Thursday, January 1, 2026

Menggapai Anggota Masa Kini: Tentang Sejarah dan Komunikasi Subud

Email dari Michael Rogge—Pembantu Pelatih Grup Subud Amsterdam, Belanda, tertanggal 21 Mei 2021, berikut ini, membicarakan mengenai bagaimana seharusnya Subud berkomunikasi. Hingga meninggal pada 26 Januari 2024, Rogge merupakan anggota Subud tertua di Zona 3 Eropa. Versi terjemahan Bahasa Indonesianya telah saya bagikan kepada para anggota grup WhatsApp Subud 4G pada 1 Januari 2026.

Halo Arifin,

Terima kasih banyak atas pesan Anda. Aleena sudah bercerita banyak tentang Anda kepada saya. Faktanya, dia mengunjungi saya kemarin dan menyebutkan bahwa saya akan menerima email dari Anda. Dan benar saja: esok harinya pesan itu tiba!

Ya, saya menyambut baik upaya Anda untuk menyediakan lebih banyak sejarah masa lalu Subud bagi para anggota di Indonesia. Bersama ini saya lampirkan kompilasi dari empat artikel pertama saya mengenai pertemuan saya dengan Subud pada tahun 1955 (berjudul Leven Met Subud/Hidup Dengan Subud; sudah saya terjemahkan dari bahasa Belandanya—Arifin).

Ada beberapa literatur Jawa mengenai Subud masa pra-perang yang diterbitkan oleh Universitas Yogyakarta. Silakan lihat: https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/komunitas/article/view/6144 yang mungkin diketahui oleh anggota. Selain itu, karya tulis Asfa Widiyanto: “Ritual and leadership in the Subud Brotherhood and the Tariqua Naqshbandiyya” juga kurang dikenal.

Saya bisa dibilang seorang “pemberontak” di Subud. Saya merasa kesal karena sebagian besar anggota Subud tidak tertarik pada masa lalu Subud dan tempat asalnya: mistisisme Jawa.

Meskipun Subud mengklaim bukan sebagai persaudaraan agama, pada kenyataannya memang demikian. Bapak mengklaim bahwa tidak ada metode dalam Subud, namun sebenarnya ada: sugesti. Sugesti bahwa Latihan dibangkitkan oleh entitas bernama “Tuhan Yang Maha Esa”. Padahal kita hanya tahu bahwa hal itu datang dari dalam diri kita: alam, atau jiwa manusia. Saya sangat meyakini nilai dari Latihan, juga pada Yang Ilahi, namun perlu disajikan dengan cara yang lebih menarik bagi generasi masa kini. Subud memiliki pandangan dunia kuno yang berasal dari masa ketika belum ada pengetahuan tentang hukum-hukum alam. Saya mengusulkan presentasi yang lebih mutakhir.

Namun, saya menyadari bahwa pandangan keagamaan kuno yang eksotis justru lebih memikat. Meski begitu, kita dihadapkan pada arus terus-menerus anggota yang keluar dari Subud. Subud tidak berkembang lagi sejak tahun 1960.

Jadi, saya menyambut baik upaya Anda untuk memberikan lebih banyak informasi kepada anggota di Indonesia. Faktanya, sudah banyak literatur yang diterbitkan, tetapi tidak ada yang menyajikan pandangan modern; hanya apa yang disediakan secara “resmi”. Bapak juga tidak terlalu bersemangat untuk mempublikasikan semua hal dari masa lalu.

Apakah Anda kenal Mansur Medeiros dari Cilandak? Dia cukup berpengetahuan luas dan menemukan, misalnya, buku Bapak yang berjudul Trikanda.

Salam hangat,

Michael Rogge

No comments: