Tuesday, June 2, 2026

Merancang Dari Dalam ke Luar


TAHUN 2025 lalu, saya bertandang ke rumah seorang pembantu pelatih Amerika asal New York yang telah cukup lama tinggal di Indonesia. Dalam obrolan kami di meja makan, usai menyantap hidangan makan malam buatan istri Indonesianya yang lezat, terungkap bahwa si pembantu pelatih pernah tinggal dan bekerja selama sepuluh tahun di Shanghai, Tiongkok. Ia menggambarkan bahwa situasinya pada saat itu tidak enak bagi jiwanya tetapi berkat Latihan ia mampu bertahan.

Penggambarannya tentang situasi negara itu, melalui kata-kata, tidak cukup untuk membuat saya memahami bagaimana sebenarnya, sehingga saya bertanya padanya, “Memang bagaimana sebenarnya China itu? Apa yang kamu alami di sana?”

Si pembantu pelatih menatap saya tajam dan dengan tekanan ia berkata, “Kamu anggota Subud, kan? Pakai rasa kamu! Saya tidak perlu menjelaskan detail.”

Saya pun melakukan apa yang disarankan si pembantu pelatih. Itu seperti testing kejiwaan, dengan pertanyaan: “Apa yang dialami X selama di Shanghai yang mengganggu rasa perasaannya?”

Pengalaman seperti ini pula yang saya terapkan ketika mendesain logo Kongres Dunia Subud ke-17 di Fàtima, Portugal. Saya belum pernah ke Portugal, apalagi Fàtima. Sulit saya membayangkan bagaimana ruh negara itu, meski saya dapat menemukan begitu banyak fotonya di Google Images. Sebagai konsultan branding, saya terbiasa dengan serangkaian proses desain logo dan pengembangan identitas merek, yang bersumbu pada riset yang mendalam. Mendesain identitas merek tidak semudah membalikkan telapak tangan; Anda harus mengerahkan segenap waktu, tenaga dan pikiran untuk menggali pengetahuan dan wawasan tentang antropologi, sosiologi, psikologi, sejarah, arkeologi, heraldika, dan lain-lain, agar identitas yang Anda rancang menawarkan pengalaman rasa yang kuat terhadap produk/jasa/organisasi yang diwakili identitas tersebut.

Sebagai sarjana Ilmu Sejarah lulusan sebuah universitas negeri terkemuka di Indonesia, saya terbiasa dengan penelitian dan pengkajian multidisiplin, tetapi berkaitan dengan rasa tidak ada “sekolah” dengan kualitas pendidikan sebaik Subud. Bekerja dengan diri saya terisi Latihan Kejiwaan, membuat hasilnya selalu ada rasa yang bahkan dapat diterima oleh klien-klien saya meski mereka belum dibuka atau bukan anggota Subud.

Membuka Wikipedia tentang Fàtima, yang cukup kaya dengan foto-foto bangunan bersejarah yang menjadi landmark kota itu, saya membiarkan Latihan saya untuk menunjukkan apa yang harus saya angkat sebagai Gagasan Besar (ide atau rancangan pemikiran utama yang memiliki visi luas, mendalam, dan transformatif. Gagasan ini biasanya menjadi fondasi untuk menciptakan sebuah karya iklan yang mampu menggerakkan audiens untuk beraksi, atau paling sedikit berrelasi dengan merek). Perhatian saya tercurahkan pada bangunan Basilica of Our Lady of the Rosary. Saya merasakan vibrasi yang kuat walau yang saya hadapi hanya sebuah foto, seolah bangunan itu memanggil saya.

Fotonya saya unduh, lalu saya crop hingga yang tampak adalah bentuk mahkota di pucuk menara utama basilika itu. Saya kemudian mencari foto-foto yang menampakkan berbagai sisi dari mahkota itu. Hal itu mendorong saya untuk googling foto patung Bunda Maria dengan mahkota penobatan kanoniknya. Sambil membayangkan sosoknya saya iseng membuat coretan-coretan di kertas—yang biasa dilakukan para perancang grafis maupun pengarah kreatif. Setelah sekian jam saya membuat coretan, dan tidak memberi hasil, tiba-tiba terpikir oleh saya untuk mengaplikasikan satu per satu dari berbagai pilihan menu di Filter Gallery di Photoshop di komputer saya, sampai perhatian saya tertuju pada efek Note Paper, Photocopy, Plaster, Stamp dan Torn Edges, yang membuat sosok Bunda Maria dalam foto berubah menjadi laiknya “cipratan-cipratan air”.

Di ranah desain grafis, yang saya lakukan disebut Deformasi, yaitu teknik mengubah, merombak, atau menyederhanakan bentuk asli suatu objek menjadi bentuk baru yang lebih unik, ekspresif, dan komunikatif tanpa menghilangkan identitas atau makna dasarnya. Teknik ini biasanya diterapkan untuk memperkuat karakter, menyampaikan pesan visual, atau menyesuaikan elemen dengan estetika desain secara keseluruhan.

Hasil deformasi gambar Bunda Maria adalah cipratan-cipratan hitam putih. Saya lantas googling lagi, mencari ikon lainnya yang mewakili Portugal. Saya kepincut pada ayam jantan yang dikenal di Portugal sebagai Galo de Barcelos; simbol nasional tak resmi dari Portugal, yang melambangkan kepercayaan, keadilan, kejujuran dan keberuntungan. Suvenir ayam jantan ini dapat ditemukan di mana saja di Portugal dan biasanya berhiaskan gambar hati dan bunga warna-warni. Warna-warnanya yang cemerlang menginspirasi saya untuk saya tuangkan pada cipratan-cipratan air hasil dari deformasi gambar sosok Bunda Maria.

Meski mungkin terlihat saya mempersiapkan logo itu secara tekun dan serius, yang sebenarnya adalah bahwa saya malah tidak serius. Logo yang menang ini adalah Opsi #2, dari dua opsi desain yang saya kirimkan secara tidak bersamaan. Saya menjagokan Opsi #1, walaupun secara tampilan kurang “muda”, tidak merepresentasi semangat keanggotaan Subud yang dewasa ini mengalami regenerasi. Oleh karena itu, saya sangat terkejut ketika diberitahu melalui email dari Koordinator Komunikasi World Congress Organizing Team (WCOT) bahwa desain saya yang Opsi #2 dipilih oleh dewan juri sebagai pemenang. Saya, bagaimanapun, akhirnya bersyukur bila opsi itu yang terpilih, karena akhirnya saya tersadarkan oleh dinamika spontanitas khas Latihan yang tergambarkan pada grafisnya.

Semoga Kongres Dunia Subud 2028 di Fàtima, Portugal, berlangsung penuh warna optimisme yang secemerlang warna-warna pada logonya.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 2 Juni 2026

Untuk rilis berita mengenai desain logo yang menang tersebut, klik URL ini:
https://subud.org/posts/logo-competition-of-the-17th-subud-world-congress-and-the-winner-is

Sunday, May 31, 2026

Momen Tenang Seorang Murid Sekolah

DUA kali sudah (sekali seminggu) saya memberi workshop Copywriting kepada lima Gen Z yang bekerja di bagian Pemasaran sebuah biro perjalanan umroh dan haji. Dua-duanya memberi saya sakit kepala—akibat menyerap para peserta yang suka overthinking, tapi baru di kali kedua saya terpikir untuk mengajak para peserta melakukan pengheningan cipta. Pengheningan cipta bersinonim dengan “penenangan diri” atau “menenteramkan akal pikir” seperti yang biasa dilakukan anggota Subud sebelum memulai Latihan.

Para anak muda kelahiran awal 2000an itu menatap saya dengan bingung. Mereka baru pertama kali mendengar istilah “mengheningkan cipta”. Ironisnya, ada lagu berjudul Mengheningkan Cipta yang diciptakan pada tahun 1958 oleh seorang komponis Indonesia asal Surakarta, Jawa Tengah. Lagu itu diperdengarkan kepada atau dinyanyikan oleh para murid sekolah dasar hingga menengah atas di Indonesia ketika upacara bendera, dalam rangka merenungkan jasa para pahlawan bangsa. Artinya, anak-anak Gen Z Indonesia familiar dengan lagu itu tapi tidak tahu apa dan bagaimana melakukan pengheningan cipta.

Generasi saya, kaum Gen X Indonesia, selain tahu lagu itu juga tahu praktik pengheningan cipta—meski mungkin sebagian besar tidak tahu manfaatnya, kecuali Anda aktif di aliran kebatinan atau menekuni spiritualitas. Saya sendiri baru merasakan manfaatnya setelah masuk Subud.

