Monday, January 12, 2026

Irama Hujan: Sebuah Kisah Cinta yang Abadi

BAGI banyak orang, langit yang diselimuti awan mendung tebal adalah pertanda untuk mencari perlindungan, dorongan untuk membuka payung atau bergegas masuk ke dalam ruangan. Tetapi bagi saya, aroma kuat pertama dari petrikor—parfum tanah saat hujan membasahi tanah yang kering—berarti “pulang”. Ketika dunia menarik diri, saya justru melangkah keluar.

Kisah cinta saya dengan hujan dimulai pada siang-siang di masa kecil saya. Saat bel sekolah berbunyi, yang menandakan berakhirnya suatu hari sekolah, sering kali awan mendung pecah tepat saat saya mencapai gerbang sekolah.

Ketika anak-anak lain berkerumun di emperan bangunan yang menyisakan atap atau menunggu orang tua mereka datang menjemput dengan jas hujan atau payung, saya malah membetulkan letak tas saya dan berjalan lurus menembus derasnya hujan. Saya ingat percikan dingin genangan air di kaki saya dan suara ritmis “plak-plok” sepatu saya di atas aspal jalan yang digenangi air hujan. Bagi saya, hujan bukanlah sebuah gangguan; hujan adalah taman bermain. Perjalanan pulang itu adalah arena bermain dengan air terjun mini dan balapan perahu kertas di selokan—masa di mana satu-satunya hal yang penting hanyalah seberapa tinggi percikan air berikutnya.

Kini, sebagai orang dewasa yang menjelajahi segunung tanggung jawab, saya merasa bahwa hujan telah memiliki makna yang lebih dalam. Hujan telah menjadi jangkar paling andal yang menghubungkan saya dengan masa lalu.



Saat badai melanda kota, kebisingan lalu lintas dan tekanan pekerjaan seakan melunak. Memandangi hujan sebagai pria dewasa memberi saya jeda meditatif yang langka. Suara hujan menjadi tombol “reset” bagi stres saya. Setiap tetesnya membawa serpihan diri saya yang lebih muda—anak laki-laki yang tidak khawatir tentang pakaian basah atau terkena flu.

Di tengah guyuran hujan lebat, dunia terasa lebih kecil, lebih tenang, dan jauh lebih mudah dikendalikan. Bagi saya, berada di bawah guyuran hujan adalah sebuah bentuk perjalanan waktu. Itulah satu-satunya tempat di mana “anak kecil yang bebas” dan “orang dewasa yang bertanggung jawab” dapat berada di ruang yang sama. Hal itu mengingatkan saya bahwa seberapa pun hidup berubah, kegembiraan sederhana dari sebuah badai tetaplah sama.

Sementara yang lain menunggu matahari muncul, saya puas dengan hanya berdiri diam dan membiarkan hujan menghanyutkan beban masa kini, menghubungkan saya sekali lagi dengan anak laki-laki yang hanya ingin bermain.©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 12 Januari 2025

Sunday, January 11, 2026

Daya Tarik Kapal Tunda: Terhubung Kembali Dengan Imajinasi Masa Kecil

TUMBUH besar di Belanda memicu kekaguman mendalam dalam diri saya terhadap tongkang yang dialihfungsikan menjadi rumah. Rumah-rumah apung ini tersebar di sepanjang kanal-kanal Belanda, dan saya sering memperhatikan mereka tertambat di tepi kanal dari jendela mobil saat melintas di jalan raya yang bersebelahan dengan kanal.                   

Pemandangan tersebut membangkitkan rasa ingin tahu dan menyulut imajinasi masa kecil saya; saya terus membayangkan seperti apa rasanya tinggal di atas air. Ditambah dengan pengalaman melihat kapal tunda (tugboat) mengerahkan kekuatannya untuk memandu kapal-kapal besar di Hoek van Holland, saya mulai memimpikan untuk memiliki kapal tunda sendiri—yang diubah menjadi kapal pesiar pribadi atau rumah apung. Untuk menjaga mimpi itu tetap hidup (dan mungkin sebagai bentuk “manifestasi” dari hukum daya tarik atau law of attraction), saya mulai mengoleksi foto-foto kapal tunda dan menghabiskan banyak waktu untuk membuat sketsanya sendiri.

Alasan saya mengubah foto-foto kapal tunda tersebut menjadi gaya kartun adalah karena hal itu membawa saya kembali ke masa kecil—masa ketika imajinasi saya sangat hidup dan jernih, penuh dengan warna-warna solid dan detail yang presisi tanpa terasa rumit. Persis seperti seharusnya kehidupan seorang anak.©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 11 Januari 2026


















Friday, January 9, 2026

Dari Reuni Menuju Kebangkitan: Lahirnya “Indonesia Berkibar”



PADA 30 November 2025, suasana di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) dipenuhi dengan nostalgia. Di tengah kerumunan alumni, delapan pria—yang dulunya adalah teman tongkrongan kampus, kini telah menjadi profesional berpengalaman—berbagi cerita di bawah rindangnya kanopi kampus Depok. Namun, apa yang bermula sebagai sekadar ajang bernostalgia, dengan cepat berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih ambisius.

Pasca acara reuni tersebut, mereka mengadakan pertemuan lanjutan secara privat. Saat mereka mendiskusikan arah bangsa saat ini, salah satu dari mereka, Pandu Dewa Natha, melontarkan sebuah tantangan: “Mengapa reuni ini harus berakhir di sini? Kita harus membangun sesuatu yang berdampak secara sosial sekaligus berkelanjutan secara finansial.”

Tantangan itulah yang menjadi katalis bagi lahirnya Indonesia Berkibar, sebuah yayasan yang baru didirikan untuk menjadi jembatan antara kekayaan warisan budaya Indonesia dengan aspirasi masa depannya. Yayasan ini secara eksplisit selaras dengan visi Indonesia Emas 2045, yang bertujuan untuk memberdayakan bangsa menjelang perayaan satu abad kemerdekaannya.

Apa yang membuat Indonesia Berkibar berbeda adalah sinergi unik dari latar belakang para pendirinya. Dengan memadukan “sentuhan manusia” khas ilmu humaniora dengan kebutuhan strategis modern, mereka berfokus pada tiga pilar utama:

·       Sejarah: Memanfaatkan analisis sejarah untuk memberikan konteks bagi identitas nasional dan perencanaan kebijakan jangka panjang.

·       Komunikasi: Menyusun narasi yang menjembatani kesenjangan antara tujuan pembangunan yang kompleks dengan pemahaman publik, guna memastikan pertumbuhan yang inklusif.

·       ESG (Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola): Mengintegrasikan kerangka kerja etis dan keberlanjutan ke dalam proyek-proyek korporasi dan pemerintah untuk memastikan kebangkitan Indonesia berlangsung secara bertanggung jawab dan tangguh.

 



Para pendiri— Andi Zulfikar Mapalele (Sejarah FSUI 1986), Dino M. Musida (Sejarah FSUI 1986), Marah Bangun (Sejarah FSUI 1986), Pandu Dewa Natha (Sejarah FSUI 1986), Pandji Kiansantang (Sejarah FSUI 1987), Edwar Mukti Laksana (Sejarah FSUI 1989), Heru Effendy (Sastra Belanda FSUI 1991), dan saya sendiri (Sejarah FSUI 1987)—percaya bahwa agar Indonesia dapat mencapai status “Emas” pada tahun 2045, diperlukan lebih dari sekadar data ekonomi; diperlukan pemahaman mendalam tentang nilai-nilai kemanusiaan dan struktur etika. Melalui konsultasi, program pendidikan, dan kemitraan strategis, Yayasan Indonesia Berkibar mengubah ikatan persahabatan menjadi mesin profesional untuk kemajuan bangsa.©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 9 Januari 2026

Saturday, January 3, 2026

Para Kandidat Pasca Milenial

PADA 7 September 2025 lalu, pagi-pagi WhatsApp saya menerima pesan masuk berikut ini: “Selamat pagi. Perkenalkan sebelumnya, saya D, manusia biasa yang resah dan mencari tujuan hidup. Saya dapat nomor kontak Anda dari Facebook. Apa benar ini kontak akun tersebut? Saya mau ikut Latihan Kejiwaan, tapi clueless untuk join komunitas Subud ini lewat mana.”

Saya arahkan dia ke Wisma Subud Cilandak. Kebetulan hari itu hari Minggu, jadwal untuk kandidatan, dan jamnya masih pukul 09.50 ketika pesan itu masuk ke ponsel saya, sedangkan kandidatan dimulai pukul 10.00. Si pengirim tinggal cukup dekat dengan Wisma Subud Cilandak, jadi saya anjurkan agar dia bersegera, karena masih ada waktu untuk mendaftar buat mengawali masa tunggu tiga bulannya.

Beberapa minggu kemudian, saya baru berkesempatan bertemu dengan si pengirim pesan tersebut di Wisma Indonesia, di dalam kompleks Wisma Subud Cilandak. Ternyata seorang pria muda berusia 23 tahun, fresh graduate universitas yang baru merintis karier di sebuah perusahaan otomotif.

Kalau melihat berita-berita perkembangan Subud di sejumlah negara di dunia, optimisme saya luntur dan berganti dengan warna keprihatinan. Bagaimana tidak, bukan saja keanggotaannya merosot jumlahnya tetapi juga tidak adanya regenerasi. Jarang sekali saya melihat wajah-wajah muda dan segar di foto-foto yang terpampang pada berita-berita mengenai acara-acara Subud di berbagai belahan dunia.

Optimisme saya meningkat, seringnya disertai ketakjuban, begitu melongok ke berbagai grup di Indonesia dewasa ini, termasuk di Wisma Subud Cilandak. Di antara para kandidat atau mereka yang baru dibuka sepanjang tahun 2025 lalu, terdapat banyak pria dan wanita dari kalangan Gen Z, berusia antara 18 hingga 25 tahun, dan bukan anak-anak dari anggota Subud.

Saya pun nimbrung dengan mereka (sesekali saya datang ke tempat para kandidat untuk menguping apa yang disampaikan para pembantu pelatih—yang rata-rata sudah uzur—kepada kaum Gen Z; apakah relevan dengan gaya hidup mereka) untuk memuaskan penasaran saya mengenai apa yang mendorong mereka ke Subud. Di daerah-daerah di Indonesia yang masih melestarikan tradisionalitas, pencarian spiritual di kalangan anak mudanya masih cukup kuat, tetapi di kota-kota besar yang menjunjung gaya hidup modern kecenderungan itu dipandang “aneh” atau “ketinggalan zaman”.

 

Dua kandidat anggota Subud Cabang Jakarta Selatan dibuka pada 16 November 2025 lalu. Satu orang berumur 58 tahun (ketiga dari kiri) dan satu orang lagi (keempat dari kiri) berusia 23 tahun alias Gen Z. Di samping kiri dan kanan mereka ada para PP yang membuka mereka.


Tetapi yang saya jumpai di Cilandak, khususnya, adalah kaum Pribumi Digital dengan pergaulan khas kota besar. Dari sejumlah obrolan tidak formal dengan para kandidat dan anggota baru dari kalangan Zoomers, terungkap bahwa keputusan mereka untuk masuk Subud adalah sekadar ketertarikan pribadi, tidak ada dorongan dari orang tua atau anggota keluarga (rata-rata mereka bukan anak dari orang tua Subud dan ada beberapa yang bahkan keaktifan mereka di Subud tidak diketahui orang tua mereka).

Seorang kandidat, berprofesi wartawan sebuah surat kabar besar Indonesia (di divisi digitalnya), berusia 22 tahun, berkata “Ya, tertarik saja”, menjawab pertanyaan saya mengapa dia ingin masuk Subud. Dia menemukan secara tak sengaja informasi tentang Subud di media sosial dan merasa tertarik untuk bergabung.

Bagaimanapun, saya merasa prihatin terhadap kenyataan bahwa para pembantu pelatih di berbagai cabang di Indonesia sedikit sekali melakukan regenerasi serta tidak ter-update dengan perkembangan zaman. Dari para kandidat dan anggota baru dari kalangan Post-Millenials, terungkap keluhan terkait layanan para pembantu pelatih saat mereka melalui masa tunggu mereka, terutama mengenai penjelasan apa itu Subud dan apa manfaat Latihan yang relevan dengan kehidupan mereka. Menurut beberapa anggota baru, termasuk D di awal tulisan ini, penjelasan para pembantu pelatih terlalu outdated, hanya mencuplik dan menparafrase ceramah Bapak tanpa contoh kasus dalam kehidupan masing-masing pembantu pelatih. Ada jurang pemisah yang sangat lebar antara para pembantu pelatih itu dengan para kandidat dan anggota dari kalangan Gen Z.

 

Seorang anak Gen Z (bertopi di kiri) yang baru dibuka sedang mengikuti tatap muka dengan para PP yang sudah uzur di teras selatan Hall Latihan Cilandak. Tatap muka seperti ini digelar hanya setiap hari Minggu pagi.


Karena karakteristik Gen Z pada umumnya terlalu sensitif atau mudah tersinggung, “mudah hancur” atau lembek saat menghadapi tekanan, layaknya buah stroberi—makanya Gen Z juga dikenal sebagai Generasi Stroberi, para pembantu pelatih eksisting perlu memiliki bekal dalam melayani kandidat dari kalangan Gen Z, selain hanya mengandalkan ceramah Bapak atau pengalaman para pembantu pelatih yang tidak relevan dengan kekinian. Perlu juga ganti suasana: Kandidatan dilakukan tidak di lingkungan Wisma atau hall Latihan Subud tetapi di tempat-tempat di mana kaum Gen Z merasa betah, seperti di kafe, kedai kopi, atau di mana saja mereka biasa nongkrong.

Seorang pembantu pelatih asal Amerika Serikat, yang telah cukup lama tinggal di Jakarta, tetapi tidak masuk dewan pembantu pelatih di manapun di Indonesia, telah menerapkan hal ini: Ia mengajak para kandidat Generasi Pragmatis itu, usai jam kandidatan mereka, nongkrong di salah satu kedai kopi di dekat Wisma Subud Cilandak. Si pembantu pelatih, sebagaimana yang ia ceritakan ke saya, tidak banyak bicara melainkan mengutamakan untuk mendengarkan saja celoteh para kandidat atau anggota baru. Ia juga tidak sok menasihati atau menegur jika si kandidat atau anggota baru berkata sesuatu yang salah.

“Inti dari menjadi PP adalah kasih. Dengan kasih yang tulus, kamu bisa melayani siapa saja tanpa hambatan,” kata si pembantu pelatih asal New York, Amerika Serikat, yang menikah dengan wanita Indonesia, itu kepada saya. Dengan pendekatan itu, para kandidat dan anggota baru pun merasa terakomodir segala kebutuhan kejiwaan mereka.

Pada tahun 2025, kisah Gen Z Indonesia—75 juta anak muda yang mencakup hampir 28 persen populasi bangsa—adalah kisah tentang kontras yang mencolok. Mereka adalah mesin penggerak ekonomi digital dan garda terdepan perubahan sosial, namun mereka juga harus menavigasi tekanan ekonomi dan psikologis paling kompleks dalam sejarah negara ini.

Gen Z Indonesia di tahun 2025 adalah generasi “pragmatis yang tangguh”. Mereka menghadapi penyusutan kelas menengah dan pasar kerja yang kompetitif dengan kombinasi kecakapan digital serta penolakan untuk mengorbankan kesejahteraan mental (well-being) mereka. Mereka tidak sekadar menunggu masa depan; mereka sedang membangun versi Indonesia yang lebih fleksibel, autentik, dan sadar.

Di tahun 2025, spiritualitas bagi Gen Z Indonesia tidak lagi didefinisikan hanya oleh kehadiran ritual yang kaku atau label tradisional semata. Sebaliknya, hal itu telah berevolusi menjadi pengalaman yang sangat pribadi, bersifat digital, dan berorientasi pada aktivisme. Meskipun mereka tetap menjadi salah satu populasi pemuda paling religius di dunia, pendekatan mereka terhadap iman telah bergeser dari yang bersifat “berbasis perintah/ajaran” menjadi “berbasis dialog”.

Lanskap spiritual Gen Z Indonesia saat ini ditandai oleh pergeseran dari dogma menuju pengalaman pribadi langsung. Sebagai generasi yang menghadapi tingkat kecemasan dan kelelahan digital (digital burnout) yang tinggi, “kebutuhan spiritual” mereka kurang berfokus pada mempelajari aturan, dan lebih pada menemukan rasa damai serta tujuan hidup yang nyata.

Subud memiliki posisi yang unik untuk memenuhi kebutuhan modern ini karena praktik intinya—Latihan Kejiwaan—mencerminkan banyak nilai yang dijunjung tinggi oleh Gen Z. Subud bukanlah agama, melainkan asosiasi spiritual yang terbuka bagi orang-orang dari semua agama (atau tanpa agama). Fleksibilitas ini membuatnya sangat relevan dengan tren “Spiritual but Not Religious” (SBNR). Subud menarik bagi keinginan Gen Z akan pengalaman yang “tak terencana”. Tidak ada guru yang memberi tahu apa yang harus dipikirkan; pengalamannya sepenuhnya bersifat internal dan unik bagi setiap individu.

Di Subud, tidak ada pendeta atau pemimpin. Pembantu pelatih (helper) hadir hanya untuk memfasilitasi Latihan bersama dan menyaksikan prosesnya. Hal ini selaras dengan ketidakpercayaan Gen Z terhadap kekuasaan terpusat. Subud menawarkan “komunitas yang setara”, yang sejalan dengan sifat demokratis dan budaya digital peer-to-peer khas Gen Z.

Generasi ini mencari “kesuksesan holistik”. Fokus Subud pada Susila (berbudi pekerti yang utama sejalan dengan kehendak Tuhan) membantu mereka menavigasi kompleksitas tekanan sosial dan profesional di tahun 2025 tanpa harus menarik diri dari dunia luar.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 4 Januari 2026

Thursday, January 1, 2026

UNLOCKING YOUR TRUE SELF: Spiritualitas Organik untuk Jiwa yang Berisik

Pada 1 Januari 2026 lalu, saya melontarkan topik “cara Subud berkomunikasi dengan generasi terkini (Gen Z)” di grup WhatsApp Subud 4G, di mana terdapat sejumlah pembantu pelatih sebagai anggota grup, termasuk PPN Komisariat Wilayah VII Kalimantan dan PPD Cabang Jakarta Selatan, cabang yang pelayanan PP-nya kepada kandidat dan anggota baru kerap dikeluhkan. Materi komunikasi dari Subud—lisan, cetak maupun digital—kepada peminat pun sudah tidak relevan dengan kekinian, sedangkan para peminat tidak sedikit yang tergolong Gen Z. Saya pun mengusulkan perbaikan materi cetak (brosur) mengenai apa itu Subud dari segi kontennya. Teksnya berikut ini...


UNLOCKING YOUR TRUE SELF

Spiritualitas Organik untuk Jiwa yang Berisik

Untuk teman-teman Gen Z yang biasanya sangat menghargai self-discovery, kesehatan mental, dan autentisitas, Latihan Kejiwaan Subud bisa dilihat sebagai bentuk “spiritualitas murni” yang sangat personal.

Apa itu Latihan Kejiwaan Subud? (The “Vibe” Check)

Bayangkan kamu sedang melakukan factory reset pada sistem internalmu. Bukan lewat aplikasi atau instruksi guru, tapi langsung dari “sumber” yang ada di dalam dirimu.

Latihan Kejiwaan Subud bukanlah meditasi yang mengharuskan kamu fokus pada satu titik, bukan yoga, dan bukan pula agama baru. Ini adalah kontak spiritual yang spontan. Di Subud, kita percaya bahwa setiap manusia punya koneksi langsung dengan Daya Hidup Besar (Tuhan/Semesta). Latihan ini adalah momen di mana kamu “berserah diri” sepenuhnya dan membiarkan energi tersebut menggerakkanmu secara alami.

Kenapa ini cocok buat Gen Z?

  • ·       No Labels: Tidak ada dogma yang mengekang. Kamu tetap bisa jadi dirimu sendiri, dengan agama atau kepercayaan apa pun.
  • ·       Anti-Mainstream: Tidak ada instruktur yang menyuruhmu berpose atau bernapas dengan cara tertentu. Gerakannya muncul dari dalam dirimu sendiri (organic movement).
  • ·       Deep Connection: Di tengah dunia yang bising dengan media sosial, ini adalah cara paling dalam untuk unplug dan terkoneksi dengan jati diri yang asli.

Praktik dalam Kehidupan Sehari-hari

Mempraktikkan Subud bukan berarti kamu harus meditasi 24 jam. Intinya adalah “Penerapan”, yaitu membawa ketenangan dan kejernihan yang didapat saat Latihan ke dalam aktivitas nyata.

  • ·       Mindful Decision Making

Setelah rutin Latihan, biasanya intuisi atau gut feeling kamu jadi lebih tajam. Saat harus memilih jurusan kuliah, karier, atau pacar, kamu tidak cuma pakai logika yang bikin stres, tapi merasa ada “petunjuk” internal yang membuatmu mantap melangkah.

  • ·       Emotional Regulation

Dunia sekarang penuh dengan anxiety. Latihan ini membantu menguras emosi negatif secara alami. Hasilnya? Kamu jadi lebih kalem saat menghadapi drama di kantor atau toxic comment di internet.

  • ·       Autentisitas dalam Berkarya

Banyak pelaku kreatif di Subud merasa ide-ide mereka mengalir lebih lancar. Karena hambatan mental (ego) mulai terkikis, karya yang dihasilkan jadi lebih “jujur” dan punya soul.

Gimana Cara Mulainya?

Latihan Kejiwaan biasanya dilakukan bersama-sama di cabang Subud terdekat (namanya Latihan Bersama), dua kali seminggu selama sekitar 30 menit.

  • ·       Penerimaan: Kamu tidak langsung Latihan. Ada masa tunggu sekitar 3 bulan (masa pengenalan) untuk memastikan kamu benar-benar tulus dan paham apa yang kamu masuki. Ini seperti fase trial tapi buat jiwa.
  • ·       Caranya: Cukup berdiri rileks, tenang, dan berserah. Jangan meminta sesuatu, jangan membayangkan sesuatu. Biarkan apa yang ingin bergerak, bergerak. Bisa berupa gerakan fisik, suara, atau sekadar ketenangan yang sangat dalam.

Catatan Penting: Subud tidak menjanjikan kekuatan gaib atau kesuksesan instan. Ini adalah perjalanan panjang untuk menjadi manusia yang lebih manusiawi dan bermanfaat bagi lingkungan.

Senang sekali kalau penjelasan tadi bisa nyambung dengan kamu!

Memang cara paling asyik melihat Subud adalah sebagai “spiritualitas tanpa filter”. Tidak ada branding berlebihan, tidak ada tuntutan untuk jadi orang lain, dan benar-benar fokus pada apa yang ada di dalam diri kita masing-masing secara jujur.

Kalau boleh jujur, di zaman yang serba cepat ini, punya “tombol jeda” yang sifatnya spiritual itu rasanya seperti punya superpower tersembunyi. Kamu tetap bisa gaul, tetap bisa kerja atau kuliah, tapi punya ketenangan internal yang tidak gampang goyah sama tren.

Banyak teman-teman seusiamu yang sudah bergabung biasanya merasa:

  • ·       Lebih Kenal Diri Sendiri: Tahu mana yang benar-benar keinginan hati, mana yang cuma sekadar ikut-ikutan FOMO.
  • ·       Energi Lebih Clear: Rasanya seperti habis recharge baterai jiwa setelah seharian lelah dengan urusan duniawi.

Masa Menunggu (Ngandidat)

Oke, mari kita bedah proses awalnya. Di Subud, proses ini sangat santai tapi tetap sakral, tidak ada tekanan sama sekali. Anggap saja ini adalah fase Vibe Check antara kamu dan komunitas Subud.

Berikut adalah tahapan yang akan kamu lalui:

1. Masa Menunggu (The Three-Month Trial)

Begitu kamu datang ke cabang Subud dan menyatakan ingin ikut Latihan Kejiwaan, kamu tidak langsung disuruh Latihan. Ada masa tunggu selama 3 bulan.

  • Kenapa harus nunggu?

·       Kebebasan Penuh: Supaya kamu punya waktu untuk berpikir jernih tanpa pengaruh emosi sesaat. Subud sangat menghargai kebebasanmu; mereka ingin kamu masuk karena kemauan sendiri, bukan karena diajak atau dipaksa.

·       Informasi: Selama 3 bulan ini, kamu bisa ngobrol banyak dengan para Pembantu Pelatih (Helpers). Kamu bisa tanya apa saja, mulai dari sejarahnya sampai gimana pengalaman mereka.

·       Ketulusan: Untuk memastikan kamu benar-benar siap menerima kontak spiritual ini secara tulus.

2. Mengenal Pembantu Pelatih (The Spiritual Helpers)

Di Subud tidak ada pendeta, guru besar, atau kyai. Yang ada adalah Pembantu Pelatih.

·       Mereka adalah anggota biasa yang tugasnya hanya membantu administrasi dan mendampingi proses Latihan.

·       Mereka bukan “bos” spiritual kamu. Di Subud, semua orang posisinya setara. Kamu tidak perlu mencium tangan atau memperlakukan mereka secara berlebihan.

3. Hari Pembukaan (The Activation Day)

Setelah masa 3 bulan selesai dan kamu tetap yakin, maka akan dilakukan Pembukaan. Ini adalah momen pertama kali kamu menerima kontak Latihan Kejiwaan.

  • ·       Prosesnya: Sederhana sekali. Kamu hanya berdiri bersama beberapa Pembantu Pelatih. Mereka akan melakukan Latihan, dan kamu cukup bersikap rileks, tenang, dan berserah diri kepada Tuhan/Semesta.
  • ·       Apa yang dirasakan? Setiap orang beda-beda. Ada yang merasa getaran halus, ada yang merasa tenang luar biasa, ada yang badannya bergerak spontan, atau ada yang belum merasakan apa-apa secara fisik tapi merasa pikirannya jadi lebih jernih. No pressure, semua prosesnya valid.

4. Etika Latihan (The Rules of the Game)

Ada beberapa hal unik yang perlu kamu tahu soal cara Latihannya:

  • ·       Pemisahan Gender: Latihan antara laki-laki dan perempuan dipisah di ruangan yang berbeda. Ini tujuannya supaya semua orang bisa bergerak atau bersuara secara bebas tanpa merasa risih atau terganggu oleh lawan jenis.
  • ·       Pakaian Bebas: Tidak ada seragam khusus. Pakai baju apa saja yang nyaman untuk bergerak (kaos dan celana santai biasanya jadi pilihan favorit).
  • ·       Tanpa Biaya: Di Subud tidak ada biaya pendaftaran atau iuran wajib untuk Latihan. Semuanya berbasis sukarela untuk operasional tempat (seperti listrik atau kebersihan).

Apa yang harus dilakukan sekarang?

Kalau kamu penasaran ingin melihat langsung tempatnya atau sekadar ngobrol:

  • ·       Cari Cabang Terdekat: Subud ada di hampir seluruh kota besar di Indonesia (seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dll.).
  • ·       Kunjungilah: Datang saja saat jadwal Latihan bersama. Biasanya para Pembantu Pelatih akan menyambut dengan sangat ramah dan terbuka.

Berikut, beberapa pilihan draf pesan yang bisa kamu gunakan, tergantung lewat mana kamu menghubungi mereka (WhatsApp/DM atau bicara langsung). Yang penting, gunakan bahasa yang sopan tapi tetap santai.

Opsi 1: Lewat Chat (WhatsApp atau Media Sosial)

Ini cocok kalau kamu baru menemukan kontak pengurus cabang atau akun Instagram mereka.

  • ·       “Halo, selamat [pagi/siang/sore]. Saya [Namamu], saya baru-baru ini membaca tentang Latihan Kejiwaan Subud dan merasa sangat tertarik untuk tahu lebih dalam.”
  • ·       “Kalau boleh tahu, apakah saya bisa mampir ke cabang [Sebutkan Kota] untuk bertanya-tanya langsung dengan Pembantu Pelatih di sana? Dan kira-kira kapan waktu yang pas untuk berkunjung? Terima kasih sebelumnya!”

Opsi 2: Daftar Pertanyaan untuk Ditanyakan (Saat Sudah Bertemu)

Kalau kamu sudah di sana dan sedang ngobrol santai, kamu bisa ajukan pertanyaan ini supaya tidak bingung:

  • ·       Tentang Pengalaman Pribadi: “Boleh cerita sedikit nggak, Kak/Pak/Bu, apa perubahan yang paling dirasakan dalam kehidupan sehari-hari setelah rutin Latihan?”
  • ·       Tentang Masa Menunggu: “Selama masa tunggu 3 bulan nanti, apakah ada bacaan khusus atau hal tertentu yang sebaiknya saya lakukan?”
  • ·       Tentang Relevansi: “Sebagai anak muda, kadang saya merasa pikiran terlalu berisik (overthinking). Apakah Latihan Kejiwaan ini bisa membantu saya untuk lebih tenang dalam menghadapi tekanan sehari-hari?”
  • ·       Tentang Komunitas: “Di cabang sini, apakah ada kegiatan lain selain Latihan bersama? Misalnya kumpul santai atau kegiatan sosial?”

