TADI malam, dalam perjalanan bermotor ke Wisma Barata Pamulang, untuk kegiatan rutin Latihan Kejiwaan di Subud Ranting Pamulang, saya melewati sebuah Pos Keamanan Lingkungan (Poskamling) berukuran kecil. Sontak, ingatan saya terlempar ke suatu momen 32 tahun yang lalu.
Saat itu, dalam rangka “menegosiasi pasal-pasal” dengan seorang cewek gebetan saya yang telah melarang saya untuk datang lagi ke rumahnya di Ciputat, saya bersama sahabat saya mengatur strategi. Sahabat saya inilah yang akan menjadi juru runding. Hari itu hari Minggu, bertepatan dengan Hari Valentine, yang juga tanggal ulang tahun gebetan saya. Saya telah mempersiapkan kado buat doi, sebuah pulpen bermerek Sheaffer, yang tergolong mahal. Seluruh uang saku saya selama dua bulan telah saya alokasikan untuk membeli pulpen itu, yang di badannya digravir dengan nama gebetan saya dalam warna keemasan.
Larangannya terhadap saya tidak menyurutkan niat saya untuk memberi pulpen itu sebagai kado buat ulang tahunnya. Setidaknya, saya bisa menunjukkan kepadanya—meskipun saya tidak bisa bertatap muka dengannya—bahwa saya serius mengenai perasaan saya kepadanya. By the way, saya sudah menyatakan cinta saya kepadanya, di suatu malam Minggu di ruang tamu rumah orang tuanya. Jawabannya ke saya saat itu mengambang antara ya dan tidak. Ya karena dia menyukai saya lantaran baginya saya terlalu baik kepadanya, dan tidak karena dia tidak mau melibatkan saya dalam kehidupannya yang cukup pelik saat itu. Dia tidak memerinci apa permasalahan hidupnya.
Pada hari-H, saya dan sahabat saya meluncur ke kompleks perumahan di Ciputat di mana rumah gebetan saya berlokasi. Waktu itu masih pagi, sekitar jam 10. Beberapa hari sebelumnya, sahabat saya sudah menelepon doi untuk membuat janji; dia berbohong bahwa dia akan datang sendirian, tanpa saya, dan gebetan saya juga minta ke sahabat saya agar saya jangan diajak.
Jarak dari jalan raya, di mana kami turun dari angkutan perkotaan, ke kompleks itu cukup jauh, namun karena tidak ada moda transportasi selain becak, saya dan sahabat saya pun berjalan kaki saja. Sampai di jalan di mana rumah gebetan saya beralamat, saya membiarkan sahabat saya meneruskan langkahnya ke rumah doi sementara saya menunggu nasib di sebuah Poskamling yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah doi, di pertigaan.
Hampir dua jam sahabat saya berada di rumah gebetan saya. Ketika dia muncul, dia langsung mengajak saya pulang, dan menolak menceritakan saat itu apa saja yang menjadi subjek pembicaraan dia dengan gebetan saya. Dia hanya menyebutkan bahwa kado saya sudah dia serahkan dan gebetan saya mengucapkan terima kasih.
Tiga hari kemudian, sahabat saya baru membeberkan semuanya,
yang membuat saya patah hati, kecewa, marah, sedih dan tertekan sampai pada
titik saya ingin bunuh diri. Saya membutuhkan kurang lebih tiga bulan untuk
mengatasi kesedihan saya, lebih karena dipaksa oleh kenyataan bahwa saya harus
menyelesaikan skripsi saya tahun itu juga, dengan tenggat waktu akhir Juni.
Berkat perkenalan saya dengan cewek yang kelak menjadi istri saya, pada bulan
Oktober, kesedihan saya tidak berlarut-larut. Pengalaman menyakitkan hati itu
tenggelam di alam oblivion.©2025
Pondok Cabe Ilir,
Pamulang, Tangerang Selatan, 27 November 2025