Selama 32 tahun pemerintahan rezim Orde Baru Soeharto, pengheningan cipta dilakukan murid dan guru di kelas di semua tingkatan pendidikan dasar dan menengah sebelum memulai pelajaran. Karena tidak pernah diajarkan mengenai apa manfaat pengheningan cipta, maka para murid pun memanfaatkan momen penenangan diri itu dengan saling mengusili, melirik sana sini, atau diam-diam bercanda. Setelah mengalami sendiri, sejak saya masuk Subud, saya jadi agak menyesali mengapa dulu ketika masih remaja saya tidak menyeriusi pengheningan cipta sebelum pelajaran dimulai. Meneliti diri (niteni) saya sejak dibuka—bisa dengan cepat memahami kajian akademik apapun, bisa jadi ketika bersekolah hingga berkuliah di universitas dulu saya tidak melulu menjadi “underdog”.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 31 Mei 2026

Saturday, May 30, 2026

Bagaimana Masa Kecil Bersama Tintin Mengubah Cara Pandang Terhadap Perkeretaapian Indonesia

 


ADA keajaiban sunyi yang terjadi ketika dunia yang Anda lihat di luar jendela Anda bertabrakan dengan dunia yang telanjur Anda cintai di dalam sebuah buku. Bagi saya, titik temu itu sepenuhnya berada di atas rel kereta api Indonesia, yang dibayangkan kembali melalui goresan tinta yang bersih dan tegas dari gaya seni ligne claire (garis jelas). Melihat kereta Eksekutif yang ramping meliuk di jalur pegunungan Jawa Barat, atau lokomotif diesel klasik yang merayap masuk ke stasiun sibuk di Jawa Tengah—yang digambarkan dengan garis-garis kuat dan warna-warna datar yang cerah—seperti melihat masa kecil saya dan warisan budaya saya akhirnya berbicara dalam bahasa yang persis sama.

Tumbuh dewasa, imajinasi saya tidak dibentuk oleh bentang alam yang luas, melainkan oleh panel-panel presisi yang tertata rapi dalam komik Petualangan Tintin karya Hergé. Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam menelusuri halaman-halaman itu dengan jari saya. Yang memikat saya bukan hanya misteri penjelajahan dunianya; melainkan bagaimana gaya ligne claire membawa kejelasan mutlak pada dunia tersebut. Dalam semesta Tintin, segala hal memiliki bobot yang sama. Dinding bata, mantel, mobil antik, dan lokomotif uap semuanya digambar dengan ketebalan garis yang persis sama dan kokoh. Tidak ada bayangan pekat untuk bersembunyi, tidak ada gradasi berantakan yang mengalihkan pandangan. Itu adalah gaya yang mengupas kekacauan realitas, menyisakan kebenaran yang ideal dan tertata indah. Gaya itu mengajari saya untuk melihat dunia sebagai sesuatu yang bisa dipahami, diatur, dan sangat dihargai bentuk serta strukturnya.

Bertahun-tahun kemudian, kosakata visual yang tertanam jauh di dalam benak saya itu menemukan subjek sempurnanya pada perkeretaapian Indonesia. Jaringan rel Indonesia pada dasarnya memang dramatis dan kaya akan cerita. Jalur ini membelah jajaran gunung berapi yang terjal, membentang di atas viaduk baja raksasa peninggalan era kolonial, dan memotong langsung di jantung hamparan sawah hijau zamrud. Pada kenyataannya, ini adalah sebuah kelebihan beban sensorik dari panas tropis, raungan mesin, dan bayang-bayang yang bergeser. Bagaimanapun, ketika Anda menerapkan gaya ligne claire di atasnya, sesuatu yang luar biasa terjadi.

Gaya kartun ini mengikis debu dari kelembapan tropis dan kilau kacau matahari siang, menyisakan esensi perjalanan yang murni dan puitis. Warna khas oranye dan biru pada lokomotif berubah menjadi pernyataan geometris yang berani di tengah latar padang hijau yang sempurna dan solid. Kisi-kisi baja yang rumit pada jembatan seperti Cikubang ditransformasikan menjadi pola garis yang memukau, bersih, dan sempurna. Gaya ini tidak mengurangi realitas lanskap Indonesia; sebaliknya, ia mengangkatnya, mengubah perjalanan komuter sehari-hari menjadi sebuah petualangan bernostalgia yang epik.

Mencintai gambar-gambar ini adalah sebuah pengingat bahwa kita tidak harus meninggalkan gairah masa kecil kita saat beranjak dewasa; sebaliknya, kita bisa menggunakannya sebagai lensa untuk mengapresiasi budaya dan lingkungan kita sendiri. Ini menunjukkan bahwa inspirasi tidak harus datang dari galeri termegah atau filosofi paling rumit. Terkadang, cara Anda memandang dunia ditentukan oleh buku komik yang Anda baca di lantai kamar Anda puluhan tahun yang lalu. Dengan melihat kereta api Indonesia melalui garis-garis jelas dari masa kecil saya, saya diingatkan bahwa ada keindahan dan keteraturan yang melekat, yang menunggu untuk ditemukan dalam kehidupan sehari-hari kita—kita hanya harus menemukan bingkai yang tepat untuk melihatnya.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 30 Mei 2026

Wawasan Minim Kaum Gen Z

JADI, kemarin, saya kembali memberikan workshop kepada para tenaga pemasaran dari sebuah biro perjalanan umroh dan haji. Kali ini, topiknya adalah platform dari “story-telling untuk branding”, yaitu copywriting. Saya memberikan dasar-dasarnya dengan presentasi Powerpoint sebanyak 39 slide (terbanyak adalah visual contoh materi komunikasi cetak, audio-visual dan audio) yang pernah saya buat tahun 2020.

Slide 13 menampilkan semboyan tiga kata bahasa Prancis ini. Empat Gen Z yang mengikuti workshop, yang semuanya berstatus mahasiswa dari dua universitas negeri dan swasta ternama di Tangerang Selatan (masing-masing dari jurusan Ilmu Komunikasi, Manajemen dan Informatika), berkerut kening. Saya menangkap kebingungan mereka sebelum saya berkata apa-apa, lalu saya bertanya, “Anda semua pernah tahu ini? Semboyan Revolusi Prancis 1789-1799.”

 


Semua peserta workshop menyatakan tidak tahu dan belum pernah tahu. “Nggak diajarkan di sekolah, juga nggak di pelajaran Sejarah,” kata salah satu peserta. Jadi, saya terpaksa mengisi workshop Periklanan dengan sesi pengajaran Sejarah Dunia selama kurang lebih lima menit. Kasihan nasib studi sejarah dewasa ini.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 30 Mei 2026

Friday, May 22, 2026

Mengajar Dengan Bimbingan Latihan

DULU, saya pernah kuliah di Jurusan Pendidikan Sejarah IKIP Jakarta selama dua semester, karena diterima di pilihan kedua saya di Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru) 1986. Saya pindah (lolos Sipenmaru 1987) ke Jurusan Sejarah Fakultas Sastra (kini Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya/FIB) Universitas Indonesia salah satunya karena saya tidak suka mengajar kelas—saya gampang demam panggung.

Anehnya, setelah masuk Subud, saya malah suka sekali jika diminta mengajar di depan kelas, terutama dalam bidang pekerjaan saya—copywriting, periklanan dan strategi branding. Bisa dibilang saya kecanduan berbicara di depan publik, yang untuk itu saya tidak pakai persiapan sama sekali, atau tidak over-prepared, melainkan hanya mengandalkan bimbingan Latihan.

Jumat siang ini, saya kembali mendapat kesempatan itu, dan lagi-lagi—kecuali materi Powerpoint 17 halaman yang hanya berisi poin-poin singkat—tanpa persiapan. Saya hanya rileks, sedari rumah ke lokasi pengajaran saya tidak memikirkan sama sekali apa yang akan saya sampaikan, melainkan hanya menikmati perjalanan sejauh 11 km dengan bersepeda motor.

 





Yang saya ajar (saya menyebutnya “momen berbagi”) adalah empat staf pemasaran dan satu desainer grafis sebuah biro perjalanan umroh dan haji, yang semuanya dari Gen Z, dalam hal “copywriting dengan teknik story-telling untuk branding”. Ibarat keran air, segala ucapan saya dengan bimbingan Latihan mengalir begitu saja, hingga saya sendiri mendapat pengertian baru. Saya perhatikan pula bahwa saya dapat dengan mudah membaur dengan audiens saya, seolah saya dan mereka sudah saling mengenal lama.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 22 Mei 2026

Sunday, May 17, 2026

Bagaimana Menulis dan Memasak Saling Membantu

SAAT menjamu Manajer CSR dari perusahaan klien saya di sebuah restoran mewah di Bandung, Jawa Barat, pada 12 Mei 2026 lalu, sang Manajer, yang sering melihat status WhatsApp atau Story Instagram saya, berkata, “Pak Arifin suka memasak juga ya?” Saya iyakan. “Enak mana, Pak Arifin, menulis atau memasak?” tanyanya kemudian.

Sambil memotong ikan berbalut tepung goreng dan menusuk sepotong kentang wedges di piring di hadapan saya, saya bercerita bahwa menulis dan memasak memiliki kesamaan. Menulis meracik rasa jiwa agar dapat terkoneksi dengan sisi terdalam pembaca, sedangkan memasak membuat saya meracik rasa selera pemakannya.

Bagi sebagian orang, dapur dan meja kerja adalah dua dunia yang sepenuhnya berbeda. Yang satu dipenuhi aroma bawang putih yang ditumis, percikan minyak, dan denting sudit bertemu wajan. Yang lain sunyi, hanya diiringi ketukan kibor, berhadapan dengan layar putih yang menanti untuk diisi. Tetapi, jika Anda bersedia duduk sejenak di ambang pintu yang menghubungkan kedua ruangan ini, Anda akan menyadari bahwa juru masak dan penulis sebenarnya sedang melakukan ritual yang persis sama: mereka sedang meracik mentah menjadi matang, mengubah kekacauan menjadi sebuah mahakarya yang bisa dinikmati.

Kemiripan ini bermula sejak langkah paling awal, yaitu saat saya berhadapan dengan bahan baku. Sebagai penulis, saya tidak langsung melahirkan naskah; saya mengumpulkan serpihan ide, potongan memori, dan riset mendalam. Ini sama persis dengan seorang juru masak yang berdiri di pasar, memilih sayuran paling segar, memilah rempah-rempah, dan membayangkan bagaimana rasa daging yang segar akan berpadu dengan ketumbar dan jintan. Bahan baku dalam menulis adalah kata-kata, sedangkan dalam memasak adalah bahan pangan. Keduanya menuntut kepekaan yang sama. Jika Anda terbiasa memilih kata yang tepat agar kalimat tidak terasa hambar, Anda akan secara otomatis melatih insting yang sama saat menakar garam agar sup tidak terasa hambar.

Keajaiban yang sesungguhnya baru terjadi saat proses pencampuran dimulai. Di sinilah struktur mengambil alih. Dalam memasak, ada urutan yang tidak boleh dilanggar; saya tidak bisa memasukkan daun kemangi di awal tumisan karena aromanya akan hilang, sebagaimana saya tidak bisa membongkar plot solusi masalah di bab pertama. Menulis mengajarkan saya tentang ritme dan tempo, tentang bagaimana membangun kisah sebelum mencapai klimaks cerita. Ketika insting narasi ini terlatih, saya akan terbawa ke dapur. Saya menjadi paham kapan harus membesarkan api untuk memberi efek karamelisasi yang dramatis pada daging, dan kapan harus mengecilkan api agar bumbu meresap perlahan dalam kesunyian yang sabar.

Selain masalah teknis, jembatan terbesar antara menulis dan memasak terletak pada seni menyunting. Tidak ada draf pertama yang langsung sempurna, begitu pula tidak ada masakan yang langsung pas rasanya pada cicipan pertama. Menulis melatih saya untuk berani “membuang bagian yang tidak perlu”—memotong paragraf yang indah tapi tidak menggerakkan cerita. Di dapur, kemampuan menyunting ini menjelma menjadi keberanian untuk mengoreksi rasa. Saat sup terlalu asin, saya yang terbiasa memecahkan masalah dalam plot akan berpikir kreatif, menambahkan sedikit gula atau sejumput garam untuk menyeimbangkannya, bukan malah menyerah dan membuang seluruh masakan.

Pada akhirnya, kedua aktivitas ini melatih satu otot spiritual yang sama, yaitu empati. Juru masak yang baik tidak memasak untuk dirinya sendiri; ia memasak dengan membayangkan senyum di wajah orang yang menyantapnya. Penulis yang baik pun menulis dengan membayangkan bagaimana pembaca akan terhanyut dalam emosi di setiap lembarnya.

Oleh karena itu, saat saya merasa buntu di depan komputer dan kata-kata seolah enggan mengalir, beranjaklah saya ke dapur. Mengiris sebatang daun bawang, mendengarkan desis minyak saat menyentuh wajan, dan membiarkan indra saya beristirahat dari logika kata. Begitu pula sebaliknya, saat eksperimen dapur saya gagal, saya akan duduk dan menulis apa yang salah. Dengan membiarkan kedua dunia ini saling mengisi, saya tidak hanya sedang belajar menjadi juru masak yang lebih peka, tetapi juga seorang penulis yang menyajikan cerita dengan bumbu kehidupan yang jauh lebih kaya.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 18 Mei 2026

Wednesday, May 13, 2026

Pertama Kali Percaya Testing


DI DUA tahun pertama saya sejak dibuka di Subud, saya sama sekali tidak percaya pada testing. Hal itu berubah ketika saya “terpaksa” melakukannya, dan itu terjadi di sebuah desa di Jawa Tengah, yang saya kunjungi bersama lima saudara Subud dari Jakarta Selatan, seminggu setelah gempa besar meluluhlantakkan Yogyakarta pada 27 Mei 2006. Kami berenam meluncur ke Yogyakarta dan sekitarnya untuk menyalurkan bantuan bagi para anggota Subud di kawasan gempa yang menjadi korban, baik yang luka-luka maupun yang sampai kehilangan tempat tinggal.

Kami singgah di Desa Paseban, di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Satu pembantu pelatih yang bersama kami dari Jakarta memiliki paman yang tinggal di kaki bukit di desa tersebut. Sebuah masjid—yang dikenal sebagai Masjid Gholo—berdiri kokoh di pucuk bukit. Masjid yang dibangun pada abad ke-16 itu kabarnya dipindah dari tempatnya semula di Yogyakarta secara digeser dengan kekuatan gaib ke lokasi baru di puncak bukit itu. Meski dianggap legenda belaka, rata-rata warga lokal percaya bangunan masjid itu benar-benar dipindah dengan cara digeser oleh seorang wali Islam yang memiliki kesaktian. Untuk menguji kebenarannya, si pembantu pelatih menyuruh saya melakukan testing kejiwaan.

Awalnya, saya bersikeras menolak karena saya tidak percaya omong kosong testing dan cerita soal masjid itu. Tetapi si pembantu pelatih memastikan bahwa kejadian pemindahan masjid itu secara gaib memang benar-benar terjadi. “Kamu testing ya, cari tahu siapa orang yang telah menggeser masjid itu,” kata si pembantu pelatih ke saya. Ia menyuruh saya duduk bersila di tengah pekarangan rumah pamannya, menghadap bukit di mana masjid itu berada. Saya memejamkan mata dan memulai testing, dengan pertanyaan yang saya ucapkan dalam hati: “Siapa yang memindahkan masjid itu ke puncak bukit?”

Saya tiba-tiba merasakan suatu suasana yang asing (sulit dijelaskan), kemudian melihat sosok berjubah dan bersorban berdiri dengan kedua lengannya bersedekap, di sebelah si pembantu pelatih. Saya membatinkan pertanyaan, “Siapa Anda?”, dan memperoleh pengertian bahwa sosok itu adalah Sunan Kalijaga, salah satu dari sembilan wali Islam di tanah Jawa, atau Wali Sanga.

Saya sudahi testingnya, membuka mata saya lalu membuka mulut saya: “Saya melihat sosok Sunan Kalijaga!”

Si pembantu pelatih berkata bahwa saya berhasil mendapatkan jawaban melalui testing. Momen itu pertama kalinya saya mulai percaya testing ala Subud. Selanjutnya, bagaimanapun, saya tidak pernah lagi menggunakan testing untuk mendapatkan jawaban atas misteri-misteri atau peristiwa supranatural yang bagi saya tidak ada gunanya.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 14 Mei 2026

 

 

Sunday, May 10, 2026

Gorengan dan Kesesatan

SEJAK pertengahan Desember 2022 saya reguler Latihan di Ranting Pamulang yang berjarak sekitar 5 km dari rumah saya, dan sangat jarang ke Wisma Subud Cilandak—hampir 10 km dari rumah saya. Kalau hari Minggu, 10 Mei 2026, saya Latihan di Cilandak, adalah karena selama seminggu ini saya kehilangan kesempatan Latihan di Pamulang lantaran saya sakit dan cuaca buruk.

Kalau ke Cilandak, tempat nongkrong saya adalah di “Teras Timur”, teras di sisi timur Hall Latihan Cilandak, yang disangka dan mendapat julukan “Kelompok Subud Sesat” oleh mereka yang tidak pernah nongkrong di situ, dan selalu tersebut nama saya di samping dua anggota lainnya (salah satunya meninggal pertengahan Desember 2024) sebagai “pentolan kelompok”. Anggapan yang tentu saja salah, karena geng Teras Timur terbentuk secara organik, tanpa pernah saya rencanakan atau inginkan. Mengapa disebut “sesat”, karena mereka yang menganggap begitu hanya mendengar selentingan bahwa obrolan kejiwaan dari orang-orang yang nongkrong di situ “keluar dari arus utama”. Padahal kami hanya suka mencandai penerimaan atau pengalaman masing-masing dengan Latihan.

Jarang sekali ada wanita yang ikut gathering tidak resmi di situ, kecuali mereka yang kenal baik dengan kami, dan kebetulan lewat dalam perjalanan mereka ke toilet wanita, yang memang berlokasi di sisi timur hall Latihan. Para pembantu pelatih telah mencegah para anggota baru untuk bergabung di geng Teras Timur agar tidak cepat “terganggu”. Tidak pernah pula pengurus Cabang Jakarta Selatan ataupun Nasional yang dengan sadar mau meluangkan waktu untuk nongkrong di Teras Timur, sehingga agak mengejutkan kami, geng Teras Timur, ketika siang kemarin, pasca Latihan, Ketua Umum Pengurus Nasional PPK Subud Indonesia 2025-2027, Muhammad Ridwan, dan satu pembantu pelatih senior dari Cabang Jakarta Selatan tiba-tiba bergabung dengan kami. Sontak semua diam, padahal sebelumnya obrolan kami ramai.

Ketua Umum Pengurus Nasional memancing kami untuk mau buka mulut, berbagi cerita pengalaman atau pemahaman, tetapi semua membisu. Dengan cuek saya pun berkata, “Asyiknya ngobrol itu kalau ada gorengan, Mas!” Ketua Umum Pengurus Nasional pun membeli gorengan secara daring dan menelepon salah satu dari para anggota wanita yang berjualan makanan dan minuman di pekarangan depan Hall Cilandak. Ketua Umum Pengurus Nasional memborong semua jualan mereka dan meminta agar dibawa ke Teras Timur. Barulah suasana cair. Di antara topik pembicaraan pertama, saya tertarik pada pertanyaan Ketua Umum Pengurus Nasional: “Kalau bertanya, apa alasan seseorang masuk Subud, itu sudah biasa. Coba, tanya dong mengapa seseorang bertahan di Subud.”

Saya menyeletuk, “Itu yang sering saya tanyakan pada diri saya sendiri... mengingat saya di awal mengenal Subud saya bukanlah orang yang berminat pada spiritualitas. Kalau tidak dipancing dengan makanan enak, mungkin saya tidak pernah masuk Subud.”©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 11 Mei 2026

Saturday, May 9, 2026

Modal Lain

TAHUN 2009, lantaran diare tidak kunjung berhenti selama lebih dari dua minggu—karena stres yang disebabkan oleh pekerjaan, saya dikenalkan oleh almarhum Pak Otjo Wiroreno (anggota Subud Jakarta Selatan) ke dr. Harry Angga, seorang dokter asal Bandung yang berhenti berpraktik dokter medis, beralih ke alternatif. Berbekal ilmu kedokteran Barat dari Jerman dan ilmu penyembuhan Timur dari Tiongkok, beliau menciptakan metode penyembuhan diri sendiri (auto-therapy) yang beliau namakan senam olah napas dan gerak Bio Energy Power atau BEP. Dilatih langsung oleh dr. Harry, pada pelatihan pertama itu diare saya langsung reda.

Disarankan oleh dr. Harry, agar saya BEP sehari dua kali, pagi dan sore, masing-masing 15 sampai 30 seri. Satu seri terdiri dari tiga jurus yang sangat mudah gerakannya, bisa dilakukan anak-anak maupun orang tua, dalam posisi duduk atau berdiri. Selain saya dan Pak Otjo, anggota Subud lainnya yang ikut pelatihan BEP tahun 2009 itu adalah istri saya, Mas Luthfie, dan Pak Isa Anshori (dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Jakarta yang menderita tumor tenggorokan). Yang ajaib, tiap kali berlatih BEP bersama di kompleks Bank Mandiri Cipete, Jakarta Selatan, di mata dr. Harry Angga dan para peserta lainnya, yang dari Subud itu “tampak berbeda” dan efek kesembuhannya serta kesehatannya juga cepat, dalam sekejap. Seperti diare saya dan tumor tenggorokannya Pak Isa, reda atau hilang segera pada pelatihan pertama.

Dan menurut kesaksian para peserta lainnya, para praktisi BEP dari Subud gerakannya serasi, selalu bersemangat dan pasca latihan BEP selalu kelihatan lebih segar dan bugar. Dokter Harry sendiri beberapa kali mengungkapkan kekagumannya, karena sebagai kreator BEP beliau belum pernah mengalami atau merasakan efek sekejap dari BEP seperti halnya yang dialami atau dirasakan oleh praktisi yang dari Subud.

Saya terpikir untuk berbagi cerita ini, setelah barusan seorang praktisi BEP lama, yang tidak saya kenal, mengirim pesan WhatsApp ke saya (nomor saya dia dapat dari mailing list BEP yang sudah tidak aktif), menanyakan apa saya punya modal lain selain BEP kok bisa “sukses” dalam latihan BEP, sedangkan dia sudah bertahun-tahun belum merasakan manfaatnya. Ya, saya sampaikan apa adanya... mungkin karena saya barengi dengan Latihan Kejiwaan.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 10 Mei 2026

Thursday, May 7, 2026

Menguasai Teknik Penceritaan Melalui LDR

SEORANG relasi bisnis meminta kesediaan saya untuk mengajari para staf pemasaran di perusahaannya dalam teknik penceritaan sebagai cara untuk meningkatkan penjualan. Saya bersedia, tentu saja. Saya bercanda—ketika ditanya berapa sesi yang dibutuhkan untuk seseorang bisa jago dalam penceritaan—bahwa menulis membutuhkan pembelajaran seumur hidup.

Sebagai pendahuluan, saya bercerita bahwa kemampuan saya menulis narasi pemasaran dengan teknik penceritaan dipicu oleh hubungan jarak jauh (long-distance relationship/LDR) saya dengan pacar saya (yang kini telah menjadi istri saya). Alkisah, pada tahun 1994, ketika saya menjalankan LDR itu, saya menulis surat cinta berlembar-lembar untuk menyambungkan jarak rindu kami. Setiap minggu saya menulis dan mengirim surat berstempel Kilat Khusus ke pacar saya. Suatu hari, ketika saya tengah menulis surat, teman saya datang. Ia membaca suratnya dan berkomentar, “Tulisan lo mengalir, enak dibacanya. Lo pintar bercerita. Lo seharusnya jadi copywriter.”

Saat itu, saya belum tahu apa itu “copywriter”. Saya baru tahu ketika pada akhir Oktober 1994 saya diterima bekerja di Matari Advertising dan mendapat ruang kerja sementara di perpustakaan biro iklan raksasa Indonesia itu, dimana saya menemukan delapan buku tentang copywriting.

Salah satu kiat untuk copywriting yang hebat ternyata ditawarkan kedelapan buku tersebut: “Menulislah seolah Anda sedang menulis surat kepada kekasih Anda.” Itulah teknik terkuat penceritaan yang selalu saya sampaikan kepada para peserta workshop copywriting yang saya saya berikan.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 8 Mei 2026

Friday, May 1, 2026

Menghidupkan Sebuah Karya

SATU saudara Subud di Jakarta tidak suka bila sebuah karya tulis dibuat dengan bantuan Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI). “Tidak ada rasanya, tidak ada jiwanya, kalau pakai AI,” kata dia.

Tahun lalu dia dan saya menghadiri acara peluncuran buku karya teman kami (dia bukan anggota Subud). Dalam bedah bukunya, si penulis berterus terang bahwa ia menggunakan bantuan Gemini AI untuk merangkai kalimat-kalimat dalam bukunya. Parahnya, di testimoni dari salah satu peninjau buku tersebut, di cover belakangnya, tertulis bahwa penulis buku adalah seorang “spiritualis”, yang bagi saudara Subud itu terasa konyol. Bagi dia, seorang spiritualis seharusnya mengandalkan rasa, alih-alih teknologi.

Saya tidak sepenuhnya sependapat dengan saudara Subud itu, karena pengalaman telah menunjukkan ke saya bahwa bukan apa alatnya melainkan ketenangan batin kitalah yang dapat “menghidupkan” sebuah karya. Pengalaman baru-baru ini lagi-lagi membuktikan kebenaran itu.

Saat ini, saya sedang menjadi freelance copywriter di sebuah firma kehumasan yang menggarap proyek penulisan coffee-table book dalam rangka ulang tahun ke-25 sebuah perusahaan. Fee yang tidak sesuai dengan tingkat kerepotannya serta waktu yang kelewat mepet membuat saya mengambil jalan pintas: Menggunakan AI untuk merancang bangun teksnya. Saya tulis prompt sesuai dengan apa-apa yang disyaratkan klien dalam hal penulisan.

Ada satu hal lain yang menginspirasi saya untuk menggunakan bantuan AI, yaitu cerita dari “kalangan dalam” Pamulang, bahwa nama Subud yang diberikan Ibu Rahayu kepada anggota bukanlah hasil dari penerimaan spontan, melainkan dengan melakukan testing terhadap sejumlah nama yang diambil dari buku tentang “nama dan artinya”, yang bisa dibeli di toko buku. Nama Subud tetap akan memiliki vibrasi karena dicomot dengan bimbingan Latihan.

Hasilnya saya baca dan edit dengan diri saya dalam keadaan Latihan, kemudian saya serahkan ke klien. Kliennya berkomentar bahwa tulisan saya (yang aslinya dibuat oleh AI) memancarkan vibrasi yang membuatnya merasa dirinya berada di dalam tulisan itu dan menilai saya mampu membangun emosional pembaca. Kesimpulan saya, energi Latihan dapat menembus segala ciptaan manusia dan memberinya jiwa.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 2 Mei 2026

Tuesday, April 21, 2026

Kritik Kartini Terhadap Agama

RADEN Ajeng Kartini (1879-1904) adalah pahlawan nasional Indonesia yang terkemuka dan pelopor gerakan hak-hak perempuan serta pendidikan. Lahir pada 21 April 1879—karena itulah setiap tanggal 21 April diperingati oleh rakyat Indonesia sebagai Hari Kartini—dalam keluarga bangsawan Jawa di masa kolonial Belanda, ia paling dikenal melalui kumpulan surat-suratnya yang kemudian diterbitkan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Surat-surat tersebut merinci pemikirannya tentang reformasi sosial, penderitaan perempuan Jawa, dan perjuangan kemerdekaan nasional.                   

Kartini dirayakan secara luas sebagai perintis hak-hak perempuan dan pendidikan di Indonesia. Namun, di balik advokasi sekolah dan kesetaraan sosial, terdapat pemikiran analitis yang mendalam—pemikiran yang berani mengkritisi fondasi praktik keagamaan di zamannya. Kartini bukan sekadar seorang reformator; ia adalah seorang beragama yang kritis. Surat-suratnya mengungkap sosok wanita yang menolak menerima tradisi begitu saja, melainkan mencari keyakinan yang berakar pada logika dan kasih sayang.

Kritik Terhadap Pemahaman Agama

Salah satu kritik Kartini yang paling terkenal adalah mengenai cara Alquran diajarkan pada masanya. Ia mempertanyakan mengapa para murid diharapkan untuk menghafal dan melantunkan kitab suci dalam bahasa Arab tanpa diwajibkan memahami maknanya. Bagi Kartini, pertumbuhan spiritual mustahil terjadi tanpa pemahaman. Ia melihat praktik melantunkan kata-kata tanpa tahu definisinya sebagai sebuah latihan yang hampa. Keinginannya adalah agar agama berbicara kepada hati melalui pikiran—sebuah sikap radikal dalam masyarakat di mana otoritas agama jarang sekali dipertanyakan.

Kritik Kartini pun meluas hingga ke luar ruang kelas. Ia membayangkan sebuah dunia yang melampaui batas-batas agama terorganisir, menyiratkan bahwa dunia akan jauh lebih damai jika agama-agama tidak menonjolkan perbedaan mereka atau terlibat dalam penghinaan dan konflik timbal balik. Observasinya yang paling tajam tetap terasa sangat relevan hingga saat ini: “Agama seharusnya menjaga kita dari dosa, namun seringkali, dosa justru dilakukan atas nama agama!”

Kejujuran Intelektual

Apa yang membuat Kartini benar-benar “keren” menurut standar modern adalah kejujuran intelektualnya. Ia tidak meninggalkan agamanya; sebaliknya, ia menjunjung agamanya ke standar yang lebih tinggi. Ia membuktikan bahwa mencintai budaya atau agama seseorang bukan berarti mengabaikan kekurangannya. Ia menantang para pemimpin agama untuk memastikan bahwa agama berfungsi sebagai jembatan menuju perdamaian, bukan senjata untuk perpecahan.

Dengan menuntut untuk memahami kitab suci bagi dirinya sendiri, ia merebut kembali kedaulatan spiritualnya. Kartini tetap menjadi pengingat yang kuat bahwa menjadi orang yang beragama dan menjadi pemikir kritis bukanlah dua hal yang saling eksklusif. Faktanya, seperti yang ia tunjukkan, iman yang paling mendalam sering kali adalah iman yang tidak takut untuk bertanya, “Mengapa?”©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 21 April 2026

Sunday, April 19, 2026

Melampaui Bayang-Bayang Inferioritas Anggota Subud Indonesia di Kancah Global

PENGALAMAN spiritual dalam wadah Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan Susila Budhi Dharma atau Subud telah berkembang secara global sejak pertengahan abad ke-20. Fenomena ini menciptakan sebuah dinamika yang unik karena secara historis dan esensial, Latihan Kejiwaan ini berakar dari pengalaman spiritual seorang putra Indonesia, yakni RM Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo, atau “Bapak”. Namun, terdapat sebuah paradoks yang cukup nyata di dalam tubuh organisasi ini di tanah air. Meskipun Indonesia merupakan rahim kelahiran Subud, interaksi dan keterlibatan anggota domestik dalam kancah internasional sering kali dirasakan masih sangat minim. Fenomena ini bukan sekadar masalah teknis atau kendala bahasa, melainkan sebuah persoalan psikologis yang mendalam dan berakar pada sejarah kolektif bangsa yang panjang.

Ketertinggalan dalam keterlibatan global ini sering kali berakar pada apa yang disebut oleh para psikolog dan sosiolog sebagai inferiority complex atau rasa rendah diri kolektif. Bagi bangsa yang pernah mengalami kolonialisme selama lebih dari tiga abad, sisa-sisa mentalitas terjajah tidak hilang begitu saja hanya dengan proklamasi kemerdekaan. Struktur kolonial yang selama berabad-abad menempatkan penduduk pribumi pada strata sosial terbawah telah meninggalkan jejak traumatis dalam alam bawah sadar. Hal ini memicu pandangan bahwa segala sesuatu yang datang dari Barat atau dunia luar memiliki kualitas yang lebih unggul, lebih modern, dan lebih kredibel dibandingkan dengan apa yang ada di dalam negeri. Dalam konteks Subud Indonesia, mentalitas ini sering kali mewujud dalam bentuk rasa sungkan atau keraguan untuk berdiri sejajar dengan anggota dari negara-negara maju.

Padahal, jika kita menilik kembali sejarah perjalanan Bapak ke mancanegara, beliau memberikan teladan yang sangat kuat mengenai martabat dan kepercayaan diri. Bapak tidak pernah menempatkan dirinya sebagai sosok yang perlu menyesuaikan diri dengan standar kebudayaan Barat demi mendapatkan pengakuan. Beliau tetap tampil apa adanya sebagai orang Jawa dengan kesahajaan dan keteguhan prinsip spiritualnya. Di hadapan para cendekiawan, ilmuwan, dan tokoh masyarakat di Inggris, Amerika Serikat, hingga Eropa daratan, beliau tidak pernah merasa rendah diri. Sebaliknya, cara beliau membawakan diri justru mengundang rasa hormat yang mendalam dari masyarakat Subud luar negeri. Beliau membuktikan bahwa otoritas spiritual dan kematangan jiwa tidak ditentukan oleh asal-usul bangsa atau latar belakang ekonomi, melainkan oleh keikhlasan dan kejernihan dalam menjalani Latihan Kejiwaan.

Ketimpangan eksposur internasional bagi anggota di Indonesia sering kali bermula dari hambatan psikologis dalam berkomunikasi. Banyak anggota yang merasa bahwa kemampuan bahasa mereka yang terbatas menjadi penghalang mutlak untuk berkontribusi dalam komite-komite internasional atau menghadiri kongres dunia. Namun, jika kita melihat lebih dalam, kendala bahasa hanyalah manifestasi permukaan dari ketakutan akan penilaian orang lain. Ada ketakutan bahwa ide atau gagasan yang disampaikan dari perspektif Indonesia akan dianggap tidak relevan atau kurang canggih. Pola pikir inilah yang harus segera didekonstruksi. Subud adalah organisasi yang berbasis pada persaudaraan kejiwaan yang melampaui sekat-sekat budaya, sehingga setiap anggota sebenarnya memiliki hak dan kapasitas yang sama untuk bersuara di panggung dunia.

Untuk memecahkan belenggu rasa rendah diri ini, diperlukan sebuah pergeseran paradigma yang dimulai dari tingkat individu. Anggota Subud Indonesia perlu menyadari kembali kekayaan nilai yang mereka miliki sebagai pemegang tongkat estafet tradisi spiritual asli Indonesia ini. Indonesia memiliki modal sosial berupa keramah-tamahan, gotong royong, dan ketulusan yang sangat dibutuhkan dalam dinamika organisasi global yang sering kali terlalu kaku atau bersifat administratif. Dengan memahami bahwa perspektif Indonesia adalah aset berharga bagi keragaman internasional, maka rasa percaya diri akan mulai tumbuh secara alami. Kita tidak perlu menjadi “kebarat-baratan” untuk diterima, melainkan cukup menjadi diri sendiri yang berdaya dan berwawasan luas.

Strategi pertama dalam memperluas eksposur internasional adalah dengan memanfaatkan teknologi digital secara proaktif. Di era konektivitas saat ini, jarak geografis bukan lagi hambatan utama. Anggota Subud Indonesia dapat mulai terlibat dalam pertemuan-pertemuan virtual, webinar, atau kelompok diskusi internasional yang sering diselenggarakan oleh World Subud Council atau zona-zona lainnya. Keterlibatan ini tidak harus dimulai dengan peran yang besar. Menjadi pendengar aktif dan sesekali memberikan opini singkat dalam diskusi daring dapat menjadi latihan yang baik untuk membiasakan diri berinteraksi dengan dialek dan budaya yang berbeda. Konsistensi dalam kehadiran digital ini akan perlahan-lahan menghapus rasa asing dan membangun kedekatan emosional dengan saudara-saudara sejiwa di belahan bumi lain.

Selanjutnya, peningkatan literasi organisasi menjadi sangat krusial. Sering kali, anggota merasa kurang percaya diri karena mereka tidak sepenuhnya memahami struktur dan mekanisme kerja organisasi di tingkat internasional. Dengan mempelajari laporan-laporan dari lembaga-lembaga (wing bodies) internasional seperti Susila Dharma International Association (SDIA) untuk bidang sosial, Subud International Cultural Association (SICA) untuk bidang budaya, Subud Education Association (SEA) untuk pendidikan, atau Subud Enterprise Services (SES) untuk enterprise, anggota akan mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai apa yang sedang terjadi di dunia luar. Pengetahuan ini memberikan basis yang kuat saat melakukan percakapan. Ketika seseorang berbicara berdasarkan data dan pemahaman konteks yang jelas, rasa rendah diri akan terkikis karena fokus perhatian beralih dari kekurangan pribadi menuju substansi permasalahan yang sedang dibahas.

Langkah strategis lainnya adalah melalui pengembangan kemitraan proyek antarnegara. Anggota di Indonesia yang memiliki keahlian di bidang tertentu, baik itu dalam manajemen, seni, pendidikan, maupun kewirausahaan, dapat menawarkan kolaborasi dengan anggota dari negara lain. Misalnya, seorang pengusaha di Indonesia bisa berdiskusi dengan sesama anggota Subud di Eropa mengenai peluang kerja sama yang saling menguntungkan. Kolaborasi berbasis proyek ini menciptakan hubungan yang setara dan profesional. Dalam proses kerja sama tersebut, interaksi yang intens akan terjadi secara alami, yang pada gilirannya akan meningkatkan kemampuan adaptasi lintas budaya. Pengalaman sukses dalam proyek kecil akan menjadi batu loncatan yang efektif untuk mengambil peran yang lebih besar di kemudian hari.

Pendidikan dan pelatihan bahasa tetap merupakan hal yang penting, namun harus didekati dengan motivasi yang benar. Belajar bahasa asing bukan bertujuan untuk meniru identitas bangsa lain, melainkan sebagai jembatan untuk menyampaikan pesan spiritual dan kemanusiaan yang universal. Organisasi di tingkat nasional dapat memfasilitasi kursus bahasa atau lokakarya komunikasi internasional yang dikhususkan bagi anggota yang memiliki minat untuk melayani di tingkat global. Dengan adanya dukungan kolektif dari sesama anggota di dalam negeri, individu akan merasa lebih berani untuk melangkah keluar dari zona nyaman mereka. Dukungan moral dari komunitas lokal sangat berperan dalam memvalidasi bahwa keberangkatan seseorang ke ranah internasional adalah representasi dari kemajuan bersama.

Selain itu, penting bagi anggota Indonesia untuk aktif mendokumentasikan dan membagikan pengalaman kejiwaan serta kegiatan sosial mereka dalam format yang dapat diakses oleh masyarakat internasional. Penulisan artikel, pembuatan video pendek, atau pengelolaan blog dalam bahasa Inggris mengenai perkembangan Subud di daerah-daerah di Indonesia dapat menarik perhatian anggota global. Sering kali, dunia luar merasa penasaran dengan bagaimana Subud dipraktikkan di tanah kelahirannya. Dengan menjadi narator bagi diri sendiri, kita tidak lagi hanya menjadi objek pengamatan, tetapi menjadi subjek yang aktif membentuk opini dan berbagi inspirasi. Inisiatif seperti ini akan menempatkan anggota Indonesia sebagai mitra dialog yang inspiratif bagi dunia.

Kehadiran fisik dalam acara-acara besar seperti Kongres Dunia atau pertemuan tingkat zona juga harus diupayakan secara terencana. Meskipun membutuhkan biaya yang tidak sedikit, manfaat dari pertemuan tatap muka tidak dapat digantikan oleh teknologi apa pun. Interaksi langsung melalui makan bersama, berbincang santai di sela-sela acara, dan mengikuti Latihan Kejiwaan bersama akan meruntuhkan tembok-tembok prasangka yang mungkin selama ini terbangun di dalam pikiran. Anggota akan menyadari bahwa saudara-saudara dari luar negeri juga memiliki tantangan, pergumulan, dan keraguan yang sama. Kesadaran akan kemanusiaan yang setara ini adalah obat mujarab bagi penyakit inferiority complex. Setiap anggota Indonesia yang pulang dari acara internasional biasanya akan membawa energi baru dan perspektif yang lebih segar untuk dibagikan kepada anggota lain di tanah air.

Mentalitas sebagai pemberi, bukan hanya penerima, juga perlu ditanamkan. Dalam hubungan internasional, sering ada kecenderungan untuk memposisikan Indonesia sebagai pihak yang membutuhkan bantuan atau bimbingan. Kita harus mulai mengubah posisi tersebut dengan menawarkan kontribusi nyata. Indonesia memiliki banyak sekali kearifan lokal dan pengalaman dalam menjaga keharmonisan dalam keberagaman yang sangat relevan dengan situasi dunia saat ini yang penuh konflik. Dengan memposisikan diri sebagai pihak yang memiliki sesuatu untuk disumbangkan bagi kemajuan Subud dunia, martabat kita sebagai bangsa akan terjaga. Hal ini sejalan dengan teladan Bapak yang selalu menekankan pentingnya berdiri di atas kaki sendiri dan berkarya secara nyata di masyarakat.

Penting juga untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas nasional tanpa harus menjadi chauvinistik. Mengenalkan budaya Indonesia, mulai dari cara berpakaian yang sopan namun elegan hingga kuliner yang kaya rasa saat berinteraksi dengan anggota luar negeri, adalah bentuk diplomasi budaya yang halus. Ketika kita menghargai identitas kita sendiri, orang lain pun akan belajar untuk menghargai kita. Rasa bangga yang sehat ini akan menjadi perisai yang kuat terhadap serangan rasa rendah diri. Anggota Subud Indonesia harus menyadari bahwa mereka adalah duta dari sebuah bangsa yang besar dengan sejarah peradaban yang tua dan mulia.

Pada akhirnya, perluasan eksposur internasional adalah sebuah proses transformasi jiwa yang sejalan dengan tujuan dari Latihan Kejiwaan itu sendiri. Latihan Kejiwaan mengajarkan kita untuk mengelola segala nafsu dan daya rendah, termasuk rasa takut dan rasa rendah diri yang menghambat potensi kemanusiaan kita. Jika setiap anggota benar-benar berserah diri kepada kekuasaan Tuhan, maka identitas kebangsaan tidak akan menjadi beban, melainkan menjadi warna-warni yang memperindah kebun persaudaraan dunia. Dengan mengikuti jejak langkah Bapak yang rendah hati namun berwibawa, anggota Subud Indonesia dapat melangkah ke panggung dunia dengan kepala tegak, siap untuk belajar, bekerja sama, dan memberikan kontribusi terbaik bagi kemanusiaan universal. Transformasi ini bukan hanya akan menguntungkan individu yang bersangkutan, tetapi juga akan memperkuat posisi Subud Indonesia sebagai pilar utama dalam perkembangan Subud di masa depan.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 20 April 2026

Wednesday, April 8, 2026

Sukun Berkejiwaan

TADI malam, saya mau Latihan di Wisma Barata Pamulang, tetapi Nuansa melarang saya pergi. Terutama karena hari ini saya harus pergi lagi untuk meeting dengan calon investor di Serpong. Saya membujuk putri saya yang berumur sembilan tahun itu, salah satunya dengan janji bahwa saya akan membawakan suguhan yang biasanya tersedia bagi anggota Subud yang datang Latihan di Wisma Barata.

Saya asal sebut saja bahwa saya akan bawakan sukun buat dia. Yang terlintas di pikiran saya adalah gorengan, tetapi mulut saya berucap “sukun kukus”. Akhirnya, Nuansa membolehkan saya pergi—bukan karena janji saya akan membawakan kue tapi daripada hari Minggu saya pergi ke Wisma Subud Cilandak sebagai gantinya.

Yang membuat saya kaget ketika tiba di Wisma Barata adalah bahwa suguhannya memang sukun kukus yang ditaburi kelapa parut. “Yang spontan itulah yang dari jiwa,” kata Bapak, bukan yang terpikirkan, apalagi pikiran yang terisi nafsu belaka.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 9 April 2026

Monday, April 6, 2026

Jejak Langkah di Rumah Kenangan

 


RUMAH itu masih berdiri kokoh di sebuah ruas jalan yang menyimpan sejarah panjang keluarga kami. Ayah saya, seorang perwira menengah TNI Angkatan Darat, mulai menempati rumah papan sederhana tersebut pada tahun 1963. Saat itu, kawasan ini masih dikenal sebagai Kompleks Perumahan Angkatan Darat Jaya—merujuk pada nama Komando Daerah Militer Jayakarta. Seiring berjalannya waktu, wilayah ini lebih populer disebut Pondok Jaya, sebuah permukiman militer yang berbatasan langsung dengan Kompleks Kepolisian RI, Pondok Karya, di sisi utara.

Secara administratif, Kompleks Pondok Jaya terletak di Kelurahan Pela Mampang, Jakarta Selatan. Kawasan strategis ini dulunya merupakan area penyangga pemukiman yang kemudian berkembang menjadi hunian padat. Sayangnya, kepadatan tersebut sempat membuat Pondok Jaya identik dengan banjir; genangan air kiriman sering kali mencapai ketinggian 60 hingga 150 sentimeter. Wajah kawasan ini baru bersolek ketika Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Melalui kebijakan betonisasi jalan setebal 30 cm, risiko banjir yang menghantui selama puluhan tahun akhirnya berhasil ditekan secara signifikan.

Pondok Jaya adalah saksi bisu pertumbuhan saya. Kecuali masa empat tahun saat saya bermukim di Belanda, seluruh masa kecil saya habiskan di sini. Saya memulai langkah pendidikan di TK Jaya Baru (sebelumnya TK Persit Kartika Chandra Kirana) di Jl. Pondok Jaya VIII, lalu berlanjut ke SD Paripurna (kini SDN Pela Mampang 05 Pagi/06 Petang) di Jalan Pondok Jaya VI, hingga menamatkan sekolah menengah pertama di SMP Negeri 141. Hanya saat masa SMA dan kuliah saya akhirnya “merantau” ke luar lingkungan kompleks.

Hingga saat ini, saya masih rutin berkunjung ke rumah peninggalan mendiang Ayah dan Ibu saya. Meski waktu terus bergerak maju, bagi saya, jejak kehidupan dan memori kebahagiaan bersama orang tua serta saudara kandung tetap tertinggal di sana, abadi di antara dinding-dindingnya.©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 7 April 2026

Saturday, April 4, 2026

Merasa Positif vs Berpikir Positif

SAYA barusan ditelpon satu anggota wanita dari Cabang Jakarta Selatan yang telah bermukim di kota lain di Jawa. Dia mau berkonsultasi tentang proses dari Latihan Kejiwaan; ya sudah, saya tampung saja. Saya ingin mengatakan padanya agar menelepon pembantu pelatih wanita saja atau anggota lain yang lebih senior daripada saya, dan berjenis kelamin wanita. Tetapi rasa diri saya mencegah saya untuk berkata begitu, dan sebaliknya menyuruh saya untuk mendengarkan dengan sabar, tawakal dan ikhlas.

Dalam gathering-per-telepon tersebut, terungkap melalui ucapan anggota itu, yang menginspirasi saya—meski saya pernah menerima pemahaman tersebut sebelumnya: “Saya nggak percaya dengan positive thinking atau negative thinking, Mas Arifin. Saya cenderung mengikuti positive atau negative feeling saya.”

Saya merespons dia, “Iyalah! Subud kan pakai feeling, alih-alih thinking. Kalau kita melihat orang dengan mengandalkan akal pikir saja, yang terlihat adalah yang lahiriah saja. Di tataran Rasa, yang terlihat belum tentu benar. Seseorang bisa saja kelihatan jahat, dari penampilan, perbuatan atau ucapan, tapi belum tentu ‘isi’ dirinya jahat.”

“Wah, benaarr kalau begitu perasaan saya tadi sebelum menelpon Mas,” kata si anggota. “Kalau mengandalkan akal pikir, seharusnya saya curhat ke PP wanita. Tapi nyatanya rasa saya mengarahkan saya ke Mas Arifin, yang PP bukan, wanita juga bukan.”©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 5 April 2026

Bangsa yang (Tidak Lagi) Bercerita

SEBAGAI konsultan branding, saya rajin mengamati perkembangan-perkembangan terbaru di industri komunikasi pemasaran, korporat dan keberlanjutan. Tren terkini dalam branding adalah penceritaan (storytelling). Penceritaan sebagai strategi branding bukan sesuatu yang baru sebenarnya. John Simmons dalam bukunya, The Invisible Grail: How Brands Can Use Words to Captivate Audiences, yang terbit tahun 2003, sudah mengemukakan hal itu.

Dahulu, Indonesia adalah negeri yang dibangun di atas fondasi narasi yang kokoh. Dari ujung barat hingga timur, setiap jengkal tanah memiliki guratan pada batu prasasti atau lontar atau tuturan lisan yang diwariskan dengan penuh khidmat. Tradisi ini menunjukkan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah pengamat yang tajam sekaligus penyusun strategi kebudayaan yang ulung lewat kata-kata.

Tetapi bangsa Indonesia kontemporer tampaknya kepayahan dalam mengantisipasi tren penceritaan yang merebak di industri komunikasi domestik saat ini. Dengan kemajuan teknologi informasi yang demikian pesat, seharusnya tradisi penceritaan bangsa Indonesia semakin kuat. Nyatanya, tidak!

Meskipun berpengalaman lebih dari 30 tahun di branding, dan keahlian teknis saya adalah copywriting, tetapi kemampuan penceritaan saya justru dibangun dan dibiasakan di Subud. Dan keberadaan saya di Subud belumlah selama karir saya di branding. Baru mencapai 22 tahun pada 11 Maret 2026 lalu.

Saya mencermati, sekian banyak ceramah Bapak sarat cerita pengalaman beliau sendiri maupun parabel-parabel dari kisah perwayangan, karena hal itu memang merupakan cara paling sederhana untuk menyampaikan kedalaman spiritual yang tidak sederhana. Novel The Light of the Inner Self juga merupakan salah satu “strategi” komunikasi Bapak kepada anggota dengan cara yang menghibur. Fiksi yang imajinatif lebih kena ke pikiran pembaca daripada nonfiksi yang akademik.

Selain kisah perwayangan dan karya tulis fiksi—sebagaimana yang digunakan Bapak dalam menjelaskan aspek kejiwaan, Indonesia memiliki kekayaan media komunikasi tradisional yang telah digunakan selama berabad-abad untuk menyampaikan pesan moral, informasi sosial, hingga kritik politik kepada masyarakat. Media-media ini sangat efektif karena bersifat partisipatif—masyarakat tidak hanya menonton, tetapi sering kali terlibat langsung dalam dialog atau merespons pesan yang diberikan.

Dalam ranah spiritualitas yang tidak bersandar pada doktrin, buku teks, atau otoritas guru yang mengajar, tradisi penceritaan bertransformasi menjadi jembatan komunikasi yang sangat vital. Fenomena ini terlihat jelas di Subud, di mana tidak ada ajaran yang perlu dihafal atau pelajaran yang harus dipelajari secara intelektual. Di sini, cerita bukan digunakan untuk mendikte kebenaran, melainkan sebagai wadah untuk berbagi pengalaman murni yang bersifat personal namun universal.

Membumikan Pengalaman

Beberapa waktu lalu, pada hari Minggu pagi saya memarkirkan sepeda motor saya di sebelah selatan Hall Latihan Cilandak. Dari pelataran parkir saya dapat melihat Tatap Muka—sebuah kegiatan yang mempertemukan anggota baru dengan para pembantu pelatih, di mana para pembantu pelatih biasanya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan para anggota baru yang belum sempat tersampaikan ketika mereka melalui masa tunggu tiga bulan mereka. Tatap Muka digelar hanya sekali seminggu, tiap Minggu pagi mulai pukul 10.00 hingga 11.30 waktu Jakarta.

Sambil mengucapkan permisi, saya melewati ajang Tatap Muka itu untuk menuju tempat nongkrong rutin saya di teras timur Hall Latihan Cilandak. Tetapi dua dari tiga pembantu pelatih yang tengah bertugas melayani tanya-jawab dengan para anggota itu serempak memanggil saya, dan mempersilakan saya duduk di antara para pembantu pelatih. Saya bukan pembantu pelatih, tetapi saya didaulat untuk menceritakan pengalaman saya dengan bimbingan Latihan. Menurut para pembantu pelatih itu, saya adalah “gudang cerita pengalaman”. Entah dari mana mereka mendapat informasinya, tetapi saya memang kerap menuliskan pengalaman saya di blog saya—sebuah blog yang tidak saya harapkan untuk dibaca, tetapi nyatanya tidak sedikit orang yang telah mengaksesnya, dan berbuntut dengan mereka akhirnya masuk Subud.

Komunikasi antar anggota Subud sering kali berpusat pada apa yang disebut dengan kesaksian atau penuturan pengalaman pribadi. Karena jalan ini bersifat pengalaman langsung (empiris), maka satu-satunya cara untuk menggambarkan apa yang terjadi di dalam diri adalah melalui narasi. Seorang pembantu pelatih tidak berceramah kepada anggota tentang bagaimana cara mencapai kedamaian; sebaliknya, mereka menceritakan momen ketika kedamaian itu hadir secara tiba-tiba dalam keseharian mereka. Penceritaan ini berfungsi sebagai cermin bagi orang lain, di mana pendengar sering kali menemukan resonansi atau konfirmasi atas pengalaman mereka sendiri tanpa merasa digurui.

Selain itu, tradisi penceritaan di sini berperan sebagai alat untuk membumikan pengalaman spiritual yang abstrak menjadi sesuatu yang manusiawi. Dalam jalan yang menekankan pada perkembangan jiwa secara alami, cerita tentang kegagalan, perjuangan, atau perubahan karakter yang halus menjadi lebih berharga daripada teori-teori filosofis yang muluk. Melalui cerita, para anggota membangun sebuah konsensus kolektif yang longgar tentang bagaimana Latihan Kejiwaan bekerja dalam kehidupan nyata, mulai dari hubungan keluarga hingga pekerjaan profesional.

Bahasa Universal

Fungsi lain dari penceritaan dalam konteks ini adalah sebagai pelindung dari kristalisasi ajaran. Karena cerita bersifat subjektif dan dinamis, ia tidak mudah dibakukan menjadi hukum yang kaku. Sebuah cerita tentang pengalaman seseorang pada hari ini bisa jadi berbeda dengan pengalamannya tahun depan. Hal ini menjaga agar Subud tetap cair dan hidup, sesuai dengan prinsip bahwa pertumbuhan jiwa adalah proses yang berkelanjutan dan unik bagi setiap individu.

Pada akhirnya, penceritaan menjadi bahasa universal yang menyatukan perbedaan latar belakang budaya dan intelektual para anggota Subud. Tanpa adanya pelajaran formal, setiap orang berdiri sejajar sebagai pencerita sekaligus pendengar. Komunikasi ini menciptakan sebuah ruang persaudaraan yang organik, di mana pemahaman tidak datang dari instruksi lisan, melainkan dari getaran makna yang terselip di antara baris-baris kisah hidup yang dibagikan secara jujur dan rendah hati.©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 5 April 2026

Friday, April 3, 2026

Membaca Literatur Sejarah Subud

BERIKUT terjemahan dari email balasan saya kepada Daniela Moneta, Administrator dan Arsiparis Utama WSA Archives, tadi pagi—merespons permintaannya agar saya mewawancarai anggota-anggota lama Indonesia, yang pernah mengalami era ketika Bapak Muhammad Subuh masih ada.


Dear Daniela,

Jika yang dimaksud “masa-masa awal” adalah ketika Subud sebagai organisasi baru diresmikan pada Februari 1947 atau era sebelumnya, tentu akan sulit bagi saya untuk melakukan wawancara. Karena sebagian besar—kalau tidak bisa dikatakan “semuanya”—orang-orangnya sudah meninggal. Paling banter saya bisa mewawancarai mereka yang masuk Subud selama dekade 1960an, itupun hanya orang asing yang telah lama tinggal di Indonesia, seperti Harris Roberts dan Stuart Cooke (saya lebih sering ketemu mereka. Sebulan sekali saya acap bertandang ke rumah Stuart, yang tinggal lebih dari 25 km dari rumah saya). Para anggota Indonesia tampaknya sangat enggan diwawancarai perihal pengalaman Subud mereka—lebih karena rendah hati, tidak merasa bahwa pengalaman itu hebat, tidak setara dengan Bapak (ciri orang Jawa yang secara adat harus “merendahkan diri” di hadapan raja).

Beberapa bulan lalu, saya mendapat permintaan dari Ridwan Lowther untuk copy editing naskah Bahasa Indonesia dari History of Subud Jilid 1 dan 2. Cetakan pertama dari terjemahan Indonesia History of Subud saya terima dari Rashidah Pope yang ia titipkan pada satu anggota Indonesia yang menghadiri Kongres Dunia 2024 di Kalimantan, yang tidak saya hadiri. Saya merasa sangat terbantukan dalam hal pemahaman saya mengenai berbagai aspek Subud oleh buku itu—maupun buku-buku memoar anggota lainnya yang pernah saya terjemahkan. Misalnya tentang “daya rendah dan daya tinggi”, yang ternyata bukan sebutan kualitas—sebagaimana yang dipahami banyak pembantu pelatih generasi masa kini—melainkan istilah dari Bapak untuk membedakan daya-daya yang ada bumi dan daya-daya yang ada di “langit”. Dan tentang “testing”, yang ternyata bermakna “merasakan diri sendiri terhadap segala jenis karakter orang dan kejadian-kejadian” yang merupakan hal yang lumrah dalam kehidupan orang Jawa tradisional.

Selain membaca ceramah, saya paling suka membaca buku-buku sejarah Subud, terutama karena saya—yang dibuka tahun 2000an awal—mendapat pengertian yang komprehensif bagaimana Subud yang azali, yang belum terdistorsi oleh “penjelasan-penjelasan menyimpang” dan “praktik-praktik mengada-ada” dari para pembantu pelatih terkini, yang jangankan membaca ceramah, mengenal Bapak saja tidak, karena mereka dibuka di zaman ketika Bapak sudah tidak ada. Saya kerap bertemu anggota-anggota baru di Cabang Jakarta Selatan khususnya, yang sepertinya “terputus” dari Subud yang Bapak visikan. Setiap kali Latihan bersama di Cilandak, yang kini diikuti oleh banyak anggota baru, saya merasakan “sentuhan yang mengganggu perasaan saya”, yang kemudian saya konfirmasikan ke Harris Roberts, yang ternyata juga merasakan hal yang sama.

Agar tidak menjadi fitnah, saya kemudian akan bertanya-jawab dengan beberapa anggota baru, dan menemukan fakta bahwa mereka ternyata tidak mengerti bagaimana melakukan Latihan. Hal itu disebabkan tidak memadainya penjelasan pembantu pelatih ketika mereka melalui masa tunggu tiga bulan mereka, serta mendapatkan pendampingan dari pembantu pelatih yang bahkan belum bisa menginsafi Latihannya sendiri.

Stuart Cooke pernah berkata ke saya, “Siapa yang bisa menjelaskan Latihan Kejiwaan selain Bapak? Kamu bisa? Saya? Tidak ada, Arifin. Hanya Bapak yang bisa! Maka satu-satunya cara saat ini adalah rajin membaca ceramah di samping tekun Latihan!”

Itu memotivasi saya untuk terus membaca ceramah, literatur sejarah Subud, dan, jika memungkinkan, menggali lebih dalam melalui obrolan saya dengan para pembantu pelatih atau anggota yang pernah mengalami masa ketika Bapak masih ada.©2026


Salam,

Arifin


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 4 April 2026

Tuesday, March 31, 2026

Semesta Mendukung Bubur Ayam

 


KEMARIN malam, saya berkata ke istri kalau saya kangen makan bubur ayam ala Warkop Kuningan 24 Jam yang menyediakan bubur ayam khas Cirebon (menggunakan kuah kaldu ayam yang kental). Sudah setahun lebih saya tidak makan bubur ayam. Jawaban istri: “Jangan jajan melulu, hemat doong. Makan yang ada di rumah!”

Tadi pagi, ketika mau berangkat ke halalbihalal dengan rekan-rekan pendiri Yayasan Indonesia Berkibar Lestari di Darmin Kopi, Jl. Duren Tiga Raya No. 7E, Jakarta Selatan, lagi-lagi saya berkata ke istri bahwa saya ingin makan bubur ayam. Malah tidak direspons olehnya. Begitu saya cek grup WhatsApp SERASI (Sejarah Itu Asik), satu pendiri posting: “Yang datang pagi di Darmin, gue beliin bubur ayam Sukabumi. Siapa yang mau?”

“Yang datang pagi, ada yang mau dibungkusin bubur ayam Sukabumi Tebet, nggak? Ada dua pilihan: biasa dan spesial (pakai kuning telor).”

Saya menjawab: “Mauuuu! Nggak pakai kacang yaa! Spesial.”

Saya melihat bahwa di atas saya sudah ada yang menjawab “mau”. Terbayang oleh saya acara makan bubur ayam bersama di Darmin Kopi.

Saya dan Dino sampai duluan di Darmin Kopi, sekitar jam 09.30. Teman yang mau membelikan bubur ayam menyusul kira-kira setengah jam kemudian... dan hanya menenteng SATU bungkus bubur ayam Sukabumi (ciri khasnya adalah pakai kuning telur mentah dipendam bubur panas). “Lhoo, kok cuma bawa satu? Buat siapa?” tanya saya.

 


Teman saya menjawab bahwa itu bubur ayam buat saya, karena respons saya di grup SERASI yang terbaca oleh dia, sedangkan respons dari yang lain baru masuk setelah dia meninggalkan rumah makan Bubur Ayam Sukabumi di Jl. Tebet Barat. Mestakung—semesta mendukung.©2026


Darmin Kopi, Jl. Duren Tiga Raya No. 7E, Jakarta Selatan, 1 April 2026