Saturday, January 3, 2026

Para Kandidat Pasca Milenial

PADA 7 September 2025 lalu, pagi-pagi WhatsApp saya menerima pesan masuk berikut ini: “Selamat pagi. Perkenalkan sebelumnya, saya D, manusia biasa yang resah dan mencari tujuan hidup. Saya dapat nomor kontak Anda dari Facebook. Apa benar ini kontak akun tersebut? Saya mau ikut Latihan Kejiwaan, tapi clueless untuk join komunitas Subud ini lewat mana.”

Saya arahkan dia ke Wisma Subud Cilandak. Kebetulan hari itu hari Minggu, jadwal untuk kandidatan, dan jamnya masih pukul 09.50 ketika pesan itu masuk ke ponsel saya, sedangkan kandidatan dimulai pukul 10.00. Si pengirim tinggal cukup dekat dengan Wisma Subud Cilandak, jadi saya anjurkan agar dia bersegera, karena masih ada waktu untuk mendaftar buat mengawali masa tunggu tiga bulannya.

Beberapa minggu kemudian, saya baru berkesempatan bertemu dengan si pengirim pesan tersebut di Wisma Indonesia, di dalam kompleks Wisma Subud Cilandak. Ternyata seorang pria muda berusia 23 tahun, fresh graduate universitas yang baru merintis karier di sebuah perusahaan otomotif.

Kalau melihat berita-berita perkembangan Subud di sejumlah negara di dunia, optimisme saya luntur dan berganti dengan warna keprihatinan. Bagaimana tidak, bukan saja keanggotaannya merosot jumlahnya tetapi juga tidak adanya regenerasi. Jarang sekali saya melihat wajah-wajah muda dan segar di foto-foto yang terpampang pada berita-berita mengenai acara-acara Subud di berbagai belahan dunia.

Optimisme saya meningkat, seringnya disertai ketakjuban, begitu melongok ke berbagai grup di Indonesia dewasa ini, termasuk di Wisma Subud Cilandak. Di antara para kandidat atau mereka yang baru dibuka sepanjang tahun 2025 lalu, terdapat banyak pria dan wanita dari kalangan Gen Z, berusia antara 18 hingga 25 tahun, dan bukan anak-anak dari anggota Subud.

Saya pun nimbrung dengan mereka (sesekali saya datang ke tempat para kandidat untuk menguping apa yang disampaikan para pembantu pelatih—yang rata-rata sudah uzur—kepada kaum Gen Z; apakah relevan dengan gaya hidup mereka) untuk memuaskan penasaran saya mengenai apa yang mendorong mereka ke Subud. Di daerah-daerah di Indonesia yang masih melestarikan tradisionalitas, pencarian spiritual di kalangan anak mudanya masih cukup kuat, tetapi di kota-kota besar yang menjunjung gaya hidup modern kecenderungan itu dipandang “aneh” atau “ketinggalan zaman”.

 

Dua kandidat anggota Subud Cabang Jakarta Selatan dibuka pada 16 November 2025 lalu. Satu orang berumur 58 tahun (ketiga dari kiri) dan satu orang lagi (keempat dari kiri) berusia 23 tahun alias Gen Z. Di samping kiri dan kanan mereka ada para PP yang membuka mereka.


Tetapi yang saya jumpai di Cilandak, khususnya, adalah kaum Pribumi Digital dengan pergaulan khas kota besar. Dari sejumlah obrolan tidak formal dengan para kandidat dan anggota baru dari kalangan Zoomers, terungkap bahwa keputusan mereka untuk masuk Subud adalah sekadar ketertarikan pribadi, tidak ada dorongan dari orang tua atau anggota keluarga (rata-rata mereka bukan anak dari orang tua Subud dan ada beberapa yang bahkan keaktifan mereka di Subud tidak diketahui orang tua mereka).

Seorang kandidat, berprofesi wartawan sebuah surat kabar besar Indonesia (di divisi digitalnya), berusia 22 tahun, berkata “Ya, tertarik saja”, menjawab pertanyaan saya mengapa dia ingin masuk Subud. Dia menemukan secara tak sengaja informasi tentang Subud di media sosial dan merasa tertarik untuk bergabung.

Bagaimanapun, saya merasa prihatin terhadap kenyataan bahwa para pembantu pelatih di berbagai cabang di Indonesia sedikit sekali melakukan regenerasi serta tidak ter-update dengan perkembangan zaman. Dari para kandidat dan anggota baru dari kalangan Post-Millenials, terungkap keluhan terkait layanan para pembantu pelatih saat mereka melalui masa tunggu mereka, terutama mengenai penjelasan apa itu Subud dan apa manfaat Latihan yang relevan dengan kehidupan mereka. Menurut beberapa anggota baru, termasuk D di awal tulisan ini, penjelasan para pembantu pelatih terlalu outdated, hanya mencuplik dan menparafrase ceramah Bapak tanpa contoh kasus dalam kehidupan masing-masing pembantu pelatih. Ada jurang pemisah yang sangat lebar antara para pembantu pelatih itu dengan para kandidat dan anggota dari kalangan Gen Z.

 

Seorang anak Gen Z (bertopi di kiri) yang baru dibuka sedang mengikuti tatap muka dengan para PP yang sudah uzur di teras selatan Hall Latihan Cilandak. Tatap muka seperti ini digelar hanya setiap hari Minggu pagi.


