Wednesday, November 26, 2025

Membuka Lembaran Sejarah

DALAM sebuah reuni teman-teman kuliah saya di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia, pada September 2014, sejumlah rekan alumni menyatakan penasaran mereka tentang saya masuk Subud. Mereka tahu bahwa semasa kami masih kuliah dulu saya bukanlah orang yang religius maupun memiliki minat terhadap spiritualitas.

Saya katakan pada mereka, sedikit berseloroh, bahwa studi sejarah yang saya peroleh di bangku kuliah diperkuat sejak saya masuk Subud. Nyatanya, memang benar, Subud itu bagi saya seperti membuka lembaran-lembaran sejarah pribadi saya. Saya yang tadinya tidak peduli siapa saja leluhur saya dan apa saja sepak terjang mereka di masa lalu, sejak membaca/mendengarkan ceramah-ceramah Bapak saya termotivasi untuk mencari tahu.

Proses-proses yang terjadi di diri saya, secara lahiriah maupun spiritual, juga mendorong saya untuk mencari tahu lebih banyak apa atau siapa gerangan yang menurunkannya. Dan Latihan benar-benar menunjukkan “jalan kembali” itu ke saya, melalui berbagai kejadian dalam hidup saya sejak dibuka. Menelusuri jalan kembali itu tidak selalu menyenangkan, malah bagi saya terasa menjengkelkan (tak jarang saya mengutuk Tuhan, mengapa takdir saya begitu buruk), meletihkan, sehingga saya kadang harus “melempar handuk” untuk mengakhiri pertarungan.

Bagaimanapun, saya tetap bersyukur telah dipertemukan dengan Subud, karena dengan begitu saya jadi memiliki sejarah. Seorang pembantu pelatih senior di Wisma Subud Cilandak pernah berbagi ke saya bahwa dia yang tidak tahu sejarah, tidak punya kehidupan.©2025


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 27 November 2025

No comments: