BAGI banyak orang, langit yang diselimuti awan mendung tebal adalah pertanda untuk mencari perlindungan, dorongan untuk membuka payung atau bergegas masuk ke dalam ruangan. Tetapi bagi saya, aroma kuat pertama dari petrikor—parfum tanah saat hujan membasahi tanah yang kering—berarti “pulang”. Ketika dunia menarik diri, saya justru melangkah keluar.
Kisah cinta saya dengan hujan dimulai pada siang-siang di masa kecil saya. Saat bel sekolah berbunyi, yang menandakan berakhirnya suatu hari sekolah, sering kali awan mendung pecah tepat saat saya mencapai gerbang sekolah.
Ketika anak-anak lain berkerumun di emperan bangunan yang menyisakan atap atau menunggu orang tua mereka datang menjemput dengan jas hujan atau payung, saya malah membetulkan letak tas saya dan berjalan lurus menembus derasnya hujan. Saya ingat percikan dingin genangan air di kaki saya dan suara ritmis “plak-plok” sepatu saya di atas aspal jalan yang digenangi air hujan. Bagi saya, hujan bukanlah sebuah gangguan; hujan adalah taman bermain. Perjalanan pulang itu adalah arena bermain dengan air terjun mini dan balapan perahu kertas di selokan—masa di mana satu-satunya hal yang penting hanyalah seberapa tinggi percikan air berikutnya.
Kini, sebagai orang dewasa yang menjelajahi segunung tanggung jawab, saya merasa bahwa hujan telah memiliki makna yang lebih dalam. Hujan telah menjadi jangkar paling andal yang menghubungkan saya dengan masa lalu.
Saat badai melanda kota, kebisingan lalu lintas dan tekanan pekerjaan seakan melunak. Memandangi hujan sebagai pria dewasa memberi saya jeda meditatif yang langka. Suara hujan menjadi tombol “reset” bagi stres saya. Setiap tetesnya membawa serpihan diri saya yang lebih muda—anak laki-laki yang tidak khawatir tentang pakaian basah atau terkena flu.
Di tengah guyuran hujan lebat, dunia terasa lebih kecil, lebih tenang, dan jauh lebih mudah dikendalikan. Bagi saya, berada di bawah guyuran hujan adalah sebuah bentuk perjalanan waktu. Itulah satu-satunya tempat di mana “anak kecil yang bebas” dan “orang dewasa yang bertanggung jawab” dapat berada di ruang yang sama. Hal itu mengingatkan saya bahwa seberapa pun hidup berubah, kegembiraan sederhana dari sebuah badai tetaplah sama.
Sementara yang lain menunggu matahari muncul, saya puas dengan hanya berdiri diam dan membiarkan hujan menghanyutkan beban masa kini, menghubungkan saya sekali lagi dengan anak laki-laki yang hanya ingin bermain.©2026
Pondok Cabe Ilir,
Pamulang, Tangerang Selatan, 12 Januari 2025


No comments:
Post a Comment