Monday, August 3, 2026

Daya yang Tertinggal

SATU pembantu pelatih muda dari Cabang Jakarta Selatan (tapi sejak 2023 pindah ke Cabang Jakarta Pusat) memberitahu saya beberapa tahun lalu bahwa ia diberi tugas oleh satu pembantu pelatih tua untuk “mengawasi anak-anak Teras Timur”, terutama karena “tempat itu menarik minat anggota baru untuk setia nongkrong di situ dan mendengarkan penjelasan mereka yang bukan pembantu pelatih”. Pembantu pelatih muda itu menolak penugasan yang dianggapnya konyol nan lucu itu, karena dia kenal baik dengan saya bukan sebagai seseorang yang berpotensi menimbulkan keonaran, tetapi hanya suka usil membuat lelucon sarkastis tentang berbagai hal di Subud.                          

Teras Timur maupun Teras Barat, Utara dan Selatan terbuka bagi siapapun yang ingin nongkrong di situ. Teras Timur menjadi strategis karena di sisi Hall Cilandak itulah terletak baik toilet wanita maupun toilet pria, dan kini menjadi satu-satunya tempat di seputar Hall dimana merokok tidak dilarang. (Stiker “Dilarang Merokok” pernah dipasang di dindingnya tetapi dicabut oleh satu pembantu pelatih berkebangsaan Amerika yang suka merokok.)

Yang dipikirkan dan dirasakan oleh mereka yang di Teras Barat hanya berdasarkan prasangka, dan tidak pernah ada niat untuk mencari tahu yang sebenarnya terjadi di Teras Timur—mereka nyaman dengan prasangka mereka. Beberapa anggota baru tahun 2016 menyampaikan ke saya, ketika mereka mulai nongkrong di Teras Timur, bahwa ketika melalui masa kandidatan tiga bulan mereka mereka telah diwanti-wanti oleh Pembantu Pelatih Daerah (PPD) Jakarta Selatan kala itu agar tidak bergaul dengan Teras Timur atau ikut grup WhatsApp “Subud 4G” (grup WhatsApp yang saya ciptakan sebagai tempat nongkrong digital dengan semangat seperti Teras Timur). Padahal si PPD tidak pernah nongkrong di teras timur, kecuali sesekali karena ditawari rokok, kopi dan camilan gratis.

Saya pernah selama dua tahun, pasca pandemi, selalu menghabiskan waktu setelah Latihan nongkrong di Teras Barat. Terasa sekali kekakuan mereka yang nongkrong di situ; terasa mereka menahan diri dari bercanda atau mengobrol santai, seolah tempat itu sakral. Saya telah berusaha membuat suasananya lebih hidup, tetapi perubahannya hanya sedikit dan sebentar. Saya belum pernah, hingga kini, menemukan penyebab kekakuan itu.

Mungkin suasana feodalistik (meminjam istilah dari beberapa anggota yang pernah lama menjadi bagian dari Teras Barat sebelum akhirnya pindah ke Teras Timur) itu disebabkan oleh kenyataan bahwa hingga sebelum pandemi, Ibu Rahayu selalu menunggu waktu Latihan wanita di situ. Banyak anggota terlalu sungkan pada Ibu, tidak berani “banyak tingkah” di hadapan beliau. Mungkin daya Ibu tertinggal di Teras Barat, yang menyebabkan siapapun yang nongkrong di situ tetap tidak bisa sesantai Teras Barat.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 3 Agustus 2026

Monday, July 27, 2026

Merasakan Kehadiran Bapak dalam Sesi Wawancara

 


KEMARIN siang, 26 Juli 2026, saya melakukan perdana wawancara dengan anggota Subud Indonesia, di studio siniar (podcast) yang dinaungi bangunan Rumah Wing Bodies Subud Indonesia di kompleks Wisma Subud Cilandak. Dibantu oleh alat-alat yang telah saya beli dengan dana US$50 yang telah ditransfer oleh WSA Archives di Amerika Serikat dan satu saudara Subud, Dino, yang mampu set up dan mengoperasikan alat-alat itu. Ada dua anggota pria yang saya wawancara kemarin, satu dibuka di Surabaya tahun 1984 dan satunya lagi di Cilandak tahun 1988.

Khusus di Wisma Subud Cilandak, saya hanya bisa mewawancarai pada hari Minggu siang, hari dimana Latihan dihadiri oleh lebih banyak anggota dan pembantu pelatih. Wawancara saya lakukan setelah saya maupun narasumber melakukan Latihan. Kemarin, karena perdana, saya melihat beberapa hal harus saya benahi dan saya terapkan seterusnya:

1.      Bahwa sebelum wawancara, kami harus menenangkan diri dulu, dan setelah wawancara dan setelah narasumber pamit, saya dan Dino harus melakukan Latihan pembersihan.

2.     Wawancara harus saya lakukan dengan pertanyaan-pertanyaan yang spontan, yang keluar dari jiwa saya, dan tidak mempersiapkan daftar pertanyaan terlebih dulu—agar saya dan narasumber senantiasa berada dalam keadaan Latihan. Tapi, dalam kasus kemarin, kepada kedua narasumber saya minta mereka “Ceritakan perjalanan Anda ke Subud”, “Apa yang membuat Anda bertahan sekian lama di Subud?”, dan “Apa pesan Anda kepada generasi muda anggota Subud?”

Mengapa dua hal ini? Saya merenungkan bersama Dino apa yang terjadi selama wawancara-wawancara tersebut, yang tadi malam saya bicarakan per telepon dengan pembantu pelatih yang menyaksikan pembukaan saya dan pagi ini saya konsultasikan dengan Koordinator Dewan Pembantu Pelatih Nasional (DPPN) Subud Indonesia, Luthfie Hadiyin. Kedua narasumber tampil secara terpisah, benar-benar dalam keaslian mereka, dimana mereka bercerita bukan saja pengalaman Latihan mereka tetapi juga masalah-masalah pribadi mereka, yang di luar studio siniar itu belum pernah mereka ceritakan ke siapapun! Tetapi karena sudah membaca dan menandatangani surat persetujuan wawancara dan menyetujui bilamana videonya disiarkan ke publik Subud, maka saya tidak memperingatkan mereka agar tidak kebablasan dalam bercerita.

Selain itu, saya dan Dino juga sempat “terbawa perasaan” mendengar kisah mereka (saya sempat menahan air mata), yang mana seharusnya tidak boleh karena akan menyerap daya rendah mereka atau sesuatu yang bukan milik saya. Narasumber yang dibuka tahun 1988 ketika ditanya pengalamannya malah selalu menangis, sehingga ada jeda dalam wawancaranya. Ia mengungkapkan rasa syukurnya dengan Latihan Kejiwaan yang ia terima, melalui uraian air mata. Ia mengatakan bahwa ia merasakan kehadiran jiwa Bapak dalam ruangan di mana wawancara berlangsung.

Dari situlah saya merasa bahwa pasca wawancara saya dan Dino harus melakukan Latihan pembersihan. Ada pemikiran dari pembantu pelatih yang menyaksikan pembukaan saya agar wawancara didampingi seorang pembantu pelatih, tetapi ia sendiri mengkhawatirkan jika kehadiran pembantu pelatih malah membuat narasumber tidak akan mau bercerita dengan “apa adanya”. Kalau menyangkut narasumber pria, saya masih bisa mengatasi “serangan daya” ke diri saya; yang saya khawatirkan jika narasumbernya wanita—untuk itu, saya rasa perlu pendampingan pembantu pelatih wanita di luar studio. Koordinator DPPN juga menyarankan begitu.

Secara keseluruhan, proyek ini bagi saya dan Dino sungguh menarik, sangat berguna bagi kami secara kejiwaan, dan membawa kami ke pengalaman Latihan next level. Sesuatu yang sama sekali baru bagi kami maupun kebanyakan orang. Ketika saya menceritakan pengalaman itu ke dua pembantu pelatih yang saya telepon tadi malam dan pagi saja, mereka berkomentar bahwa “sekadar” obrolan empat mata dapat menghadirkan suatu energi maha besar, sesuatu yang bahkan jarang terjadi ketika mereka melayani gathering anggota atau saat bertemu dengan para kandidat.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 27 Juli 2026

Saturday, July 25, 2026

Memorabilia Awal Karier

SAYA masuk dunia periklanan di era ketika belum ada ponsel, apalagi ponsel berkamera, dan kamera analog tergolong barang mewah, sehingga saya tidak memiliki memorabilia visual yang dapat menceritakan masa-masa awal karier saya sebagai copywriter di biro iklan.

Puji Tuhan, 24 Juli 2026, Iksaka Banu memposting di linimasanya foto-foto dari sejumlah insan Citra Lintas dan Lintas Link yang diambil dari video buatan Bimoyadi Markam tahun 1995 (saya tahu tahunnya dengan pasti karena saya bergabung dengan Lintas Link sebagai copywriter pada Juli 1995). Di videonya, saya tampil di detik ke-28, dan ini foto yang diambil dari video tersebut.

Sudah 31 tahun saya mengulik naskah komunikasi pemasaran dan korporat—dan belum bosan!©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 25 Juli 2026

Wednesday, July 15, 2026

Mistifikasi Pembantu Pelatih

TANGGAL 15 Juli 2026 malam, sepulang dari Latihan di Wisma Barata Pamulang, saya ditelepon oleh salah satu pembantu pelatih (PP) yang menyaksikan pembukaan saya, 22 tahun lalu. Mas Heru, demikian saya memanggilnya. Tema obrolan kami adalah tentang berserah diri di kala menghadapi penderitaan. Salah satu topiknya, di bagian terakhir dari perbincangan kami selama dua jam via WhatsApp Voice Call, adalah tentang menjadi pembantu pelatih.

Saya berbagi mengenai perbedaan yang saya saksikan antara PP di Jakarta, khususnya, dengan yang di Komisariat Wilayah (Komwil) VI Jawa Timur, Bali dan Sulawesi, terutama di Surabaya dan sekitarnya. Di Jakarta, khususnya di Cabang Jakarta Selatan, tampaknya kepembantupelatihan dimistifikasi oleh beberapa oknum PP maupun oleh anggota biasa, seolah PP itu memiliki Latihan dari jenis yang berbeda dari Latihan pada umumnya, sehingga mereka yang belum PP tidak diperkenankan mengikuti pertemuan/rapat atau kegiatan-kegiatan yang eksklusif pembantu pelatih.

Mistifikasi adalah istilah yang mengacu pada proses mengaburkan kebenaran, membuat sesuatu yang biasa atau rasional tampak misterius, sakral, atau tidak bisa dipahami oleh nalar. Tujuannya sering kali untuk menutup-nutupi kenyataan yang sebenarnya dan menciptakan ilusi atau kesadaran palsu demi melanggengkan kekuasaan atau status quo. Di Subud, mistifikasi kerap digunakan untuk mengagungkan PP atau lembaga tertentu yang bertanggung jawab pada aspek kejiwaan. Kepembantupelatihan tidak lagi dilihat dari kinerja, melainkan dibentuk sebagai aura sakral yang tidak boleh dikritik atau dipertanyakan oleh anggota biasa. Status sebagai “pembantu Bapak” kerap digunakan untuk memperkuat mistifikasi ini.

Pembantu pelatih yang menelepon saya itu terkejut sekaligus menertawakan para PP semacam itu. Ia membantah bahwa PP adalah golongan eksklusif dengan kemampuan tertentu yang dapat membahayakan anggota biasa secara spiritual. Ia menampik anggapan sementara PP bahwa rapat atau testing di kalangan PP hanya terbatas bagi PP semata—yang bukan PP dilarang ikut atau mengaksesnya sebagai saksi.

Saya ingat momen ketika pada Senin malam, 7 Februari 2005, Pembantu Pelatih Daerah (PPD) Cabang Surabaya mengajak seluruh anggota pria masuk ke dalam hall untuk menyaksikan testing para PP terhadap seorang kandidat pembantu pelatih. Para anggota diperbolehkan berada di dalam hall saat testing berlangsung, dan menyaksikan bagaimana respons tiga PP yang di saku celananya masing-masing telah disisipkan secarik kertas bertuliskan nama kandidat PP yang ditesting. Hasilnya, sang kandidat PP belum bisa disahkan sebagai PP dan harus diperpanjang masa kandidatnya. Sebagai anggota yang belum genap setahun di Subud, pemandangan itu cukup mengejutkan saya, tetapi hal itu tidak memberi efek apapun pada saya selain ingatan akan momen tersebut.

Selain momen itu, tidak jarang saya dan beberapa anggota lainnya beberapa kali menghadiri rapat pembantu pelatih. Kami duduk di ruang rapat sebagai saksi saja, tidak mendapat hak suara. Pembantu pelatih yang menelepon saya malam ini mengatakan bahwa rapat kadang tertutup bukan karena ada efek yang dapat membahayakan anggota biasa secara kejiwaan, melainkan hanya untuk kepantasan saja—bahwa pembahasan rapat menyangkut seseorang atau masalah yang tidak patut dipublikkan.

Selama di Jakarta, apakah Cabang Jakarta Selatan, Pusat atau Timur, saya belum pernah mengalami ajakan ikut rapat atau testing pembantu pelatih. Bahkan Latihan pendampingan calon PPD saja, anggota yang bukan PP dipersilakan keluar dari ruangan Latihan. Awalnya tidak tahu mengapa, lambat laun saya mendeteksi adanya kecenderungan mistifikasi PP—oleh PP sendiri maupun oleh beberapa gelintir anggota; seolah PP adalah makhluk tingkat dewa yang pikiran dan perasaannya, pikiran dan perbuatannya dalam keadaan tertentu dapat membahayakan jiwa dan raga anggota.

Tetapi malam ini, respons PP yang menelepon saya telah mendemistifikasi para pembantu pelatih. Penjelasannya telah menghilangkan selubung mitos, kesalahpahaman, atau kesan gaib yang melekat pada pembantu pelatih.©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 15 Juli 2026

The Untainted Mirror

 

We step into the quiet, side by side,

to strip the heavy mask of mind away

The dusty glass where ego used to hide

begins to clear its film of yesterday

We close our eyes to let the outer fade,

and stand before the mirror we have made

 

A sudden breath, a cry, a graceful sway—

no longer caught in thought's reflective gleam

The Latihan begins to wash away

the mirrored shadows of our waking dream

It is a glass that does not show a face,

but captures the Great Life in empty space

 

And when the stillness settles in the hall,

we find the polished surface clean and bare

No longer locked behind the ego’s wall,

the true, untainted soul is standing there

A mirror of the force that gives us breath,

reflecting life that triumphs over death

 

Wisma Bharata, Pamulang, July 15, 2026, 8:40 p.m.

Monday, June 22, 2026

Seni dan Spiritualitas

SAYA bukan pengamat maupun penikmat lukisan, tetapi demi pekerjaan saya harus turut menyelami seni lukis. Saya masuk dalam tim yang dibentuk untuk membuat katalog lukisan karya seorang maestro Indonesia, Yoes Rizal. Saya sebagai Copy Editor-nya.

 


Tim berkumpul siang ini, 22 Juni 2026, di kediaman dan studio beliau di Jl. Lingkar Kebayunan, Cimanggis, Depok, Jawa Barat, untuk mengenal lebih jauh sang maestro dan karyanya. Dikenal sebagai pelukis kontemporer Indonesia, alumnus Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB ini menggunakan mixed media untuk mewujudkan karya lukisan. Yang menarik, ujar beliau, bukan lukisan yang penting—itu hanya output—melainkan proses kreatifnya.

 


Seperti para pelukis lainnya yang pernah saya jumpai sejak tahun lalu, obrolan tentang proses kreatif pasti bersenggolan dengan spiritualitas. Yang menarik bagi saya, ketika sang maestro menyebut sekuens tarekat, hakikat dan makrifat dalam wawancara yang dilakukan dua rekan saya—yaitu dua alumni Sejarah dari Universitas Indonesia, almamater saya. Dan yang membuat saya semakin termotivasi adalah adanya kesamaan antara ekspresi spiritual Yoes Rizal dengan apa yang saya alami melalui Latihan Kejiwaan Subud, meski ia sendiri bukan anggota Subud, yaitu ketiadaan aturan, kebebasan aksi, ketidakteraturan dan spontanitas. Seorang pelukis, kata Yoes, haruslah bebas, tidak terbebani atau dibatasi. Sebebas sifat jiwa manusia!

 


Saya pun menunjukkan logo Kongres Dunia Subud ke-17 tahun 2028 di Portugal yang saya rancang dan berhasil memenangkan kompetisi desain logo event tersebut. Dengan spesialisasi Yoes Rizal sebagai pelukis abstrak ekspresionis dengan latar belakang akademik beliau di Seni Rupa dan Desain ITB, beliau menilai logo karya saya itu memenuhi syarat sebagai logo (yang harus abstrak dan memberi ruang seluas-luasnya bagi audiens untuk memiliki pengertian sendiri-sendiri—persis sifat dari Latihan Kejiwaan). Dari bahasan tentang logo itulah berkembang obrolan tentang Subud, yang harus saya akhiri karena hari kian sore dan saya harus ke Wisma Subud Cilandak untuk menghadiri perayaan ulang tahun ke-125 Bapak Muhammad Subuh.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 23 Juni 2026

Sunday, June 14, 2026

Testing vs Menep

KEMARIN siang (Minggu, 14 Juni 2026), pasca Latihan pria, saya nongkrong bersama lima anggota lainnya di teras timur Hall Cilandak, menikmati kopi murni yang airnya dimasak dengan kompor portabel yang dibawa oleh salah satu anggota.

Lalu, muncullah satu pembantu pelatih pria dari Cabang Jakarta Selatan yang berkebangsaan Amerika. Beliau sangat suka kopi tubruk, kopi asli Indonesia. Saat ngopi itulah beliau bercerita bahwa beliau baru selesai menghadiri rapat dewan pembantu pelatih cabang, yang antara lain membahas tentang testing. Terungkap, kata dia, bahwa Ibu Rahayu ternyata tidak “pro testing”. Saya pun bercerita ke si pembantu pelatih dan satu anggota yang duduk di sebelah saya, bahwa pembantu pelatih dan anggota di luar negeri sangat sering melakukan testing dan dalam durasi yang sangat lama. Itu yang pernah saya dengar dari penuturan seorang pembantu pelatih asal New York, Amerika Serikat, dan satu pembantu pelatih dari grup Vancouver, Kanada. Juga para international helpers asal Indonesia pernah menyampaikannya ke saya. Saya mengomentari cerita saya sendiri bahwa kebiasaan testing itu mungkin untuk melatih pembantu pelatih dan anggota dalam memahami apa hakikat testing.

Di Indonesia sendiri, testing tergolong sangat jarang dilakukan dan biasanya bersifat okasional, biasanya pada event Kongres Nasional atau dalam rangka Hari Lahir Bapak di bulan Juni. Para pembantu pelatih di cabang manapun di Jawa yang pernah saya kunjungi menunjukkan keengganan ketika anggota meminta testing.

Saya kemudian menambahkan ke cerita saya kepada si pembantu pelatih dan si anggota, bahwa yang saya baca di sebuah memoar dari salah satu pembantu pelatih generasi awal, kabarnya istilah “testing” itu berasal dari John Bennett yang mencoba menerjemahkan kalimat “merasakan diri terhadap segala sesuatu” dari Bapak, yang belum ada padanannya dalam bahasa Inggris kala itu (1957, ketika Bapak pertama kali ke luar negeri). Akhirnya, Bapak pun mengadopsi istilah “testing” untuk “merasakan diri”.

Di cabang di mana saya melalui masa ngandidat tiga bulan saya dan di mana saya dibuka, yaitu Surabaya, para pembantu pelatihnya jarang sekali melakukan testing, melainkan membiasakan para anggota untuk merasakan (diri maupun keadaan atau peristiwa di dekatnya maupun jauh). Pembantu pelatih yang telaten mendampingi saya, selalu mendorong saya untuk merasakan suasana atau orang-orang di tempat kami berada, seperti misalnya di acara ruwatan putra sulung dari seorang anggota yang akan menikah, yang berlangsung di rumah si anggota di Madiun, Jawa Timur, pada tahun 2005. Merasakan itu tidak bisa dipaksakan memang, tetapi akan berkembang kepekaan kita secara bertahap seiring Latihan Kejiwaan yang kita lakukan dengan rajin dan tekun.

Si anggota yang duduk dekat saya dan turut mendengarkan diskusi saya dengan si pembantu pelatih, menyeletuk, “Oh iya, Mas Arifin. Di Jawa disebutnya ‘menep’. Memang kita jarang testing ya, Mas. Karena kita sudah dibiasakan ‘menep’ oleh leluhur kita."

Dalam budaya Jawa khususnya, “merasakan diri” sudah mengakar di kalangan masyarakat tradisionalnya. Kakek dan ayah saya, dua pria Jawa tradisional dan bukan anggota Subud, sering mencontohkan ke saya secara tidak sengaja: Ketika menghadapi problem yang rumit, mereka akan berdiam diri, memejamkan mata dan membisu cukup lama. Praktik ini di Jawa disebut “menep”. Bahasa Jawa “menep” berarti diam, tenang, atau mengendap (seperti endapan kotoran yang turun ke dasar sehingga air menjadi jernih). Kata ini sering digunakan secara filosofis untuk menggambarkan kondisi batin yang tenang, waspada, dan jernih dalam menghadapi masalah. Atau proses menahan emosi, hawa nafsu, atau gejolak agar pikiran tetap jernih dan bijaksana. Ibarat segelas kopi tubruk yang sebagian ampasnya mengambang di permukaan , ia harus didiamkan sejenak agar kotorannya “menep” dan airnya kembali bening.

Si pembantu pelatih kemudian berseru, “Oh mungkin sikap tidak pro testing dari Ibu sebenarnya ditujukan ke anggota luar negeri ya. Karena beliau tahu, orang Indonesia tidak suka testing.”

Saya mengangkat bahu dan berkata, “Ya, mungkin.” Lalu kami melanjutkan menikmati kopi masing-masing.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 15 Juni 2026

Saturday, June 13, 2026

Bimbingannya yang Penting, Bukan Alatnya

TADI malam, saya ditelpon mantan pembantu pelatih Surabaya yang kini berdomisili di Madiun dan, seperti saya, tercatat sebagai anggota Cabang Sidoarjo, Mas Heru Iman Sayudi. Kami mengobrol dua jam 18 menit. Salah satu topik obrolannya adalah “bimbingan kekuasaan Tuhan” dalam bidang pekerjaan kami--Mas Heru dan saya sama-sama konsultan branding.

Saya cerita ke Mas Heru tentang satu job saya sebagai freelance copywriter baru-baru ini, menulis teks dwibahasa (Indonesia-Inggris) untuk coffee-table book setebal 100 halaman. Gemini AI adalah asisten setia saya dalam pengerjaannya. Nah, tidak sedikit anggota Subud antipati pada AI, alasannya karena sebuah karya jadi “tidak manusiawi, tidak ada rasanya, tidak ada ruhnya”. Tapi pengalaman saya dan tim desain coffee-table book itu maupun pengalamannya Mas Heru dan tim kerjanya, membuktikan bahwa bila “dibimbing” untuk menggunakan AI, outputnya akan ada rasa atau ruhnya. Jadi, kami berkesimpulan: Yang utama itu bimbinganNya, bukan alat yang digunakan. Alat bisa apa saja, tapi kapan baiknya menggunakan salah satu atau semua alat yang ada tergantung petunjuk yang kita terima dalam ketenangan rasa diri kita.

Seperti ucap satu anggota yang kemarin siang hingga sore nongkrong di Teras Timur Hall Cilandak, terkait desain logo Kongres Dunia Subud ke-17 di Fàtima, Portugal (2028): “Idenya kan dari bimbingan Tuhan, tapi Mas Arifin perlu daya rendah untuk mewujudkan ide itu. Mau pakai Photoshop kek, AI kek, terserah petunjuk yang Mas terima kan?!”

“Wah, benar juga,” saya membatin mendengar penjelasan si anggota.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 14 Juni 2026

Tuesday, June 2, 2026

Merancang Dari Dalam ke Luar


TAHUN 2025 lalu, saya bertandang ke rumah seorang pembantu pelatih Amerika asal New York yang telah cukup lama tinggal di Indonesia. Dalam obrolan kami di meja makan, usai menyantap hidangan makan malam buatan istri Indonesianya yang lezat, terungkap bahwa si pembantu pelatih pernah tinggal dan bekerja selama sepuluh tahun di Shanghai, Tiongkok. Ia menggambarkan bahwa situasinya pada saat itu tidak enak bagi jiwanya tetapi berkat Latihan ia mampu bertahan.

Penggambarannya tentang situasi negara itu, melalui kata-kata, tidak cukup untuk membuat saya memahami bagaimana sebenarnya, sehingga saya bertanya padanya, “Memang bagaimana sebenarnya China itu? Apa yang kamu alami di sana?”

Si pembantu pelatih menatap saya tajam dan dengan tekanan ia berkata, “Kamu anggota Subud, kan? Pakai rasa kamu! Saya tidak perlu menjelaskan detail.”

Saya pun melakukan apa yang disarankan si pembantu pelatih. Itu seperti testing kejiwaan, dengan pertanyaan: “Apa yang dialami X selama di Shanghai yang mengganggu rasa perasaannya?”

Pengalaman seperti ini pula yang saya terapkan ketika mendesain logo Kongres Dunia Subud ke-17 di Fàtima, Portugal. Saya belum pernah ke Portugal, apalagi Fàtima. Sulit saya membayangkan bagaimana ruh negara itu, meski saya dapat menemukan begitu banyak fotonya di Google Images. Sebagai konsultan branding, saya terbiasa dengan serangkaian proses desain logo dan pengembangan identitas merek, yang bersumbu pada riset yang mendalam. Mendesain identitas merek tidak semudah membalikkan telapak tangan; Anda harus mengerahkan segenap waktu, tenaga dan pikiran untuk menggali pengetahuan dan wawasan tentang antropologi, sosiologi, psikologi, sejarah, arkeologi, heraldika, dan lain-lain, agar identitas yang Anda rancang menawarkan pengalaman rasa yang kuat terhadap produk/jasa/organisasi yang diwakili identitas tersebut.

Sebagai sarjana Ilmu Sejarah lulusan sebuah universitas negeri terkemuka di Indonesia, saya terbiasa dengan penelitian dan pengkajian multidisiplin, tetapi berkaitan dengan rasa tidak ada “sekolah” dengan kualitas pendidikan sebaik Subud. Bekerja dengan diri saya terisi Latihan Kejiwaan, membuat hasilnya selalu ada rasa yang bahkan dapat diterima oleh klien-klien saya meski mereka belum dibuka atau bukan anggota Subud.

Membuka Wikipedia tentang Fàtima, yang cukup kaya dengan foto-foto bangunan bersejarah yang menjadi landmark kota itu, saya membiarkan Latihan saya untuk menunjukkan apa yang harus saya angkat sebagai Gagasan Besar (ide atau rancangan pemikiran utama yang memiliki visi luas, mendalam, dan transformatif. Gagasan ini biasanya menjadi fondasi untuk menciptakan sebuah karya iklan yang mampu menggerakkan audiens untuk beraksi, atau paling sedikit berrelasi dengan merek). Perhatian saya tercurahkan pada bangunan Basilica of Our Lady of the Rosary. Saya merasakan vibrasi yang kuat walau yang saya hadapi hanya sebuah foto, seolah bangunan itu memanggil saya.

Fotonya saya unduh, lalu saya crop hingga yang tampak adalah bentuk mahkota di pucuk menara utama basilika itu. Saya kemudian mencari foto-foto yang menampakkan berbagai sisi dari mahkota itu. Hal itu mendorong saya untuk googling foto patung Bunda Maria dengan mahkota penobatan kanoniknya. Sambil membayangkan sosoknya saya iseng membuat coretan-coretan di kertas—yang biasa dilakukan para perancang grafis maupun pengarah kreatif. Setelah sekian jam saya membuat coretan, dan tidak memberi hasil, tiba-tiba terpikir oleh saya untuk mengaplikasikan satu per satu dari berbagai pilihan menu di Filter Gallery di Photoshop di komputer saya, sampai perhatian saya tertuju pada efek Note Paper, Photocopy, Plaster, Stamp dan Torn Edges, yang membuat sosok Bunda Maria dalam foto berubah menjadi laiknya “cipratan-cipratan air”.

Di ranah desain grafis, yang saya lakukan disebut Deformasi, yaitu teknik mengubah, merombak, atau menyederhanakan bentuk asli suatu objek menjadi bentuk baru yang lebih unik, ekspresif, dan komunikatif tanpa menghilangkan identitas atau makna dasarnya. Teknik ini biasanya diterapkan untuk memperkuat karakter, menyampaikan pesan visual, atau menyesuaikan elemen dengan estetika desain secara keseluruhan.

Hasil deformasi gambar Bunda Maria adalah cipratan-cipratan hitam putih. Saya lantas googling lagi, mencari ikon lainnya yang mewakili Portugal. Saya kepincut pada ayam jantan yang dikenal di Portugal sebagai Galo de Barcelos; simbol nasional tak resmi dari Portugal, yang melambangkan kepercayaan, keadilan, kejujuran dan keberuntungan. Suvenir ayam jantan ini dapat ditemukan di mana saja di Portugal dan biasanya berhiaskan gambar hati dan bunga warna-warni. Warna-warnanya yang cemerlang menginspirasi saya untuk saya tuangkan pada cipratan-cipratan air hasil dari deformasi gambar sosok Bunda Maria.

Meski mungkin terlihat saya mempersiapkan logo itu secara tekun dan serius, yang sebenarnya adalah bahwa saya malah tidak serius. Logo yang menang ini adalah Opsi #2, dari dua opsi desain yang saya kirimkan secara tidak bersamaan. Saya menjagokan Opsi #1, walaupun secara tampilan kurang “muda”, tidak merepresentasi semangat keanggotaan Subud yang dewasa ini mengalami regenerasi. Oleh karena itu, saya sangat terkejut ketika diberitahu melalui email dari Koordinator Komunikasi World Congress Organizing Team (WCOT) bahwa desain saya yang Opsi #2 dipilih oleh dewan juri sebagai pemenang. Saya, bagaimanapun, akhirnya bersyukur bila opsi itu yang terpilih, karena akhirnya saya tersadarkan oleh dinamika spontanitas khas Latihan yang tergambarkan pada grafisnya.

Semoga Kongres Dunia Subud 2028 di Fàtima, Portugal, berlangsung penuh warna optimisme yang secemerlang warna-warna pada logonya.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 2 Juni 2026

Untuk rilis berita mengenai desain logo yang menang tersebut, klik URL ini:
https://subud.org/posts/logo-competition-of-the-17th-subud-world-congress-and-the-winner-is

Sunday, May 31, 2026

Momen Tenang Seorang Murid Sekolah

DUA kali sudah (sekali seminggu) saya memberi workshop Copywriting kepada lima Gen Z yang bekerja di bagian Pemasaran sebuah biro perjalanan umroh dan haji. Dua-duanya memberi saya sakit kepala—akibat menyerap para peserta yang suka overthinking, tapi baru di kali kedua saya terpikir untuk mengajak para peserta melakukan pengheningan cipta. Pengheningan cipta bersinonim dengan “penenangan diri” atau “menenteramkan akal pikir” seperti yang biasa dilakukan anggota Subud sebelum memulai Latihan.

Para anak muda kelahiran awal 2000an itu menatap saya dengan bingung. Mereka baru pertama kali mendengar istilah “mengheningkan cipta”. Ironisnya, ada lagu berjudul Mengheningkan Cipta yang diciptakan pada tahun 1958 oleh seorang komponis Indonesia asal Surakarta, Jawa Tengah. Lagu itu diperdengarkan kepada atau dinyanyikan oleh para murid sekolah dasar hingga menengah atas di Indonesia ketika upacara bendera, dalam rangka merenungkan jasa para pahlawan bangsa. Artinya, anak-anak Gen Z Indonesia familiar dengan lagu itu tapi tidak tahu apa dan bagaimana melakukan pengheningan cipta.

Generasi saya, kaum Gen X Indonesia, selain tahu lagu itu juga tahu praktik pengheningan cipta—meski mungkin sebagian besar tidak tahu manfaatnya, kecuali Anda aktif di aliran kebatinan atau menekuni spiritualitas. Saya sendiri baru merasakan manfaatnya setelah masuk Subud.

Selama 32 tahun pemerintahan rezim Orde Baru Soeharto, pengheningan cipta dilakukan murid dan guru di kelas di semua tingkatan pendidikan dasar dan menengah sebelum memulai pelajaran. Karena tidak pernah diajarkan mengenai apa manfaat pengheningan cipta, maka para murid pun memanfaatkan momen penenangan diri itu dengan saling mengusili, melirik sana sini, atau diam-diam bercanda. Setelah mengalami sendiri, sejak saya masuk Subud, saya jadi agak menyesali mengapa dulu ketika masih remaja saya tidak menyeriusi pengheningan cipta sebelum pelajaran dimulai. Meneliti diri (niteni) saya sejak dibuka—bisa dengan cepat memahami kajian akademik apapun, bisa jadi ketika bersekolah hingga berkuliah di universitas dulu saya tidak melulu menjadi “underdog”.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 31 Mei 2026

Saturday, May 30, 2026

Bagaimana Masa Kecil Bersama Tintin Mengubah Cara Pandang Terhadap Perkeretaapian Indonesia

 


ADA keajaiban sunyi yang terjadi ketika dunia yang Anda lihat di luar jendela Anda bertabrakan dengan dunia yang telanjur Anda cintai di dalam sebuah buku. Bagi saya, titik temu itu sepenuhnya berada di atas rel kereta api Indonesia, yang dibayangkan kembali melalui goresan tinta yang bersih dan tegas dari gaya seni ligne claire (garis jelas). Melihat kereta Eksekutif yang ramping meliuk di jalur pegunungan Jawa Barat, atau lokomotif diesel klasik yang merayap masuk ke stasiun sibuk di Jawa Tengah—yang digambarkan dengan garis-garis kuat dan warna-warna datar yang cerah—seperti melihat masa kecil saya dan warisan budaya saya akhirnya berbicara dalam bahasa yang persis sama.

Tumbuh dewasa, imajinasi saya tidak dibentuk oleh bentang alam yang luas, melainkan oleh panel-panel presisi yang tertata rapi dalam komik Petualangan Tintin karya Hergé. Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam menelusuri halaman-halaman itu dengan jari saya. Yang memikat saya bukan hanya misteri penjelajahan dunianya; melainkan bagaimana gaya ligne claire membawa kejelasan mutlak pada dunia tersebut. Dalam semesta Tintin, segala hal memiliki bobot yang sama. Dinding bata, mantel, mobil antik, dan lokomotif uap semuanya digambar dengan ketebalan garis yang persis sama dan kokoh. Tidak ada bayangan pekat untuk bersembunyi, tidak ada gradasi berantakan yang mengalihkan pandangan. Itu adalah gaya yang mengupas kekacauan realitas, menyisakan kebenaran yang ideal dan tertata indah. Gaya itu mengajari saya untuk melihat dunia sebagai sesuatu yang bisa dipahami, diatur, dan sangat dihargai bentuk serta strukturnya.

Bertahun-tahun kemudian, kosakata visual yang tertanam jauh di dalam benak saya itu menemukan subjek sempurnanya pada perkeretaapian Indonesia. Jaringan rel Indonesia pada dasarnya memang dramatis dan kaya akan cerita. Jalur ini membelah jajaran gunung berapi yang terjal, membentang di atas viaduk baja raksasa peninggalan era kolonial, dan memotong langsung di jantung hamparan sawah hijau zamrud. Pada kenyataannya, ini adalah sebuah kelebihan beban sensorik dari panas tropis, raungan mesin, dan bayang-bayang yang bergeser. Bagaimanapun, ketika Anda menerapkan gaya ligne claire di atasnya, sesuatu yang luar biasa terjadi.

Gaya kartun ini mengikis debu dari kelembapan tropis dan kilau kacau matahari siang, menyisakan esensi perjalanan yang murni dan puitis. Warna khas oranye dan biru pada lokomotif berubah menjadi pernyataan geometris yang berani di tengah latar padang hijau yang sempurna dan solid. Kisi-kisi baja yang rumit pada jembatan seperti Cikubang ditransformasikan menjadi pola garis yang memukau, bersih, dan sempurna. Gaya ini tidak mengurangi realitas lanskap Indonesia; sebaliknya, ia mengangkatnya, mengubah perjalanan komuter sehari-hari menjadi sebuah petualangan bernostalgia yang epik.

Mencintai gambar-gambar ini adalah sebuah pengingat bahwa kita tidak harus meninggalkan gairah masa kecil kita saat beranjak dewasa; sebaliknya, kita bisa menggunakannya sebagai lensa untuk mengapresiasi budaya dan lingkungan kita sendiri. Ini menunjukkan bahwa inspirasi tidak harus datang dari galeri termegah atau filosofi paling rumit. Terkadang, cara Anda memandang dunia ditentukan oleh buku komik yang Anda baca di lantai kamar Anda puluhan tahun yang lalu. Dengan melihat kereta api Indonesia melalui garis-garis jelas dari masa kecil saya, saya diingatkan bahwa ada keindahan dan keteraturan yang melekat, yang menunggu untuk ditemukan dalam kehidupan sehari-hari kita—kita hanya harus menemukan bingkai yang tepat untuk melihatnya.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 30 Mei 2026

Wawasan Minim Kaum Gen Z

JADI, kemarin, saya kembali memberikan workshop kepada para tenaga pemasaran dari sebuah biro perjalanan umroh dan haji. Kali ini, topiknya adalah platform dari “story-telling untuk branding”, yaitu copywriting. Saya memberikan dasar-dasarnya dengan presentasi Powerpoint sebanyak 39 slide (terbanyak adalah visual contoh materi komunikasi cetak, audio-visual dan audio) yang pernah saya buat tahun 2020.

Slide 13 menampilkan semboyan tiga kata bahasa Prancis ini. Empat Gen Z yang mengikuti workshop, yang semuanya berstatus mahasiswa dari dua universitas negeri dan swasta ternama di Tangerang Selatan (masing-masing dari jurusan Ilmu Komunikasi, Manajemen dan Informatika), berkerut kening. Saya menangkap kebingungan mereka sebelum saya berkata apa-apa, lalu saya bertanya, “Anda semua pernah tahu ini? Semboyan Revolusi Prancis 1789-1799.”

 


Semua peserta workshop menyatakan tidak tahu dan belum pernah tahu. “Nggak diajarkan di sekolah, juga nggak di pelajaran Sejarah,” kata salah satu peserta. Jadi, saya terpaksa mengisi workshop Periklanan dengan sesi pengajaran Sejarah Dunia selama kurang lebih lima menit. Kasihan nasib studi sejarah dewasa ini.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 30 Mei 2026

Friday, May 22, 2026

Mengajar Dengan Bimbingan Latihan

DULU, saya pernah kuliah di Jurusan Pendidikan Sejarah IKIP Jakarta selama dua semester, karena diterima di pilihan kedua saya di Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru) 1986. Saya pindah (lolos Sipenmaru 1987) ke Jurusan Sejarah Fakultas Sastra (kini Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya/FIB) Universitas Indonesia salah satunya karena saya tidak suka mengajar kelas—saya gampang demam panggung.

Anehnya, setelah masuk Subud, saya malah suka sekali jika diminta mengajar di depan kelas, terutama dalam bidang pekerjaan saya—copywriting, periklanan dan strategi branding. Bisa dibilang saya kecanduan berbicara di depan publik, yang untuk itu saya tidak pakai persiapan sama sekali, atau tidak over-prepared, melainkan hanya mengandalkan bimbingan Latihan.

Jumat siang ini, saya kembali mendapat kesempatan itu, dan lagi-lagi—kecuali materi Powerpoint 17 halaman yang hanya berisi poin-poin singkat—tanpa persiapan. Saya hanya rileks, sedari rumah ke lokasi pengajaran saya tidak memikirkan sama sekali apa yang akan saya sampaikan, melainkan hanya menikmati perjalanan sejauh 11 km dengan bersepeda motor.

 





Yang saya ajar (saya menyebutnya “momen berbagi”) adalah empat staf pemasaran dan satu desainer grafis sebuah biro perjalanan umroh dan haji, yang semuanya dari Gen Z, dalam hal “copywriting dengan teknik story-telling untuk branding”. Ibarat keran air, segala ucapan saya dengan bimbingan Latihan mengalir begitu saja, hingga saya sendiri mendapat pengertian baru. Saya perhatikan pula bahwa saya dapat dengan mudah membaur dengan audiens saya, seolah saya dan mereka sudah saling mengenal lama.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 22 Mei 2026

Sunday, May 17, 2026

Bagaimana Menulis dan Memasak Saling Membantu

SAAT menjamu Manajer CSR dari perusahaan klien saya di sebuah restoran mewah di Bandung, Jawa Barat, pada 12 Mei 2026 lalu, sang Manajer, yang sering melihat status WhatsApp atau Story Instagram saya, berkata, “Pak Arifin suka memasak juga ya?” Saya iyakan. “Enak mana, Pak Arifin, menulis atau memasak?” tanyanya kemudian.

Sambil memotong ikan berbalut tepung goreng dan menusuk sepotong kentang wedges di piring di hadapan saya, saya bercerita bahwa menulis dan memasak memiliki kesamaan. Menulis meracik rasa jiwa agar dapat terkoneksi dengan sisi terdalam pembaca, sedangkan memasak membuat saya meracik rasa selera pemakannya.

Bagi sebagian orang, dapur dan meja kerja adalah dua dunia yang sepenuhnya berbeda. Yang satu dipenuhi aroma bawang putih yang ditumis, percikan minyak, dan denting sudit bertemu wajan. Yang lain sunyi, hanya diiringi ketukan kibor, berhadapan dengan layar putih yang menanti untuk diisi. Tetapi, jika Anda bersedia duduk sejenak di ambang pintu yang menghubungkan kedua ruangan ini, Anda akan menyadari bahwa juru masak dan penulis sebenarnya sedang melakukan ritual yang persis sama: mereka sedang meracik mentah menjadi matang, mengubah kekacauan menjadi sebuah mahakarya yang bisa dinikmati.

Kemiripan ini bermula sejak langkah paling awal, yaitu saat saya berhadapan dengan bahan baku. Sebagai penulis, saya tidak langsung melahirkan naskah; saya mengumpulkan serpihan ide, potongan memori, dan riset mendalam. Ini sama persis dengan seorang juru masak yang berdiri di pasar, memilih sayuran paling segar, memilah rempah-rempah, dan membayangkan bagaimana rasa daging yang segar akan berpadu dengan ketumbar dan jintan. Bahan baku dalam menulis adalah kata-kata, sedangkan dalam memasak adalah bahan pangan. Keduanya menuntut kepekaan yang sama. Jika Anda terbiasa memilih kata yang tepat agar kalimat tidak terasa hambar, Anda akan secara otomatis melatih insting yang sama saat menakar garam agar sup tidak terasa hambar.

Keajaiban yang sesungguhnya baru terjadi saat proses pencampuran dimulai. Di sinilah struktur mengambil alih. Dalam memasak, ada urutan yang tidak boleh dilanggar; saya tidak bisa memasukkan daun kemangi di awal tumisan karena aromanya akan hilang, sebagaimana saya tidak bisa membongkar plot solusi masalah di bab pertama. Menulis mengajarkan saya tentang ritme dan tempo, tentang bagaimana membangun kisah sebelum mencapai klimaks cerita. Ketika insting narasi ini terlatih, saya akan terbawa ke dapur. Saya menjadi paham kapan harus membesarkan api untuk memberi efek karamelisasi yang dramatis pada daging, dan kapan harus mengecilkan api agar bumbu meresap perlahan dalam kesunyian yang sabar.

Selain masalah teknis, jembatan terbesar antara menulis dan memasak terletak pada seni menyunting. Tidak ada draf pertama yang langsung sempurna, begitu pula tidak ada masakan yang langsung pas rasanya pada cicipan pertama. Menulis melatih saya untuk berani “membuang bagian yang tidak perlu”—memotong paragraf yang indah tapi tidak menggerakkan cerita. Di dapur, kemampuan menyunting ini menjelma menjadi keberanian untuk mengoreksi rasa. Saat sup terlalu asin, saya yang terbiasa memecahkan masalah dalam plot akan berpikir kreatif, menambahkan sedikit gula atau sejumput garam untuk menyeimbangkannya, bukan malah menyerah dan membuang seluruh masakan.

Pada akhirnya, kedua aktivitas ini melatih satu otot spiritual yang sama, yaitu empati. Juru masak yang baik tidak memasak untuk dirinya sendiri; ia memasak dengan membayangkan senyum di wajah orang yang menyantapnya. Penulis yang baik pun menulis dengan membayangkan bagaimana pembaca akan terhanyut dalam emosi di setiap lembarnya.

Oleh karena itu, saat saya merasa buntu di depan komputer dan kata-kata seolah enggan mengalir, beranjaklah saya ke dapur. Mengiris sebatang daun bawang, mendengarkan desis minyak saat menyentuh wajan, dan membiarkan indra saya beristirahat dari logika kata. Begitu pula sebaliknya, saat eksperimen dapur saya gagal, saya akan duduk dan menulis apa yang salah. Dengan membiarkan kedua dunia ini saling mengisi, saya tidak hanya sedang belajar menjadi juru masak yang lebih peka, tetapi juga seorang penulis yang menyajikan cerita dengan bumbu kehidupan yang jauh lebih kaya.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 18 Mei 2026

Wednesday, May 13, 2026

Pertama Kali Percaya Testing


DI DUA tahun pertama saya sejak dibuka di Subud, saya sama sekali tidak percaya pada testing. Hal itu berubah ketika saya “terpaksa” melakukannya, dan itu terjadi di sebuah desa di Jawa Tengah, yang saya kunjungi bersama lima saudara Subud dari Jakarta Selatan, seminggu setelah gempa besar meluluhlantakkan Yogyakarta pada 27 Mei 2006. Kami berenam meluncur ke Yogyakarta dan sekitarnya untuk menyalurkan bantuan bagi para anggota Subud di kawasan gempa yang menjadi korban, baik yang luka-luka maupun yang sampai kehilangan tempat tinggal.

Kami singgah di Desa Paseban, di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Satu pembantu pelatih yang bersama kami dari Jakarta memiliki paman yang tinggal di kaki bukit di desa tersebut. Sebuah masjid—yang dikenal sebagai Masjid Gholo—berdiri kokoh di pucuk bukit. Masjid yang dibangun pada abad ke-16 itu kabarnya dipindah dari tempatnya semula di Yogyakarta secara digeser dengan kekuatan gaib ke lokasi baru di puncak bukit itu. Meski dianggap legenda belaka, rata-rata warga lokal percaya bangunan masjid itu benar-benar dipindah dengan cara digeser oleh seorang wali Islam yang memiliki kesaktian. Untuk menguji kebenarannya, si pembantu pelatih menyuruh saya melakukan testing kejiwaan.