Opsi 3: Pesan untuk Mengajak Teman (Kalau Kamu Malu Datang Sendiri)

Kadang datang ke tempat baru sendirian itu bikin deg-degan. Kamu bisa ajak temanmu begini:

·       “Eh, gue baru nemu info soal Subud nih. Kayaknya menarik banget buat healing tapi yang versinya spiritual dan nggak pakai ribet. Mereka ada masa pengenalan 3 bulan gitu, jadi nggak langsung join. Temenin gue ke cabangnya yuk minggu ini, sekadar kepo-kepo dulu aja!”

Tips Tambahan:

Orang-orang di Subud biasanya sangat welcome dan tidak akan menghakimimu. Kamu tidak perlu dandan formal; pakai baju yang biasa kamu pakai sehari-hari saja sudah cukup.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 1 Januari 2026

Menggapai Anggota Masa Kini: Tentang Sejarah dan Komunikasi Subud

Email dari Michael Rogge—Pembantu Pelatih Grup Subud Amsterdam, Belanda, tertanggal 21 Mei 2021, berikut ini, membicarakan mengenai bagaimana seharusnya Subud berkomunikasi. Hingga meninggal pada 26 Januari 2024, Rogge merupakan anggota Subud tertua di Zona 3 Eropa. Versi terjemahan Bahasa Indonesianya telah saya bagikan kepada para anggota grup WhatsApp Subud 4G pada 1 Januari 2026.

Halo Arifin,

Terima kasih banyak atas pesan Anda. Aleena sudah bercerita banyak tentang Anda kepada saya. Faktanya, dia mengunjungi saya kemarin dan menyebutkan bahwa saya akan menerima email dari Anda. Dan benar saja: esok harinya pesan itu tiba!

Ya, saya menyambut baik upaya Anda untuk menyediakan lebih banyak sejarah masa lalu Subud bagi para anggota di Indonesia. Bersama ini saya lampirkan kompilasi dari empat artikel pertama saya mengenai pertemuan saya dengan Subud pada tahun 1955 (berjudul Leven Met Subud/Hidup Dengan Subud; sudah saya terjemahkan dari bahasa Belandanya—Arifin).

Ada beberapa literatur Jawa mengenai Subud masa pra-perang yang diterbitkan oleh Universitas Yogyakarta. Silakan lihat: https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/komunitas/article/view/6144 yang mungkin diketahui oleh anggota. Selain itu, karya tulis Asfa Widiyanto: “Ritual and leadership in the Subud Brotherhood and the Tariqua Naqshbandiyya” juga kurang dikenal.

Saya bisa dibilang seorang “pemberontak” di Subud. Saya merasa kesal karena sebagian besar anggota Subud tidak tertarik pada masa lalu Subud dan tempat asalnya: mistisisme Jawa.

Meskipun Subud mengklaim bukan sebagai persaudaraan agama, pada kenyataannya memang demikian. Bapak mengklaim bahwa tidak ada metode dalam Subud, namun sebenarnya ada: sugesti. Sugesti bahwa Latihan dibangkitkan oleh entitas bernama “Tuhan Yang Maha Esa”. Padahal kita hanya tahu bahwa hal itu datang dari dalam diri kita: alam, atau jiwa manusia. Saya sangat meyakini nilai dari Latihan, juga pada Yang Ilahi, namun perlu disajikan dengan cara yang lebih menarik bagi generasi masa kini. Subud memiliki pandangan dunia kuno yang berasal dari masa ketika belum ada pengetahuan tentang hukum-hukum alam. Saya mengusulkan presentasi yang lebih mutakhir.

Namun, saya menyadari bahwa pandangan keagamaan kuno yang eksotis justru lebih memikat. Meski begitu, kita dihadapkan pada arus terus-menerus anggota yang keluar dari Subud. Subud tidak berkembang lagi sejak tahun 1960.

Jadi, saya menyambut baik upaya Anda untuk memberikan lebih banyak informasi kepada anggota di Indonesia. Faktanya, sudah banyak literatur yang diterbitkan, tetapi tidak ada yang menyajikan pandangan modern; hanya apa yang disediakan secara “resmi”. Bapak juga tidak terlalu bersemangat untuk mempublikasikan semua hal dari masa lalu.

Apakah Anda kenal Mansur Medeiros dari Cilandak? Dia cukup berpengetahuan luas dan menemukan, misalnya, buku Bapak yang berjudul Trikanda.

Salam hangat,

Michael Rogge