DI resume pekerjaan saya tercantum keterangan bahwa saya aktif di Subud. Apakah ada relevansinya dengan pekerjaan saya? Tentu saja ada!
Sementara banyak sekali saudara Subud saya di Indonesia enggan mengakui terus terang keterlibatan mereka di Subud, baik kepada teman-teman non Subud mereka maupun kepada relasi-relasi bisnis mereka. Ada kekhawatiran pada diri mereka bahwa keaktifan mereka di Subud dapat mengganggu kenyamanan mereka. Seorang saudari Subud yang dibuka pada 14 September 2024 bercerita ke saya bahwa kalangan pergaulan sosial dia di luar Subud menganggap bahwa dia telah bergabung dengan sekte sesat. Saudara lainnya mengatakan bahwa ia ditegur keras oleh ustaz di pengajian yang dia ikuti bahwa Subud tidak sesuai akidah Islam dan dia bahkan sempat dirukyah (pengusiran setan ala Islam) oleh sang ustaz, tetapi karena ia dalam keadaan Latihan malah sang ustaz terpental. Kejadian itu membuat sang ustaz berkesimpulan bahwa saudara itu telah dirasuki jin yang sangat kuat.
Sebagian besar anggota Indonesia yang dengan mereka saya pernah bicara, menutup-nutupi keaktifan mereka di Subud dari para rekan kerja, majikan mereka, dan klien-klien mereka (jika mereka bekerja di sektor jasa). Kekhawatiran dianggap “pengikut aliran sesat” merupakan alasan utama mereka. Anggapan itu, mereka khawatirkan, dapat menciptakan stereotipe tertentu terhadap mereka.
Tetapi mengapa saya berani blak-blakan menyatakan bahwa saya anggota Subud di resume saya, bahkan dalam wawancara pekerjaan? Karena memang saya mendapat banyak sekali manfaat dari Latihan Kejiwaan dalam pekerjaan saya dalam bidang kreatif (saya mencari nafkah sebagai Copywriter, Branding Strategist dan Sustainability Communication Specialist). Banyaknya anggota di Cabang Jakarta Selatan khususnya, yang juga berkarier di industri periklanan, branding atau komunikasi pemasaran, membuat saya berpikir, jangan-jangan Latihan Kejiwaan Subud membangkitkan “listrik” kreatif yang tak terbatas.
Di salah satu wawancara untuk posisi Creative Director di sebuah biro iklan berskala menengah di Jakarta tahun 2005, Direktur Utama yang mewawancarai saya membaca dalam resume saya bahwa saya anggota Subud. Dia rupanya kenal baik dengan seorang praktisi periklanan kawakan Indonesia yang juga di Subud, dan menganggap bahwa saya, seperti halnya si praktisi periklanan kawakan itu, memiliki kemampuan “dari luar dunia ini”. “Dia sudah mendapat idenya bahkan sebelum klien memberi briefnya! Berarti Anda juga seperti dia, ya? Kan kalian sama-sama di Subud!” sergah si Direktur Utama. Saya menyambutnya dengan tertawa seraya menjawab, “Bukan begitu cara kerjanya, Pak.”
Saya baru-baru ini terkenang kembali obrolan saya dengan
almarhum Pak Asikin (salah satu asisten Bapak ketika perjalanan pertama beliau
ke Coombe Springs, Inggris, tahun 1957) pada Agustus 2005. Saya mengeluhkan
kepada Pak Asikin perihal krisis saya yang membuat saya melihat keberadaan
makhluk-makhluk gaib yang menyeramkan di mana saja saya berada dan kapan saja.
Pak Asikin memberi tahu saya bahwa saya bisa memohon kepada Tuhan agar
kemampuan melihat makhluk gaib itu diganti dengan sesuatu yang lain yang lebih
bermanfaat. Anjuran beliau saya ikuti; saya meminta “makhluk gaib bernama Ide”.©2025
Pondok Cabe Ilir,
Pamulang, Tangerang Selatan, 25 November 2025
No comments:
Post a Comment