Awalnya, saya bersikeras menolak karena saya tidak percaya omong kosong testing dan cerita soal masjid itu. Tetapi si pembantu pelatih memastikan bahwa kejadian pemindahan masjid itu secara gaib memang benar-benar terjadi. “Kamu testing ya, cari tahu siapa orang yang telah menggeser masjid itu,” kata si pembantu pelatih ke saya. Ia menyuruh saya duduk bersila di tengah pekarangan rumah pamannya, menghadap bukit di mana masjid itu berada. Saya memejamkan mata dan memulai testing, dengan pertanyaan yang saya ucapkan dalam hati: “Siapa yang memindahkan masjid itu ke puncak bukit?”

Saya tiba-tiba merasakan suatu suasana yang asing (sulit dijelaskan), kemudian melihat sosok berjubah dan bersorban berdiri dengan kedua lengannya bersedekap, di sebelah si pembantu pelatih. Saya membatinkan pertanyaan, “Siapa Anda?”, dan memperoleh pengertian bahwa sosok itu adalah Sunan Kalijaga, salah satu dari sembilan wali Islam di tanah Jawa, atau Wali Sanga.

Saya sudahi testingnya, membuka mata saya lalu membuka mulut saya: “Saya melihat sosok Sunan Kalijaga!”

Si pembantu pelatih berkata bahwa saya berhasil mendapatkan jawaban melalui testing. Momen itu pertama kalinya saya mulai percaya testing ala Subud. Selanjutnya, bagaimanapun, saya tidak pernah lagi menggunakan testing untuk mendapatkan jawaban atas misteri-misteri atau peristiwa supranatural yang bagi saya tidak ada gunanya.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 14 Mei 2026

 

 

Sunday, May 10, 2026

Gorengan dan Kesesatan

SEJAK pertengahan Desember 2022 saya reguler Latihan di Ranting Pamulang yang berjarak sekitar 5 km dari rumah saya, dan sangat jarang ke Wisma Subud Cilandak—hampir 10 km dari rumah saya. Kalau hari Minggu, 10 Mei 2026, saya Latihan di Cilandak, adalah karena selama seminggu ini saya kehilangan kesempatan Latihan di Pamulang lantaran saya sakit dan cuaca buruk.

Kalau ke Cilandak, tempat nongkrong saya adalah di “Teras Timur”, teras di sisi timur Hall Latihan Cilandak, yang disangka dan mendapat julukan “Kelompok Subud Sesat” oleh mereka yang tidak pernah nongkrong di situ, dan selalu tersebut nama saya di samping dua anggota lainnya (salah satunya meninggal pertengahan Desember 2024) sebagai “pentolan kelompok”. Anggapan yang tentu saja salah, karena geng Teras Timur terbentuk secara organik, tanpa pernah saya rencanakan atau inginkan. Mengapa disebut “sesat”, karena mereka yang menganggap begitu hanya mendengar selentingan bahwa obrolan kejiwaan dari orang-orang yang nongkrong di situ “keluar dari arus utama”. Padahal kami hanya suka mencandai penerimaan atau pengalaman masing-masing dengan Latihan.

Jarang sekali ada wanita yang ikut gathering tidak resmi di situ, kecuali mereka yang kenal baik dengan kami, dan kebetulan lewat dalam perjalanan mereka ke toilet wanita, yang memang berlokasi di sisi timur hall Latihan. Para pembantu pelatih telah mencegah para anggota baru untuk bergabung di geng Teras Timur agar tidak cepat “terganggu”. Tidak pernah pula pengurus Cabang Jakarta Selatan ataupun Nasional yang dengan sadar mau meluangkan waktu untuk nongkrong di Teras Timur, sehingga agak mengejutkan kami, geng Teras Timur, ketika siang kemarin, pasca Latihan, Ketua Umum Pengurus Nasional PPK Subud Indonesia 2025-2027, Muhammad Ridwan, dan satu pembantu pelatih senior dari Cabang Jakarta Selatan tiba-tiba bergabung dengan kami. Sontak semua diam, padahal sebelumnya obrolan kami ramai.

Ketua Umum Pengurus Nasional memancing kami untuk mau buka mulut, berbagi cerita pengalaman atau pemahaman, tetapi semua membisu. Dengan cuek saya pun berkata, “Asyiknya ngobrol itu kalau ada gorengan, Mas!” Ketua Umum Pengurus Nasional pun membeli gorengan secara daring dan menelepon salah satu dari para anggota wanita yang berjualan makanan dan minuman di pekarangan depan Hall Cilandak. Ketua Umum Pengurus Nasional memborong semua jualan mereka dan meminta agar dibawa ke Teras Timur. Barulah suasana cair. Di antara topik pembicaraan pertama, saya tertarik pada pertanyaan Ketua Umum Pengurus Nasional: “Kalau bertanya, apa alasan seseorang masuk Subud, itu sudah biasa. Coba, tanya dong mengapa seseorang bertahan di Subud.”

Saya menyeletuk, “Itu yang sering saya tanyakan pada diri saya sendiri... mengingat saya di awal mengenal Subud saya bukanlah orang yang berminat pada spiritualitas. Kalau tidak dipancing dengan makanan enak, mungkin saya tidak pernah masuk Subud.”©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 11 Mei 2026

Saturday, May 9, 2026

Modal Lain

TAHUN 2009, lantaran diare tidak kunjung berhenti selama lebih dari dua minggu—karena stres yang disebabkan oleh pekerjaan, saya dikenalkan oleh almarhum Pak Otjo Wiroreno (anggota Subud Jakarta Selatan) ke dr. Harry Angga, seorang dokter asal Bandung yang berhenti berpraktik dokter medis, beralih ke alternatif. Berbekal ilmu kedokteran Barat dari Jerman dan ilmu penyembuhan Timur dari Tiongkok, beliau menciptakan metode penyembuhan diri sendiri (auto-therapy) yang beliau namakan senam olah napas dan gerak Bio Energy Power atau BEP. Dilatih langsung oleh dr. Harry, pada pelatihan pertama itu diare saya langsung reda.

Disarankan oleh dr. Harry, agar saya BEP sehari dua kali, pagi dan sore, masing-masing 15 sampai 30 seri. Satu seri terdiri dari tiga jurus yang sangat mudah gerakannya, bisa dilakukan anak-anak maupun orang tua, dalam posisi duduk atau berdiri. Selain saya dan Pak Otjo, anggota Subud lainnya yang ikut pelatihan BEP tahun 2009 itu adalah istri saya, Mas Luthfie, dan Pak Isa Anshori (dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Jakarta yang menderita tumor tenggorokan). Yang ajaib, tiap kali berlatih BEP bersama di kompleks Bank Mandiri Cipete, Jakarta Selatan, di mata dr. Harry Angga dan para peserta lainnya, yang dari Subud itu “tampak berbeda” dan efek kesembuhannya serta kesehatannya juga cepat, dalam sekejap. Seperti diare saya dan tumor tenggorokannya Pak Isa, reda atau hilang segera pada pelatihan pertama.

Dan menurut kesaksian para peserta lainnya, para praktisi BEP dari Subud gerakannya serasi, selalu bersemangat dan pasca latihan BEP selalu kelihatan lebih segar dan bugar. Dokter Harry sendiri beberapa kali mengungkapkan kekagumannya, karena sebagai kreator BEP beliau belum pernah mengalami atau merasakan efek sekejap dari BEP seperti halnya yang dialami atau dirasakan oleh praktisi yang dari Subud.

Saya terpikir untuk berbagi cerita ini, setelah barusan seorang praktisi BEP lama, yang tidak saya kenal, mengirim pesan WhatsApp ke saya (nomor saya dia dapat dari mailing list BEP yang sudah tidak aktif), menanyakan apa saya punya modal lain selain BEP kok bisa “sukses” dalam latihan BEP, sedangkan dia sudah bertahun-tahun belum merasakan manfaatnya. Ya, saya sampaikan apa adanya... mungkin karena saya barengi dengan Latihan Kejiwaan.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 10 Mei 2026

Thursday, May 7, 2026

Menguasai Teknik Penceritaan Melalui LDR

SEORANG relasi bisnis meminta kesediaan saya untuk mengajari para staf pemasaran di perusahaannya dalam teknik penceritaan sebagai cara untuk meningkatkan penjualan. Saya bersedia, tentu saja. Saya bercanda—ketika ditanya berapa sesi yang dibutuhkan untuk seseorang bisa jago dalam penceritaan—bahwa menulis membutuhkan pembelajaran seumur hidup.

Sebagai pendahuluan, saya bercerita bahwa kemampuan saya menulis narasi pemasaran dengan teknik penceritaan dipicu oleh hubungan jarak jauh (long-distance relationship/LDR) saya dengan pacar saya (yang kini telah menjadi istri saya). Alkisah, pada tahun 1994, ketika saya menjalankan LDR itu, saya menulis surat cinta berlembar-lembar untuk menyambungkan jarak rindu kami. Setiap minggu saya menulis dan mengirim surat berstempel Kilat Khusus ke pacar saya. Suatu hari, ketika saya tengah menulis surat, teman saya datang. Ia membaca suratnya dan berkomentar, “Tulisan lo mengalir, enak dibacanya. Lo pintar bercerita. Lo seharusnya jadi copywriter.”

Saat itu, saya belum tahu apa itu “copywriter”. Saya baru tahu ketika pada akhir Oktober 1994 saya diterima bekerja di Matari Advertising dan mendapat ruang kerja sementara di perpustakaan biro iklan raksasa Indonesia itu, dimana saya menemukan delapan buku tentang copywriting.

Salah satu kiat untuk copywriting yang hebat ternyata ditawarkan kedelapan buku tersebut: “Menulislah seolah Anda sedang menulis surat kepada kekasih Anda.” Itulah teknik terkuat penceritaan yang selalu saya sampaikan kepada para peserta workshop copywriting yang saya saya berikan.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 8 Mei 2026

Friday, May 1, 2026

Menghidupkan Sebuah Karya

SATU saudara Subud di Jakarta tidak suka bila sebuah karya tulis dibuat dengan bantuan Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI). “Tidak ada rasanya, tidak ada jiwanya, kalau pakai AI,” kata dia.

Tahun lalu dia dan saya menghadiri acara peluncuran buku karya teman kami (dia bukan anggota Subud). Dalam bedah bukunya, si penulis berterus terang bahwa ia menggunakan bantuan Gemini AI untuk merangkai kalimat-kalimat dalam bukunya. Parahnya, di testimoni dari salah satu peninjau buku tersebut, di cover belakangnya, tertulis bahwa penulis buku adalah seorang “spiritualis”, yang bagi saudara Subud itu terasa konyol. Bagi dia, seorang spiritualis seharusnya mengandalkan rasa, alih-alih teknologi.

Saya tidak sepenuhnya sependapat dengan saudara Subud itu, karena pengalaman telah menunjukkan ke saya bahwa bukan apa alatnya melainkan ketenangan batin kitalah yang dapat “menghidupkan” sebuah karya. Pengalaman baru-baru ini lagi-lagi membuktikan kebenaran itu.

Saat ini, saya sedang menjadi freelance copywriter di sebuah firma kehumasan yang menggarap proyek penulisan coffee-table book dalam rangka ulang tahun ke-25 sebuah perusahaan. Fee yang tidak sesuai dengan tingkat kerepotannya serta waktu yang kelewat mepet membuat saya mengambil jalan pintas: Menggunakan AI untuk merancang bangun teksnya. Saya tulis prompt sesuai dengan apa-apa yang disyaratkan klien dalam hal penulisan.

Ada satu hal lain yang menginspirasi saya untuk menggunakan bantuan AI, yaitu cerita dari “kalangan dalam” Pamulang, bahwa nama Subud yang diberikan Ibu Rahayu kepada anggota bukanlah hasil dari penerimaan spontan, melainkan dengan melakukan testing terhadap sejumlah nama yang diambil dari buku tentang “nama dan artinya”, yang bisa dibeli di toko buku. Nama Subud tetap akan memiliki vibrasi karena dicomot dengan bimbingan Latihan.

Hasilnya saya baca dan edit dengan diri saya dalam keadaan Latihan, kemudian saya serahkan ke klien. Kliennya berkomentar bahwa tulisan saya (yang aslinya dibuat oleh AI) memancarkan vibrasi yang membuatnya merasa dirinya berada di dalam tulisan itu dan menilai saya mampu membangun emosional pembaca. Kesimpulan saya, energi Latihan dapat menembus segala ciptaan manusia dan memberinya jiwa.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 2 Mei 2026

Tuesday, April 21, 2026

Kritik Kartini Terhadap Agama

RADEN Ajeng Kartini (1879-1904) adalah pahlawan nasional Indonesia yang terkemuka dan pelopor gerakan hak-hak perempuan serta pendidikan. Lahir pada 21 April 1879—karena itulah setiap tanggal 21 April diperingati oleh rakyat Indonesia sebagai Hari Kartini—dalam keluarga bangsawan Jawa di masa kolonial Belanda, ia paling dikenal melalui kumpulan surat-suratnya yang kemudian diterbitkan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Surat-surat tersebut merinci pemikirannya tentang reformasi sosial, penderitaan perempuan Jawa, dan perjuangan kemerdekaan nasional.                   

Kartini dirayakan secara luas sebagai perintis hak-hak perempuan dan pendidikan di Indonesia. Namun, di balik advokasi sekolah dan kesetaraan sosial, terdapat pemikiran analitis yang mendalam—pemikiran yang berani mengkritisi fondasi praktik keagamaan di zamannya. Kartini bukan sekadar seorang reformator; ia adalah seorang beragama yang kritis. Surat-suratnya mengungkap sosok wanita yang menolak menerima tradisi begitu saja, melainkan mencari keyakinan yang berakar pada logika dan kasih sayang.

Kritik Terhadap Pemahaman Agama

Salah satu kritik Kartini yang paling terkenal adalah mengenai cara Alquran diajarkan pada masanya. Ia mempertanyakan mengapa para murid diharapkan untuk menghafal dan melantunkan kitab suci dalam bahasa Arab tanpa diwajibkan memahami maknanya. Bagi Kartini, pertumbuhan spiritual mustahil terjadi tanpa pemahaman. Ia melihat praktik melantunkan kata-kata tanpa tahu definisinya sebagai sebuah latihan yang hampa. Keinginannya adalah agar agama berbicara kepada hati melalui pikiran—sebuah sikap radikal dalam masyarakat di mana otoritas agama jarang sekali dipertanyakan.

Kritik Kartini pun meluas hingga ke luar ruang kelas. Ia membayangkan sebuah dunia yang melampaui batas-batas agama terorganisir, menyiratkan bahwa dunia akan jauh lebih damai jika agama-agama tidak menonjolkan perbedaan mereka atau terlibat dalam penghinaan dan konflik timbal balik. Observasinya yang paling tajam tetap terasa sangat relevan hingga saat ini: “Agama seharusnya menjaga kita dari dosa, namun seringkali, dosa justru dilakukan atas nama agama!”

Kejujuran Intelektual

Apa yang membuat Kartini benar-benar “keren” menurut standar modern adalah kejujuran intelektualnya. Ia tidak meninggalkan agamanya; sebaliknya, ia menjunjung agamanya ke standar yang lebih tinggi. Ia membuktikan bahwa mencintai budaya atau agama seseorang bukan berarti mengabaikan kekurangannya. Ia menantang para pemimpin agama untuk memastikan bahwa agama berfungsi sebagai jembatan menuju perdamaian, bukan senjata untuk perpecahan.

Dengan menuntut untuk memahami kitab suci bagi dirinya sendiri, ia merebut kembali kedaulatan spiritualnya. Kartini tetap menjadi pengingat yang kuat bahwa menjadi orang yang beragama dan menjadi pemikir kritis bukanlah dua hal yang saling eksklusif. Faktanya, seperti yang ia tunjukkan, iman yang paling mendalam sering kali adalah iman yang tidak takut untuk bertanya, “Mengapa?”©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 21 April 2026

Sunday, April 19, 2026

Melampaui Bayang-Bayang Inferioritas Anggota Subud Indonesia di Kancah Global

PENGALAMAN spiritual dalam wadah Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan Susila Budhi Dharma atau Subud telah berkembang secara global sejak pertengahan abad ke-20. Fenomena ini menciptakan sebuah dinamika yang unik karena secara historis dan esensial, Latihan Kejiwaan ini berakar dari pengalaman spiritual seorang putra Indonesia, yakni RM Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo, atau “Bapak”. Namun, terdapat sebuah paradoks yang cukup nyata di dalam tubuh organisasi ini di tanah air. Meskipun Indonesia merupakan rahim kelahiran Subud, interaksi dan keterlibatan anggota domestik dalam kancah internasional sering kali dirasakan masih sangat minim. Fenomena ini bukan sekadar masalah teknis atau kendala bahasa, melainkan sebuah persoalan psikologis yang mendalam dan berakar pada sejarah kolektif bangsa yang panjang.

Ketertinggalan dalam keterlibatan global ini sering kali berakar pada apa yang disebut oleh para psikolog dan sosiolog sebagai inferiority complex atau rasa rendah diri kolektif. Bagi bangsa yang pernah mengalami kolonialisme selama lebih dari tiga abad, sisa-sisa mentalitas terjajah tidak hilang begitu saja hanya dengan proklamasi kemerdekaan. Struktur kolonial yang selama berabad-abad menempatkan penduduk pribumi pada strata sosial terbawah telah meninggalkan jejak traumatis dalam alam bawah sadar. Hal ini memicu pandangan bahwa segala sesuatu yang datang dari Barat atau dunia luar memiliki kualitas yang lebih unggul, lebih modern, dan lebih kredibel dibandingkan dengan apa yang ada di dalam negeri. Dalam konteks Subud Indonesia, mentalitas ini sering kali mewujud dalam bentuk rasa sungkan atau keraguan untuk berdiri sejajar dengan anggota dari negara-negara maju.

Padahal, jika kita menilik kembali sejarah perjalanan Bapak ke mancanegara, beliau memberikan teladan yang sangat kuat mengenai martabat dan kepercayaan diri. Bapak tidak pernah menempatkan dirinya sebagai sosok yang perlu menyesuaikan diri dengan standar kebudayaan Barat demi mendapatkan pengakuan. Beliau tetap tampil apa adanya sebagai orang Jawa dengan kesahajaan dan keteguhan prinsip spiritualnya. Di hadapan para cendekiawan, ilmuwan, dan tokoh masyarakat di Inggris, Amerika Serikat, hingga Eropa daratan, beliau tidak pernah merasa rendah diri. Sebaliknya, cara beliau membawakan diri justru mengundang rasa hormat yang mendalam dari masyarakat Subud luar negeri. Beliau membuktikan bahwa otoritas spiritual dan kematangan jiwa tidak ditentukan oleh asal-usul bangsa atau latar belakang ekonomi, melainkan oleh keikhlasan dan kejernihan dalam menjalani Latihan Kejiwaan.

