Tuesday, November 18, 2025

Beda Generasi, Beda Pengalaman

SEKITAR sebulan setelah dibuka, saat menunggu waktu Latihan di teras Wisma Subud Surabaya, Jawa Timur, saya ditanya oleh seorang pembantu pelatih senior apakah saya sudah memiliki pengalaman dengan Latihan. Bersama saya, ada tiga anggota lainnya—yang paling lama baru setahun di Subud—dan mereka juga mendapat pertanyaan yang sama. Semua tidak segera menjawab; tiga anggota lainnya itu hanya menggelengkan kepala.

Akhirnya, saya mengacungkan jari, meminta kesempatan untuk berbicara. Saya menceritakan sebuah pengalaman terkini saat itu. Suatu ketika, keuangan rumah tangga saya menipis dan saya sedang tidak ada pemasukan (saat itu saya bekerja sebagai freelance copywriter). Istri pun terpaksa membuat menu makan siang kami yang sangat sederhana: Nasi putih dengan lauk ikan asin goreng dan sambal. Istri saya sungguh-sungguh minta maaf kepada saya karena hanya itu yang bisa dia sediakan. Saat itulah, saya menerima pengertian: Bahwa bukan makanannya yang memberi nikmat, melainkan rasa syukur atas apa pun yang ada.

Segera setelah saya berucap syukur di dalam hati, saya merasakan makanan sederhana itu terasa sangat lezat, tak ubahnya saya menyantap steik yang mahal.

Selesai saya bercerita, dan si pembantu pelatih memuji penceritaan saya, tiga anggota lainnya baru berucap “ooohh!” hampir bersamaan. Salah satu dari mereka, yang sudah lebih dulu setahun di Subud dari saya, mengatakan, “Saya pikir pengalaman di Subud itu hanya kalau ketemu makhluk halus, malaikat atau yang aneh-aneh.”

Saya dikenal di kalangan anggota dan pembantu pelatih di Subud Indonesia sebagai “orang yang memiliki banyak sekali pengalaman dengan Latihan”, sehingga kerap dirujuk sebagai referensi bagi anggota, pembantu pelatih maupun kandidat. Tapi sebaliknya saya mendorong mereka agar “mengalami sendiri”, karena saya tidak mau pengalaman saya menjadi “ajaran” bagi orang lain.

Saya baru-baru ini membantu copy editing naskah terjemahan Bahasa Indonesia dari Jilid 2 History of Subud, yang menceritakan perjalanan Bapak keliling dunia. Banyak sekali kisah pengalaman “aneh-aneh” bertebaran dalam naskah itu, dari mereka yang dibuka pada masa-masa awal Subud di luar Indonesia. Tetapi rupanya kisah-kisah “dunia lain” itu memiliki efek dahysat hanya pada masa itu, dan beberapa generasi sesudahnya. Generasi terkini, kaum Milenial dan Gen-Z, yang belakangan ini, di kota-kota besar di Indonesia, berbondong-bondong masuk Subud, rupanya tidak begitu terkesan dengan kisah-kisah hebat itu. Mereka mencari yang “relate” dengan kehidupan mereka saat ini: pekerjaan, percintaan, pergaulan, keuangan, perjalanan, masalah kesehatan mental yang marak di kalangan mereka, dan keluarga.

Tanggal 16 November 2025, di Cilandak, dibuka dua kandidat pria. Salah satunya adalah teman saya semasa kuliah dulu, dan karena itu seusia saya, sedangkan kandidat lainnya berumur 23 tahun, seorang Gen-Z. Teman saya masih suka dengan kisah-kisah pengalaman Latihan dalam kaitan dengan “dunia lain”, sementara si Gen-Z, yang lagi asyik berkarier di sebuah perusahaan otomotif raksasa asal Jepang itu, meminta saya bercerita tentang pengalaman Latihan yang relate dengan dia. Saya sempat menyatakan keheranan saya padanya, mengapa baru setelah dibuka dia meminta hal itu. Menurut dia, masa tunggu tiga bulan dia (12 kali pertemuan kandidat kalau di Cabang Jakarta Selatan, satu kali per minggu di hari Minggu pagi) dia lalui dengan membosankan karena berhadapan dengan para pembantu pelatih tua yang menceritakan secara buku teks (mengutip ceramah Bapak) dan minim pengalaman dengan Latihan yang relate dengan kekinian.

Tampaknya, organisasi Subud harus membenahi “pintu masuk”-nya yang belakangan sering diketuk oleh generasi terkini.©2025


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 19 November 2025

No comments: