Thursday, July 30, 2020

Catatan Covidul Adha 1441 H./2020


SAYA berhenti makan daging kambing sejak tahun 1982, setelah menyaksikan penyembelihannya pada Hari Raya Idul Adha tahun itu.

Sebelumnya saya doyan daging kambing. Tapi daging sapi dan ayam pun saya jauhi bila saya menyaksikan penyembelihannya. Caranya seringkali tidak manusiawi (inhumane); mungkin karena begitu banyaknya, sehingga penjagal berlaku layaknya mesin yang tidak punya emosi.

Yang paling dianjurkan adalah penjagal harus dalam keadaan rasa diri yang tenang, berserah diri dengan perasaan ikhlas dan tawakal. Saya pernah menyaksikan penjagal seperti itu, yang secara ajaib membuat si hewan pun "pasrah" mempersiapkan dirinya untuk disembelih.

Bagaimanapun, saya masih mengonsumsi daging sapi, ayam, bebek, dan ikan—dalam kadar yang tidak melampaui batas. Buddha Gautama pun masih makan daging hewan; yang beliau larang adalah menyiksa hewan untuk kesenangan/hiburan belaka.

Setiap kali saya (terpaksa) menyaksikan penyembelihan hewan yang dilakukan secara tidak manusiawi, saya teringat pada iklan layanan masyarakat dalam buku The New York Festivals 1995 ini.



GPR 3, Tangerang Selatan, 31 Juli 2020

Friday, July 24, 2020

Berkoneksi Dengan Inti Terdalam


MAKAN merupakan kegiatan yang menyenangkan. Terlebih bila suasana hati kita sedang senang. Bagi saya, yang membuat suasana hati jadi senang adalah pengalaman dengan bimbingan Tuhan Yang Maha Esa, dalam situasi yang tidak menyenangkan sekalipun. Seperti kemarin siang (Jumat, 24 Juli 2020).

Kemarin siang, tiba-tiba rumah saya disantroni seorang freelancer yang, lantaran termakan nafsu daya rendahnya sendiri, menuntut bayaran yang melampaui seharusnya. Dengan tampang beringas, dia siap meledakkan amarahnya dan menghantam saya dan istri. Saya terkejut melihat matanya merah seperti orang baru mengisap ganja dan wajahnya lebih gelap daripada biasanya.

Si freelancer sudah saya bayar honornya beberapa bulan lewat, dengan potongan yang tidak signifikan, karena secara sepihak dia telah membatalkan tanggung jawabnya atas dua pekerjaan yang sedang berlangsung, sementara saya dikejar tenggat waktu dari klien-klien. Akibat perbuatan tidak profesionalnya, saya dirugikan secara moril dan materi: Saya mendapat keluhan dari klien dan saya harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk mendapatkan pengganti si freelancer—yang merupakan pekerjaan tidak mudah, karena selain aspek teknis, chemistry juga penting.

Saya dan istri hanya menenangkan diri saat si freelancer yang sedang “spaneng” menyemprot kami dengan kata-kata tak pantas, yang menunjukkan ketidakdewasaannya (usia sekitar empat puluhan awal, sudah menikah dan memiliki anak usia 2,5 tahun). Di balik dada saya hanya menggema suara diri: “Tuhan, Tuhan, Tuhan” terus-terusan, dan “Ayo, praktikkan sabar, tawakal, ikhlasnya”—yang dapat saya jangkau tanpa usaha sama sekali. Dia nyerocos terus, dengan suara keras, yang saya rasakan merupakan cara spontan dia untuk menutupi kesalahannya, serta kualitas pribadinya yang rendah untuk mendapatkan apa yang dia kehendaki: Uang lebih banyak!

Sebaliknya, dia berbicara seolah saya dan istri yang salah sehingga dia menuntut uang dari kami. Dia bilang bahwa uang tidak ia pentingkan, hanya jawaban pasti bahwa dia akan dibayar atau tidak; kalau tidak pun, dia tidak apa-apa. “Tapi karena Mas dan Mbak tidak menjawab telpon dan pesan-pesan WhatsApp saya, saya kan jadi spaneng. Akhirnya, ya saya minta uang!”

Saya setuju untuk memberi yang dia mau, meski dia sudah merugikan saya secara moril dan materi. Karena saya yakin, “Gusti Allah ora sare” (Tuhan tidak tidur). Ajaibnya, sejak dia datang dengan tiba-tiba ke rumah saya hingga dia pergi (tanpa minta maaf dan tidak pula bilang terima kasih), saya hanya merasakan kedamaian luar biasa, lerem luar-dalam, setelah saya berkoneksi dengan Inti Terdalam. Istri pun mengalami hal yang sama. Mengiringi kepergiannya, saya hanya berucap pelan, “Hati-hati di jalan, ya.”

Dengan ke-lerem-an kami, baik saya maupun istri dapat dengan cepat melupakan kejadian itu. Terlebih setelah satu saudara Subud yang melakoni usaha kuliner meminta saya menjadi tester atas rasa baru dari sajiannya. Kiriman makanan darinya (yang berkesanrasa Jepang) via ojek daring melengkapi rasa syukur saya dan istri atas apa yang telah kami lalui kemarin. Puji Tuhan!©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 24 Juli 2020

Thursday, July 23, 2020

Pengajian Semasa SMP


SEMASA sekolah menengah pertama (SMP), saya bersama Aprilsyah, anak asuh orang tua saya, diikutkan pengajian mingguan di rumah warga satu kompleks tempat tinggal kami. Saya sejak pertama kali mengenal yang namanya pengajian sebenarnya sudah emoh—saya paling malas belajar agama yang kebanyakan teori, tanpa aplikasi. Tapi pengajian semasa SMP itu menggugah saya, yang mengubah pandangan saya terhadap agama, dan mengarahkan saya ke perjalanan ruhani dengan tanya-jawab batin yang tak berkesudahan, namun asik.

Pengajian itu diikuti sepuluh anak sebaya saya, diajar seorang ustad yang sudah sepuh dan mumpuni ilmu agamanya. Namanya anak SMP, tentu sukanya bercanda dan bermain, tidak sepenuhnya menaruh perhatian pada pelajaran. Namun, adakalanya, saya memperhatikan dan tergugah. Yang paling saya ingat adalah pelajaran di mana sang ustad menyampaikan: “Belajar agama tidak cukup hanya ilmu yakin, hanya yakin dengan apa yang diajarkan tanpa kenyataan. Kamu juga harus ainul yakin, yaitu dengan mengalaminya. Dan, yang paling penting adalah haqul yakin, keyakinan yang diperkokoh oleh kesaksian akan kebenaran Allah.”

Di pengajian semasa SMP saya, ustadnya membacakan satu surah Alquran, ayat demi ayat, dan kami, para murid, mengikuti bacaan beliau dengan mengulanginya. Lalu, ustad menjelaskan korelasi suatu ayat dengan keteladanan Nabi Muhammad dan para sahabat dan/atau kisah-kisah sehari-hari sebagai contoh. Ada suatu kesegaran baru di pikiran dan hati saya tiap kali menghadiri pengajian tersebut. Apakah hari gini masih ada ustad yang seperti ustad pengajian semasa SMP saya? Saya belum menemukan.

Sebelum memulai pengajian, para peserta yang hadir menjelang asar lantas salat Asar berjamaah, yang diimami sang ustad. Pada satu kesempatan salat Asar berjamaah, saya dan Aprilsyah, karena badan kami lebih tinggi daripada rekan-rekan kami di pengajian itu, berada di saf paling belakang. Hal itu membuat kami sering iseng menggoda rekan-rekan kami di saf di depan kami dan bercanda di antara kami sendiri.

Usai salat, dengan nada halus tak mengandung amarah, ustad berkata kepada saya dan Aprilsyah, “Jangan mencampuradukkan salat dengan main-main, ya. Kalau mau salat ya salat saja, kalau mau main main saja. Pilih salah satu.”

Giliran salat Magrib berjamaah, saya dan Aprilsyah bersantai saja di teras rumah tempat pengajian diselenggarakan, sementara rekan-rekan kami mempersiapkan diri mereka untuk salat. Selama salat Magrib berlangsung, saya dan Aprilsyah tetap bercanda di teras. Ustad kemudian menegur kami, “Mau main-main saja?”

“Iya, Pak Ustad. Enak main aja,” kata saya, cuek. Ustad tersenyum, dan meninggalkan kami, tanpa memberi petuah panjang lebar, apalagi memperingatkan tentang surga dan neraka.

Ketika sudah di perguruan tinggi, saya berpapasan dengan sang ustad di jalan di dekat rumah orang tua saya. Terjadilah obrolan yang hangat, diisi kenangan akan pengajian semasa sekolah menengah pertama. Ustad mengatakan ke saya, “Saya sudah tahu dulu itu, kalau kamu tipe pencari kebenaran, nggak mau brenti di ilmu yakin saja. Makanya, saya biarkan kamu dan saudaramu bermain, waktu teman-temanmu salat Magrib.”

Ah, saya jadi kangen pengajian semasa SMP, dengan ustad yang arif dan bijaksana seperti KH Chaeruddin Bakri, Lc.©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 24 Juli 2020

Wednesday, July 22, 2020

Pak Baskom Jualan Klepon


KUE klepon “tidak Islami” belakangan lagi ramai dibicarakan. Saya jadi teringat ketika menjadi senior copywriter di sebuah biro iklan berskala kecil di Jakarta Selatan, Lingkom Ad (PT Lingkar Komunikasi), tahun 1997, saya diminta menulis naskah (script) untuk iklan radio (radio commercial/radiocomm) buat PT Mitra Global Telekomunikasi Indonesia (MGTI), perusahaan yang merepresentasi Telkom Jawa Tengah-DIY, yang berkantor pusat di Semarang, Jawa Tengah.

Lewat radiocomm tersebut, MGTI mempromosikan pemasangan 400.000 sambungan telepon baru di seluruh provinsi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Radiocomm-nya bersetting dialog Petruk dengan Semar, di mana Petruk yang lugu, rada bego, dengan bersemangat bercerita ke Semar bahwa Pak Baskom jualan klepon. Semar yang ragu dengan informasi dari Petruk lantas pergi mencari tahu dan sesaat kemudian balik sambil menegur Petruk yang karena malas belajar jadi kurang ter-update: “Sinau, Truk, sinau! Bukan Pak Baskom jualan klepon, tapi Telkom jualan telpon!”

Hingga akhir dari radiocomm berdurasi 60 detik itu, dengan lugu Petruk masih bersemangat mau beli klepon ke Pak Baskom.

Untuk diketahui, iklan radio tersebut berbahasa Jawa campur Indonesia (terutama pada saat announcer-nya menginformasikan tentang prosedur bagi pelanggan baru). Sepupu saya di Purwokerto dengan bangga bercerita ke teman-temannya, yang lagi sharing di antara mereka tentang iklan radio yang rupanya berhasil memancing perhatian pendengar itu: “Itu copywriter-nya kakak sepupuku. Dia nggak bisa bahasa Jawa lho!”

Ketika dipresentasikan oleh Direktur Lingkom Ad di kantor MGTI Semarang, satu loyang klepon dibawa serta untuk memberi pengetahuan baru pada general manager-nya MGTI yang orang bule bahwa kue klepon dalam konsep kreatif iklan radio itu memang benar-benar ada. Sang GM disuguhi klepon tersebut dan diajari cara memakannya, yaitu dengan sekali santap karena isinya akan muncrat pada gigitan pertama. Bagi si bule, pengalaman makan klepon itu rupanya benar-benar berkesan, sehingga ia tidak ragu untuk langsung meng-approve konsep kreatif iklan radio berjudul “Pak Baskom Jualan Klepon” itu.©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 23 Juli 2020

Wednesday, July 15, 2020

Kadar Pengertian


ADA satu kisah tentang kehidupan Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa as-sallām yang selalu saya ingat, karena sungguh menginspirasi saya. Alkisah, dalam Perang Tabuk, pada 630 M, Muhammad terkena lemparan batu ke mulutnya hingga berdarah. Umar ibn Khattab pun berkata kepada Muhammad agar mengutuk si pelempar batu, tetapi Muhammad berkata, “Aku diutus Tuhan bukan untuk mengutuk manusia. Mari kita doakan dia, karena dia tidak mengerti.”

Dahulu, saya tergolong orang yang suka sekali memusuhi orang-orang karena perilaku mereka yang tidak dapat saya toleransi—terutama karena tidak sejalan dengan prinsip-prinsip yang saya anut. Perilaku saya dahulu itu persis sama dengan sikap dan perilaku kaum agama tertentu di Indonesia yang memusuhi umat agama-agama lain, hanya karena berbeda keyakinan, berbeda tata cara, dan/atau bahkan karena berbeda nama dan sifat-sifat tuhannya. Padahal, sikap dan perilaku ini tidak perlu ada, jika saja kita meresapi apa yang dicontohkan oleh Muhammad.

Pengertian tidak berlaku umum—setiap orang memiliki waktu, inteligensi, dan pengalaman masing-masing untuk dapat mengerti sesuatu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “pengertian” berarti (1) gambaran atau pengetahuan tentang sesuatu di dalam pikiran, pemahaman; dan (2) kesanggupan inteligensi atau kecerdasan untuk menangkap makna suatu situasi atau perbuatan. Dari arti ini dapat kita lihat bahwa pengertian tidak bisa serta-merta diharapkan dari semua orang pada waktu yang sama; setiap orang membutuhkan proses—melalui pengalaman pembelajaran—untuk sampai pada pengertian tentang sesuatu. Proses ini pada satu orang berbeda durasinya dengan orang lainnya; ada yang cepat dan ada yang membutuhkan waktu yang lama.

Pada 12 Juli 2020 lalu, saya membuat suatu eksperimen untuk mengetahui kadar pengertian orang: Saya memposting sebuah artikel di linimasa Facebook saya (dan juga di blogspot ini), yang saya juduli “Pelaut Berkulit Hitam yang Memberikan Segalanya”; artikel itu mengungkapkan tiga hal, yaitu tentang bakal diluncurkannya kapal induk raksasa terbaru Angkatan Laut Amerika Serikat (AL AS) pada 2028 mendatang, tentang tradisi penamaan kapal induk milik AL AS, dan tentang tamtama AL AS bernama Doris Miller yang mendapat medali tertinggi AL AS karena aksi heroiknya selama serangan pesawat pembom Jepang atas Pearl Harbor. Reaksi pembaca bervariasi, masing-masing dipengaruhi oleh kadar pengertiannya. Ada yang mempersepsikan artikel itu adalah tentang sejarah hidup Doris Miller, ada yang menganggapnya tentang serangan ke Pearl Harbor. Saya terkejut, karena tidak ada yang mengomentari perihal kapal induk raksasa itu.

Karena sifat pengertian tidak sama pada semua orang, alangkah tidak fair bila kita memberi perlakuan buruk pada orang lain hanya karena dia tidak mengerti perkataan atau perbuatan kita. Karena itu pula, sejatinya tidak ada orang yang bodoh atau pintar. Hanya “mengerti” dan “tidak mengerti”.

Jika Anda menjumpai orang yang tidak mengerti, doakan saja semoga Tuhan memurahinya dengan pengertian, persis seperti yang dilakukan Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa as-sallām terhadap orang yang telah melukai mulut beliau dengan batu yang dilemparkannya.©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 15 Juli 2020

Saturday, July 11, 2020

Pelaut Berkulit Hitam yang Memberikan Segalanya


Foto Doris “Dorie” Miller tepat setelah menerima penyematan medali Navy Cross oleh Laksamana Chester W. Nimitz, di atas kapal USS Enterprise (CV-6) di Pearl Harbor, 27 Mei 1942. Medali diberikan untuk aksi kepahlawanannya di atas kapal USS West Virginia (BB-48) selama Serangan Pearl Harbor pada 7 Desember 1941. 

ANGKATAN Laut Amerika (United States Navy) pada 20 Januari 2020 lalu mengumumkan untuk memberi nama kapal induk kelas Gerald R. Ford keempatnya dengan nama pahlawan Pearl Harbor, Doris Miller. USS Doris Miller diharapkan akan mulai beroperasi pada awal tahun 2032. Dalam film “Pearl Harbor” tahun 2001, yang disutradarai Michael Bay, Miller diperankan aktor Cuba Gooding, Jr.

Angkatan Laut Amerika membuat pengumuman tentang nama kapal induk tersebut pada Hari Martin Luther King di sebuah upacara di Pangkalan Gabungan Pearl Harbor-Hickam, Hawaii. Sekilas penamaan itu biasa saja, tetapi sebenarnya ini menjadi hal baru dari sejarah panjang penamaan kapal induk negara tersebut.

