Friday, January 9, 2026

Dari Reuni Menuju Kebangkitan: Lahirnya “Indonesia Berkibar”



PADA 30 November 2025, suasana di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) dipenuhi dengan nostalgia. Di tengah kerumunan alumni, delapan pria—yang dulunya adalah teman tongkrongan kampus, kini telah menjadi profesional berpengalaman—berbagi cerita di bawah rindangnya kanopi kampus Depok. Namun, apa yang bermula sebagai sekadar ajang bernostalgia, dengan cepat berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih ambisius.

Pasca acara reuni tersebut, mereka mengadakan pertemuan lanjutan secara privat. Saat mereka mendiskusikan arah bangsa saat ini, salah satu dari mereka, Pandu Dewa Natha, melontarkan sebuah tantangan: “Mengapa reuni ini harus berakhir di sini? Kita harus membangun sesuatu yang berdampak secara sosial sekaligus berkelanjutan secara finansial.”

Tantangan itulah yang menjadi katalis bagi lahirnya Indonesia Berkibar, sebuah yayasan yang baru didirikan untuk menjadi jembatan antara kekayaan warisan budaya Indonesia dengan aspirasi masa depannya. Yayasan ini secara eksplisit selaras dengan visi Indonesia Emas 2045, yang bertujuan untuk memberdayakan bangsa menjelang perayaan satu abad kemerdekaannya.

Apa yang membuat Indonesia Berkibar berbeda adalah sinergi unik dari latar belakang para pendirinya. Dengan memadukan “sentuhan manusia” khas ilmu humaniora dengan kebutuhan strategis modern, mereka berfokus pada tiga pilar utama:

·       Sejarah: Memanfaatkan analisis sejarah untuk memberikan konteks bagi identitas nasional dan perencanaan kebijakan jangka panjang.

·       Komunikasi: Menyusun narasi yang menjembatani kesenjangan antara tujuan pembangunan yang kompleks dengan pemahaman publik, guna memastikan pertumbuhan yang inklusif.

·       ESG (Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola): Mengintegrasikan kerangka kerja etis dan keberlanjutan ke dalam proyek-proyek korporasi dan pemerintah untuk memastikan kebangkitan Indonesia berlangsung secara bertanggung jawab dan tangguh.

 



Para pendiri— Andi Zulfikar Mapalele (Sejarah FSUI 1986), Dino M. Musida (Sejarah FSUI 1986), Marah Bangun (Sejarah FSUI 1986), Pandu Dewa Natha (Sejarah FSUI 1986), Pandji Kiansantang (Sejarah FSUI 1987), Edwar Mukti Laksana (Sejarah FSUI 1989), Heru Effendy (Sastra Belanda FSUI 1991), dan saya sendiri (Sejarah FSUI 1987)—percaya bahwa agar Indonesia dapat mencapai status “Emas” pada tahun 2045, diperlukan lebih dari sekadar data ekonomi; diperlukan pemahaman mendalam tentang nilai-nilai kemanusiaan dan struktur etika. Melalui konsultasi, program pendidikan, dan kemitraan strategis, Yayasan Indonesia Berkibar mengubah ikatan persahabatan menjadi mesin profesional untuk kemajuan bangsa.©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 9 Januari 2026

No comments: