Wednesday, September 9, 2026

Spontanitas yang Senyap

SEJAK 26 Juli 2026, saya mulai melaksanakan kegiatan sukarela saya sebagai pelaksana proyek dari Arsip WSA (WSA Archives) Pusat Washington DC, Amerika Serikat. Proyek yang saya juduli “Indonesia Interviews” ini dalam rangka mengumpulkan rekaman audiovisual wawancara-wawancara saya dengan para anggota Subud di Indonesia yang dibuka sebelum tahun 1987 maupun mereka yang tetap aktif di Subud minimal 30 tahun. Video wawancaranya segera dikirim ke Daniela Moneta, Arsiparis WSA yang berbasis di Santa Monica, AS, melalui Google Drive.                                        

Ketika diminta kesediaan saya untuk melaksanakan wawancara-wawancara tersebut, oleh Daniela, saya spontan menyanggupi. Saya hanya minta dana 50 dolar AS untuk pembelian lampu dan tiangnya, mikropon nirkabel dan lengan penyangga ponsel dan tablet. Ponsel dan tabletnya dimiliki saudara Subud yang sukarela pula membantu saya—dia pula yang mengoperasikan peralatannya.

Hingga saat ini, sudah sepuluh narasumber yang saya wawancarai, bertempat di studio siniar Rumah Wing Bodies Subud Indonesia di dalam kompleks Wisma Subud Cilandak No. 22C (bekas rumah Prio Hartono) dan di Hall Latihan Jakarta Pusat, Jl. Johar Baru V No. 1, Jakarta Pusat. Semua terlaksana berkat bantuan tim saya yang terdiri dari dua anggota Jakarta Selatan.

Dalam pengerjaan proyek ini, saya tidak berkoordinasi dengan Pengurus Nasional PPK Subud Indonesia, Pengurus Cabang Jakarta Selatan maupun Dewan Pembantu Pelatih Nasional Subud Indonesia, meski saya pernah menceritakannya via telepon ke Koordinator DPPN Pria, Luthfie Hadiyin. Pekerjaan saya ini untuk Subud, bukan untuk mencari perhatian, dan lahir dari spontanitas yang senyap. Ketika akhirnya orang tahu pun itu disebabkan oleh para narasumber yang bercerita kepada khalayak Subud bahwa mereka pernah diwawancarai saya untuk kepentingan Arsip WSA. Pengalaman saya selama ini, baik di Subud maupun di luar Subud, segala sesuatu yang dibahas berlarut-larut, direncanakan, dibegini-begitukan, malah tidak pernah jadi kenyataan atau jadi berantakan.

Prinsip saya dalam pelaksanaan proyek Indonesia Interviews dalam hal meminta kesediaan narasumber untuk diwawancara adalah “take it or leave it” (terima atau tidak sama sekali). Ada yang menolak karena merasa pengalamannya tidak ada nilainya, dan tidak perlu dibagikan ke orang lain, meski dari sudut pandang saya berbeda. Ada yang mensyaratkan agar saya meminta izin terlebih dahulu ke pengurus dan dewan pembantu pelatih, baru mereka bersedia. Yang banyak tuntutan seperti ini saya coret dari daftar narasumber prospektif saya. Menolak adalah hak narasumber, dan saya tidak akan mengemis kesediaan mereka. Take it or leave it!

Baru-baru ini, seorang pembantu pelatih wanita Jakarta Selatan, berinisial AS, melalui satu saudara Subud yang adalah anggota tim Indonesia Interviews, meminta Surat Penunjukan saya sebagai pelaksana proyek. Ini permintaan yang aneh bin lucu, mengingat (screenshot emailnya dikirim AS ke saudara Subud itu yang kemudian ia teruskan ke saya) bahwa Daniela pernah mengirim email ke AS, bahwa Arsip WSA mengharapkannya mengirimkan memorabilia peninggalan almarhum suaminya untuk dipreservasi Arsip WSA dan meminta kesediaannya untuk diwawancarai oleh saya (nama saya disebut dalam email tersebut).

Permintaan akan Surat Penunjukan itu didasari saran AS: “Saran pribadi, dan tolong disampaikan ke Mas Arifin. Untuk perlindungan bagi Mas Arifin dan tim, mitigasi kesalahpahaman, ada baiknya Mas Arifin minta surat penunjukan resmi sebagai seorang relawan yang bekerja untuk WSA ya...”

Meski keberatan dan merasa lucu, saya tetap merancang naskah surat penunjukan itu dan mengirimnya ke Daniela via email untuk meminta agar dia mengisi bagian yang perlu diisi, ditandatangani dan dikirim kembali ke saya. Email balasannya seperti dugaan saya; Daniela pun bekerja atas dasar spontanitas yang senyap, yang lumrah di Subud, paling tidak ketika Bapak masih ada. Email balasan Daniela itu menunjukkan bedanya anggota Subud di luar negeri dengan yang di Indonesia, yang kebanyakan birokratis dan feodalistik. Anggota Subud luar negeri selalu mengambil inisiatif sendiri dan berani mempertanggungjawabkannya. Seperti yang diceritakan beberapa anggota lama, tidak perlu meminta izin, melainkan restu, kepada Bapak. Bapak pun mengharapkan anggota lebih mandiri.

Berikut cuplikan email balasan Daniela:

“Oh, Arifin, tulisan itu (naskah Surat Penunjukan yang saya rancang—ADS) indah sekali. Akan bagus jika ketua proyek WSA Archives yang menandatanganinya. Jika demikian, beliau akan membuat dokumen itu jadi jauh lebih singkat. Saya tidak punya kewenangan untuk menandatanganinya.

Saya hanya melakukan sesuatu tanpa meminta izin. Jika saya melalui jalur yang resmi, tidak akan ada yang terselesaikan dan saya akan merasa frustrasi sepanjang waktu.

Ini adalah kesempatan untuk menjadikannya sesuatu yang nyata. Saya biasanya mulai melakukan hal-hal secara mandiri dan pada akhirnya, hal-hal tersebut menjadi bagian dari sistem. Seperti basis data WSA Archives. Saya tidak pernah bertanya apakah boleh membuatnya, saya langsung saja mulai kerjakan.”

Ini adalah sistem kerja orang yang telah menerima bimbingan Tuhan melalui Latihan Kejiwaan. Jika segala sesuatu dimulai dengan rasa khawatir akan ini-itu, sebagaimana kesan yang muncul dalam pesan AS yang ia titipkan untuk saya, dipastikan akan berakhir gagal. Saya memilih untuk tetap spontan dan senyap. Take it or leave it!©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 10 September 2026

Tabu Untuk Berkumpul

BERKUMPUL pasca Latihan merupakan kebiasaan yang sulit dihindari di Indonesia. Berkumpul dengan teman atau keluarga besar adalah hal yang lumrah baik di Subud maupun di luar lingkaran keanggotaan Subud. Dan selalu ada makanan, camilan, tapi yang pasti harus ada kopi.

Selama hampir 23 tahun di Subud, saya belum pernah mendengar ucapan pembantu pelatih Indonesia yang melarang berkumpul untuk berbagi pengalaman dengan atau selama Latihan. Hanya ada satu cabang di Indonesia yang pernah saya kunjungi mencantumkan imbauan agar anggota “TIDAK MEMBICARAKAN HAL-HAL YANG BERSIFAT KEJIWAAN” di papan pengumuman di Hall Latihannya, yaitu cabang di Semarang, Jawa Tengah—tapi itu 18 tahun lalu; terakhir saya ke Wisma Subud Semarang dua tahun lalu, seingat saya imbauan tertulis itu sudah tidak ada.

Ada satu pembantu pelatih asing yang bermukim di Indonesia pernah menyampaikan ke saya mengenai tabu untuk berkumpul atau nongkrong setelah Latihan—yang lantas membuat saya bertanya-tanya mengapa para pembantu pelatih Indonesia, termasuk yang sudah jadi pembantu pelatih ketika Bapak masih ada, tidak pernah mengatakan apapun tentang itu?

Di teras timur Hall Cilandak pernah ada insiden beberapa tahun lalu, sebelum pandemi, dimana seorang pembantu pelatih asal Amerika marah dan menegur keras para anggota Indonesia yang nongkrong pasca Latihan. Karena ucapan Inggrisnya tidak ada yang dimengerti anggota Indonesia, mereka mengabaikan pembantu pelatih pria itu. Lalu datanglah pembantu pelatih lainnya yang juga orang Amerika tapi telah lebih lama dari dia bermukim di Indonesia. Si pembantu pelatih Amerika kedua ini memperingatkan si pembantu pelatih Amerika pertama agar tidak bersikap seperti itu terhadap anggota Indonesia dan dijelaskan kepadanya bahwa berkumpul atau nongkrong pasca Latihan merupakan hal yang biasa di cabang-cabang manapun di Indonesia.

Ada bahkan wisma-wisma Subud di Jawa yang terbuka 24 jam untuk dikunjungi anggota kapan saja dia mau. Di Jawa Timur dikenal istilah PH, singkatan dari “penghuni hall”, yaitu mereka yang karena krisis inginnya berada di lingkungan hall bersama anggota-anggota lainnya yang sedang melalui jenis krisis yang sama. Mereka menghabiskan waktu untuk mengobrol di antara mereka, atau bengong sambil ngoceh sendirian, atau Latihan sepanjang hari.

Ada berbagai hal yang diceritakan saat berkumpul, bukan hanya masalah kejiwaan tetapi juga (dan paling banyak dan sering) hal-hal keduniaan. Kadang memang terselip cerita bagaimana Latihan membimbing seseorang dalam urusan keduniaan itu, atau apa pandangan Bapak mengenai hal itu, jika memang ada di ceramah beliau. Kadang yang disampaikan seseorang (biasanya dia pembantu pelatih atau mantan pembantu pelatih atau hanya seseorang yang ingin mencari perhatian) adalah hal-hal yang “menakutkan”, seperti akibat yang akan kita terima bila melakukan perbuatan buruk—khas cara ajaran agama tertentu dalam menegakkan keimanan umat.

Belakangan, berbagai bencana alam melanda Indonesia; ini menjadi topik obrolan hangat di antara para anggota yang nongkrong setelah Latihan, beberapa di antara mereka mengaitkannya dengan mitos-mitos Jawa kuno tentang “akhir zaman” atau “kutukan Hidup Besar” dan bahwa yang belum menerima Latihan akan digulung ombak bencana. Lalu ada anggota yang mencari perhatian dengan mencuplik ceramah Bapak atau Ibu Rahayu seolah itu ajaran yang harus dipatuhi; konyolnya, mereka selalu mengakhirinya dengan ucapan bahwa hal itu gampang dikatakan, tapi sulit dilakukan. Atau dia bercerita pengalaman Bapak, dan ditandasi olehnya bahwa “hanya Bapak yang bisa, sedangkan kita masih jauh karena diri kita masih kotor”.

Kalau anggota Subud di Barat diberi tabu untuk berkumpul setelah Latihan, saya rasa itu eksklusif untuk mereka, karena otak Barat mereka terkenal berisik.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 9 September 2026

Monday, September 7, 2026

Beban Penderitaan

KEMARIN siang hingga magrib, saya nongkrong di Teras Timur Hall Cilandak bersama sembilan anggota lainnya. Beberapa di antaranya berbagi wawasan dan pengetahuan yang sebagian dipetik dari ceramah Bapak dan Ibu Rahayu. Sebagian terdengar cukup menakutkan. Saya me-niteni diri, menyaksikan bagaimana diri saya berreaksi terhadap semua yang saya dengar, tetapi suara diri saya berkata, “Jangan percaya semua yang kamu dengar, jangan diingat apapun yang mereka katakan atau pernah kamu baca. Sebaiknya, kamu buang semua kalau itu membebanimu.”                                       

Alhasil, ketika kami bubar dan berjalan ke kendaraan masing-masing untuk pulang, saya perhatikan bahwa tidak ada satupun dari yang di-sharing tadi tersisa jejaknya di pikiran saya. Saya tidak pula berusaha mengingatnya, melainkan hanya let go (merelakannya pergi).

Pagi ini, saya menemukan parabel berikut di Facebook:

Dua orang biksu sedang berjalan bersama ketika mereka tiba di tepi sungai. Di pinggir air, berdiri seorang wanita yang takut untuk menyeberang.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, biksu yang lebih tua menggendongnya, membawanya menyeberangi sungai dengan selamat, dan menurunkannya di seberang.

Kemudian kedua biksu tersebut melanjutkan perjalanan mereka. Beberapa jam kemudian, biksu yang lebih muda tidak tahan lagi untuk tetap diam. “Bagaimana bisa Anda melakukan itu?” tanyanya. “Kita tidak seharusnya menyentuh wanita.”

Biksu yang lebih tua menatapnya dengan tenang dan menjawab: “Aku sudah meninggalkannya di pinggir sungai tadi. Kamu masih membawanya sampai sekarang.”

Kadang-kadang seseorang mengucapkan satu kalimat yang menyakitkan lalu melupakannya begitu saja. Namun kita membawanya terus selama bertahun-tahun. Kita memutarnya kembali dalam pikiran.

Kita menjadikannya sebagai bukti.

Kita mengubahnya menjadi rasa sakit.

Kita menyimpannya di dalam diri seperti batu yang enggan kita letakkan.

Dan jauh setelah momen itu berlalu, kita masih membiarkannya terus berjalan bersama kita.

Beberapa beban tidak bertahan karena bentuknya yang berat. Beban itu bertahan karena kita terus membawanya.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 7 September 2026

Friday, August 28, 2026

Lolos Dari Lubang Jarum UI: Sebuah Kisah Kesintasan

 


TEPAT 28 Agustus, 33 tahun yang lalu, saya resmi menyandang gelar Sarjana Sastra (S.S.) dari Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI; sejak 2002 berganti nama menjadi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya/FIB). Detik itu, rasanya seperti mimpi di siang bolong. Jujur saja, dengan Indeks Prestasi yang sekadar cukup dan bukan tergolong mahasiswa jenius ala standar ketat UI, saya sendiri heran bisa melenggang sintas hingga garis akhir.                                

Saya menuntaskan petualangan akademis ini tepat di batas napas terakhir: semester 12—batas maksimal di FSUI. Namun, keajaiban justru terjadi di babak penutup. Hanya butuh waktu enam bulan bagi saya untuk merampungkan dan mempertahankan skripsi setelah berhasil melewati ujian komprehensif. Ujian lisan legendaris itu benar-benar memeras isi kepala, menguras air mata, dan memancing keringat dingin, terutama karena diuji langsung oleh jajaran dosen sejarah paling killer.

Begitu lolos dari "lubang jarum" kompre, perjuangan belum usai. Saya harus pontang-panting bimbingan dengan seorang dosen pembimbing yang merupakan kombinasi unik: sejarawan kawakan sekaligus Kolonel Infanteri TNI AD yang berkantor di Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI.

Masa penyusunan skripsi itu benar-benar melelahkan. Meski riset bahan dan penelusuran narasumber sudah saya cicil dua tahun sebelumnya, hari-hari saya tetap diwarnai lembur hingga larut malam. Parahnya lagi, di tengah tensi akademis yang membakar, saya dihantam badai asmara: patah hati terhebat yang pernah ada, hingga membuat saya berada di titik tergelap kehidupan. Beruntung, dua sahabat karib—yang sudah lulus lima bulan lebih awal—hadir menjadi pelipur lara. Merangkak bersama mereka, saya berhasil keluar dari lorong gersang keputusasaan dan menyelesaikan lembar-lembar akhir skripsi saya.

Ketika dinyatakan lulus dalam ujian skripsi pada 7 Juli 1993, orang tua saya—terutama Ibu—terperangah tak percaya. Saya pun sama terkejutnya. Bagi saya, diterima di Kampus Kuning adalah sebuah mukjizat, tetapi keluar dari sana sebagai seorang sarjana adalah sebentuk penyerapan takdir yang luar biasa.

UI mengajarkan saya cara meneliti masa lalu, tetapi perjuangan 12 semester dan patah hati itulah yang mengajari saya cara bertahan hidup di masa kini dan masa depan.©2026

                           

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 28 Agustus 2026

Saturday, August 8, 2026

Sejarah, Masa Lalu, dan Latihan

MESKIPUN saya lulusan Jurusan Sejarah dari Universitas Indonesia, kecintaan saya pada sejarah justru baru benar-benar tumbuh ketika saya mengenal Subud. Salah satu gagasan yang kemudian begitu melekat dalam diri saya adalah bahwa kita menjadi seperti sekarang ini karena siapa dan apa yang telah dilakukan oleh leluhur kita.

Gagasan sederhana itu perlahan membuka pintu yang sebelumnya tidak pernah benar-benar saya masuki. Saya mulai menggali masa lalu saya sendiri: siapa orang tua saya, bagaimana kehidupan mereka, siapa kakek-nenek saya, apa yang mereka alami, keputusan-keputusan apa yang mereka ambil, dan bagaimana semua itu, sadar atau tidak, ikut membentuk diri saya hari ini. Dalam proses pencarian tersebut, saya menemukan begitu banyak hal menarik—hal-hal yang bukan hanya memperkaya pemahaman saya tentang keluarga dan diri sendiri, tetapi juga justru semakin mendorong saya untuk rajin dan tekun Latihan.

Sebab, pada akhirnya, Latihanlah yang memungkinkan semua itu terbuka.

Keterlibatan saya dalam copy editing naskah terjemahan bahasa Indonesia dari karya Harlinah Longcroft, History of Subud, semakin memperdalam ketertarikan tersebut. Kini, melalui keterlibatan saya membantu WSA Archives melanjutkan pewawancaraan para anggota Indonesia yang dibuka sebelum tahun 1987, serta mereka yang telah setidaknya tiga puluh tahun berada di Subud, energi kecintaan saya terhadap sejarah terasa semakin hidup.

Ada sesuatu yang istimewa dalam mendengarkan seseorang menceritakan kembali perjalanan hidupnya. Dari cerita-cerita para narasumber, pengalaman yang selama puluhan tahun tersimpan dalam ingatan tiba-tiba memperoleh ruang untuk hidup kembali. Peristiwa-peristiwa yang mungkin bagi mereka dahulu terasa biasa, bahkan sepele, ternyata ketika dilihat dari jarak waktu yang panjang dapat memperlihatkan makna yang sama sekali berbeda.

Dari sana saya semakin menyadari bahwa sejarah bukan sekadar catatan tentang apa yang telah terjadi. Sejarah adalah kumpulan pengalaman manusia yang terus berbicara kepada manusia yang datang kemudian. Di dalamnya ada keberanian dan ketakutan, keberhasilan dan kegagalan, kebijaksanaan dan kekeliruan. Semuanya dapat menjadi cermin—bukan untuk menghakimi masa lalu, melainkan untuk memahami bagaimana kita sampai di tempat kita berdiri sekarang.

Dan mungkin justru di situlah letak kekuatan sejarah.

Masa lalu memang tidak dapat diubah. Tetapi cara kita memahaminya dapat mengubah masa depan.

Bagi saya, semakin jauh menggali sejarah, semakin jelas pula hubungan antara masa lalu, diri saya, dan Latihan. Karena Latihan memberi kemungkinan bagi seseorang untuk tidak sekadar mengetahui dari mana ia berasal, tetapi juga merasakan apa yang sedang tumbuh di dalam dirinya ketika ia berhadapan dengan masa lalu itu.

Pada akhirnya, sejarah bukan hanya tentang mereka yang telah pergi. Sejarah juga tentang kita—tentang bagaimana kita menerima warisan yang ditinggalkan, apa yang kita lakukan dengannya, dan apa yang kelak kita tinggalkan bagi mereka yang datang sesudah kita.

Karena setiap manusia adalah sejarah yang sedang berlangsung. Dan setiap pilihan yang kita buat hari ini sedang menulis sejarah bagi generasi yang belum lahir.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 9 Agustus 2026

Monday, August 3, 2026

Daya yang Tertinggal

SATU pembantu pelatih muda dari Cabang Jakarta Selatan (tapi sejak 2023 pindah ke Cabang Jakarta Pusat) memberitahu saya beberapa tahun lalu bahwa ia diberi tugas oleh satu pembantu pelatih tua untuk “mengawasi anak-anak Teras Timur”, terutama karena “tempat itu menarik minat anggota baru untuk setia nongkrong di situ dan mendengarkan penjelasan mereka yang bukan pembantu pelatih”. Pembantu pelatih muda itu menolak penugasan yang dianggapnya konyol nan lucu itu, karena dia kenal baik dengan saya bukan sebagai seseorang yang berpotensi menimbulkan keonaran, tetapi hanya suka usil membuat lelucon sarkastis tentang berbagai hal di Subud.                          

Teras Timur maupun Teras Barat, Utara dan Selatan terbuka bagi siapapun yang ingin nongkrong di situ. Teras Timur menjadi strategis karena di sisi Hall Cilandak itulah terletak baik toilet wanita maupun toilet pria, dan kini menjadi satu-satunya tempat di seputar Hall dimana merokok tidak dilarang. (Stiker “Dilarang Merokok” pernah dipasang di dindingnya tetapi dicabut oleh satu pembantu pelatih berkebangsaan Amerika yang suka merokok.)

Yang dipikirkan dan dirasakan oleh mereka yang di Teras Barat hanya berdasarkan prasangka, dan tidak pernah ada niat untuk mencari tahu yang sebenarnya terjadi di Teras Timur—mereka nyaman dengan prasangka mereka. Beberapa anggota baru tahun 2016 menyampaikan ke saya, ketika mereka mulai nongkrong di Teras Timur, bahwa ketika melalui masa kandidatan tiga bulan mereka mereka telah diwanti-wanti oleh Pembantu Pelatih Daerah (PPD) Jakarta Selatan kala itu agar tidak bergaul dengan Teras Timur atau ikut grup WhatsApp “Subud 4G” (grup WhatsApp yang saya ciptakan sebagai tempat nongkrong digital dengan semangat seperti Teras Timur). Padahal si PPD tidak pernah nongkrong di teras timur, kecuali sesekali karena ditawari rokok, kopi dan camilan gratis.

Saya pernah selama dua tahun, pasca pandemi, selalu menghabiskan waktu setelah Latihan nongkrong di Teras Barat. Terasa sekali kekakuan mereka yang nongkrong di situ; terasa mereka menahan diri dari bercanda atau mengobrol santai, seolah tempat itu sakral. Saya telah berusaha membuat suasananya lebih hidup, tetapi perubahannya hanya sedikit dan sebentar. Saya belum pernah, hingga kini, menemukan penyebab kekakuan itu.

Mungkin suasana feodalistik (meminjam istilah dari beberapa anggota yang pernah lama menjadi bagian dari Teras Barat sebelum akhirnya pindah ke Teras Timur) itu disebabkan oleh kenyataan bahwa hingga sebelum pandemi, Ibu Rahayu selalu menunggu waktu Latihan wanita di situ. Banyak anggota terlalu sungkan pada Ibu, tidak berani “banyak tingkah” di hadapan beliau. Mungkin daya Ibu tertinggal di Teras Barat, yang menyebabkan siapapun yang nongkrong di situ tetap tidak bisa sesantai Teras Barat.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 3 Agustus 2026

Monday, July 27, 2026

Merasakan Kehadiran Bapak dalam Sesi Wawancara

 


KEMARIN siang, 26 Juli 2026, saya melakukan perdana wawancara dengan anggota Subud Indonesia, di studio siniar (podcast) yang dinaungi bangunan Rumah Wing Bodies Subud Indonesia di kompleks Wisma Subud Cilandak. Dibantu oleh alat-alat yang telah saya beli dengan dana US$50 yang telah ditransfer oleh WSA Archives di Amerika Serikat dan satu saudara Subud, Dino, yang mampu set up dan mengoperasikan alat-alat itu. Ada dua anggota pria yang saya wawancara kemarin, satu dibuka di Surabaya tahun 1984 dan satunya lagi di Cilandak tahun 1988.

Khusus di Wisma Subud Cilandak, saya hanya bisa mewawancarai pada hari Minggu siang, hari dimana Latihan dihadiri oleh lebih banyak anggota dan pembantu pelatih. Wawancara saya lakukan setelah saya maupun narasumber melakukan Latihan. Kemarin, karena perdana, saya melihat beberapa hal harus saya benahi dan saya terapkan seterusnya:

1.      Bahwa sebelum wawancara, kami harus menenangkan diri dulu, dan setelah wawancara dan setelah narasumber pamit, saya dan Dino harus melakukan Latihan pembersihan.

2.     Wawancara harus saya lakukan dengan pertanyaan-pertanyaan yang spontan, yang keluar dari jiwa saya, dan tidak mempersiapkan daftar pertanyaan terlebih dulu—agar saya dan narasumber senantiasa berada dalam keadaan Latihan. Tapi, dalam kasus kemarin, kepada kedua narasumber saya minta mereka “Ceritakan perjalanan Anda ke Subud”, “Apa yang membuat Anda bertahan sekian lama di Subud?”, dan “Apa pesan Anda kepada generasi muda anggota Subud?”

Mengapa dua hal ini? Saya merenungkan bersama Dino apa yang terjadi selama wawancara-wawancara tersebut, yang tadi malam saya bicarakan per telepon dengan pembantu pelatih yang menyaksikan pembukaan saya dan pagi ini saya konsultasikan dengan Koordinator Dewan Pembantu Pelatih Nasional (DPPN) Subud Indonesia, Luthfie Hadiyin. Kedua narasumber tampil secara terpisah, benar-benar dalam keaslian mereka, dimana mereka bercerita bukan saja pengalaman Latihan mereka tetapi juga masalah-masalah pribadi mereka, yang di luar studio siniar itu belum pernah mereka ceritakan ke siapapun! Tetapi karena sudah membaca dan menandatangani surat persetujuan wawancara dan menyetujui bilamana videonya disiarkan ke publik Subud, maka saya tidak memperingatkan mereka agar tidak kebablasan dalam bercerita.

Selain itu, saya dan Dino juga sempat “terbawa perasaan” mendengar kisah mereka (saya sempat menahan air mata), yang mana seharusnya tidak boleh karena akan menyerap daya rendah mereka atau sesuatu yang bukan milik saya. Narasumber yang dibuka tahun 1988 ketika ditanya pengalamannya malah selalu menangis, sehingga ada jeda dalam wawancaranya. Ia mengungkapkan rasa syukurnya dengan Latihan Kejiwaan yang ia terima, melalui uraian air mata. Ia mengatakan bahwa ia merasakan kehadiran jiwa Bapak dalam ruangan di mana wawancara berlangsung.

Dari situlah saya merasa bahwa pasca wawancara saya dan Dino harus melakukan Latihan pembersihan. Ada pemikiran dari pembantu pelatih yang menyaksikan pembukaan saya agar wawancara didampingi seorang pembantu pelatih, tetapi ia sendiri mengkhawatirkan jika kehadiran pembantu pelatih malah membuat narasumber tidak akan mau bercerita dengan “apa adanya”. Kalau menyangkut narasumber pria, saya masih bisa mengatasi “serangan daya” ke diri saya; yang saya khawatirkan jika narasumbernya wanita—untuk itu, saya rasa perlu pendampingan pembantu pelatih wanita di luar studio. Koordinator DPPN juga menyarankan begitu.

Secara keseluruhan, proyek ini bagi saya dan Dino sungguh menarik, sangat berguna bagi kami secara kejiwaan, dan membawa kami ke pengalaman Latihan next level. Sesuatu yang sama sekali baru bagi kami maupun kebanyakan orang. Ketika saya menceritakan pengalaman itu ke dua pembantu pelatih yang saya telepon tadi malam dan pagi saja, mereka berkomentar bahwa “sekadar” obrolan empat mata dapat menghadirkan suatu energi maha besar, sesuatu yang bahkan jarang terjadi ketika mereka melayani gathering anggota atau saat bertemu dengan para kandidat.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 27 Juli 2026

Saturday, July 25, 2026

Memorabilia Awal Karier

SAYA masuk dunia periklanan di era ketika belum ada ponsel, apalagi ponsel berkamera, dan kamera analog tergolong barang mewah, sehingga saya tidak memiliki memorabilia visual yang dapat menceritakan masa-masa awal karier saya sebagai copywriter di biro iklan.

Puji Tuhan, 24 Juli 2026, Iksaka Banu memposting di linimasanya foto-foto dari sejumlah insan Citra Lintas dan Lintas Link yang diambil dari video buatan Bimoyadi Markam tahun 1995 (saya tahu tahunnya dengan pasti karena saya bergabung dengan Lintas Link sebagai copywriter pada Juli 1995). Di videonya, saya tampil di detik ke-28, dan ini foto yang diambil dari video tersebut.

Sudah 31 tahun saya mengulik naskah komunikasi pemasaran dan korporat—dan belum bosan!©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 25 Juli 2026

Wednesday, July 15, 2026

Mistifikasi Pembantu Pelatih

TANGGAL 15 Juli 2026 malam, sepulang dari Latihan di Wisma Barata Pamulang, saya ditelepon oleh salah satu pembantu pelatih (PP) yang menyaksikan pembukaan saya, 22 tahun lalu. Mas Heru, demikian saya memanggilnya. Tema obrolan kami adalah tentang berserah diri di kala menghadapi penderitaan. Salah satu topiknya, di bagian terakhir dari perbincangan kami selama dua jam via WhatsApp Voice Call, adalah tentang menjadi pembantu pelatih.

Saya berbagi mengenai perbedaan yang saya saksikan antara PP di Jakarta, khususnya, dengan yang di Komisariat Wilayah (Komwil) VI Jawa Timur, Bali dan Sulawesi, terutama di Surabaya dan sekitarnya. Di Jakarta, khususnya di Cabang Jakarta Selatan, tampaknya kepembantupelatihan dimistifikasi oleh beberapa oknum PP maupun oleh anggota biasa, seolah PP itu memiliki Latihan dari jenis yang berbeda dari Latihan pada umumnya, sehingga mereka yang belum PP tidak diperkenankan mengikuti pertemuan/rapat atau kegiatan-kegiatan yang eksklusif pembantu pelatih.

Mistifikasi adalah istilah yang mengacu pada proses mengaburkan kebenaran, membuat sesuatu yang biasa atau rasional tampak misterius, sakral, atau tidak bisa dipahami oleh nalar. Tujuannya sering kali untuk menutup-nutupi kenyataan yang sebenarnya dan menciptakan ilusi atau kesadaran palsu demi melanggengkan kekuasaan atau status quo. Di Subud, mistifikasi kerap digunakan untuk mengagungkan PP atau lembaga tertentu yang bertanggung jawab pada aspek kejiwaan. Kepembantupelatihan tidak lagi dilihat dari kinerja, melainkan dibentuk sebagai aura sakral yang tidak boleh dikritik atau dipertanyakan oleh anggota biasa. Status sebagai “pembantu Bapak” kerap digunakan untuk memperkuat mistifikasi ini.

Pembantu pelatih yang menelepon saya itu terkejut sekaligus menertawakan para PP semacam itu. Ia membantah bahwa PP adalah golongan eksklusif dengan kemampuan tertentu yang dapat membahayakan anggota biasa secara spiritual. Ia menampik anggapan sementara PP bahwa rapat atau testing di kalangan PP hanya terbatas bagi PP semata—yang bukan PP dilarang ikut atau mengaksesnya sebagai saksi.

Saya ingat momen ketika pada Senin malam, 7 Februari 2005, Pembantu Pelatih Daerah (PPD) Cabang Surabaya mengajak seluruh anggota pria masuk ke dalam hall untuk menyaksikan testing para PP terhadap seorang kandidat pembantu pelatih. Para anggota diperbolehkan berada di dalam hall saat testing berlangsung, dan menyaksikan bagaimana respons tiga PP yang di saku celananya masing-masing telah disisipkan secarik kertas bertuliskan nama kandidat PP yang ditesting. Hasilnya, sang kandidat PP belum bisa disahkan sebagai PP dan harus diperpanjang masa kandidatnya. Sebagai anggota yang belum genap setahun di Subud, pemandangan itu cukup mengejutkan saya, tetapi hal itu tidak memberi efek apapun pada saya selain ingatan akan momen tersebut.

Selain momen itu, tidak jarang saya dan beberapa anggota lainnya beberapa kali menghadiri rapat pembantu pelatih. Kami duduk di ruang rapat sebagai saksi saja, tidak mendapat hak suara. Pembantu pelatih yang menelepon saya malam ini mengatakan bahwa rapat kadang tertutup bukan karena ada efek yang dapat membahayakan anggota biasa secara kejiwaan, melainkan hanya untuk kepantasan saja—bahwa pembahasan rapat menyangkut seseorang atau masalah yang tidak patut dipublikkan.

Selama di Jakarta, apakah Cabang Jakarta Selatan, Pusat atau Timur, saya belum pernah mengalami ajakan ikut rapat atau testing pembantu pelatih. Bahkan Latihan pendampingan calon PPD saja, anggota yang bukan PP dipersilakan keluar dari ruangan Latihan. Awalnya tidak tahu mengapa, lambat laun saya mendeteksi adanya kecenderungan mistifikasi PP—oleh PP sendiri maupun oleh beberapa gelintir anggota; seolah PP adalah makhluk tingkat dewa yang pikiran dan perasaannya, pikiran dan perbuatannya dalam keadaan tertentu dapat membahayakan jiwa dan raga anggota.

Tetapi malam ini, respons PP yang menelepon saya telah mendemistifikasi para pembantu pelatih. Penjelasannya telah menghilangkan selubung mitos, kesalahpahaman, atau kesan gaib yang melekat pada pembantu pelatih.©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 15 Juli 2026

The Untainted Mirror

 

We step into the quiet, side by side,

to strip the heavy mask of mind away

The dusty glass where ego used to hide

begins to clear its film of yesterday

We close our eyes to let the outer fade,

and stand before the mirror we have made

 

A sudden breath, a cry, a graceful sway—

no longer caught in thought's reflective gleam

The Latihan begins to wash away

the mirrored shadows of our waking dream

It is a glass that does not show a face,

but captures the Great Life in empty space

 

And when the stillness settles in the hall,

we find the polished surface clean and bare

No longer locked behind the ego’s wall,

the true, untainted soul is standing there

A mirror of the force that gives us breath,

reflecting life that triumphs over death

 

Wisma Bharata, Pamulang, July 15, 2026, 8:40 p.m.

Monday, June 22, 2026

Seni dan Spiritualitas

SAYA bukan pengamat maupun penikmat lukisan, tetapi demi pekerjaan saya harus turut menyelami seni lukis. Saya masuk dalam tim yang dibentuk untuk membuat katalog lukisan karya seorang maestro Indonesia, Yoes Rizal. Saya sebagai Copy Editor-nya.

 


Tim berkumpul siang ini, 22 Juni 2026, di kediaman dan studio beliau di Jl. Lingkar Kebayunan, Cimanggis, Depok, Jawa Barat, untuk mengenal lebih jauh sang maestro dan karyanya. Dikenal sebagai pelukis kontemporer Indonesia, alumnus Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB ini menggunakan mixed media untuk mewujudkan karya lukisan. Yang menarik, ujar beliau, bukan lukisan yang penting—itu hanya output—melainkan proses kreatifnya.

 


Seperti para pelukis lainnya yang pernah saya jumpai sejak tahun lalu, obrolan tentang proses kreatif pasti bersenggolan dengan spiritualitas. Yang menarik bagi saya, ketika sang maestro menyebut sekuens tarekat, hakikat dan makrifat dalam wawancara yang dilakukan dua rekan saya—yaitu dua alumni Sejarah dari Universitas Indonesia, almamater saya. Dan yang membuat saya semakin termotivasi adalah adanya kesamaan antara ekspresi spiritual Yoes Rizal dengan apa yang saya alami melalui Latihan Kejiwaan Subud, meski ia sendiri bukan anggota Subud, yaitu ketiadaan aturan, kebebasan aksi, ketidakteraturan dan spontanitas. Seorang pelukis, kata Yoes, haruslah bebas, tidak terbebani atau dibatasi. Sebebas sifat jiwa manusia!

 


Saya pun menunjukkan logo Kongres Dunia Subud ke-17 tahun 2028 di Portugal yang saya rancang dan berhasil memenangkan kompetisi desain logo event tersebut. Dengan spesialisasi Yoes Rizal sebagai pelukis abstrak ekspresionis dengan latar belakang akademik beliau di Seni Rupa dan Desain ITB, beliau menilai logo karya saya itu memenuhi syarat sebagai logo (yang harus abstrak dan memberi ruang seluas-luasnya bagi audiens untuk memiliki pengertian sendiri-sendiri—persis sifat dari Latihan Kejiwaan). Dari bahasan tentang logo itulah berkembang obrolan tentang Subud, yang harus saya akhiri karena hari kian sore dan saya harus ke Wisma Subud Cilandak untuk menghadiri perayaan ulang tahun ke-125 Bapak Muhammad Subuh.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 23 Juni 2026

Sunday, June 14, 2026

Testing vs Menep

KEMARIN siang (Minggu, 14 Juni 2026), pasca Latihan pria, saya nongkrong bersama lima anggota lainnya di teras timur Hall Cilandak, menikmati kopi murni yang airnya dimasak dengan kompor portabel yang dibawa oleh salah satu anggota.

Lalu, muncullah satu pembantu pelatih pria dari Cabang Jakarta Selatan yang berkebangsaan Amerika. Beliau sangat suka kopi tubruk, kopi asli Indonesia. Saat ngopi itulah beliau bercerita bahwa beliau baru selesai menghadiri rapat dewan pembantu pelatih cabang, yang antara lain membahas tentang testing. Terungkap, kata dia, bahwa Ibu Rahayu ternyata tidak “pro testing”. Saya pun bercerita ke si pembantu pelatih dan satu anggota yang duduk di sebelah saya, bahwa pembantu pelatih dan anggota di luar negeri sangat sering melakukan testing dan dalam durasi yang sangat lama. Itu yang pernah saya dengar dari penuturan seorang pembantu pelatih asal New York, Amerika Serikat, dan satu pembantu pelatih dari grup Vancouver, Kanada. Juga para international helpers asal Indonesia pernah menyampaikannya ke saya. Saya mengomentari cerita saya sendiri bahwa kebiasaan testing itu mungkin untuk melatih pembantu pelatih dan anggota dalam memahami apa hakikat testing.

Di Indonesia sendiri, testing tergolong sangat jarang dilakukan dan biasanya bersifat okasional, biasanya pada event Kongres Nasional atau dalam rangka Hari Lahir Bapak di bulan Juni. Para pembantu pelatih di cabang manapun di Jawa yang pernah saya kunjungi menunjukkan keengganan ketika anggota meminta testing.

Saya kemudian menambahkan ke cerita saya kepada si pembantu pelatih dan si anggota, bahwa yang saya baca di sebuah memoar dari salah satu pembantu pelatih generasi awal, kabarnya istilah “testing” itu berasal dari John Bennett yang mencoba menerjemahkan kalimat “merasakan diri terhadap segala sesuatu” dari Bapak, yang belum ada padanannya dalam bahasa Inggris kala itu (1957, ketika Bapak pertama kali ke luar negeri). Akhirnya, Bapak pun mengadopsi istilah “testing” untuk “merasakan diri”.

Di cabang di mana saya melalui masa ngandidat tiga bulan saya dan di mana saya dibuka, yaitu Surabaya, para pembantu pelatihnya jarang sekali melakukan testing, melainkan membiasakan para anggota untuk merasakan (diri maupun keadaan atau peristiwa di dekatnya maupun jauh). Pembantu pelatih yang telaten mendampingi saya, selalu mendorong saya untuk merasakan suasana atau orang-orang di tempat kami berada, seperti misalnya di acara ruwatan putra sulung dari seorang anggota yang akan menikah, yang berlangsung di rumah si anggota di Madiun, Jawa Timur, pada tahun 2005. Merasakan itu tidak bisa dipaksakan memang, tetapi akan berkembang kepekaan kita secara bertahap seiring Latihan Kejiwaan yang kita lakukan dengan rajin dan tekun.

Si anggota yang duduk dekat saya dan turut mendengarkan diskusi saya dengan si pembantu pelatih, menyeletuk, “Oh iya, Mas Arifin. Di Jawa disebutnya ‘menep’. Memang kita jarang testing ya, Mas. Karena kita sudah dibiasakan ‘menep’ oleh leluhur kita."

Dalam budaya Jawa khususnya, “merasakan diri” sudah mengakar di kalangan masyarakat tradisionalnya. Kakek dan ayah saya, dua pria Jawa tradisional dan bukan anggota Subud, sering mencontohkan ke saya secara tidak sengaja: Ketika menghadapi problem yang rumit, mereka akan berdiam diri, memejamkan mata dan membisu cukup lama. Praktik ini di Jawa disebut “menep”. Bahasa Jawa “menep” berarti diam, tenang, atau mengendap (seperti endapan kotoran yang turun ke dasar sehingga air menjadi jernih). Kata ini sering digunakan secara filosofis untuk menggambarkan kondisi batin yang tenang, waspada, dan jernih dalam menghadapi masalah. Atau proses menahan emosi, hawa nafsu, atau gejolak agar pikiran tetap jernih dan bijaksana. Ibarat segelas kopi tubruk yang sebagian ampasnya mengambang di permukaan , ia harus didiamkan sejenak agar kotorannya “menep” dan airnya kembali bening.

Si pembantu pelatih kemudian berseru, “Oh mungkin sikap tidak pro testing dari Ibu sebenarnya ditujukan ke anggota luar negeri ya. Karena beliau tahu, orang Indonesia tidak suka testing.”

Saya mengangkat bahu dan berkata, “Ya, mungkin.” Lalu kami melanjutkan menikmati kopi masing-masing.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 15 Juni 2026

Saturday, June 13, 2026

Bimbingannya yang Penting, Bukan Alatnya

TADI malam, saya ditelpon mantan pembantu pelatih Surabaya yang kini berdomisili di Madiun dan, seperti saya, tercatat sebagai anggota Cabang Sidoarjo, Mas Heru Iman Sayudi. Kami mengobrol dua jam 18 menit. Salah satu topik obrolannya adalah “bimbingan kekuasaan Tuhan” dalam bidang pekerjaan kami--Mas Heru dan saya sama-sama konsultan branding.

Saya cerita ke Mas Heru tentang satu job saya sebagai freelance copywriter baru-baru ini, menulis teks dwibahasa (Indonesia-Inggris) untuk coffee-table book setebal 100 halaman. Gemini AI adalah asisten setia saya dalam pengerjaannya. Nah, tidak sedikit anggota Subud antipati pada AI, alasannya karena sebuah karya jadi “tidak manusiawi, tidak ada rasanya, tidak ada ruhnya”. Tapi pengalaman saya dan tim desain coffee-table book itu maupun pengalamannya Mas Heru dan tim kerjanya, membuktikan bahwa bila “dibimbing” untuk menggunakan AI, outputnya akan ada rasa atau ruhnya. Jadi, kami berkesimpulan: Yang utama itu bimbinganNya, bukan alat yang digunakan. Alat bisa apa saja, tapi kapan baiknya menggunakan salah satu atau semua alat yang ada tergantung petunjuk yang kita terima dalam ketenangan rasa diri kita.

Seperti ucap satu anggota yang kemarin siang hingga sore nongkrong di Teras Timur Hall Cilandak, terkait desain logo Kongres Dunia Subud ke-17 di Fàtima, Portugal (2028): “Idenya kan dari bimbingan Tuhan, tapi Mas Arifin perlu daya rendah untuk mewujudkan ide itu. Mau pakai Photoshop kek, AI kek, terserah petunjuk yang Mas terima kan?!”

“Wah, benar juga,” saya membatin mendengar penjelasan si anggota.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 14 Juni 2026

Tuesday, June 2, 2026

Merancang Dari Dalam ke Luar


TAHUN 2025 lalu, saya bertandang ke rumah seorang pembantu pelatih Amerika asal New York yang telah cukup lama tinggal di Indonesia. Dalam obrolan kami di meja makan, usai menyantap hidangan makan malam buatan istri Indonesianya yang lezat, terungkap bahwa si pembantu pelatih pernah tinggal dan bekerja selama sepuluh tahun di Shanghai, Tiongkok. Ia menggambarkan bahwa situasinya pada saat itu tidak enak bagi jiwanya tetapi berkat Latihan ia mampu bertahan.

Penggambarannya tentang situasi negara itu, melalui kata-kata, tidak cukup untuk membuat saya memahami bagaimana sebenarnya, sehingga saya bertanya padanya, “Memang bagaimana sebenarnya China itu? Apa yang kamu alami di sana?”

Si pembantu pelatih menatap saya tajam dan dengan tekanan ia berkata, “Kamu anggota Subud, kan? Pakai rasa kamu! Saya tidak perlu menjelaskan detail.”

Saya pun melakukan apa yang disarankan si pembantu pelatih. Itu seperti testing kejiwaan, dengan pertanyaan: “Apa yang dialami X selama di Shanghai yang mengganggu rasa perasaannya?”

Pengalaman seperti ini pula yang saya terapkan ketika mendesain logo Kongres Dunia Subud ke-17 di Fàtima, Portugal. Saya belum pernah ke Portugal, apalagi Fàtima. Sulit saya membayangkan bagaimana ruh negara itu, meski saya dapat menemukan begitu banyak fotonya di Google Images. Sebagai konsultan branding, saya terbiasa dengan serangkaian proses desain logo dan pengembangan identitas merek, yang bersumbu pada riset yang mendalam. Mendesain identitas merek tidak semudah membalikkan telapak tangan; Anda harus mengerahkan segenap waktu, tenaga dan pikiran untuk menggali pengetahuan dan wawasan tentang antropologi, sosiologi, psikologi, sejarah, arkeologi, heraldika, dan lain-lain, agar identitas yang Anda rancang menawarkan pengalaman rasa yang kuat terhadap produk/jasa/organisasi yang diwakili identitas tersebut.

Sebagai sarjana Ilmu Sejarah lulusan sebuah universitas negeri terkemuka di Indonesia, saya terbiasa dengan penelitian dan pengkajian multidisiplin, tetapi berkaitan dengan rasa tidak ada “sekolah” dengan kualitas pendidikan sebaik Subud. Bekerja dengan diri saya terisi Latihan Kejiwaan, membuat hasilnya selalu ada rasa yang bahkan dapat diterima oleh klien-klien saya meski mereka belum dibuka atau bukan anggota Subud.

Membuka Wikipedia tentang Fàtima, yang cukup kaya dengan foto-foto bangunan bersejarah yang menjadi landmark kota itu, saya membiarkan Latihan saya untuk menunjukkan apa yang harus saya angkat sebagai Gagasan Besar (ide atau rancangan pemikiran utama yang memiliki visi luas, mendalam, dan transformatif. Gagasan ini biasanya menjadi fondasi untuk menciptakan sebuah karya iklan yang mampu menggerakkan audiens untuk beraksi, atau paling sedikit berrelasi dengan merek). Perhatian saya tercurahkan pada bangunan Basilica of Our Lady of the Rosary. Saya merasakan vibrasi yang kuat walau yang saya hadapi hanya sebuah foto, seolah bangunan itu memanggil saya.

Fotonya saya unduh, lalu saya crop hingga yang tampak adalah bentuk mahkota di pucuk menara utama basilika itu. Saya kemudian mencari foto-foto yang menampakkan berbagai sisi dari mahkota itu. Hal itu mendorong saya untuk googling foto patung Bunda Maria dengan mahkota penobatan kanoniknya. Sambil membayangkan sosoknya saya iseng membuat coretan-coretan di kertas—yang biasa dilakukan para perancang grafis maupun pengarah kreatif. Setelah sekian jam saya membuat coretan, dan tidak memberi hasil, tiba-tiba terpikir oleh saya untuk mengaplikasikan satu per satu dari berbagai pilihan menu di Filter Gallery di Photoshop di komputer saya, sampai perhatian saya tertuju pada efek Note Paper, Photocopy, Plaster, Stamp dan Torn Edges, yang membuat sosok Bunda Maria dalam foto berubah menjadi laiknya “cipratan-cipratan air”.

Di ranah desain grafis, yang saya lakukan disebut Deformasi, yaitu teknik mengubah, merombak, atau menyederhanakan bentuk asli suatu objek menjadi bentuk baru yang lebih unik, ekspresif, dan komunikatif tanpa menghilangkan identitas atau makna dasarnya. Teknik ini biasanya diterapkan untuk memperkuat karakter, menyampaikan pesan visual, atau menyesuaikan elemen dengan estetika desain secara keseluruhan.

Hasil deformasi gambar Bunda Maria adalah cipratan-cipratan hitam putih. Saya lantas googling lagi, mencari ikon lainnya yang mewakili Portugal. Saya kepincut pada ayam jantan yang dikenal di Portugal sebagai Galo de Barcelos; simbol nasional tak resmi dari Portugal, yang melambangkan kepercayaan, keadilan, kejujuran dan keberuntungan. Suvenir ayam jantan ini dapat ditemukan di mana saja di Portugal dan biasanya berhiaskan gambar hati dan bunga warna-warni. Warna-warnanya yang cemerlang menginspirasi saya untuk saya tuangkan pada cipratan-cipratan air hasil dari deformasi gambar sosok Bunda Maria.

Meski mungkin terlihat saya mempersiapkan logo itu secara tekun dan serius, yang sebenarnya adalah bahwa saya malah tidak serius. Logo yang menang ini adalah Opsi #2, dari dua opsi desain yang saya kirimkan secara tidak bersamaan. Saya menjagokan Opsi #1, walaupun secara tampilan kurang “muda”, tidak merepresentasi semangat keanggotaan Subud yang dewasa ini mengalami regenerasi. Oleh karena itu, saya sangat terkejut ketika diberitahu melalui email dari Koordinator Komunikasi World Congress Organizing Team (WCOT) bahwa desain saya yang Opsi #2 dipilih oleh dewan juri sebagai pemenang. Saya, bagaimanapun, akhirnya bersyukur bila opsi itu yang terpilih, karena akhirnya saya tersadarkan oleh dinamika spontanitas khas Latihan yang tergambarkan pada grafisnya.

Semoga Kongres Dunia Subud 2028 di Fàtima, Portugal, berlangsung penuh warna optimisme yang secemerlang warna-warna pada logonya.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 2 Juni 2026

Untuk rilis berita mengenai desain logo yang menang tersebut, klik URL ini:
https://subud.org/posts/logo-competition-of-the-17th-subud-world-congress-and-the-winner-is

Sunday, May 31, 2026

Momen Tenang Seorang Murid Sekolah

DUA kali sudah (sekali seminggu) saya memberi workshop Copywriting kepada lima Gen Z yang bekerja di bagian Pemasaran sebuah biro perjalanan umroh dan haji. Dua-duanya memberi saya sakit kepala—akibat menyerap para peserta yang suka overthinking, tapi baru di kali kedua saya terpikir untuk mengajak para peserta melakukan pengheningan cipta. Pengheningan cipta bersinonim dengan “penenangan diri” atau “menenteramkan akal pikir” seperti yang biasa dilakukan anggota Subud sebelum memulai Latihan.

Para anak muda kelahiran awal 2000an itu menatap saya dengan bingung. Mereka baru pertama kali mendengar istilah “mengheningkan cipta”. Ironisnya, ada lagu berjudul Mengheningkan Cipta yang diciptakan pada tahun 1958 oleh seorang komponis Indonesia asal Surakarta, Jawa Tengah. Lagu itu diperdengarkan kepada atau dinyanyikan oleh para murid sekolah dasar hingga menengah atas di Indonesia ketika upacara bendera, dalam rangka merenungkan jasa para pahlawan bangsa. Artinya, anak-anak Gen Z Indonesia familiar dengan lagu itu tapi tidak tahu apa dan bagaimana melakukan pengheningan cipta.

Generasi saya, kaum Gen X Indonesia, selain tahu lagu itu juga tahu praktik pengheningan cipta—meski mungkin sebagian besar tidak tahu manfaatnya, kecuali Anda aktif di aliran kebatinan atau menekuni spiritualitas. Saya sendiri baru merasakan manfaatnya setelah masuk Subud.

Selama 32 tahun pemerintahan rezim Orde Baru Soeharto, pengheningan cipta dilakukan murid dan guru di kelas di semua tingkatan pendidikan dasar dan menengah sebelum memulai pelajaran. Karena tidak pernah diajarkan mengenai apa manfaat pengheningan cipta, maka para murid pun memanfaatkan momen penenangan diri itu dengan saling mengusili, melirik sana sini, atau diam-diam bercanda. Setelah mengalami sendiri, sejak saya masuk Subud, saya jadi agak menyesali mengapa dulu ketika masih remaja saya tidak menyeriusi pengheningan cipta sebelum pelajaran dimulai. Meneliti diri (niteni) saya sejak dibuka—bisa dengan cepat memahami kajian akademik apapun, bisa jadi ketika bersekolah hingga berkuliah di universitas dulu saya tidak melulu menjadi “underdog”.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 31 Mei 2026

Saturday, May 30, 2026

Bagaimana Masa Kecil Bersama Tintin Mengubah Cara Pandang Terhadap Perkeretaapian Indonesia

 


ADA keajaiban sunyi yang terjadi ketika dunia yang Anda lihat di luar jendela Anda bertabrakan dengan dunia yang telanjur Anda cintai di dalam sebuah buku. Bagi saya, titik temu itu sepenuhnya berada di atas rel kereta api Indonesia, yang dibayangkan kembali melalui goresan tinta yang bersih dan tegas dari gaya seni ligne claire (garis jelas). Melihat kereta Eksekutif yang ramping meliuk di jalur pegunungan Jawa Barat, atau lokomotif diesel klasik yang merayap masuk ke stasiun sibuk di Jawa Tengah—yang digambarkan dengan garis-garis kuat dan warna-warna datar yang cerah—seperti melihat masa kecil saya dan warisan budaya saya akhirnya berbicara dalam bahasa yang persis sama.

Tumbuh dewasa, imajinasi saya tidak dibentuk oleh bentang alam yang luas, melainkan oleh panel-panel presisi yang tertata rapi dalam komik Petualangan Tintin karya Hergé. Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam menelusuri halaman-halaman itu dengan jari saya. Yang memikat saya bukan hanya misteri penjelajahan dunianya; melainkan bagaimana gaya ligne claire membawa kejelasan mutlak pada dunia tersebut. Dalam semesta Tintin, segala hal memiliki bobot yang sama. Dinding bata, mantel, mobil antik, dan lokomotif uap semuanya digambar dengan ketebalan garis yang persis sama dan kokoh. Tidak ada bayangan pekat untuk bersembunyi, tidak ada gradasi berantakan yang mengalihkan pandangan. Itu adalah gaya yang mengupas kekacauan realitas, menyisakan kebenaran yang ideal dan tertata indah. Gaya itu mengajari saya untuk melihat dunia sebagai sesuatu yang bisa dipahami, diatur, dan sangat dihargai bentuk serta strukturnya.

Bertahun-tahun kemudian, kosakata visual yang tertanam jauh di dalam benak saya itu menemukan subjek sempurnanya pada perkeretaapian Indonesia. Jaringan rel Indonesia pada dasarnya memang dramatis dan kaya akan cerita. Jalur ini membelah jajaran gunung berapi yang terjal, membentang di atas viaduk baja raksasa peninggalan era kolonial, dan memotong langsung di jantung hamparan sawah hijau zamrud. Pada kenyataannya, ini adalah sebuah kelebihan beban sensorik dari panas tropis, raungan mesin, dan bayang-bayang yang bergeser. Bagaimanapun, ketika Anda menerapkan gaya ligne claire di atasnya, sesuatu yang luar biasa terjadi.

Gaya kartun ini mengikis debu dari kelembapan tropis dan kilau kacau matahari siang, menyisakan esensi perjalanan yang murni dan puitis. Warna khas oranye dan biru pada lokomotif berubah menjadi pernyataan geometris yang berani di tengah latar padang hijau yang sempurna dan solid. Kisi-kisi baja yang rumit pada jembatan seperti Cikubang ditransformasikan menjadi pola garis yang memukau, bersih, dan sempurna. Gaya ini tidak mengurangi realitas lanskap Indonesia; sebaliknya, ia mengangkatnya, mengubah perjalanan komuter sehari-hari menjadi sebuah petualangan bernostalgia yang epik.

Mencintai gambar-gambar ini adalah sebuah pengingat bahwa kita tidak harus meninggalkan gairah masa kecil kita saat beranjak dewasa; sebaliknya, kita bisa menggunakannya sebagai lensa untuk mengapresiasi budaya dan lingkungan kita sendiri. Ini menunjukkan bahwa inspirasi tidak harus datang dari galeri termegah atau filosofi paling rumit. Terkadang, cara Anda memandang dunia ditentukan oleh buku komik yang Anda baca di lantai kamar Anda puluhan tahun yang lalu. Dengan melihat kereta api Indonesia melalui garis-garis jelas dari masa kecil saya, saya diingatkan bahwa ada keindahan dan keteraturan yang melekat, yang menunggu untuk ditemukan dalam kehidupan sehari-hari kita—kita hanya harus menemukan bingkai yang tepat untuk melihatnya.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 30 Mei 2026

Wawasan Minim Kaum Gen Z

JADI, kemarin, saya kembali memberikan workshop kepada para tenaga pemasaran dari sebuah biro perjalanan umroh dan haji. Kali ini, topiknya adalah platform dari “story-telling untuk branding”, yaitu copywriting. Saya memberikan dasar-dasarnya dengan presentasi Powerpoint sebanyak 39 slide (terbanyak adalah visual contoh materi komunikasi cetak, audio-visual dan audio) yang pernah saya buat tahun 2020.

Slide 13 menampilkan semboyan tiga kata bahasa Prancis ini. Empat Gen Z yang mengikuti workshop, yang semuanya berstatus mahasiswa dari dua universitas negeri dan swasta ternama di Tangerang Selatan (masing-masing dari jurusan Ilmu Komunikasi, Manajemen dan Informatika), berkerut kening. Saya menangkap kebingungan mereka sebelum saya berkata apa-apa, lalu saya bertanya, “Anda semua pernah tahu ini? Semboyan Revolusi Prancis 1789-1799.”

 


Semua peserta workshop menyatakan tidak tahu dan belum pernah tahu. “Nggak diajarkan di sekolah, juga nggak di pelajaran Sejarah,” kata salah satu peserta. Jadi, saya terpaksa mengisi workshop Periklanan dengan sesi pengajaran Sejarah Dunia selama kurang lebih lima menit. Kasihan nasib studi sejarah dewasa ini.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 30 Mei 2026

Friday, May 22, 2026

Mengajar Dengan Bimbingan Latihan

DULU, saya pernah kuliah di Jurusan Pendidikan Sejarah IKIP Jakarta selama dua semester, karena diterima di pilihan kedua saya di Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru) 1986. Saya pindah (lolos Sipenmaru 1987) ke Jurusan Sejarah Fakultas Sastra (kini Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya/FIB) Universitas Indonesia salah satunya karena saya tidak suka mengajar kelas—saya gampang demam panggung.

Anehnya, setelah masuk Subud, saya malah suka sekali jika diminta mengajar di depan kelas, terutama dalam bidang pekerjaan saya—copywriting, periklanan dan strategi branding. Bisa dibilang saya kecanduan berbicara di depan publik, yang untuk itu saya tidak pakai persiapan sama sekali, atau tidak over-prepared, melainkan hanya mengandalkan bimbingan Latihan.

Jumat siang ini, saya kembali mendapat kesempatan itu, dan lagi-lagi—kecuali materi Powerpoint 17 halaman yang hanya berisi poin-poin singkat—tanpa persiapan. Saya hanya rileks, sedari rumah ke lokasi pengajaran saya tidak memikirkan sama sekali apa yang akan saya sampaikan, melainkan hanya menikmati perjalanan sejauh 11 km dengan bersepeda motor.

 





Yang saya ajar (saya menyebutnya “momen berbagi”) adalah empat staf pemasaran dan satu desainer grafis sebuah biro perjalanan umroh dan haji, yang semuanya dari Gen Z, dalam hal “copywriting dengan teknik story-telling untuk branding”. Ibarat keran air, segala ucapan saya dengan bimbingan Latihan mengalir begitu saja, hingga saya sendiri mendapat pengertian baru. Saya perhatikan pula bahwa saya dapat dengan mudah membaur dengan audiens saya, seolah saya dan mereka sudah saling mengenal lama.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 22 Mei 2026

Sunday, May 17, 2026

Bagaimana Menulis dan Memasak Saling Membantu

SAAT menjamu Manajer CSR dari perusahaan klien saya di sebuah restoran mewah di Bandung, Jawa Barat, pada 12 Mei 2026 lalu, sang Manajer, yang sering melihat status WhatsApp atau Story Instagram saya, berkata, “Pak Arifin suka memasak juga ya?” Saya iyakan. “Enak mana, Pak Arifin, menulis atau memasak?” tanyanya kemudian.

Sambil memotong ikan berbalut tepung goreng dan menusuk sepotong kentang wedges di piring di hadapan saya, saya bercerita bahwa menulis dan memasak memiliki kesamaan. Menulis meracik rasa jiwa agar dapat terkoneksi dengan sisi terdalam pembaca, sedangkan memasak membuat saya meracik rasa selera pemakannya.

Bagi sebagian orang, dapur dan meja kerja adalah dua dunia yang sepenuhnya berbeda. Yang satu dipenuhi aroma bawang putih yang ditumis, percikan minyak, dan denting sudit bertemu wajan. Yang lain sunyi, hanya diiringi ketukan kibor, berhadapan dengan layar putih yang menanti untuk diisi. Tetapi, jika Anda bersedia duduk sejenak di ambang pintu yang menghubungkan kedua ruangan ini, Anda akan menyadari bahwa juru masak dan penulis sebenarnya sedang melakukan ritual yang persis sama: mereka sedang meracik mentah menjadi matang, mengubah kekacauan menjadi sebuah mahakarya yang bisa dinikmati.

Kemiripan ini bermula sejak langkah paling awal, yaitu saat saya berhadapan dengan bahan baku. Sebagai penulis, saya tidak langsung melahirkan naskah; saya mengumpulkan serpihan ide, potongan memori, dan riset mendalam. Ini sama persis dengan seorang juru masak yang berdiri di pasar, memilih sayuran paling segar, memilah rempah-rempah, dan membayangkan bagaimana rasa daging yang segar akan berpadu dengan ketumbar dan jintan. Bahan baku dalam menulis adalah kata-kata, sedangkan dalam memasak adalah bahan pangan. Keduanya menuntut kepekaan yang sama. Jika Anda terbiasa memilih kata yang tepat agar kalimat tidak terasa hambar, Anda akan secara otomatis melatih insting yang sama saat menakar garam agar sup tidak terasa hambar.

Keajaiban yang sesungguhnya baru terjadi saat proses pencampuran dimulai. Di sinilah struktur mengambil alih. Dalam memasak, ada urutan yang tidak boleh dilanggar; saya tidak bisa memasukkan daun kemangi di awal tumisan karena aromanya akan hilang, sebagaimana saya tidak bisa membongkar plot solusi masalah di bab pertama. Menulis mengajarkan saya tentang ritme dan tempo, tentang bagaimana membangun kisah sebelum mencapai klimaks cerita. Ketika insting narasi ini terlatih, saya akan terbawa ke dapur. Saya menjadi paham kapan harus membesarkan api untuk memberi efek karamelisasi yang dramatis pada daging, dan kapan harus mengecilkan api agar bumbu meresap perlahan dalam kesunyian yang sabar.

Selain masalah teknis, jembatan terbesar antara menulis dan memasak terletak pada seni menyunting. Tidak ada draf pertama yang langsung sempurna, begitu pula tidak ada masakan yang langsung pas rasanya pada cicipan pertama. Menulis melatih saya untuk berani “membuang bagian yang tidak perlu”—memotong paragraf yang indah tapi tidak menggerakkan cerita. Di dapur, kemampuan menyunting ini menjelma menjadi keberanian untuk mengoreksi rasa. Saat sup terlalu asin, saya yang terbiasa memecahkan masalah dalam plot akan berpikir kreatif, menambahkan sedikit gula atau sejumput garam untuk menyeimbangkannya, bukan malah menyerah dan membuang seluruh masakan.

Pada akhirnya, kedua aktivitas ini melatih satu otot spiritual yang sama, yaitu empati. Juru masak yang baik tidak memasak untuk dirinya sendiri; ia memasak dengan membayangkan senyum di wajah orang yang menyantapnya. Penulis yang baik pun menulis dengan membayangkan bagaimana pembaca akan terhanyut dalam emosi di setiap lembarnya.

Oleh karena itu, saat saya merasa buntu di depan komputer dan kata-kata seolah enggan mengalir, beranjaklah saya ke dapur. Mengiris sebatang daun bawang, mendengarkan desis minyak saat menyentuh wajan, dan membiarkan indra saya beristirahat dari logika kata. Begitu pula sebaliknya, saat eksperimen dapur saya gagal, saya akan duduk dan menulis apa yang salah. Dengan membiarkan kedua dunia ini saling mengisi, saya tidak hanya sedang belajar menjadi juru masak yang lebih peka, tetapi juga seorang penulis yang menyajikan cerita dengan bumbu kehidupan yang jauh lebih kaya.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 18 Mei 2026