DITRAKTIR makan siang oleh pembantu pelatih Subud Kelompok Cilengkrang, Bandung, Jawa Barat, pada 15 Februari 2025 lalu, saya dan lima saudara Subud dari Jakarta (di antaranya ada Kadariah Trúc Đào Nguyên dari Subud Vietnam) mampir di Batagor Haji Yunus di Jl. Kopo Raya, Bandung. Usai makan dan hendak balik ke Hall Cilengkrang, saya permisi ke toilet dahulu.
Ada dua bilik toilet di rumah makan itu, dan saya memasuki salah satunya secara acak, namun melihat ikon wanita di pintunya saya lantas pindah ke bilik sebelahnya yang di pintunya terdapat ikon pria. Saya masuk dan kemudian menutup pintunya, namun tersentak dan tertawa dalam hati. Saya telah terkena pengaruh meme—yang merupakan produk dari daya benda!
Fasilitas yang mengisi kedua bilik toilet itu sama persis; yang membedakan hanya ikon jenis kelamin pada pintu-pintunya. Ikon itu hanya gambar simbol yang telah menancap di benak orang selama sekian lama sebagai tanda pembeda, walaupun isi bisa saja sama.
Disebut pertama kali dalam buku karya Richard Dawkins, berjudul The Selfish Gene (1976)—dan karena itu sang biolog perilaku dari Universitas Oxford, Inggris, itu dipandang sebagai pencipta konsepnya, meme adalah gagasan, perilaku, atau gaya yang menyebar melalui peniruan (imitation) dari orang ke orang dalam suatu budaya dan kerap mengandung makna simbolis yang merepresentasi fenomena atau tema tertentu. Meme bertindak sebagai sebuah unit untuk membawa gagasan-gagasan, simbol-simbol, atau praktik-praktik budaya, yang dapat ditularkan dari pikiran yang satu ke yang lainnya melalui tulisan, ucapan, gestur, ritual, atau fenomena-fenomena peniruan lainnya dengan tema yang dimimikkan. Para pendukung konsep ini memandang meme sebagai analogi budaya dari gen karena meme berreplikasi dengan sendirinya, bermutasi, dan merespons tekanan-tekanan yang terseleksi.
Meme yang dikonsepkan Dawkins ini berbeda pengertian dari “meme internet” dalam bahasa populer dewasa ini, meskipun memiliki sifat penyebaran yang sama, yaitu sebuah citra atau gambar yang dibaurkan ulang, disalin dan diedarkan dalam pengalaman budaya bersama secara daring (online).
Dalam bukunya, Virus of the Mind: The New Science of the Meme (2004), Richard Brodie antara lain menulis tentang sejumlah contoh dari pengaruh meme pada orang, antara lain bahwa lampu hijau berarti “jalan” atau “lanjutkan” dan merah bermakna “berhenti”. Sejak diciptakan oleh Lester Wire, seorang polisi dari Salt Lake City, Utah, Amerika Serikat, pada 1912, makna simbolis dari lampu hijau-kuning-merah telah memaksa orang untuk tertib berlalu lintas. Selama lebih dari 110 tahun, gagasan ini bereplikasi dari pikiran ke pikiran, hingga bahkan konsep “lampu hijau” telah masuk dalam perbendaraan kiasan bahasa Inggris dan Indonesia, khususnya, yang berarti “persetujuan”.
Selama berabad-abad, para penguasa (politik, agama, militer, dan lain-lain) telah secara sadar maupun tidak sadar menggunakan meme untuk menyeragamkan gerak hidup manusia individu maupun kolektif. Tujuannya, biasanya, hanya untuk mengelola masyarakat agar tidak beroposisi terhadap kepentingan penguasa. Keseragaman bukanlah kodrat sejati manusia; setiap orang itu unik dengan pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan yang bersifat pribadi, berbeda satu dengan yang lainnya. Dikatakan bahwa perbedaan adalah hukum ilahi yang tidak bisa dihindari.
Latihan Kejiwaan Subud menegaskan keberadaan hukum alamiah ini, dengan tidak adanya anggota Subud yang melakukan Latihan yang sama persis dengan anggota lainnya. Latihan Kejiwaan mengajarkan pelatihnya untuk menyadari bahwa dirinya unik, memiliki kebutuhan jasmani dan rohani yang tidak sama dengan sesama pelatih.
“Apa sebab demikian? Karena Tuhan tidak akan menyalahi apa yang ada dalam diri manusia itu. Karena itulah, maka dalam Latihan tuan-tuan dan nyonya-nyonya sekalian masing-masing akan menerima sendiri-sendiri menurut ukuran yang ada pada dirinya masing-masing dan menurut kekuatan yang telah diterimanya dan menurut apa yang ada dalam diri Nak masing-masing juga. Karena dengan cara Nak meniru orang lain, orang lain meniru lainnya lagi, berarti Nak memperkosa apa yang ada dalam diri Nak sendiri-sendiri. Lain daripada apabila Nak dilatih dan terlatih menurut apa yang ada dalam diri Nak sendiri.” (YM Bapak, 58 SIN 1) ©2025
Pondok
Cabe, Tangerang Selatan, 20 Februari 2025
No comments:
Post a Comment