Lantas siapa Doris Miller dan mengapa bisa disebut sebagai langkah dramatis penamaan kapal induk?

Doris “Dorie” Miller adalah seorang tamtama US Navy berpangkat Cook Third Class (Koki Kelas Tiga). Sebagai warga negara Amerika Serikat berkulit hitam, Miller mendapat perlakuan diskriminatif dalam organisasi militer pada masa itu, dengan mendapat hak dan kedudukan yang tidak adil. Pada masa itu, anggota US Navy yang berkulit hitam tidak dilatih untuk memegang senjata; mereka hanya berhak memegang tongkat sapu, kain pel, dan sutil.

Warga Amerika keturunan Afrika ini menerima medali tanda jasa tertinggi Angkatan Laut Amerika Serikat, yaitu Navy Cross, atas tindakannya selama serangan Jepang atas Pearl Harbor dengan membantu memindahkan tentara yang terluka ke tempat yang aman dan menembakkan senapan mesin untuk mempertahankan kapal tempatnya bertugas dari serangan pesawat pembom Jepang.

Doris Miller lahir di Waco, Texas, pada 23 Oktober 1919. Ia mendaftar di Angkatan Laut Amerika Serikat dan bertugas di kapal amunisi USS Pyro dan kapal tempur (battleship) USS Nevada. Pada pagi hari, tanggal 7 Desember 1941, Miller berada di USS West Virginia untuk mengumpulkan cucian.

Kapal tempur USS West Virginia dalam serangan Jepang pada hari Minggu pagi itu mengalami kerusakan parah oleh dua bom dan lima torpedo. Kapal di mana Miller bertugas itu tenggelam di Pearl Harbor, menewaskan 130 prajurit dan melukai 52 lainnya. Kapal kemudian diperbaiki, ditingkatkan kemampuannya, dan bertugas kembali di seluruh kampanye Pasifik selama Perang Dunia II, hingga Jepang menyerah pada 1945.

Penamaan USS Doris Miller sangat berbeda dari tradisi penamaan kapal induk Angkatan Laut Amerika. Awalnya, Amerika memberi nama kapal induknya dengan pertempuran besar era Perang Revolusi seperti USS Yorktown (CV-10; kapal induk bernama sama (CV-5) tenggelam dalam Pertempuran Midway, 4 Juni 1942), USS Enterprise (CVN-65; kapal induk bernama sama (CV-6) bertugas selama Perang Dunia II), USS Saratoga (CV-60; kapal induk bernama sama (CV-3) aktif dalam Perang Dunia II), dan USS Lexington (CV-16; kapal induk bernama sama (CV-2) tenggelam dalam Pertempuran Laut Koral, 8 Mei 1942). Sejumlah pertempuran Perang Dunia II antara 1941 dan 1945 juga dijadikan nama kapal-kapal induk US Navy, seperti USS Midway (CV-41).

Setelah itu, terjadi perubahan, dengan menggunakan nama tokoh-tokoh penting US Navy, seperti Laksamana bintang lima (Fleet Admiral) Chester Nimitz (CVN-68), dan juga nama para presiden Amerika Serikat, seperti USS George Washington (CVN-73), USS Abraham Lincoln (CVN-72), USS Theodore Roosevelt (CVN-71), USS Harry S. Truman (CVN-75), USS Dwight D. Eisenhower (CVN-69), USS John F. Kennedy (CVN-79), USS Gerald R. Ford (CVN-78), USS Ronald Reagan (CVN-76), dan USS George HW Bush (CVN-77). Selain itu, juga menggunakan nama para politisi yang pro Angkatan Laut, seperti USS John C. Stennis (CVN-74) dan USS Carl Vinson (CVN-70).

USS Doris Miller (CVN-81) bisa disebut sebagai awal dari proses de-politisasi penamaan kapal dan juga menghormati personel kelas tamtama. Sebelum US Navy, Angkatan Darat Amerika Serikat juga sudah memulai menamai kendaraan lapis bajanya dengan nama Stryker untuk menghormati Prajurit Satu Stuart S. Stryker, penerima tanda jasa tertinggi militer Amerika Serikat, Medal of Honor, yang gugur dalam Perang Dunia II, dan Kopral Robert F. Stryker, peraih Medal of Honor yang gugur dalam Perang Vietnam (meskipun bernama sama, kedua prajurit ini tidak memiliki hubungan keluarga).


USS Gerald R. Ford (CVN-78) adalah kapal induk pertama di kelasnya yang berdinas di Angkatan Laut Amerika Serikat sejak 22 Juli 2017. Kapal induk ini menyandang nama Presiden Amerika Serikat ke-38, Gerald R. Ford, yang berdinas di angkatan laut selama Perang Dunia II, termasuk bertugas tempur di atas kapal induk ringan USS Monterey (CL-78) di Palagan Pasifik.

Penamaan USS Doris Miller untuk sebuah kapal induk bertenaga nuklir juga untuk menghormati pengabdian warga negara Amerika keturunan Afrika di Angkatan Laut Amerika Serikat. Pada Januari 2019, tercatat sekitar 65.000 warga Amerika keturunan Afrika berdinas di US Navy.

USS Doris Miller, seperti kapal-kapal induk lain di kelas Gerald R. Ford, akan menjadi salah satu kapal induk terbesar (super carrier) yang pernah dibangun. Doris Miller akan membawa 80 pesawat tempur dan akan diawaki oleh 6.000 pelaut. USS Doris Miller dijadwalkan akan dikirim ke Angkatan Laut Amerika pada tahun 2032, sebagai penghargaan yang pantas untuk pelaut berkulit hitam yang memberikan segalanya bagi bangsa dan negaranya.©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 12 Juli 2020

Friday, July 10, 2020

Manusia Medsos



SATU kawan saya, sebut saja namanya Sailan, seolah memiliki kepribadian ganda. Seorang kawan lainnya, wanita, dalam chatnya ke saya menyatakan ketidaksukaannya pada Sailan, yang dinilainya tidak punya etika, keras kepala (dalam konteks negatif), menyebalkan, dan suka sekali menantang orang lain, terutama yang secara usia lebih tua daripada si Sailan. Perilaku si Sailan dimonitor si kawan wanita itu melalui beberapa WhatsApp Group (WAG) di mana mereka berdua menjadi membernya.

Ya, saya pun menilai perilaku si Sailan di WAG sebagai orang yang sebaiknya dijauhi jika Anda tidak ingin sakit kepala membaca postingan padat kata-kata yang membuat banyak orang baper. Tapi di kenyataan sehari-hari, Sailan adalah pribadi yang agak pemalu, rendah diri, yang gaya bicaranya seperti orang yang baru belajar bahasa. Nada bicaranya penuh ragu, dan berpikirnya juga rada lamban. Singkat kata, si Sailan dalam kesehariannya berbeda 180 derajat dari yang dikenal banyak kawan kami mengenainya.

Saya memperkirakan, bahwa karena di belakang gawai atau komputer dia memiliki lebih banyak waktu untuk berpikir, lebih banyak peluang untuk merencanakan apa yang akan dia katakan. Hal tersebut tidak dia dapatkan dalam interaksi lahiriah dengan orang lain. Entah sengaja atau keceplosan, via WhatsApp jalur pribadi Sailan pernah blak-blakan ke saya bahwa dia mengutip sumber lain untuk memperkuat argumentasinya per kata-kata dalam komunikasinya dengan orang “di seberang” jalur jejaring sosialnya. Dia bahkan menjadikan sejumlah video tutorial self-help di Youtube sebagai acuan bagi perbaikan perilakunya.

Agar tidak berlarut-larut ketidaksukaannya pada Sailan, saya menyarankan kepada si kawan wanita di atas supaya berinteraksi dengan Sailan di luar media sosial. Manusia-manusia medsos, seperti si Sailan, adalah pribadi-pribadi yang tidak sepenuhnya asli saat menghadapi gawai atau komputer mereka, karena lawan interaksinya mereka pandang hanya sebagai mesin yang tidak punya perasaan, hingga mereka merasa dapat merisak (bullying) lawan interaksinya semau hati mereka. Sebaliknya, kesejatian mereka mengemuka dalam interaksi fisik saat bertatap muka.©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 10 Juli 2020