri bersama teman-temannya. Secara fisik mereka stabil, tetapi tidak demikian dengan mental dan spiritual.
Salah satu Pemuda Subud Gen Z yang dibuka pada tahun 2020, membenarkan pandangan saya bahwa banyak anak muda yang bergabung dengan Subud selama dan setelah pandemi memiliki masalah kesehatan mental. Gangguan kecemasan akibat putus cinta, kecanduan narkoba, keterikatan berlebihan pada gawai, konflik pribadi, dan ketidakmampuan mental untuk mengantisipasi tantangan zaman menjadi latar belakang perjalanan mereka menemukan Subud.
Karena generasi tertua di antara mereka memasuki usia dewasa muda di tengah pasar kerja pascapandemi, bahkan Gen Z di Subud Indonesia membutuhkan bimbingan dan dukungan dari para senior mereka. Generasi yang lebih muda juga masih bergantung pada keluarga, guru, atau figur yang lebih tua untuk membimbing mereka menjalani hidup. Di tengah banyaknya stereotip negatif seputar Gen Z, sebuah realitas yang juga ada di Subud, faktanya mereka adalah individu dengan perjuangan dan harapan pribadi mereka sendiri.
Saya baru-baru ini berbincang dengan dua Pemuda Subud Gen Z dari Jakarta Selatan di Pamulang, dan terungkap bahwa mereka telah mengalami banyak hal dengan Latihan, meskipun mereka tidak memahami apakah pengalaman mereka merupakan manifestasi dari Latihan yang mereka lakukan dua kali seminggu atau tidak. Mereka berharap agar pengurus dan dewan pembantu pelatih menyediakan lebih banyak ruang untuk gathering pemuda, di mana mereka dapat mengekspresikan diri dan merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Salah satu kegiatan tersebut adalah acara Ramadan SYI pada tanggal 23 Maret 2025. Meskipun agenda utamanya adalah “buka puasa bersama”, acara ini terbuka untuk seluruh anggota SYI, tanpa memandang agama dan tidak terbatas pada Pemuda Subud Jakarta, baik yang berpuasa maupun yang tidak berpuasa. Menurut Elias David, Ketua SICA Indonesia, yang juga merupakan Pemuda Subud Gen Z karena usianya yang belum genap 25 tahun, yang turut hadir dalam acara Ramadan SYI, makna penting dari acara ini adalah untuk menjalin silaturahmi, mempererat tali silaturahmi antar anggota muda Subud di seluruh Indonesia, tidak hanya di Jakarta.
“Kepercayaan dan tradisi budaya sangat penting bagi rasa identitas, penyembuhan, dan rasa memiliki kaum muda. Kemampuan untuk menjalankan praktik keagamaan mereka di tempat yang mendukung dapat memberikan kenyamanan dan keterhubungan,” imbuh Elias saat membalas pesan WhatsApp saya terkait acara tersebut.
Ramadan adalah waktu untuk merenung, meningkatkan iman, dan berkumpuk, dan SYI telah berupaya keras untuk memastikan bahwa anggota muda Subud Indonesia merasa diperhatikan dan didukung. Dua Pemuda Jakarta Selatan yang menghadiri perayaan Ramadan SYI tersebut berbagi bahwa mereka disambut dengan kehangatan, pengertian, dan sumber daya yang memungkinkan mereka merayakan Ramadan dengan cara yang bermakna.
Menciptakan
ruang yang inklusif dan meneguhkan iman bagi kaum muda merupakan inti dari apa
yang dilakukan Subud Indonesia saat ini. Setiap anggota muda berhak untuk
merasa betah, terutama pada saat-saat yang memiliki makna budaya dan spiritual.©2025
Pondok Cabe,
Tangerang Selatan, 27 Maret 2025