Wednesday, September 9, 2026

Tabu Untuk Berkumpul

BERKUMPUL pasca Latihan merupakan kebiasaan yang sulit dihindari di Indonesia. Berkumpul dengan teman atau keluarga besar adalah hal yang lumrah baik di Subud maupun di luar lingkaran keanggotaan Subud. Dan selalu ada makanan, camilan, tapi yang pasti harus ada kopi.

Selama hampir 23 tahun di Subud, saya belum pernah mendengar ucapan pembantu pelatih Indonesia yang melarang berkumpul untuk berbagi pengalaman dengan atau selama Latihan. Hanya ada satu cabang di Indonesia yang pernah saya kunjungi mencantumkan imbauan agar anggota “TIDAK MEMBICARAKAN HAL-HAL YANG BERSIFAT KEJIWAAN” di papan pengumuman di Hall Latihannya, yaitu cabang di Semarang, Jawa Tengah—tapi itu 18 tahun lalu; terakhir saya ke Wisma Subud Semarang dua tahun lalu, seingat saya imbauan tertulis itu sudah tidak ada.

Ada satu pembantu pelatih asing yang bermukim di Indonesia pernah menyampaikan ke saya mengenai tabu untuk berkumpul atau nongkrong setelah Latihan—yang lantas membuat saya bertanya-tanya mengapa para pembantu pelatih Indonesia, termasuk yang sudah jadi pembantu pelatih ketika Bapak masih ada, tidak pernah mengatakan apapun tentang itu?

Di teras timur Hall Cilandak pernah ada insiden beberapa tahun lalu, sebelum pandemi, dimana seorang pembantu pelatih asal Amerika marah dan menegur keras para anggota Indonesia yang nongkrong pasca Latihan. Karena ucapan Inggrisnya tidak ada yang dimengerti anggota Indonesia, mereka mengabaikan pembantu pelatih pria itu. Lalu datanglah pembantu pelatih lainnya yang juga orang Amerika tapi telah lebih lama dari dia bermukim di Indonesia. Si pembantu pelatih Amerika kedua ini memperingatkan si pembantu pelatih Amerika pertama agar tidak bersikap seperti itu terhadap anggota Indonesia dan dijelaskan kepadanya bahwa berkumpul atau nongkrong pasca Latihan merupakan hal yang biasa di cabang-cabang manapun di Indonesia.

Ada bahkan wisma-wisma Subud di Jawa yang terbuka 24 jam untuk dikunjungi anggota kapan saja dia mau. Di Jawa Timur dikenal istilah PH, singkatan dari “penghuni hall”, yaitu mereka yang karena krisis inginnya berada di lingkungan hall bersama anggota-anggota lainnya yang sedang melalui jenis krisis yang sama. Mereka menghabiskan waktu untuk mengobrol di antara mereka, atau bengong sambil ngoceh sendirian, atau Latihan sepanjang hari.

Ada berbagai hal yang diceritakan saat berkumpul, bukan hanya masalah kejiwaan tetapi juga (dan paling banyak dan sering) hal-hal keduniaan. Kadang memang terselip cerita bagaimana Latihan membimbing seseorang dalam urusan keduniaan itu, atau apa pandangan Bapak mengenai hal itu, jika memang ada di ceramah beliau. Kadang yang disampaikan seseorang (biasanya dia pembantu pelatih atau mantan pembantu pelatih atau hanya seseorang yang ingin mencari perhatian) adalah hal-hal yang “menakutkan”, seperti akibat yang akan kita terima bila melakukan perbuatan buruk—khas cara ajaran agama tertentu dalam menegakkan keimanan umat.

Belakangan, berbagai bencana alam melanda Indonesia; ini menjadi topik obrolan hangat di antara para anggota yang nongkrong setelah Latihan, beberapa di antara mereka mengaitkannya dengan mitos-mitos Jawa kuno tentang “akhir zaman” atau “kutukan Hidup Besar” dan bahwa yang belum menerima Latihan akan digulung ombak bencana. Lalu ada anggota yang mencari perhatian dengan mencuplik ceramah Bapak atau Ibu Rahayu seolah itu ajaran yang harus dipatuhi; konyolnya, mereka selalu mengakhirinya dengan ucapan bahwa hal itu gampang dikatakan, tapi sulit dilakukan. Atau dia bercerita pengalaman Bapak, dan ditandasi olehnya bahwa “hanya Bapak yang bisa, sedangkan kita masih jauh karena diri kita masih kotor”.

Kalau anggota Subud di Barat diberi tabu untuk berkumpul setelah Latihan, saya rasa itu eksklusif untuk mereka, karena otak Barat mereka terkenal berisik.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 9 September 2026

Monday, September 7, 2026

Beban Penderitaan

KEMARIN siang hingga magrib, saya nongkrong di Teras Timur Hall Cilandak bersama sembilan anggota lainnya. Beberapa di antaranya berbagi wawasan dan pengetahuan yang sebagian dipetik dari ceramah Bapak dan Ibu Rahayu. Sebagian terdengar cukup menakutkan. Saya me-niteni diri, menyaksikan bagaimana diri saya berreaksi terhadap semua yang saya dengar, tetapi suara diri saya berkata, “Jangan percaya semua yang kamu dengar, jangan diingat apapun yang mereka katakan atau pernah kamu baca. Sebaiknya, kamu buang semua kalau itu membebanimu.”                                       

Alhasil, ketika kami bubar dan berjalan ke kendaraan masing-masing untuk pulang, saya perhatikan bahwa tidak ada satupun dari yang di-sharing tadi tersisa jejaknya di pikiran saya. Saya tidak pula berusaha mengingatnya, melainkan hanya let go (merelakannya pergi).

Pagi ini, saya menemukan parabel berikut di Facebook:

Dua orang biksu sedang berjalan bersama ketika mereka tiba di tepi sungai. Di pinggir air, berdiri seorang wanita yang takut untuk menyeberang.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, biksu yang lebih tua menggendongnya, membawanya menyeberangi sungai dengan selamat, dan menurunkannya di seberang.

Kemudian kedua biksu tersebut melanjutkan perjalanan mereka. Beberapa jam kemudian, biksu yang lebih muda tidak tahan lagi untuk tetap diam. “Bagaimana bisa Anda melakukan itu?” tanyanya. “Kita tidak seharusnya menyentuh wanita.”

Biksu yang lebih tua menatapnya dengan tenang dan menjawab: “Aku sudah meninggalkannya di pinggir sungai tadi. Kamu masih membawanya sampai sekarang.”

Kadang-kadang seseorang mengucapkan satu kalimat yang menyakitkan lalu melupakannya begitu saja. Namun kita membawanya terus selama bertahun-tahun. Kita memutarnya kembali dalam pikiran.

Kita menjadikannya sebagai bukti.

Kita mengubahnya menjadi rasa sakit.

Kita menyimpannya di dalam diri seperti batu yang enggan kita letakkan.

Dan jauh setelah momen itu berlalu, kita masih membiarkannya terus berjalan bersama kita.

Beberapa beban tidak bertahan karena bentuknya yang berat. Beban itu bertahan karena kita terus membawanya.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 7 September 2026