“Belajarlah sebanyak-banyaknya dari buku-buku, tapi untuk mendapatkan pemahaman sebanyak-banyaknya hanya bisa melalui sabar, tawakal, ikhlas.” (Arifin Dwi Slamet, 30 Januari 2025)
“Rasa yang kita dapat dari penderitaan hidup tergantung sudut pandang kita: Sebagai nikmat Tuhan atau sebagai hukumanNya.” (Arifin Dwi Slamet, 17 Maret 2025)
“Pelajaran yang saya petik dari hidup ini adalah bahwa kita tidak bisa benar-benar konsisten dengan apa-apa yang kita yakini.” (Arifin Dwi Slamet, 22 April 2025)
“Subud is for personal growth. Yet many people don’t want to grow and eventually know the truth. Many quit the Subud Latihan after realizing their inner truth, which is beyond their wishes. You see, we like to control God, and despise the act of surrendering to His Will. ‘Let go, let God’ isn’t the name of the game many so-called modern people know.” (Arifin Dwi Slamet, pesan WhatsApp kepada teman)
“Lebih baik dibenci karena apa adanya, daripada dicintai karena berpura-pura.” (Arifin Dwi Slamet, 21 Mei 2025)
“Orang yang terus menerus baper terhadap satu hal yang memicu kebaperannya sesungguhnya tidak pernah beranjak dari masa lalu. Nikmatnya hidup terletak di Saat Ini.” (Arifin Dwi Slamet, 27 Mei 2025)
“Setiap kali Anda merasa tidak bisa akur dengan seseorang, jangan lantas menyalahkan dia. Kemungkinan paling besar, diri Andalah penghambatnya. Dengan energi ikhlas Anda bisa cocok dengan siapa saja.” (Arifin Dwi Slamet, 2 Juni 2025)
“How can you forget the rules if you don’t know any of them? To know them you have to practise them.” (Arifin Dwi Slamet, 5 Juli 2025)
“Dipuji itu jauh lebih menantang daripada dicaci. Dipuji membuat lupa diri, dicaci bisa menyentuh kesadaran diri. Jangan sampai tersandung karena merasa tersanjung.” (Arifin Dwi Slamet, 7 Juli 2025)
“Menjadi kreatif bukan perkara membuat sesuatu yang baru, melainkan melakukan secara berbeda.” (Arifin Dwi Slamet, 9 Juli 2025)
“Seperti cinta yang tidak selalu bisa dimiliki, tapi selalu indah untuk dirasakan.” (Anonim, 17 Agustus 2025)
“Tidak ada pemahaman yang tuntas. Yang kamu pahami saat ini adalah untuk Saat Ini.” (Arifin Dwi Slamet, 5 September 2025)
“Lompatan yang tinggi membutuhkan daya tolak yang kuat. Jadi, jangan berkecil hati jika saat ini kamu ditolak di sana-sini atau direndahkan, karena itu pertanda kesuksesanmu akan melesat lebih jauh dari posisimu saat ini.” (Arifin Dwi Slamet, 15 September 2025)
“If women are always right and men are always wrong, then when I tell you that you are right does that mean I am wrong?” (Anonim)
“Kalau kamu culas, menjahati orang lain untuk memuaskan egomu, berkata tidak benar tentang orang lain karena kamu malu mengakui yang sebenarnya, maka saya tidak heran kalau kamu mengalami ujian hidup yang berat saat ini. Bukan Tuhan yang sedang mengujimu, tapi kamu sendiri yang menciptakan ujian itu bagi dirimu sendiri. Cobalah kamu menginsafi apa yang pernah kamu perbuat di masa yang belum lama lalu.” (Arifin Dwi Slamet, 6 Oktober 2025, dengan Andrea Ramschie di pikirannya)
“Alasan mengapa kita sulit bahagia adalah karena kita selalu berusaha menemukan alasan untuk bahagia.” (Arifin Dwi Slamet, 7 Oktober 2025)
“Kecantikan itu energi yang terpancar dari diri seseorang, bukan penampakan fisiknya.” (Arifin Dwi Slamet, 12 Oktober 2025)
“If you always put limit on everything you do, physical or anything else. It will spread into your work and into your life. There are no limits. There are only plateaus, and you must not stay there, you must go beyond them.” (Bruce Lee)
“Subud itu
adalah praktik, bukan pelajaran yang
hanya berhenti pada pembahasan lisan atau tulisan. Membahas sabar, tawakal, dan ikhlas
tanpa mengalaminya langsung takkan membawa kita pada pemahaman hakikinya. Dan sabar, tawakal, dan ikhlas itu
merupakan hidayah atau bimbingan dari Yang Maha Kuasa yang tidak ada dasar
teorinya. Untuk mengenal Subud, cukup, dan satu-satunya, hanya dengan melakukan
Latihan Kejiwaan dengan rajin dan tekun.” (Arifin Dwi Slamet, 16 Desember 2025)
©2025
Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 31 Desember
2025
No comments:
Post a Comment