Wednesday, November 26, 2025

Menunggu Nasib di Poskamling

 


TADI malam, dalam perjalanan bermotor ke Wisma Barata Pamulang, untuk kegiatan rutin Latihan Kejiwaan di Subud Ranting Pamulang, saya melewati sebuah Pos Keamanan Lingkungan (Poskamling) berukuran kecil. Sontak, ingatan saya terlempar ke suatu momen 32 tahun yang lalu.

Saat itu, dalam rangka “menegosiasi pasal-pasal” dengan seorang cewek gebetan saya yang telah melarang saya untuk datang lagi ke rumahnya di Ciputat, saya bersama sahabat saya mengatur strategi. Sahabat saya inilah yang akan menjadi juru runding. Hari itu hari Minggu, bertepatan dengan Hari Valentine, yang juga tanggal ulang tahun gebetan saya. Saya telah mempersiapkan kado buat doi, sebuah pulpen bermerek Sheaffer, yang tergolong mahal. Seluruh uang saku saya selama dua bulan telah saya alokasikan untuk membeli pulpen itu, yang di badannya digravir dengan nama gebetan saya dalam warna keemasan.

Larangannya terhadap saya tidak menyurutkan niat saya untuk memberi pulpen itu sebagai kado buat ulang tahunnya. Setidaknya, saya bisa menunjukkan kepadanya—meskipun saya tidak bisa bertatap muka dengannya—bahwa saya serius mengenai perasaan saya kepadanya. By the way, saya sudah menyatakan cinta saya kepadanya, di suatu malam Minggu di ruang tamu rumah orang tuanya. Jawabannya ke saya saat itu mengambang antara ya dan tidak. Ya karena dia menyukai saya lantaran baginya saya terlalu baik kepadanya, dan tidak karena dia tidak mau melibatkan saya dalam kehidupannya yang cukup pelik saat itu. Dia tidak memerinci apa permasalahan hidupnya.

Pada hari-H, saya dan sahabat saya meluncur ke kompleks perumahan di Ciputat di mana rumah gebetan saya berlokasi. Waktu itu masih pagi, sekitar jam 10. Beberapa hari sebelumnya, sahabat saya sudah menelepon doi untuk membuat janji; dia berbohong bahwa dia akan datang sendirian, tanpa saya, dan gebetan saya juga minta ke sahabat saya agar saya jangan diajak.

Jarak dari jalan raya, di mana kami turun dari angkutan perkotaan, ke kompleks itu cukup jauh, namun karena tidak ada moda transportasi selain becak, saya dan sahabat saya pun berjalan kaki saja. Sampai di jalan di mana rumah gebetan saya beralamat, saya membiarkan sahabat saya meneruskan langkahnya ke rumah doi sementara saya menunggu nasib di sebuah Poskamling yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah doi, di pertigaan.

Hampir dua jam sahabat saya berada di rumah gebetan saya. Ketika dia muncul, dia langsung mengajak saya pulang, dan menolak menceritakan saat itu apa saja yang menjadi subjek pembicaraan dia dengan gebetan saya. Dia hanya menyebutkan bahwa kado saya sudah dia serahkan dan gebetan saya mengucapkan terima kasih.

Tiga hari kemudian, sahabat saya baru membeberkan semuanya, yang membuat saya patah hati, kecewa, marah, sedih dan tertekan sampai pada titik saya ingin bunuh diri. Saya membutuhkan kurang lebih tiga bulan untuk mengatasi kesedihan saya, lebih karena dipaksa oleh kenyataan bahwa saya harus menyelesaikan skripsi saya tahun itu juga, dengan tenggat waktu akhir Juni. Berkat perkenalan saya dengan cewek yang kelak menjadi istri saya, pada bulan Oktober, kesedihan saya tidak berlarut-larut. Pengalaman menyakitkan hati itu tenggelam di alam oblivion.©2025


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 27 November 2025

Membuka Lembaran Sejarah

DALAM sebuah reuni teman-teman kuliah saya di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia, pada September 2014, sejumlah rekan alumni menyatakan penasaran mereka tentang saya masuk Subud. Mereka tahu bahwa semasa kami masih kuliah dulu saya bukanlah orang yang religius maupun memiliki minat terhadap spiritualitas.

Saya katakan pada mereka, sedikit berseloroh, bahwa studi sejarah yang saya peroleh di bangku kuliah diperkuat sejak saya masuk Subud. Nyatanya, memang benar, Subud itu bagi saya seperti membuka lembaran-lembaran sejarah pribadi saya. Saya yang tadinya tidak peduli siapa saja leluhur saya dan apa saja sepak terjang mereka di masa lalu, sejak membaca/mendengarkan ceramah-ceramah Bapak saya termotivasi untuk mencari tahu.

Proses-proses yang terjadi di diri saya, secara lahiriah maupun spiritual, juga mendorong saya untuk mencari tahu lebih banyak apa atau siapa gerangan yang menurunkannya. Dan Latihan benar-benar menunjukkan “jalan kembali” itu ke saya, melalui berbagai kejadian dalam hidup saya sejak dibuka. Menelusuri jalan kembali itu tidak selalu menyenangkan, malah bagi saya terasa menjengkelkan (tak jarang saya mengutuk Tuhan, mengapa takdir saya begitu buruk), meletihkan, sehingga saya kadang harus “melempar handuk” untuk mengakhiri pertarungan.

Bagaimanapun, saya tetap bersyukur telah dipertemukan dengan Subud, karena dengan begitu saya jadi memiliki sejarah. Seorang pembantu pelatih senior di Wisma Subud Cilandak pernah berbagi ke saya bahwa dia yang tidak tahu sejarah, tidak punya kehidupan.©2025


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 27 November 2025

Monday, November 24, 2025

Latihan Adalah Pembangkit Listrik Kreatif

DI resume pekerjaan saya tercantum keterangan bahwa saya aktif di Subud. Apakah ada relevansinya dengan pekerjaan saya? Tentu saja ada!

Sementara banyak sekali saudara Subud saya di Indonesia enggan mengakui terus terang keterlibatan mereka di Subud, baik kepada teman-teman non Subud mereka maupun kepada relasi-relasi bisnis mereka. Ada kekhawatiran pada diri mereka bahwa keaktifan mereka di Subud dapat mengganggu kenyamanan mereka. Seorang saudari Subud yang dibuka pada 14 September 2024 bercerita ke saya bahwa kalangan pergaulan sosial dia di luar Subud menganggap bahwa dia telah bergabung dengan sekte sesat. Saudara lainnya mengatakan bahwa ia ditegur keras oleh ustaz di pengajian yang dia ikuti bahwa Subud tidak sesuai akidah Islam dan dia bahkan sempat dirukyah (pengusiran setan ala Islam) oleh sang ustaz, tetapi karena ia dalam keadaan Latihan malah sang ustaz terpental. Kejadian itu membuat sang ustaz berkesimpulan bahwa saudara itu telah dirasuki jin yang sangat kuat.

Sebagian besar anggota Indonesia yang dengan mereka saya pernah bicara, menutup-nutupi keaktifan mereka di Subud dari para rekan kerja, majikan mereka, dan klien-klien mereka (jika mereka bekerja di sektor jasa). Kekhawatiran dianggap “pengikut aliran sesat” merupakan alasan utama mereka. Anggapan itu, mereka khawatirkan, dapat menciptakan stereotipe tertentu terhadap mereka.

Tetapi mengapa saya berani blak-blakan menyatakan bahwa saya anggota Subud di resume saya, bahkan dalam wawancara pekerjaan? Karena memang saya mendapat banyak sekali manfaat dari Latihan Kejiwaan dalam pekerjaan saya dalam bidang kreatif (saya mencari nafkah sebagai Copywriter, Branding Strategist dan Sustainability Communication Specialist). Banyaknya anggota di Cabang Jakarta Selatan khususnya, yang juga berkarier di industri periklanan, branding atau komunikasi pemasaran, membuat saya berpikir, jangan-jangan Latihan Kejiwaan Subud membangkitkan “listrik” kreatif yang tak terbatas.

Di salah satu wawancara untuk posisi Creative Director di sebuah biro iklan berskala menengah di Jakarta tahun 2005, Direktur Utama yang mewawancarai saya membaca dalam resume saya bahwa saya anggota Subud. Dia rupanya kenal baik dengan seorang praktisi periklanan kawakan Indonesia yang juga di Subud, dan menganggap bahwa saya, seperti halnya si praktisi periklanan kawakan itu, memiliki kemampuan “dari luar dunia ini”. “Dia sudah mendapat idenya bahkan sebelum klien memberi briefnya! Berarti Anda juga seperti dia, ya? Kan kalian sama-sama di Subud!” sergah si Direktur Utama. Saya menyambutnya dengan tertawa seraya menjawab, “Bukan begitu cara kerjanya, Pak.”

Saya baru-baru ini terkenang kembali obrolan saya dengan almarhum Pak Asikin (salah satu asisten Bapak ketika perjalanan pertama beliau ke Coombe Springs, Inggris, tahun 1957) pada Agustus 2005. Saya mengeluhkan kepada Pak Asikin perihal krisis saya yang membuat saya melihat keberadaan makhluk-makhluk gaib yang menyeramkan di mana saja saya berada dan kapan saja. Pak Asikin memberi tahu saya bahwa saya bisa memohon kepada Tuhan agar kemampuan melihat makhluk gaib itu diganti dengan sesuatu yang lain yang lebih bermanfaat. Anjuran beliau saya ikuti; saya meminta “makhluk gaib bernama Ide”.©2025


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 25 November 2025

Sunday, November 23, 2025

Surat Cinta Buat Kamu dan Tuhan

Kepada...

 

DI sunyi Senin dini hari, usai menyantap sahur, aku menulis ini. Keheningan awal pagi tak pernah gagal membawa rindu. Rindu kepada senyummu, tutur lembutmu dan Getar Kekuasaan-Nya yang mengisi dirimu. Rindu yang melekatkanku dalam perenungan di sepanjang sisa gelap malam.

Rinduku ini bukan sebagai tuntutan yang gelisah, bukan pula sebagai hasrat yang ingin merobek garis takdirmu. Aku menulisnya sebagai pengakuan, sebuah persembahan yang murni dari palung jiwaku, tempat cinta dan hakikatnya bertemu.

Kamu tidak hanya membangkitkan rasa sayang; kamu telah membangkitkan kerinduan terdalam dalam jiwaku: Kerinduan akan Cinta yang Tak Bertepi, Cinta yang Menciptakan, Cinta yang Maha Murni. Melalui pendar cahaya dirimu, aku mulai melihat pantulan Cinta Ilahi yang lebih mulia.

Namamu sungguh mewakili apa yang kurasakan. Ia adalah gelar bagi Yang Maha Tinggi, bagi segala yang suci, megah, dan tak tergapai oleh tangan dan akal budiku, namun begitu dekat di dalam jiwa. Kamu adalah taswir sempurna dari keindahan ciptaan-Nya. Dalam senyummu, aku melihat Kemurahan Tuhan yang tak terbatas. Dalam bening matamu, aku menemukan cerminan dari Kasih Pertama yang melahirkan alam semesta.

Kamu hadir, bukan sebagai sesuatu yang ingin kumiliki, melainkan sebagai ejawantah luhur dari segala yang patut kucintai di dunia ini. Yang kurasakan selama ini adalah cinta yang tidak butuh janji temu, tidak butuh pengakuan status, apalagi ikatan. Cintaku padamu mengandung makna yang paling hakiki: sebuah tangga menuju pemahaman akan Keindahan sejati. Aku mencintaimu bukan untuk diriku sendiri, tetapi dengan mencintaimu, aku belajar mencintai Tuhan dan segala Ciptaan-Nya dengan lebih mendalam.

Aku tak bisa memilikimu, dan aku tak ingin. Ada cinta yang ingin memeluk dan memiliki, dan ada cinta yang harus dibiarkan bebas, seperti udara, agar ia dapat membawa kita lebih tinggi. Cintaku padamu, adalah jenis cinta yang kedua.

Kamu adalah Bintang Sempurna yang terangnya selalu kubaca dan kucintai, namun orbitmu telah sempurna, terikat pada takdir yang begitu kokoh dan indah. Tugas dan posisimu di angkasa raya telah mencapai pungkas. Aku mencintaimu, bukan untuk mengubah garis edarmu, melainkan untuk mengagumi keutuhan putaranmu di angkasa.

Keindahan sejati tak pernah bisa diikat; ia harus dibiarkan bebas, bersinar dalam bingkai takdirnya sendiri.

Aku melihatmu sebagai sebuah lukisan mahakarya yang telah selesai ditetapkan, diletakkan pada dinding takdir yang paling mulia. Tugasku bukan mengambil lukisan itu, melainkan mengagumi keutuhannya dari jauh, meresapi setiap sapuan kuas yang telah menentukan posisinya. Keutuhanmu justru menjadikanku lebih jangkap dalam mencintai.

Kerinduan yang kurasakan tidak menyiksaku. Rindu yang kupunya untukmu adalah kuil hati tempatku bersemadi. Ia adalah pengingat bahwa di balik segala gaduh mayapada, ada sebentuk kemurnian abadi yang tak lekang oleh waktu dan tak tercerai oleh hak.

Aku mencintaimu karena kamu adalah keajaiban yang ada, terlepas dari apakah kamu milikku atau bukan. Cinta yang kupunya untukmu mengajarkanku bahwa cinta sejati tidak pernah berakhir pada orang yang kita cintai, tetapi selalu menjadi perjalanan pulang menuju Sumber segala cinta.

Terima kasih telah menjadi alasan bagiku untuk memahami bahwa cinta sejati bukanlah memiliki, melainkan menerima. Mencintaimu membuatku menerima keberlimpahan Kasih Ilahi yang membuatku kuat sekaligus sabar, tawakal dan ikhlas.

Aku hanya bisa mendoakanmu: Semoga kamu selalu dalam lindungan Kasih Semesta, dan semoga hidupmu adalah cerminan dari damai yang abadi.

Dengan segala hormat dan rindu yang damai,

Seseorang yang mencintaimu dalam sunyi,

yang melalui dirimu, mencintai Yang Maha Kuasa.


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 24 November 2025

Tuesday, November 18, 2025

Beda Generasi, Beda Pengalaman

SEKITAR sebulan setelah dibuka, saat menunggu waktu Latihan di teras Wisma Subud Surabaya, Jawa Timur, saya ditanya oleh seorang pembantu pelatih senior apakah saya sudah memiliki pengalaman dengan Latihan. Bersama saya, ada tiga anggota lainnya—yang paling lama baru setahun di Subud—dan mereka juga mendapat pertanyaan yang sama. Semua tidak segera menjawab; tiga anggota lainnya itu hanya menggelengkan kepala.

Akhirnya, saya mengacungkan jari, meminta kesempatan untuk berbicara. Saya menceritakan sebuah pengalaman terkini saat itu. Suatu ketika, keuangan rumah tangga saya menipis dan saya sedang tidak ada pemasukan (saat itu saya bekerja sebagai freelance copywriter). Istri pun terpaksa membuat menu makan siang kami yang sangat sederhana: Nasi putih dengan lauk ikan asin goreng dan sambal. Istri saya sungguh-sungguh minta maaf kepada saya karena hanya itu yang bisa dia sediakan. Saat itulah, saya menerima pengertian: Bahwa bukan makanannya yang memberi nikmat, melainkan rasa syukur atas apa pun yang ada.

Segera setelah saya berucap syukur di dalam hati, saya merasakan makanan sederhana itu terasa sangat lezat, tak ubahnya saya menyantap steik yang mahal.

Selesai saya bercerita, dan si pembantu pelatih memuji penceritaan saya, tiga anggota lainnya baru berucap “ooohh!” hampir bersamaan. Salah satu dari mereka, yang sudah lebih dulu setahun di Subud dari saya, mengatakan, “Saya pikir pengalaman di Subud itu hanya kalau ketemu makhluk halus, malaikat atau yang aneh-aneh.”

Saya dikenal di kalangan anggota dan pembantu pelatih di Subud Indonesia sebagai “orang yang memiliki banyak sekali pengalaman dengan Latihan”, sehingga kerap dirujuk sebagai referensi bagi anggota, pembantu pelatih maupun kandidat. Tapi sebaliknya saya mendorong mereka agar “mengalami sendiri”, karena saya tidak mau pengalaman saya menjadi “ajaran” bagi orang lain.

Saya baru-baru ini membantu copy editing naskah terjemahan Bahasa Indonesia dari Jilid 2 History of Subud, yang menceritakan perjalanan Bapak keliling dunia. Banyak sekali kisah pengalaman “aneh-aneh” bertebaran dalam naskah itu, dari mereka yang dibuka pada masa-masa awal Subud di luar Indonesia. Tetapi rupanya kisah-kisah “dunia lain” itu memiliki efek dahysat hanya pada masa itu, dan beberapa generasi sesudahnya. Generasi terkini, kaum Milenial dan Gen-Z, yang belakangan ini, di kota-kota besar di Indonesia, berbondong-bondong masuk Subud, rupanya tidak begitu terkesan dengan kisah-kisah hebat itu. Mereka mencari yang “relate” dengan kehidupan mereka saat ini: pekerjaan, percintaan, pergaulan, keuangan, perjalanan, masalah kesehatan mental yang marak di kalangan mereka, dan keluarga.

Tanggal 16 November 2025, di Cilandak, dibuka dua kandidat pria. Salah satunya adalah teman saya semasa kuliah dulu, dan karena itu seusia saya, sedangkan kandidat lainnya berumur 23 tahun, seorang Gen-Z. Teman saya masih suka dengan kisah-kisah pengalaman Latihan dalam kaitan dengan “dunia lain”, sementara si Gen-Z, yang lagi asyik berkarier di sebuah perusahaan otomotif raksasa asal Jepang itu, meminta saya bercerita tentang pengalaman Latihan yang relate dengan dia. Saya sempat menyatakan keheranan saya padanya, mengapa baru setelah dibuka dia meminta hal itu. Menurut dia, masa tunggu tiga bulan dia (12 kali pertemuan kandidat kalau di Cabang Jakarta Selatan, satu kali per minggu di hari Minggu pagi) dia lalui dengan membosankan karena berhadapan dengan para pembantu pelatih tua yang menceritakan secara buku teks (mengutip ceramah Bapak) dan minim pengalaman dengan Latihan yang relate dengan kekinian.

Tampaknya, organisasi Subud harus membenahi “pintu masuk”-nya yang belakangan sering diketuk oleh generasi terkini.©2025


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 19 November 2025

Friday, November 14, 2025

13 Bukan Angka Sial

 


BERPULUH tahun lalu, sebagai mahasiswa S1, seperti halnya banyak teman sebaya saya, saya mengerahkan tenaga dan waktu saya untuk ikut dalam “perlombaan” menulis artikel untuk dimuat di media cetak ternama, seperti Kompas, Sinar Harapan (kemudian jadi Suara Pembaruan), Media Indonesia, Tempo, Gatra, Kartini, Femina, Teknologi & Strategi Militer (Grup Sinar Harapan) dan Angkasa (Grup Kompas-Gramedia).

Ada suatu kebanggaan tersendiri bila artikel kita dimuat di media cetak tersebut. Bukan soal honornya, tetapi kepuasan dalam perasaan pribadi bahwa keahlian menulis kita diakui oleh lembaga yang valid. Sehingga, meskipun ditolak berkali-kali, hal itu tidak menyurutkan langkah saya.

Entah benar atau hanya legenda urban, koran Kompas menjadi acuan utama bagi banyak penulis karena statusnya sebagai media besar dengan reputasi yang mapan dan terpercaya, serta ruang publikasi yang prestisius untuk karya sastra dan jurnalistik. Banyak penulis menganggap penerbitan di Kompas sebagai pengakuan kualitas dan pencapaian profesional, sehingga mereka seringkali berusaha mengirimkan karyanya ke sana. 

Di sepanjang karier kepenulisan saya, baru dua kali karya tulis saya dimuat di koran harian Kompas, dalam bentang jarak waktu yang panjang. Yang pertama, “Tendensi Feminisme Baru” dimuat pada 18 Desember 1995, dan yang kedua “Spiritualitas Perkotaan”, bulan Juni 2005.

Yang menarik adalah kisah tentang dimuatnya artikel pertama saya di Kompas. Saya mengirimnya 12 kali, setiap kali menjelang Hari Kartini 21 April dan Hari Ibu 22 Desember, dan 12 kali pula ditolak oleh Redaksi dengan alasan “Tidak Aktual”. Setiap kali ditolak, saya baca ulang, melakukan perbaikan yang perlu, dan saya kirim lagi ke alamat Redaksi Kompas.

Kali ke-13, saya, yang sudah bosan melakukan perbaikan, hanya mengganti judulnya, menjadi “Tendensi Feminisme Baru”. Tulisan “Baru” saya cantumkan setelah mempertimbangkan “aktualitas” yang dituntut Redaksi Kompas, meskipun sebenarnya tidak ada yang baru pada artikel tersebut. Kebetulan saat itu, saya baru mengawali karier sebagai Copywriter di sebuah biro iklan multinasional di Jakarta. Saya belajar dari Creative Director-nya, yang orang Selandia Baru, bahwa “kecuali headline-nya bagus, tidak ada orang yang akan membaca badan naskah”.

Trik itu saya gunakan dalam upaya ke-13 saya agar artikel saya dimuat di Kompas, digabungkan dengan tuntutan aktualitas dari Redaksinya. Puji Tuhan, artikel yang sama, yang telah ditolak 12 kali, akhirnya dimuat. Angka 13 terbukti bukan angka sial.©2025


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 14 November 2025

Thursday, November 13, 2025

Menangis Bersama Tuhan

 

Di sudut malam yang sunyi sepi,

di mana bayangan berbisik lirih,

aku menengadah, hati teriris,

memeluk beban, memendam tangis

Pasangan yang dulu berjanji setia,

menoleh pergi, membawa cahaya

Anakku, cermin jiwa dan raga,

menjauh langkah, tak sudi menyapa

Saudara kandung, darah yang mengalir,

jadikan cacatku sebagai satir

“Kamu kurang ini,” “Kamu salah di sana,”

Setiap ucapan bagai belati yang menusuk lara

Lingkaran keluarga,         

mengangkat tembok, memutus cerita

Semua mata menilai, semua lisan menghukum

Dalam sepi, jiwaku merangkak, terpuruk mendalam

 

Namun, saat dunia memalingkan wajah,

saat setiap pintu tertutup dan rekah,

ada satu tempat, teduh dan abadi,

di mana tangisku tak pernah dicaci

Di dalam gelap, aku berlutut, menyerah,

mencurahkan duka yang tak tertahankan

 

Bukan suara manusia yang menjawab lirih,

Tapi sentuhan damai, di relung hati yang pedih

“Anak-Ku,” suara itu begitu lembut

Bukan penghakiman, bukan celaan terselubung

“Ku tahu segala kekurangan yang kau pikul,”

“Ku tahu sakitnya dicabut dari sekumpul”

 

Air mata tumpah, bukan karena malu,

namun karena kasih tak bertepi yang merangkul

Di situ, aku tak lagi sendirian

Bersama Tuhan, ku temukan perlindungan

Dunia mungkin melihat kepingan yang hilang,

kekurangan dalam tingkah, cela yang terbayang

Tapi Tuhan melihat hati yang remuk redam,

melihat potensi, di balik kelam

Aku menangis, dan air mata itu suci,

dibasuh oleh Rahmat, oleh Cinta yang sejati

Menangis bersama Tuhan, sebuah pengakuan,

bahwa di tengah penolakan, ada penerimaan.

 

Tuhan adalah rumah bagi jiwa yang terbuang,

Kasih-Nya utuh, tak pernah terhalang

Meski semua pergi, dan hati terbelah dua,

di pelukan-Nya, ku temukan harga

Aku bangkit, masih dengan luka yang membekas,

Namun kini aku tahu, Kasih-Nya takkan terlepas

Biarlah dunia menghukum, biarlah mereka menjauh,

sebab yang terpenting, kasih Tuhan selalu utuh...

 

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 14 November 2025

Saturday, November 8, 2025

Belajar Pada Diri Sendiri

SEJAK menerima Latihan, saya mulai merasa alergi pada yang namanya belajar pada orang lain, baik secara tatap muka (live) maupun melalui membaca literatur. Makin ke sini, yang ingin saya ketahui atau pelajari, segera saya mendapat bimbingan ke arah subjek ajaran.

Seperti pengalaman saya tadi malam. Sebelum tidur, saya teringat cerita dari Stuart Cooke bahwa kalau ia galau ia akan membaca buku Susila Budhi Dharma. Saya kebetulan menyimpan PDF buku tersebut di ponsel saya, dan itulah yang saya baca. Saya membaca bait-bait yang berbahasa Jawanya, walaupun saya tidak paham bahasa Jawa.

Saya baca yang pupuh Kinanti, yang memiliki 60 pada (bait), tentu dengan ketidaklancaran yang parah, karena saya tidak familiar dengan tulisan latin dari bahasa Jawa. Bahkan saya sendiri tidak suka mendengar suara saya saat melisankan bacaan itu. Saat itulah, saya membatin: “Seharusnya saya ikut kegiatan Mocopatan di Wisma Subud tiap hari Minggu, belajar di situ aja cara membacanya dan nembang.”

Tiba-tiba, saya merasakan sesuatu menggerakkan mulut dan pita suara saya. Di luar dugaan saya, saya mulai nembang dengan pengucapan kata-kata bahasa Jawa yang lancar mengalir, smooth, dan getaran pada suara saya terasa merasuk ke dalam diri saya, menyebar ke semua persendian dan saluran peredaran darah saya. Saya jadi tidak ingin buru-buru menyelesaikan (seperti halnya bila saya bosan).

Mulut saya dengan ahli mengatur pola melodi atau alunan nada yang meliuk-liuk dan bervariasi, yang terasa indah. Hal itu jelas tidak bisa saya lakukan bila saya mengandalkan pikiran.©2025


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 8 November 2025

Tuesday, November 4, 2025

Menangis di Ruang Ujian

MESKI tidak sedikit yang menunjukkan kekaguman begitu mengetahui bahwa saya berkuliah di Universitas Indonesia, sebuah perguruan tinggi negeri terkemuka yang diincar banyak sekali—kalau tidak bisa dikatakan semua—lulusan SMA, saya bukanlah mahasiswa terpandai di sepanjang karier kemahasiswaan saya di Universitas Indonesia. Dua semester ganjil pertama saya, saya terancam dropout (DO) karena Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) saya di bawah 1,75. Saya jadi harus belajar ekstra keras agar terhindar dari DO, yang tentunya akan membuat orang tua saya malu dan kecewa.

 



Tetapi memang saya lebih banyak main dan nongkrongnya, alih-alih kuliah yang rajin. Pada matakuliah-matakuliah wajib, yang karena itu saya ambil dengan terpaksa meski pengajarannya membosankan, seringnya saya menitip pada teman untuk menorehkan tanda tangan di daftar presensi. Alhasil, ya, nilai ujian saya pun tergolong rendah.

Bahkan ketika menyaksikan sejumlah senior saya—yang sebelumnya saya pandang sebagai mahasiswa super pintar—berguguran dalam ujian komprehensif (ujian lisan seluruh matakuliah wajib Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia atau FSUI), saya tetap santai dan kerap bolos kuliah. Namun, ketika saya sendiri menghadapi ujian kompre (demikian sebutan populernya di kalangan mahasiswa FSUI kala itu), barulah saya kelabakan.

Sebuah surat pemberitahuan yang diterbitkan Jurusan Sejarah FSUI dan ditujukan ke saya terasa bagaikan “surat perintah pelaksanaan hukuman mati” dalam waktu yang singkat. Ya, memang, waktu yang tersedia bagi saya untuk membaca 53 literatur wajib kompre hanya dua minggu, sedangkan sebagian besar dari jumlah literatur itu belum pernah saya baca sebelumnya.

 




Satu sahabat saya, Januar, lantas memaksa saya mengikuti “pemusatan latihan nasional” (Pelatnas) di bawah bimbingannya. Sahabat saya, yang bagi sebagian besar mahasiswa Sejarah FSUI menyebalkan itu, sejatinya memiliki rasa kesetiakawanan yang tinggi. Saat itu, dia sudah lolos dari ladang pembantaian kompre dan tengah menuntaskan penyusunan skripsinya.

Di bawah gemblengannya, saya termotivasi untuk mengatasi rasa malas saya. Saya menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari, termasuk akhir pekan, untuk membaca ke-53 literatur wajib tersebut. Diselingi pendalaman melalui diskusi dengan sang mentor—yang mengancam akan memutuskan persahabatan kami bila saya gagal kompre akibat kebodohan dan kemalasan saya.

Tanggal 2 November 1992, siang, saya memasuki ruang ujian di lantai 2 Gedung III Kampus FSUI Depok, Jawa Barat. Panitia ujiannya terdiri dari dosen-dosen yang terkenal “killer”. Pertanyaan demi pertanyaan mencecar saya, kebanyakan membuat saya tersudut karena kurang siap. Bayangkan, pertanyaannya kadang terkesan usil: “Anda sudah baca Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI? Sebutkan Daftar Isinya!”

Tentu saja, saya kelabakan, karena selama Pelatnas dua minggu itu, saya tidak terpikir sama sekali untuk menghafal daftar isi.

Usai kompre, saya dipersilakan meninggalkan ruang ujian, sementara para dosen penguji berunding untuk meloloskan saya atau tidak. Di luar ruang ujian, saya menahan tangis di depan dua sahabat saya, Januar dan Adi Nusferadi. Terbayang oleh saya, saya harus mengulang kompre. Setiap mahasiswa diberi kesempatan mengulang dua kali secara lisan, dan sekali dengan presentasi makalah. Bila gagal juga di presentasi makalah, mahasiswa harus dropout.

Ketika saya dipanggil masuk ruang ujian lagi, saya tidak dapat menahan air mata saya. Ketua Panitia Ujian, Pak Soetopo Soetanto, melihatnya dan bertanya, “Anda kenapa?”

“Maafkan saya, Pak, saya nangis. Saya benar-benar nggak siap,” kata saya sesenggukan.

“Saya kira Anda harusnya menangis bahagia...,” kata Pak Topo, “...karena kami memutuskan Anda lulus dengan nilai C. Selamat ya. Semoga Anda lebih baik lagi di sidang skripsi nanti.”

Di situ saya benar-benar meluapkan tangis saya.©2025


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 4 November 2025

Monday, November 3, 2025

“Inner Bag”

 


BEBERAPA waktu lalu, istri membelikan tas ransel buat saya melalui toko daring. Saya memang penyuka ransel karena tidak mengganggu gerakan saya ketika berkendara roda dua atau berjalan kaki. Ransel yang dibelikan istri tergolong murah, dengan kantong untuk botol air di kedua sisinya dan tiga kompartemen besar serta kantong untuk laptop di bagian dalamnya.

Bagaimanapun, bagi saya jumlah kompartemennya masih kurang, terutama untuk menyimpan barang-barang printilan (antara lain dompet, ponsel, kotak kartu nama dan kotak kacamata). Tak kehabisan ide, saya selipkan tas pinggang saya yang memiliki cukup banyak kompartemen ke dalam bagian paling besar dari ransel itu, dan ternyata pas. Ketika saya ceritakan hal ini ke istri, dia berkomentar, “Oh itu inner bag namanya.”

Istri selanjutnya menjelaskan bahwa inner bag adalah tas kecil atau kantong yang dimasukkan ke dalam tas yang lebih besar untuk membantu mengatur dan memisahkan barang-barang agar tetap rapi.

Inner bag pouch adalah tas kecil dengan banyak kompartemen untuk menyimpan barang-barang penting seperti dompet, ponsel, dan kunci agar lebih mudah diatur di dalam tas yang lebih besar seperti ransel atau tote bag.

Saya belajar hal baru lagi nih. Mungkin sudah banyak yang tahu dan saya ketinggalan informasi, tapi tak apalah, yang penting pengetahuan ini berguna bagi saya.©2025


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 3 November 2025

Sunday, November 2, 2025

Pesan Whatsapp Kepada Pembantu Pelatih Senior New York

 



Berikut adalah pesan WhatsApp saya kepada seorang bule Amerika Serikat yang merupakan pembantu pelatih Subud New York yang sudah sepuluh tahun tinggal di Indonesia. Pesan aslinya dalam bahasa Inggris...

 

HI S, tadi malam, saya bermalam Minggu di Nasi Kulit Ayam Gokskin Cilandak Barat, bersama beberapa anggota dan pembantu pelatih dari Jakarta Selatan, Pusat, Timur dan Bogor (karena hujan sejak magrib, banyak yang berhalangan hadir). Tetapi yang luar biasa adalah kesediaan Pembantu Pelatih Daerah Cabang Jakarta Selatan, Pak RAP, dan Pembantu Pelatih Daerah Cabang Jakarta Pusat, LU, untuk memenuhi undangan saya untuk menemani gathering santai para anggota ini.

Saya salut dengan Pak RAP yang demi memenuhi permintaan anggota sampai rela mencari penginapan di dekat Wisma Subud Cilandak untuk beliau dan istri menginap, karena beliau tahu bahwa gathering di Gokskin selalu sampai larut malam. Rumah beliau sendiri cukup jauh, di Bekasi.

Karena gathering-nya santai, dan yang mengadakan adalah para anggota yang tergabung dalam grup WhatsApp “Subud 4G” (yang saya buat sejak tahun 2016 dan saya salah satu adminnya), maka terjadilah momen berbagi yang menurut saya “blak-blakan”, tidak ada “menahan diri”. Pak RAP tahu bahwa Cabang Jakarta Selatan menjadi sorotan terutama karena rendahnya kualitas para pembantu pelatih dalam memenuhi tugas dan tanggung jawab mereka, termasuk melanggar banyak petunjuk Bapak kepada pembantu pelatih.

Pak RAP sendiri ada di grup WhatsApp Subud 4G dan membaca (silent reader) berbagai komentar miring mengenai kualitas dan kondisi para pembantu pelatih Jakarta Selatan. Tetapi, seperti kata Harris Roberts, selaku Pembantu Pelatih Daerah, Pak RAP benar-benar bekerja. Beliau tidak tinggal diam dengan ulah sebagian besar pembantu pelatih Jakarta Selatan yang merugikan kandidat dan anggota. Beliau mengakui, tidak sedikit pembantu pelatih Jakarta Selatan yang “menjadi pembantu pelatih hanya sekadar ingin memiliki ‘gelar’ itu” atau menganggapnya sebagai jabatan dengan kekuasaan atas anggota.

Beliau bercerita semalam bahwa secara bertahap beliau dan segelintir pembantu pelatih yang berpihak padanya melakukan upaya-upaya untuk mengubah keadaan ke arah yang lebih baik. Beliau meminta kerja sama dari yang hadir tadi malam, terutama yang dari Cabang Jakarta Selatan, untuk duduk bersama membahas apa yang kiranya bisa dilakukan, sehingga saya bercerita kepada beliau apa yang kamu, saya dan Harris upayakan pula.

Insiden RU marah dan mengusir kamu dari pertemuan kandidat ternyata juga dibahas dalam Rapat Cabang Jakarta Selatan pada hari Minggu, 26 Oktober 2025. Tetapi LU (yang hadir sebagai undangan mewakili Cabang Jakarta Pusat) dalam kesempatan itu telah menyampaikan kritiknya terhadap cara RU menangani keadaan, karena terjadi di depan para kandidat, yang menyaksikan pertengkaran di antara para pembantu pelatih sehingga mungkin dapat mempengaruhi pandangan mereka terhadap Subud. Pak RAP menyesalkan kejadian itu dan merasa seharusnya RU bisa menyelesaikan secara baik-baik, apalagi dia berpengalaman sebagai Pembantu Pelatih Daerah dan Pembantu Pelatih Nasional.

Saya rasa, dalam pertemuan kita berikutnya kita ajak pula Pak RAP dan para pembantu pelatih yang berpihak pada upaya beliau, seperti IH (pemilik Gokskin).©2025


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 2 November 2025

Memungut Pelajaran di Jalan

TADI malam, usai gathering Back to Babble (B2B) di Nasi Kulit Ayam Gokskin, Jl. Caringin Barat No. 13, Cilandak Barat, Jakarta Selatan, saya tidak langsung pulang, melainkan mengantar teman saya yang masih ngandidat ke apartemennya di Jl. Puri Sakti II, Cipete Selatan.

Saya sempat cemas begitu melihat penunjuk BBM motor saya sudah mendekati E (habis), sedangkan jarak yang harus saya tempuh masih lumayan jauh. Saya dan teman saya meninggalkan Gokskin mendekati jam 00.00, yang saya perkirakan tidak ada stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang masih buka. Akhirnya, yah, saya pasrah saja.

Keluar dari Jl. Melati yang bermuara di Jl. RS Fatmawati, saya pacu motor saya ke arah utara agar bisa lewat Jl. Cipete Raya. Karena belokan dari Jl. RS Fatmawati ke Cipete Raya sudah lama ditutup, saya hanya bisa memutar balik di U-Turn lebih dari 1,5 km dari jalan akses ke Cipete Raya yang sudah ditutup itu. Yang menjadi patokan saya adalah kedai kopi Tokonoma di sisi kiri Jl. RS Fatmawati ke arah Blok M—U-Turn-nya berada di depannya. Tetapi saya kebablasan. Menyadari bahwa U-Turn itu terlewat oleh saya, padahal saya sudah memberi sinyal lampu kanan, saya mengutuk diri saya sendiri, karena jarak tempuh motor saya jadi semakin jauh, sementara penunjuk ketersediaan bensin di tangkinya sudah “berteriak” minta diisi.

Bagaimanapun saya tetap memacu motor saya dalam kecepatan sedang, supaya tidak terlewat lagi U-Turn berikutnya. U-turn berikutnya terletak sekitar 500 m dari U-Turn sebelumnya (yang di depan Tokonoma). Saya berbelok di situ, masih menggerutu dan mengutuk kebodohan saya. Tiba-tiba kekesalan pada diri saya sendiri sirna begitu melihat SPBU Pertamina, sekitar 270 m dari U-Turn itu. “Puji Tuhan!” batin saya.

Setelah itu, suara diri saya berkata, “Bukankah kamu mencari pom bensin? Kenapa marah begitu kamu diarahkan menuju tempat yang kamu cari?! Ingat, Tuhan tidak pernah salah memberi petunjuk! Ego kamu saja yang tidak suka dengan petunjukNya, karena kamu sering memilih mengikuti apa yang menurutmu benar, alih-alih yang menurut Tuhan itu baik bagimu!”©2025


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 2 November 2025