“Latihan Kejiwaan Subud itu benar-benar merupakan ‘inti’ daripada segala apa yang menjadi kebutuhan saudara. Apa sebab demikian? Karena Latihan Kejiwaan Subud itu ada bukan karena diadakan, tapi ada dengan sendirinya, yang berarti pada hakikatnya ada dari kekuasaan Tuhan.”
~RM Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo,
Aneka Subud No. 125/hlm. 180, Cilandak, Indonesia, 14 Juni
1986
BANYAK tradisi menempatkan diam sebagai sarana yang intim untuk berdoa, bermeditasi, atau berzikir. Kita mengenal tafakkur dalam Islam sebagai upaya meraih sakinah—kedamaian hati yang terbebas dari cengkeraman ego. Begitu pula dalam tradisi Hindu Bali dan filsafat Timur, di mana keheningan atau maunam dihayati sebagai sirnanya dominasi ego agar jiwa dapat menyatu kembali dengan realitas murni yang melampaui dualitas.
Selama ini, kita percaya bahwa mematikan kebisingan pikiran, ambisi, dan kecemasan sehari-hari melalui diam akan otomatis membukakan pintu untuk mendengar suara batin yang paling jujur. Tetapi, benarkah keheningan yang kita usahakan selama ini benar-benar menuntun kita kembali ke “rumah”?
Kenyataannya, keheningan kerap gagal menjadi jalan pulang ketika ia sejatinya dicapai melalui rekayasa akal pikir dan dorongan nafsu pribadi. Saat kita duduk dalam diam hanya untuk menghindari masalah, menekan emosi, atau melarikan diri dari kenyataan hidup, kita sesungguhnya tidak sedang masuk ke dalam solitude yang sadar, melainkan tengah menjebak diri dalam bentuk mati rasa. Sering kali, di balik tubuh yang tampak tenang dan tak bersuara, pikiran justru terus merutuk, menyalahkan diri, atau terombang-ambing oleh kecemasan masa lalu dan masa depan. Keheningan yang kosong tanpa kesadaran jujur seperti ini tidak akan pernah mampu mendamaikan riak logika dan emosi yang berkecamuk di dalam diri.
Pengalaman saya selama menekuni Latihan Kejiwaan Subud membukakan perspektif yang sama sekali berbeda mengenai hal ini. Di Subud, keheningan bukanlah sebuah pencapaian yang harus dikejar dengan strategi pikiran, melainkan sebuah kondisi yang hadir secara alami ketika kita berhenti memaksakan kehendak. Anda hanya diminta untuk menerima dan mengikuti (receive and follow) apa pun yang datang, baik dari dalam batin maupun dari luar, setelah menempatkan diri dalam kepasrahan yang dipenuhi rasa sabar, tawakal, dan ikhlas. Segala bentuk usaha keras yang digerakkan oleh logika atau ambisi pribadi justru menjadi ganjalan utama yang menghalangi bekerjanya Kekuasaan Tuhan atas diri kita.
Keheningan yang sejati dan sempurna baru akan
bertamu saat kita benar-benar rileks dan ikhlas menyerahkan seluruh keberadaan
diri untuk dibimbing oleh kehendakNya. Ketika keheningan itu hadir bukan
sebagai hasil paksaan melainkan sebagai anugerah bimbingan Ilahi, ia tidak lagi
bersifat sementara atau meletihkan. Di sinilah kita benar-benar “pulang”
menjadi diri sendiri yang seutuhnya—diri yang menjadikan Kekuasaan Tuhan
sebagai satu-satunya Guru dalam membimbing pikiran, perasaan, perkataan, hingga
perbuatan, demi memancarkan budi pekerti utama dalam kehidupan sehari-hari.©2026
Pondok Cabe Ilir,
Pamulang, Tangerang Selatan, 8 Oktober 2026

No comments:
Post a Comment