Karena karakteristik Gen Z pada umumnya terlalu sensitif atau mudah tersinggung, “mudah hancur” atau lembek saat menghadapi tekanan, layaknya buah stroberi—makanya Gen Z juga dikenal sebagai Generasi Stroberi, para pembantu pelatih eksisting perlu memiliki bekal dalam melayani kandidat dari kalangan Gen Z, selain hanya mengandalkan ceramah Bapak atau pengalaman para pembantu pelatih yang tidak relevan dengan kekinian. Perlu juga ganti suasana: Kandidatan dilakukan tidak di lingkungan Wisma atau hall Latihan Subud tetapi di tempat-tempat di mana kaum Gen Z merasa betah, seperti di kafe, kedai kopi, atau di mana saja mereka biasa nongkrong.

Seorang pembantu pelatih asal Amerika Serikat, yang telah cukup lama tinggal di Jakarta, tetapi tidak masuk dewan pembantu pelatih di manapun di Indonesia, telah menerapkan hal ini: Ia mengajak para kandidat Generasi Pragmatis itu, usai jam kandidatan mereka, nongkrong di salah satu kedai kopi di dekat Wisma Subud Cilandak. Si pembantu pelatih, sebagaimana yang ia ceritakan ke saya, tidak banyak bicara melainkan mengutamakan untuk mendengarkan saja celoteh para kandidat atau anggota baru. Ia juga tidak sok menasihati atau menegur jika si kandidat atau anggota baru berkata sesuatu yang salah.

“Inti dari menjadi PP adalah kasih. Dengan kasih yang tulus, kamu bisa melayani siapa saja tanpa hambatan,” kata si pembantu pelatih asal New York, Amerika Serikat, yang menikah dengan wanita Indonesia, itu kepada saya. Dengan pendekatan itu, para kandidat dan anggota baru pun merasa terakomodir segala kebutuhan kejiwaan mereka.

Pada tahun 2025, kisah Gen Z Indonesia—75 juta anak muda yang mencakup hampir 28 persen populasi bangsa—adalah kisah tentang kontras yang mencolok. Mereka adalah mesin penggerak ekonomi digital dan garda terdepan perubahan sosial, namun mereka juga harus menavigasi tekanan ekonomi dan psikologis paling kompleks dalam sejarah negara ini.

Gen Z Indonesia di tahun 2025 adalah generasi “pragmatis yang tangguh”. Mereka menghadapi penyusutan kelas menengah dan pasar kerja yang kompetitif dengan kombinasi kecakapan digital serta penolakan untuk mengorbankan kesejahteraan mental (well-being) mereka. Mereka tidak sekadar menunggu masa depan; mereka sedang membangun versi Indonesia yang lebih fleksibel, autentik, dan sadar.

Di tahun 2025, spiritualitas bagi Gen Z Indonesia tidak lagi didefinisikan hanya oleh kehadiran ritual yang kaku atau label tradisional semata. Sebaliknya, hal itu telah berevolusi menjadi pengalaman yang sangat pribadi, bersifat digital, dan berorientasi pada aktivisme. Meskipun mereka tetap menjadi salah satu populasi pemuda paling religius di dunia, pendekatan mereka terhadap iman telah bergeser dari yang bersifat “berbasis perintah/ajaran” menjadi “berbasis dialog”.

Lanskap spiritual Gen Z Indonesia saat ini ditandai oleh pergeseran dari dogma menuju pengalaman pribadi langsung. Sebagai generasi yang menghadapi tingkat kecemasan dan kelelahan digital (digital burnout) yang tinggi, “kebutuhan spiritual” mereka kurang berfokus pada mempelajari aturan, dan lebih pada menemukan rasa damai serta tujuan hidup yang nyata.

Subud memiliki posisi yang unik untuk memenuhi kebutuhan modern ini karena praktik intinya—Latihan Kejiwaan—mencerminkan banyak nilai yang dijunjung tinggi oleh Gen Z. Subud bukanlah agama, melainkan asosiasi spiritual yang terbuka bagi orang-orang dari semua agama (atau tanpa agama). Fleksibilitas ini membuatnya sangat relevan dengan tren “Spiritual but Not Religious” (SBNR). Subud menarik bagi keinginan Gen Z akan pengalaman yang “tak terencana”. Tidak ada guru yang memberi tahu apa yang harus dipikirkan; pengalamannya sepenuhnya bersifat internal dan unik bagi setiap individu.

Di Subud, tidak ada pendeta atau pemimpin. Pembantu pelatih (helper) hadir hanya untuk memfasilitasi Latihan bersama dan menyaksikan prosesnya. Hal ini selaras dengan ketidakpercayaan Gen Z terhadap kekuasaan terpusat. Subud menawarkan “komunitas yang setara”, yang sejalan dengan sifat demokratis dan budaya digital peer-to-peer khas Gen Z.

Generasi ini mencari “kesuksesan holistik”. Fokus Subud pada Susila (berbudi pekerti yang utama sejalan dengan kehendak Tuhan) membantu mereka menavigasi kompleksitas tekanan sosial dan profesional di tahun 2025 tanpa harus menarik diri dari dunia luar.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 4 Januari 2026

No comments: