Tuesday, October 20, 2026

Keseimbangan vs. Kejumbuhan

PERNAHKAH Anda merasa lelah karena terus-menerus mencoba membagi hidup menjadi dua paruh yang seimbang? Antara kerja dan istirahat, antara urusan dunia dan panggilan jiwa? Bagaimana jika selama ini perjuangan kita menyeimbangkan hidup justru membendung harmoni yang lebih sejati?

Banyak dari kita terjebak dalam obsesi menyeimbangkan dua kutub kehidupan. Kita terus berusaha membagi garis yang tegas antara kewajiban dan kesenangan, antara hiruk-pikuk kesibukan duniawi dan ketenangan spiritualitas. Seakan-akan, kedua hal tersebut adalah musuh bebuyutan yang harus dipaksa berdiri sejajar di atas timbangan. Padahal, alih-alih menguras energi demi menciptakan keseimbangan buatan, ada cara yang jauh lebih menentramkan: menjumbuhkan keduanya.

Kejumbuhan bukan sekadar kompromi. Diserap dari bahasa Jawa, jumbuh bermakna keselarasan yang mendalam. Kata ini menggambarkan sebuah keadaan elegan di mana dua hal yang tampak bertolak belakang, tumpang tindih, atau berseberangan, justru berpadu secara harmonis tanpa meleburkan identitas masing-masing.

Kesadaran akan indahnya kejumbuhan ini menyapa saya secara mendalam melalui Subud. Wejangan legendaris dari Bapak bahwa “Subud adalah saudara, saudara adalah Subud” menjadi pintu pembuka nurani. Pernyataan sederhana tetapi sarat makna ini menyadarkan saya: di semesta ini, tidak ada realitas yang benar-benar berseberangan jika kita tahu cara menjumbuhkannya.

Latihan Kejiwaan Subud bukanlah hiasan luar, melainkan daya hidup yang meresap dan mengaliri seluruh rongga jiwa seseorang sejak ia dibuka, lalu ditekuni dengan setia. Tidak ada jarak atau sekat antara seorang anggota Subud dengan Latihannya. Daya ilahi dari Latihan senantiasa bekerja aktif—mengarahkan langkah, membisikkan petunjuk, dan membimbing setiap gerak hidup kita.

Sangat disayangkan jika Latihan Kejiwaan hanya diperlakukan sebagai agenda sampingan yang dilakukan saat ada waktu senggang, atau sekadar suplemen pelengkap ibadah semata.

Pada hakikatnya, pesan Bapak menggarisbawahi satu kebenaran utuh: ke mana pun kita melangkah, apa pun yang kita kerjakan, dan di mana pun kita berada, Latihan Kejiwaan senantiasa menyertai sebagai bagian yang tak terpisahkan dari eksistensi kita. Kita tidak lagi perlu bersusah payah menyeimbangkan Latihan dengan hiruk-pikuk aktivitas lain, sebab Latihan itu sendiri telah menyatu—telah jumbuh—dengan seluruh diri kita.

Selama kita masih memandang spiritualitas dan kesibukan dunia sebagai dua hal yang harus ditimbang, selama itu pula hidup akan terasa membebani. Tetapi saat kita berhenti memisahkan dan mulai menjumbuhkan, setiap embusan napas dan setiap langkah kaki kita akan berubah menjadi bakti yang mengalir tanpa henti. Sudahkah jiwa dan raga kita berjalan serasi hari ini?©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 21 Oktober 2026, pukul 22.08 WIB

Wednesday, October 7, 2026

Keheningan: Bukan Sebuah Jalan Pulang

 

“Latihan Kejiwaan Subud itu benar-benar merupakan ‘inti’ daripada segala apa yang menjadi kebutuhan saudara. Apa sebab demikian? Karena Latihan Kejiwaan Subud itu ada bukan karena diadakan, tapi ada dengan sendirinya, yang berarti pada hakikatnya ada dari kekuasaan Tuhan.” 

~RM Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo,

Aneka Subud No. 125/hlm. 180, Cilandak, Indonesia, 14 Juni 1986

 

BANYAK tradisi menempatkan diam sebagai sarana yang intim untuk berdoa, bermeditasi, atau berzikir. Kita mengenal tafakkur dalam Islam sebagai upaya meraih sakinah—kedamaian hati yang terbebas dari cengkeraman ego. Begitu pula dalam tradisi Hindu Bali dan filsafat Timur, di mana keheningan atau maunam dihayati sebagai sirnanya dominasi ego agar jiwa dapat menyatu kembali dengan realitas murni yang melampaui dualitas.

Selama ini, kita percaya bahwa mematikan kebisingan pikiran, ambisi, dan kecemasan sehari-hari melalui diam akan otomatis membukakan pintu untuk mendengar suara batin yang paling jujur. Tetapi, benarkah keheningan yang kita usahakan selama ini benar-benar menuntun kita kembali ke “rumah”?

Kenyataannya, keheningan kerap gagal menjadi jalan pulang ketika ia sejatinya dicapai melalui rekayasa akal pikir dan dorongan nafsu pribadi. Saat kita duduk dalam diam hanya untuk menghindari masalah, menekan emosi, atau melarikan diri dari kenyataan hidup, kita sesungguhnya tidak sedang masuk ke dalam solitude yang sadar, melainkan tengah menjebak diri dalam bentuk mati rasa. Sering kali, di balik tubuh yang tampak tenang dan tak bersuara, pikiran justru terus merutuk, menyalahkan diri, atau terombang-ambing oleh kecemasan masa lalu dan masa depan. Keheningan yang kosong tanpa kesadaran jujur seperti ini tidak akan pernah mampu mendamaikan riak logika dan emosi yang berkecamuk di dalam diri.

Pengalaman saya selama menekuni Latihan Kejiwaan Subud membukakan perspektif yang sama sekali berbeda mengenai hal ini. Di Subud, keheningan bukanlah sebuah pencapaian yang harus dikejar dengan strategi pikiran, melainkan sebuah kondisi yang hadir secara alami ketika kita berhenti memaksakan kehendak. Anda hanya diminta untuk menerima dan mengikuti (receive and follow) apa pun yang datang, baik dari dalam batin maupun dari luar, setelah menempatkan diri dalam kepasrahan yang dipenuhi rasa sabar, tawakal, dan ikhlas. Segala bentuk usaha keras yang digerakkan oleh logika atau ambisi pribadi justru menjadi ganjalan utama yang menghalangi bekerjanya Kekuasaan Tuhan atas diri kita.

Keheningan yang sejati dan sempurna baru akan bertamu saat kita benar-benar rileks dan ikhlas menyerahkan seluruh keberadaan diri untuk dibimbing oleh kehendakNya. Ketika keheningan itu hadir bukan sebagai hasil paksaan melainkan sebagai anugerah bimbingan Ilahi, ia tidak lagi bersifat sementara atau meletihkan. Di sinilah kita benar-benar “pulang” menjadi diri sendiri yang seutuhnya—diri yang menjadikan Kekuasaan Tuhan sebagai satu-satunya Guru dalam membimbing pikiran, perasaan, perkataan, hingga perbuatan, demi memancarkan budi pekerti utama dalam kehidupan sehari-hari.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 8 Oktober 2026

Saturday, October 3, 2026

Kiri Sementara

Mungkin inilah lelucon paling kejam

dari kiri sementara kami:

 

Kami mengira sedang melawan kekuasaan

padahal mungkin kami hanya

menunggu giliran untuk memilikinya

Kampus mengajari kami

cara mengenali wajah penindasan

Tapi kampus tidak selalu mengajari kami

cara mengenali wajah itu

ketika muncul di cermin kami sendiri

 

Maka foto-foto lama itu tetap ada:

wajah-wajah muda,

kepalan tangan terangkat,

keyakinan yang indah,

kata-kata tentang kebebasan

ditulis dengan tinta permanen

 

Dan di suatu tempat di bawahnya

terdapat kebenaran yang lebih sunyi—

sebagian revolusi hanyalah

persiapan karier

 

Sebagian pemberontak hanyalah

penguasa yang sedang berlatih

Dan sebagian kaum kiri

hanyalah kaum kiri

sampai kelulusan...

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 4 Oktober 2026