Ketimpangan eksposur internasional bagi anggota di Indonesia sering kali bermula dari hambatan psikologis dalam berkomunikasi. Banyak anggota yang merasa bahwa kemampuan bahasa mereka yang terbatas menjadi penghalang mutlak untuk berkontribusi dalam komite-komite internasional atau menghadiri kongres dunia. Namun, jika kita melihat lebih dalam, kendala bahasa hanyalah manifestasi permukaan dari ketakutan akan penilaian orang lain. Ada ketakutan bahwa ide atau gagasan yang disampaikan dari perspektif Indonesia akan dianggap tidak relevan atau kurang canggih. Pola pikir inilah yang harus segera didekonstruksi. Subud adalah organisasi yang berbasis pada persaudaraan kejiwaan yang melampaui sekat-sekat budaya, sehingga setiap anggota sebenarnya memiliki hak dan kapasitas yang sama untuk bersuara di panggung dunia.

Untuk memecahkan belenggu rasa rendah diri ini, diperlukan sebuah pergeseran paradigma yang dimulai dari tingkat individu. Anggota Subud Indonesia perlu menyadari kembali kekayaan nilai yang mereka miliki sebagai pemegang tongkat estafet tradisi spiritual asli Indonesia ini. Indonesia memiliki modal sosial berupa keramah-tamahan, gotong royong, dan ketulusan yang sangat dibutuhkan dalam dinamika organisasi global yang sering kali terlalu kaku atau bersifat administratif. Dengan memahami bahwa perspektif Indonesia adalah aset berharga bagi keragaman internasional, maka rasa percaya diri akan mulai tumbuh secara alami. Kita tidak perlu menjadi “kebarat-baratan” untuk diterima, melainkan cukup menjadi diri sendiri yang berdaya dan berwawasan luas.

Strategi pertama dalam memperluas eksposur internasional adalah dengan memanfaatkan teknologi digital secara proaktif. Di era konektivitas saat ini, jarak geografis bukan lagi hambatan utama. Anggota Subud Indonesia dapat mulai terlibat dalam pertemuan-pertemuan virtual, webinar, atau kelompok diskusi internasional yang sering diselenggarakan oleh World Subud Council atau zona-zona lainnya. Keterlibatan ini tidak harus dimulai dengan peran yang besar. Menjadi pendengar aktif dan sesekali memberikan opini singkat dalam diskusi daring dapat menjadi latihan yang baik untuk membiasakan diri berinteraksi dengan dialek dan budaya yang berbeda. Konsistensi dalam kehadiran digital ini akan perlahan-lahan menghapus rasa asing dan membangun kedekatan emosional dengan saudara-saudara sejiwa di belahan bumi lain.

Selanjutnya, peningkatan literasi organisasi menjadi sangat krusial. Sering kali, anggota merasa kurang percaya diri karena mereka tidak sepenuhnya memahami struktur dan mekanisme kerja organisasi di tingkat internasional. Dengan mempelajari laporan-laporan dari lembaga-lembaga (wing bodies) internasional seperti Susila Dharma International Association (SDIA) untuk bidang sosial, Subud International Cultural Association (SICA) untuk bidang budaya, Subud Education Association (SEA) untuk pendidikan, atau Subud Enterprise Services (SES) untuk enterprise, anggota akan mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai apa yang sedang terjadi di dunia luar. Pengetahuan ini memberikan basis yang kuat saat melakukan percakapan. Ketika seseorang berbicara berdasarkan data dan pemahaman konteks yang jelas, rasa rendah diri akan terkikis karena fokus perhatian beralih dari kekurangan pribadi menuju substansi permasalahan yang sedang dibahas.

Langkah strategis lainnya adalah melalui pengembangan kemitraan proyek antarnegara. Anggota di Indonesia yang memiliki keahlian di bidang tertentu, baik itu dalam manajemen, seni, pendidikan, maupun kewirausahaan, dapat menawarkan kolaborasi dengan anggota dari negara lain. Misalnya, seorang pengusaha di Indonesia bisa berdiskusi dengan sesama anggota Subud di Eropa mengenai peluang kerja sama yang saling menguntungkan. Kolaborasi berbasis proyek ini menciptakan hubungan yang setara dan profesional. Dalam proses kerja sama tersebut, interaksi yang intens akan terjadi secara alami, yang pada gilirannya akan meningkatkan kemampuan adaptasi lintas budaya. Pengalaman sukses dalam proyek kecil akan menjadi batu loncatan yang efektif untuk mengambil peran yang lebih besar di kemudian hari.

Pendidikan dan pelatihan bahasa tetap merupakan hal yang penting, namun harus didekati dengan motivasi yang benar. Belajar bahasa asing bukan bertujuan untuk meniru identitas bangsa lain, melainkan sebagai jembatan untuk menyampaikan pesan spiritual dan kemanusiaan yang universal. Organisasi di tingkat nasional dapat memfasilitasi kursus bahasa atau lokakarya komunikasi internasional yang dikhususkan bagi anggota yang memiliki minat untuk melayani di tingkat global. Dengan adanya dukungan kolektif dari sesama anggota di dalam negeri, individu akan merasa lebih berani untuk melangkah keluar dari zona nyaman mereka. Dukungan moral dari komunitas lokal sangat berperan dalam memvalidasi bahwa keberangkatan seseorang ke ranah internasional adalah representasi dari kemajuan bersama.

Selain itu, penting bagi anggota Indonesia untuk aktif mendokumentasikan dan membagikan pengalaman kejiwaan serta kegiatan sosial mereka dalam format yang dapat diakses oleh masyarakat internasional. Penulisan artikel, pembuatan video pendek, atau pengelolaan blog dalam bahasa Inggris mengenai perkembangan Subud di daerah-daerah di Indonesia dapat menarik perhatian anggota global. Sering kali, dunia luar merasa penasaran dengan bagaimana Subud dipraktikkan di tanah kelahirannya. Dengan menjadi narator bagi diri sendiri, kita tidak lagi hanya menjadi objek pengamatan, tetapi menjadi subjek yang aktif membentuk opini dan berbagi inspirasi. Inisiatif seperti ini akan menempatkan anggota Indonesia sebagai mitra dialog yang inspiratif bagi dunia.

Kehadiran fisik dalam acara-acara besar seperti Kongres Dunia atau pertemuan tingkat zona juga harus diupayakan secara terencana. Meskipun membutuhkan biaya yang tidak sedikit, manfaat dari pertemuan tatap muka tidak dapat digantikan oleh teknologi apa pun. Interaksi langsung melalui makan bersama, berbincang santai di sela-sela acara, dan mengikuti Latihan Kejiwaan bersama akan meruntuhkan tembok-tembok prasangka yang mungkin selama ini terbangun di dalam pikiran. Anggota akan menyadari bahwa saudara-saudara dari luar negeri juga memiliki tantangan, pergumulan, dan keraguan yang sama. Kesadaran akan kemanusiaan yang setara ini adalah obat mujarab bagi penyakit inferiority complex. Setiap anggota Indonesia yang pulang dari acara internasional biasanya akan membawa energi baru dan perspektif yang lebih segar untuk dibagikan kepada anggota lain di tanah air.

Mentalitas sebagai pemberi, bukan hanya penerima, juga perlu ditanamkan. Dalam hubungan internasional, sering ada kecenderungan untuk memposisikan Indonesia sebagai pihak yang membutuhkan bantuan atau bimbingan. Kita harus mulai mengubah posisi tersebut dengan menawarkan kontribusi nyata. Indonesia memiliki banyak sekali kearifan lokal dan pengalaman dalam menjaga keharmonisan dalam keberagaman yang sangat relevan dengan situasi dunia saat ini yang penuh konflik. Dengan memposisikan diri sebagai pihak yang memiliki sesuatu untuk disumbangkan bagi kemajuan Subud dunia, martabat kita sebagai bangsa akan terjaga. Hal ini sejalan dengan teladan Bapak yang selalu menekankan pentingnya berdiri di atas kaki sendiri dan berkarya secara nyata di masyarakat.

Penting juga untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas nasional tanpa harus menjadi chauvinistik. Mengenalkan budaya Indonesia, mulai dari cara berpakaian yang sopan namun elegan hingga kuliner yang kaya rasa saat berinteraksi dengan anggota luar negeri, adalah bentuk diplomasi budaya yang halus. Ketika kita menghargai identitas kita sendiri, orang lain pun akan belajar untuk menghargai kita. Rasa bangga yang sehat ini akan menjadi perisai yang kuat terhadap serangan rasa rendah diri. Anggota Subud Indonesia harus menyadari bahwa mereka adalah duta dari sebuah bangsa yang besar dengan sejarah peradaban yang tua dan mulia.

Pada akhirnya, perluasan eksposur internasional adalah sebuah proses transformasi jiwa yang sejalan dengan tujuan dari Latihan Kejiwaan itu sendiri. Latihan Kejiwaan mengajarkan kita untuk mengelola segala nafsu dan daya rendah, termasuk rasa takut dan rasa rendah diri yang menghambat potensi kemanusiaan kita. Jika setiap anggota benar-benar berserah diri kepada kekuasaan Tuhan, maka identitas kebangsaan tidak akan menjadi beban, melainkan menjadi warna-warni yang memperindah kebun persaudaraan dunia. Dengan mengikuti jejak langkah Bapak yang rendah hati namun berwibawa, anggota Subud Indonesia dapat melangkah ke panggung dunia dengan kepala tegak, siap untuk belajar, bekerja sama, dan memberikan kontribusi terbaik bagi kemanusiaan universal. Transformasi ini bukan hanya akan menguntungkan individu yang bersangkutan, tetapi juga akan memperkuat posisi Subud Indonesia sebagai pilar utama dalam perkembangan Subud di masa depan.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 20 April 2026