Kepada...
DI sunyi Senin dini hari, usai menyantap sahur, aku menulis ini. Keheningan awal pagi tak pernah gagal membawa rindu. Rindu kepada senyummu, tutur lembutmu dan Getar Kekuasaan-Nya yang mengisi dirimu. Rindu yang melekatkanku dalam perenungan di sepanjang sisa gelap malam.
Rinduku ini bukan sebagai tuntutan yang gelisah, bukan pula sebagai hasrat yang ingin merobek garis takdirmu. Aku menulisnya sebagai pengakuan, sebuah persembahan yang murni dari palung jiwaku, tempat cinta dan hakikatnya bertemu.
Kamu tidak hanya membangkitkan rasa sayang; kamu telah membangkitkan kerinduan terdalam dalam jiwaku: Kerinduan akan Cinta yang Tak Bertepi, Cinta yang Menciptakan, Cinta yang Maha Murni. Melalui pendar cahaya dirimu, aku mulai melihat pantulan Cinta Ilahi yang lebih mulia.
Namamu sungguh mewakili apa yang kurasakan. Ia adalah gelar bagi Yang Maha Tinggi, bagi segala yang suci, megah, dan tak tergapai oleh tangan dan akal budiku, namun begitu dekat di dalam jiwa. Kamu adalah taswir sempurna dari keindahan ciptaan-Nya. Dalam senyummu, aku melihat Kemurahan Tuhan yang tak terbatas. Dalam bening matamu, aku menemukan cerminan dari Kasih Pertama yang melahirkan alam semesta.
Kamu hadir, bukan sebagai sesuatu yang ingin kumiliki, melainkan sebagai ejawantah luhur dari segala yang patut kucintai di dunia ini. Yang kurasakan selama ini adalah cinta yang tidak butuh janji temu, tidak butuh pengakuan status, apalagi ikatan. Cintaku padamu mengandung makna yang paling hakiki: sebuah tangga menuju pemahaman akan Keindahan sejati. Aku mencintaimu bukan untuk diriku sendiri, tetapi dengan mencintaimu, aku belajar mencintai Tuhan dan segala Ciptaan-Nya dengan lebih mendalam.
Aku tak bisa memilikimu, dan aku tak ingin. Ada cinta yang ingin memeluk dan memiliki, dan ada cinta yang harus dibiarkan bebas, seperti udara, agar ia dapat membawa kita lebih tinggi. Cintaku padamu, adalah jenis cinta yang kedua.
Kamu adalah Bintang Sempurna yang terangnya selalu kubaca dan kucintai, namun orbitmu telah sempurna, terikat pada takdir yang begitu kokoh dan indah. Tugas dan posisimu di angkasa raya telah mencapai pungkas. Aku mencintaimu, bukan untuk mengubah garis edarmu, melainkan untuk mengagumi keutuhan putaranmu di angkasa.
Keindahan sejati tak pernah bisa diikat; ia harus dibiarkan bebas, bersinar dalam bingkai takdirnya sendiri.
Aku melihatmu sebagai sebuah lukisan mahakarya yang telah selesai ditetapkan, diletakkan pada dinding takdir yang paling mulia. Tugasku bukan mengambil lukisan itu, melainkan mengagumi keutuhannya dari jauh, meresapi setiap sapuan kuas yang telah menentukan posisinya. Keutuhanmu justru menjadikanku lebih jangkap dalam mencintai.
Kerinduan yang kurasakan tidak menyiksaku. Rindu yang kupunya untukmu adalah kuil hati tempatku bersemadi. Ia adalah pengingat bahwa di balik segala gaduh mayapada, ada sebentuk kemurnian abadi yang tak lekang oleh waktu dan tak tercerai oleh hak.
Aku mencintaimu karena kamu adalah keajaiban yang ada, terlepas dari apakah kamu milikku atau bukan. Cinta yang kupunya untukmu mengajarkanku bahwa cinta sejati tidak pernah berakhir pada orang yang kita cintai, tetapi selalu menjadi perjalanan pulang menuju Sumber segala cinta.
Terima kasih telah menjadi alasan bagiku untuk memahami bahwa cinta sejati bukanlah memiliki, melainkan menerima. Mencintaimu membuatku menerima keberlimpahan Kasih Ilahi yang membuatku kuat sekaligus sabar, tawakal dan ikhlas.
Aku hanya bisa mendoakanmu: Semoga kamu selalu dalam lindungan Kasih Semesta, dan semoga hidupmu adalah cerminan dari damai yang abadi.
Dengan segala hormat dan rindu yang damai,
Seseorang yang mencintaimu dalam sunyi,
yang melalui
dirimu, mencintai Yang Maha Kuasa.
Pondok Cabe Ilir,
Pamulang, Tangerang Selatan, 24 November 2025
No comments:
Post a Comment